Anda di halaman 1dari 3

DASAR TEORI

Fungi (jamur) merupakan organisme eukariot yang memiliki dinding sel yang
tersusun dari kitin dan memiliki nukleat yang banyak. Fungi bersifat kemoorganotrof,
karena mendapatkan nutrisi dengan cara mensekresikan enzim ekstraselular yang dapat
mencerna senyawa organik kompleks seperti polisakarida dan protein menjadi penyusun
monomer, dan kemudian diserap ke dalam sel fungi (Madigan, 2009).
Fungi berkembangbiak secara vegetatif dan generatif dengan berbagai macam
spora. Macam spora yang terjadi secara vegetatif ialah: (1) Spora biasa yang terjadi karena
protoplasma dalam suatu sel tertentu berkelompok kecil-kecil, masing-masing mempunyai
membran inti sendiri; (2) Konidiospora, yaitu spora yang terjadi karena ujung suatu hifa
berbelah-belah seperti tasbih; (3) Pada beberapa spesies, bagian-bagian miselium dapat
membesar serta berdinding tebal; bagian itu merupakan alat pembiak yang disebut
klamidiospora; (4) Jika bagian miselium-miselium itu tidak menjadi lebih besar daripada
aslinya, maka bagian-bagian itu disebut artrospora (Natsir, 2003).
Fungi berbeda dengan tanaman, diantara perbedaannya adalah: (1) Tidak
berklorofil; (2) Komposisi dinding sel berbeda, (3) Reproduksi dengan spora, (4) Tidak
ada batang, cabang, akar atau daun; (5) Tidak mempunyai system vaskular seperti
tanaman; (6) Multiseluler namun tidak mempunyai pembagian fungsi seperti tanaman
(Pelczar, 2005).
Jamur (fungi) banyak kita temukan disekitar kita. Jamur tumbuh subur terutama di
musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembap. Beberapa ahli mikologi
membagi jamur menjadi dua kelompok secara umum berdasarkan tipe selnya yaitu, fungi
bersifat uniselluler yang biasa disebut khamir dan fungi bersifat multiselluler yang biasa
disebut kapang (Pelczar, 2005).
Kapang (Mould)
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya
pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas.
Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan
terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus
(jamak = thalli) yang tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut hifa ( tunggal =
hypha, jamak = hyphae). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal = mycelium,
Jamak = mycelia) (Pelczar,2005).
Tubuh atau talus kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian yaitu miselium dan
spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Kapang melakukan reproduksi dan penyebaran

menggunakan spora.Spora kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora
aseksual.Spora aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan spora seksual.Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1-10
m) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran
udara. Spora kapang ini tahan terhadap pemanasan selama 1 menit pada 920C dalam
kondisi asam atau pada makanan yang diasamkan. Miselium merupakan kumpulan
beberapa filamen yang dinamakan hifa.Setiap hifa lebarnya 5-10 m, dibandingkan
dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 m.Disepanjang setiap hifa terdapat
sitoplasma bersama. Contoh anggota kapang adalah Bysochamys fulva, Talaromyces
flavus, Neosartorya fischeri, Aspergillus, Penicillium, Curvularia (Syamsuri, 2004).
Menurut fungsinya ada dua macam hifa, yaitu hifa fertil dan hifa vegetatif. Hifa
fertil dapat membentuk sel-sel reproduktif atau badan buah (spora).Biasanya arah
pertumbuhannya ke atas sebagai hifa udara.Hifa vegetatif berfungsi mencari makanan ke
dalam substrat. Sedangkan menurut morfologinya, ada 3 macam hifa: (1) Aseptat atau
senosit, hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat atau septum; (2) Septat dengan selsel uninukleat, sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-sel berisi nucleus
tunggal, pada setiap septum terdapat pori ditengah-tengah yang memungkinkan
perpindahan nucleus dan sitoplasma dari satu ruang keruang yang lain, setiap ruang suatu
hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu membrane sebagaimana halnya pada sel yang
khas, setiap ruang itu biasanya dinamakan sel; (3) Septat dengan sel-sel multinukleat,
septum membagi hifa menjadi sel-sel dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang
(Syamsuri 2004).
Fungi dapat diklasifikasi dengan mengidentifikasikan jamur atau fungi dari
morfologi secara makroskopik ataupun mikroskopis. Morfologi makroskopik digunakan
untuk mengidentifikasi jamur yang membentuk koloni seperti warna permukaan koloni
yang mencangkup miselium vegetatif dan konidia, pigmentasi miselium, waktu
pertumbuhan dan diameter koloni, bentuk tepi koloni, tekstur permukaan, dan bentuk
koloni. Mengidentifikasikan fungi secara mikroskopik berdasarkan anatomi dan morfologi
individu fungi tersebut (Wuezkowski 2007).
Identifikasi isolat fungi dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu,
pengamatan fungi secara makroskopis yang meliputi pengamatan terhadap warna dan
bentuk koloni. Tahap kedua yaitu, pengamatan secara mikroskopis yang dilakukan dengan
membuat slide kutur yang meliputi pengamatan terhadap bentuk hifa, bentuk, dan ukuran
konidia. Spesies fungi memiliki bentuk struktur spora dan miselium yang berbeda,

sehingga dapat ditumbuhkan dan diamati melalui metode Slide culture atau Microculture
(Sunatmo 2009).

Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2009. Brock Biology of Microorganisms. Pearson
Prentice Hall. New Jersey.
Natrsir.2003. Mikrobiologi Farmasi Dasar. Makassar: Universitas Hasanudin Press.
Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press.
Sunatmo, TI. 2009. Eksperimen Mikrobiologi dalam Laboratorium. Jakarta: Andy Agency.
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Wuczkowski, M. et al. 2007. Identification of Filamentous Fungi and Yeast and Their
Diversity in Solil of The Alluvial Zone National Park Along The River Danube
Downstream of Vienna. Austria: ACBR.