Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH REFORMA AGRARIA

Politik Agraria: Orde Lama hingga Reformasi

Oleh :
CHORINA TRI WICAKSONO
NIM. 11202560
Semester V/ Perpetaan

BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA


SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL
PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN
JURUSAN PERPETAAN
YOGYAKARTA
201
3

Politik Agraria: Orde Lama hingga Reformasi1


Oleh :
Chorina Tri Wicaksono/11202560/P
Intisari
Negara Indonesia adalah negara maritim sekaligus agraris. Bumi, air,
ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perlu dibangun strategi pembangunan
dalam rangka mewujudkannya. Strategi tersebut dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan sebagai dasar dan landasan hukum pelaksanaannya.
Untuk memakmurkan rakyat dipilihlah suatu kebijakan dibidang agraria.
Kebijakan tersebut adalah program reforma agraria. Reforma agraria itu
dijalankan dengan berbagai pandangan yang berbeda oleh pemimpin yang
berkuasa. Setiap periode kepemimpinan mempunyai bentuk kebijakan berbedabeda. Begitu juga berpengaruh pada pembentukan kebijakan politik agrarianya.
Kata kunci: agraria, reforma agraria, politik agraria
A; Pengantar
Ketika duduk dibangku sekolah dasar, kita dikenalkan oleh guru
bahwa Indonesia adalah negara maritim sekaligus negara agraris. Saat itu,
sering kita nyanyikan bersama-sama lagu Nenek Moyangku. Lagu tersebut
menggambarkan betapa gigihnya nenek moyang kita di masa lampau. Selain
itu, Indonesia juga merupakan negara agraris karena mayoritas penduduknya
adalah petani. Ditandai dengan kekayaan alam Indonesia yang melimpah
ruah. Kekayaan tersebut terhampar dari Sabang sampai dengan Merauke.
Hamparan lautannya menghubungkan pulau-pulau, berikut khasanah yang
ada didalamnya, sehingga menjadi satu kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Indonesia telah memprokamirkan diri sebagai negara merdeka sejak
17 Agustus 1945. Sejak saat itu pula para founding fathers kita mencurahkan
tenaga dan pikiran menyusun strategi untuk mensejahterakan seluruh rakyat
Indonesia. Menghendaki bahwa bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan
alam yang ada dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Upaya menyejahterakan rakyat dimulai dengan membentuk dan
menetapkan Panitia-Panitia Agraria. Menghasilkan beberapa undang-undang.
Diantaranya adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1958 tentang
Penghapusan Tanah-tanah Partikelir dan Undang-undang Nomor 2 Tahun
1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil. Kedua undang-undang tersebut
merupakan langkah awal upaya mewujudkan tanah untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Tanggal 24 September 1960, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
menyetujui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
1

Makalah disusun sebagai tugas mata kuliah Reforma Agraria pada semester V Jurusan
Perpetaan Program Diploma IV Pertanahan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta.

Pokok-pokok Agraria yang diajukan pemerintah. Undang-undang yang lebih


dikenal dengan sebutan UUPA ini setelah melalui perumusan yang panjang
dan diharapkan menjadi Hukum Tanah Nasional yang berlaku diseluruh tanah
air. Juga menghapuskan dualisme hukum tanah yang terjadi pada waktu itu,
yaitu2: Hukum Adat yang berkonsepsi komunalistik religius, Hukum Perdata
Barat yang individualistik-liberal dan ada pula yang berasal dari berbagai
bekas Pemerintahan Swapraja yang umumnya berkonsepsi feodal.
UUPA bukan hanya memuat ketentuan-ketentuan mengenai
perombakan Hukum Agraria, tetapi memuat juga lain-lain pokok agraria serta
penyelesaiannya. Penyelesaian persoalan-persoalan tersebut dirangkum dalam
Agrarian Reform Indonesia3.
Di Indonesia, persoalan kemiskinan dari tahun ke tahun selalu
menjadi masalah yang serius yang tak kunjung selesai. Pada bulan Maret
2013, jumlah penduduk miskin4 (penduduk dengan pengeluaran per kapita per
bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,07 juta orang
(11,37 persen). Pada Tahun sebelumnya, September 2012 jumlah penduduk
miskin mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen). Satu dekade yang lalu
(2003), persentase penduduk miskin Indonesia adalah 17,42 persen dari
jumlah penduduk Indonesia. Mengisyaratkan bahwa kemiskinan belum akan
menjadi sejarah di bumi pertiwi.
Selain kemiskinan yang melanda Indonesia sejak sebelum
kemerdekaan, persoalan lain yang muncul adalah konflik agraria. Berbagai
konflik yang terjadi akibat ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan,
pemanfaatan dan penggunaan tanah. Belum lepas dari ingatan kita tentang
kasus Mesuji dan Bima yang memakan korban jiwa. Atau kasus Seluma,
Propinsi Bengkulu yang luput dari pemberitaan media nasional.
Menggambarkan reforma agraria belum berjalan dengan baik dan bagaimana
sulitnya meraih keadilan agraria di bumi persada.
Keadaan yang ada banyak diakibatkan oleh karena UUPA yang
dimaknai keliru. Mendelegitimasi eksistensi UUPA dan membuat stigma
bahwa UUPA adalah produk politik PKI. Menjadikan UUPA dikesampingkan
disetiap sendi-sendi pembangunan nasional. Kepemimpinan dalam setiap
periode pemerintahan berpengaruh dalam setiap pengambilan kebijakan
politik agraria itu.
2

Boedi Harsono. 2005. Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-undang


Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Cetakan Kesepuluh.
Djambatan. Jakarta. hal. 1.
3
Boedi Harsono. Ibid. hal. 3-4
Agrarian Reform Indonesia mempunyai lima program, yaitu: 1. pembaharuan Hukum Agraria; 2.
penghapusan hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah; 3. mengakhiri penghisapan
feodal secara berangsur-angsur; 4. perombakan pemilikan dan penguasaan tanah serta hubunganhubungan hukum yang bersangkutan dengan pengusahaan tanah dalam mewujudkan pemerataan
kemakmuran dan keadilan; 5. perencanaan persediaan dan peruntukan bumi,air, dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya serta penggunaannya secara terencana, sesuai dengan daya
dukung dan kemampuannya.
4 Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik: Jumlah Penduduk Miskin Maret 2013
Mencapai 28,07 Juta Orang. http://www.bps.go.id/?news=1023. Diakses tanggal 26 Oktober
2013 pukul 12.00 WIB.

Berangkat dari beberapa uraian diatas, dalam tulisan ini mencoba


menggali permasalahan, yaitu bagaimana kebijakan politik pemerintah
Indonesia berkaitan reforma agraria dan implementasinya serta kendalakendala apa saja yang dihadapi dalam mengimplementasikan program
reforma agraria tersebut.
Dalam pembahasan ini akan diuraikan dengan sistematika berikut.
Yang pertama mengulas istilah agraria, reforma dan reforma agraria; kedua,
kebijakan politik agraria pada awal kemerdekaan (orde lama); ketiga,
membahas kebijakan politik agraria pada masa orde baru; keempat,
membahas kebijakan politik agraria pada masa reformasi hingga kini.
B; Istilah dan Pengertian Kebijakan Politik Agraria
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994, Edisi Kedua
Cetakan Ketiga, Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Jakarta) agraria berarti urusan pertanian atau tanah pertanian, juga urusan
pemilikan tanah. Lain halnya menurut UUPA, dari apa yang tercantum dalam
Konsiderans, pasal-pasal dan Penjelasnnya, pengertian agraria meliputi bumi,
air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bahkan meliputi ruang
angkasa, seperti yang ditentukan dalam Pasal 48.
Reforma atau reformasi atau pembaharuan mempunyai beberapa
istilah yang berkembang. Menurut Gunawan Wiradi perbedaan pandangan
tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga macam pandangan:5
Pandangan yang menyatakan bahwa reformasi adalah perbaikan yang
dilaksanakan secara bertahap, evolusioner, gradual dan konstitusional
(versi pemerintahan Presiden Habibie);
Reformasi, secara substansional adalah sama dengan revolusi;
Pandangan ketiga: reformasi memang pada dasarnya bukan revolusi,
tetapi dalam aspek-aspek tertentu bernuansa revolusioner, bukan sekedar
perbaikan tambal sulam.
Menurut penulis, reforma atau reformasi merupakan upaya, proses, cara,
usaha, perbuatan untuk membarui atau melakukan perubahan yang ada.
Reforma agraria atau pembaruan agraria6 adalah suatu perubahan
struktur perubahan agraria yang besar, berdampak pada peningkatan akses
petani miskin pada tanah serta kepastian kepemilikan bagi mereka yang
mengerjakan tanah. Dengan harapan dapat membawa pada peningkatan
keamanan pangan, pendapatan dan kesejahteraan keluarga kelompok-

Gunawan Wiradi. 1998. Reforma Agraria dalam Perspektif Transisi Agraris. Disajikan
dalam Seminar Agraria yang diselenggarakan oleh Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) pada
tanggal 21 September 1998 di Bandar Lampung.
6
Pasal 2 TAP MPR No. IX/2001.
Pembaruan agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan
kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria, dilaksanakan
dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi
seluruh rakyat Indonesia.

kelompok masyarakat desa yang termarjinalisasi, legalisasi dan perlindungan


hak-hak tanah ikut memperkuat pertanian lokal dan keragaman budaya.7
Pengertian Reforma Agraria sering juga diartikan sebagai
Landreform secara luas. Reforma agraria diartikan sebagai upaya perombakan
sosial yang dilakukan secara sadar, guna mentransformasikan struktur agraria
ke arah sistem agraria yang lebih sehat dan merata bagi pengembangan
pertanian kesejahteraan masyrakat desa. Jadi pada dasarnya memang
merupakan upaya pembaharuan sosial.8
Politik Agraria dapat dimaknai sebagai garis besar kebijakan yang
dianut oleh negara dalam usaha memelihara, mengawetkan,
memperuntukkan, mengusahakan, mengambil manfaat, mengurus dan
membagi-bagi tanah (sumber daya agraria) untuk tercapainya kesejahteraan
masyarakat9
C; Kebijakan Politik Agraria Awal Kemerdekaan (Orde Lama)
Kebijakan politik nasional telah dimulai sejak awal kemerdekaan.
Dimulai dengan merumuskan suatu undang-undang yang nasional yaitu
UUPA. Perumusan UUPA melewati rangkaian perjalanan yang panjang.
Dimulai pada tahun 1948 dibentuknya Panitia Agraria Yogya dengan
Penetapan Presiden Republik Indonesia tanggal 12 Mei 1948 Nomor 16.
Dilanjutkan dengan Pembentukan Panitia Jakarta dengan Keputusan Presiden
Nomor 36 tanggal 19 Maret 1951. Keduanya bertugas untuk menyusun dan
merancang dasar-dasar hukum tanah yang memuat politik agraria Negara
Republik Indonesia. Hingga pada akhirnya lahirlah UUPA.
UUPA merupakan produk hukum Orde Lama. Selain bertujuan
membangun kesatuan hukum nasional dibidang agraria, UUPA juga dijadikan
sebagai landasan hukum untuk sungguh-sungguh melaksanakan
pembangunan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.10 Sebagai
produk hukum yang mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila, UUPA
menampakkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat banyak, terutama
golongan ekonomi lemah.
UUPA secara de jure dan de facto telah menghapuskan Agrarishe
Wet dan Agrarische Besluit Tahun 1870. Dengan kata lain, berakhirlah era
dualisme (pluralisme) hukum tanah yang ada. Yang terjadi adalah unifikasi
hukum tanah nasional untuk menjamin kepastian hukum atas tanah.
UUPA secara hakiki mengubah susunan masyarakat, dari suatu
struktur warisan stelsel feodalisme dan kolonialisme menjadi suatu
7

Martua Sihaloho, dkk. 2010. Reforma Agraria dan Revitalisasi Pertanian di Indonesia:
Studi Kasus Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura di Jawa Barat. Jurnal Transdisiplin
Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia.hal 152
8 Boni Setiawan, dkk.1997. Reformasi Agraria, Sengketa dan Agenda Pembaharuan Agraria
di Indonesia. Jakarta. KPA dan LPFE UI. hal 10.
9 Politik Agraria (Pertanahan). http://fans-fc.blogspot.com/2012/11/politik-agrariapertanahan.html Diunduh tanggal 02 Desember 2013 pukul 21.38 WIB.
10 Boedi Harsono. Opcit. hal 241.
UUD 1945 yang pada saat itu baru dinyatakan kembali berlaku pada tahun 1959.

masyarakat yang adil dan sejahtera. Terutama bagi golongan ekonomi lemah
yaitu buruh tani dan petani miskin. Akan tetapi mengingat UUPA yang baru
berisi peraturan-peraturan dasar dan hanya mengenai hal-hal pokok, maka
undang-undang tersebut perlu dilengkapi dengan perangkat peraturan dan
perundang-undangan lanjutan.
Undang-undang (Prp) Nomor 56 Tahun 1960 menjadi kelanjutan
upaya pemerintah dalam menyejahterakan rakyatnya. Undang-undang tentang
Penetapan Luas Tanah Pertanian ini merupakan pelaksanaan Pasal 17 UUPA
yang menginginkan penetapan batas maksimum dan minimum pemilikan
tanah pertanian. Memberi legitimasi secara formal terhadap pelaksanaan
Reforma Agraria dan terlebih pelaksanaan Landreform di Indonesia.
Peraturan pelaksanaan dari undang-undang ini adalah Keputusan
Menteri Agraria Nomor SK/ 978/ Ka/ 60 tentang Penegasan Luas Maksimum
Tanah Pertanian, Keputusan Menteri Agraria Nomor SK. 509/ Ka/ 61 tentang
Pernyataan Penguasaan Pemerintah Atas Bagian-Bagian Tanah Kelebihan
Maksimum, dan Instruksi bersama Menteri Dalam Negeri dan Otonomi
Daerah dengan Menteri Agraria Nomor Sekra 9/ 1/ 61.
Secara garis besar, peraturan pelaksana ini berisi ceiling (batas
maksimum) tanah pertanian yang dapat dimiliki oleh orang (baik sendiri
atau bersama dengan orang lain), penghapusan gadai tanah pertanian, dan
penetapan batas minimum tanah pertanian sebesar 2 (dua) hektar yang
dicapai secara berangsur-angsur. Namun demikian tidak dapat disimpulkan
bahwa UUPA telah dijalankan.
Selain Undang-undang (Prp) Nomor 56 Tahun 1960 tentang
Penetapan Luas Tanah Pertanian, pelaksanaan Landreform di Indonesia juga
didasarkan pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1960. Adalah undangundang tentang Perjanjian Bagi Hasil. Undang-undang ini diundangkan
sebelum UUPA. Mengatur mengenai perjanjian pengusahaan tanah dengan
bagi hasil agar pembagian hasil tanah antara pemilik tanah dan penggarap
dilakukan secara adil dan menjamin hukum yang layak terutama bagi
penggarap. Dalam undang-undang ini diatur mengenai imbangan antara
pemilik tanah dan penggrap, jangka waktu, biaya dalam pengusahaan tanah,
kewajiban pemilik tanah dan penggarap.
Politik kebijakan Agraria tentang perlunya segera dilaksanakan
Landreform saat itu menjadi perbincangan nasional. Dapat dilihat dalam
berbagai pidato Presiden Soekarno dan tokoh-tokoh politik lain pada periode
tersebut. Dalam pidato Presiden Soekarno yang disampaikan pada pembukaan
Rapat Dewan Pertimbangan Agung (DPA) awal Januari 1960 menyampaikan
bahwa Landreform adalah bagian mutlak dari revolusi kita. 11 Lebih tegasnya
pada pidato peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1960, Presiden
Soekarno berkata ... Melaksanakan Landreform berarti melaksanakan satu
bagian mutlak dari Revolusi Indonesia. Tanah tidak boleh menjadi alat
penghisap, apalagi dari modal asing terhadap rakyat Indonesia.12
11

Departemen Penerangan Republik Indonesia. Peraturan dasar pokok Agraria dan land
reform. Departemen Penerangan RI. Hal. 4
12 Soekarno. 1960. Djalannja Revolusi Kita. Jakarta. Dalam Dianto Bachriadi. 2007.

Pidato Pengantar Menteri Agraria, Mr. Sadjarwo dalam sidang DPRGR tanggal 12 September 1960 menyatakan bahwa:13
.... Landreform di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan Revolusi
Nasional Indonesia, suatu Landreform yang bertujuan:
a; Untuk mengadakan pembagianyang adil atas sumber penghidupan rakyat
tani yang berupa tanah, dengan maksud agar ada pembagian yang adil
pula, dengan merombak struktur pertanahan sama sekai revolusioner,
guna merealisir keadilan sosial;
b; Untuk melaksanakan prinsip tanah untuk tani, agar tidak terjadi lagi
tanah sebagai objek spekulasi dan objek pemerasan;
c; Untuk memperkuat dan memperluas hak milik atas tanah bagi setiap
warganegara Indonesia, baik laki-laki maupun wanita, yang berfungsi
sosial. Suatu pengakuan dan perlindungan terhadap privaat-bezit, yaitu
hak milik sebagai hak terkuat, bersifat perorangan dan turun-temurun
yang berfungsi sosial;
d; Untuk mengakhiri sistem tuan tanah dan menghaouskan pemilikkan dan
penguasaan tanah secara besar-besaran dangan tak terbatas, dengan
menyelenggarakan batas maksimum dan batas minimum untuk tiap
keluarga. Sebagai kepala keluarga dapat seorang laki-laki ataupun
wanita. Dengan demikian menghapus pula sistem liberalisme dan
kapitalisme atas tanah, dan memberikan perlindungan terhadap
golongan yang ekonomis lemah;
e; Untuk mempertinggi produksi nasional dan mendorong terselenggaranya
pertanian yang intensif secara gotong royong dalam bentuk koperasi dan
bentuk gotong royong lainnya, untuk mencapai kesejahteraan yang
merata dan adil, dibarengi dengan suatu sistem perkreditan yang khusus
ditujukan kepada golongan tani.

Dahsyatnya pidato Presiden dan tokoh politik seperti Mr. Sadjarwo


tentang Landreform ini berbanding terbalik dengan pelaksanaannya. Secara
efektif kebijakan politik agraria dalam kerangka Landreform berjalan pada
kurun waktu 1961-1964 saja. Pelaksanaan Landreform sebagai wujud politik
kebijakan agraria mengalami berbagai hamabatan. Salah satu hambatan yang
datang adalah perlawanan dari tuan-tuan tanah yang memiliki tanah secara
luas. Para tuan tanah adalah pihak yang paling menentang tentang kebijakan
politik ini.
Hambatan lainya adalah dikarenakan sosialisasi mengenai konsep
dan UUPA yang belum tuntas dan merata, disamping kesiapan aparat
pemerintah sendiri dan tantangan goegrafis Indonesia yang beragam dan luas.
Ditambah kondisi politik yang bergejolak akibat dinamika politik
pemerintahan sehingga konsentrasi pemikiran dan perhatian terhadap
pelaksanaan Landreform terpecah. Ditambah lagi pengaruh dinamika politik
dunia dalam perang dingin yang berdampak pada percaturan politik nasional.
Hal ini menyebabkan sikap dan dukungan partai-partai politik beragam.
Reforma Agraria untuk Indonesi: Pandangan Kritis tentang Program Pembaruan Agraria
Nasional (PPAN) atau Redistribusi Tanah ala Pemerintahan SBY. Sebagai bahan diskusi dalam
Pertemuan Organisasi-organisasi Rakyat se-Jawa di Magelang pada tanggal 6-7 Juni 2007.
13 Boedi Harsono. Opcit. Hal. 499-500.

Keadaan tersebut diperparah dengan adanya aksi sepihak oleh Partai


Komunis Indonesia (PKI). PKI memanfaatkan keadaan bahwasanya program
Landreform yang nota bene adalah kegiatan redistribusi tanah merupakan
programnya. Menciptakan persepsi di masyarakat luas -terutama petani yang
merupakan basis massa pendukungnya- seolah-olah UUPA merupakan
produk politik PKI.
D; Kebijakan Politik Agraria Orde Baru
Pemerintahan Orde Baru dipimpin oleh Presiden Soeharto.
Kebijakan politik agraria yang populer diambil oleh Presiden Suharto adalah
Revolusi Hijau. Mengembangkan kebijakan baru dalam segala bidang dengan
mengesampingkan kebijakan Orde lama dan bersikap curiga terhadap intisari
dan gagasan-gagasan UUPA.
Revolusi Hijau dianggap kebijakan politik agraria yang ampuh oleh
rezim Orde Baru. Revolusi hijau dijadikan solusi untuk menghadapi
kebutuhan mendesak dalam pangan yang selama beberapa tahun selalu impor
dalam jumlah besar. Revolusi hijau dilakukan dalam rangka pemenuhan
pangan dalam negeri. Hal itu dilakukan dengan melakukan intensifikasi
pertanian, rehabilitasi irigasi dan pemanfaatan teknik-teknik baru yaitu
penggunaan pupuk kimia dan bibit varietas unggul.
Dalam rangka memuluskan rencana aksi pembangunan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka Pemerintah mengeluarkan
berbagai peraturan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan
pada masa orde baru ditujukan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Peraturan perundang-undangan tersebut diantaranya adalah Undang-undang
Penanaman Modal Asing, Undang-undang Pertambangan dan Undangundang Kehutanan. Ketiga undang-undang tersebut telah mengabaikan
ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA.
Undang-undang Penanaman Modal Asing memberikan peluang
besar bagi masuknya dana bantuan. Dana bantuan digunakan untuk
menjalankan roda pembangunan dalam segala bidang. Termasuk investasi di
wilayah kehutanan.
Konsiderans dalam Undang-undang Pertambangan menjelaskan
bahwa undang-undang ini berorientasi kepada eksploitasi. Ketentuan
Menimbang dalam huruf a menyatakan bahwa guna mernpercepat
terlaksananya pembangunan ekonomi Nasional dalam menuju masyarakat
Indonesia yang adil dan makmur, materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila
maka perlulah dikerahkan semua dana dan daya untuk mengolah dan
membina segenap kekuatan ekonomi potensiil di bidang penambangan
menjadi kekuatan ekonomi riil.14
Undang-undang Kehutanan ditetapkan oleh pemerintahan berkuasa
dalam rangka memperluas kesempatan untuk mendukung pembangunan

14

Maria W. Sumardjono, dkk.2009. Kajian Kritis Undang-undang Terkait, Penataan Ruang


dan Sumber Daya Alam. Jakarta: Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Hal 23.

nasional. Memberikan keleluasaan untuk mengeksploitasi hutan dengan dalih


eksplorasi tambang dan pemberian Hak Guna Usaha diatas Kawasan Hutan.
Untuk sekian tahun lamanya UUPA dipersepsikan secara keliru.
UUPA dipersepsikan sebagai produk PKI, ibarat masuk peti-es. Artinya,
sekalipun tidak dicabut, keberadaannya tidak dihiraukan alias mengalami
delegitimasi dan degradasi makna. Stigma ini bahkan masih melekat di benak
sebagian masyarakat kita sampai sekarang. Baru pada tahun 1978 keberadaan
UUPA dikukuhkan kembali sebagai produk nasional (bukan produk PKI).
Kembalinya perhatian atas keberadaan UUPA ini -mungkin- juga karena
adanya undangan dari Food and Agriculture Organization of United Nations
(FAO) untuk menghadiri Konferensi Sedunia tentang Reforma Agraria dan
Pembangunan Pedesaan di Roma tahun 1979.
Dalam Konferensi Roma tahun 1979, Indonesia mengirim delegasi
besar. Hasil konferensi ini berupa sebuah dokumen dengan judul Peasants
Charter (Piagam Petani). Dokumen tersebut diterbitkan oleh FAO di tahun
1981. Keberadaan Piagam Petani hasil pertemuan Roma ternyata tidak
mampu mendorong pemerintah Orde Baru melakukan re-orientasi
kebijakan. Bahkan, kebanggaan yang berlebihan dari berhasilnya
swasembada pangan di tahun 1984 telah membuat Orde Baru terlalu percaya
diri bahwa tanpa Reforma Agraria kita akan mampu memakmurkan rakyat.
Pada era tahun 1980an, Pemerintah mencanangkan kebijakan
pencetakan sawah. Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Presiden RI
Nomor 54 Tahun 1980. Kebijakan ini dikeluarkan dengan pertimbangan
untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama beras dalam usaha swasembada
pangan serta untuk meningkatkan pendapatan parapetani. Pemerintah
bertekad untuk mengkonversi tanah bukan sawah menjadi sawah, terutama
terhadap tanah dalam kawasan jaringan irigasi yang telah dibangun
pemerintah serta tanah-tanah yang dapat dijadikan sawah karena irigasi.
Di tahun yang sama Pemerintahan Presiden Suharto juga
mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1980 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Penyelenggaraan Landreform. Keppres ini mengatur bahwa
pelaksanaan Landreform ditugaskan kepada Menteri Dalam Negeri serta para
Gubernur Kepala daerah, Bupati/ Walikotamadya, Camat dan Kepala Desa.
Dengan harapan agar Program Landreform dapat cepat terlaksana. Sampai
pada dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang
BPN. Keppres ini menyatakan ketentuan organisasi Depdagri tentang
keagrariaan dinyatakan tidak berlaku sehingga pelaksanaan Landreform
beralih kepada BPN.
Pada kenyataannya terbukti bahwa usaha-usaha untuk mewujudkan
swasembada pangan tidak berumur lama. Namun hal ini tetap tidak membuat
Orde Baru menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Bahkan semakin
terdapat kecenderungan untuk jauh menyimpang dari semangat UUD 1945
dan UUPA 1960. Usaha penyediaan lapangan kerja di pedesaan melalui
program Revolusi Hijau dipandang gagal, dengan kenyataan bahwa tingkat
migrasi dari desa ke kota semakin meningkat semenjak adanya program ini.

Penyimpangan ini dimulai dengan adanya berbagai paket deregulasi


di akhir dekade 1980-an untuk memuluskan praktek kebijakan liberal.
Berbagai konflik sosial yang hakikatnya berlatar belakang masalah agraria
telah merebak di mana-mana dan tidak ada yang dapat diselesaikan sampai
saat ini. Deregulasi perbankan melahirkan banyak sekali bank-bank baru
yang beroperasi di desa-desa. Bahkan bank-bank yang semula diharapkan
akan lenyap tersaingi, malah merajalela.
Deregulasi perbankan yang semula dianggap akan meningkatkan
aliran dana ke masyarakat, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Justru
dana masyarakat terserap ke bank-bank tersebut, dan selanjutnya tersedot ke
Jakarta, yang akhirnya capital drain ke luar negeri. (Dari sejak akhir dekade
1980-an itu, sebenarnya sudah dapat diraba akan terjadinya suatu krisis).
Dampak yang dirasakan masyarakat di pedesaan adalah banyak petani/rakyat
pedesaan terjerat hutang. Serbuan penawaran kredit mendorong petani atau
rakyat desa mengambil sikap apa yang disebut an ethic of moderation (etika
jalan tengah) yang ternyata menjeratnya.15
Dengan demikian, orientasi dan strategi agraria seperti yang telah
dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru sesungguhnya dapat dikatakan
sebagai suatu reforma agraria juga, dikarenakan perubahan-perubahan
struktur pertanahan akhirnya terjadi. Meskipun kenyataannya menunjukkan
bahwa perubahan struktur kepemilikan tanah dan struktur agraria yang
terbentuk ternyata lebih melemahkan posisi rakyat dalam menguasai sumbersumber agraria, terutama tanah yang ada. Dengan demikian, hak-hak rakyat
untuk menguasai sumber-sumber agraria tersebut, baik secara legal maupun
lewat praktek yang ilegal semakin ditepikan. Sejumlah persoalan mendasar
dalam Landreform yang muncul pada akhirnya turut menyumbang konflikkonflik yang berkepanjangan, struktur penguasaan yang timpang, dan tata
hukum yang timpang, dan rezim yang represif ikut mengambil keuntungan
dalam melakukan monopoli tanah menjadi faktor penyebabnya. Pada sisi
yang lain, sejumlah kebijakan politik pertanahan dari pemerintah
menunjukkan bahwa praktek politik dan tatanan hukum di Indonesia sudah
tidak memberikan tempat yang layak dalam proses perkembangan
masyarakat, karena dominasi negara dan kekuasaan eksekutif sudah
terlampau besar, tidak terkontrol, kapitalistik, represif, dan korup.
E; Kebijakan Politik Agraria Orde Reformasi
Pemerintahan orde reformasi dimulai ketika Presiden Soeharto
mengundurkan diri sebagai Presiden. Masa dimana muncul pikiran-pikiran
baru yang menempatkan kembali gagasan Landreform dalam suasana politik
baru. Peristiwa yang fenomenal di bidang politik agraria dari orde reformasi
adalah lahirnya Ketetapan MPR Nomor IX Tahun 2001. Selanjutnya disebut
TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan
15

Gunawan Wiradi. 2001. Struktur Penguasaan Tanah Dan Perubahan Sosial Di Pedesaan
Selama Orde Baru Perdebatan Yang Belum Selesai. Makalah yang disampaikan dalam "Seminar
Tentang Pembaruan Agraria". Diselenggarakan oleh Panitia Ad Hock II Badan Pekerja MPR-RI,
bekerjasama dengan Universitas Pajajaran pada tanggal 14-15 September 2001 di Bandung.

Sumber Daya Alam. Ketetapan ini menjadi koreksi terhadap kebijakan dan
politik agraria yang dianut dan dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru
selama lebih kurang 32 tahun.
TAP MPR No. IX/2001 lahir tiga tahun setelah orde baru berakhir.
Ketetapan ini memberi ruang dan meneguhkan kembali tema-tema tentang
reforma agraria, Landreform, kesejahteraan petani dan prinsip-prinsip
pengelolaan sumber daya alam. Mendudukan/ memposisikan tema-tema
tersebut dalam dokumen-dokumen politik negara.16
Pada Pasal 6 TAP MPR tercantum mandat Menugaskan DPR RI
dan Presiden RI untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan Pembaruan
Agraria dan pengelolaan sumber daya alam serta mencabut, mengubah, dan/
atau mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang
tidak sejalan dengan ketetapan ini.17 TAP MPR ini lahir di tengah-tengah
tuntutan kepada pemerintah dan DPR untuk melaksanakan pembaruan agraria
dari berbagai kelompok, terutama kelompok-kelompok yang berkepentingan
langsung dengan pembaruan agraria yang berpihak pada kepentingan rakyat,
dalam hal ini adalah organisasi-organisasi massa petani. Pada tataran
implementasi, TAP MPR tersebut memerintahkan kepada Presiden dan DPR
untuk membentuk peraturan perundang-undangan, baik yang berbentuk
Undang-undang maupun Peraturan Presiden.
Diluar hal itu, fenomena pendudukan-pendudukan tanah, gerakan
pengambilalihan kembali tanah-tanah, blokade-blokade produksi dan
semacamnya merupakan bukti nyata. Bukti nyata adanya tututan petani agar
pemerintah segera melaksanakan reforma agraria sejati dan kebijakan
pertanian yang memihak mereka. Kejadian tersebut merupakan fakta bahwa
adanya ketidakadilan dalam penguasaan dan pemilikan sumber-sumber
agraria selama ini. Pemerintahan orde baru menghasilkan masalah agraria
yang menuntut penyelesaian.
Kebijakan politik agraria selanjutnya muncul di era kepemimpinan
Presiden Megawati Soekarno Putri. Presiden Megawati mengeluarkan
Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional
dibidang Pertanahan. Keppres yang ditandatangani pada tanggal 31 Mei 2003
ini dimaksudkan dalam rangka melaksanakan amanat TAP MPR IX/2001.
Keppres ini memberikan mandat kepada BPN untuk:18
1; penyusunan Rancangan Undang-undang Penyempurnaan UUPA dan
Rancangan Undang-undang tentang Hak Atas Tanah serta peraturan
perundang-undangan lainnya di bidang pertanahan;
16

Erpan Faryadi. Pembaharuan Agraria dan TAP MPR No. IX/2001. Makalah disajikan
dalam Diskusi Panel Pembaharuan Agraria dan Agribisnis. Diselenggarakan oleh Departemen
Pertanian RI dan DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia pada tanggal 10-12 September 2002
di Bogor
17 Usep Setiawan. Menemukan Pintu Masuk untuk Keluar (Relevansi TAP MPR No.
IX/MPR/2001, UUPA No. 5 Tahun 1960, dan Keppres No. 34/2003 bagi Pelaksanaan Pembaruan
Agraria di Indonesia). Jurnal Analisis Sosial Vol. 9, No. 1 April 2004. Pembaruan Agraria. Antara
Negara dan Pasar. Akatiga. Bandung. hal. 76
18 Lihat Pasal 1 Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di
Bidang Pertanahan.

2; menyusun pembangunan sistem informasi dan manajemen pertanahan


untuk menunjang landreform dan pemberian hak atas tanah;
3; menyusun norma-norma dan/ atau standarisasi mekanisme
ketatalaksanaan, kualitas produk dan sumber daya manusia yang
diperlukan dalam rangka pemberian sebagian besar kewenangan
pemerintah di pertanahan kepada pemerintah propinsi/ kabupaten/ kota.
Penyusunan RUU penyempurnaan UUPA sendiri hingga kini
menjadi pro dan kontra. Kehendak pemerintah untuk menyempurnakan
UUPA tidak identik, atau bukan semata-mata didasari oleh adanya kehendak
untuk mengimplementasikan Tap MPR IX/2001. Upaya penyempurnaan
UUPA belum tentu sejalan dengan kepentingan Reforma Agraria sebagaimana
yang dicita-citakan banyak orang.19
Pelaksanaan Reforma Agraria menjadi lebih bergairah ketika
Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf
Kalla (SBY-JK). Ketika berkampanye SBY-JK mengusung akan
dilaksanakannya reforma agraria. Sehingga setelah beberapa bulan dilantik,
sejumlah akademisi dan aktivis ornop (organisasi non pemerintah) melayang
dokumen yang berjudul Petisi Cisarua. Dengan maksud untuk
mengingatkan akan janji-janji politik pada saat kampanye.
Petisi Cisarua20 mengingatkan bahwa jika hendak menjalankan
reforma agraria di Indonesia jangan lah setengah-setengah, tetapi jadikan
reforma agraria sebagai dasar bagi pembangunan ekonomi (nasional) bagi
Indonesia baru. Sesungguhnya reforma agraria yang berhasil dalam
pengalaman banyak negara seperti di Jepang, Taiwan, Cina, Korea Selatan,
Mesir, dan sebagainya adalah yang menempatkannya sebagai dasar bagi
pembangunan ekonomi secara nasional yang kemudian menjadikannya basis
penting bagi pertumbuhan industri nasional yang kuat.
Untuk itu Presiden SBY pada tahun 2006 mengeluarkan Peraturan
Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang BPN. Perpres ini sebagai bentuk
dukungan terhadap pelaksanaan reforma agraria. Sebagai badan pelaksananya
adalah BPN.
Pelaksanaan reforma agraria pada masa pemerintahan Presiden SBY
diwujudkan dalam kegiatan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) 21.
PPAN diwujudkan dalam dua hal pokok, yaitu redistribusi lahan secara
terbatas dan sertipikasi tanah. Namun sejatinya perlu dipertanyakan apakah
reforma agraria yang dimaksud Presiden SBY adalah sejatinya. Karena pada
dasarnya, reforma agraria harus bermakna penataan ulang struktur
penguasaan tanah yang di dalamnya dapat terliput suatu aktivitas redistribusi
tanah dan pembatasan (pencegahan) konsentrasi penguasaan tanah. Bahkan
19
20

Sadikin Gani. 2010. Tantangan Reforma Agraria.


Poniman, Anton, et.al. (2005), Petisi Cisarua: Rekomendasi untuk Presiden Republik
Indonesia Periode 2004-2009, Reforma Agraria dalam Rangka Pelaksanaan Visi, Misi dan
Program Pemerintah Baru (Bandung: Pergerakan).
21 Naskah Pidato Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono Pada Awal
Tahun 2007, Jakarta 31 Januari 2007, hal. 10.

dapat pula di dalamnya terkandung aksi-aksi untuk menata ulang sistem bagi
hasil dalam kegiatan pertanian.
F; Kesimpulan
Berdasarkan tulisan diatas dapat dihasilkan beberapa kesimpulan.
Pertama, UUPA merupakan bentuk kebijakan politik agraria kepemerintahan
orde lama. UUPA dijadikan dasar bagi pelaksanaan Reforma Agraria di
Indonesia. Bentuk pelaksanaan Reforma Agraria di Indonesia diwujudkan
dalam program Landreform. Diawali dengan ditetapkannya UU Nomor 2
Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil dan UU (Prp) Nomor 56 Tahun
1960 tentang Peetapan Luas Tanah Pertanian.
Kedua, periode pemerintahan Orde Baru menjadi rezim anti Orde
Lama. Memilih kebijakan pemerintah dalam pembangunan nasional
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Mendelegitimasi eksistensi UUPA,
ditandai dengan lahirnya Undang-undang Penanaman Modal, Pertambangan
dan Kehtanan. Revolusi Hijau sebagai kebijakan politik agraria.
Mencanangkan Kebijakan pencetakan sawah yang dituangkan dalam Keppres
Nomor 54 Tahun 1980. Kebijakan tersebut membawa keberhasilan Indonesia
untuk swasembada pangan. Namun hal itu tidak berkelanjutan alias
mandheg.
Ketiga, kebijakan pemerintahan Orde Baru melahirkan permasalahan
(konflik agraria). Melahirkan ketimpangan struktur penguasaan, pemilikkan,
penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Menuntut suatu langkah strategis untuk
menyelesaikannya. Disusunlah TAP MPR No. IX/2001 sebagai Landasan
Politik dalam mengembalikan kewibawaan UUPA. Memberikan mandat
kepada Pemerintah dan DPR untuk menyempurnakannya. Langkah
Pemerintah selanjutnya adalah dengan mengeluarkan Keppres No. 34 Tahun
2003. Mengamanatkan kepada BPN untuk melaksanakan tugas pemerintah di
bidang pertanahan.

DAFTAR PUSTAKA
Bachriadi, Dianto. 2007. Reforma Agraria untuk Indonesi: Pandangan Kritis
tentang Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) atau Redistribusi
Tanah ala Pemerintahan SBY. Sebagai bahan diskusi dalam Pertemuan
Organisasi-organisasi Rakyat se-Jawa di Magelang pada tanggal 6-7 Juni
2007.
Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik: Jumlah Penduduk Miskin Maret
2013 Mencapai 28,07 Juta Orang. http://www.bps.go.id/?news=1023.
Diakses tanggal 26 Oktober 2013 pukul 12.00 WIB.
Departemen Penerangan Republik Indonesia. Peraturan Dasar Pokok Agraria Dan
Land Reform. Departemen Penerangan RI.
Faryadi, Erpan. Pembaharuan Agraria dan TAP MPR No. IX/2001. Makalah
disajikan dalam Diskusi Panel Pembaharuan Agraria dan Agribisnis.
Diselenggarakan oleh Departemen Pertanian RI dan DPP Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia pada tanggal 10-12 September 2002 di Bogor
Gani, Sadikin. 2010. Tantangan Reforma Agraria.
Harsono, Boedi. 2005. Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undangundang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Jilid 1 Hukum Tanah
Nasional. Cetakan Kesepuluh. Djambatan. Jakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1994. Edisi Kedua Cetakan Ketiga. Balai
Pustaka. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang
Pertanahan.
Ketetapan MPR Nomor IX Tahun 2001.
Naskah Pidato Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Pada Awal Tahun 2007, Jakarta 31 Januari 2007.
Politik Agraria (Pertanahan). http://fans-fc.blogspot.com/2012/11/politik-agrariapertanahan.html. diunduh tanggal 02 Desember 2013 pukul 21.38 WIB.
Poniman, Anton, et.al. 2005. Petisi Cisarua: Rekomendasi untuk Presiden
Republik Indonesia Periode 2004-2009, Reforma Agraria dalam Rangka
Pelaksanaan Visi, Misi dan Program Pemerintah Baru. Pergerakan.
Bandung.
Sihaloho, Martua dkk. 2010. Reforma Agraria dan Revitalisasi Pertanian di
Indonesia: Studi Kasus Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura di
Jawa Barat. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi
Manusia.
Setiawan, Boni dkk.1997. Reformasi Agraria, Sengketa dan Agenda
Pembaharuan Agraria di Indonesia. Jakarta. KPA dan LPFE UI.
Setiawan, Usep. Menemukan Pintu Masuk untuk Keluar (Relevansi TAP MPR
No. IX/MPR/2001, UUPA No. 5 Tahun 1960, dan Keppres No. 34/2003
bagi Pelaksanaan Pembaruan Agraria di Indonesia). Jurnal Analisis Sosial
Vol. 9, No. 1 April 2004. Pembaruan Agraria. Antara Negara dan Pasar.
Akatiga. Bandung.

Soekarno. 1960. Djalannja Revolusi Kita. Jakarta.


Sumardjono, Maria W., dkk.2009. Kajian Kritis Undang-undang Terkait,
Penataan Ruang dan Sumber Daya Alam. Jakarta: Kementerian Negara
Lingkungan Hidup.
Wiradi, Gunawan. 1998. Reforma Agraria dalam Perspektif Transisi Agraris.
Disajikan dalam Seminar Agraria yang diselenggarakan oleh Federasi
Serikat Petani Indonesia (FSPI) pada tanggal 21 September 1998 di
Bandar Lampung.
Wiradi, Gunawan. 2001. Struktur Penguasaan Tanah Dan Perubahan Sosial Di
Pedesaan Selama Orde Baru Perdebatan Yang Belum Selesai.
Disampaikan dalam "Seminar Tentang Pembaruan Agraria".
Diselenggarakan oleh Panitia Ad Hock II Badan Pekerja MPR-RI,
bekerjasama dengan Universitas Pajajaran pada tanggal 14-15 September
2001 di Bandung.