Anda di halaman 1dari 7

Karakteristik kualitatif adalah sifat-sifat yang ada pada suatu jenis ayam, yang menjadi

penciri bagi ayam tersebut. Sifat ini sangat berguna bagi pengembangan bibit ayam karena
menggambarkan secara jelas tingkat keragaman genetik pada suatu jenis ayam. Sifat kualitatif
sering dipertimbangkan dalam program pemuliaan, karena sifat-sifat ini dapat dijadikan merek
dagang tertentu atau dapat juga dijadikan ciri dari breed tertentu. Sifat kualitatif dipengaruhi oleh
satu atau beberapa gen.

Baru-baru ini, tim penggaluran ayam Arab Sembawa telah melakukan sensus
karakteristik kualitatif Ayam Arab Sembawa Generasi Kedua, dengan parameter warna bulu,
pola bulu, corak bulu, kerlip bulu, bentuk jengger, dan warna shank. Generasi kedua ini memiliki
keseragaman pada warna bulu, pola bulu, corak bulu, kerlip bulu, dan bentuk dengan jengger.
Terdapat sedikit variasi pada warna shank, yang didominasi abu-abu kehitaman, namun sejumlah
kecil ayam memiliki warna shank hijau kehitaman. Berikut galeri kegiatannya

Bangsa ayam Mediterani seperti leghorn dan bangsa tertentu lainnya bertelur warna
putih. Bangsa ayam Amerika dan beberapa bangsa lainnya telurnya berwarna coklat (Hintono,
1995). Telur ayam ras, kulitnya ada yang berwarna coklat dan ada yang berwarna putih
(Sudaryani, 1996). Pigmen yang dihasilkan di uterus pada saat kerabang diproduksi bertanggung
jawab pada warna. Warna sangat konsisten untuk setiap ayam, merupakan genetik make-up dari
individu. Pigmen coklat pada kerabang telur adalah porhpyrin, secara merata disebarkan ke
seluruh kerabang (Suprijatna et al., 2005).

Bentuk telur normal yakni lonjong tumpul bagian atas dan runcing pada bagian bawah.
Perbandingan panjang dan lebar yang normal 8 : 6 atau panjang 5,7 cm dn lebar 4,2 cm. Telur
yang abnormal akan memiliki ukuran yang berbeda dari ketentuan ini (Dwiyanto dan Prijono,

2007). Sebagian bentuk telur berbentuk oval. Bentuk telur secara umum dikarenakan fakor
genetis. Setiap induk telur berturutan dengan bentuk yang sama, memiliki bentuk yaitu bulat,
panjang, dan lonjong (Suprijatna et al., 2005).

Agromedia Pustaka. 2001. Ayam. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Dwiyanto, K dan Siti, N. 2009. Keanekaragaman Sumberdaya Hayati. Garaha Ilmu, Yogyakarta.

Hintono, A. 1995. Dasar-dasar Ilmu Telur. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro,


Semarang.

Kurnianto, E. 2009. Ilmu Pemuliaan Ternak. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Noor, R. 1996. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudaryani, T. 1996. Kualitas Telur. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprijatna, E, Umiyati Atmomarsono, dan Ruhyat Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Warwick, E., Astuti J. M., dan Hardjosubroto W. 1983. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil
telurnya.Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan
dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak.Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia
diseleksi secara ketat oleh para pakar.Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena
ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam
seleksi tadi mulai spesifik.Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan
ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.Selain itu, seleksi
juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam
petelur cokelat.Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam
petelur seperti yang ada sekarang ini.Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat
baik dipertahankan (terus dimurnikan).Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur
unggul

Ayam ras petelur merupakan hasil rekayasa genetis berdasarkan karakter-karakter dari
ayam-ayam yang sebelumnya ada.Perbaikan-perbaikan genetik terus diupayakan agar mencapai
performance yang optimal, sehingga dapat memproduksi telur dalam jumlah yang banyak. Salah
satu keuntungan dari telur ayam ras petelur adalah produksi telurnya yang lebih tinggi
dibandingkan produksi telur ayam buras dan jenis unggas yang lain. Memilih ayam petelur
memerlukan keahlian tersendiri, baik keahlian yang didapat dari pengalaman maupun dari
belajar dengan banyak peraktek pada ahlinya.Pemilihan ayam petelur diperlukan guna
mendapatkan produktivitas peternakan yang tinggi dengan menerapkan sistem seleksi untuk
mengeluarkan ayam-ayam yang rendah produksinya.

darmono, A.S. 2003.Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki
pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa
asingnya disebut Quail, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di
Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di
Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai
bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.

Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI),
Yogyakarta.

Keberhasilan usaha untuk menghasilkan bangsa baru ternak sangat tergantung pada dua faktor,
yaitu pemanfaatan heterosis dan jumlah total ternak-ternak dalam populasi. Adanya heterosis
pada keturunan karena adanya pengaruh gen-gen dominan dan besarnya keunggulan dari type
crossbred yang digunakan sebagai dasar dari suatu bangsa baru disebaabkan oleh kombinasi gen
dengan pengaruh aditif lawan heterosis yang disebabkan oleh pengaruh gen non-aditilasi
manapun.

Populasi
ayam Kampung menurut laporan DITJEN PETERNAKAN
(1998) sebanyak 267.897.720 ekor dengan kontribusi

daging sebesar 323,7 ton atau 40% dari total produksi


daging unggas (ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras
pedaging dan itik).
DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. 1998. Buku Statistik Peternakan. Direktorat
Jenderal Peternakan. Jakarta.

Ayam broiler merupakan ayam ras penghasil daging yang telah banyak dibudidayakan dan
dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya peningkatan kualitas gizi daging ayam broiler dapat
dilakukan dengan memperkaya daging tersebut dengan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh
manusia, seperti asam lemak tidak jenuh ganda omega-3. Asam lemak omega-3 berperan dalam
kesehatan, seperti mencegah penyakit kardiovaskuler, fungsi kekebalan tubuh dan kadar lipid
darah. Dokosaheksaenoat (DHA) merupakan salah satu asam lemak omega-3 yang diperlukan
tubuh manusia, khususnya untuk pertumbuhan otak dan retina mata. Asam lemak omega-3 dalam
daging dapat ditingkatkan melalui manipulasi pakan, yakni dengan menambahkan minyak ikan
yang mengandung asam lemak omega-3 ke dalam ransum. Asam lemak ini dapat diperoleh
dalam jumlah banyak pada minyak ikan laut yang merupakan limbah dari industri pengolahan
ikan.
Selain nilai gizi yang baik, mutu daging juga dipengaruhi oleh selera konsumen diantaranya
penampilan yang meliputi warna, keempukan, marbling/ lemak intramuskular, ketegaran,
juiciness dan tekstur. Beberapa sifat fisik tersebut seringkali dijadikan faktor pertama yang
dinilai oleh konsumen/ masyarakat dalam pengambilan keputusan untuk mengkonsumsi.
Berdasarkan hal tersebut di atas, diperlukan informasi mengenai kualitas fisik dan organoleptik
daging ayam broiler yang diberi pakan komersial dengan penambahan minyak ikan sebagai
sumber asam lemak omega-3.

Ayam broiler merupakan galur ayam hasil rekayasa teknologi yang memiliki karakteristik
ekonomi dan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi ransum rendah,
siap dipotong pada usia relatif muda dan menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Ayam

broiler biasanya dipasarkan pada umur 6 - 8 minggu (North dan Bell, 1990). Selanjutnya
Ensminger (1992) mendefinisikan ayam broiler sebagai anak ayam berumur 6 8 minggu baik
jantan maupun betina dengan berat badan berkisar 1,8 kg, mempunyai daging yang empuk, kulit
halus dan licin serta tulang dada yang relatif lentur.
Menurut Amrullah (2004), bahwa ayam yang dipelihara sekarang ini termasuk ke dalam spesies
Gallus domesticus, sedangkan yang masih liar ada empat spesies, yaitu (1) Gallus gallus (the
Red Jungle Fowl yang ada di India, Burma dan negara asia tenggara lainnya), (2) Gallus lafayetti
(the Ceylon Jungle Fowl ), (3) Gallus someratti (the Grey Jungle Fowl di India barat daya) dan
(4) Gallus varius (the Javan Jungle Fowl).

Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunungbudi, Bogor.