Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Rehabilitasi Pasien Pasca Pemasangan Alat Bantu Nafas: Tracheostomi, WSD, Ventilator.
Makalah ini kami kerjakan sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami
berterima kasih pada Ibu Erna Dwi Wahyuni, S.Kep.,Ns.,M.Kep. selaku fasilitator yang
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian makalah ini. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang
kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Surabaya, 15 Desember 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rehabilitasi adalah proses untuk mencapai atau mempertahankan stabilitas system.
Upaya rehabilitasi termasuk penetapan tujuan yang progresif, memberi pendidikan dan
utilisasi pelayanan kesehatan. (Pasquali,et al.1989). Rehabilitasi pasca pemakaian alat bantu
nafas adalah suatu

proses yang dilakukan untuk memulihkan kondisi pasien setelah

menggunakan alat bantu nafas karena selama menggunakan alat bantu nafas, individu
tersebut mengalami penurunan fungsi pernapasan. Program rehabilitasi paru dilakukan 3 kali
seminggu selama 8 minggu untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepasitas fungsional
pasien PPOK.

Komponen utama program rehabilitasi paru adalah meliputi evaluasi,

edukasi dan dukungan psikososial, latihan relaksasi, latihan pernapasan,terapi fisik dada dan
latihan fisik. (USU,2014).
Alat bantu nafas yang diberikan kepada klien dengan gangguan system pernapasan
terutama pada klin PPOK diantaranya Tracheostomy, pemasangan WSD (Water Seal
Drainage), alat ventilator. Ketiga alat tersebut memerlukan tindakan pembedahan. Pada Di
Amerika Serikat pasien Pneumonia nosokomial terjadi 5-10 kasus per 1000 pasien yang
masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih tinggi 6-20x pada pasien yang memakai alat bantu
napas mekanis. Sedangkan di Jepang Lebih kurang 10% pasien yang dirawat di IPI akan
berkembang menjadi pneumonia dan angka kejadian pneumonia nosokomial pada pasien
yang menggunakan alat bantu napas meningkat sebesar 20 30% (PDPI, 2003).
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea
untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan
nafas bagian atas (Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004).Pada trakeostomi darurat,
insisi yang dilakukan adalah insisi vertikal yang memberikan keuntungan berupa pembukaan
lapangan operasi yang dibutuhkan bagi kontrol jalan nafas secara cepat, sedangkan pada
trakeostomi elektif insisi yang dilakukan adalah insisi horizontal karena lebih
menguntungkan secara kosmetik (Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004). Perawatan
pasca trakeostomi sangatlah penting, karena sekret dapat menyumbat dan menimbulkan
asfiksia. Oleh karena itu, sekret di trakea dan kanul harus sering diisap ke luar, dan kanul

dalam dicuci sekurang-kurangnya dua kali sehari lalu segera dimasukkan lagi ke dalam
kanul luar. Bila kanul harus dipasang dalam jangka waktu lama, maka kanul harus
dibersihkan dua minggu sekali. Kain basah di bawah kanul harus diganti untuk menghindari
timbulnya dermatitis. Gunakan kompres hangat untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah
insisi (USU,2011)

Segera setelah tindakan trakeostomi dilakukan, foto Rontgen dada

diambil untuk menilai posisi tuba dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi. Antibiotik
diberikan untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi. Selain itu, mengajari pihak keluarga
dan penderita sendiri mengenai cara merawat pipa trakeostomi juga adalah penting
(Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004).
Water Seal Drainage atau WSD adalah metode memasukkan pipa khusus (kateter)
steril kedalam rongga pleurayang betujuan untuk mengeluarkan cairan udara (Swidarmoko,
2010). Prinsip dari WSD yaitu gravitasi, tekanan negatif, kekuatan tarikan lebih kecil dari
tekanan atmosfer (Antariksa,2011). Lokasi pemasangan WSD terletak di intercostals space
IV atau V pada anterior/medial axxilary line (Uniplaita,2012).
Ventilasi mekanik (Ventilator) adalah suatu system alat bantuan hidup yang dirancang
untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal.Tujuan utama
pemberian dukungan ventilator mekanik adalah untuk mengembalikan fungsi normal
pertukaran udara dan memperbaiki fungsi pernapasan kembali ke keadaan normal.
(Bambang Setiyohadi, 2006). Ventilator dibagi menjadi dua jenis yaitu Ventilator tekanan
negative dan ventilator tekanan positif. (USU, 2003). Tindakan yang dilakukan untuk
rehabilitasi pasca pemasangan ventilator yaitu spirometri intensif, fisioterapi dada,
pernafasan diafragma, pernafasan bibir dirapatkan, batuk efektif dan latihan fisik (Brunner
& Suddarth, 2001).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran mata kuliah Keperawatan Respirasi II diharapkan
mahasiswa semester 3 dapat mengerti dan memahami asuhan keperawatan pada

rehabilitasi klien pasca pemasangan alat bantu nafas trakeostomi, WSD dan
ventilator menggunakan pendekatan proses keperawatan.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah proses pembelajaran mata kuliah Keperawatan Respirasi II diharapkan
mahasiswa semester 3 dapat mengaplikasikan materi tersebut dalam pemberian
asuhan keperawatan.
1.3 Manfaat
Penulisan makalah ini sangat diharapkan bermanfaat bagi seluruh pembaca

dan

penulis untuk mengetahui dan menambah wawasan tentang Asuhan Keperawatan, terutama
asuhan keperawatan pada rehabilitasi klien pasca pemasangan alat bantu nafas trakeostomi,
WSD dan ventilator.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Trakeastomi
2.1.1 Anatomi Trakea
Trakea merupakan tabung berongga yang disokong oleh cincin kartilago. Trakea
berawal dari kartilago krikoid yang berbentuk cincin stempel dan meluas ke anterior pada
esofagus, turun ke dalam thoraks di mana ia membelah menjadi dua bronkus utama pada
karina. Pembuluh darah besar pada leher berjalan sejajar dengan trakea di sebelah lateral
dan terbungkus dalam selubung karotis. Kelenjar tiroid terletak di atas trakea di sebelah
depan dan lateral. Ismuth melintas trakea di sebelah anterior, biasanya setinggi cincin
trakea kedua hingga kelima. Saraf laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagus.
Di bawah jaringan subkutan dan menutupi trakea di bagian depan adalah otot-otot supra
sternal yang melekat pada kartilago tiroid dan hyoid (Davies, 1997).
2.1.2 Definisi trakeostomi
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior
trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan
memintas jalan nafas bagian atas (Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004).
Trakeostomi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengatasi pasien
dengan ventilasi yang tidak adekuat dan obstruksi jalan pernafasan bagian atas. Insisi yang
dilakukan pada trakea disebut dengan trakeotomi sedangkan tindakan yang membuat stoma
selanjutnya diikuti dengan pemasangan kanul trakea agar udara dapat masuk ke dalam
paru-paru dengan menggunakan jalan pintas jalan nafas bagian atas disebut dengan
trakeostomi (Robert, 1997).
Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara
leher bagian anterior dengan lumen trakea, sering saling tertukar. Definisi yang tepat untuk
trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea, sedang trakeostomi ialah membuat stoma
pada trakea.

Gambar 1. Trakeostomi
Dapat disimpulkan, trakeostomi adalah tindakan operasi membuat jalan udara melalui leher
dengan membuat stoma atau lubang di dinding depan/anterior trakea cincin kartilago trakea
ketiga dan keempat, dilanjutkan dengan membuat stoma, diikuti pemasangan kanul.
Bertujuan mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas
jalan nafas bagian atas saat pasien mengalami ventilasi yang tidak adekuat dan gangguan
lalu lintas udara pernapasan karena obstruksi jalan nafas bagian atas.

2.1.3 Fungsi trakeostomi


Fungsi dari trakheostomi antara lain:
1. Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi
kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan
peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Asal
lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7)
2. Proteksi terhadap aspirasi
3. Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada
pasien dengan gangguan pernafasan
4. Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan
5. Memungkinkan
respiratorius

pemberian

obat-obatan

dan

humidifikasi

ke

traktus

6. Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer


oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang
norma.

2.1.4 Indikasi trakeostomi


Indikasi trakeostomi termasuk:
i.

Mengatasi obstruksi jalan nafas atas seperti laring.

ii.

Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas bagian atas seperti daerah
rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya stoma maka seluruh
seluruh oksigen yang dihirupkan akan masuk ke dalam paru, tidak ada yang
tertinggal di ruang rugi itu. Hal ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru,
yang kapasitas vitalnya berkurang.

iii.

Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat
mengeluarkan sekret secara fisiologik, misalnya pada pasien dalam koma.

iv.

Untuk memasang respirator (alat bantu pernafasan).

v.

Untuk mengambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas
untuk bronkoskopi.

vi.

Cedera parah pada wajah dan leher.

vii.

Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan sehingga


mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi (Robert, 1997).

2.1.5 Klasifikasi trakeostomi

Menurut letak insisinya, trakeostomi dibedakan menjadi


a. Trakeostomi elektif

: Insisi horisontal

b. Trakeostomi emergensi

: Insisi vertikal

Menurut waktu dilakukannya tindakan, trakeostomi dibedakan menjadi


a. trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang
b. trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan
secara baik

Menurut lamanya pemasangan, trakheostomi dibagi menjadi

a. Tracheal stoma post laryngectomy: merupakan tracheostomy permanen.


Tracheal cartilage diarahkan kepermukaan kulit, dilekatkan pada leher.
Rigiditas cartilage mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga tidak
diperlukan tracheostomy tube (canule).
b. Tracheal stoma without laryngectomy: merupakan tracheostomy temporer.
Trachea dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi.
Digunakan tracheostomy tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal
(terutama pada penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama
pelaksanaan MRI Scanning
2.1.6 Jenis tindakan trakeostomi
1. Surgical trakeostomi, yaitu tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di
dalam ruang operasi. Insisi dibuat di antara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang
4-5 cm.
2. Percutaneous trakeostomi, yaitu tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada
unit gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang di antara cincing trakea satu dan dua
atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil, maka penyembuhan lukanya
akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi
juga jauh lebih kecil.
3. Mini trakeostomi, yaitu pada tipe ini dilakukan insisi pada pertengahan membran
krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator
(Bradley, 1997).
2.1.7 Jenis pipa trakeostomi
1. Cuffed Tubes; Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga
memperkecil risiko timbulnya aspirasi.

2. Uncuffed Tubes; Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak
mempunyai risiko aspirasi.

3. Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam); Dua bagian trakeostomi ini dapat
dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti
untuk mencegah terjadi obstruksi.
4. Silver Negus Tubes; Terdiri dari dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi
jangka panjang. Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat
sendiri.
5. Fenestrated Tubes; Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah
posteriornya, sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya.
Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat berbicara
(Kenneth, 2004).

Ukuran:
Ukuran trakeostomi standar adalah 012 atau 2444 French. Trakeostomi umumnya
dibuat dari plastik, namun dari perak juga ada. Tabung dari plastik mempunyai lumen
lebih besar dan lebih lunak dari yang besi. Tabung dari plastik melengkung lebih baik
kedalam trakea sehingga iritasi lebih sedikitdan lebih nyaman bagi klien.
2.1.8

Teknik trakeostomi
Sebelum dilakukan pembedahan, maka alat-alat yang perlu dipersiapkan adalah

semprit yang berisi obat analgesia, pisau, pinset anatomi, gunting panjang yang tumpul,

sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan
ukuran yang sesuai untuk pasien. Pasien atau keluarganya yang akan dilakukan tindakan
trakeostomi harus dijelaskan segala resiko tindakan trakeostomi termasuk kematian
selama prosedur tindakan.
Posisi pasien berbaring terlentang dengan bagian kaki lebih rendah 30 untuk
menurunkan tekanan vena sentral pada vena-vena leher. Bahu diganjal dengan bantalan
kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atalanto
oksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak di garis
median dekat permukaan leher.
Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup
dengan kain steril. Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa
suprasternal secara infiltrasi. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari
bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan
pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira
dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira
lima sentimeter. Dengan gunting panjang yang tumpul, kulit serta jaringan di bawahnya
dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak
trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila
lapisan ini dan jaringan di bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah
ditemukan. Pembuluh darah vena jugularis anterior yang tampak ditarik ke lateral. Ismuth
tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak
mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem
ini dilepaskan ismuth tiroid diikat kedua tepinya dan disisihkan ke lateral. Perdarahan
dihentikan dan jika perlu diikat.
Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin
trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincin trakea
ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang
sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup dengan
kasa. Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan
terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit
(Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004).

2.1.9

Perawatan pasca trakeostomi


Perawatan pasca trakeostomi sangatlah penting, karena sekret dapat menyumbat

dan menimbulkan asfiksia. Oleh karena itu, sekret di trakea dan kanul harus sering diisap
ke luar, dan kanul dalam dicuci sekurang-kurangnya dua kali sehari lalu segera
dimasukkan lagi ke dalam kanul luar. Bila kanul harus dipasang dalam jangka waktu
lama, maka kanul harus dibersihkan dua minggu sekali. Kain basah di bawah kanul harus
diganti untuk menghindari timbulnya dermatitis. Gunakan kompres hangat untuk
mengurangi rasa nyeri pada daerah insisi. Pasien dapat dirawat di ruang perawatan biasa
dan perawatan trakeostomi sangatlah penting.
Segera setelah tindakan trakeostomi dilakukan, foto Rontgen dada diambil untuk
menilai posisi tuba dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi. Antibiotik diberikan
untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi. Selain itu, mengajari pihak keluarga dan
penderita sendiri mengenai cara merawat pipa trakeostomi juga adalah penting
(Hadikawarta, Rusmarjono, Soepardi, 2004).
2.1.10 Komplikasi akibat tindakan trakeostomi
Komplikasi dini yang sering terjadi adalah perdarahan, pneumotoraks terutama
pada anak-anak, hilangnya jalan nafas, penempatan kanul yang sulit, laserasi trakea,
ruptur balon, henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi dan paralisis
saraf rekuren.
Perdarahan terjadi bila hemostasis saat trakeostomi tidak sempurna serta disertai
naiknya tekanan arteri secara mendadak setelah tindakan operasi dan peningkatan
tekanan vena karena batuk. Perdarahan diatasi dengan pemasangan kasa steril sekitar
kanul. Apabila tidak berhasil maka dilakukan ligasi dengan melepas kanul.
Emfisema subkutan terjadi di sekitar stoma tetapi bisa juga meluas ke daerah
muka dan dada, hal ini terjadi karena terlalu rapatnya jahitan luka insisi sehingga udara
yang terperangkap di dalamnya dapat masuk ke dalam jaringan subkutan pada saat
penderita batuk. Penanganannya dilakukan dengan multiple puncture dan longgarkan
semua jahitan untuk mencegah komplikasi lanjut seperti pneumotoraks dan
pneumomediastinum.
Sedangkan komplikasi pasca trakeostomi terdiri atas kematian pasien, perdarahan
lanjutan pada arteri inominata, disfagia, aspirasi, pneumotoraks, emfisema, infeksi stoma,

hilangnya jalan nafas, fistula trakeoesofagus dan stenosis trakea. Kematian pasien terjadi
akibat hilangnya stimulasi hipoksia dari respirasi. Pasien hipoksia berat yang dilakukan
tindakan trakeostomi, pada awalnya pasien akan bernafas lalu akan terjadu apnea. Hal ini
terjadi akibat deinervasi fisiologis dari kemoreseptor perifer yang dipicu dari peningkatan
tekanan oksigen tiba-tiba dari udara pernafasan (Spector, Faw, 1999).
2.1.11 Penatalaksanaan Pasca Trakeostomi Dilepas
Perawatan pasien setelah pelepasan trakeostomi:
1. Berikan humiditas yang dihangatkan dan oksigen melalui masker wajah.
2. Pantau frekuensi pernapasan dan kualitas pengembangan dada. Perhatikan stridor,
perubahan warna, dan perubahan kesiagaan mental atau perilaku.
3. Pertahankan puasa atau berikan hanya isapan es selama beberapa jam berikutnya.
4. Berikan perawatan mulut.
5. Instruksikan pasien dalam latihan batuk dan napas dalam.
2.1.12 Rehabilitasi Pasien Pasca Pemasangan Tracheostomi

Pemantauan dan pelaksanaan komplikasi potensial


1. Amati terhadap tanda-tanda dan gejala-gejala gawat pernapasan dan hipoksia,
misalkan sesak napas; iritasi; agitasi; kekacauan mental; takipnea; penggunaan
otot aksesori pernapasan, dan penurunan saturasi O2.
2. Pantau tanda-tanda vital terhadap perubahan, misalkan peningkatan nadi;
penurunan tekanan darah; atau pernapasan cepat dan dalam.
3. Amati terhadap tanda-tanda dan gejala-gejala infeksi.

Meningkatkan komunikasi dan rehabilitasi wicara


1. Implementasikan sistem komunikasi, misalkan magic slate, isyarat tangan.
2. Gunakan tangan yang tidak dipakai untuk menulis untuk pemasangan infus
IV.
3. Pertimbangkan deficit visual atau buta huruf yang menciptakan masalahmasalah komunikasi.
4. Informasikan pasien tentang metoda alternative komunikasi, elektrofaring,
dan pungsi trakeal esophageal.

Peningkatan nutrisi yang adekuat


1. Jelaskan bahwa pemberian makan per oral akan dimulai dengan cairan kental
seperti Ensure dan gelatin untuk memudahkan penelanan; instruksikan untuk
menghindari makanan manis, yang meningkatkan salivasi dan menekan nafsu
makan.
2. Instruksikan untuk membilas mulut dengan air hangat atau pencuci mulut dan
menyikat gigi dengan teratur.

Peningkatan citra diri yang positif dan meningkatkan harga diri


1. Gunakan pendekatan positif, biarkan pasien ikut serta dalam perawatan.
2. Jadi pendengar dan pendukung yang baik bagi keluarga.

Penyuluhan pasien dan pemeliharaan kesehatan: perawatan di rumah dan


komunitas
1. Berikan instruksi saat pulang segera setelah memungkinkan.
2. Berikan instruksi yang spesifik tentang apa yang diharapkan dari perawatan
trakeostomi.
3. Pastikan bahwa batuk yang membentuk lendir dan suara yang serak akan
menghilang pada waktunya.

2.2 WSD (WATER-SEAL DRAINAGE)


2.2.1 Definisi
WSD adalah selang drainase intrapleural yang digunakan setelah sebagian besar
prosedur intratoraks. Satu atau lebih kateter terpasang dalam ruang pleural dengan sutura
pada dinding dada dan disambungkan ke sistem drainase (Brunner & Suddarth, 2001).
2.2.2 Tujuan
a. Membuang cairan atau gas dari ruang pleural atau rongga toraks dan ruang
mediastinal. Contohnya pada kasus efusi pleura, kanker mediastinum, dan
hemothoraks.
b. Untuk memungkinkan reekspansi paru dan memulihkan fungsi kardiopulmonal
setelah pembedahan, trauma, atau kondisi medis dengan menetapkan tekanan
negative dalam rongga pleural (Brunner & Suddarth, 2001).
2.2.3 Indikasi Pemasangan

a. Pneumothorak
Pneumothoraks adalah suatu penumpukan dada diantara pleura viseralis dan parietalis
yang menyebabkan rongga pleura sebenarnya, bukan rongga pleura potensial. ( Ward,
dkk. 2006 )
b. Hemothorax
Hemothoraks adalah akumulasi darah dan cairan di rongga pleura, biasanya akibat
trauma atau pembedahan.( Kozier & Erb. 2003 )
c. Hemopneumothorak
d. Thorakotomy
e. Efusi pleura
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya penumpukan cairan dalam
rongga pleura ( Irman Somantri, 2008 )
f. Emfiema
Empiema adalah keadaan terkumpulnya pus di dalam rongga pleura. Pus dapat
mengisi satu lokasi pleura atau mengisi seluruh rongga pleura. ( Muttaqin. 2008 )
g. Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk
h. Flail Chest yang membutuhkan pemasangan ventilator
2.2.4 Kontraindikasi Pemasangan
a. Infeksi pada tempat pemasangan
b. Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol
2.2.5 Prinsip-prinsip WSD
1. Gravitasi
Udara dan cairan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah.
2. Tekanan positif
Udara atau cairan dalam rongga dada menghasilkan tekanan positif (763 mmHg atau
lebih) dalam rongga pleura. Udara dan cairan pada water seal pada selang dada
menghasilkan tekanan positif yang kecil (761 mmHg ). Sebab udara dan cairan
bergerak dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah, maka udara
dan cairan akan berpindah dari tekanan positif yang lebih tinggi pada rongga pleura
ke tekanan positif yang lebih rendah yang dihasilkan oleh water seal.
3. Suction

Yaitu suatu kekuatan tarikan yang lebih kecil dari pada tekanan atmosfir (760
mmHg). Suction dengan kekuatan negatif 20 cmH2O menghasilkan tekanan
subatmosfer 746 mmHg sehingga udara atau cairan berpindah dari tekanan lebih
tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
4. Water seal
Tujuan utama dari water seal adalah membiarkan udara keluar dari rongga pleura dan
mencegah udara dari atmosfer masuk ke rongga pleura. Botol water seal diisi dengan
cairan steril yang didalamnya terdapat selang yang ujungnya terendam 2 cm. Cairan
ini memberikan batasan antara tekanan atmosfer dengan tekanan subatmosfer (normal
754-758 mmHg). Selang yang terendam 2 cm itu menghasilkan tekanan positif
sebesar 1,5 mmHg semakin dalam selang water seal terendam air semakin besar
tekanan positif yang dihasilkan. Pada saat expirasi, tekanan pleura lebih positif
sehingga udara dan air dari rongga pleura begerak masuk ke botol. Pada saat inspirasi
tekanan pleura lebih negatif sehingga water seal mencegah udara atmosfer masuk ke
rongga pleura
2.2.6 Macam-macam WSD
1. WSD dengan sistem satu botol

a. sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple
pneumothoraks
b. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu: 1
untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol. Jenis ini mempunyai 2 fungsi,
sebagai penampung dan botol penampung
c. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk
mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru
Catatan:

1) Apabila < 2 cm H2O, berarti no water seal. Hal ini sangat berbahaya karena
menyebabkan paru kolaps.
2)

Apabila > 2 cm H2O, berarti memerlukan tekanan yang lebih tinggi dari paru
untuk mengeluarkan cairan atau udara.

3) Apabila tidak ada fluktuasi yang mengikuti respirasi apat disebabkan karena
adanya kinking, clotting atau perubahan posisi chest tube.
d. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara
dari rongga pleura keluar
e. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi
f. Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan :
g. Inspirasi akan meningkat
h. Ekpirasi menurun
2. WSD dengan sistem 2 botol

a. Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol
water seal.
b. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa
udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang
berisi water seal. Dapat dihubungkan dengan suction control.
c. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura
masuk ke water seal botol 2.
d. Prinsip kerjanya dengan system 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari
rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk
ke WSD.
e. Biasanya digunakan untuk mengatasi hemothoraks, hemopneumothoraks, efusi
peural.

f. Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.


3. WSD dengan sistem 3 botol

a. Sama dengan sistem 2 botol, ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan
yang digunakan. Selain itu terpasang manometer untuk mengontrol tekanan
b. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan
c. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. Jumlah
hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol
WSD
d. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan
e. Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
1) Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua.
2) Tube pendek lain dihubungkan dengan suction.
3) Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke
atmosfer.
2.2.7 Cara Pemasangan
a. Persiapan
1. Pengkajian
(a) Memeriksa kembali instruksi dokter
(b) Mengecek inform consent
(c) Mengkaji status pasien; TTV, status pernafasan
2. Persiapan pasien
(a) Siapkan pasien
(b) Memberi penjelasan kepada pasien mencakup:
1. Tujuan tindakan

2. Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD. Posisi klien dapat
duduk atau berbaring
3. Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam,
distraksi
4. Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
3. Persiapan alat
(a) Sistem drainage tertutup
(b) Motor suction
(c) Slang penghubung steril
(d) Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, gas, pisau
jaringan/silet, trokart, cairan antiseptic, benang catgut dan jarumnya, duk
bolong, sarung tangan , spuit 10cc dan 50cc, kassa, NACl 0,9%, konektor, set
balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker.
b. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat
dilaksanakan dengan baik , dan perawat memberi dukungan moril pada pasien.
1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea
aksilaris anterior dan media.
2. Lakukan anestesi pada tempat yang telah ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai
muskulus interkostalis.
4. Pada saat inspirasi:
(a) Tekanan dalam paru-paru > kecil dibanding tekanan yang ada di dalam WSD.
(b) Paru- paru mengembang.
Catatan:
Apabila menggunakan WSD tipe satu botol, saat inspirasi cairan biasanya akan
tertarik ke atas, namun tidak sampai masuk kembali ke rongga pleura karena
adanya gaya gravitasi dan perbedaan sifat cairan yang lebih berat daripada udara.
5. Pada saat ekspirasi:
Tekanan dalam paru- paru > besar dibanding tekanan yang ada di dalam WSD.

6. Masukkan Kelly klem melalui pleura parietalis kemudian disebarkan. Masukkan


jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga
pleura/menyentuh paru.
7. Masukkan selang (chest tube) melalui lubang yang telah dibuat dengan
menggunakan Kelly forceps.
8. Chest tube yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan di dinding dada.
9. Chest tube disambung ke WSD yang telah disiapkan.
10. Foto X-ray dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
c. Tindakan setelah prosedur
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD
Bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain:
a. Motor suction tidak berjalan.
b. Slang tersumbat dan terlipat.
c. Paru-paru telah mengembang.
2. Tindakan yang harus dilakukan apabila tidak ada unsulasi
a. Yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi system
drainage, amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
b. Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
c. Cek batas cairan dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah
ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air.
d. Catat jumlah cairan yang keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui
jumlah cairan yang keluar.
e. Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
f. Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
g. Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan
sampai slang terlipat.
h. Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
3. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu
4. Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang
dibuang
5. Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran

6. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema


subkutan
7. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan system cara batuk efektif
8. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh
9. Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD
10. Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak
pada persendian bahu daerah pemasangan WSD
2.2.8 Indikasi Pelepasan
a. Produksi cairan <50 cc/hari
b. Bubling sudah tidak ditemukan
c. Pernafasan pasien normal
d. 13 hari post cardiac surgery
e. 26 hari post thoracic surgery
f. Pada thorax foto menunjukkan pengembangan paru yang adekuat atau tidak adanya
cairan atau udara pada rongga intra pleura
2.2.9 Manifestasi Klinis Pasca WSD Dilepas
Disritmia mayor dapat terjadi kapan saja, tetapi seringkali tampak antara hari
pascaoperatif kedua dan keenam. Frekuensi kejadian disritmia meningkat pada pasien
dengan usia di atas 50 tahun (Brunner & Suddarth, 2001).
2.2.10 Komplikasi Pasca WSD Dilepas
a. Komplikasi primer: perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia.
b. Komplikasi sekunder: infeksi, emfiema.
2.2.11 Penatalaksanaan Pasca WSD Dilepas
a. Mencegah infeksi di bagian masuknya selang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya selang, dan pengganti verband 2 hari sekali,
dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan
tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya selang. Untuk rasa sakit yang hebat akan
diberi analgetik oleh dokter.
c. Mendorong berkembangnya paru-paru.
1. Latihan napas dalam.

2. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang
diklem.
3. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi
2.2.12 Rehabilitasi Pasien Pasca Pemasangan Ventilator
1. Batuk efektif
Adalah tindakan yang digunakan untuk mempertahankan jalan napas yang
paten. Pasien diberikan dorongan untuk batuk secara efektif, karena batuk yang
tidak efektif mengakibatkan kelelahan dan retensi sekresi. Untuk dapat efektif,
batuk harus dengan puncak rendah, dalam, dan terkontrol. Karena sulitnya batuk
dalam posisi telentang, pasien dibantu untuk posisi duduk di tepi tempat tidur,
dengan tungkai diletakkan diatas kursi.
Untuk mengurangi nyeri insisi selama batuk, perawat menyangga insisi
dengan kuat di atas bagian yang dioperasi dan pada dada yang berlawanan.
Setelah membantu pasien untuk batuk, perawat harus mendengarkan
kedua lapang paru, kearah anterior dan posterior, untuk menentukan apakah
terdapat perubahan dalam bunyi napas, karena penurunan bunyi napas dapat
menunjukkan kolapsnya atau hipoventilasi alveoli (Brunner & Suddarth, 2001).
2. Meningkatkan Mobilitas dan Latihan Bahu
Ketika pasien telah siap melakukan aktivitas, pasien didorong dan dibantu
untuk turun dari tempat tidur. Meski pada awalnya akan menimbulkan nyeri,
makin dini pasien bergerak, makin cepat nyeri akan menghilang.
Selain turun dari tempat tidur, pasien memulai latihan lengan dan bahu
untuk memulihkan gerakan dan mencegah kekakuan yang amat nyeri pada lengan
dan bahu yang sakit (Brunner & Suddarth, 2001).
3. Pernafasan Diafragma
Tujuan pernapasan diafragma adalah untuk menggunakan dan menguatkan
diafragma selama pernapasan. Pernapasan diafragma dapat menjadi otomatis
dengan latihan dan konsentrasi yang cukup (Brunner & Suddarth, 2001).
4. Pernafasan Bibir dirapatkan

Pernapasan dengan bibir dirapatkan dapat memperbaiki transport oksigen,


membantu untuk menginduksi pola napas lambat dan dalam, dan membantu
pasien untuk mengontrol pernapasan, bahkan selama periode stress fisik.
Tipe pernapasan ini membantu mencegah kolaps jalan napas sekunder
terhadap kehilangan elastisitas paru pada emfisema. Tujuan pernapasan bibir
dimonyongkan adalah untuk melatih otot-otot ekspirasi untuk memperpanjang
ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama ekspirasi, dengan
demikian dapat mengurangi jumlah tahanan dan jebakan jalan napas (Brunner &
Suddarth, 2001).
5. Spirometri Intensif

2.3 Ventilator
2.3.1 Definisi
Ventilator adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan
nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui jalan
nafas buatanadalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh
proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi ( Brunner dan Suddarth, 2002).
Ventilator memberikan bantuan dengan mengambil alih pernafasan pasien yang
dapat di set menjadi mode bantuan sepenuhnya atau bantuan sebagian. Mode Bantuan
sepenuhnya diantaranya VC (Volume Control) PC (Pressure Control), CMV (Control
Minute Volume).
Ventilasi mekanik (Ventilator) adalah suatu system alat bantuan hidup yang
dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal.Tujuan
utama pemberian dukungan ventilator mekanik adalah untuk mengembalikan fungsi
normal pertukaran udara dan memperbaiki fungsi pernapasan kembali ke keadaan
normal. (Bambang Setiyohadi, 2006)
2.3.2 Tujuan
a. Membantu pertukaran gas kardiopulmonal (Ventilasi alveolar dan oksigenisasi
arterial),
b. Meningkatkan volume paru (meningkatkan akhir ekspirasi paru dan kapasitas residual
fungsional),

c. Menurunkan work of breathing,


d. Perbaikan hipoxemia dan asidosis respiratori akut,
e. Mengatasi respiratori distress,
f. Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
g. Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat
h. Mencegah dan merubah atelectasis,
i. Mengembalikan keadaan kelelahan otot nafas,
j. Keadaan yang memerlukan sedasi atau blokade neuromuscular,
k. Menurunkan sistemik atau myocardial oxygen consumtion,
l. Menurunkan tekanan intracranial, dan
m. Stabilisasi tulang dada.
2.3.3 Indikasi Pemasangan
a. Pasien dengan respiratory failure (gagal nafas)
b. Pasien dengan operasi tekhik hemodilusi
c. Post trepanasi dengan black out
d. Respiratory arrest

2.3.4 Kontraindikasi Pemasangan

Infeksi pada tempat pemasangan

2.3.5 Klasifikasi
Ventilator diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi, yaitu :
1. Ventilator tekanan negative
Ventilator mengeluarkan tekanan negative pada dada eksternal dengan mengurangi
tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-paru
sehingga memenuhi volumenya. Pada jenis ini digunakan terutama pada gagal napas
kronik yang berhubungan dengan kondisi neurovascular seperti polymyelitis, distrofi
muscular, sklerosisi lateral amiotrifik dan miastenia gravis. Penggunaan tidak sesuai
untuk pasien yang tidak stabil atau pasien yang kondisinya membutuhkan perubahan
ventilasi sering
2. Ventilator tekanan positif

Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan tekanan


positif pada jalan nafas dengan demikian mendorong alveoli untuk mengembang selama
inspirasi. Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi endotrakheal atau trakkeostomi.
Ventilatr ini secara luas digunakan pada klien dengan penyakit paru primer. Jenis ini ada
3, yaitu:
a. Time Cycled
Ventilator yang mengakhiri atau mengendalikan inspirasi setelah waktu ditentukan.
Bantuan yang diberikan berdasarkan waktu. Biasa digunakan pada neonates dan bayi
b. Volume Cycled
Ventilator yang mengalirkan volume udara pada setiap inspirasi yang telah
ditentukan. Jika volume preset telah dikirimkan pada klien, siklus ventilator mati dan
ekhalasi terjadi secara pasif. Merupakan jenis yang paling banyak digunakan
c. Pressure Cycled
Ventilator yang mengakhiri inspirasi ketika tekanan preset telah tercapai. Dengan
kata lain siklus ventilator hidup menghantarkan aliran udara sampai tekanan tertentu
yang telah ditetapkan seluruhnya tercapai dan kemudian siklus mati. (Brunner and
Suddarth, 2002)
2.3.6 Cara Pemasangan
Prosedur tetap pemasangan ventilator servo (900):
A. Tahap Persiapan
Persiapan alat:
1. Main unit ventilator
2. Set tubing ventilator
3. Humidifier
4. Test lung
5. Aquadest steril
6. Ambu bag
7. Emergency Trolley
Persiapan pasien: pasien sudah terintubasi
B. Tahap Pelaksanaan
1. Cek apakah ventilator sudah dibersihkan dan sirkuit sudah disterilkan.

2. Set Mode ventilator sebagai instruksi.


3. Yakinkan EXPIRED MINUTE VOLUME dan AIRWAY PRESSURE meter
pada posisi 0.
C. Pemasangan
1. Pasang set tubing ventilator, humidifier, test lung.
2. Sambungkan ventilator ke sumber listrik.
3. Set tombol utama di belakang ventilator dengan cara menarik dulu baru
menekan ke atas.
4. Yakinkan indicator lampu hijau menyala.
5. Yakinkan EXPIRED MINUTE VOLUME dan AIRWAY PRESSURE pada
posisi 0.
6. Yakinkan GAS SUPPLY ALARM aktif (lampu merah menyala).
7. Yakinkan SET. MIN. VOL. ALARM & SET O2 ALARM lampu menyala.
8. Hubungkan selang O2 ke konektor O2 sentral.
9. Hubungkan selang pressure air ke konektor sentral.
a. Set WORKING PRESSURE normal : 60 cm H2O
b. Set PRESET INSP. MIN. VOL. Pada 7,5 L/menit, constant flow,
BREATHS/MIN 10, INSP.TIME 25 % dan PAUSE TIME 30%.
c. Tutup Y-piece/servo humidifier.
d. Yakinkan AIR PRESSURE meter menunjukkan nilai yang sama selama
inspirasi dan saat berhenti dengan WORKING PRESSURE, yaitu 60 cm
H2O.
10. Cek UPPER PRESS. LIMIT alarm dengan cara:
a. Set mode VOL. CONTROL.
b. Tutup Y-piece/servo humidifier.
c. Putar tombol UPPER PRESS LIMIT ke 55 cmH2O, yakinkan inspirasi
berhenti dan alarm menyala.
d. Kembalikan lagi tombol ke 80 cmH2O.
11. . Cek MINUTE VOLUME
a. Set frekuensi nafas (BREATHS/MIN) pada 20 x/menit
b. Pasang test lung.

c. Set tombol parameter pada posisi EXP. MIN. VOL. L/Min.


d. Lihat pada display, EXPIRED MINUTE VOLUME meter akan terbaca
7,5 0,5 l/menit setelah beberapa menit.
12. Cek MINUTE VOLUME alarm
a. Pada Lower alarm limit: Putar tombol LOWER ALARM LIMIT pada 7,5
l/menit, yakinkan alarm akan menyala pada kisaran 7,5 0,5 l/menit.
b. Pada Upper Alarm Limit: Putar tombol UPPER ALARM LIMIT pada 7,5
l/menit, yakinkan alarm akan menyala pada kisaran 7,5 0,5 l/menit
13. O2 alarm
a. Set tombol parameter pada O2 CONC. %.
b. Set mixer O2 pada 40% sehingga terbaca pada display.
c. Putar tombol LOWER ALARM LIMIT searah jarum jam , yakinkan
alarm menyala pada kisaran 36 44 %, lalu putar kembali ke 18%.
d. Putar tombol UPPER ALARM LIMIT berlawanan arah jarum jam,
yakinkan alarm akan menyala pada kisaran 36-40%, lalu putar kembali ke
100%..
14. APNEU ALARM
a. Set mode CPAP.
b. Alarm akan menyala setelah 15 detik setelah mode diubah. Set
BREATHS/Min pada nilai paling rendah.
a. Set PEEP pada + 10 cmH2O.
c. Set INSP. PRESS. LEVEL pa
15. Digital Display
a. Set tombol parameter pada BREATHS/MIN.
b. Nilai akan terbaca pada display sesuai dengan nilai yang di set pada
tombol BREATHS/MIN.
16. Cek PRESSURE LEVEL
b. Set mode pada PRESS. CONTR.
c. da + 10 cmH2O.
d. Yakinkan nilai yang terbaca pada AIRWAY PRESSURE meter pada
kisaran +20 2 cmH2O.

e. Kembalikan posisi PEEP dan INSP.PRESS. LEVEL pada 0.


f. Kembalikan set mode ke VOL. CONTR.
17. Set mode sesuai kebutuhan dan kondisi pasien (sesuai indikasi).
18. Sambungkan ke pasien melalui ETT.
2.3.7 Weaning
A. Definisi
Penyapihan dapat didefinisikan sebagai proses pelepasan ventilator baik
secara langsung ataupun bertahap. Penyapihan juga merupakan usaha untuk
melepaskan penderita dari ketergantungan ventilator.
B. Indikasi Penyapihan
1. Proses penyakit yang enyebabkan pasien membutuhkan ventilator sudah
tertangani
2. PaO2/FiO2 > 200 ; PEEP < 5 : pH > 7,25 ; Hb > 8 g%
3. Pasien sadar dan suhu tubuh normal.
4. Fungsi jantung stabil
5. Fungsi paru stabil
6. Terbebas dari asidosis respiratorik
7. Kondisi emosi dan psikologi pasien sudah siapuntuk melakukan tindakan
penyapihan.
C. Jenis Penyapihan
Berdasarkan lamanya waktu pelaksanaannya, penyapihan dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu:
1. Penyapihan jangka pendek
Penyapihan jenis ini hanya membutuhkan waktu percobaan
singkat, yaitu sekitar 20 menit sebelum ektubasi. Metode yang digunakan
dalam proses penyapihan jangka pendek adalah T-Piece dan Intermitten
Mandatory Ventilation.
2. Penyapihan jangka panjang
Waktu yang dibutuhkan untuk penyapihan lebih lama yakni 3-4
minggu. Metode penyapihan yang digunakan CPAP, SIMV dan Pressure
Support Ventilation.

D. Faktor yang mempengaruhi lamanya penyapihan


1. Factor Nonventilator
a. Penyalahgunaan obat sedasi.
Kebanyakan pasien dengan penyakit kritis, mengalami gangguan renal dan hepar
selama masa sakitnya. Penggunaan obat sedative jangka panjang yang
mempengaruhi eliminasi hepatorenal akan menyebabkan atrofi otot pernafasan.
Hal ini terjadi karena otot tidak digunakan dalam jangka waktu lama
b. Malnutrisi
Keadekuatan fungsi otot tidak hanya tergantung pada kekuatan otot, tapi juga
pada normal fosfat, kalsium, magnesium dan potassium.
2. Factor Ventilator
a. Over ventilasi menyebabkan disuse atrofi (atropi akibat jarang digunakan) otot
pernapasan.
b. Under Ventilation menyebkan kelelahan otot pernafasan. Untuk pemulihan
dibutuhkan waktu 48 jam.
2.3.8 Indikasi Pelepasan
a. Inspirasi kuat spontan pada tekanan sedikitnya -20 cm H2O
b. PaO2 lebih besar dari 60% dengan FiO2 kurang dari 40%.
c. Tanda-tanda vital stabil.
2.3.9 Manifestasi Klinis Pasca Ventilator Dilepas
Pada pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis
berkontrkasi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga aliran udara
masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif.
Pada pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan
memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan selama inspirasi adalah positif dan
menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan dalam
rongga thorax paling positif.
2.3.10 Komplikasi Pasca Ventilator Dilepas
1. Pada paru
a. Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.
b. Atelektasis/kolaps alveoli diffuse

c. Infeksi paru
d. Keracunan oksigen
e. Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.
f. Aspirasi cairan lambung
g. Tidak berfungsinya penggunaan ventilator
h. Kerusakan jalan nafas bagian atas
2. Pada sistem kardiovaskuler
Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena
akibat meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan
tekanan tinggi.
3. Pada sistem saraf pusat
a. Vasokonstriksi cerebral
Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari
hiperventilasi.
b. Oedema cerebral
Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari
hipoventilasi.
c. Peningkatan tekanan intra kranial.
d. Gangguan kesadaran.
e. Gangguan tidur.
4. Pada sistem gastrointestinal
a. Distensi lambung, ileus.
b. Perdarahan lambung.
5. Gangguan psikologi
2.3.11 Penatalaksanaan Pasca Ventilator Dilepas
Metode Penyapihan
1. Metode T. Piece
Teknik penyapihan dengan menggunakan suatu alat yang bentuknya seperti
huruf T. pemberian oksigen harus lebih tinggi 10% dari oksigen saat penggunaan
ventilator. Pasien dinyatakan siap diekstubasi jka penggunaan T Piece lebih banyak
dari penggunaan ventilator.keuntungannya adalah proses penyapihan lebih cepat.

2. Metode SIMV
Metode dengan cara mengurangi bantuan ventilasi dengan cara mengurangi
frekuensi pernafasan yang diberikan oleh mesin. Dengan metode ini pasien dapat
melatih otot otot pernapasan, lebih aman dan pasien tak merasakan ketakutan, tapi
kerugiannya berlangsung lambat
3. Metode PSV
Dengan cara mengurangi jumlah tekanan yang diberikan ventilator.
4. Terapi Oksigenasi
Setelah jalan nafas bebas, maka selanjutnya tergantung dari derajat hipoksia
atau hiperkabinya serta keadaan penderita.
Pontiopidan memberi batasan mekanik, oksigenasi dan ventilasi untuk
menentukan tindakan selanjutnya (lihat tabel).

PARAMETER

ACCAPTABLE

FISIOTERAPI

RANGE

(TIDAK DADA,

PERLU

TERAPI OKSIGEN,

KHUSUS)

TERAPI TRACHEOSTOMI

MONITORING
KETAT

INTUBASI

VENTILASI
MEKANIK

1. MEKANIK
- Frekwensi nafas
-

Vital

12

- 25

25 - 35

> 35

capacity 70

- 30

30 - 15

< 15

100 - 50

50 - 25

< 25

50

- 200

200 - 350

> 350

100

- 75

200 - 70

< 70

(Air)

( O2 Mask)

( O2 Mask )

0,3 - 0,4

0,4 - 0,6

0,6

35

5 - 60

60

(ml/kg)
-

Inspiratori
force, CmH2O

2. OKSIGENASI
- A - aDO2 100% O2
mmHg
- PaO2 mmHg
3. VENTILASI
- VD / VT
- PaCO2

- 45

2.3.12 Rehabilitasi Pasien Pasca Pemasangan Ventilator


1. Spirometri Intensif
Spirometri intensif memberikan umpan balik visual untuk memandu
pasien menghirup dengan lambat dan dalam untuk memaksimalkan inflasi paru.
Pasien mengambil posisi duduk atau semifowler untuk meningkatkan ekskursi
diafragma (Brunner & Suddarth, 2001).
2. Fisioterapi Dada
Fisioterapi dada termasuk drainase postural, perkusi dan vibrasi dada,
latihan pernapasan, dan batuk efektif. Tujuannya adalah untuk memperbaiki
ventilasi dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan (Brunner & Suddarth,
2001).
3. Pernafasan Diafragma
Fisioterapi dada termasuk drainase postural, perkusi dan vibrasi dada,
latihan pernapasan, dan batuk efektif. Tujuannya adalah untuk memperbaiki

ventilasi dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan (Brunner & Suddarth,


2001).
4. Pernafasan Bibir dirapatkan
Pernapasan dengan bibir dirapatkan dapat memperbaiki transport oksigen,
membantu untuk menginduksi pola napas lambat dan dalam, dan membantu
pasien untuk mengontrol pernapasan, bahkan selama periode stress fisik.
Tipe pernapasan ini membantu mencegah kolaps jalan napas sekunder
terhadap kehilangan elastisitas paru pada emfisema. Tujuan pernapasan bibir
dimonyongkan adalah untuk melatih otot-otot ekspirasi untuk memperpanjang
ekshalasi dan meningkatkan tekanan jalan napas selama ekspirasi, dengan
demikian dapat mengurangi jumlah tahanan dan jebakan jalan napas (Brunner &
Suddarth, 2001).
5. Batuk Efektif
Adalah tindakan yang digunakan untuk mempertahankan jalan napas yang
paten. Pasien diberikan dorongan untuk batuk secara efektif, karena batuk yang
tidak efektif mengakibatkan kelelahan dan retensi sekresi. Untuk dapat efektif,
batuk harus dengan puncak rendah, dalam, dan terkontrol.
6. Latihan Fisik
Latihan fisik terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kapasitas latihan dan
kapasitas fungsional klien sehari-hari.
1. Latihan fisik secara umum dapat meningkatkan kebugaran
2. Latihan otot pernapasan secara spesifik dapat meningkatkan fungsi dan
kekuatan otot pernapasan.
3. Latihan fisik yang dapat dilakukan adalah dengan berjalan kaki (jarak dan
kecepatan disesuaikan dengan kondisi klien), atau dengan menggunakan
sepeda statis atau ergometer sepeda, dimana harus ada monitoring
respiration rate dan heart rate selama latihan.

BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Rehabilitasi paru adalah sebuah konsep terapi yang luas membantu meningkatkan
kesejahteraan orang yang memiliki masalah pernafasan kronis (berkelanjutan). Tujuan dilakukan
rehabilitasi paru yaitu untuk mengurangi gejala, menurunkan kecacatan, meningkatkan kegiatan
fisik dan social, dan memperbaiki kualitas hidup. Dalam rehabilitasi paru umum, mengacu pada
serangkaian layanan yang diberikan kepada pasien penyakit pernapasan dan keluarga mereka,
biasanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Rehabilitasi paru dapat dilakukan dalam
berbagai pengaturan, tergantung pada kebutuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne, Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Volume 1. Jakarta: EGC.
Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Claudia Russell., & Basil Matta. 2004. Tracheostomy, A Multiprofesional Handbook. London
San Fransisco: GMM
Davis, FA. 2007. Understanding The Respiratory System.
Joseph C. Sniezek, MD, Brian B. Burkey, MD. In Airway Control and Laryngotracheal Stenosis
in Adults Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery; Sixteenth Edition;
1151-9
Lore John M, Medina Jesus E. 2005. An atlas of head and neck surgery.elsevier Inc. 4 ed: 101524
Reeves, Charlene J. Dkk. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Cook, Jr. john Lee. 1998. Standard operating procedures and guidelines. Fire engineering book
and video
Suprihatin, Titin. 2000. Bahan Kuliah Keperawatan Gawat Darurat PSIK Angkatan I,
Universitas Airlangga. Surabaya.