Anda di halaman 1dari 12

RANGKUMAN

BAB II : WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN


Bahasan dalam bab Warga Negara dan Kewarganegaraan meliputi :
A. Pengertian Warga Negara dan Kewarganegaraan
B. Kedudukan Warga Negara dalam Negara
C. Kewarganegaraan Indonesia
D. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
A. PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN
1. Warga Negara
Warga mengandung arti peserta atau anggota dari suatu organisasi
perkumpulan. Jadi warga negara secara sederhana diartikan sebagai anggota
dari suatu negara.
Istilah warga negara merupakan terjemahan dari citizen (Inggris). Kata
citizen secara etimologis berasal dari masa Romawi yang pada waktu itu
berbahasa Latin, yaitu kata civis atau civitas yang berarti anggota atau warga
dari city-state. Selanjutnya kata ini dalam bahasa Perancis diistilahkan citoyen
yang bermakna warga dalam cite (kota) yang memiliki hak-hak terbatas.
Citoyen atau citizen dengan demikian bermakna warga atau penghuni kota.
Citizen adalah warga dari suatu komunitas yang dilekati dengan sejumlah
keistimewaan, memilki kedudukan yang sederajat, memiliki loyalitas,
berpatisipasi, dan mendapat perlindungan dari komunitasnya.
Penduduk adalah orang-orang yang bertempat tinggal di suatu wialayah
negara dalam kurun waktu tertentu. Orang yang berada di suatu wilayah negara
dapat dibedakan menjadi penduduk dan non-penduduk. Sedangkan penduduk
negara dapat dibedakan menjadi warga negara dan orang asing atau bukan
warga negara.
Untuk lebih jelasnya, secara skematis sebagai berikut.
Warga negara
Penduduk
Orang yang berada di
wilayah negara

Orang asing
Bukan Penduduk

Warga Negara dan Kewarganegaraan

2. Kewarganegaraan
Pendapat lain menyatakan kewarganegaraan adalah bentuk identitas yang
memungkinkan individu-individu merasakan makna kepemilikan, hak dan
kewajiban sosial dalam komunitas politik (negara). Dalam kamus Maya
Wikipedia dikatakan kewarganegaraan merupakan keanggotaan dalam
komunitas politik (yang dalam sejarah perkembangannya diawali pada negara
kota, namun sekarang ini telah berkembang pada keanggotaan suatu negara)
yang membawa implikasi pada kepemilikan hak untuk berpatisipasi dalam politik.
Berdasar pendapat-pendapat di atas, kewarganegaraan menunjuk pada
bentuk hubungan antara warga dengan komunitasnya sendiri, dalam hal ini
negara, yang melahirkan berbagai akibat antara lain:
a) Memunculkan identitas baru sebagai warga negara,
b) Menghasilkan rasa kepemilikan terhadap komunitas baru (negara) termasuk
kepemilikan akan nilai-nilai bersama komunitas,
c) Memunculkan aneka peran, partisipasi, dan bentuk-bentuk keterlibatan lain
pada komunitas negara, dan
d) Timbulnya hak dan kewajiban antara keduanya secara timbal balik.
Menurut hukum Indonesia, yakni dalam Undang-Undang No. 12 Tahun
2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, arti kewarganegaraan
adalah segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara.
Pengertian kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan sosiologis
1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan
hukum antara orang-orang dengan negara atau kewarganegaraan
sebagai status legal. Tanda dari adanya ikatan hukum seperti akte
kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dan lain-lain.
2) Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan ikatan
hukum, tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan,
ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air.
b. Kewarganegaraan dalam arti formal dan material
1) Kewarganegaraan dalam arti formal menunjuk pada tempat
kewarganegaraan dalam sistematika hukum.
2) Kewarganegaraan dalam arti materil menunjuk pada akibat dari status
kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban serta partisipasi
warga negara.

KELOMPOK VII

B. KEDUDUKAN WARGA NEGARA DALAM NEGARA


1. Penentuan Warga Negara
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, negara tidak boleh melanggar
general principles atau asas-asas umum hukum internasional tentang
kewarganegaraan. Asas-asas tersebut adalah:
a. Suatu negara tidak boleh memasukkan orang-orang yang sama sekali tidak
ada hubungan sedikit pun dengan negara yang bersangkutan sebagai warga
negaranya. Misalnya, Indonesia bebas menentukan siapa yang akan menjadi
warga negara, tapi Indonesia tidak dapat menyatakan bahwa semua orang
yang ada di kutub selatan adalah juga warga negaranya, dan
b. Suatu negara tidak boleh menentukan kewarganegaraan berdasarkan unsurunsur primordial yang dirasakan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum
umum (general principles) tadi. Misalnya, Indonesia tidak dapat menyatakan
bahwa yang dapat menjadi warga negara Indonesia adalah orang yang
beragama Islam saja atau orang dari suku Jawa saja.
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, dikenal adanya asas
kewarganegaraan berdasar kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan
perkawinan.
Penentuan kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal
dengan dua asas, yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis. Ius artinya hukum
atau dalil. Soli berasal dari kata solum yang artinya negeri atau tanah. Sanguinis
berasal dari kata sanguis yang artinya darah.
a. Asas ius soli adalah asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan
seseorang ditentukan dari tempat di mana orang tersebut dilahirkan.
b. Asas ius sangunis adalah asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan
seseorang ditentukan berdasar keturunan dari orang tersebut.
Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan
pada aspek perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan asas
persamaan derajat.
a. Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah
suatu ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat.
b. Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak
menyebabkan perubahan status kewarganegaraan suami atau istri.
Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara
dapat menciptakan problem kewarganegaraan bagi seorang warga. Secara
ringkas problem kewarganegaraan adalah munculnya apatride dan bipatride.
Apatride adalah istilah untuk orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan.
Bipatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki kewarganegaraan

Warga Negara dan Kewarganegaraan

ganda (dua). Bahkan dapat muncul multipatride, yaitu istilah untuk orang-orang
yang memiliki kewarganegaraan banyak (lebih dari dua).
2. Warga Negara Indonesia
Negara Indonesia telah menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara.
Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 26 UUD 1945 sebagai berikut.
a. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
oang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai
warga negara.
b. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di Indonesia.
c. Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang.
Berdasar hal di atas, kita mengetahui bahwa orang yang dapat menjadi
warga negara Indonesia antara lain:
a. Orang-orang bangsa Indonesia asli, dan
b. Orang-orang bangsa lain yang disyahkan dengan undang-undang menjadi
warga negara.
Berdasar pada Pasal 26 Ayat 2 UUD 1945 bahwa penduduk negara
Indonesia terdiri atas dua, yaitu warga negara dan orang asing. Sebelumnya
penduduk Indonesia berdasar Indische Staatsregeling 1927 pasal 163 penduduk
dibagi 3, yaitu:
a. Golongan Eropa, terdiri atas:
1) Bangsa Belanda,
2) Bukan bangsa Belanda, tetapi dari Eropa, dan
3) Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan
Eropa.
b. Golongan Timur Asing, terdiri atas:
1) Golongan Tionghoa, dan
2) Golongan Timur Asing bukan Cina.
c. Golongan Bumiputra atau Pribumi, terbagi:
1) Orang Indonesia asli dan keturunannya, dan
2) Orang lain yang menyesuaikan diri dengan pertama.
Orang-orang bangsa lain adalah orang-orang peranakan, seperti
peranakan Belanda, Tionghoa, dan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia,
mengakui Indonesia sebagai tumpah darahnya dan bersikap setia kepada
negara Republik Indonesia. Orang-orang ini dapat menjadi warga negara
Indonesia dengan cara naturalisasi atau pewarganegaraan.

KELOMPOK VII

Adapun undang-undang yang mengatur tentang warga negara adalah


Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia.
3. Ketentuan Undang-Undang Mengenai Warga Negara Indonesia
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai saat ini, undang-undang yang
mengatur perihal kewarganegaraan adalah sebagai berikut.
a. Undang-Undang No. 3 Tahun 1946 tentang Warga Negara dan Penduduk
Negara.
b. Undang-Undang No. 6 Tahun 1947 tentang Perubahan atas Undang-Undang
No. 3 Tahun 1946 tentang Warga Negara dan Penduduk Negara.
c. Undang-Undang No. 8 Tahun 1947 tentang Memperpanjang Waktu untuk
Mengajukan Pernyataan Berhubung dengan Kewarganegaraan Negara
Indonesia.
d. Undang-Undang No. 11 Tahun 1948 tentang Memperpanjang Waktu Lagi
untuk Mengajukan Pernyataan Berhubung dengan Kewargaan Negara
Indonesia.
e. Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia.
f. Undang-Undang No. 3 Tahun 1976 tentang Perubahan atas pasal 18
Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia.
g. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia.
Sampai saat ini undang-undang yang berlaku adalah Undang-Undang No.
12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Adapun
peraturan pelaksanaan guna mendukung undang-undang ini antara lain,
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara
Memperoleh,
Kehilangan,
Pembatalan,
dan
Memperoleh
Kembali
Kewarganegaraan Republik Indonesia.
C. KEWARGANEGARAAN INDONESIA
Undang-undang yang mengatur tentang kewarganegaraan Indonesia atau undangundang sebagai pelaksanaan dari Pasal 26 UUD 1945 yang berlaku sekarang ini
adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia yang diundangkan pada 1 Agustus 2006. Undang-undang ini
menggantikan undang-undang kewarganegaraan lama, yaitu Undang-Undang No.
62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Pokok materi yang diatur dalam undang-undang ini adalah:
1. Siapa yang menjadi warga negara Indonesia,

Warga Negara dan Kewarganegaraan

2. Syarat dan tata cara memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia,


3. Kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia,
4. Syarat dan tata cara memperoleh kembali Kewarganegaraan Republik
Indonesia, dan
5. Ketentuan pidana.
1. Tentang Warga Negara Indonesia
Berikut ini beberapa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun
2006 tersebut tentang siapa yang menjadi warga negara Indonesia, dinyatakan
bahwa warga negara Indonesia adalah:
a. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau
berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain
sebelum undang-undang ini berlaku sudah menjadi Warga Negara Indonesia;
b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu Warga
Negara Indonesia;
c. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara
Indonesia dan ibu warga negara asing;
d. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara
asing dan ibu Warga Negara Indonesia;
e. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara
Indonesia, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum
negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak
tersebut;
f. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya
meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya warga negara
Indonesia;
g. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara
Indonesia;
h. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara
asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai
anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18
(delapan belas) tahun dan/atau belum kawin;
i. Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir
tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;
j. Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia
selama ayah dan ibunya tidak diketahui;
k. Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan
ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui
keberadaannya;

KELOMPOK VII

l.

Anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari seorang
ayah dan ibu Warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara
tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak
yang bersangkutan;
m. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia;
n. Anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum
berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh
ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga
Negara Indonesia; dan
o. Anak Warga Negara Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun diangkat
secara sah sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan penetapan
pengadilan tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia.
2. Tentang Pewarganegaraan
Pewarganegaraan secara luas dapat diartikan sebagai cara atau upaya orang
dalam memperoleh status sebagai warga negara suatu negara.
Pewarganegaraan dikenal dengan istilah naturalisasi. Negara Indonesia juga
memiliki ketentuan mengenai cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia.
Sedangkan pewarganegaraan secara sempit merupakan salah satu cara
memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Menurut undag-undang, yang
dimaksud pewarganegaraan adalah tata cara bagi orang asing untuk
memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia melalui permohonan.
Tentang tata cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia menurut
Undang-Undang No. 12 Tahun 2006, antara lain:
a. Melalui permohonan, yaitu tata cara bagi orang asing untuk memperoleh
kewarganegaraan Republik Indonesia. Permohonan pewarganegaraan dapat
diajukan oleh pemohon jika memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1) Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.
2) Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah
negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau
paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut.
3) Sehat jasmani dan rohani.
4) Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
5) Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih.

Warga Negara dan Kewarganegaraan

6) Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak


menjadi berkewarganegaraan ganda.
7) Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap.
8) Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.
b. Melalui pernyataan, yaitu warga negara asing yang kawin secara sah
dengan Warga Negara Indonesia dapat memperoleh Kewarganegaraan
Republik Indonesia dengan menyampaikan pernyataan menjadi warga
negara di hadapan pejabat berwenang. Pernyataan sebagaimana dimaksud
dilakukan apabila yang bersangkutan sudah bertempat tinggal di wilayah
negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau
paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut, kecuali dengan
perolehan kewarganegaraan tersebut mengakibatkan berkewarganegaraan
ganda.
c. Melalui pemberian kewarganegaraan. Orang asing yang telah berjasa
kepada negara Republik Indonesia atau dengan alasan kepentingan negara
dapat diberi Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh Presiden setelah
memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang
bersangkutan berkewarganegaraan ganda.
d. Melalui pernyataan untuk memilih kewarganegaraan. Ketentuan ini
berlaku bagi anak yang sudah berumur 18 tahun atau telah kawin atau anak
yang memenuhi kriteria di bawah ini.
1) Anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah,
belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara
sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai
Warga Negara Indonesia.
2) Anak Warga Negara Indonesia yang belum berusia 5 (lima) tahun
diangkat secara sah sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan
penetapan pengadilan tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia.
Anak tersebut memiliki kewarganegaraan ganda. Akan tetapi, setelah
berumur 18 tahun atau kawin, ia harus memilih kewarganegaraan.
Apakah
ia
memilih
berkewarganegaraan
asing
ataukah
berkewarganegaraan Indonesia.
3. Tentang Kehilangan Kewarganegaraan
Dinyatakan bahwa kewarganegaraan Republik Indonesia hilang karena:
a. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri,
b. Tidak menolak atau tidak meepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan
orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu,

KELOMPOK VII

c. Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya


sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas) tahun,
bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang
Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan,
d. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden,
e. Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas
semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia,
f. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada
negara asing atau bagian dari negara asing tersebut,
g. Tidak diwajibkan, tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing,
h. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau
surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih
berlaku dari negara lain atas namanya,
i. Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima)
tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang
sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi
Warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir,
dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan
pernyataan ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan
Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang
bersangkutan padahal perwakilan Republik Indonesia tersebut telah
memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang
bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan,
j. Perempuan Warga Negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga
negara asing kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut
hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti
kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut,
k. Laki-laki Warga Negara Indonesia yang kawin dengan perempuan warga
negara asing kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut
hukum negara asal istrinya, kewarganegaraan suami mengikuti
kewarganegaraan istri sebagai akibat perkawinan tersebut.
l. Setiap orang yang memproleh Kewarganegaraan Republik Indonesia
berdasarkan keterangan yang kemudian hari dinyatakan palsu atau
dipalsukan, tidak benar, atau terjadi kekeliruan mengenai orangnya oleh
instansi yang berwenang dinyatakan batal kewarganegaraannya.
Asas-asas yang dipakai dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2006
tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia meliputi:

Warga Negara dan Kewarganegaraan

a. Asas ius sanguinis, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan


seseorang berdasarkan keturunan bukan negara tempat kelahiran,
b. Asas ius soli secara terbatas, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan
berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diperuntukkan terbatas bagi
anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini,
c. Asas kewarganegaraan tunggal, yaitu asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang, dan
d. Asas kewarganegaraan ganda terbatas, yaitu asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam undang-undang ini.
D. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA
1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara
Wujud hubungan antara warga negara dengan negara pada umumnya berupa
peran (role), hak, dan kewajiban. Peran pada dasarnya adalah tugas apa yang
dilakukan sesuai dengan status yang dimiliki dalam hal ini sebagai warga
negara. Secara teoritis, status warga negara meliputi status pasif, aktif, negatif,
dan positif. Peran warga negara juga meliputi peran yang pasif, aktif, negatif, dan
positif (Cholisin, 2000).
Peran pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku atau kebijakan politik yang ada. Peran aktif
merupakan aktivitas warga negara untuk terlibat (berpatisipasi) serta ambil
bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam memengaruhi keputusan
publik. Peran positif merupakan aktivitas warga negara untuk meminta
pelayanan dari negara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peran negatif
merupakan aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan negara dalam
persoalan pribadi warga.
Ketentuan selanjutnya mengenai hak dan kewajiban warga negara di
berbagai bidang terdapat dalam peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang dasar.
2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam pasal 27 sampai dengan
pasal 34 UUD 1945. Beberapa hak dan kewajiban tersebut antara lain:
a. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak tercantum dalam Pasal 27
Ayat (2) UUD 1945.
b. Hak membela negara, tercantum dalam Pasal 30 Ayat (1) UUD 1945.
c. Hak berpendapat, tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945.

10

KELOMPOK VII

d. Hak kemerdekaan memeluk agama, tercantum dalam Pasal 29 Ayat (1) dan
(2) UUD 1945.
e. Hak ikut serta dalam pertahanan negara, tercantum dalam Pasal 30 Ayat (1)
UUD 1945.
f. Hak untuk mendapatkan pendidikan, tercantum dalam Pasal 31 Ayat (1) dan
(2) UUD 1945.
g. Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional
Indonesia, tercantum dalam Pasal 32 UUD 1945.
h. Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial, tercantum
dalam Pasal 33 Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) UUD 1945.
i. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial, tercantum dalam Pasal 34 UUD
1945.
Kewajiban warga negara terhadap negara Indonesia, antara lain:
a. Kewajiban mentaaati hukum dan pemerintahan tercantum dalam Pasal 27
Ayat (1) UUD 1945.
b. Kewajiban membela negara, tercantum dalam Pasal 27 Ayat (3) UUD 1945.
c. Kewajiban dalam upaya pertahanan negara, tercantum dalam Pasal 30 Ayat
(1) UUD 1945.
Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya
merupakan kewajiban dan hak warga negara terhadap negara. Berikut ini
beberapa ketentuan tersebut.
a. Hak negara untuk ditaati hokum dan pemerintahan.
b. Hak negara untuk dibela.
c. Hak negara untuk menguasai bumi air dan kekayaan untuk kepentingan
rakyat.
d. Kewajiban negara untuk menjamin sistem hukum yang adil.
e. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara.
f. Kewajiban negara untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk
rakyat.
g. Kewajiban negara memberi jaminan sosial.
h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah.
Selain adanya hak dan kewajiban warga negara, di dalam UUD 1945 juga
tercantum tentang hak asasi manusia. Hak asasi manusia perlu dibedakan
dengan hak warga negara. Hak warga negara merupakan hak yang ditentukan
dalam suatu konstitusi negara. Sedangkan hak asasi manusia umumnya
merupakan hak-hak yang sifatnya mendasar yang melekat dengan
keberadaannya sebagai manusia.
Ketentuan lebih lanjut mengenai berbagai hak dan kewajiban warga
negara dalam hubungannya dengan negara tertuang dalam berbagai peraturan
perundang-undangan sebagai penjabaran atas UUD 1945, seperti berikut ini.

Warga Negara dan Kewarganegaraan

11

a. Hak dan kewajiban warga negara di bidang pendidikan terdapat dalam


Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
b. Hak dan kewajiban warga negara di bidang pertahanan keamanan terdapat
dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,
Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia, dan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI.
c. Hak dan kewajiban warga negara di bidang politik terdapat dalam UndangUndang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
di Muka Umum, Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, UndangUndang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, Undang-Undang No. 12
Tahun 2003 tentang pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD, UndangUndang No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden,
dan lain-lain.

12

KELOMPOK VII