Anda di halaman 1dari 54

WRAP UP SKENARIO 1

Kesehatan Ibu, Anak dan Remaja


KELOMPOK A4

Ketua

: Dewi Nadila

1102010070

Sekretaris

: Luthfia Rozanah

1102011145

Anggota

: Aviya Ekutami

1102011053

Anggraeni Ayu W

1102011028

Denies Ariwibowo

1102010064

Farah Eryanda

1102011097

Farasila Rashofa

1102011098

Farida Fidiyaningrum

1102011099

Luthfika Shabrina

1102011146

M. Arief Rachman A.P.

1102011147

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2013-2014

SKENARIO 1
Kesehatan Ibu, Anak dan Remaja
Wanita umur 16 tahun, datang ke puskesmas diantar oleh teman lelakinya dengan perdarahan
segar dan banyak lewat jalan lahir sejak 1 hari yang lalu. Menurut temannya, wanita tersebut
merupakan kekasihnya yang sedang mengandung, mereks telah berhubungan dekat sejak kelas 2
SMP.
Sebelumnya pasien pergu ke dukun untuk menggugurkan kandungan, diajak oleh tetangganya
yang pernah menggugurkan kandungan karena anaknya yang sudah terlalu banyak dan masih
kecil-kecil, pasien juga ada riwayat minum obat peluruh haid atau obat penggugur kandungan,
namun saying keadaan pasien sudah tidak dapat ditolong lagi saat tiba di puskesmas.
Dokter puskesmas mengatakan pasien memiliki risiko tinggi kehamilan dan terlambat dibawa ke
puskesmas, sehingga terlambat juga dilakukan penanganan. Kondisi seperti ini ikut berkontribusi
terhadap tingginya AKI ( Angka Kematin Ibu ) / IMR ( Infant Mortalitity Rate ) akibat
kehamilan dan persalinan di Indonesia. Berdasarkan data SDKI 2007, AKI Indonesia
228/100.000 kelahiran hidup.
Dengan kejadian tersebut, kemudian puskesmas melakukan pencatatan untuk studi kematian
maternal perinatal terhadap pasien tersebut.
Dalam pandangan Islam, hubungan suami istri di luar pernikahan dan menggugurkan kandungan
tidak dibenarkan dalam agama.

Kata kata sulit :


1. Audit kematian maternal perinatal :
Suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan dan kematian ibu dan perinatal dengan
maksut mencegah kesakitan dan kematian dimasa yang akan datang.
2. SDKI (Survei Demogravi dan Kesehatan Indonesia) :
Menyediakan data mengenai perilaku feritilitas, keluarga berencana , kesehatan ibu dan
anak, kematian ibu, dan pengetahuan tentang AIDS dan PMS yang dapat digunakan oleh
para pengelola program, pengambil kebijakan, dan peneliti dalam menilai dan
menyempurnakan program yang ada.
3. AKI (Angka Kematian Ibu) :
Banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi
kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab lain, per 100.000 kelahiran
hidup
4. IMR (Infant Mortality Rate) :
Banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada
satu tahun tertentu pada satu tahun tertentu.
Pertanyaan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kenapa data pasien harus dicatat di data kematian maternal perinatal?


Apa hubungan Antara umur ibu dengan angka kematian ibu?
Apa tindakan puskesmas untuk cegah kehamilan diluar nikah?
Apa indikasi melakukan aborsi?
Apa hokum melakukan hubungan suami istri diluar nikah dalam pandangan islam?
Apa saja resiko tinggi kehamilan?
Apa saja yang mempengaruhi AKI dan IMR ?
Apa hukum menggugurkan kandungna menurut islam?
Apa tugas pokok dokter puskesmas?

Jawaban :
1. Untuk evaluasi dan perbaikan kedepannya
2. Pada usia muda, alat reproduksi belum matang secara sempurna, dan ditambah oleh
ekonomi dan mental yang belum matang
3. Edukasi dan penyuluhan
4. Tergantung dari kesehatan dan keselamatan ibu
5. Haram
6. Pergaulan, keimanan, usia produktif,social
7. Umur kehamilan, umur ibu, status social, ekonomi
8. Haram
9. Memberikan pelayanan kesehatan , dan edukasi serta pengetahuan kepada masyarakat

Hipotesa
-

Perempuan 16 tahun:
Hamil diluar nikah
Mempunyai risiko tinggi kehamilan

Alat reproduksi belum matang secara sempurna

Mencoba untuk aborsi dan meminum obat peluruh kandungan

Perdarahan

Meninggal (ketika di puskesmas)

Dicatat di audit kematian maternal perinatal

Sasaran Belajar
1. Memahami dan menjelaskan tentang perilaku yang berisiko terhadap kesehatan pada
anak remaja
2. Memahami dan menjelaskan tentang kehamilan pada remaja dan kehamilan yang tidak
diinginkan
3. Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan risiko tinggi kehamilan
4. Memahami dan menjelaskan audit maternal dan perinatal tentang kematian ibu dan bayi
5. Memhami dan menjelaskan risiko kehamilan di usia muda dan diluar nikah menurut
islam
6. Memahami dan menjelaskan hukum aborsi dalam pandangan islam

1.Memahami dan menjelaskan tentang perilaku yang berisiko terhadap kesehatan pada
anak remaja
Definisi
Perilaku beresiko adalah perilaku yang dapat membahayakan aspek-aspek psikososial
sehingga remaja sulit berhasil dalam melalui masa perkembangannya. Perilaku berisiko
dilakukan remaja dengan tujuan tertentu yaitu untuk dapat memenuhi perkembangan
psikologisnya.
Contoh : Merokok, penggunaan narkoba agar diterima teman sebayanya, bukti kemandirian
dari orang tua.
Akibat perilaku beresiko

Berisiko terhadap kesehatan: Merokok, minum alkohol, narkoba, tawuran


Berisiko terhadap masa depan: Putus sekolah, kehamilan, konsep diri yang tidak
adekuat.
Berisiko terhadap lingkungan sosialnya: Bermasalah dengan hukum, pengangguran

Perilaku yang dipantau

Safety driving
Tobacco use
Drinking alcohol and or using drugs
Unprotected sex
Eating pattern
Physical activities

Faktor Faktor yang berpengaruh terhadap Perilaku beresiko :

Berikut ada lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah.
1.

2.

Perilaku Bermasalah (problem behavior). Masalah perilaku yang dialami remaja di


sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri
dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat
dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan
masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah
misalnya, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang
remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan
secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.
Perilaku menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang pada remaja
merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup
(nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak
semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia
tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku
7

3.

4.

5.

menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang
mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena
persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.
Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang
dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam
menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku
menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri
yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).
Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada
sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah.
Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan
sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil
orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya,
orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia
memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak
memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan
dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal
maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan
mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja
yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan
remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
Attention Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam
perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak
dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan
tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan
lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus
yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan
temannya.
Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak segera mengadili dan menuduh remaja sebagai
sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap
lembaga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan
masing-masing.

Hubungan Perilaku Berisiko


Tingkah laku berisiko cenderung dihubungkan satu sama lain dengan memperkirakan bahwa
permulaan dari suatu perilaku dapat menunjukkan bahwa perilaku lain mempunyai kemungkinan
besar sebagai awal dari masa yang akan datang. Hubungan yang erat antara minum alkohol dan
kecelakaan yang tidak disengaja telah banyak diketahui. Hubungan alkohol dengan kecelakaan
kendaraan bermotor merupakan penyebab utama kematian pada akhir remaja. Alkohol juga
dihubungkan dengan kecelakaan termasuk bukan penggunaan kendaraan dan olah raga air.
Penyalahgunaan obat mempunyai hubungan positif dengan mulanya perilaku seksual dini.
Remaja wanita yang dilaporkan menggunakan obat-obat yang tidak sah dan merokok sigaret
lebih suka tidak menggunakan kontrasepsi dan tidak menginginkan kehamilan.
8

Di antara masalah penyalahgunaan obat, pola penggunaan dihubungkan dengan berbagai


kebiasaan yang diperkirakan. Permulaan kebiasaan minum alkohol dan merokok merupakan hal
yang merusak. Sebagai rangkaian kemajuan selanjutnya, penggunaan mariyuana didahului
dengan minum alkohol dan merokok; alkohol, sigaret (rokok) dan mariyuana mendahului obatobat illegal yang lain (termasuk pelanggaran hokum, kokain, heroin, sedatif dan tranquiliser)
dan penggunaan obat psikoaktif akan diikuti oleh obat-obat bius yang lain. Pada anak wanita,
merokok sering merupakan prediksi yang penting untuk penyalahgunaan obat bius yang lain.
Penggunaan obat bius secara umum akan mengakibatkan mudahnya penggunaan obat bius yang
lain yang menyebabkan efek kumulatif dari semua obat bius.
Konsekuensi medis dari perilaku berisiko dapat berdampak jangka pendek maupun jangka
panjang dari tingkah laku berisiko. Dampak jangka pendek terlihat dalam beberapa minggu atau
bulan, yaitu selama masa remaja; efek jangka panjang akan muncul umumnya setelah masa
remaja. Konsekuensi jangka pendek dari penggunaan alkohol terlihat pada umumnya di ruang
gawat darurat yang dikaitkan dengan kecelakaan. Bahan psikoaktif delta-9-tetra hidrokanabinol
dalam mariyuana menyebabkan perubahan suasana hati. Risiko jangka panjang tidak akan
didokumentasi. Disfungsi psikologis pada umumnya sering dilaporkan dalam penggunaan obat
bius. Petunjuk penting untuk kekurangan disfungsi termasuk di sini adalah gangguan motivasi
secara umum dan gangguan perkembangan di dalam sekolah. Pencarian identitas bagi yang
sudah berpengalaman pada pecandu sangat sulit karena tidak mungkin untuk mengidentifikasi
karena remaja tidak mungkin memakai obat-obatan tanpa jalan pintas
Perlunya memperhatikan kesehatan remaja
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dari aspek fisis, emosi, intelektual, dan sosial pada
masa remaja merupakan pola karakteristik yang ditunjukkan dengan rasa keingintahuan yang
besar, keinginan untuk bereksperimen, berpetualang, dan mencoba bermacam tantangan, selain
cenderung berani mengambil risiko tanpa pertimbangan matang terlebih dahulu. Ketersediaan
akan akses terhadap informasi yang baik dan akurat, serta pengetahuan untuk memenuhi
keingintahuan mempengaruhi keterampilan remaja dalam mengambil keputusan untuk
berperilaku. Remaja akan menjalani perilaku berisiko, bila keputusan yang diambil dalam
menghadapi konflik tidak tepat dan selanjutnya menerima akibat yang harus ditanggung seumur
hidupnya dalam berbagai bentuk masalah kesehatan fisis dan psikososial.
Beberapa alasan mengapa program kesehatan remaja ini perlu diperhatikan antara lain
disebabkan:
1.
2.
3.
4.

Jumlah remaja di Indonesia lebih kurang 20% dari populasi;


Remaja merupakan aset sekaligus investasi generasi mendatang;
Upaya pemenuhan Hak Asasi Manusia;
Untuk melindungi sumber daya manusia potensial.

Keadaan kesehatan remaja di Indonesia


Remaja menghadapi masalah kesehatan yang kompleks, walaupun selama ini diasumsikan
sebagai kelompok yang sehat. Dari beberapa survei diketahui besaran masalah remaja,
9

sebagaimana ditunjukkan oleh data berikut: survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2007 menunjukkan 17% perempuan yang saat ini berusia 45-49, menikah pada usia 15
tahun; Sementara itu, terdapat peningkatan secara substansial pada usia perempuan pertama kali
menikah. Perempuan usia 30-34 tahun yang menikah pada usia 15 tahun sebesar 9%, sedangkan
perempuan usia 20-24 tahun yang menikah pada usia 15 tahun sebesar 4% (BPS and Macro
International, 2008).
Menurut survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007, persentase
perempuan dan lelaki yang tidak menikah, berusia 15-19 tahun merupakan :

Perokok aktif hingga saat ini: Perempuan: 0,7%; sedangkan lelaki: 47,0%.
Mantan peminum alkohol: Perempuan: 1,7%; dan lelaki: 15,6%.
Peminum alkohol aktif: perempuan: 3,7%; lelaki: 15,5 %.
Lelaki pengguna obat dengan cara dihisap: 2,3%; dihirup: 0,3 %; ditelan 1,3%.
Perempuan pertama kali pacaran pada usia <12 tahun: 5,5%; pada yusia 12-14 tahun:
22,6%; usia 15-17 tahun: 39,5%; usia 18-19 tahun: 3,2%. Melakukan petting pada saat
pacaran: 6,5%.
Lelaki pertama kali pacaran pada usia <12 tahun: 5,0%; usia 12-14 ytahun: 18,6%; usia
15-17 tahun: 36,9%; usia 18-19 tahun: 3,2%. Melakukan petting saat pacaran: 19,2%.
Pengalaman seksual pada perempuan: 1,3%; lelaki: 3,7%.y
Lelaki yang memiliki pengalaman seks untuk pertama kali pada usia: <15 tahun: 1,0%;
usia 16 tahun : 0,8%; usia 17 tahun: 1,2%; usia 18 tahun: 0,5%; usia 19 tahun: 0,1%.
Alasan melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum menikah ypada remaja
berusia 15-24 tahun ialah: Untuk perempuan alasan tertinggi adalah karena terjadi begitu
saja (38,4%); dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan pada lelaki, alasan tertinggi
ialah karena ingin tahu (51,3%); karena terjadi begitu saja (25,8%).
Delapan puluh empat orang (1%) dari responden pernah mengalami KTD, 60% di
antaranya mengalami atau melakukan aborsi.

Kasus AIDS sampai dengan 31 Maret 2009 dilaporkan melalui laporan triwulan Direktorat
jendral pengendalian penyakit dan pengendalian lingkungan (Ditjen P2PL), sebagai berikut:

Persentase kumulatif kasus AIDS berdasarkan:


Cara penularan: pengguna jarum suntik: 42%; heteroseksual: 48,4%; yhomoseksual:
3,7%.
Kelompok usia: 15-19 tahun: 3,08%; 20-29 tahun: 50,5%.
Provinsi dengan jumlah pasien AIDS terbanyak pada pengguna napza ysuntik adalah
Jawa Barat, sebanyak 2.366 orang.
Persentase kasus AIDS pada pengguna napza suntik di Indonesia yberdasarkan jenis
kelamin, yaitu: lelaki: 91,8%; perempuan: 7,5%; tidak diketahui: 0,7%.
Persentase kumulatif kasus AIDS pada pengguna napza suntik di yIndonesia berdasarkan
golongan usia, yaitu: 15-19 tahun: 1,7%; dan 20-29 tahun: 64,7%.

Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007:

10

Secara nasional persentase kebiasaan merokok penduduk Indonesia berumur >10 tahun
sebesar 23,7%, lelaki 46,8%; dan perempuan: 3 %. Jika kebiasaan merokok ini dibagi
menurut karakteristik usia responden, didapatkan data bahwa pada usia 10-14 tahun:
0,7%; usia 15-24 tahun: 17,3%.
Prevalensi penyakit asma, jantung, diabetes mellitus, dan tumor menurut karakteristik
responden yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan, yaitu:

1. Umur 5-14 tahun: asma: 1,2%; jantung: 0,2%; diabetes mellitus: 0%; tumor 1,0%.
2. Umur 15-24 tahun: asma: 1,2%; jantung: 0,3%; diabetes mellitus: 0,1%; tumor: 2,4%.
3. Prevalensi penyakit asma, jantung, diabetes mellitus, dan tumor menurut karakteristik
responden yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala:
4. Umur 5-14 tahun: asma: 2%, jantung: 2,2%, diabetes mellitus: 0%.
5. Umur 15-24 tahun: asma 2,2%, jantung: 4,8%, diabetes mellitus: 0,4%.

Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur 15 tahun ke atas


(berdasarkan self reporting questionnaire-20) menurut karakteristik responden 15-24
tahun adalah: 8,7%
Prevalensi anemi menurut kelompok umur 5-14 tahun: 9,4%; 15-24 tahun: 6,9%.
Prevalensi cedera dan penyebab cedera menurut karakteristik yresponden usia 5-14
tahun: cedera akibat terjatuh: 78,4%; usia 15-24 tahun: cedera akibat terjatuh 47,9%.
Prevalensi jenis cedera menurut karakteristik responden berusia 5-14 tahun: luka lecet
62,5%; usia 15-24 tahun: luka lecet 57,8%.
Prevalensi kurang aktivitas fisik penduduk berusia 10 tahun ymenurut karakteristik
usia: 10-14 tahun: 66,9%; 15-24 tahun: 52%. Sedangkan jika dilihat berdasarkan jenis
kelamin lelaki: 41,4%; dan perempuan: 54,5%.

Tingginya perilaku berisiko pada remaja yang ditunjukkan oleh data di atas merupakan hasil
akhir dari sifat khas remaja, pengetahuan remaja tentang kesehatan, nilai moral yang dianut, serta
ada tidaknya kondisi lingkungan yang turut memengaruhi. Sebagai contoh bagaimana SPN akan
menyebabkan kehamilan dan persalinan dengan komplikasi, bayi yang dilahirkan dengan
komplikasi, atau mengakibatkan KTD yang dapat menimbulkan kejadian aborsi yang
menyebabkan kematian. Demikian halnya dengan penyalahgunaan napza yang dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi HIV yang selanjutnya menjadi AIDS dan akhirnya
mengakibatkan kematian. Secara tidak langsung masalah kesehatan remaja tersebut turut
menghambat laju pembangunan manusia (human development) di Indonesia, dan pencapaian
pembangunan tujuan millenium (millenium development goal).
Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi keadaan sejahtera fisik, mental sosial yang utuh dalam segala
hal yang berkaitan dengan fungsi, peran dan system reproduksi (Konferensi Internasional
Kependudukan dan Pembangunan, 1994)

Kesehatan reproduksi kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya
bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya (WHO)

11

Kesehatan reproduksi remaja pada remaja

Prasyarat reproduksi sehat :


1. Supaya tidak terjadi kelainan anatomis fisiologis perempuan harus memiliki ronggga
pinggul yang cukup besar untuk mempermudah persalinan; memiliki kelenjar penghasil
hormon reproduksi yang sehat DIPERLUKAN GIZI YANG ADEKUAT
2. Diperlukan landasan psikis yang kuat dan memadai dimulai sejak bayi
3. Terbebas dari penyakit organ reproduksi
4. Dapat melewati masa hamil dengan aman
Masalah kaesehatan reproduksi remaja:
1. Perkosaan.
Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak hanya
remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan rentan
mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk
menunjukkan bukti cinta.
2. Free sex.
Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas
pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar
kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno
Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja
perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan
aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi
dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan
semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini.
2. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar
masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan
bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan
menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat
menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur.
3.

Aborsi.
12

Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya.
Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus,
atau pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang
keguguran terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal
antara lain karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan
secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi
psikologis yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak
menunjang untuk melangsungkan kehamilan.
Masalah Kesehatan Remaja
Merokok
Merokok merupakan kebiasaan yang menyebabkan kenikmatan bagi penikmatnya diain
pihak juga dapat merugikan kesehatan perokok dan orang-orang sekitarnya. Merokok
dapat menyebabkan risiko tekena penyakit saluran pernafasan, penyakit jantung koroner,
stroke dan lain-lain Sebagian besar perokok di seluruh dunia dimulai ketika mereka
remaja. Sampai saat ini tercatat 150 juta orang remaja perokok. Jumlah ini meningkat
secara global, khususnya di kalangan wanita muda. Setengah dari para perokok akan mati
premature
Ketergantungan NAPZA dan Bahaya Alkohol
Akibat pergaulan negatif remaja adalah terjerumusnya mereka pada penyalahgunaan
Narkotika, zat Psikoaktif dan Zat Aditif lainnya yang menyebabkan ketergantungan.
Bahaya lainnya adalah alcohol, dimana pengaruh alcohol menyebabkan kurangnya
kesadaran dan hilangnya control diri sehingga sering melakukan perbauatan berisiko
seperti perkelahian, kecelakaan. Ketergantungan alcohol juga dapat menyebabkan
kematian.
Kecelakaan/ Trauma
Kecelakan biasanya adalah kejadian yang sering dialami oleh remaja terutama sebagai
akibat prilaku atau kenakalan remaja yang sering kebut-kebutan, tawuran dan gagahgagahan. Kecelakaan adalah penyebab utama kematian dan cacat di antara remaja.
Trauma luka lalu lintas di Jalan mengambil remaja sekitar 1 orang 000 setiap hari.
Malnutrisi
Banyak remaja di negara berkembang masuk kategori kekurangan gizi, dengan risiko
rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Sebaliknya, kelebihan berat badan dan
obesitas semakin meningkat.
Kesehatan Mental
Sekitar 20% dari remaja akan mengalami masalah kesehatan mental, yang paling sering
depresi atau kecemasan. Risiko meningkat oleh pengalaman kekerasan,, devaluasi
penghinaan dan kemiskinan, dan bunuh diri merupakan salah satu penyebab utama
kematian pada orang muda. Bangunan keterampilan hidup pada anak-anak dan remaja,
13

dan menyediakan mereka dengan dukungan psikososial di sekolah-sekolah dan


pengaturan masyarakat lainnya dapat membantu meningkatkan kesehatan mental.
Kekerasan
Kekerasan adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak muda, terutama
laki-laki: 565 diperkirakan merupakan orang-orang muda berusia 10 hingga 29 tahun
meninggal setiap hari melalui kekerasan interpersonal. Membina hubungan antara orang
tua dan anak-anak sejak awal kehidupan merupakan hal terpenting untuk mencegah
prilaku kekerasan pada remaja.
Jerawat dan Penyakit Kulit lainnya
Jerawat atau yang dalam istilah medisnya disebut acne vulgaris, adalah kelainan kulit
yang ditandai peradangan kronis pada kelenjar minyak, ditandai dengan munculnya
komedo, benjolan kecil dengan ukuran bervariasi serta kadang-kadang disertai
pembentukan parut. Remaja juga sering menderita penyakit kulit lainnya seperti scabies,
jamuran, eksim/dermatitis.
Kelainan Mata
Pada remaja sering dijumpai kelainan penglihatan berupa rabun jauh, rabun dekat
ataupun astigmatisma. Kelainan-kelainan ini disebabkan oleh berkurangnya kemampuan
mata untuk berakomodasi
Infeksi Menular seksual dan HIV/AIDS
Penyakit Menular Seksual biasanya dialami oleh remaja yang aktif secara seksual, apakah
itu sering gonta-ganti pacar/pasangan ataupun remaja yang sering menggunakan jasa
penjaja seks. Beberapa diantaranya seperti gonore, sifilis, klamidia, herpes genitalis,
kondiloma akuminata, HIV dan lain-lain Terdapat 40% perkiraan dari semua infeksi HIV
baru di kalangan orang dewasa di seluruh dunia pada tahun 2008 berusia 15-24 tahun..
Setiap hari, 2 500 lebih orang-orang muda terinfeksi dan global ada lebih dari 5,7 juta
orang muda yang hidup dengan HIV / AIDS. Orang-orang muda perlu tahu bagaimana
melindungi diri mereka sendiri dan memiliki sarana untuk melakukannya. Ini termasuk
kondom untuk mencegah penularan seksual dan membersihkan virus dan jarum suntik
bagi mereka yang menyuntikkan narkoba. Saat ini, hanya 30% laki-laki muda dan 19%
wanita muda memiliki pengetahuan yang komprehensif dan benar mereka butuhkan
untuk melindungi diri dari tertular virus. Akses yang lebih baik untuk konseling dan tes
HIV akan menginformasikan remaja tentang status mereka, membantu mereka untuk
mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan, dan menghindari penyebaran lebih lanjut
virus. Budaya dan kondisi sosial ekonomi meningkatkan kerentanan orang-orang muda
untuk infeksi HIV, strategi pencegahan HIV yang efektif harus bertujuan untuk
mengatasi faktor ini juga
Tujuan Kespro :

14

Utama meningkatkan kesadaran kemandirian wanita remaja dalam mengatur fungsi


dan proses reproduksinya, termasuk kehidupan seksualitasnya, sehingga hak-hak
reproduksinya dapat terpenuhi peningkatan kualitas hidup

Khusus:

1. Meningkatnya kemandirian remaja dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya


2. Meningkatnya hak dan tanggungjawab sosial remaja (wanita) dalam menentukan kapan
hamil, jumlah dan jarak kehamilan
3. Meningkatnya peran dan tanggungjawab sosial remaja (pria) terhadap akibat dari perilaku
seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dean anakanaknya
4. Dukungan yang menunjang remaja untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan
proses reproduksinya
Faktor yang mempengaruhi Kespro :
1. Faktor sosio-ekonomi dan demografi
2. Faktor budaya dan lingkungan
3. Faktor psikologis
4. Faktor biologis
Pengetahuan yang diperlukan remaja :
1. Pengenalan masalah sistem reproduksi, proses dan fungsi alat reproduksi
2. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia perkawinan dan merencanakan kehamilan
agar sesuai dengan keinginan
3. Penyakit menular seksual dan HIV / AIDS dan dampaknyan terhadap kespro
4. Bahaya narkoba dan miras pada kespro
5. Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri
agar mampu menangkal hal-hal negatif
8. Hak-hak reproduksi
Hal yang telah dilakukan
Penanganan masalah remaja dilakukan melalui kerjasama multi-sektoral dan multidimensional,
dengan intervensi pada aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif yang komprehensif.
15

Program kesehatan remaja sudah mulai diperkenalkan di puskesmas sejak satu dekade yang lalu.
Selama lebih dari 10 tahun, program ini lebih banyak bergerak dalam pemberian informasi,
berupa penyuluhan dan diskusi dengan remaja tentang masalah kesehatan melalui wadah usaha
kesehatan sekolah (UKS), karang taruna, atau organisasi pemuda, dan kader remaja lainnya yang
dibentuk oleh puskesmas. Petugas puskesmas berperan sebagai fasilitator dan narasumber.
Pemberian pelayanan khusus kepada remaja yang disesuaikan dengan keinginan, selera, dan
kebutuhan remaja belum dilaksanakan. Remaja yang berkunjung ke puskesmas masih
diperlakukan selayaknya pasien lain sesuai dengan keluhan atau penyakitnya.
Melihat kebutuhan remaja dan memperhitungkan tugas puskesmas sebagai barisan terdepan
pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat, puskesmas sebaiknya memberikan pelayanan
langsung kepada remaja sebagai salah satu kelompok masyarakat yang dilayaninya. Pelayanan
kesehatan remaja di puskesmas amat strategis dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien
mengingat ketersediaan tenaga kesehatan dan kesanggupan jangkauan puskesmas ke segenap
penjuru Indonesia seperti halnya keberadaan remaja sendiri, dari daerah perkotaan hingga
terpencil perdesaan. Sesuai dengan kebutuhan, puskesmas sebagai bagian dari pelayanan klinis
medis, melaksanakan rujukan kasus ke pelayanan medis yang lebih tinggi. Rujukan sosial juga
dilakukan oleh puskesmas, misalnya penyaluran kepada lembaga keterampilan kerja untuk
remaja pasca penyalahgunaan napza, atau penyaluran kepada lembaga tertentu agar mendapatkan
program pendampingan dalam upaya rehabilitasi mental korban perkosaan. Sedangkan rujukan
pranata hukum untuk memberi kekuatan hukum bagi kasus tertentu atau dukungan dalam
menindaklanjuti suatu kasus belum banyak dilakukan. Pelayanan komprehensif kepada remaja
ini merupakan bentuk kerjasama berbagai sektor yang diawali dengan komitmen antar institusi
terkait.
Bentuk pelayanan kesehatan remaja
Beberapa tahun terakhir mulai dilaksanakan beberapa model pelayanan kesehatan remaja
yang memenuhi kebutuhan, hak dan selera remaja di beberapa propinsi, dan diperkenalkan
dengan sebutan pelayanan kesehatan peduli remaja atau disingkat PKPR. Sebutan ini merupakan
terjemahan dari istilah adolescent friendly health services (AFHS), yang sebelumnya dikenal
dengan youth friendly health services (YFHS). Pelayanan kesehatan remaja sesuai
permasalahannya, lebih intensif kepada aspek promotif dan preventif dengan cara peduli
remaja. Memberi layanan pada remaja dengan model PKPR ini merupakan salah satu strategi
yang penting dalam mengupayakan kesehatan yang optimal bagi remaja kita. Pelayanan
kesehatan peduli remaja diselenggarakan di puskesmas, rumah sakit, dan tempat-tempat umum
lainnya di mana remaja berkumpul.
Hingga akhir tahun 2008, sebanyak 1611 dari 8114 puskesmas di seluruh Indonesia (22,39%)
melaporkan telah melaksanakan PKPR dengan jumlah tenaga yang dilatih untuk menangani
PKPR ini sejumlah 2866 orang. Sementara itu beberapa rumah sakit seperti rumah sakit Kariadi,
Semarang, rumah sakit Fatmawati di Jakarta, dan rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, telah
melakukan pengembangkan tim kesehatan remaja atau poliklinik kesehatan remaja.
Selain itu, beberapa badan donor telah memberikan dukungan bagi pendekatan pelayanan
kesehatan peduli remaja. Di propinsi Jawa Barat, remaja di sekolah dilatih dan dibina oleh
16

puskesmas menjadi konselor sebaya; di propinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT)
pelayanan bagi remaja dilaksanakan di luar gedung puskesmas; Di beberapa propinsi lainnya
petugas kesehatan dilatih agar kompeten dalam menghadapai masalah kesehatan remaja.
Jenis kegiatan dalam PKPR
Kegiatan dalam PKPR sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, dapat dilaksanakan di dalam
atau di luar gedung. Untuk sasaran perorangan atau kelompok, dilaksanakan oleh petugas
puskesmas atau petugas lain di institusi atau masyarakat, berdasarkan kemitraan.
Jenis kegiatan tersebut meliputi:
1. Pemberian informasi dan edukasi

Dilaksanakan di dalam atau di luar gedung, baik secara perorangan atau berkelompok.
Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari sekolah, atau dari lintas
sektor terkait dengan menggunakan materi dari (atau sepengetahuan) puskesmas.
Menggunakan metoda ceramah tanya jawab, focus group discussion (FGD), diskusi
interaktif, yang dilengkapi dengan alat bantu media cetak atau media elektronik (radio,
email, dan telepon/hotline, SMS).
Menggunakan sarana komunikasi informasi edukasi (KIE) yang lengkap, dengan bahasa
yang sesuai dengan bahasa sasaran (remaja, orangtua, guru) dan mudah dimengerti.
Khusus untuk remaja perlu diingat untuk bersikap tidak menggurui serta perlu bersikap
santai.

2. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukannya.


Hal yang perlu diperhatikan dalam melayani remaja yang berkunjung ke puskesmas adalah:

Bagi remaja yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan mengacu pada
prosedur tetap penanganan penyakit tersebut.
Petugas dari balai pengobatan umum, balai pengobatan gigi, kesehatan ibu dan anak
(KIA) dalam menghadapi remaja yangdatang, diharapkan dapat menggali masalah
psikososial atau yang berpotensi menjadi masalah khusus remaja, untuk kemudian bila
ada, menyalurkannya ke ruang konseling bila diperlukan.
Petugas yang menjaring remaja dari ruangan, dan juga petugas loket atau petugas
laboratorium, seperti halnya petugas khusus PKPR juga harus menjaga kerahasiaan
remaja tersebut, dan memenuhi kriteria peduli remaja.
Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat hasil rujukan kasus
per kasus.

3. Konseling
Tujuan konseling dalam PKPR yaitu:

17

Membantu remaja untuk dapat mengenali masalahnya dan membantunya agar dapat
mengambil keputusan dengan mantap tentang apa yang harus dilakukannya untuk
mengatasi masalah tersebut.
Memberikan pengetahuan, keterampilan, penggalian potensi dan sumber daya secara
berkesinambungan hingga dapat membantu remaja agar mampu:

1. mengatasi kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya.


2. meningkatkan kewaspadaan terhadap isu masalah yang mungkin terjadi pada dirinya.
3. mempunyai motivasi untuk mencari bantuan bila menghadapi masalah.
4.Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)
Dalam menangani kesehatan remaja perlu tetap diingat dengan optimisme bahwa bila remaja
dibekali dengan keterampilan hidup sehat maka remaja akan sanggup menangkal pengaruh yang
merugikan bagi kesehatannya. Pendidikan ketrampilan hidup sehat merupakan adaptasi dari life
skills education (LSE). Sedangkan life skills atau keterampilan hidup adalah kemampuan
psikososial seseorang untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah dalam kehidupan
sehari-hari secara efektif. Keterampilan ini mempunyai peran penting dalam promosi kesehatan
dalam lingkup yang luas, yaitu: kesehatan fisis, mental, dan sosial.
Contoh yang jelas bahwa peningkatan keterampilan psikososial ini dapat memberi kontribusi
yang berarti dalam kehidupan keseharian adalah keterampilan mengatasi masalah perilaku yang
berkaitan dengan ketidak sanggupan mengatasi stres dan tekanan dalam hidup dengan baik.
Keterampilan psikososial di bidang kesehatan dikenal dengan istilah PKHS. Pendidikan
ketrampilan hidup sehat dapat diberikan secara berkelompok di mana saja, antara lain: di
sekolah, puskesmas, sanggar, rumah singgah, dan sebagainya.

Kompetensi psikososial tersebut meliputi 10 aspek keterampilan, yaitu:


1.Pengambilan keputusan
Pada remaja keterampilan pengambilan keputusan ini berperan konstruktif dalam
menyelesaikan masalah berkaitan dengan hidupnya. Keputusan yang salah tak jarang
mengakibatkan masa depan menjadi suram.
2.Pemecahan masalah
Masalah yang tak terselesaikan yang terjadi karena kurangnya keterampilan pengambilan
keputusan akan menyebabkan stres dan ketegangan fisis.
3. Berpikir kreatif

18

Berfikir kreatif akan membantu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.


Berpikir kreatif terealisasi karena adanya kesanggupan untuk menggali alternatif yang
ada dan mempertimbangkan sisi baik dan buruk dari tindakan yang akan diambil. Meski
tak menghasilkan suatu keputusan, berpikir kreatif akan membantu remaja merespons
secara fleksibel segala situasi dalam keseharian hidup.
4. Berpikir kritis
Merupakan kesanggupan untuk menganalisa informasi dan pengalaman secara objektif.
Hal ini akan membantu mengenali dan menilai faktor yang memengaruhi sikap dan
perilaku, misalnya: tata-nilai, tekanan teman sebaya, dan media.
5. Komunikasi efektif
Komunikasi ini akan membuat remaja dapat mengekspresikan dirinya baik secara verbal
maupun non-verbal. Harus disesuaikan antara budaya dan situasi, dengan cara
menyampaikan keinginan, pendapat, kebutuhan dan kekhawatirannya. Hal ini akan
mempermudah remaja untuk meminta nasihat atau pertolongan bilamana mereka
membutuhkan.
6. Hubungan interpersonal
Membantu menjalin hubungan dengan cara positif dengan orang lain, sehingga mereka
dapat meciptakan persahabatan, meningkatkan hubungan baik sesama anggota keluarga,
untuk mendapatkan dukungan sosial, dan yang terpenting adalah mereka dapat
mempertahankan hubungan tersebut; Hubungan interpersonal ini sangat penting untuk
kesejahteraan mental remaja itu sendiri. Keahlian ini diperlukan juga agar terampil dalam
mengakhiri hubungan yang tidak sehat dengan cara yang positif.
7. Kesadaran diri
Merupakan keterampilan pengenalan terhadap diri, sifat, kekuatan dan kelemahan, serta
pengenalan akan hal yang disukai dan dibenci. Kesadaran diri akan mengembangkan
kepekaan pengenalan dini akan adanya stres dan tekanan yang harus dihadapi. Kesadaran
diri ini harus dimiliki untuk menciptakan komunikasi yang efektif dan hubungan
interpersonal yang baik, serta mengembangkan empati terhadap orang lain.
8. Empati
Dengan empati, meskipun dalam situasi yang tidak di kenal dengan baik, remaja mampu
membayangkan bagaimana kehidupan orang lain. Empati melatih remaja untuk mengerti
dan menerima orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya, dan juga membantu
menimbulkan perilaku positif terhadap sesama yang mengalaminya.
9. Mengendalikan emosi

19

Keterampilan mengenali emosi diri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi
dapat memengaruhi perilaku, memudahkan menggali kemampuan merespons emosi
dengan benar. Mengendalikan dan mengatasi emosi diperlukan karena luapan emosi
kemarahan atau kesedihan dapat merugikan kesehatan bila tidak disikapi secara benar.
10. Mengatasi stres
Pengenalan stres dan mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh, membantu
mengontrol stres, dan mengurangi sumber penyebabnya. Misalnya membuat perubahan
di lingkungan sekitar atau merubah cara hidup (lifestyle). Diajarkan pula bagaimana
bersikap santai sehingga tekanan yang terjadi oleh stres yang tak terhindarkan tidak
berkembang menjadi masalah kesehatan yang serius.
Dengan menerapkan ajaran PKHS, remaja dapat mengambil keputusan segera untuk
menolak ajakan tersebut, merasa yakin akan kemampuannya menolak ajakan tersebut,
berpikir kreatif untuk mencari cara penolakan agar tidak menyakiti hati temannya dan
mengerahkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan mengendalikan emosi,
sehingga penolakan akan berhasil dilaksanakan dengan mulus.
Dalam menghindari diri dari tindak kekerasan baik fisis ataupun mental, beberapa
kompetensi dari life skills ini dapat membantu remaja mengambil keputusan agar dapat
merespons ancaman atau tindak kekerasan tersebut. Kekerasan fisis termasuk kekerasan
seksual dapat dihindari dengan berpikir kritis dan kreatif serta menggunakan komunikasi
efektif untuk menghindari dan menyelamatkan diri dari ancaman tersebut. Kekerasan
mental (tekanan, pelecehan, penghinaan) tidak menimbulkan akibat psikis apabila
kompetensi life skills diterapkan seperti berpikir kreatif, pengendalian emosi dan
komunikasi efektif.
Pelaksanaan PKHS di puskesmas di samping meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan hidup sehat dapat juga menimbulkan rasa gembira bagi remaja sehingga
dapat menjadi daya tarik untuk berkunjung kali berikut, serta mendorong melakukan
promosi tentang adanya PKPR di puskesmas kepada temannya dan menjadi sumber
penular pengetahuan dan keterampilan hidup sehat kepada teman-temannya.
5. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya
Pelatihan ini merupakan salah satu upaya nyata mengikut sertakan remaja sebagai salah satu
syarat keberhasilan PKPR. Dengan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja atau konselor
sebaya dan pendidik sebaya, beberapa keuntungan diperoleh, yaitu kelompok ini berperan
sebagai agen perubahan di antara kelompok sebayanya agar berperilaku sehat. Lebih dari itu,
kelompok ini terlibat dan siap membantu dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR.
Kader yang berminat, berbakat, dan sering menjadi tempat curhat bagi teman yang
membutuhkannya dapat diberikan pelatihan tambahan untuk memperdalam keterampilan
interpersonal relationship dan konseling.
Kesimpulan
20

Remaja bukanlah kelompok masyarakat yang tidak menghadapi masalah kesehatan. Perilaku
berisiko yang dijalani akibat tidak tepatnya keputusan yang diambil pada masa remaja yang labil
menghadapkan remaja kepada masalah kesehatan. Di Indonesia, laju masalah kesehatan pada
remaja sebagai akibat perilaku berisiko jauh lebih cepat daripada penanganan yang dilakukan
oleh banyak pihak. Koordinasi, integrasi dan sinkronisasi menjadi esensial bagi upaya
penanganan masalah kesehatan pada remaja untuk menekan laju tersebut. Remaja dengan sifat
khasnya dilibatkan secara aktif dalam tiap upaya, selain dididik sejak dini dan dibekali dengan
pendidikan ketrampilan hidup sehat hingga terampil dalam mengembangkan potensi dirinya
untuk hidup secara kreatif dan produktif. Remaja diberi kesempatan dan akses seluas-luasnya
agar berperilaku positif dan sanggup menangkal pengaruh yang merugikan bagi dirinya sendiri
maupun orang lain serta mampu menghadapi tantangan secara efektif dalam kehidupannya,
sehingga pembangunan manusia dan tujuan pembangunan milenium dapat tercapai.
2.Memahami dan menjelaskan tentang kehamilan pada remaja dan kehamilan yang tidak
diinginkan
Kehamilan pada remaja
Menurut BKKBN usia yang ideal 20-30 tahun, lebih atau kurang dari usia itu adalah berisiko.
Kesiapan untuk hamil dan melahirkan ditentukan oleh:

Kesiapan fisik
Kesiapan mental/emosi/psikologis
Kesiapan sosial ekonomi

Usia 20 tahun secara fisik dianggap sudah siap,


Mengapa banyak remaja (usia < 20 tahun) hamil saat ini?

Faktor sosiodemografik (kemiskinan, kebiasaan, peran wanita di masyarakat, seksualitas


aktif dan penggunaan kontrasepsi, media massa)
Karakteristik keluarga (hubungan antar keluarga)
Status perkembangan (kurang pemikiran tentang masa depan, ingin mencoba-coba,
kebutuhan terhadap perhatian)
Penggunaan dan penyalahgunaan obat obatan

Mengapa Remaja Melakukan Hubungan Seks?

Tekanan pasangan
Merasa sudah siap melakukan hubungan seks
Keinginan dicintai
Keingintahuan tentang seks
Keinginan menjadi popular
Tidak ingin diejek masih perawan
Film, tayangan TV, & media massa (termasuk internet) menampakkan bahwa normal
bagi remaja untuk melakukan hubungan seks
Tekanan dari seseorang untuk melakukan hubungan seks
21

Apa yang terjadi jika remaja menikah/hamil di usia muda?


Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilannya termasuk kontrol kehamilan
1. Risiko kehamilan (ibu & janin)
Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami risiko
2. Berakibat pada kematian ibu
Kehamilan usia muda dapat berisiko menderita kanker di masa yang akan datang
Gilbert, et al (2004): kehamilan remaja awal (11-15 th), remaja akhir (16-19 th). Komplikasi
pd kehamilan remaja: persalinan prematur, IUGR, BBLR & kematian perinatal. Studi thd
kelompok remaja hispanik & non hispanik, Afrika Amerika & Asia; hasil kehamilan:
kematian bayi & neonatal, BBLR, persalinan prematur, PEB, eklampsia, pyelonefritis,
komplikasi infeksi.
Ahmad (2004) dari laporan Save the Children: 1 dari 10 persalinan dialami oleh ibu yang
masih anak2, berusia 11-12 tahun ;komplikasi kehamilan dan persalinan membunuh 70,000
remaja puteri tiap tahun, jika pun selamat maka akan menderita injuri permanen. Estimasi
bayi yg dilahirkan pun 1 juta meninggal dlm tahun pertama kehidupannya. Risiko kematian >
tinggi 50% daripada bayi yang dilahirkan dari ibu berusia >20 tahun. Merekomendasikan
peningkatan biaya untuk pelayanan kesehatan, kelangsungan hidup anak dan program
keluarga berencana yang memenuhi kebutuhan remaja puteri
Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
Suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu
atau kedua orangtua bayi tersebut.
Faktor penyebabnya:

Karena kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar tentang proses terjadinya
kehamilan dan metode pencegahannya
Akibat terjadi tindak perkosaan
Kegagalan alat kontrasepsi

Jika remaja mengalami KTD:


Hanya ada pilihan Mempertahankan atau Aborsi, hal ini akan beresiko terhadap fisik, psikis dan
sosial remaja.
Mempertahankan Kehamilan
1. Risiko Fisik:
Kesulitan dalam persalinan seperti pendarahan, komplikasi lain (PEB, persalinan
prematur, IUGR, CPD) hingga kematian
2. Risiko Psikis/Psikologis.

22

a. Pihak perempuan menjadi ibu tunggal karena pasangan tidak mau


menikahinya atau tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya.
b. Kalau mereka menikah: perkawinan bermasalah yang penuh konflik
karena sama-sama belum dewasa dan siap memikul tanggung jawab
sebagai orang tua.
c. Pasangan muda terutama pihak perempuan : dibebani oleh berbagai
perasaan yng tidak nyaman (dihantui rasa malu terus menerus, rendah diri,
bersalah atau berdosa, depresi atau tertekan, pesimis dll) hingga gangguan
kejiwaan
3. Risiko Sosial
a. Berhenti atau putus sekolah atas kemauan sendiri krn rasa malu atau cuti
melahirkan.
b. Dikeluarkan dari sekolah : sekolah tidak mentolerir siswi hamil.
c. Menjadi objek gosip, kehilangan masa remaja yang seharusnya dinikmati,
dan terkena cap buruk karena melahirkan anak "di luar nikah" : kelahiran
anak di luar nikah masih menjadi beban orang tua maupun anak yang
lahir.
4. Risiko Ekonomi
Merawat kehamilan, melahirkan dan membesarkan bayi atau anak membutuhkan biaya besar
Mengakhiri Kehamilan
Abortus dalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah
kehamilan tersebut mampu untuk hidup diluar kandungan, dimana beratnya < 500 gram atau
sebelum kehamilan usia 20 minggu.
Abortus terbagi 2 :
1. Abortus spontan : Keguguran
2. Abortus buatan : Pengguguran, aborsi Imami/KRR 24
Risiko aborsi tidak aman :
1.

2.

3.

Risiko Fisik
Pendarahan dan komplikasi lain (infeksi, emboli, KE, robekan ddg rahim, kerusakan
leher rahim) kematian. Aborsi yang berulang: komplikasi dan juga mengakibatkan
kemandulan.
Risiko Psikis
Pelaku aborsi: perasaan takut, panik, tertekan atau stress, trauma mengingat proses aborsi
dan kesakitan. Kecemasan karena rasa bersalah dan dosa akibat aborsi bisa berlangsung
lama.
Depresi:
Perasaan sedih karena kehilangan bayi
Kehilangan kepercayaan diri
Risiko Sosial
Ketergantungan pada pasangan menjadi > besar karena perempuan merasa sudah
tidak perawan, pernah mengalami KTD dan aborsi.
23

4.

Remaja perempuan > sukar menolak ajakan seksual pasangannya.


Pendidikan terputus dan masa depan terganggu.
Risiko Ekonomi.
Biaya aborsi cukup tinggi. Bila terjadi komplikasi maka biaya menjadi semakin tinggi.
Kerugian dan bahaya KTD pd remaja

Remaja jadi putus sekolah


Kehilangan kesempatan meniti karir
Menjadi orangtua tunggal dan pernikahan dini yng tidak terencana
Kesulitan dalam beradaptasi secara psikologis (sulit mengharapkan adanya perasaan
kasih sayang)
Kesulitan beradaptasi menjadi orangtua (tidak bisa mengurus kehamilannya dan
bayinya)
Perilaku yang tidak efektif (stress, konflik)
Kesulitan beradaptasi dengan pasangan
Mengakhiri kehamilannya, aborsi illegal, kematian dan kesakitan ibu

Pencegahan Kehamilan tidak diinginkan


Pencegahan Kehamilan yang Tidak Diinginkan antara lain melalui beberapa yaitu:
1. Cara yang paling efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah
2. Mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan positif seperti olahraga, seni dan
kegiatan keagamaan
3. Hindari perbuatan yang dapat menyebabkan dorongan seksual seperti meraba-raba tubuh
pasangan maupun menonton video porno
4. Memperoleh informasi tentang manfaat dan menggunakan alat kontrasepsi, cara
menggunakannya serta kemungkinan kegagalannya
5. Pada pasangan yang telah menikah sebaiknya memakai kontrasepsi yang aman seperti
suntikan, sterilisasi, IUD dan implant.
Penanganan Kasus Kehamilan tidak diinginkan
Diperlukan penanganan ekstra sabar dan bersahabat pada remaja. Alternatif yang biasanya
digunakan menyelesaikan kehamilan tidak diinginkan antara lain dengan menyelesaikan secara
kekeluargaan, pasangan tersebut segera menikah
3. Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan risiko tinggi kehamilan
Pengertian
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum
stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat
dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.
(Ubaydillah, 2000).
Dampak
24

a. Keguguran.
Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut,
cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional
sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian
dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap
dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil
kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya
pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan
kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di
sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan
minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan
berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan
mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.
c. Mudah terjadi infeksi.
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat
hamil terlebih pada kala nifas.
d. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi.
Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya
gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami
anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah,
membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel
darah merah akan menjadi anemis..
e. Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan
terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan
eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
f. Kematian ibu yang tinggi.
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu
angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh
tenaga non profesional (dukun).
Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain:
a. Resiko bagi ibunya :
(1) Mengalami perdarahan.
25

Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah
dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang
tertinggal didalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi
oleh adanya sobekan pada jalan lahir.
(2) Kemungkinan keguguran / abortus.
Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran. hal ini disebabkan oleh
faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan obat-obatan maupun
memakai alat.
(3) Persalinan yang lama dan sulit.
Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.penyebab dari persalinan lama
sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan kekuatan his dan
mengejan serta pimpinan persalinan yang salah.
(4) Kematian ibu.
Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.
b. Dari bayinya :
(1) Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.
Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi karena pada
saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.
(2) Berat badan lahir rendah (BBLR).
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan hal ini
dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. dapat juga
dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.
(3) Cacat bawaan.
Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.hal ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus
rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon.
(4) Kematian bayi.kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian
perinatal.yang disebabkan berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari 37
minggu (259 hari), kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia.(Manuaba,1998).
Faktor-Faktor Resiko pada Kehamilan
Menurut Azrul Azwar (2008) faktor-faktor resiko pada ibu hamil meliputi:
1.

Umur

a.

Terlalu muda yaitu < 20 tahun


26

Pada usia ini rahim dan panggul ibu belum berkembang dengan baik sehingga
perludiwaspadai kemungkinan mengalami persalinan yang sulit.
b.

Terlalu tua yaitu > 35 tahun


Pada umur ini kesehatan dan rahim ibu sudah tidak baik seperti pada umur 20-35 tahun
sebelumnya sehingga perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya persalinan lama,
perdarahan dan resiko cacat bawaan.

2.

Paritas
Paritas lebih dari 3 perlu diwaspadai kemungkinan persalinan lama, karena semakin
banyak anak keadaan rahim ibu semakin lemah.

3.

Interval
Jarak persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekarang < 2 tahun, bila jarak terlalu
dekat maka rahim dan kesehatan ibu bulum pulih, keadaan ini perl diwaspadai persalinan
lama, kemungkinan pertumbuhan janin kurang baik atau perdarahan.

4.

Tinggi badan
Tinggi badan < 145 cm, pada keadaan ini paerlu diwaspadai ibu yang mempunyai
panggul sempit sehingga sulit untuk melahirkan

5.

Lingkar Lengan Atas


Lila < 23,5 cm, ini berarti ibu beresiko memderita KEK (Kekurangan Energi Kronik)
atau kekurangan gizi yang lama. Pada keadaan ini perlu diwaspadai kemungkinan ibu
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, pertumbuhan dan perkembangan otak
janin terhambat sehingga mempengaruhi kecerdasan anak dikemudian hari.

6.
Riwayat Keluarga menderita penyakit kencing manis (DM), Hipertensi dan riwayat cacat
kongenital.
7.

Kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau panggul


Menurut Wordpress (2008), faktor resiko atau resiko sedang dalam kehamilan yaitu:
tinggi badan kurang dari 145 cm, jarak antara kelahiran/ kehamilan kurang dari 2 tahun,
paritas lebih dari 3 orang, usia >35 tahun dan <20 tahun, serta lingkar lengan atas <23,5
cm.

Banyak Faktor yang menentukan resiko pada kehamilan contohnya:

Ibu hamil yang berusia diatas 35 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi diperlukannya
operasi Caesaria
Bila bayi terlalu besar atau berat badan naik terlalu berat masalah yang biasa terjadi
adalah kelahiran melalui vagina biasanya sulit terjadi.

27

Pada ibu hamil dengan factor resiko usia diatas 35 tahun, bayi biasannya berada pada
posis yang menimbulkan komplikasi pada saat kelahiran, seperti pada bagian pantat atau
kaki yang berada di bawah.
Placenta previa suatu keadaan dimana placenta menutup saluran rahim baik sescara
keseluruhan maupun hanya sebagian, yang menyebabkan diperlukannya operasi Caesar.

Tanda-Tanda Bahaya pada Kehamilan


Tanda-tanda bahaya pada kehamilan adalah keadaan pada ibu hamil yang mengancam jiwa ibu
atau janin yang dikandungnya.
Tanda bahaya pada kehamilan adalah:
a.

Perdarahan pervaginam

b.

Sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak menghilang

c.

Perubahan visual yang hebat

d.

Nyeri abdomen yang hebat

e.

Bayi kurang bergerak seperti biasa

f.

Pembengkakan pada wajah dan tangan

Penatalaksanaan
Kehamilan dengan faktor resiko dapat dicegah bila gejalanya dapat ditemukan sedini mungkin
sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikannya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan:
1. Ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya sedini mungkin dan teratur ke petugas
kesehatan minimal 4 kali selama kehamilan.
2. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT 1 dan TT 2
3. Bila ditemukan dengan kelainan resiko tinggi, pemeriksaan harus lebih sering dan lebih
intensif
4. Mengkonsumsi makanan dengan pola makan teratur dan gizi seimbang.
Kehamilan dengan faktor resiko dapat dihindari dengan mengenali tanda-tanda kehamilan
beresiko serta segera datang ke petugas kesehatan bila ditemukan tanda-tanda bahaya kehamilan
4. Memahami dan menjelaskan audit maternal dan perinatal tentang kematian ibu dan
bayi
Angka kematian ibu
I.

Kematian Ibu
Kematian ibu menurut International Classification of Diseases (ICD) adalah kematian wanita
dalam kehamilan atau 42 hari pasca terminasi kehamilan, tanpa memandang usia kehamilan dan
kelainan kehamilan, yang disebabkan baik oleh kehamilannya maupun tatalaksana, namun bukan
akibat kecelakaan. Kematian ini terbagi dua, yaitu kematian langsung dan tidak langsung.
28

Kematian yang bersifat koinsidental, terjadi selama masa kehamilan atau 42 hari pascaterminasi
kehamilan, namun tidak terkait dengan kehamilannya.
Saat ini, WHO telah menetapkan sistem klasifikasi kematian ibu. Sistem klasifikasi kematian ibu
bertujuan:
Mengembangkan sistem klasifikasi standar guna identifikasi kausa kematian ibu
yang akurat, diperlukan perbandingan berbagai studi penelitian
Menjamin sistem tersebut dapat diterapkan secara luas
Mengembangkan sistem klasifikasi paralel terhadap morbiditas maternal berat.
Hal-hal yang mendasari sebab kematian ibu, dapat diklasifikasikan berdasarkan sejumlah
variabel, yaitu sebab/kondisi yang secara langsung mendasari kematian, gejala/tanda dari
penyakit yang menyebabkan kematian, misalnya perdarahan pascapartum, dan kondisi lain yang
memperberat sebab kematian, misalnya HIV dan Anemia. Prinsip sistem klasifikasi kematian ibu
menurut WHO, yaitu:
Harus dapat diterapkan dan dipahami dalam penggunaannya, baik oleh dokter, ahli
epidemiologi, dan pihak-pihak lain yang terkait.
Kondisi/penyakit spesifik dengan sebab yang belum jelas harus dipisah dari kondisi
lainnya.
Sistem klasifikasi baru harus sesuai dengan International Classification of Diseases
(ICD)

Penyebab kematian ibu di berbagai belahan dunia dapat dilihat pada gambar berikut:

29

II.

Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI)


Angka kematian ibu merupakan angka yang didapat dari jumlah kematian ibu untuk setiap
100.000 kelahiran hidup, sehingga berkaitan langsung dengan kematian ibu. Penyebab kematian
tersebut dapat berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kehamilan, dan umumnya
terdapat sebab utama yang mendasari. Dalam upaya memudahkan identifikasi kematian ibu,
WHO telah menetapkan sejumlah sistem klasifikasi kematian ibu. Dengan adanya sistem ini,
diharapkan akan meningkatkan kewaspadaan, perencanaan tindakan, dan pada akhirnya akan
menurunkan angka kematian ibu.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan
perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam
tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana
target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah
kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke
waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih
membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.
Pencapaian dan Proyeksi Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 1994-2015
(Dalam 100.000 Kelahiran Hidup)

Gambar diatas menunjukkan trend AKI Indonesia secara Nasional dari tahun 1994 sampai
dengan tahun 2007, dimana menunjukkan penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 Kelahiran
Hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Sementara target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ada sebesar 226 per 100.000 Kelahiran
Hidup.
III.

Penyebab Kematian Ibu Melahirkan


Sejumlah kondisi mayor terkait dengan angka mortalitas maternal. Penyebab mayor dari
kematian ibu ternyata berkontribusi besar terhadap kematian bayi.

30

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka
kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini.
Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan,
keracunan kehamilan yang disertai kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor
lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar
belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan
juga berpengaruh. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya ikut aktif dalam segala permasalahan
bidang reproduksi secara lebih bertanggung jawab. Selain masalah medis, tingginya kematian
ibu juga karena masalah ketidaksetaraan gender, nilai budaya, perekonomian serta rendahnya
perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang
menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar
perempuan dapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan
perawatan ibu baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat terutama suami.
Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi
saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa
diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu.
Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia
uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan
pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan
penyebab utama kedua kematian ibu, yaitu 24 persen kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia
adalah 12 persen). Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses
terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena
eklampsia.

31

Distribusi Persentase Penyebab Kematian Ibu Melahirkan


Aborsi yang tidak aman. Bertanggung jawab ter hadap 11 persen kematian ibu di Indonesia
(ratarata dunia 13 persen). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika perempuan mempunyai
akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi.
Data dari SDKI 20022003 menunjukkan bahwa 7,2 persen kelahiran tidak diinginkan.
Prevalensi pemakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi modern memainkan peran penting untuk
menurunkan kehamilan yang tidak diinginkan. SDKI 20022003 menunjukkan bahwa kebutuhan
yang tak terpenuhi (unmet need) dalam pemakaian kontrasepsi masih tinggi, yaitu sembilan
persen dan tidak mengalami banyak perubahan sejak 1997. Angka pemakaian kontrasepsi
(Contraceptive Prevalence Rate) di Indonesia naik dari 50,5 persen pada 1992 menjadi 54,2
persen pada 20026 (Gambar 2 dan Tabel 1). Untuk indikator yang sama, SDKI 20022003
menunjukkan angka 60.3 persen.
Pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan terlatih. Pola penyebab kematian di atas
menunjukkan bahwa pelayanan obstetrik dan neonatal darurat serta pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan terlatih menjadi sangat penting dalam upaya penurunan kematian ibu.
Walaupun sebagian besar perempuan bersalin di rumah, tenaga terlatih dapat membantu
mengenali kegawatan medis dan membantu keluarga untuk mencari perawatan darurat. Proporsi
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih terus meningkat dari 40,7 persen pada
1992 menjadi 68,4 persen pada 2002. Akan tetapi, proporsi ini bervariasi antarprovinsi dengan
Sulawesi Tenggara sebagai yang terendah, yaitu 35 persen, dan DKI Jakarta yang tertinggi, yaitu
96 persen, pada 20028 (Tabel 2 dan 3). Proporsi ini juga berbeda cukup jauh mengikuti tingkat
pendapatan. Pada ibu dengan dengan pendapatan lebih tinggi, 89,2 persen kelahiran ditolong
oleh tenaga kesehatan, sementara pada golongan berpendapatan rendah hanya 21,39 persen. Hal
ini menunjukkan tidak meratanya akses finansial terhadap pelayanan kesehatan dan tidak
meratanya distribusi tenaga terlatih terutama bidan.
32

Penyebab tidak langsung. Risiko kematian ibu dapat diperparah oleh adanya anemia dan
penyakit menular seperti malaria, tuberkulosis (TB), hepatitis, dan HIV/AIDS. Pada 1995,
misalnya, prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu 51 persen, dan pada ibu
nifas 45 persen.10 Anemia pada ibu hamil mempuyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak
dalam kandungan, meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi dengan berat lahir
rendah, serta sering menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Faktor lain yang
berkontribusi adalah kekurangan energi kronik (KEK). Pada 2002, 17,6 persen wanita usia subur
(WUS) men derita KEK. Tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, dan akses
terhadap sarana kesehatan dan transportasi juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap
kematian dan kesakitan ibu. Situasi ini diidentifikasi sebagai 3 T (terlambat). Yang pertama
adalah terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dalam
mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal. Kedua,
terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya transportasi.
Ketiga, terlambat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai di tempat rujukan.
4T (Terlambat)
1. Terlambat deteksi dini adanya resiko tinggi pada ibu hamil di tingkat keluarga
2. Terlambat untuk memutuskan mencari pertolongan pada tenaga kesehatan
3. Terlabat untuk datang di fasilitas pelayanan kesehatan
4. Terlambat untuk mendapatkan pertolongan pelayanan kesehatan yang cepat dan
berkualitas di fasilitas pelayanan kesehatan
4T (Terlalu), yang mempunyai resiko tinggi:
1. Terlalu muda
2. Terlalu tua
3. Terlalu sering
4. Terlalu banyak
IV.

Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan


Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif masih rendahnya
cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Departemen Kesehatan menetapkan target 90 persen
persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. Perbandingan dengan hasil survei SDKI
bahwa persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional meningkat dari 66 persen dalam
SDKI 2002-2003 menjadi 73 persen dalam SDKI 2007. Angka ini relatif rendah apabila
dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand di mana angka
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hampir mencapai 90%. Apabila dilihat dari
proyeksi angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan nampak bahwa ada pelencengan
dari tahun 2004 dimana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dibawah dari angka
proyeksi, apabila hal ini tidak menjadi perhatian kita semua maka diperkirakan angka
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 90 % pada tahun 2010 tidak akan tercapai,
konsekuensi lebih lanjut bisa berimbas pada resiko angka kematian ibu meningkat. Kondisi
geografis, persebaran penduduk dan sosial budaya merupakan beberapa faktor penyebab
rendahnya aksesibilitas terhadap tenaga pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, dan
tentunya disparitas antar daerah akan berbeda satu sama lain.
Tempat Persalinan dan Penolong Persalinan dengan Kualifikasi Terendah

33

Distribusi Persentase Anak Lahir Hidup Terakhir Dalam Lima Tahun

Sementara dilihat dari latar belakang pendidikan, ibu dengan status tidak sekolah lebih
banyak ditolong oleh Dukun bayi.

34

Apabila dilihat dari tren pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dari tahun
2000-2007 menunjukkan bahwa pertolongan persalinan oleh dokter dari tahun trendnya
meningkat baik di desa maupun di kota. Bahkan di daerah perkotaan angka pertolongan
persalinan oleh dokter pada tahun 2007 telah lebih dari 20%. Sedangkan cakupan pertolongan
persalinan oleh bidan relatif tidak banyak bergerak bahkan apabila dibandingkan antara tahun
2007 dan 2004 secara total pertolongan persalinan oleh bidan kecenderunganya menjadi turun.
V.

Upaya Menurunkan AKI


1. Peningkatan pelayanan kesehatan primer menurunkan AKI 20%
2. Sistem rujukan yang efektif menurunkan sampai 80%
Upaya safe motherhood
Tahuin 1988 diadakan Lokakarya Kesejahteraan Ibu, yang merupakan kelanjutan konferensi
tentang kematian ibu di Nairobi setahuin sebelumnya. Lokakarya bertujuan mengemukakan
betapa kompleksnya masalah kematian ibu, sehingga penanganannya perlu dilaksanakan
berbagai sector dan pihak terkait. Pada waktu itu ditandatangani kesepakatam oleh sejumlah 17
sektor. Sebagai koordinator dalam upaya itu ditetapkan Kantor Menteri Negara Urusan Peranan
Wanita ( sekarang : Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ).
Tahun 1990-1991, Departemen Kesehatan dibantu WHO, UNICEF, dan UNDP melaksanakan
Assessment Safe Motherhood. Suatu hasil dari kegiatan ini adalah rekomendasi Rencana
Kegiatan Lima Tahun. Departemen Kesehatan menerapkan rekomendasi tersebut dalam bentuk
strategi operasional untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu ( AKI ). Sasarannya
adalah menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada 1986, menjadi 225 pada
tahun 2000.
Awal tahun 1996, Departemen Kesehatan mengadakan Lokakarya Kesehatan Reproduksi, yang
menunjukkan komitmen Indonesia untuk melaksanakan upaya kesehatan resproduksi
sebagaimana dinyatakan dalam ICPD di Kairo. Pada pertengahan tahun itu juga, Menperta
meluncurkan Gerakan Sayang Ibu, yaitu upaya advokasi dan mobilisasi social untuk mendukung
upaya percepatan penurunan AKI

35

Intervensi Strategis Dalam Upaya Safe Motherhood

SAFE MOTHERHOOD
ASUHAN

KB

ANTE
NATAL

PERSALINAN
BERSIH DAN
AMAN

PELAYAN
AN
OBSTETRI
ESENSIAL

PELAYANAN KEBIDANAN
DASAR
PELAYANAN KESEHATAN PRIMER
PEMBERDAYAAN WANITA

Intervensi strategis dalam upaya safe motherhood dinyatakan sebagai empat pilar safe
motherhood, yaitu :
a. Keluarga berencana, yang memastikan bahwa setiap orang/pasangan mempunyai akses
ke informasi dan pelayanan KB agar dapat merencanakan waktu yang tepat untuk
kehamilan, jarak kehamilan dan jumlah anak. Dengan demikian diharapkan tidak ada
kehamilan yang tak diinginkan. Kehamilan yang masuk dala, kategori 4 terlalu, yaitu
terlalu muda atau terlaluEmpat
tua pilar
untuk
Safekehamilan,
Motherhood terlalu sering hamil dan terlalu banyak
anak.
b. Pelayanan antenatal, untuk mencegah adanya komplikasi obstetrik bila mungkin dan
memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.
c. Persalinan yang aman, memastikan bahwa semua penolong persalinan mempunyai
pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan
bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi
d. Pelayanan obstetrik esensial, memastikan bahwa pelayanan obstetrik untuk resiko tinggi
dan komplikasi tersedia bagi ibu hamil yang membutuhkannya.
Keempat intervensi strategis diatas perlu dilaksanakan lewat pelayanan kesehatan dasar, dan
bersendikan kesetaraan hak dan status bagi wanita.
Kebijaksanaan Departemen Kesehatan dalam penurunan AKI Tingginya AKI di Indonesia yaitu
390 per 100.000 kelahiran hidup ( SDKI, 1994 ) tertinggi di ASEAN, menempatkan upaya
penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti
36

halnya di negara lain adalah pendarahan, infeksi, dan eklampsia. Ke dalam pendarahan dan
infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi
dan partus lama. Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk
akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis.
Selain itu, keadaan ibu sejak pra-hamil dapat berpengaruh terhadap kehamilannya. Penyebab tak
langsung kematian ibu ini antara lain adalah anemia, kurang energi kronis ( KEK ) dan keadaan
4 terlalu ( terlalu muda/tua, terlalu sering, dan terlalu banyak ). Tahun 1995, kejadian anemia
ibu hamil sekitar 51%, dan kejadian resiko KEK pada ibu hamil ( lingkar / lengan atas kurang
dari 23,5 cm ) sekitar 30%.
Lagipula, seperti dikemukakan diatas, kematian ibu diwarnai oleh hal-hal nonteknis yang masuk
kategori penyebab mendasar, seperti rendahnya status wanita, ketidakberdayaannya dan tarif
pendidikan yang rendah. Hal nonteknis ini ditangani oleh sektor terkait diluar sektor kesehatan,
sedangkan sector kesehatan lebih memfokuskan intervensinya untuk mengatasi penyebab
langsung dan tidak langsung dari kematian ibu.
Dalam menjalankan fokus intervensinya itu Departemen Kesehatan tetap memerlukan dukungan
dari sektor dan pihak terkait lainnya. Kebijakan Departemen Kesehatan tersebut dalam upaya
mempercepat penurunan AKI pada dasarnya mengacu kepada inventarisasi strategis Empat
pilar Safe Mothehood . Dewasa ini, program keluarga berencana sebagai pilar pertama telah
dianggap berhasil. Namun, untuk mendukung upaya mempercepat penurunan AKI, diperlukan
penajaman sasaran agar kejadian 4 terlalu dan kehamilan yang tak diinginkan dapat ditekan
serendah mungkin. Akses terhadap pelayanan antenatal sebagai pilar kedua cukup baik, yaitu
87% pada tahun 1997; namun mutunya masih perlu ditingkatkan terus.. persalinan yang aman
sebagai pilar ketiga - yang dikategorikan sebagai pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
pada tahun 1997 baru mempunyai 60%.
Untuk mencapai AKI sekitar 200 per 100.000 kelahiran hidup diperlukan cakupan persalinan
oleh tenaga kesehatan sekitar angka 80%. Cakupan pelayanan obstetrik esensial sebagai pilar
keempat masih sangat rendah, dan mutunya belum optimal. Mengingat kira-kira 90% kematian
ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi
obstetrik yang sering tak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijaksanaan Departemen
Kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar setiap persalinan
ditolong atau minimal didampingi oleh bidan, dan pelayanan obstetrik sedekat mungkin kepada
semua ibu hamil.
Salah satu upaya terobosan yang cukup mencolok untuk mencapai keadaan tersebut adalah
pendidikan sejumlah 54.120 bidan ditempatkan di desa selama 1989/1990 sampai 1996/1997.
Dalam pelaksanaan operasional, sejak tahun 1994 diterapkan strategi berikut :
a. Penggerakan Tim Dati II ( Dinas Kesehatan dan seluruh jajarannya sampai ke tingkat
kecamatan dan desa, RS Dati II dan pihak terkait ) dalam upaya mempercepat penurunan
AKI sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
b. Pembinaan daerah yang intensif di setiap Dati II, sehingga pada akhir Pelita VII :
- Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 80% atau lebih.
- Cakupan penanganan kasus obstetrik ( resiko tinggi dan komplikasi obstetrik ) minimal
meliputi 10% seluruh persalinan.
- Bidan mampu memberikan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan obstetrik
neonatal dan puskesmas sanggup memberikan pelayanan obstetrik-neonatal esensial
dasar ( PONED ), yang didukung oleh RS Dati II sebagai fasilitas rujukan utama yang
mampu menyediakan pelayanan obstetrik-neonatal esensial komprehensif ( PONEK ) 24
37

jam; sehingga tercipta jaringan pelayanan obstetrik yang mantap dengan bidan desa
sebagai ujung tombaknya.
c. Penerapan kendali mutu layanan kesehatan ibu, antara lain melalui penerapan standar
pelayanan, prosedur tetap, penilaian kerja, pelatihan klinis dan kegiatan audit maternalperinatal.
d. Meingkatkan komunikasi, informasi, dan esukasi ( KIE ) untuk mendukung upaya
percepatan penurunan AKI
e. Pemantapan keikutsertaan masyrakat dalam berbagai kegiatan pendukung untuk
mempercepat penurunan AKI.
Keterlibatan Lintas Sektor
Dalam mempercepat penurunan AKI, keterlibatan sector lain disamping kesehatan sangat
diperlukan. Berbagai bentuk keterlibatan lintas sector dalam upaya penurunan AKI adalah
sebagai berikut :
a. Gerakan Sayang Ibu ( GSI )
GSI dirintis oleh kantor Menperta pada tahun 1996 di 8 kabupaten perintis di 8 propinsi.
Ruang lingkup kegiatan GSI meliputi advokasi dan mobilisasi social. Dalam pelaksanaannya,
GSI mempromosikan kegiatan yang berkaitan dengan Kecamatan Sayang Ibu dan Rumah
Sakit Sayang Ibu, unruk mencegah tiga macam keterlambatan, yaitu :
- Keterlambatan di tingkat keluarga dalam mengenali tanda bahaya dan membuat
keputusan untuk segera mencari pertolongan.
- Keterlambatan dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan
- Keterlambatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat pertolongan yang
dibutuhkan.
Kegiatan yang terkait dengan Kecamatan Sayang Ibu berusaha mencegah keterlambatan
pertama dan kedua, sedangkan kegiatan yang terkait dengan Rumah Sakit Sayang Ibu adalah
mencegah keterlambatan ketiga.
Pada tahun 1997 diadakan Rakornas GSI yang diadakan bersamaan dengan Rakerkesnas.
Pada saat itu pengalaman di 8 kabupaten perintis diinformasikan ke wakil-eakil semua
propinsi dan selanjutnya mereka diharapkan akan melaksanakan kegiatan GSI. Sampai
pertengahan 1998 upaya perluasan kegiatan GSI masih terus dilaksanakan.
b. Kelangsungan hidup, perkembangan dan perlindungan ibu dan anak
Upaya yang dirintis sejak 1990 oleh Dirjen Pembangunan Daerah, Depdagri, dengan bantuan
UNICEF yang lebih dikenal sebagai upaya KHPPIA ini bertujuan menghimpun koordinasi
lintas sector dalam penentuan kegiatan dan pembiayaan dari berbagai sumber dana, antara
lain untuk menurunkan AKI dan AKB. Kegiatan utamanya adalah koordinasi perencanaan
kegiatan dari sector terkait dalam upaya itu. Propinsi yang dilibatkan adalah mereka yang
mendapat bantuan UNICEF, namun pola ini akan diperluas oleh Depdagri ke semua propinsi.
c. Gerakan Reproduksi keluarga Sehat ( GRKS )
GRKS dimulai oleh BKKBN sebagai kelanjutan dari Gerakan Sayang Ibu Sehat Sejahtera.
Gerakan ini intinya merupakan upaya promosi mendukung terciptanya keluarga yang sadar
akan pentingnya mengupayakan kegiatan reproduksi. Di antara masalah yang dikemukakan
adalah masalah kematian ibu. Karena itu, promosi yang dilakukan melalui GRKS juga
termasuk promosi untuk kesejahteraan ibu.
Selain ketiga upaya lintas sector tersebut, masih ada perbagai kegiatan lain yang
dilaksanakan pihak terkait, seperti organisasi profesi, yaitu POGI, IBI, Perinasia, PKK, dan
pihak lain sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing
38

Pemantauan dan Evaluasi


Dalam memantau program kesehatan ibu, dewasa ini digunakan indicator cakupan, yaitu :
cakupan antenatal ( K1 untuk askes dan K4 untuk kelengkapan layanan antenatal ), cakupan
persalinan oleh tenaga kesehatan dan cakupan kunjungan neonatal/nifas. Untuk itu, sejak awal
tahun 1990-an telah digunakan alat pantau berupa Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan
Ibu dan Anak ( PWS-KIA ), yang mengikuti jejak program imunisasi. Dengan adanya PWSKIA, data cakupan layanan program kesehatan ibu dapat diperoleh setiap tahunnya dari semua
propinsi.
Walau demikian, disadari bahwa indikator cakupan tersebut cukup memberikan gambaran untuk
menilai kemajuan upaya menurunkan AKI. Mengingat bahwa mengukur AKI, sebagai indicator
dampak, secara berkala dalam waktu kurang dari 5-10 trahun tidak realistis, maka para pakar
dunia menganjurkan pemakaian indikator praktis atau indikator outcome. Indicator tersebut
antara lain :
a. Cakupan penanganan kasus obstetrik
b. Case fatality rate kasus obstetric yang ditangani.
c. Jumlah kematian absolute
d. Penyebaran fasilitas pelayanan obstetric yang mampu PONEK dan PONED
e. Persentase bedah sesar terhadap seluruh persalinan di suatu wilayah
Indikator gabungan tersebut akan lebih banyak digunakan dalam Repelita VII, agar pemantauan
dan evaluasi terhadap upaya penurunan AKI lebih tajam.
Antenatal Care
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa
kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam
Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta
intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam
penerapannya terdiri atas:
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
2. Ukur tekanan darah.
3. Nilai Status Gizi (ukur lingkar lengan atas).
4. Ukur tinggi fundus uteri.
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila
diperlukan.
7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
8. Test laboratorium (rutin dan khusus).
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K) serta KB pasca persalinan.
Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan golongan darah, hemoglobin,
protein urine dan gula darah puasa. Pemeriksaan khusus dilakukan di daerah prevalensi tinggi
dan atau kelompok berrisiko, pemeriksaan yang dilakukan adalah hepatitis B, HIV, Sifilis,
malaria, tuberkulosis, kecacingan dan thalasemia.
Dengan demikian maka secara operasional, pelayanan antenatal disebut lengkap
apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Ditetapkan pula

39

VI.

VII.

VIII.

bahwa frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan
ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai berikut :
- Minimal 1 kali pada triwulan pertama.
- Minimal 1 kali pada triwulan kedua.
- Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.
Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada
ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.
Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada Ibu
hamil adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat.
Pertolongan Persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pada kenyataan di lapangan, masih terdapat
penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan
kesehatan. Oleh karena itu secara bertahap seluruh persalinan akan ditolong oleh tenaga
kesehatan kompeten dan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Pencegahan infeksi
2. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.
3. Manajemen aktif kala III
4. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
5. Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
6. Memberikan Injeksi Vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir.
Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan pertolongan persalinan
adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter dan bidan.
Mempercepat Penurunan AKI
1. Peningkatan deteksi dan penanganan RISTI
2. Peningkatan cakupan pertolongan/pendampingan
3. Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan maternal
4. Peningkatan pembinaan teknis bidan
5. Pemantapan kerja Dinkes dan RS
6. Pemantapan kemampuan pengelolaan KIA
7. Peningkatan peran serta lintas program
Indikator Keberhasilan
1. Jumlah kematian maternal menurun
2. Cakupan akses dan pelayanan ANC
3. Cakupan persalinan yang ditolong/didampingi
4. Adanya fasilitas POED dan POEK
5. Proporsi RISTI yang ditangani adekuat
6. Case fatality rate RISTI per tahun dibagi jumlah RISTI yang ditangani kali 100%
7. Presentasi bedah sesar terhadap seluruh persalinan
Program Dari Puskesmas
Standar minimal ANC:
1. Medical record
2. Anamnesis
3. Pemeriksaan fisik 7K
4. Pemeriksaan penunjang K1: golongan darah, Hb, AL, urine (protein, reduksi)
40

5. Pemeriksaan pada minggu 12: Hb, AL, urine, konsultasi gizi


6. Pemeriksaan pada minggu ke 36: Hb, AL, CT, BT, urine
7. Konsultasi dokter ahli pada minggu 12, 28, 36, 40
8. USG:
Minggu 12: kondisi janin
Minggu 28: presentasi, kelainan plasenta
Minggu 36: presentasi, rencana persalinan
AUDIT MATERNAL DAN PERINATAL
Audit maternal perinatal nerupakan suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan dan
kematian ibu dan perinatal dengan maksud mencegah kesakitan dan kematian dimasa yang akan
datang. Penelusuran ini memungkinkan tenaga kesehatan menentukan hubungan antara faktor
penyebab yang dapat dicegah dan kesakitan/kematian yang terjadi. Dengan kata lain, istilah audit
maternal perinatal merupakan kegiatan death and case follow up. Dari kegiatan ini dapat
ditentukan:

Sebab dan faktor-faktor terkaitan dalam kesakitan/kematian ibu dan perinatal


Dimana dan mengapa berbagai sistem program gagal dalam mencegah kematian
Jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan

Audit maternal perinatal juga dapat berfungsi sebagai alat pemantauan dan sistem rujukan. Agar
fungsi ini berjalan dengan baik, maka dibutuhkan :
1. Pengisian rekam medis yang lengkap dengan benar di semua tingkat pelayanan
kesehatan
2. Pelacakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara otopsi verbal,
yaitu wawancara kepada keluatga atau orang lain yang mengetahui riwayat penyakit
atau gejala serta tindakan yang diperoleh sebelum penderita meninggal sehingga dapat
diketahui perkiraan sebab kematian.
Tujuan umum audit maternal perinatal adalah meningkatkan mutu pelayanan KIA di seluruh
wilayah kabupaten/kota dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu dan perinatal
Tujuan khusus audit maternal adalah :
a.

Menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatal secara teratur dan
berkesimnambungan, yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit
pemerintah atau swasta dan puskesmas, rumah bnersalin (RB), bidan praktek swasta atau
BPS di wilayah kabupaten/kota dan dilintas batas kabupaten/kota provinsi
b. Menetukan intervensi dan pembinaan untuk masing-masing pihak yang di perlukan untuk
mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dalam pembahasan kasus
c. Mengembangkan mekanisme koordinasi antara dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit
pemerintah/swasta, puskesmas, rumah sakit bersalin dan BPS dalam perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap intervensi yang disepakati.
Dalam pelaksanaan audit maternal perinatal ini diperlukan mekanisme pencatatan yang akurat
,baik ditingkat puskesmas,maupun ditingkat RS kabupaten/kota .pencatatan yang diperlukan
adalah sebagai berikut

41

A.Tingkat puskesmas
Selain menggunakan rekam medis yang sudah ada dipuskesmas ,ditambahkan pula :
1.

Formulir R (formulir rujukan maternal dan perinatal )


Formulir ini dipakai oleh puskesmas,bidan didesa maupunbidan swasta untuk merujuk
kasus ibu maupun perinatal.

2.

Form OM dan OP (formulir otopsi verbal maternal dan perinatal )


Untuk otopsi verbal ibu hamil/bersalin/nifas yang meninggal sedangkan form OP untuk
otopsi verbal perinatal yang meninggal . untuk mengisi formulir tersebut dilakukan
wawancara terhadap keluarga yang meninggal oleh tenaga puskesmas.

B.Tingkat RS kabupaten/kota
Formulir yang dipakai adalah
1.

Form MP (formulir maternal dan perinatal )


Form ini mencatat data dasar semua ibu bersalin /nifas dan perinatal yang masuk
kerumah sakit. Pengisiannya dapat dilakukan oleh perawat

2.

Form MA (formulir medical audit )


Dipakai untuk menulis hasil/kesimpulan dari audit maternal maupun audit perinatal.
Yang mengisi formulir ini adalah dokter yang bertugas dibagian kebidanan dan
kandungan (untuk kasus ibu) atau bagian anak (untuk kasus perinatal)

Pelaporan hasil kegiatan dilakukan secara berjenjang ,yaitu :


1.

Laporan dari RS kabupaten/kota ke dinas kesehatan


Laporan bulanan ini berisi informasi mengenai kesakitan dan kematian (serta sebab
kematian ) ibu dan bayi baru lahir bagian kebidanan dan penyakit kandungan serta bagian
anak.

2.

Laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota


Laporan bulanan ini berisi informasi yang sama seperti diatas ,dan jumlah kasus yang
dirujuk ke RS kabupaten/kota

3.

Laporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota ketingkat propinsi


Laporan triwulan ini berisi informasi mengenai kasus ibu dan perinatal ditangani oleh Rs
kabupaten /kota ,puskesmas dan unit pelayanan KIA lainnya ,serta tingkat kematian dari
tiap jenis komplikasi atau gangguan . laporan merupakan rekapitulasi dari form MP dan
form R,yang hendaknya diusahakan agar tidak terjadi duplikasi pelaporan untuk kasus
yang dirujuk ke RS.

42

Pada tahap awal ,jenis kasus yang dilaporkan adalah komplikasi yang paling sering
terjadi pada ibu maternal dan perinatal.
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari tiga komponen demografi selain
fertilitas dan migrasi, yang dapat mempengaruhi jumlah dan komposisi umur penduduk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa
menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap
saat setelah kelahiran hidup.
Bermacam-macam indikator mortalitas atau angka kematian yang umum dipakai adalah:
1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR).
Konsep Dasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya
kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut
kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai risiko kematian
yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
Kegunaan
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan pengaruh umur
penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk
memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang
bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan
pertumbuhan penduduk alamiah.
Definisi
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per 1000
penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.

X 1000
xk
Dimana:
D

: Jumlah kematian pada tahun x

: jumlah penduduk pada pertengahan tahun x

: 1000

Catatan1: P idealnya adalah "jumlah penduduk pertengahan tahun tertentu" tetapi yang umumnya
tersedia adalah "jumlah penduduk pada satu tahun tertentu" maka jumlah dapat dipakai sebagai
pembagi. Kalau ada jumlah penduduk dari 2 data dengan tahun berurutan, maka rata-rata kedua
data tersebut dapat dianggap sebagai penduduk tengah tahun.
43

2.

Age Specific Death Rate (ASDR = Angka Kematian Menurut Umur)

3. Angka Kematian Bayi (AKB)


Konsep Dasar
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar,
dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian
bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktorfaktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau
didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah
usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang
bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Kegunaan Angka Kematian Bayi dan Balita
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka
kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan
berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal
disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program
untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program
pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita
dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan
penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian
makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Definisi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per
1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
X 1000

Angka kematian neo-natal


44

Definisi
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau
28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

Dimana :
Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0-<1bulan
D 0-<1bulan =Jumlah Kematian Bayi umur 0 - kurang 1 bulan pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu.
lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu
K = 1000
Angka kematian post neo-natal
Definisi
Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian yang terjadi
pada bayiyang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun per 1000 kelahiran hidup
pada satu tahun tertentu.
Rumus

Angka Kematian Post Neo-Natal = angka kematian bayi berumur 1 bulan sampai dengan kurang
dari 1 tahun
D 1bulan-<1tahun = Jumlah kematian bayi berumur satu bulan sampai dengan kurang dari 1
tahun pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
K = konstanta (1000)
45

4.
Angka Kematian Balita (AKBa 0-5 tahun)
Konsep
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0
sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan
notasi 0-4 tahun.
Definisi
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun
tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi)
Cara Menghitung

Dimana:
Jumlah Kematian Balita (0-4)th = Banyaknya kematian anak berusia 0-4 tahun pada satu tahun
tertentu di daerah tertentu
Jumlah Penduduk Balita (0-4)th = jumlah penduduk berusia 0-4 th pada pertengahan tahun
tertentu di daerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000.
5. Angka Kematian Anak (AKA 1-5 tahun)
Konsep
Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia satu sampai
menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari.
Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi keadaan
salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi
penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi
Utomo, 1985).
Definisi
Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun selama satu tahun
tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu. Jadi Angka Kematian Anak
tidak termasuk kematian bayi.

46

Dimana:
Jumlah kematian Anak (1-4)th =Banyaknya kematian anak berusia 1-4 th (yang belum tepat
berusia 5 tahun) pada satu tahun tertentu di daerah tertentu.
Jumlah Penduduk (1-4) th =jumlah penduduk berusia 1-4 th pada pertengahan tahun tertentu
didaerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000
6. Angka Kematian IBU (AKI)
Konsep
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42
hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan,
yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena
sebab-sebab lain sepertikecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Definisi
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama
42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang
disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per
100.000 kelahiran hidup.
Cara Menghitung
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000
kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum. Dengan cara
ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000 kelahiran.

47

Dimana:
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena
kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah
tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.
Keterbatasan
AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel yang besar, mengingat
kejadian kematian ibu adalah kasus yang jarang. Oleh karena itu kita umumnya dignakan AKI
yang telah tersedia untuk keperluan pengembangan perencanaan program.
5.Memhami dan menjelaskan kehamilan di usia muda dan diluar nikah menurut islam
Haram hukumnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang mengandung anak dari
orang lain. Karena hal itu akan mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut.
Dalilnya adalah beberapa nash berikut ini:
Nabi SAW bersabda, "Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina)"
Nabi SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari
akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain." (HR Abu Daud dan Tirmizy)
Adapun bila wanita yang hamil itu dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya di luar nikah,
maka umumnya para ulama membolehkannya, dengan beberapa varisasi detail pendapat :
Pendapat Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yang menikahi
wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang
menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh
menggaulinya hingga melahirkan.
Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal
mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh mengawini wanita yang hamil. Kecuali
setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya. Imam Ahmad
menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika
belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapa pun. Demikian
48

disebutkan di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An- Nawawi, jus
XVI halaman 253.
Pendapat Imam Asy-Syafi'i Adapun Al-Imam Asy-syafi'i, pendapat beliau adalah bahwa baik
laki-laki yang menghamili atau pun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya.
Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy- Syairazi juz II
halaman 43.
Semua pendapat yang menghalalkan wanita hamil di luar nikah dikawinkan dengan laki-laki
yang menghamilinya, berangkat dari beberapa nash berikut ini :
Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan
seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor
dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR Tabarany
dan Daruquthuny).
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Isteriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau
menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`.
(HR Abu Daud dan An- Nasa`i)

Apakah hukumnya jika wanita yang hamil diluar nikah itu ditikahkan? Kemudian apa status anak
tersebut secara humum Islam ?
Untuk masalah tersebut, tidak ada ayat Quran atau Hadits yang menegaskan untuk masalah ini.
Sehingga melahirkan 2 pendapat.
Pendapat Yang Membolehkan
Dari Imam As-SyafiI, syaratnya kedua keluarga dan pasangan tersebut tidak mengekspos
kepada yang lain, cukup mereka dan pihak Kantor Urusan Agama. Tujuannya, supaya yang lain
tidak melakukan perbuatan yang sama.
Ulama yang membolehkan juga menggambarkan, misal wanita yang dihamili oleh si A, boleh
dinikahi oleh si A walaupun belum lepas masa iddah karena masa iddah dipandang untuk
memperjelas siapa ayah biologis si anak karena selama masa iddah, si wanita tidak disentuh oleh
siapapun. Jadi, laki laki yang berzina dengan seorang wanita, kemudian wanita tersebut hamil,
maka laki-laki itu boleh menikahi wanita itu, karena sudah jelas bahwa anak yang dikandung
tersebut adalah anak laki-laki tersebut.
Riwayat Sebuah Hadits
" Sesungguhnya Ummar pernah pukul seorang laki-laki dan wanita yang berzina, kemudian
Ummar menyuruhnya untuk menikahi, akan tetapi laki-laki tersebut menolaknya (Al-Mughni) "
Pendapat Yang Melarang atau Mengharamkan
Sebagian ulama lagi mengatakan tidak halal untuk ditikahkan, walaupun laki-laki tersebut yang
menghamilinya, kecuali jika wanita tersebut telah melahirkan.
49

Surat At-Thalaq ayat 4,


" . . . . wanita yang mengandung, iddahnya adalah setelah dia melahirkan anaknya "
Begitu juga melalui riwayat sebuah hadits, dari Imam Ibnu Qudamah Al Maqdasi di dalam AsySyarhul Kabier 7 : 502
" . . . tidak boleh dicampuri seorang wanita yang hamil, kecuali setelah dia melahirkan "
Ada juga dari sebuah hadits
" Seorang laki-laki yang berhubungan badan dengan seorang wanita lalu wanita tersebut
mengandung, kemudian dia bertanya kepada Rasul SAW, lalu nabi berkata, pisahkan
mereka."Imam Ibnu Taimiyah, sebelum bayi tersebut lahir atau istibro lalu bersih dari nifas.
Dari Ibnu Abbas R.A.
"Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya istriku tidak menolak
dengan tangan penyentuh, Nabi bersabda ceraikanlah dia, lalu si laki-laki berkata nafsuku
kepadanya. Nabi bersabda, kalau begitu bersenang-senanglah dengannya
Hanya saja, untuk kesimpulan permasalahan diatas, jika ingin selamat maka tunggulah sampai
wanita hamil tersebut melahirkan anaknya, atau sampai haid sekali, bahkan lebih baik lagi jika
melewati dulu 3 kali masa haid.
Adapun Status anak tersebut di dalam Islam
Anak tersebut tidak mendapatkan hak wali, juga tidak mendapatkan hak waris dari garis
Ayahnya, kalau dari garis Ibu, kakek dan neneknya dia mendapatkannya
6.Memahami dan menjelaskan hukum aborsi dalam pandangan islam

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah
neraka Jahanam, dan dia kekal di dalamnya,dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta
menyediakan baginya adzab yang besar( Qs An Nisa : 93 )
Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama
empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumlah darah beku.
Ketika genap empat puluh hari ketiga , berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah
mengutus malaikat untuk meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara,
yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang
bahagia. ( Bukhari dan Muslim )
50

Maka, untuk mempermudah pemahaman, pembahasan ini bisa dibagi menjadi dua bagian
sebagai berikut :
1. Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh
Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga pendapat :
Pendapat Pertama :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari ulama
membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. ( Hasyiat Al Qalyubi : 3/159 )
Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, SyafiI, dan Hambali. Tetapi
kebolehan ini disyaratkan adanya ijin dari kedua orang tuanya,( Syareh Fathul Qadir : 2/495 )
Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Masud di atas yang menunjukkan bahwa sebelum empat
bulan, roh belum ditiup ke janin dan penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati,
sehingga boleh digugurkan.
Pendapat kedua :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai pada waktu
peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram.
Dalilnya bahwa waktu peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh
menggugurkan janin jika telah mendekati waktu peniupan ruh , demi untuk kehati-hatian .
Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli salah seorang ulama
dari madzhab SyafiI . ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591, Nihayatul Muhtaj : 7/416 )
Pendapat ketiga :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa air mani sudah
tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita sehingga siap menerima
kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan kejahatan . Pendapat ini dianut oleh Ahmad
Dardir , Imam Ghozali dan Ibnu Jauzi ( Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof :
1/386)
Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan) , telah dianggap benda
mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani ataupun disholati. Sehingga bisa dikatakan bahwa
menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak dikatagorikan pembunuhan, tapi hanya dianggap
merusak sesuatu yang bermanfaat.
Ketiga pendapat ulama di atas tentunya dalam batas-batas tertentu, yaitu jika di dalamnya ada
kemaslahatan, atau dalam istilah medis adalah salah satu bentuk Abortus Profocatus
Therapeuticum, yaitu jika bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan. Dan

51

bukan dalam katagori Abortus Profocatus Criminalis, yaitu yang dilakukan karena alasan yang
bukan medis dan melanggar hukum yang berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
2. Menggugurkan Janin Setelah Peniupan Roh
Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh
hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan dalam perut ibu,
Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Masud di atas. Janin yang sudah ditiupkan roh dalam
dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk
dibunuh. Hukum ini berlaku jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat.
Namun jika disana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan membahayakan
ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat:
Pendapat Pertama :
Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap haram, walaupun
diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandungnya.
Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama.
Dalilnya adalah firman Allah swt :

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan
dengan suatu (alasan) yang benar. ( Q.S. Al Israa: 33 )
Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, sedang keberadaan janin
merupakan sesuatu yang pasti dan yakin, maka sesuai dengan kaidah fiqhiyah : Bahwa sesuatu
yang yakin tidak boleh dihilanngkan dengan sesuatu yang masih ragu., yaitu tidak boleh
membunuh janin yang sudah ditiup rohnya yang merupakan sesuatu yang pasti , hanya karena
kawatir dengan kematian ibunya yang merupakan sesuatu yang masih diragukan. ( Hasyiyah
Ibnu Abidin : 1/602 ).
Selain itu, mereka memberikan permitsalan bahwa jika sebuah perahu akan tenggelam,
sedangkan keselamatan semua perahu tersebut bisa terjadi jika sebagian penumpangnya dilempar
ke laut, maka hal itu juga tidak dibolehkan.
Pendapat Kedua :
Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal itu
merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga
kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih
dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya
terakhir.( Mausuah Fiqhiyah : 2/57 )

52

Prediksi tentang keselamatan Ibu dan janin bisa dikembalikan kepada ilmu kedokteran, walaupun
hal itu tidak mutlak benarnya. Wallahu Alam.
Dari keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama sepakat bahwa Abortus
Profocatus Criminalis, yaitu aborsi kriminal yang menggugurkan kandungan setelah ditiupkan
roh ke dalam janin tanpa suatu alasan syarI hukumnya adalah haram dan termasuk katagori
membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt.
Adapun aborsi yang masih diperselisihkan oleh para ulama adalah Abortus Profocatus
Therapeuticum, yaitu aborsi yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa, khususnya janin yang
belum ditiupkan roh di dalamnya.

53

DAFTAR PUSTAKA
Bagian SMF Obgin UNHAS. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Makssar. Djuhari,
Wiranarta Kusumah. 1993. Ciri Demografi Kualitas Penduduk dan Pengembangan Ekonomi.
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2007, laporan nasional 2007,
badan penelitian dan pengembangan kesehatan, Jakarta: Indonesia. 2008.
http://cyber.unissula.ac.id/journal/dosen/publikasi/210104090/635Kespro_Remaja.pdf
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Peta%20Kesehatan%202007.pdf
http://www.idai.or.id/saripediatri/pdfile/3-3-13.pdf
http://staff.ui.ac.id/internal/132147454/material/PelatihanKesehatanReproduksiRemaja.pdf
Statistics Indonesia (Badan Pusat Statistik-BPS) and Macro International. Indonesia
demographic and health survey 2007. Calverton, Maryland, USA: BPS and Macro International.
2008.
World Health Organization (WHO). Adolescent friendly health service, an agenda for change,
Geneva: Switzerland. 2002.
World Health Organization (WHO). Life skills education for children and adolescents in schools,
introduction and guidelines to facilitate the development and implementation of life skill
programme, programme on mental health, Geneva: 1997.

54