Anda di halaman 1dari 32

ELISA

( ENZYME- LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY )


Agar terjadi suatu reaksi warna pada elisa, maka dibutuhkan suatu antibodi yang dilabel enzym,
dan substrat yang diberi indikator warna yang dikenal dengan kromogen
Enzym yang digunakan untuk melabel antibodi antara lain :
Sedangkan substrat yang digunakan :
1. Alkalin fosfatase
2. Horseradish peroxidase
3. Beta- galaktosidase

Alkali fosfat
peroksidase
Beta- galaktosa

Pada elisa ada beberapa metoda antara lain :


1. Direct elisa
2. Indirect elisa
3. Sandwich elisa
4. Compettitive elisa

Elisa
( enzyme- linked immunosorbent assay )
Agar terjadi suatu reaksi warna pada elisa, maka dibutuhkan suatu antibodi yang dilabel enzym,
dan substrat yang diberi indikator warna yang dikenal dengan kromogen
Enzym yang digunakan, sedangkan subtrat untuk melabel antibodi antara lain: yang digunakan
1.
Alakalin fosfatase alkali fosfat
2.

Horseradish peroxidase peroksidase

3.

Beta galaktosidase beta galaktosa

Pada elisa ada beberapa metoda antara lain :


1. Direct elisa
2. Indirect elisa
3. Sandwich elisa
4. Compettitive elisa
Pada elisa bahan yang dideteksi sebelumnya harus ditempelkan pada fase padat (pada microtiter
well). Bahan ( ag / ab) dapat menempl pada microtiter wells, karena wells ini telah dilapisi dengan
polysterine/ polyvinylchloride.
Prinsip dasar elisa terdiri dari :
A. Fase coating
B. Fase reaksi ag-ab
C. Fase reaksi kimiawi
Metoda pemeriksaan mikroskopi elektron
Mikroskop elektron
1. Mikroskop elektron transmisi ( tem)
A. Metoda direct
Metoda ini umumnya digunakan untuk pemeriksaan virus
B. Metoda indirect
2. Mikroskop elektron scanning (sem)
1

VIII. PEMERIKSAAN ELISA (CAIRAN)


Pemeriksaan ELISA ( cairan ) dapat di lakukan pada beberapa penyakit, antara lain :
-

HBV

HCV

HIV

AIV

Dengan menggunakan wel elisa yang jumlahnya 96 lubang. Pada dinding wel terdapat bahan
yang disebut poli fenil klorida/ poli bromida sehingga virus dapat menempel. Proses penempelan
berlangsung semalam pada suhu 40C. Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan elisa.
Gambar
serum

Direct
ELISA

40C semalam
nempel

Indirect

I. DIRECT

+
anti HIV dilabel
peroksidase

warna

+ Stop Buffer

HCL 0,1 N

subtrat

II. INDERCT
1.

+
Anti HIV

2.

3.

+
Enzim label
( peroksidase )

kromogen

+
substrat
Catatan : makin banyak/ gelap warnanya maka virusnya makin banyak.

IX. ROS (Reaktif Oksigen Spesies)


ROS adalah suatu bahan yang dihasilkan oleh tubuh dalam bentuk Radikal Bebas dan
Oksidan,berfungsi untuk membunuh bakteri dan membunuh enzim resistem.
Alur :
Fagosit dicaplok makrofag fagolisosom sistem enzim ( lisosom ) + ROS menghancurkan bakteri.
-

Secara fisiologis : Kelebihan radikal bebas atau oksidan dalam tubuh akan diredam oleh anti
radikal bebas atau anti oksidan.

Secara patologis : Bila radikal bebas atau oksidan >> dari anti radikal bebas atau oksidan.

ROS dengan anti ROS harus seimbang


ROS > Anti ROS : stres oksidatif
ROS < Anti ROS : infeksi
5

Oksidatis stress : kondisi dimana ROS lebih besar dari anti ROS (O2- dan H2O2 meningkat yang
dapat merusak sel.
Contoh dari anti ROS : Scavenger enzym
Yang termasuk scavenger enzym : SOD (Super Oksid Dismutase), katalase, dan glutation.
SOD (Super Oksid Dismutase) berfungsi menguraikan radikal super oksid menjadi peroksida (O2H2O2)
SOD
Katalase berfungsi mengubah H2O2 menjadi H2O dan O2.
Glutation berfungsi mengubah H2O2 menjadi H2O.
Reaksi scavenger enzym :
O2-

H2O2
SOD

H2O + O2

Katalase
Glutation

H2O
Contoh dari ROS :

Radikal Bebas Super Okside ( O2 ),termasuk radikal bebas

Sering

Radikal Bebas Hidroksil (OH*), termasuk oksidan

memunculkan

Radikal Bebas Peroksil (ROO*),termasuk oksidan

masalah pada

Hidrogen Peroksida (H2O2)

manusia

Peroksida Lipid (LOOH)

Ion Hipoklorit (OCl )

Radikal Bebas : Atom/gugus yang kulit luarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan (unpired
electron).
Oksidan : Suatu senyawa yang dapat menerima elektron (electron aceptor).
Jadi, radikal bebas adalah oksidan tetapi tidak semua oksidan termasuk radikal bebas.
Yang bisa menetralkan ROS itu : vitamin C dan betakarotin (anti ROS) terdapat pada wortel.
Contoh :
O2 + e-

O2-

O2- + e- + 2H+

H2O2

H2O2 + e- + H+

OH* + H2O

Catatan :
O2 dan H2O2 merupakan electron aceptor
6

O2 : Radikal Bebas
H2O2 : Oksidan,mudah disintesis
Apabila pada enzym scavenger terjadi penurunan, maka H2O2 dan O2- akan bereaksi dengan
membran sel,sehingga terbentuk suatu lipid perokside yang dikenal dengan Malon Dialdehide
(MDA) adalah lapisan lemak didalam sel karena O2- dan H2O2 meningkat sehingga memicu
kematian sel,yang menimbulkan respon imun.
Jika SOD dan katalase menurun maka O2- dan H2O2 akan tinggi dan akan mengakibatkan
oksidatif stress,terdapat pada pasien DM, Rotgen Toraks, Kemoterapi dan Olah raga yang
berlebihan bisa merusak jantung dan otak. Bila pasien habis dari radioterapi, jika badan merasa
panas pasien tidak boleh diberi air karena dapat merusak sel yang dapat menimbulkan radikal
bebas.
Alur :
ROS

kerusakan sel akibat radikal bebas

sistem imun

makrofag menjadi aktif

melepas prostaglandin

dibris

fagositosis oleh makrofag

berupa IL.6 dan TNF

masuk

merangsang hipothalamus

menimbulkan reaksi panas.

Sedangkan OH* dapat menembus membran inti dan bereaksi dengan DNA, sehingga DNA
akan mengalami kecacatan/kerusakan dan akhirnya sel menjadi abnormal atau mengalami
kematian.

Proses pembentukan radikal hidroksil (OH*) ini dapat melalui dua jalur yaitu reaksi
haberweis dan reaksi venton sehingga dikenal dengan reaksi haberweis venton ( Reaksi HV).
Reaksi Haberweis

: O2- + H2O2

Reaksi Venton

: a. Fe2+ + H2O2

Fe3+ + OH* + OH-

b. Cu+ + H2O2

Cu2+ + OH* + OH-

O2 + OH*

X. HEMATOLOGI MALIGNANSI
Malignant :
Penyakit keganasan yang memiliki multigene defect
(gen yang cacat karena faktor mutasi, mutasi karena efek radiasi dan virus (oncovirus) contohnya
EBV, HPV, bahan kimia),

Khusunya gen yang mengatur siklus pembelahan sel

Tumor supressor gene (p15, p16, p53, p21, pRb, Bax),


menghambat siklus pembelahan sel, sel bermutasi (protein inaktif) dan
Protooncogene (Ras, BCl-2, C-myc), memicu pembelahan sel,sel bermutasi mengalami (protein
overaktif).

Kecacatan dapat terjadi karena mutasi, mutasi dapat disebabkan oleh radiasi, virus
(oncovirus) contohnya EBV : Ebsten Barr Virus (pada saluran napas atas) dan HPV : Human
Papiloma Virus (pada servix dan rektum), dan bahan kimia contohnya benzophynin, nitrosamin.
Mutasi : Perubahan susunan nukleotida pada DNA baik melalui belesi, insersi, maupun translokasi.
DNA

membentuk mRNA

protein

Bila DNA mengalami mutasi maka mRNA akan berubah.


8

Mutagen : bahan yang dapat memicu terjadi mutasi.


Contoh bahan kimia :
A. Alkylating Agents, misalnya
= dimethylsulfate
= -proplolactone
= Ethyl methane sulfonate (EMS)

B. Polycyclic dan heterocyclic aromatik hydrocabons


= benz (a) anthracene
= benzo (a) pyrene
= dibenz (a,h)anthracene
C. Aromatic amines
= 2-Naphtylamine (-naphthylamine)
= benzidine
= dimethylaminoazobenzene
Contoh Virus

D. VIRUS
E-7 MENGIKAT pRb

pRb INAKTIF

MENGEKSPRESIKAN
ONCOPROTEIN

HPV

E-6 MENGIKAT p53

pRb

FAKTOR TRANSKRIPSI
(E2F,ABL)

E-7

E2F,ABL AKTIF
INAKTIF

EBV
21/CR-2)

P53 INAKTIF

SIKLUS
PEMBELAHAN SEL
TIDAK TERKENDALI
(MALIGNANT)

NUCLEAR PROTEIN
TEREKSPRESI

p53
E-6
p21 TIDAK
TEREKSPRESI

SEMUA CDK AKTIF

Masuk melalui mukosa orofaring dan B limfosit

melalui reseptor (CD-

atau kontak antara sel yang terinfeksi (limfosit-B/sel nasofaring) interaksi

antara integren -1 atau .5-.1 dengan EBV BMRF-2 menembus lateral membran pada
epitel yang berdekatan

mempengaruhi DNA host

mutated (onkogen)

siklus

pembelahan sel tidak terkendali (malignant).


Radiasi/radikal bebas, panas, dingin
Iosnisasi : sinar-X, sinar-V
Radiasi
Non ionisasi : ultra violet
9

Secara langsung
Efek radiasi ionisasi
Secara tidak langsung
Efek secara langsung : merusak inti sel
Efek tidak langsung :airnya yang dipengaruhi keganasan
Hematologi Malignasi

Leukimia

A. Leukimia (Kanker darah)


Suatu penyakit yang ditandai adanya penimbunan sel darah putih yang abnormal.
Leukimia dibagi menjadi dua:
a. Leukimia Akut
> 50% terdiri dari myeloblast/limfoblast.
1. AML (Akut Myloblastik Leukimia)
Pada Leukimia ini umumnya sel dapat berupa : Myloblastik Derdeferensiasi baik dan
Myloblastik Derdeferensiasi jelek
Misalnya : - Promyelositik
- Myelomositik
2. ALL (Akut Limfoblastik Leukimia)
Pada Leukimia ini umumnya sel dapat berupa Limfoblast
3. Leukimia Kronik
1. CGL ( Kronik Granulositik Leukimia )
2. CLL ( Kronik Limfositik/limfatik leukemia )
Terapi : berupa penghambat DNA, contoh : Dosopisin, Disopesan.
DNA sintetis paling banyak ditemukan di embrional (rambut)
B.SLE (Systemic Lupus Erytromatosis)
Suatu penyakit yang melibatkan banyak sistem organ (autoimun) karena antibodi
muncul didalam tubuh dan merusak tubuhnya sendiri.
Sasaran utama :

Sistem Haemopoitik

Kulit

Sendi (Bengkak)

Ginjal (Gagal Ginjal)

Tulang

SLE : bersifat sistemik dan gejalanya bermacam-macam.


SLE

Ab

Ag
10

Tulang sis.darah

kulit

KEMATIAN SEL
Ab menyerang pada tulang, system darah ( yang mengakibatkan terjadi anemia ), kulit, ginjal dan
akan mengakibatkan proses kematian sel.
Kematian sel :

Nekrosis

Onkosis

Apoptosis

Nekrosis, yaitu kematian sel karena kerusakan system membrane.


Penyebab nekrosis :

Aktivitas/aktivasi enzim proteolitik (lisosom). Didalam fagolisosom tewrdapat lisosim

Aktivitas ROS

Radiasi, bisa menimbulkan lipid peroksin


Kemoterapi
Bakteri

Reaksi imunologik
Onkosis, yaitu kematian sel karena pembengkakan dan akan pecah sehingga terjadi lisis

karena terdapat faktor iskemia terjadi di membran sel.


Iskemik (kekurangan oksigen) ditemukan pada cardiac arrest (jantung berhenti).
ATP ase : memecah ATP, ATP dibentuk dari karbohidrat dan oksigen.
Apoptosis, yaitu kematian sel karena kerusakan perangkat genetic. Pada mulanya apoptosis
dikenal dengan Program cell death (program kematian sel), dimana membran utuh tetapi isi sel
rusak.
Telomeres : untuk melindungi kromosom agar tidak terjadi fragmentasi/kerusakan.
Telomere akan berkurang dalam sel apabila terjadi pembelahan sel, pada sel normal telomere akan
memendek. Enzym telomerase : membuat telomere menjadi imortal (hidup terus) pada sel ganas.
Jadi apoptosis tidak terjadi kerusakan membran dan isi sel tidak keluar sehingga tidak terjadi
inflamasi, sedangkan pada onkosis dan nekrosis terjadi kerusakan membran sel dan isi sel keluar
sehingga terjadi inflamasi atau radang.
Apoptosis :
11

Apoptosis fisiologik : tergantung pada telomere

Apoptosis patiologik : faktor lingkungan (karena ROS, Radiasi, Enzym, Hormon dan
Ligan- Fas (LF)).

Intra sel komponen

cairan keluar

inflamasi

1. ROS
Contoh : pada penuaan akan mengalami disfungsi mitokondria
Semi otonomi

DNA membentuk protein BNIP3,dalam mitokondria terdapat poros

pt.pore (permeabilitas transision pore)

didalam pt.pore ada pintu

ANT protein

(bertanggung jawab sebagai pintu untuk selalu menutup)


BNIP-3 menonaktifkan ANT protein agar bisa membuka
mengaktifkan APOF-1 (Apoptosis Protease Activing Tactor)
masuk intisel merusak DNA

sel akan mati

bereaksi membentuk OH* (radikal hidroksin)

mengeluarkan Cytrokome
mengaktifkan caspase

mengeluarkan ROS (O2 dan H2O2)


pindah ke inti sel

memutuskan rantai DNA

merusak DNA
2. Radiasi (R)
Dalam sel menimbulkan H 2O

O2-

H2O2

OH*

merusak DNA dan menimbulkan


apoptosis dan malinansi

Radiasi
3. Enzym dan LF (ligant fas)
Enzym sitotoksin memacu apoptosis.
NK sel + CTL : menghasilkan ligant
Makrofag + IFN : menghasilkan fas
Sitotoksin :
a. Perfosin : Melubangi sel, setelah terjadi pelubangan sitotoksin mengeluarkan granzym.
b. Granzym : Mengeluarkan caspase dan DNAse yang mematikan sel
Fas mengeluarkan FADD (Fas Associated protein Death Domain) : Mengaktifkan caspase dan
DNAse yang mematikan sel.
4. Faktor Hormon
Contoh : Hormon seks dan Endometrosis
Hormon seks mematikan sel (Apoptosis)
Wanita Menstruasi

darah bisa keluar di Ovarium

sebagian masuk Peritonium

sebagian keluar di Cavum Peritonis dan

darah tersebut akan dihancurkan NK sel aktif (rusak).

Apabila NK sel tidak aktif akan memunculkan Makrofag yang memakan Debris. Makrofac
tersebut menjadi aktif dan mengeluarkan IL, IL6, IL8, IL1, TNF , TNF .
12

IL1, IL6 : Membuat sel menjadi banyak


IL8 : Berperan membentuk Angiogenesis (pembentukan pembuluh darah)
TNF : Merangsang pembentukan Fibrous yang membuat masa tumor.
Proses infertil pada Wanita:
Endometrosis : Timbul tumor di dalam jaringan Endometrium
Sel-sel tumor yang berkembang
folikel premerdial

Aromatisasi dan menghasilkan Estrogen apabila dibuahi pada

folikel graft, serta Estrogen menekan FSH yang membuat infertil.

FSH
Aromatisasi : Suatu proses dimana sel tersebut menghasilkan estrogen.
FSH : Folikel Stimuliti Hormon
Angiogenesis : Pembentukan pembuluh darah.
Fibrous : Jaringan Ikat
Folikel Premordial

Folikel Graft yang dibuahi sperma

TNF

Menekan FSH

Tidak matur, infertil (Mandul).

Pada pria:
Ners cell : merawat spermatogenium sampai menjadi spermatozoa, dan menghasilkan ligan
sedangkan sertoli menghasilkan fas.
Sel Leyding : menghasilkan testosteron (prostat, spermatogenesis). Sel Leyding dapat terganggu
karena torsi (testis terpeluntir) testosteron tidak dapat menghasilkan spermatogenesis dan ners cell
terganggu.

13

14

Kode genetik

Mutasi : perubahan susunan nukleotida pada DNA, baik melalui delesi, insersi maupun translokasi

15

BAHAN KIMIA :
A. Alkylating Agents
= dimethyl sulfate
= -Propiolactone
= Ethylmethane sulfonate (EMS)
B. Polycyclic dan heterocyclic Aromatik Hydrocabons
= benz(a)anthracene
= benzo(a)pyrene
= dibenz(a,h)anthracene
C. Aromatic Amines
= 2-Naphtylamine (-naphthylamine)
= benzidine
= dimethylaminoazobenzene

16

RADIASI/ RADIKAL BEBAS


Radiasi, radikal bebas, panas, dingin
Radiasi : = iosnisasi : sinar-x,sinar-
= non ionisasi : ultra violet
Efek radiasi ionisasi :
= secara langsung
= tidak langsung
Efek secara langsung : merusak inti sel

17

HAEMATOLOGI MALIGNANSI LEUKEMIA


DEFINISI :
LEUKIMIA : suatu penyakit yang ditandai adanya penimbunan sel darah putih abnormal.
LEUKIMIA AKUT : > 50% terdiri dari myeloblast atau limfoblast
1. AML ( Akut Myeloblastik Leukemia)
Pada leukemia ini umumnya sel dapat berupa ..
= myeloblastik berdeferensiasi baik
18

= myeloblastik berdeferensiasi jelek


misalnya : - promyelositik
- myelo monositik
2. ALL ( akut limfoblastik leukemia)
Pada Leukemia Ini Umumnya Sel Dapat Berupa
= limfoblast
LEUKEMIA KRONIK
1. CGL ( Kronik Granulositik Leukemia)
2. CLL ( Kronik Limfositik/Limfatik Leukemia)
SLE (SYSTEMIC LUPUS ERYTROMATOSIS)
SLE : suatu penyakit yang melibatkan banyak sistem organ
Sasaran utama : sistem haemopoitik, kulit, sendi, ginjal
Pada penyakit ini banyak melibatkan auto antibodi
Seperti antibodi terhadap : eriytrosit, leukosit, trombosit
Selain itu juga timbul antibodi terhadap :
nukleus

antigen-antigen lain yang tidak diketahui asalnya.

SISTEM IMUN DAN PENGENDALIAN KANKER.

19

20

IMUNOLOGI INFEKSI

Respons hospes terhadap agent infeksi


Berdasarkan dari reaksi hospes tentunya setiap agen infeksi akan memberikan respon imun
yang berbeda, yaitu :
1. Jenis mikro organisme
Seperti : - virus : hiv, dhv
21

- Parasit : toxocra
- Bakteri : mb. Lepra
- Jamur : trichophyton, candida
2. Kondisi host stress
Virus misal : v. Hepatitis, v dengue, hiv, aiv, ebv, hpv
Istilah yang perlu diketahui :
1. Kapsid
: Mantel protein yang membunkus genum asam nukleat
2. Kapsomer

: Unit morfologi yang terlihat dengan mikroskop elektron (icisahedral)

3. Amplop

: Sebuah membran lipid yang mengellingi partikel virus

4. Nucleocapsid : Suatu kompleks protein asam nukleat yang mewakili bentuk bungkus gen
virus
5. Virion

: Partikel virus yang lengkap

Virus adalah agen infeksi terkecil yang hanya memiliki satu jenis asam nukleat (rna atau
dna) sebagai genom mereka. Asam nukleat tebungkus dari mantel protein yang dikelilingi dari
membran lipid.
Unit virus yang infektif disebut sebagai virion

Di lingkungan ekstra seluler virus dalam keadaan inert ( diam)

Virus akan mengalami replikasi bila berada dalam sel ( intra seluler)

Setiap replikasi akan menghasilkan asam nukleat dan mantel protein virus dalam jmlh
banyak. Mantel protein virus bergabung bersama-sama membentuk kapsid yang berfungsi
membungkus dan menjaga stabilitas asam nukleat virus terhadap pengaruh lingkungan.

Infeksi virus terhadap sel inangnya bersifat spesifik

Sel inang yang dimasuki virus bisa berefek ringan, tidak berefek sama sekali atau dapat
merusak sel iang sampai mati

Klasifikasi virus :
Dalam taksonomi untuk membedakan keluarga virus berdasarkan pada :
Morfologi virion

Bagian fisiko kimia ( banyak molekul, bj, atau stabilitas ph

Bagian gene virus meliputi jenis asam nukleat ( dna/rna)

Contoh DNA-virus :
A. Parvo virus
B. Adeno virus

: parvoirus-b.19
: aviadenovirus., mastadenovirus
22

C. Herpes virus

: herpes simplex

D. Pox virus

: variola., vaccinia

E. Hepadna virus : hepatitis-b


Contoh MA-virus :
A. Picorna virus

: hepatovirus(vha).

B. Rotavirus
C. Hiv
D. Aiv
Ekologi dan Cara Penularan Virus

Aiv (avian influenza virus )


Famili/ genus : orthomyxoviridae
Virus influenza a dan b
Aiv (avian influenza virus )

Ukuran : 80-120 nm
Genom MA
Memiliki dua macam membran antigen :
1). Mayor antigen yaitu : haemaglutinin ( h ), Ag ini yang mengalami
dominan

perubahan yang

23

2). Antigen neuraminidase (n )


Ag pada aiv : h5n1
Aiv : menginfeksi epitel saluran nafas
Haemaglutinin dari virus menempel pada n-acetyl
Neuramic acid pada permukaan sel yang berupa
Glikoprotein dan glycolipid
Neuraminidase dapat mempengaruhi neuramic acid pada membran sel, sehingga sel dapat
menempel.
Menempelnya MA Pada Sel

Patogenesis

Imuno defisiensi
Imuno defisiensi terjadi karena adanya kecacatan genetik dari sel imunokompeten.
Kecacatan ini dapat terjadi karena adanya faktor tertentu seperti radiasi, infeksi virus atau suatu
radikal bebas.
Untuk memahami terjadnya imunodefesiensi coba diperhatikan konsep dasar respons imun

24

XI. Pengiriman Bahan Pemeriksaan


Patologi
a. Patologi anatomi yaitu mempelajari penyakit yang mempengaruhi berbagai sistem penyusun
tubuh.
b. Patologi klinik yaitu perubahan resiko biokimia tubuh.
Contoh :
BUN, kreatinin serum darah ( jangan sampai terjadi goncangan keras karena akan
terjadi lisis dan jangan disuhu panas ) dikirim.
( darah boleh dikirim apabila sudah dibentuk menjadi centritosa )
Pemeriksaan dilakukan melalui susunan pada DNA/RNA, protein, sel, jaringan.

1.

Jaringan ada 2 macam :


a. Jaringan keras, contoh : tulang gigi fiksasi dekalsifikasi.
b. Jaringan lunak, contoh : otak, saraf, dan sebagianya.
Tujuan fiksasi :
-

Mempertahan morfologi sel seperti semula.

Mencegah otolisis ( lisis dengan sendirinya ).

Mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri / jamur.

25

Ex. Larutan fiksasi :


-

Formalin 37 40 % identik dengan 100%.

Larutan Zenker, helly.

Metanol, dll.

Supaya bahan fiksasi dengan mudah menyerap kedalam jaringan maka jaringan harus
dipotong dengan ketebalan sekitar 0,5 mm. Lama pemberian fiksasi min. 15 24 jam.
Untuk memperoleh hasil yang optimal maka jaringan terlebih dahulu harus diperoses,
melalui beberapa tahapan :
Seperti : Dehydrasi, Clearing, Impregnasi, Embedding
Catatan :
Bahan impregnasi harus sama dengan bahan embedding
Dekalsifikasi, yaitu penarikaan kalsium dari dalam jaringan.
Larutan dekalsifikasi, yaitu HNO3, EDTA, PERINYI, FORMICACID.
Perbandingan larutan dekalsifikasi 1 : 50.
Cara dekalsifikasi sempurna ( menghilangkan kalsium ) :
a. Radiologi
b. Fisika : jaringan di dekalsifikasi dengan ditusuk.
c. Kimiawi : jaringan di dekalsifikasi di pindah kan ditempat lain dan bila ada gelembung
berarti masih ada kalsium.

2.

Sel Exvoliative ( pelepasan spontan )


Dapat ditemukan atau diperiksa :
a. Sputum, cairan urine, cairan asites, cairan pleura, cairan sendi, cairan tubuh.
Urine
Sputum
Cairan asites, pleura, dan sendi

Pemeriksaan Secara Basah dan Secara


Kering

Urine
Secara Basah : urine dengan larutan 50% ethanol dicampur dan dimasukan kedalam
wadah.
Alkohol konsentrasi tinggi dapat membuat degenerasi sel dan tidak dapat untuk hapusan.
Urine diputar dengan kecepatan 2000rpm dan dimsukan kedalam wadah lalu
dikeringkan di suhu kamar 5 10 menit kemudian difiksasi.
26

Pengambilan untuk memeriksa kelainan pada buli buli di sistem urinaria dan dalam
pengambilan urin pasien disuruh loncat loncat kemudian urin di tampung.
Sputum
Cara pemeriksaannya,
Sputum secara langsung ( basah dan kering ) : sputum yang lansung di keluarkan oleh
penderita dan dapat dikirim.
Secara Basah : sputum dilarutkan dalam larutan fiksasi yaitu ethanol 70% kemudian
diambil daerah yang padat.
Secara Kering : sputum yang padat ditempelkan di double glass lalu di fiksasi
dengan ethanol 95% selama 25 menit.
Sputum yang ditampung selama 24 jam disebut sputum koleksi.
Sputum koleksi dipakai untuk mendapatkan sputum dari bronkus paru, untuk
mendapatkan dalam 3 hari diberi ekspetoransia lalu 3 hari berikutnya ditampung dan
diberi ethanol 70%.
Tujuan pemeriksaan sputum :
Untuk menentukan adanya peradangaan atau keganasaan dalam baru.
Kelebihan

: dapat diperikasa dengan sputum banyak.

Kelemahan

: tidak dapat menentukan kelainan paru kiri atau kanan.

Cairan asites
Cara pemeriksaannya,
1. Basah
Cairan di fiksasi dengan ethanol 70% dengan volume yang sama kemudian diberi
label.
2. Kering
Cairan asites diputar 2000rpm sedimen hapusan.
Tujuan pemeriksaan : untuk menentukan adanya metastase atau penyebaran sel sel
kanker.
Cairan pleura
Tujuan untuk menentukan adannya metastase atau peradangan.
Cairan sendi
Tujuan untuk menentukan adanya radang atau keganasan
Cairan tubuh
PCR

27

DNA

Riverse Transkriptase RNA

Senyawa yang membantu PCR :


Enzim ( tag enzym : enzym yang tahan 900C )
Primer primerase
Nukleutida A, G, T, C
Polymerase rantai DNA berdasarkan enzym polimerase
b. Sel kerokan di dapat dari bucal, vagina.
Sel kerokan dikerok ditempel dengan obyek gelas kemudian difiksasi, dikeringkan
dengan suhu ruangan 250C
Sel infrin didapat dari luka, secret genetalis pada laki laki.

PENGIRIMAN BAHAN PEMERIKSAAN


PATOLOGI

Patologi anatomi

patologi klinik

patologi

Patos : sakit
Logos : ilmu

Mempelajari
penyakit
yang
mempengaruhi
berbagai
sistem
penyusun tubuh

Mempelajari
Penyakit

anatomi

Perubahan reaksi
bio kimiawi tubuh

urai tubuh

mempelajari
berbagai sistem
Penyusun tubuh

SISTEM PENYUSUN TUBUH MANUSIA


Tubuh manusia
Organ
Jaringan
Seluler
Tingkat dna
Molekuler
Tingkat protein
28

Individu yang mengalami penyakit

Setelah di analisa

Terjadi perubahan pada sitem


molekuler

seluler

Tingkat dna

Tingkat protein

jaringan

Organ

Patologi : Orientasnya penentuan dx dari suatu penyakit dalam berbagai sistem ( jaringan atau
cairan tubuh)
Patobiologi : Orientasnya mempelajari proses penyimpangan suatu sistem yang memicu
terjadinya dari suatu penyakit
Untuk menentukan suatu diagnostik sangat diperlukan

1. Cara pengambilan bahan,


2. Cara pengawetan bahan,
3. Cara pengiriman bahan

1. proses pembuatan preparat


2. cara pemeriksaan bahan /serum

Persiapan bahan :
Jaringan yang diambil dari individu, harus segera dilakukan fiksasi
29

Supaya bahan fiksasi dengan mudah menyerap ke dalam jaringan maka jaringan harus dipotong
dengan ketebalan sekitar 0,5 m m
Adapun tujuan fiksasi :
1. Memepertahankan morfologi sel seperti semula
2. Mencegah otolisis
3. Mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur
Contoh larutan fiksasi :
1. Formalin
2. Larutan zenker
3. Metanol , dll
Untuk memperoleh hasil yang optimal maka jaringan terlebih dahulu harus diperoses, melalui
beberapa tahapan Seperti :
A. Dehydrasi
B. Clearing
C. Impregnasi
D. Embedding
Catatan : Bahan impregnasi harus sama dengan bahan embedding
Cara pewarnaan ( he ) yang progressive
1. Xylol
: 2 menit
2. Xylol
: 2 menit
3. Etanol absolute
: 1 menit
4. Etanol absolute
: 1 menit
5. Etanol 95%
: 1 menit
6. Etanol 95%
: 1 menit
7. Etanol 80%
: 1 menit
8. Cuci air
: 10-15 menit
9. Mayers haematoxylin
: 15 menit
10. Cuci air mengalir sekitar
: 10-15 menit ( sampai berwarna biru)
11.eosin
: 15 detik 2 enit
12. Etanol 95%
: 1 menit
13. Etanol 95%
: 1 menit
14. Etanol 100%
: 1 menit
15. Etanol 100%
: 1 menit
16. Etanol 100%
: 2 menit
17.xylol
: 2 menit
18. Xylol
: 2 menit
19. Xylol
: 2 menit
20 mounting dengan entelan / canada balsem

30

CARA PEWARNAAN
A.

B.

Gambar jaringan hati

Teknik imunologi
Imuno teknik : adalah suatu metoda yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya
suatu ag / ab baik pada bahan yang berupa cairan/ suspensi ataupun pada bahan yang berupa
jaringan /sel

31

32