Anda di halaman 1dari 51

INTOKSIKASI ARSEN

Pembimbing :
dr. Binsar Silalahi, DPM, Sp.F, SH
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
RUMAH SAKIT DR.MOHAMMAD HOESIN
PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

Anggota

Ilona Amanta
(04114708074)
Fitri Zelia Lizanty
(04101401039)
Muhammad Arief Budiman (04101401053)
Widya Tria Kirana
(04101401045)
Istiati Kusuma Wardhani
(04101401043)

BAB I
PENDAHULUAN

Definisi Arsen
Keracunan merupakan salah satu penyebab
kematian yang cukup banyak terjadi sehingga
keberadaannya tidak dapat diabaikan.
Arsen (As) adalah salah satu logam toksik
Arsen merupakan bahan kimia beracun, yang
secara alami ada di alam, dapat ditemukan di
udara, air maupun makanan.

Penggunaan Arsen
Arsen sebagai bahan campuran obat
pembasmi tikus (rodentisida)
Arsen sebagai hasil industri, misalnya sebagai
bahan pengawet, bahan cat, insektisida,
herbisida, campuran dalam pupuk, maupun
mencemari lingkungan masyarakat karena
dampak dari industri

Penggunaan Arsen
Arsen dalam bidang pengobatan. Arsen jenis
tertentu dan dalam dosis tertentu, seperti
neosalveran untuk pengobatan penyakit sifilis,
frambusia (sampar / patek), sebagai salah satu
campuran dalam tonikum, dan obat-obat
lainnya
seperti
solarson,
optarson,
arsentriferrol, liquor arsenicallis, dan lain-lain.

Pendahuluan
Peranan kedokteran kehakiman sangatlah
penting dalam menentukan sebab kematian
korban benar-benar meninggal karena arsen
atau sebab lain.
Dalam menentukan sebab kematian karena
arsen, selain ditemukan arsen dalam jaringan
atau organ, harus dapat ditentukan kuantitas
dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ
tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sumber- sumber Arsen


Na/K-arsenit (penyemprotan buah-buahan,
insektisida, fungisida, rodentisida, pembasmi
tanaman liar, dan pembunuh lalat ).
Tembaga aseto-arsenit (pembasmi tanaman
liar, pembuatan wallpaper berwarna, bungabungaan artificial, lilin dan gula-gula).
Orpiment (bahan utama pembunuh lalat,
cairan untuk merontokkan rambut).

Sumber-sumber Arsen
As2O3 (arsenious acid). (Racun Tikus)
AsH3 (Arsin). (wallpaper diakibatkan oleh
terbentuknya arsin akibat kerja jamur pada
pigmen tersebut)
Tanah
Air (Air yang terkontaminasi)
Bir (iron pyrites yang digunakan pada
pembuatan glukosa untuk bir)

Sumber-sumber Arsen
Kerang (Arsen terdapat dalam keong, kepiting,
kerang dan ikan. Kerang (oyster) dapat
mengandung 3.7 ppm arsen)
Asap tembakau mengandung 8.3-50 ppm
Arsen. Asap sigaret 3.3-10,5 ug/L dan asap
cerutu 0.2-3.0 ug/L
Obat-obatan (Arsen anorganik turunan
benzena (Carbasone). Arsen organik (Asam
arsenat sebagai anti cacing pada binatang).

Farmakokinetik Arsen
Arsen dapat masuk ke dalam tubuh melalui
mulut, inhalasi (pada debu Arsen dan Arsin) dan
melalui kulit. Setelah diabsorpsi melalui mukosa
usus, Arsen kemudian ditimbun dalam hati, ginjal,
kulit dan tulang. Arsen ditimbun dalam jaringan
jaringan lain, misalnya kuku dan rambut yang
banyak mengandung keratin yang mengandung
disulfida. Ekskresi terjadi dengan lambat melalui
feses dan urin sehingga dapat terjadi akumulasi
dalam tubuh.

Farmakodinamik Arsen
Arsen menghambat sistem enzim sulhidril
dalam sel sehingga metabolisme sel dihambat
R-As=O + 2 H-S-Protein--------> R-As-S-Protein
+ H-O-H
|
S-Protein
(pada keracunan Arsin, terjadi hemolisis sel
darah merah, serta efek depresi pada SSP)

Farmakodinamik Arsen
Nilai ambang batas dalam air minum adalah
0.2 ppm.
Kadar normal dalam urin 100ug/L, rambut 0.5
mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau lebih.
Kadar dalam darah normal anak-anak 30 ug/L,
urine 100 ug/24 jam.
Takaran fatal As2O3 adalah 200-300 mg
sedangkan untuk Arsin adalah 1:20.000 dalam
udara.

Asal Paparan Arsen


Arsen Anorganik
Arsen anorganik dapat larut dalam air atau
berbentuk gas dan dapat terpapar pada
manusia.
Senyawa Arsen dengan oksigen, klorin atau
belerang dikenal sebagai arsen Anorganik.
Arsen trioksida (As2O3 atau As4O6) dan
arsenat/arsenit merupakan bentuk arsen
Anorganik berbahaya bagi kesehatan manusia.

Asal Paparan Arsen


Arsen Anorganik
Pada suhu di atas 1.073C senyawa arsen
trioksida dapat dihasilkan dari hasil samping
produksi tembaga dan pembakaran batubara

Asal Paparan Arsen


Arsen Organik
Senyawa dengan Carbon dan Hydrogen
dikenal sebagai Arsen Organik
Arsen bentuk organik yang terakumulasi pada
ikan dan kerang-kerangan, yaitu arsenobetaine
dan arsenokolin mempunyai sifat nontoksik

Asal Paparan Arsen


Arsen Organik
Ketika dipanaskan, arsen akan cepat
teroksidasi menjadi oksida arsen, yang berbau
seperti bau bawang putih
Zat dasar arsen ditemukan dalam dua bentuk
padat yang berwarna kuning dan metalik,
dengan berat jenis 1,97 dan 5,73

Senyawa Arsen

Asam arsenat (H3AsO4)


Asam arsenit (H3AsO3)
Arsen trioksida (As2O3)
Arsin (Arsen Trihidrida (AsH3)
Kadmium arsenida (Cd3As2)
Galium arsenida (GaAs)
Timbal biarsenat (PbHAsO4)

Patomekanisme Arsen
Mekanisme masuknya Arsen dalam tubuh
manusia umumnya melalui oral, dari makanan
atau minuman. Arsen yang tertelan secara
cepat akan diserap lambung dan usus halus
kemudian masuk ke peredaran darah.
Arsen mengganggu produksi ATP melalui
beberapa mekanisme.

Patomekanisme Arsen
Pada tingkat siklus asam sitrat, arsenik
menghambat piruvat dehidrogenase dan
bersaing dengan fosfat dalam proses
fosforilasi oksidatif, sehingga menghambat
energy, juga terkait pengurangan NAD+,
menghambat respirasi mitokondria dan
sintesis ATP. Produksi hidrogen peroksida juga
meningkat.
Gangguan
metabolik
ini
menyebabkan kematian dari sistem organ.

Patomekanisme Arsen
Di dalam tubuh, arsen anorganik mengalami
reduksi dari pentoksida menjadi trioksida
dengan glutathione (GSH) atau bantuan
enzim. Reduksi ini meningkatkan toksisitas
dan bioavaibilitas.
Arsen
trivial
anorganik
menghambat
dehidrogenase piruvat dengan cara berikatan
dengan gugus sulfhidril (-SH) terutama yang
berada dalam enzim. Akibatnya, konversi
kompleks piruvat dehidrogenase menjadi

Patomekanisme Arsen
Arsen trivial anorganik menghambat ambilan
glukosa, glukoneogensesis, oksidasi asam
lemak, dan produksi CoA lebih lanjut
Arsen juga menghalangi produksi glutathione
yang mencegah kerusakan oksidatif selular.
Arsen memisahkan oksigen dan fosfolirasi
pada fase kedua dari glikolosis dengan jalan
berkompetisi dengan fosfat dalam reaksi
gliseraldehid dehidrogenase.

Patomekanisme Arsen
Adanya
pengikatan
arsenat
reaksi
gliseraldehid-3-fosfat, akibatnya tidak terjadi
proses enzimatik hidrolisis menjadi 3fosfogliserat dan tidak memproduksi ATP
Arsen bergabung dengan gugus SH,maupun
gugus SH yang terdapat dalam enzim,maka
akan banyak ikatan Arsen dalam hati yang
terikat sebagai enzim metabolik

Patomekanisme Arsen
Adanya protein yang juga mengandung gugus
SH terikat dengan Arsen, maka hal inilah
yang menyebabkan Arsen juga ditemukan
dalam rambut, kuku dan tulang
Eratnya Arsen bergabung dengan gugus SH,
maka arsen masih dapat terdeteksi dalam
rambut dan tulang bebrapa tahun kemudian.

Standar Penggunaan dan Toksisitas


Penggunaan senyawa Arsen dalam bidang
pertanian seperti senyawa timah arsenat,
tembaga acetoarsenit, natrium arsenit, kalsium
arsenat dan senyawa arsen organik digunakan
sebagai pestisida.
Data pada penelitian asap rokok tembakau
menunjukkan bahwa maksimum terdapat As2O3
dengan kadar berturut-turut untuk cerutu, rokok,
dan tembakau adalah 48.4, 36.3, dan 50.0 ppm

Standar Penggunaan dan Toksisitas


Arsen yang mudah menguap seperti As2O3,
dimana mengalami perubahan bentuk yang
disebabkan oleh pembakaran yang tidak
sempurna selama merokok
Kondisi paru-paru yang secara normal lembab,
sehingga bila arsen masuk ke paru-paru akan
melekat pada permukaan paru-paru yang
lembab sehingga akan sangat berbahaya

Standar Penggunaan dan Toksisitas


Penelitian telah menunjukkan bahwa arsenites
(trivalen bentuk) memiliki toksisitas akut yang
lebih tinggi daripada arsenates (pentavalent
bentuk)
Minimal dosis akut arsenik yang mematikan
pada orang dewasa diperkirakan 70-200 mg
atau 1 mg/kg/hari

Standar Penggunaan dan Toksisitas


Gejala keracunan arsenik ringan mulai dengan
sakit kepala dan dapat berkembang menjadi
ringan dan biasanya, jika tidak diobati, akan
mengakibatkan kematian
Gejala lainnya : sakit di daerah perut, produksi air
liur berlebihan, muntah, rasa haus dan kekakuan
di tenggorokan, suara serak dan kesulitan
berbicara, masalah muntah (kehijauan atau
kekuningan, kadang-kadang bernoda darah),
diare, tenesmus, sakit pada organ kemih, kejangkejang dan kram, keringat basah, lividity dari
ekstremitas, wajah pucat, mata merah dan berair.

Mekanisme Toksisitas Arsen

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Mata -> gangguan penglihatan dan kontraksi
mata pada bagian perifer sehingga
mengganggu daya pandang (visual fields)
mata.
Kulit -> Adanya kulit yang berwarna gelap
(hiperpigmentasi),
penebalan
kulit
(hiperkeratosis), timbul seperti bubul (clavus),
infeksi kulit (dermatitis) dan mempunyai efek
pencetus kanker (carcinogenic).

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Darah -> menyebabkan kegagalan fungsi
sungsum tulang dan terjadinya pancytopenia
(yaitu menurunnya jumlah sel darah perifer)
Liver -> meningkatnya aktifitas enzim pada
liver (enzim SGOT, SGPT, gamma GT), ichterus
(penyakit kuning), liver cirrhosis (jaringan hati
berubah menjadi jaringan ikat dan ascites
(tertimbunnya cairan dalam ruang perut)

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Ginjal -> menyebabkan kerusakan ginjal
berupa renal damage (terjadi ichemia dan
kerusakan jaringan).
Saluran Nafas -> menyebabkan timbulnya
laryngitis (infeksi laryng), bronchitis (infeksi
bronchus) dan dapat pula menyebabkan
kanker paru.

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Pembuluh Darah -> menganggu fungsi
pembuluh
darah,
sehingga
dapat
mengakibatkan
penyakit
arteriosclerosis
(rusaknya
pembuluh
darah),
portal
hypertention (hipertensi oleh karena faktor
pembuluh darah potal), oedema paru dan
penyakit pembuluh darah perifer (varises,
penyakit burger)

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Sistem Reproduksi -> cacat bayi waktu
dilahirkan, lazim disebut efek malformasi
Sistem Imunologi -> penurunan daya tahan
tubuh/ penurunan kekebalan, akibatnya peka
terhadap bahan karsinogen (pencetus kanker)
dan infeksi virus.
Sistem Sel -> rusaknya mitokondria dalam inti
sel sehingga menyebabkan turunnya energi sel
dan sel dapat mati

Tanda dan Gejala Keracunan Arsen


Saluran
Pencernaan
->
menyebabkan
perasaan mual dan muntah, serta nyeri perut,
mual (nausea) dan muntah (vomiting).

Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Pada pemeriksaan luar ditemukan tanda tanda
dehidrasi
Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda
tanda iritasi lambung, mukosa berwarna
merah, kadang-kadang dengan perdarahan
Iritasi lambung dapat menyebabkan produksi
musin yang menutupi mukosa dengan akibat
partikel-partikel Arsen dapat bertahan

Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Pada jantung ditemukan perdarahan subendokard pada septum
Histopatologik jantung menunjukkan infiltrasi
sel-sel radang bulat pada miokard. Sedangkan
organ lain parenkimnya dapat mengalami
degenerasi bengkak keruh.

Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Bahan bahan yang perlu diambil semua organ,
darah, urin, isi usus, isi lambung, rambut,
kuku, kulit dan tulang.
Bahan bahan yang perlu diambil untuk
pemeriksaan toksikologik pada korban hidup
adalah muntahan, urin, tinja, bilas lambung,
darah, rambut dan kuku.

Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Bila korban cepat meninggal setelah
menghirup Arsin, akan terlihat tanda tanda
kegagalan kardio-respirasi akut.
Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan
ikterus dengan anemi hemolitik, tanda tanda
kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak
dengan nekrosis fokal serta nekrosis tubuli

Pemeriksaan Kedokteran Forensik


Bila korban mati akibat keracunan kronis pada
pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk.
Pada kulit terdapat pigmentasi coklat
(melanosis arsenik), keratosis telapak tangan
dan
kaki
(keratosis
arsenik).
Kuku
meperlihatkan garis garis putih pada bagian
kuku yang tumbuh dan dasar kuku.

Pemeriksaan Laboratorium
Pada kasus keracunan arsen, kadar dalam
darah, urin, rambut dan kuku meningkat
Nilai normal kadar arsen dalam rambut kepala
adalah 0,5 mg/kg, nilai 0,75 mg/kg
menimbulkan kecurigaan adanya keracunan,
nilai 30 mg/kg menunjukkan adanya
keracunan akut

Pemeriksaan Laboratorium
Nilai normal kadar arsen dalam kuku adalah
sampai dengan 1 mg/kg. Nilai 1 mg/kg
menumbulkan kecurigaan adanya keracunan,
dan pada keracunan akut dapat dijumpai
kadar arsen pada kuku sebanyak 80 mg/kg
Dalam urin, arsen dapat ditemukan dalam
waktu 5 jam setelah diminum, dan dapat terus
ditemukan hingga 10-12 hari

Pemeriksaan Laboratorium
Pada keracunan kronik, Titik-titik basofil pada
eritrosit dan leukosit muda mungkin
ditemukan pada darah tepi, menunjukkan
beban sumsum tulang yang meningkat.
Uji kopro-porfirin urin akan memberikan hasil
positif.

Penatalaksanaan Keracunan Arsen


Atasi syok dan dehidrasi
Lakukan Bilas lambung dengan FeSO4
sehingga terbentuk Feri-arsenat yang larut
dalam air, bilas berulang-ulang
Pada kasus keracunan akut, perlu segera
diberi obat suportif dan simptomatik untuk
mencegah terjadinya gejala neuropati.
Pengobatan dengan pemberian Antidotum
arsen yaitu B.A.L (dimerkapol)

Penatalaksanaan Keracunan Arsen


Dosis 5 mg/kg BB IM, tiap 8 jam untuk hari I
dan II, dan tiap 12 jam untuk 12 hari
berikutnya
Pada
periode
pemberian
pengobatan
tersebut, sampel urine diperiksa setiap 24 jam
dan pengobatan segera dihentikan jika
konsentrasi Arsen dalam urine kurang dari 50
mg.

Penatalaksanaan Keracunan Arsen


Transfusi darah bila korban tampak anemia
berat
Beri oksigen untuk mengatasi hipoksia
Monotiol/ditiol dapat mencegah hemolisis sel
darah merah bila segera diberikan setelah
terkena racun

BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan
Arsen merupakan bahan kimia beracun, yang
secara alami ada di alam, dapat ditemukan di
udara, air maupun makanan.
Arsen terbagi menjadi 2 yaitu arsen anorganik
dan arsen organik
Senyawa Arsen dengan oksigen, klorin atau
belerang dikenal sebagai arsen Anorganik
Senyawa dengan Carbon dan Hydrogen
dikenal sebagai Arsen Organik

Kesimpulan
Arsen anorganik didapatkan dari hasil samping
produksi tembaga dan pembakaran batubara
Arsen bentuk organik yang didapatkan pada
ikan dan kerang-kerangan
Senyawa Arsen antara lain : Asam arsenat
(H3AsO4), Asam arsenit (H3AsO3), Arsen
trioksida (As2O3), Arsin (Arsen Trihidrida
(AsH3), Kadmium arsenida (Cd3As2), Galium
arsenida (GaAs), Timbal biarsenat (PbHAsO4

Daftar Pustaka
Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi
T, Abdul Mun'im, Sidhi, dkk. Ilmu Kedokteran
Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997
Diunduh dari www.wikipedia.org. akses tanggal 8
juni 2014
Diunduh dari www.bluefame.com. Akses tanggal
8 juni 2014
(Durrant & Durrant, 1966; Carapella, 1973)
(Sukar, 2003).
(Lauwerys et aI, 1979)