Anda di halaman 1dari 6

1.

Tahap mengidentifikasi masalah dan menentukan focus area


REALITA (Apa yang dirasakan, dialami, diamati atau dipelajari)
Dari (kata pak Biner tak boleh kata hubung di awal kalimat) hasil observasi yang dilakukan terhadap kepala
sekolah (sasaran penelitian guru atau kepsek ?), diperoleh informasi bahwa hampir 80 % guru masih mengajar dengan
menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya sekedar mendengar dan guru sebagai informan utama. Keadaan
kelas monoton dan kurang menyenangkan. .........................
................
Dalam proses belajar mengajar metode ceramah cenderung sering digunakan sebagai metode utama.
Model coopertaif learning merupakan strategi pembelajaran yang menggorganisir pembelajaran dengan
menggunakan kelompok belajar kecil dimana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar (Bern dan Erickson,
2001:5). Melalui model pembelajaran kooperatif siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang
sulit apabila mereka saling berdiskusi dengan temannya (Slavin:1995). Dan salah satu tipe pembelajaran kooperatif
adalah tipe STAD (Student Teams Achievement Division).
Beberapa kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu setiap siswa memiliki kesempatan untuk
memberikan kontribusi yang substansial kepada kelompoknya, dan posisi anggota kelompok adalah setara Allport
(dalam Slavin, 2005:103), Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas rasial yang lebih banyak
(Slavin, 2005:105), dalam model ini, siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya
sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar (Rusman, 2011: 203), dalam model ini, siswa saling
membelajarkan sesama siswa lainnya atau pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif daripada
pembelajaran oleh guru (Rusman, 2011: 204), dan Pengelompokan siswa secara heterogen membuat kompetisi yang
terjadi di kelas menjadi lebih hidup sehingga prestasi dan hasil belajar yang baik bisa didapatkan oleh semua anggota
kelompok.
Dengan kelebihan yang dimiliki oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD, diharapkan guru mampu
menerapkan model pembelajaran tersebut agar dapat meningkatkan kompetensinya melalui keterampilan
pembelajaran. Agar guru terbiasa menggunakan model pembelajaran ini, maka kepala sekolah diharapkan
melaksanakan supervisi klinis terhadap guru didalam kelas.
.
Tawaran:
Berdasarkan supervisi klinis tahap awal yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh bahwa hasil observasi yang
melibatkan 20 guru di SMA Negeri 1 Show Me, menunjukkan sekitar 78% guru memiliki kemampuan yang rendah
terhadap ketrampilan mengajar. Dominan guru atau 72% masih menggunakan pola pengajaran dengan menggunakan
ceramah, memberikan catatan lalu menjelaskan dengan gaya klasik. Sedangkan yang lain mulai menunjukkan
perkembangan pada ketrampilan mengajar yang mengarah pada penggunaan pendekatan student centered approach.
Guru menganggap metode tersebut merupakan metode yang ampuh sehingga biasanya guru sudah merasa mengajar
apabila sudah melakukan ceramah (Wina Sanjaya, 2008:97). Pada akhirnya pembelajaran yang ada menjadi

FOCUS AREA

Upaya peningkatan ketrampilan


mengajar guru dalam supervisi
klinis melalui penerapan
cooperative learning

cenderung monoton, kaku dan tidak ada kegairahan dan pembelajaran seperti inilah yang disebut dengan
pembelajaran berorientasi pada guru (guru centered). Hal ini bertolak belakang dengan prinsip pembelajaran yaitu
prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman. Prinsip ini (prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman)
berhubungan dengan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya
(tim pengembang MKDP, 2011:185).
Supervisi klinis merupakan suatu proses pembimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu
pengembangan profesional guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara objektif,
teliti sebagai dasar untuk mengubah perilaku mengajar guru. Tujuan pokok dari supervisi klinis menurut Cogan
dalam Syaiful Sagala, (2010:200) adalah menghasilkan guru yang profesional dan bertanggung jawab secara profesi
serta memiliki komitmen yang tinggi memperbaiki diri sendiri atas bantuan orang lain. Supervisi klinis pada intinya
adalah memberikan bantuan kepada guru sesuai dengan kebutuhan atau kekurangan yang mereka miliki. Dengan
adanya bantuan tersebut maka guru aka lebih meningkat pengajaran yang mereka lakukan. Pada intinya ada tiga
tahapan yang dilalui berkenaan dengan pelaksanaan supervisi klinis di sekolah, yakni tahap awal, tahap observasi
mengajar dan tahap balikan hasil.
Mengajar adalah melatih. DeQueliy dan Gazali (Slameto, 2010:30) mendefinisikan mengajar adalah
menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Definisi yang modern di Negaranegara yang sudah maju bahwa teaching is the guidance of learning. Mengajar adalah bimbingan kepada siswa
dalam proses belajar. Alvin W.Howard (Slameto, 2010:32) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk
mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude,
ideals (cita-cita),appreciations (penghargaan) dan knowledge. Maka yang dimaksud dengan keterampilan mengajar
guru adalah seperangkat kemampuan/kecakapan guru dalam melatih/membimbing aktivitas dan pengalaman
seseorang serta membantunya berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. Jadi, persepsi siswa tentang
keterampilan mengajar guru adalah penilaian berupa tanggapan/pendapat siswa terhadap kemampuan/kecakapan
guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Salah satu ciri ketrampilan mengajar adalah menggunakan model atau tipe pembelajaran yang berbasis pada
student centered approach dengan melibatkan siswa pada pembelajaran cooperative learning dengan menerapkan
berbagai model atau tipe pembelajaran, diantaranya Discovery Learning, Student Team Achievement Division,
Number Head Together, Jigsaw, Project Based Learning, Inquiry, Problem Based Learning dan lain sebagainya.
Melalui pembelajaran tersebut diharapkan guru dapat meningkatkan ketrampilan mengajarnya menjadi lebih baik.
Pada supervisi klinis tahap observasi mengajar lanjutan, peneliti akan mengamati perbaikan ketrampilan
mengajar guru dan pada akhirnya ditutup oleh supervisi klinis tahap balikan hasil.

2. Merumuskan masalah, tujuan dan judul penelitian

FOCUS AREA
Upaya peningkatan
ketrampilan mengajar guru
dalam supervisi klinis
melalui penerapan
cooperative learning

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN


TUJUAN
JUDUL
Apakah penerapan cooperative learning melalui Untuk mengetahui penerapan cooperative peningkatan ketrampilan
supervisi klinis dapat meningkatkan ketrampilan learning melalui supervisi klinis dapat mengajar guru dalam
mengajar guru ?
meningkatkan ketrampilan mengajar guru supervisi klinis melalui
penerapan cooperative
learning di SMA Negeri
1 Show Me Kota Tebing
Tinggi

3. Kajian Teori yang Relevan (Carikan bahan atau pengertian supervisi klinis, cooperative learning dan ketrampilan mengajar guru)
FOCUS AREA
Upaya peningkatan kompetensi
guru dalam menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe
STAD melalui supervisi klinis

RUMUSAN TEORI
Cooperative learning dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kerjasama dan
merupakan suatu strategi dalam proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi dan
kerjasama dalam kelompok. Menurut Rusman (2012:202) cooperative learning adalah model
pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing
kelompok terdiri dari empat hingga enam orang siswa dari beragam latar belakang yang berbeda,
dimana mereka bekerjasama secara kolaboratif.
Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah STAD (Student
Teams Achievement Division), STAD merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana, dan merupakan pendekatan yang baik untuk guru yang baru memulai
menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam kelas (Pradyo Wijayanti, 2002:2).
Istilah yang dahulu digunakan untuk kegiatan supervisi (pengawasan) yang paling umum
adalah inspeksi. Dalam pelaksanaannya supervisi bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih
banyak mengandung unsur pembinaan agar keadaan pekerjaan yang sedang diamati dapat
diketahui kekurangannya dan bukan semata-mata kesalahnnya, untuk dapat didapat cara
memperbaiki bagian tersebut (Sahertian, 2010:16).
Sahertian (2010:34) menyebutkan beberapa model supervisi pendidikan yaitu (1) model
konvensional; (2) model ilmiah; (3) model klinis; (4) model artistik. Supervisi klinis berfokus
pada pengawasan guru dan semua perangkat pembelajarannya di dalam kelas, yang bertujuan
untuk meningkatkan profesionalitas guru dan kemajuan pengajaran.
Nana Sudjana (2012:116) menyatakan supervisi klinis adalah bantuan profesional yang
diberikan kepada guru secara individual yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar guru

SUMBER
Rusman (2012)

Pradyo Wijayanti
(2002)

Sahertian (2010)

Nana Sudjana
(2012)

yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis
mencakup tahap perancanaan, tahap pengamatan dan tahap analisis dan tindak lanjut.
Sedangkan menurut Sahertian (2010:36-37) supervisi klinis adalah suatu proses pembimbingan
dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru dalam pengenalan
mengajar melalui obsevasi dan analisis data secara objektif, teliti sebagai dasar untuk mengubah
perilaku mengajar guru. Tujuan pokok dari supervisi klinis menurut Cogan dalam Syaiful Sagala,
(2010:200) adalah menghasilkan guru yang profesional dan bertanggung jawab secara profesi
serta memiliki komitmen yang tinggi memperbaiki diri sendiri atas bantuan orang lain.
Cogan dalam Syaiful Sagala (2010:201) mengemukakan delapan tahapan siklus supervisi Syaiful Sagala
klinis yaitu (1) tahap membangun dan memantapkan lembaga-lembaga supervisi guru; (2) tahap (2010)
perencanaan bersama guru; (3) tahap perencanaan strategi observasi; (4) tahap observasi
penampilan pengajaran; (5) tahap analisis; (6) tahap perencanaan strategi pertemuan akhir; (7)
tahap pertemuan akhir; (8) tahap penjajagan pertemuan berikutnya.
KERANGKA BERPIKIR : Dari kajian teori di atas dapat di duga bahwa :
1. Peningkatan kompetensi guru matematika dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui
supervisi.
2. Supervisi yang dilakukan adalah supervisi klinis dengan langkah-langkah memberi bimbingan, melakukan
pengamatan.
HIPOTESIS :
Supervisi klinis dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di
SMK Negeri Kota Tebing Tinggi.

4. Merancang Rencana Tindakan


NO
SIKLUS/TAHAPAN/KEGIATAN
WAKTU/TEMPAT/SAR/FAS
SIKLUS I
A
Tahap Perencanaan
Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat Ruang kerja guru
format/instrumen wawancara, penilaian menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dan rekapitulasi hasil.
B

Tahap Pelaksanaan

SASARAN

HASIL

- Pemberi memberi kesempatan kepada guru untuk


mengemukakan kesulitan atau hambatan dalam menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD
- Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang
baik
C

Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data


- Peneliti mengamati guru dalam pengembangan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD
- Peneliti melakukan observasi / pengamatan terhadap penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah
dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran

Tahap Analisis dan Refleksi


- Peneliti melakukan revisi atau perbaikan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD yang baik
- Peneliti dan guru melakukan refleksi

SIKLUS II
A
Tahap Perencanaan
Peneliti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan
pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru
menerapkan model pembelajaran yang kedua, mengumpulkan dan
melakukan pembimbingan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD
Tahap Pelaksanaan
Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus
II
Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data
Peneliti melakukan observasi / pengamatan terhadap menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dilakukan
guru di SMK Negeri Kota Tebing Tinggi

Tahap Analisis dan Refleksi


- Peneliti melakukan revisi atau perbaikan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD yang baik
- Peneliti dan guru melakukan refleksi
5. Melaksanakan Tindakan
DURASI/WAKTU/JADWAL

REALISASI KEGIATAN

HASIL CATATAN / PENGAMATAN