Anda di halaman 1dari 5

GANGGUAN CEMAS

Husnul Mubarak, S.Ked


PENDAHULUAN
Sensasi anxietas / cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai
oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti
nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui
selama kecemasan cenderung bervariasi, pada setiap orang tidak sama.
Dalam praktek sehari-hari anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan bingung,
was-was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal.
Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik. Anxietas sendiri mempunyai rentang
yang luas dan normal sampai level yang moderat misalnya pertandingan sepak bola, ujian,
wawancara untuk masuk kerja mempunyai tingkat anxietas yang berbeda.
Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat sebagai
sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal. Anxietas normal sebenarnya
sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia
supaya dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang
pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara giat supaya
kecemasannya dapat berkurang. Istilah kecemasan dalam psikiatri muncul untuk merujuk suatu
respon mental dan fisik terhadap situasi yang menakutkan dan mengancam. Secara mendasar lebih
merupakan respon fisiologis ketimbang respon patologis terhadap ancaman. Sehingga orang cemas
tidaklah harus abnormal dalam perilaku mereka, bahkan kecemasan merupakan respons yang
sangat diperlukan. Ia berperan untuk meyiapkan orang untuk menghadapi ancaman (baik fisik
maupun psikologik). Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung sesaat adalah normal dan hampir
semua orang pernah mengalaminya.
Cemas pada umumnya terjadi sebagai reaksi sementara terhadap stress dalam kehidupan seharihari. Bila cemas menjadi begitu besar atau sering seperti yang disebabkan oleh tekanan ekonomi
yang berkepanjangan, penyakit kronik dan serius atau permasalahan keluarga maka akan
berlangsung lama; kecemasan yang berkepanjangan sering menjadi patologis. Ia menghasilkan
serombongan gejala-gejala hiperaktivitas otonom yang mengenai sistem muskuloskeletal,
kardiovaskuler, gastrointestinal dan bahkan genitourinarius.
Respon kecemasan yang berkepanjangan ini sering diberi istilah gangguan kecemasan, dan ini
merupakan penyakit. Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada orang yang menderita stress
normal; pada orang yang menderita sakit fisik berat, lama dan kronik; pada orang dengan gangguan
psikiatri berat (skizofrenia, gangguan bipoler dan depresi); dan pada segolongan penyakit yang
berdiri sendiri yang dinamakan gangguan kecemasan.
Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan cepat
menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif

anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan cukup
gawat untuk mempengaruhi prestasi kerjanya. Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang yang
menderita anxietas kronik jauh lebih banyak daripada anxietas akut.
DEFINISI ANXIETAS
Anxietas adalah perasaan yang difus, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan
kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi
badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang. Perasaan ini dapat berupa rasa
kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau
kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. ( Harold
I. LIEF) Anenvous condition of unrest ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL) Anxietas adalah
perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang
mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang
individu atau kelompok biososialnya. ( J.J GROEN)
PREVALENSI ANXIETAS
Survei terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 - 33% pasien yang datang berobat ke dokter
non psikiater merupakan pasien dengan gangguan mental. Dari jumlah tersebut minimal
sepertiganya menderita gangguan kecemasan. Di Indonesia penelitian yang dilakukan di Puskesmas
Kecamatan Tambora Jakarta Barat tahun 1984 menunjukkan bahwa di puskesmas jumlah gangguan
kesehatan jiwa yang sering muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa dan 34,39%
untuk anak.
ETIOLOGI
Faktor pencetus yang sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang
menahun seperti amarah yang direpresi atau impuls untuk melampiaskan hal sex. Biasanya uruturutan kejadian sebagai berikut : Ketakutan ( kecemasan akut ) represi dan konflik ( tak sadar )
kecemasan menahun stres pencetus penurunan daya tahan dan mekanisme untuk
mengatasinya nerosa cemas.
GEJALA UMUM ANXIETAS
Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut gila, takut kehilangan kontrol
dan sebagainya.
Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit
bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan lain-lain. Keluhan yang
dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadangkadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada; jantung berdebar;
mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada

perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan berat;
kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu.
Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas
kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi
pengalaman penderitaan dan gejala ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup
gawat.
Yang akan dibahas disini adalah gangguan cemas menyeluruh.
GANGGUAN CEMAS MENYELURUH
Penyakit Kecemasan Menyeluruh merupakan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan akan
sejumlah aktivitas atau peristiwa, yang berlangsung hampir setiap hari, selama 6 bulan atau lebih.
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap
(bertahan lama), Gejala yang dominan sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang
berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing
kepala dan keluhan epigastrik adalah keluhan-keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya
atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu
dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan. Kecemasan dan kekhawatiran ini sangat
berlebihan sehingga sulit dikendalikan.
Selain itu, penderita mengalami 3 atau lebih dari gejala-gejala berikut:
gelisah
mudah lelah
sulit berkonsentrasi
mudah tersinggung
ketegangan otot
gangguan tidur.
Penyakit ini sering terjadi, sekitar 3-5% orang dewasa pernah mengalaminya.
2 kali lebih sering terjadi pada wanita. Seringkali berawal pada masa kanak-kanak atau remaja.
Keadaan ini berfluktuasi, semakin memburuk ketika mengalami stres dan menetap selama bertahuntahun.
Pedoman Diagnostik
Penderita harus menujukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari
untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada
keadaan situasi khusus tertentu saja ( sifatnya free floating atau mengambang)
Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
a) Kecemasan ( khawatir akan nasib buruk, merasa seperti diujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb.);
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai);
c) Overaktivitas otonomik ( kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas,

keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb.).


Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan (reassurance) serta
keluhan-keluhan somatik berulang yang menojol.
Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara ( untuk beberapa hari), khususnya depresi, tidak
membatalkan diagnosis utama Gangguan Anxietas Menyeluruh, selama hal tersebut tidak
memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif( F32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-), gangguan
panik (F41.0), atau gangguan obsesif kompulsif (F42.-)
Terapi
Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik
dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan
yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat
mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik.
Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat
digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas : misal Diazepam 5 mg malam
hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan
bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan.
Untuk mengatasinya biasanya diberikan obat anti-cemas (misalnya benzodiazepin); tetapi karena
pemberian jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan fisik, maka dosisnya harus dikurangi
secara perlahan, tidak dihentikan secara tiba-tiba. Buspiron merupakan obat lainnya yang juga
efektif untuk mengatasi kecemasan menyeluruh. Pemakaian obat ini tampaknya tidak menyebabkan
ketergantungan fisik. Tetapi efeknya baru tampak setelah 2 minggu atau lebih, sedangkan efek
benzodiazepin akan tampak beberapa menit setelah pemberian obat.
Terapi perilaku biasanya tidak efektif, karena keadaan yang memicu terjadinya kecemasan tidak
jelas. Kadang dilakukan relaksasi dan teknik biofeed-back. Penyakit kecemasan menyeluruh bisa
berhubungan dengan pertentangan psikis.
Pertentangan ini seringkali berhubungan dengan rasa tidak aman dan sikap kritis yang merusak diri
sendiri. Pada keadaan ini dilakukan psikoterapi untuk membantu memahami dan menyelesaikan
pertentangan psikis.

Anxiety Neurosis (neurosa kecemasan) ialah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan yang
kronis, sungguhpun tidak ada rangsangan yang spesifik. Ada saja yang mencemaskan hatinya; dan
hampir setiap peristiwa menjadi sebab timbulnya rasa cemas dan takut. Misalnya takut kalau mati,
takut jadi gila dan macam-macam ketakutan serta kecemasan yang tidak bisa dimasukkan dalam
kategori fobia. Emosi pasien tidak stabil, sangat irritable, cepat tersinggung dan marah, sering dalam
keadaan excited atau gempar gelisah. Namun juga cepat menjadi depresif. Disertai macam-macam
fantasi, delusi, ilusi dan rasa dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak jelas. Dirinya selalu diliputi
ketegangan-ketegangan emosional dan diganggu bayangan-bayangan kesulitan yang imaginer atau
semu. Pasien sering merasa mual dan muntah; badanya selalu lelah, menderita sesak nafas, banyak
berkeringat; bergemetaran dan kadang kala menderita murus. Sebab-sebab neurosa kecemasan
ialah kecemasan, ketakutan, kesusahan dan kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi. Lalu
mengadakan penekanan atau represi terhadap emosi-emosi negatif akibat kegagalan-kegagalan tadi,
namun tidak bisa berlangsung dengan sempurna. Menurut Freud, juga disebabkan oleh dorongandorongan seksual yang tidak terpuaskan dan terhambat, sehingga mengakibatkan timbulnya banyak
konflik batin, ketakutan dan kecemasan.