Anda di halaman 1dari 5

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 5.1. Pengaruh Suhu Terhadap Denyut Jantung Daphnia sp.
No.

Suhu

Pengulangan

Awal
1.

((C)
10

2.

15

3.

20

4.

25

1. 29
2. 29
3. 26
1. 30
2. 31
3. 29
1. 38
2. 36
3. 36
1. 42
2. 45
3. 44

Rata-

Suhu

Rata

Akhir

28

((C)
20

30

25

37

30

44

35

Pengulangan

1. 49
2. 44
3. 47
1. 47
2. 53
3. 60
1. 57
2. 55
3. 66
1. 67
2. 62
3. 65

Rata-

Koefisien

Rata

Aktivitas

47

(Q10)
1,68

53

1,77

59

1,59

65

1,48

Grafik 5.1. Hubungan Jumlah Denyut Jantung Daphnia sp. Dengan suhu awal

Grafik 5.2. Hubungan Antara Suhu Lingkungan dengan Koefisien Aktivitas Daphnia sp.
B. Analisis Data
Berdasarkan hasil data pada tabel 5.1 dapat diketahui bahwa pada percobaan ini suhu
berpengaruh terhadap denyut jantung Daphnia sp. Pada suhu awal yaitu 10oC dengan
pengulangan sebanyak 3 kali setiap 15 detik rata-rata denyut jantung adalah 28. Pada suhu
15oC dengan perlakuan sama yaitu pengulangan sebanyak 3 kali setiap 15 detik terjadi
peningkatan rata-rata denyut jantung Daphnia sp. yaitu sebesar 30. Hal ini juga terjadi pada
suhu berikutnya yaitu 20 oC dan 25 oC dengan perlakuan sama sebanyak 3 kali pengulangan
tiap 15 detik mengalami peningkatan rata-rata denyut jantung masing masing sebesar 37 dan
44.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan juga dapat diketahui nilai Q 10 atau koefisien
aktivitas yang disebabkan oleh kenaikan suhu 10oC. Pada suhu 10oC yang dinaikkan menjadi
20oC dengan pengulangan 3 kali setiap 15 detik rata-rata denyut jantung Daphnia sp.
mengalami peningkatan yang semula 28 menjadi 47 serta dapat dihitung nilai koefisien
aktivitas (Q10) sebesar1,68. Pada suhu 15oC yang dinaikkan menjadi 25oC dengan perlakuan
sama yaitu 3 kali pengulangan setiap 15 detik juga terjadi peningkatan rata-rata denyut
jantung yang semula 30 menjadi 53 dengan nilai koefisien aktivitas (Q 10) sebesar 1,77. Sama
halnya dengan suhu berikutnya yaitu 20oC dan 25 oC yang dinaikkan menjadi 30oC dan 35 oC
menyebabkan peningkatan rata-rata denyut jantung yang masing semula 37 menjadi 59, 44
menjadi 65 serta nilai koefisien aktivitas (Q10) masing-masing sebesar 1,59 dan 1,48.
C. Pembahasan

Daphnia sp. adalah sejenis zooplankton yang hidup di air tawar dan mempunyai
habitat di kolam atau danau. Pada sistem klasifikasi Daphnia sp. termasuk kelas dari
Crustacea. Spesies ini dapat hidup pada daerah tropis maupun sub tropis dan telah beradaptasi
pada kehidupan perairan yang secara periodik mengalami kekeringan. Kehidupan Daphnia sp.
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu dan oksigen. Menurut Waterman (1960)
hewan kecil memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih cepat daripada hewan dewasa baik
pada suhu panas, sedang, dingin, maupun alkoholik. Aktivitas metabolisme Daphnia akan
naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada titik dimana terjadi kerusakan jaringan. Hal ini
disebabkan adanya kecepatan metabolik yang dimiliki oleh hewan kecil tersebut. Menurut
Pennak (1853) mekanisme kerja jantung Daphnia sp. berbanding langsung dengan kebutuhan
oksigen per unit berat badannya pada hewan-hewan dewasa. Daphnia sp. sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan pada suhu 22 oC 31 oC dan pH 6,5 7,4. Menurut Waterman (1960)
pada lingkungan dengan suhu tinggi akan meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga
laju respirasi akan meningkat dan berdampak pada peningkatan denyut jantung Daphnia sp.
Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang telah dilakukan yaitu pada suhu awal 10 oC, 15
o

C , 20 oC dan 25 oC semakin meningkat suhu maka rata-rata denyut jantung Daphnia sp. akan

semakin meningkat dengan perolehan masing-masing 28, 30, 37, dan 44. Hal ini juga berlaku
pada suhu akhir yang mengalami peningkatan 10 oC dari suhu awal. Saat suhu dinaikkan 10oC
dari suhu awal, Daphnia mengalami kejutan atau shock sehingga aktivitas metabolisme di
dalam tubuh semakin tinggi. Daphnia merupakan hewan poikiloterm yaitu suhu tubuhnya
ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan eksternal. Jika suhu lingkungan berubah
maka suhu tubuh pada Daphnia juga berubah seiring dengan suhu lingkungan, hal ini
digunakan Daphnia untuk menyesuaikan diri agar metabolisme dalam tubuh tetap berjalan
dan dapat bertahan hidup.
Sehubungan bahwa Daphnia merupakan hewan poikiloterm atau eksoterm, maka pada
suhu yang semakin meningkat, Daphnia juga akan melakukan adaptasi morfologis yang
serupa dengan hewan ektoterm pada umumnya yaitu dengan mempertinggi konduktan dan
mempercepat aliran darah agar panas mudah terlepas dari tubuh karena afinitas hemoglobin
dalam mengikat oksigen turun. Mekanisme adaptasi fisiologi ini juga mempengaruhi
peningkatan frekuensi denyut jantung pada Daphnia. Hewan ini dapat memperoleh energi
panas dari lingkungan. Energi ini digunakan untuk melangsungkan metabolisme.

Menurut Pangkey (2009) beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan denyut


jantung Daphnia sp. adalah:
Aktivitas. Dalam keadaan tenang dan tidak banyak bergerak akan mempengaruhi

denyut jantung pada Daphnia sp. yaitu menjadi semakin lambat.


Ukuran dan umur. Daphnia sp. yang memiliki ukuran tubuh lebih besar

cenderung mempunyai denyut jantung yang lebih lambat.


Cahaya. Pada keadaan gelap denyut jantung Daphnia sp. akan mengalami
penurunan sedangkan pada daerah yang cukup cahaya denyut jantung Daphnia

sp. akan mengalami peningkatan.


Temperatur. Denyut jantung Daphnia sp. akan bertambah tinggi apabila suhu

meningkat.
Obat-obat (senyawa kimia). Zat kimia akan menyebabkan aktivitas denyut
jantung Daphnia sp. menjadi tinggi atau meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece, Micchell. 2004. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Ernawati, D. 2009. Hubungan Rasio Induk Jantan dan Betina Daphnia sp.Terhadap Efisiensi Perkawinan
dan Produksi Ephipia. (online) (http://www.adln.lib.unair.ac.id/ go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2009ernawatidw-9874&PHPSESSID) diakses pada 19 November 2014.

Goenarso, Darmaji. 2005. Fisiologi Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka.


Pangkey, Henneke. 2009. Daphnia dan Penggunaannya. Jurnal Perikanan dan Kelautan.
Volume 5. Halaman 33-36.
Watterman, T.H. 1960. The Physiology of Crustacea Volume I. New York: Academic Press.