Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS ANAK

KEJANG DEMAM
TUTOR : dr. Leonardo W Permana, MARS

oleh :
Tuti Seli Sugiarti
10101023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2014

STATUS PASIEN
1

IDENTITAS PASIEN
Nama : Arthur Ebenezer
Jenis kelamin : laki-laki
Umur : 8 bulan
BB : 7,6 Kg
ANAMNESIS
Keluhan utama : Kejang
RPS : -Kejang 2 kali durasi 5 menit
-Kejang pertama jam 15.00, suhu : 39,8oC
-Kejang ke dua jam 19.30, suhu 39,1oC
-Batuk 2 minggu
-Pilek 1 hari
RPD : Riwayat kejang (-)
RPK : Rpsos: PEMERIKSAAN FISIK
Tingkat kesadaran : Compos Mentis
Vital sign : -nadi : 120x/menit
-Frekuensi Napas : 36x/menit
-Suhu : 39,30C
-Tekanan darah :PF :- Kepala dan leher : Conjugtiva anemis
-Thorax : -suara pernapasan : Vesikular
-Retraksi Ringan (+)
-Abdomen : soepel, bising usus (+)
-Extremitas : Tonus otot baik dan akral hangat
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap

Diagnosis : Kejang demam simplek DD : meningitis dan enchepalitis


Pengobatan : -Propiretik 80 mg
-Inj. Cefotaxime 3x250 mg
-Inj. Ranitidin 3x7,5 mg
-Sanmol drop 4x0,8 mg
-Jika demam >38,50CInj. Parastamol 80 mg

TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang timbul akibat kenaikan suhu
rectal >38oC yang disebabakan oleh suatu proses extracranial. Secara
Umum dibagi menjadi kejang demam simpleks dan kejang demam
kompleks.
Menurut kriteriaLivingstone :

Umur : 6 bulan 4 tahun

Lama : < 15 menit

Sifat : umum tonik klonik

Kelainan saraf (-), sebelum/sesudah

Frekuensi : < 4x/tahun

EEG : Normal (1 minggu bebas panas)

Timbul kejang pada 16 jam pertama setelah demam meningkat

2. Epidemiologi
2.1 AS
Antara 2% dan 5% anak mengalami kejang demam dengan ulang tahun
kelima mereka.
2.2 internasional
Tingkat yang sama kejang demam ditemukan di Eropa Barat. Kejadian di
tempat lain di dunia bervariasi antara 5% dan 10% untuk India, 8,8%
untuk Jepang, 14% untuk Guam, 0,35% untuk Hong Kong, dan 0,5-1,5%
untuk China.

3. Patofisiologi
Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal
membran sel neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium
dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar sel neuron
terjadi keadaan sebaliknya.
. Potensial membran sel neuron bergantung pada permeabilitas
selektif membran neuron, yakni membran sel mudah dilalui oleh ion K
dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali ion Ca, Na, Cl,
sehingga di dalam sel terdapat konsentrasi tinggi ion K dan konsentrasi
rendah ion Ca,Na, dan Cl, sedangkan keadaan sebaliknya terdapat diruang
ekstraseluler. Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar
sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran
dan ini dapat dirubah dengan adanya :
a.

Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler

b.

Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya


mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya

c.

Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena


penyakit atau keturunan.
Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan

keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi
dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat
terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya
sehingga terjadi kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari
tinggi rendahnya ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang
kejang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38 C, sedang pada ambang
kejang tinggi baru terjadi pada suhu 40 C atau lebih. Untuk lebih jelas
dapat dilihat pada bagan di bawah ini :

Inflamasi/Infeksi
Peningkatan suhu tubuh
Metabolisme basal meningkat
Kebutuhan O2 meningkat
Glukosa ke otak menurun
Perubahan konsentrasi dan jenis ion
di dalam dan di luar sel
Difusi ion Na+ dan K+
Kejang
Durasi pendek

Durasi lama

Sembuh

Apnea
O
2

menurun

Kebutuhan O2 meningkat

Hiperkapnia

Hipotensi arterial

Hipoxemia
Aktivitas otot meningkat
Hipoxia
Permeabilitas meningkat
Edema otak
Kerusakan sel neuron otak
Epilepsi

4.

Pemeriksaan Penunjang
4.1 Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada
kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi
penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi
disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
4.2 Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan
atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya meningitis
bakterialis adalah 0,6%-6,7%.
Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan
diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena
itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
2. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal.
4.3 EEG (ElectroEncefaloGrafi)
Pemeriksaan

elektroensefalografi

(EEG)

tidak

dapat

memprediksi

berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi


pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks.

5. Pengobatan
Penghentian kejang Demam
1. Diazepam : IV 0,3-0,5 mg/KgBB dosis maksimal 20 mg bila tidak
berhenti ulangi
2. Diazepam rectal : 0,5-0,75 mg/KgBB atau 5 mg dg BB <10 Kg dan 10
mg dg BB > 10 Kg
Bila tidak berhenti
3. Fenitoin dosis awal 10-20 mg/KgBB IV perlahan-lahan dengan
kecepatan 1mg/KgBB/menit, selanjutnya 4-8 mg/KgBB/hari, 12-24
jam setelah dosis awal. Setelah kejang berhenti, tunggu 4 jam
4. Fenobarbital

oral dengan loading dose, dosis

awal : 8-10

mg/KgBB/hari, selama 2 hari 4-5 mg/KgBB/ hari, dibagi 2. Tapi pada


kejang demam sederhana tidak diberikan fenobarbital.
5. Anti Piretik, Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik
mengurangi risiko terjadinya kejang demam (level I, rekomendasi D),
namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan (level III, rekomendasi B). Dosis parasetamol yang
digunakan adalah 10 15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak
lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali ,3-4 kali sehari.
6. Profilaksis,Indikasi pemberian profilaksis terus menerus pada saat
ini adalah:2,3

Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau


gangguan perkembangan neurologis.

Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik


pada orang tua atau saudara kandung.

Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti


kelainan neurologis sementara atau menetap.

Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan


atau terjadi kejang multipel dalam satu episode demam.

Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1 2


tahun setelah kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1 2 bulan. Pemberian fenobarbital 4 5 mg/kg BB perhari
8

dengan kadar sebesar 16 mg/mL dalam darah menunjukkan hasil yang


bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam. Efek samping
fenobarbital ialah iritabel, hiperaktif, pemarah dan agresif ditemukan
pada 3050 % kasus. Efek samping fenobarbital dapat dikurangi
dengan menurunkan dosis.
Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat yang
memiliki khasiat sama dibandingkan dengan fenobarbital. Ngwane
meneliti kejadian kejang berulang sebesar 5,5 % pada kelompok yang
diobati dengan asam valproat dan 33 % pada kelompok tanpa
pengobatan dengan asam valproat. Dosis asam valproat adalah 15 40
mg/kg BB perhari.3 Efek samping yang ditemukan adalah hepatotoksik,
tremor dan alopesia8,23. Fenitoin dan karbamazepin tidak memiliki
efek profilaksis terus menerus.
Millichap,24 merekomendasikan beberapa hal dalam upaya
mencegah dan menghadapi kejang demam.

Orang tua atau pengasuh anak harus diberi cukup informasi


mengenai penanganan demam dan kejang.

Profilaksis intermittent dilakukan dengan memberikan diazepam


dosis 0,5 mg/kg BB perhari, per oral pada saat anak menderita
demam. Sebagai alternatif dapat diberikan profilaksis terus
menerus dengan fenobarbital.

Memberikan diazepam per rektal bila terjadi kejang.

Pemberian fenobarbital profilaksis dilakukan atas indikasi,


pemberian sebaiknya dibatasi sampai 6 12 bulan kejang tidak
berulang lagi dan kadar fenoborbital dalam darah dipantau tiap 6
minggu 3 bulan, juga dipantau keadaan tingkah laku dan
psikologis anak.

Bagan penghentian Kejang demam


Kejang
Kejang
Diazepam rectal
Di rumah sakit
Diazepam IV
Kecepatan 0,5-1 mg/KgBB/menit (3-5 menit)
(Depresi pernapasan dapat terjadi)
Masih kejang, Fenitoin bolus IV 10-20 mg/KgBB
Kecepatan 0,5-1 mg/KgBB/menit
(Pastikan ventilasi adekuat)
Kejang
Transfer ICU

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Pusponegoro, Hardiono. D, et all. Konsensus Penatalaksanaan Kejang
Demam. 2006. IDAI
2. Baumann, Robert. J. Pediatric Febrile Seizure. 2013. [diakses tanggal 14
desember

2013].

http://emedicine.medscape.com/article/1176205-

overview#showall
3. Deliana, Melda. Tatalaksana Kejang Demam Pada Anak. 2002. Sari
Pediatrik.Vol.

2.

IDAI.

[diakses

tanggal

14

desember

2013].

http://saripediatri.idai.or.id/edisi.asp?q=36
4. Mclintosh, Neil. Et all. Textbook Of Pediatrics. 2001. USA. Churchill
Livingstone.

11