Anda di halaman 1dari 12

Tugas Individu

RANCANGAN IPAL INDUSTRI MEBEL


PT SWASTAMA
Mata Kuliah Pengolahan Air Limbah

Oleh:
Eky Purwanti
25010111120033

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

KUALITAS LIMBAH INDUSTRI MEBEL PT SWASTAMA


Baku Mutu

Parameter

Satuan

Hasil Analisa
Lab.

Air Limbah

Kriteria

Industri

Mutu Air

Mebel (Perda

Kelas IV (PP

Prov. Jateng

RI No. 82 Th.

No. 10 Th.

2001)

2004)
Suhu

34, 25

80

2000

TDS

mg/L

38,30

400

TSS

mg/L

13660

50

5-9

8,57

6-9

12

pH
BOD

mg/L

102,78

80

100

COD

mg/L

692,65

200

1,0

Krom Total

mg/L

0,08

RANCANGAN IPAL

Bak Equalisasi

Bak Koagulasi

Bak Flokulasi

Limbah Cair

PT Swastama

Bak Sedimentasi

Bak Filtrasi
Trickling Filter

O2

O2

O2

Aerated Lagoon

Settling Tank

Bak Desinfeksi
Effluent

Return Sludge

KETERANGAN
1. Bak Equalisasi
Bak Equalisasi merupakan bangunan yang dirancang untuk menampung
sementara sebelum dilakukan proses pengolahan. Tujuan proses equalisasi
adalah untuk meminimkan atau mengontrol fluktuasi dari karakteristik air
limbah yang diolah agar memberikan kondisi optimum pada proses pengolahan
selanjutnya. Ukuran dan tipe bak equalisasi tergantung pada kuantitas limbah
dan perubahan aliran limbah. Bak Equalisasi harus berukuran cukup untuk
mengurangi fluktuasi limbah yang disebabkan oleh perubahan program rencana
produksi dan untuk mengurangi konsentrasi secara periodik pada bak
pengumpul atau saluran.1
Tujuan proses equalisasi untuk mengolah limbah industri adalah :1
a. Mengurangi fluktuasi bahan organik yang diolah untuk mencegah shock
loading pada proses biologis.
b. Mengontrol pH atau meminimumkan kebutuhan bahan kimia yang
diisyaratkan untuk proses netralisasi.
c. Meminimumkan aliran pada proses pengolahan fisikkimia dan mengetahui
rata-rata kebutuhan bahan kimia.
d. Memberikan kapasitas untuk mengontrol aliran limbah.
e. Mencegah tingginya konsentrasi bahan berbahaya yang masuk pada proses
pengolahan biologis.

2. Koagulasi Flokulasi
Koagulasi flokulasi adalah salah satu proses kimia yang digunakan untuk
menghilangkan bahan cemaran yang tersuspensi atau dalam bentuk
koloid dimana partikel-partikel koloid ini tidak dapat mengendap sendiri dan
sulit ditangani oleh perlakuan fisik. Pada proses koagulasi, koagulan dan air
limbah yang akan diolah dicampurkan dalam suatu wadah atau tempat
kemudian dilakukan pengadukan secara cepat agar diperoleh campuran yang
merata distribusi koagulannya sehingga proses pembentukan gumpalan atau
flok dapat terjadi secara merata pula. Proses flokulasi dilakukan setelah setelah
proses koagulasi dimana pada proses koagulasi kekokohan partikel koloid

ditiadakan sehingga terbentuk flok-flok lembut yang kemudian dapat disatukan


melalui proses flokulasi. Penggoyahan partikel koloid ini akan terjadi apabila
elektrolit yang ditambahkan dapat diserap oleh partikel koloid sehingga muatan
partikel menjadi netral. Penetralan muatan partikel oleh koagulan hanya
mungkin terjadi jika muatan partikel mempunyai konsentrasi yang cukup kuat
untuk mengadakan gaya tarik menarik antar partikel koloid. Proses flokulasi
berlangsung dengan pengadukan lambat agar campuran dapat membentuk flokflok yang berukuran lebih besar dan dapat mengendap dengan cepat.
Keefektifan proses ini tergantung pada konsentrasi serta jenis koagulan dan
flokulan, pH dan temperatur.2
a. Koagulasi
Koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid
padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus, dengan suatu koagulan
sehingga akan terbentuk flok-flok halus yang dapat diendapkan.
Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses
Koagulasi. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan
menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air yang diolah. Koagulan
yang umum dipakai adalah alumunium sulfat, feri sulfat, fero sulfat dan
PAC.2
b. Flokulasi
Flokulasi merupakan proses pembentukan flok, yang pada dasarnya
merupakan pengelompokan/ aglomerasi antara partikel dengan koagulan
(menggunakan proses pengadukan lambat atau slow mixing). Pada flokulasi
terjadi proses penggabungan beberapa partikel menjadi flok yang berukuran
besar. Partikel yang berukuran besar akan mudah diendapkan.2
Tujuan dilakukan flokulasi pada air limbah selain lanjutan dari proses
koagulasi adalah:2
1) Meningkatkan penyisihan Suspended Solid (SS) dan BOD dari
pengolahan fisik.
2) Memperlancar proses conditioning air limbah, khususnya limbah
industri.
3) Meningkatkan kinerja secondary-clarifier dan proses lumpur aktif.

4) Sebagai pretreatment untuk proses pembentukan secondary effluent


dalam filtrasi.

3. Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pemisahan partikel dari fluidanya (air) yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi atau centrifugal.3 Dalam proses sedimentasi
hanya partikel-partikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah, misalnya
lumpur.4
Fungsi utama dari kolam sedimentasi biasa dalam pengolahan air limbah
adalah untuk membuang bahan terlarut yang lebih besar dari air limbah yang
masuk. Ssedimentasi mendapatkan hasil endapan yang optimal melalui
pengaturan besar kecilnya bak yang akan dibangun.5 Bahan yang harus
dibuang adalah yang tinggi kandungan organiknya (50 hingga 75 persen) dan
mempunyai berat jenis 1,2 atau kurang. Kecepatan turun dari partikel-partikel
organik ini biasanya rendah, dapat hingga 1,25m/jam.6
4. Filtrasi
Filtrasi adalah suatu operasi pemisahan campuran antara padatan dan
cairandengan melewatkan umpan (padatan + cairan) melalui medium
penyaring.7 Hal ini disebabkan adanya pemisahan partikel-partikel tersuspensi
dan koloid, reduksi bakteri dan organisme lainnya dan pertukaran konstituen
kimia yang ada dalam air limbah.8
Filtrasi adalah salah satu bentuk untuk menghasilkan effluent limbah
dengan efisiensi tinggi. Faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga efisiensi
filtrasi adalah :8
a. Menghilangkan partikulat dan koloidal yang tidak mengendap setelah
flokulasi biologis atau kimia.
b. Menaikkan kehilangan suspensi solid, kekeruhan, phospor, BOD, COD,
bakteri dan lain-lain.
c. Mengurangi biaya desinfektan.
Dalam proses filtrasi juga terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga
banyak faktor yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi kualitas air hasil
filtrasi, efisiensi proses dan sebagainya, faktor-faktor tersebut antara lain:8

a. Debit filtrasi
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan diperlukan keseimbangan
antara debit filtrasi dan kondisi media yang ada. Debit yang terlalu cepat
akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara efisien.
b. Kedalaman, ukuran dan jenis media
Partikel tersuspensi yang terdapat pada influent akan tertahan pada
permukaan filter karena adanya mekanisme filtrasi. Oleh karena itu,
efisiensi filter merupakan fungsi karakteristik dari filter bed, yang meliputi
porositas dari ratio kedalaman media terhadap ukuran media. Tebal tidaknya
media akan mempengaruhi lama pengaliran dan besar daya saring.
Demikian pula dengan ukuran (diameter) butiran media berpengaruh pada
porositas, rate filtrasi dan daya saring.
c. Kualitas air limbah
Kualitas air limbah akan mempengaruhi efisiensi filtrasi, khususnya
kekeruhan.Kekeruhan yang terlalu tinggi akan menyebabkan ruang pori
antara butiran media cepat tersumbat. Oleh karena itu dalam melakukan
filtrasi harus dibatasi kandungan kekeruhan dari air limbah yang akan
diolah.

5. Trickling Filter
Trickling filter merupakan salah satu aplikasi pengolahan air limbah
dengan memanfaatkan teknologi biofilm. Trickling filter ini terdiri dari suatu
bak dengan media permeabel untuk pertumbuhan organisme yang tersusun
oleh lapisan materi yang kasar, keras, tajam dan kedap air.9
Kegunaannya adalah untuk mengolah air limbah dengan mekanisme air
jatuh mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian tersaring.
Komponen sistem trickling filter :9
a. Distributor
Air limbah didistribusikan pada bagian atas lengan distributor yang dapat
berputar.
b. Pengolahan (pada media trickling filter)
Sistem pengolahan pada trickling filter terdiri dari suatu bak atau bejana
dengan media permeable untuk pertumbuhan bakteri. Bentuk bejana

biasanya bundar luas dengan diameter 6-6- meter, dindingnya biasanya


terbuat dari beton atau bahan lain tetapi tidak perlu kedap air. Di sepanjang
dinding diberi ventilasi dengan maksud agar terjadi pertukaran udara secara
baik (aerasi) sehingga proses biologis aerobik dapat berlangsung dengan
baik. Pada beberapa trickling filter, media disusun tanpa dinding jadi tidak
diperlukan ventilasi tetapi konstruksi seperti ini kurang baik.
c. Pengumpul
Filter juga dilengkapi dengan underdrain untuk mengumpulkan biofilm
yang mati, kemudian diendapkan dalam bak sedimentasi. Bagian cairan
yang keluar biasanya dikembalikan lagi ke trickling filter sebagai air
pengencer air baku yang diolah.
Agar fungsi trickling filter dapat berjalan dengan baik, diperlukan
persyaratan-persyaratan sebagai berikut :9
a. Persyaratan abiotis, yaitu:
1) Jenis media
Bahan untuk media trickling filter harus kuat, keras, tahan tekanan, tahan
lama, tidak mudah berubah dan mempunyai luas permukaan per unit
volume yang tinggi. Bahan yang biasa digunakan adalah kerikil, batu
kali, antrasit, batu bara dan sebagainya. Akhir-akhir ini telah digunakan
media plastik yang dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan
panas yang tinggi.
2) Diameter media
Diamater media trickling filter biasanya antara 2,5-7,5 cm. Sebaiknya
dihindari penggunaan media dengan diameter terlalu kecil karena akan
memperbesar kemungkinan penyumbatan. Makin luas permukaan media,
maka makin banyak pula mikroorganisme yang hidup di atasnya.
3) Ketebalan susunan media
Ketebalan media trickling filter minimum 1 meter dan maksimum 3-4
meter. Makin tinggi ketebalan media, maka akan makin besar pula total
luas permukaan yang ditumbuhi mikroorganisme sehingga makin banyak
pula mikroorganisme yang tumbuh menempel di atasnya.

4) Lama waktu tinggal trickling filter


Diperlukan lama waktu tinggal yang disebut dengan masa pengkondisian
atau pendewasaan agar mikroorganisme yang tumbuh di atas permukaan
media telah tumbuh cukup memadai untuk terselenggaranya proses yang
diharapkan. Masa pengkondisian atau pendewasaan yang diperlukan
berkisar antara 2-6 minggu. Lama waktu tinggal ini dimaksudkan agar
mikroorganisme dapat menguraikan bahan-bahan organik dan tumbuh di
permukaan media trckling filter membentuk lapisan biofilm atau lapisan
berlendir. Penelitian yang dilakukan oleh Arum Siwiendrayanti (2004),
pertumbuhan mikroorganisme pada media batu kali mulai terbentuk
lapisan biofilm pada hari ke-3 masa pengkodisian.\
5) pH
Pertumbuhan mikroorganisme khususnya bakteri, dipengaruhi oleh nilai
pH. Agar pertumbuhan baik, diusahakan nilai Ph mnedekati keadaan
netral. Nilai Ph 4-9,5, dengan nilai pH yang optimum 6,5-7,5 merupakam
lingkungan yang sesuai.
6) Suhu
Pertumbuhan mikroorganisme juga dipengaruhi oleh suhu. Suhu yang
baik untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah 25-37C. Selain itu suhu
juga mempengaruhi kecepatan reaksi dari suatu proses biologis. Bahkan
efisiensi dari trickling filter sangat dipengaruhi oleh suhu.
7) Aerasi
Agar aerasi berlangsung dengan baik, media trickling filter harus disusun
sedemikian rupa sehingga memungkinkan masuknya udara ke dalam
sistem trickling filtertersebut. Ketersediaan udara dalam hal ini adalah
oksigen

sangat

berpengaruh

terhadap

proses

penguraian

oleh

mikroorganisme.
b. Persyaratan biotis
Persyaratan biotis yang diperlukan dalam penggunaan trickling filter adalah
jenis, jumlah dan kemampuan mikroorganisme dalam trickling filter serta
asosiasi kehidupan di dalamnya.

6. Aerated Lagoon
Menurut Metcalf dan Eddy (1991), kolam aerasi adalah suatu unit proses
pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme tersuspensi
tanpa menggunakan resirkulasi lumpur. Penambahan udara pada kolam
oksidasi dilakukan dengan menggunakan aerator.10
Proses penambahan oksigen (aerasi) ke dalam air limbah sangat
menentukan keberhasilan pengolahan air limbah karena pada tahap ini kotorankotoran organik yang terkandung ke dalam air limbah akan diurai dan
dihilangkan secara biokimiawi dengan bantuan bakteri aerobik dan anaerobik.
Proses aerobik terjadi pada permukaan bak, sedangkan proses anaerobik terjadi
pada bagian dasar/bawah kolam yang tidak mengandung oksigen. Proses
aerobik dan anaerobik dalam suatu bak aerasi terjadi secara bersama-sama.
Reaksi kimia yang terjadi aeroboleh mikroorganisme aerob akan menghasilkan
CO2, H2O, H2S, CH4, NH3, N2 dan mikrooranisme baru.10
7. Settling Tank
Settling tank adalah tangki pengendap yang paling sederhana yang
digunakan untuk memisahkan dua buah atau lebih campuran bahan yang
bersifat non-koloid. Settling tank terdiri dari beberapa bagian yaitu inlet bahan
masuk, outlet air keluar, dan tangki.11
Faktorfaktor yang mempengaruhi kecepatan pengendapan pada settling
tank adalah ukuran partikel dan metode yang digunakan. Semakin besar atau
kasar maka semakin cepat pengendapannya. Sedangkan metode pengendapan
yang digunakan disesuaikan dengan sifat dan ukuran partikel yang akan
diendapkan. Dalam settling tank yang mempengaruhi pengendapan adalah
densitas bahan, luas bak, dan volume bak. Ketinggian bak tidak akan
mempengaruhi kecepatan pengendapan karena pengendapan hanya dipengaruhi
gravitasi saja.11

8. Desinfeksi
Tahap ini merupakan tahap pengolahan terakhir dalam instalasi
pengolahan air. Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau
membunuh mikroorganisme patogen yang ada dalam air limbah. Bahan

desinfektan yang sering dipergunakan adalah chlorin yang berbentuk garam


atau lebih dikenal dengan nama kaporit. Hal yang paling penting dalam
pembunuhan mikroorganisme dalam air hasil pengolahan minimal 0,3 mg/liter.
Untuk dapat menghasilkan sisa chlor sesuai dengan batas yang telah
ditetapkan, diperlukan waktu kontak antaa titik pembubuhan sampai effluen
selama 30-60 menit. Setelah itu effluen dialirkan ke badan air penerima.12

DAFTAR PUSTAKA
1.

Sari, Mutia. Karya Ilmiah: Pengendalian Limbah Cair di Pabrik Benang Karet
PT. Industri Karet Nusantara Medan. Medan: Progam Diploma III Kimia
Analisis, FMIPA, USU, 2009.

2.

Risdianto, Dian. Tesis: Optimisasi Proses Koagulasi Flokulasi untuk


Pengolahan Air Limbah Industri Jamu (Studi Kasus PT. Sido Muncul).
Semarang: Program Pascasarjana Teknik Kimia, Undip, 2007.

3.

A. Rushton, A.S. Ward, R.G. Holdich. Solid-Liquid Filtration and Separation


Technologi. 1st ed., VCH Verlagsgesellschaft mbH, Weinheim, Germany,
1996, pp pp. 85.

4.

Michael H. Gerardi. Nitrification and Denitrification in the Activated Sludge


Process, John Wiley & Sons, inc, 2002.

5.

Sugiharto. Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah. Jakakarta: Universitas


Indonesia (UI-Press), 1987.

6.

Tchobanoglous, G. Edisi ke tiga Teknik Sumber Daya Air. Jakarta: Erlangga,


1991.

7.

Oxtoby, D.W. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Jilid 1 Edisi 4. Jakarta:


Erlangga, 2001.

8.

Edahwati, Luluk; Suprihatin. Kombinasi Proses Aerasi, Adsorsi dan Filtrasi


pada Pengolahan Air Limbah Industri Perikanan. Jurnal Teknik Lingkungan
Vol. 1 No. 2.

9.

Rizkiana, Wening; Putra, A. Permana. Alat Pemisah Bahan. Bogor:


Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB,
2012.

10. Hananta, Angga C. Studi Kinerja Boezem Morokrembangan pada Penurunan


Kandungan Nitrogen Organik dan Phospat Total pada Musim Kemarau.
Surabaya: ITS.
11. Hendartomo, Tomi. Analisa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Sewon
Bantul, Yogyakarta, 2002.
12. N. R., Fitriyani; dkk. Pengolahan Limbah Cair Di Rumah Sakit dr Sardjito.
Yogyakarta: Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Fakultas
Geografi, UGM, 2010.