Anda di halaman 1dari 14

EKONOMI PEMBANGUNAN 1

4-1 Teori Pembangunan Klasik


Aliran klasik muncul sekitar akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19, masa
Revolusi lndustri, masa awal perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem yang dominan
adalah sistem liberal. Demikian pula sistem analisis klasik didasarkan pada asumsi bahwa
perekonomian berada dalam keadaan persaingan sempurna, ciri dari perekonomian liberal.
Pertumbuhan ekonomi liberal dipacu oleh semangat untuk mendapatkan keuntungan
maksimal. Jika keuntungan meningkat, tabungan akan meningkat, dan investasi akan meningkat
pula. Hal itu akan meningkatkan stok modal yang ada. Skala
produksi meningkat dan meningkatkan permintaan tenaga kerja sehingga tingkat upah meningkat.
Tingkat upah yang meningkat ini menyebabkan jumlah penduduk bertambah sehingga
tingkat keuntungan akan menurun karena berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin
berkurang (the law of diminishing returns), karena sumber daya alam itu terbatas jumlahnya.
Menurunnya tingkat keuntungan akan menurunkan minat orang untuk berinvestasi sehingga stok
modal akan turun. Dana yang tersedia untuk memajukan teknologi dan menjaga tingkat upah yang
ada akan berkurang. Akibat selanjutnya peningkatan efisiensi berhenti dan jumlah penduduk akan
berkurang. Perekonomian mencapai taraf kejenuhan atau keadaan stasioner. Ini adalah sebuah
keadaan di mana perekonomian telah dewasa, mapan dan sejahtera, tetapi tanpa perkembangan
lebih lanjut.
Marilah secara singkat kita lihat tori-teori perkembangan dari beberapa penganut aliran klasik
ini, di antaranya Adam Smith, David Ricardo, dan Thomas Robert Malthus.
4-1-1 Teori Pertumbuhan Adam Smith
Adam Smith (1723-90) sering dianggap sebagai pelopor ekonom kiasik. Lebih dari itu dia sering
dianggap sebagai orang yang pertama memikirkan proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka
panjang secara sistematis. Hal ini bisa disimak dari bukunya An Inquiry into the Nature and Causes
of the Wealth of Nations (1776) yang menganalisis bagaimana perekonomian sebuah negara bisa
tumbuh.
Smith menyebutkan dua aspek utama pertumbuhan ekonomi, yaitu:
1.

Pertumbuhan output total (bisa dikur dengan GDP ataupun GNP), dan

2.

Pertumbuhan penduduk

Kedua aspek tersebut berinteraksi sepanjang proses pertumbuhan ekonomi. Kita akan membicarakan satu
demi satu sebelum kita lihat keterkaitan dua aspek tersebut.
Pertumbuhan Output
Menurut Smith, variabel penentu proses produksi suatu negara dalam menghasilkan output total ada
tiga, yaitu:
(1)

Sumber daya alam yang tersedia (masih diujudkan sebagai faktor produksi 'tanah'),

(2)

Sumber daya manusia (atau jumlah penduduk)

(3) Stok barang kapital yang ada.


Menurut Smith, sumber daya alam yang tersedia merupakan bahan baku utama dari kegiatan
produksi suatu perekonomian dan jumlahnya terbatas. Proses produksi dalam rangka memenuhi
kebutuhan ekonomi manusia (proses pertumbuhan ekonomi) akan terus berjalan sepanjang sumber
daya alam masih tersedia. Jika sumber daya alam telah habis dikuras, maka proses produksi
dan dengan demikian proses pertumbuhan ekonomi akan berhenti pula. Dengan kata lain
sumber daya alam merupakan batas maksimum bagi pertumbuhan ekonomi (keadaan ini nanti dikenal
sebagai keadaan stasioner) Sumber daya manusia dalam arti angkatan kerja input dalam proses
produksi berperan pasif dalam proses pertumbuhan ekonomi. Jumlahnya akan bertambah atau
berkurang sesuai dengan yang dibutuhkan dalam proses produksi. Kita akan diskusikan hal
ini lebih jauh dalam aspek yang kedua, yaitu jumlah penduduk.
Stok kapital memegang peran yang sangat penting dalam menentukan cepat lambatnya
proses pertumbuhan output. Besar kecilnya stok kapital dalam perekonomian pada saat
tertentu akan sangat menentukan output yang diproduksi, dan dengan demikian menentukan
kecepatan pertumbuhan ekonomi.
Stok kapital mempengaruhi tingkat output melalui dua jalur, yaitu pengaruh langsung dan
pengaruh tidak langsung. Yang dimaksud pengaruh langsung adalah posisi kapital sebagai
input dart output. Jika seorang pengusaha menambah modal pada perusahaannya tahun ini
dengan berbelanja bahan baku sejumlah Rp 1 milyar, maka permintaan agregat akan
bertambah sejumlah belanja tersebut, dan berarti output nasional bertambah Rp 1 milyar
dart belanja tersebut. Pengaruh tidak langsung kapital terhadap output dihasilkan dart peningkatan
produktivitas tenaga kerja. Menurut Smith, ini bisa terjadi karena tambahan kapital akan
memungkinkan adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Makin besar kapital yang digunakan
dalam proses produksi, maka skala produksi akan semakin besar, sehingga makin banyak yang

harus dikerjakan dalam satu divisi kerja tertentu. Dalam keadaan seperti ini, dimungkinkan
untuk dilakukan spesialisasi dan pembagian kerja. Akibat selanjutnya adalah semakin tingginya
produktivitas per pekerja, yang akan berujung pada meningkatnya output.
Bagaimana spesialisasi kerja bisa meningkatkan produktivitas pekerja? Menurut Smith
pembagian dan spesialisasi kerja akan meningkatkan produktivitas pekerja melalui tiga hal: (1)
meningkatnya ketrampilan pekerja karena selalu menangani hal yang sama; (2) penghematan
waktu dalam memproduksi barang, yaitu tidak harus berpindah dart satu jenis pekerjaan ke
pekerjaan yang lain; (3) penemuan mesin hemat tenaga kerja.
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas, perhatikan penelitian yang dilakukan Adam Smith
berikut ini:
Smith melaporkan bahwa is meiihat pabrik peniti di mana 10 orang yang masingmasing diberi tugas-tugas yang berbeda-beda dan mampu memproduksi lebih dart
48.000 peniti per hart. Tetapi jika orang-orang ini harus bekerja terpisah dan secara
independen, Smith mengatakan bahwa mereka tidak akan mampu memproduksi
lebih dart 20 peniti. Jadi pembagian kerja menghasilkan peningkatan produksi peniti
sekitar 2000 kali lipat. 2
Akan t et api masih ada sat u syarat lagi yang harus dipenuhi unt uk munculhya
pembagian kerja dan spesialisasi, yaitu makin luasnya pasar bagi output. Tanpa ada
perluasan pasar bagi barangnya, tidak ada gairah bagi produsen untuk meningkatkan
produksi dan produkt ivit asnya. Oleh karena . it u, perluasan perniagaan dan
perdagangan int ernasional sangat bermanfaat. Dengan meningkat nya juml ah
penduduk dan fasilitas transpor akan terjadi pembagian kerja yang semakin luas dan peningkatan
modal yang semakin besar.
Jika semua syarat di atas tingkat keuntungan dan luas pasar terpenuhi, maka pembagian
kerja dan spesialisasi akan terus dijalankan, dan,ouput akan terus tumbuh, dan memberikan
keuntungan lebih lanjut pada pengusaha. Keuntungan tersebut akan mendorong pengusaha untuk
menanamkan modalnya dalam proses produksi lebih lanjut.
Ciri khas Adam Smith sebagai ekonom klasik tampak dari kriteria Smith tentang cara
memperluas pasar. Smith menganggap bahwa perluasan pasar bisa dicapai jika masyarakat bebas
melakukan pertukaran dan kegiatan ekonomi. Adam Smith meyakini berlakunya doktrin 'hukum
alam' dalam persoalan ekonomi. Ia menganggap setiap orang sebagai hakim yang paling tahu
akan kepentingannya sendiri yang sebaiknya dibiarkan bebas mengejar kepentingannya itu demi

keuntungannya sendiri. Dalam melakukan ini, setiap individu dibimbing oleh suatu 'kekuatan
yang tidak terlihat', 'Bukan demi kebaikan tukang roti kita membeli roti, tetapi demi
memaksimalkan kesejahteraan did kita sendiri'; karena itu jika semua orang dibiarkan bebas,
mereka akan memaksimalkan kesejahteraan mereka secara agregat. Setiap pengaturan dari
penguasa justru akan menghambat pertukaran dan kegiatan ekonomi sehingga akan cenderung
menghambat pertumbuhan pasar
Selanjutnya, apa yang menentukan tingkat keuntungan? Tingkat keuntungan dipengaruhi
oleh luas pasar. Jika pertumbuhan pasar tidak bisa mengimbangi pertumbuhan kapital, maka
tingkat keuntungan akan segera merosot; dan akhirnya akan mengurangi kegairahan para pemilik
kapital untuk melakukan akumulasi kapital. Menurut Smith, investasi dilakukan karena para
pemilik modal mengharapkan untung, dan harapan masa depan keuntungan bergantung pada
iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Tetapi bagaimana perilaku keuntungan
selama proses pembangunan? Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan adanya
kemajuan ekonomi. Pada waktu laju pemupukan modal meningkat, persaingan yang meningkat
antar pemilik modal akan menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan. Ia
mengatakan, 'Jika modal para pedagang kaya beralih ke bidang perdagangan yang sama,
persaingan antar mereka secara alamiah akan cenderung menurunkan tingkat keuntungan mereka;
dan bila peningkatan yang sama terjadi pada stok modal di seluruh bidang perdagangan yang
dilakukan dalam masyarakat yang sama, persaingan yang sama seperti itu pasti menghasilkan
pengaruh yang sama". Jadi dengan pertumbuhan stok modal di dalam perekonomian,
persaingan antar wirausahawan (pengusaha) dalam mendapatkan tenaga kerja yang langka
cenderung menawarkan upah yang tinggi dan karena itu menurunkan keuntungan. Dalam jangka
panjang tingkat keuntungan akan menurun sampai akhirnya mencapai tingkat kentungan
minimal pada posisi stasioner perekonomian tersebut.
Di muka sudah dijelaskan bahwa para pengusahalah yang menanamkan kuntungannya ke
dalam proses produksi lebih lanjut jika keuntungan masih ada. Smith memang menganggap bahwa
hampir keseluruhan tabungan diperoleh dari pengusaha
atau para tuan tanah (yang menyewakan tanahnya). Kelompok pekerja diperkirakan tidak mampu
menabung karena berlakunya hukum besi tetang tingkat upah (Iron Law of Wage), yaitu
pandangan bahwa tingkat upah dalam jangka panjang akan berada pada tingkat subsisten
sehingga hanya cukup untuk hidup, tidak ada yang tersisa untuk ditabung.

Pertumbuhan Penduduk
Kita lihat sekarang peran pertumbuhan penduduk dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut Smith,
penduduk (dalam arti angkatan kerja) merupakan faktor yang penting dalam proses produksi
sehingga ikut menentukan cepat lambatnya pertumbuhan ekonomi tetapi tidak pernah menjadi
masalah karena selalu tersedia jika dibutuhkan, dan akan berkurang jumlahnya jika hanya
diperlukan dalam jumlah yang sedikit. Kita akan melihat bagaimana mekanismenya sehingga
skenarionya bisa seperti itu dalam uraian di bawah ini.
Yang sangat menentukan jumlah penduduk pada suatu masa tertentu adalah tingkat upah
pada saat itu. Jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari pada tingkat upah subsisten3, maka
jumlah penduduk akan meningkat. Mengapa? Tingkat upah tersebut mengindikasikan bahwa para
pekerja hidup sejahtera, sehingga orang-orang akan kawin muda dan jumlah kelahiranpun
bertambah, serta kematian anak-anak berkurang karena standar kesehatannya meningkat.
Sebaliknya akan terjadi jika tingkat upah yang berlaku berada di bawah tingkat upah subsisten.
Sekarang, apakah yang menentukan tingkat upah pada suatu waktu tertentu? Smith mengatakan
bahwa tingkat upah ditentukan oleh stok kapital dan tingkat pertumbuhan output. Bagaimana jalan
ceritanya? Jika stok kapital dan tingkat pertumbuhan output tinggi, maka proses produksi berada
dalam tingkat yang tinggi sehingga permintaan input, temasuk permintaan tenaga kerja, akan
meningkat. Jika permintaan tenaga kerja meningkat, maka tingkat upah dengan sendirinya akan
meningkat pula. Jika stok kapital dan pertumbuhan output berada pada tingkat yang rendah, maka
yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu tingkat upah akan turun.
Kesimpulan akhirnya, jumlah penduduk akan meningkat atau menurun tergantung pada stok
modal dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu masa tertentu.
Posisi Stasioner
Pasang surut proses pertumbuhan ekonomi di atas akan berhenti ketika sumber daya alam telah
habis terkuras. Dalam keadaan ini perekonomian dikatakan berada dalani posisi stasioner. Pada
posisi ini kapital dan output tidak lagi tumbuh, dengan permintaan akan tenaga kerja turun
sampai pada tingkat upah subsisten. Pada posisi ini pendudukpun berhenti tumbuh. Akan tetapi
menurut Smith (pada waktu itu) perekonomian lnggris masih jauh dari keadaan stasioner
tersebut.

4-1-2 Teori Pertumbuhan David Ricardo


David Ricardo (1772-1823) mengembangkan teori pertumbuhan klasik menjadi sebuah model
pertumbuhan dengan mempertajam konsep mekanisme proses pertumbuhannya.
Namun garis besar dari proses pertumbuhan dan kesimpulan kesimpulan umum yang ditarik
oleh Ricardo tidak terlalu berbeda dengan teori Adam Smith. Ricardo menyatakan bahwa proses
pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh faktor-faktor sumber daya tanah, sumber daya
manusia, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi. Pada akhirnya pertumbuhan akan
berhenti pula (seperti kesimpulan Adam Smith) dan mencapai titik stasioner meskipun
diperlambat oleh akumulasi kapital dan kemajuan teknologi.
Jika Adam Smith sangat menitik-beratkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
nasional dalam menjelaskan proses terjadinya pertumbuhan, David Ricardo lebih
menitikberatkan pada distribusi pendapatan antar pelaku ekonomi dalam menjabarkan mekanisme
pertumbuhan.
Menurut David Ricardo, di dalam masyarakat ekonomi terdapat tiga golongan masyarakat
yaitu golongan kapitalis, golongan buruh, dan golongan tuan tanah. Golongan kapitalis adalah
golongan yang memimpin produksi dan memegang peranan yang penting karena mereka selalu
mencari keuntungan dan menginvestasikan kembali hasil pendapatannya dalam bentuk
akumulasi kapital yang mengakibatkan naiknya pendapatan nasional lebih besar lagi. Untuk
golongan buruh, dikatakan bahwa golongan ini tergantung pada golongan kapitalis dan
merupakan golongan yang terbesar dalam masyarakat. Adapun golongan tuan tanah, mereka
hanya menerima sewa saja dari golongan kapitalis atas areal tanah yang disewakannya.
Marilah kita pelajari teori pertumbuhan David Ricardo dengan melihat skenario proses
pertumbuhan yang terjadi.
Proses Pertumbuhan
Proses pertumbuhan Ricardo akan mudah dimengerti jika kita pahami terlebih dahulu asumsiasumsi perekonomian David Ricardo berikut ini.

Sumber daya alam (dalam arti tanah) terbatas jumlahnya

Jumlah penduduk menyesuaikan din dengan tingkat upah, di atas atau di bawah tingkat upah
alamiah (natural wage)5

Kemajuan teknologi selalu terjadi

Sektor pertanian dominan.

Pertumbuhan output, tanah, dan pertumbuhan tenaga kerja Marilah kita lihat yang terjadi di sektor
paling dominan, yaitu sektor pertanian. Jika proses produksi di pertanian kita anggap sebagai
sebuah fungsi produksi, dengan tanah sebagai input tetap, dan input tenaga kerja manusia
sebaga input varibel (untuk sementara modal bertambah, berlakulah the Law of
Diminishing Return. Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima
tingkat upah di atas tingkat upah 'alamiah', maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah,
dan ini akan terus menurunkan produk marjinal tenaga kerja, dan selanjutnya menurunkan tingkat
upah. Proses ini akan berhenti jika tingkat upah sudah berada di bawah tingkat upah alamiah,
di mana jumlah penduduk (tenaga kerja) menurun. Dalam keadaan itu, tingkat upah akan naik
kembali pada tingkat upah alamiah. Pada posisi ini jumlah penduduk konstan. Jadi dari segi faktor
produksi tanah dan faktor produksi tenaga kerja, ada suatu kekuatan dinamis yang selalu
menarik perekonomian ke arah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the Law of Diminihing
Return.
Perhatikan Gambar 4-1. Terdapat dua bush gambar, yang masing-masing bersumbu
horisontal jumlah penduduk sebagai input variabel dan bersumbu vertikal jumlah gandum sebagai
hasil produksi. Dalam tiap gambar, input tanah dan kapital diasumsikan konstan. Perhatikan panel
(a), terdapat dua kurva, yaitu kurva marginal product MP dan kurva average product AP yang
keduanya berslope negatif karena berlakunya the law of diminishing marginal product. Dengan
jumlah tenaga kerja sebesar 0Lo maka jumlah gandum total (mewakili output total suatu
perekonomian) adalah OCDL o . Sebesar BCDE diterima oleh pemilik tanah sebagai sewa.
Sisanya dibagikan kepada pekerja dan pemilik kapital. Misalkan tingkat upah yang terjadi waktu
itu adalah OA sehingga seluruh tenaga kerja dalam perekonomian tersebut menerima bagian
sebesar OAFL o , sementara para pemilik modal menerima ABEF sebagai keuntungan. Selama
keuntungan masih di atas keuntungan minimal, dan tingkat upah masih di atas tingkat upah alamiah
(A*), para pemilik modal akan terus menanamkan modalnya dan ini akan berakibat dua hal; pertama
meningkatkan produktivitas petani, diujudkan dengan pergeseran kurva MP ke MP, serta AP ke
AP, [perhatikan gambar panel (b)], dan kedua, akan menyerap tenaga kerja lebih banyak
sehingga jumlah penduduk bertambah, dari OL0 ke 01_1. Perhatikan beberapa perubahan yang
terjadi: produksi meningkat dari OCDLo menjadi IA,. Total sewa yang diterima pecnilik tanah
meningkat dari BCDE menjadi HIJK (tanah jumlahnya konstan sehingga sewanya menjadi
semakin mahal), total pendapatan tenaga kerja meningkat menjadi OGLL, (perhatikan bahwa jika
dibagi dengan total tenaga kerja yang ada, tingkat upah rata- rata mungkin tidak mengalami
kenaikan, bahkan akan mungkin terjadi penurunan tingkat upah rata-rata jika penduduk tumbuh

lebih besar dari pada yang diminta oleh para pemilik modal). Total keuntungan mungkin
meningkat menjadi GHKL, tetapi tingkat keuntungan per unit kapital mengalami penurunan.

Gambar 4-1 Proses produksi dengan tanah sebagai input tetap dan tenaga kerja sebagai input
variabel, menggambarkan berlakunya hukum The Law of Diminishing Returns
Selama masih ada keuntungan, meskipun menjadi semakin kecil, maka para pemilik modal akan
menanamkan modalnya kembali, dan prosesnya berulang lagi. Kurva AP dan MP akan bergeser lebih
ke kanan lagi, dan jumlah penduduk akan bertambah lagi. Proses ini akan berehnti ketika tingkat
keuntungan sudah menjadi nol dan tingkat upah mencapai tingkat alamiahnya. Hal ini digambarkan
dalam Gambar 4-2. Perhatikan bahwa pada akhirnya para pemilik tanahlah yang menguasai
pendapatan paling banyak karena sifat langka dari tanah. Perhatikan juga bahwa para pemilik modal
hanya mendapatkan keuntungan minimal sehingga mereka akan menghentikan penanaman
kapitalnya (para pemilik kapital tersebut masih untung, tetapi tingkat kuntungan yang pas-pasan, tidak
cukup besar untuk merangsang investasi baru). Sementara itu tenaga kerja telah menerima tingkat upah
alamiahnya, yaitu M = A*, sehingga tidak akan bertambah lagi jumlah penduduknya karena akan mati
kelaparan (di samping juga para pemilik modal telah menghentikan permintaan tenaga kerjanya)

Gambar 4-2 Situasi akhir proses produksi di Gambar 4-1

Situasi pergeseran perolehan pendapatan masing-masing sektor tersebut sampai tercapainya


titik stasioner dapat dilihat pada Gambar 4-3. Perhatikan distribusi pendapatan yang
terjadi. Dalam terminologi pendapatan nasional, tampak bahwa bagian upah dan sewa
meningkat terus, sedangkan laba menurun dengan semakin berkembangnya waktu. Dalam
hal pendapatan perkapita, upah selalu tetap pada tingkat batas (keadaan aslinya tentu saja
akan naik turun di sekitar tingkat alamiah ini), laba menurun dan sewa meningkat. Hal ini
dikarenakan oleh semakin langkanya sumber daya tanah, sehingga sewa menjadi semakin
mahal dan laba berkurang.

Gambar 4-3 Pembagian pendapatan di tiga pelaku ekonomi, yaitu pemilik tanah,
pemilik modal, dan pekerja

Peran akumulasi kapital terhadap pertumbuhan.


Faktor ini

akan

meningkatkan

produktivitas tenaga kerja, dengan demikian

memperlambat bekerjanya the Law of Diminishing Return sehingga memperlambat pula


penurunan tingkat hidup ke arah tingkat hidup minimal. Meskipun akumulasi kapital bisa
memperlambat penurunan produktivitas tenaga kerja, tetapi akumulasi kapital itu sendiri
terkena bekerjanya the Law of Diminishing Return. Semakin banyak modal yang
dipekerjakan pada sebidang tanah yang tetap jumlahnya, maka pertambahan output akibat
bertambahnya modal tersebut juga akan semakin menurun.
Peran tekonologi terhadap pertumbuhan.
Kemajuan teknologi meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas kapital.
Jadi dengan adanya kemajuan teknologi, bekerjanya the Law of diminishing Return bisa
diperlambat, dan kemerosotan tingkat upah dan tingkat keuntungan ke arah tingkat
minimumnya diperlambat. Teknologi yang semakin tinggi akan menggeser kurva MP
dan AP lebih ke kanan untuk setiap tingkat produksi tertentu, dan pengaruhnya akan
meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga menaikkan keuntungan pemilik
kapital shingga hasil akhirnya adalah memperlambat pencapaian titik stasioner.
Pertanyaannya sekarang adalah, adakah batas bagi perkembangan teknologi tersebut? Kita
sekarang mungkin mengatakan bahwa selalu tersedia ruang untuk penemuan teknologi
baru. Tetapi di jaman David Ricardo waktu itu, harapan bagi kemajuan teknologi tidak
sangat besar, sehingga kemajuan teknologi dipandang sebagai perlambatan yang hanya
bersifat sementara bagi the Law of Diminishing Return.
Jika kita ringkas, inti dari proses pertumbuhan ekonomi Ricardo ini adalah proses yang
menarik antara dua kekuatan dinamis, yaitu antara The Law of Diminishing Return dan kemajuan
teknologi, berakhir dengan kemenangan the Law of Diminishing Return. akhirnya keterbatasan
faktor produksi tanah (yang bisa ditafsirkan sebagai keterbatasan 'sumber-sumber alam')
akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara- hanya bisa tumbuh sampai
batas yang dimungkinkan oleh sumber daya alamnya, untuk kemudian sampai pada kondisi
stasioner seperti keadaan yang digambarkan oleh Adam Smith, meskipun sempat diperlambat oleh
akumulasi modal dan kemajuan teknologi. Adapun ciri-ciri posisi stasioner David Ricaro adalah:

Tingkat output (GDP) konstan atau berhenti berkembang

Jumlah penduduk konstan (berhenti bertambah)

Poin pertama dan kedua bersama-sama berarti pendapatan perkapita yang konstan

Tingkat upah pada tingkat upah alamiah (minimal)

Tingkat keuntungan pada tingkat minimal

Akumulasi kapital berhenti (stok kapital konstan)

Tingkat sewa tanah maksimal

4-1-3 Teori Pertumbuhan Thomas Robert Malthus


Ukuran keberhasilan pembangunan sebuah perekonomian menurut Malthus adalah kesejahteraan
negara. Suatu negara akan dikatakan sejahtera jika GNP potensialnya meningkat. Sektor yang
dominan menurut Malthus adalah sektor pertanian dan industri. Jadi jika kedua sektor tersebut
bisa ditingkatkan maka GNP potensialnya akan bisa dinaikkan. Lalu apakah yang mempengaruhi
produksi di sektor pertanian dan industri tersebut? Terdapat dua faktor, yaitu faktor ekonomi dan
faktor non ekonomi. Faktor-faktor ekonomi di sini adalah tanah, tenaga kerja, modal, dan
organisasi. Adapun faktor-faktor non ekonomi adalah keamanan atas kekayaan, konstitusi dan
hukum yang pasti, kerja keras masyarakat dan disiplin, serta sikap jujur (Malthus adalah
seorang pendeta). Dua faktor tersebut ekonomi dan non ekonomi harus berjalan secara
proporsional supaya bisa meningkatkan sektor pertanian dan idnsutri, dan pada akhirnya
meningkatkan GNP potensial.
Di antara faktor-faktor ekonomi di atas, yang paling berpengaruh adalah faktor akumulasi modal.
Tanpa akumulasi modal yang diinvestasikan, proses produksi akan berhenti dan pertumbuhan GNP
potensial akan berhenti. Menurut Malthus, yang bisa menyediakan dana tabungan untuk akumulasi
modal tersebut adalah pengusaha Nang menyisihkan keuntungannya, dan bukan penghematan
konsumsi dari para pelaku ekonomi non-pengusaha. Malthus menganggap mereka terlalu miskin
sehingga tidak akan mampu menyisihkan tabungan yang cukup untuk mendanai proses produksi.
Di samping faktor modal yang memegang peran penting dalam meningkatkan GNP potensial,
ada satu faktor yang mempunyai peran unik, yaitu jumlah penduduk. Menurut Malthus,
jumlah penduduk bukan saja input produksi, tetapi sekaligus juga sumber permintaan efektif atas
barang produksi. Pertumbuhan baru akan membawa pada tingkat kesejahteraan jika disertai dengan
kenaikan permintaan efektif yang akan memperluas pasar. Tetapi bisa juga terjadi sebaliknya, yaitu
ketika jumlah penduduk banyak, maka tingkat upah akan terdorong turun sehingga daya beli
penduduk menjadi lemah, sehingga akan menurunkan minat pemodal untuk berinvestasi. Memang
dalam jangka pendek, dengan menurunnya upah, para pemodal akan terdorong untuk
berinvestasi lebih besar lagi. Tetapi pada akhirnya daya bell yang rendah tersebut akan

membuat permintaan agregat menurun dan menyebabkan para pemodal untuk mengurangi
investasinya.
Masih tentang permintaan, Malthus berbeda pendapat dengan ekonom klasik sebelumnya,
yaitu Say, yang mengatakan bahwa setiap produksi barang akan menghasilkan permintaannya
sendiri (supply creates its own demand) karena proses produksi menciptakan output sekaligus
membayar input produksinya (berupa pendapatan) yang akan menjadi daya bell. Dengan kata
lain Say mengatakan bahwa tidak mungkin terjadi kekurangan permintaan di pasar. Menurut
Malthus, pendapatan belum tentu diterjemahkan seluruhnya menjadi permintaan. Ada
kemungkinan sebagian pendapatan tadi tidak diterjemahkan ke dalam permintaan, tetapi bisa juga
ditabung untuk keperluan di masa yang akan datang. Jika keadaannya seperti itu, maka ada
kemungkinan barang-barang yang diproduksi tidak menemukan permintaan dari masyarakat,
sehingga harga barang menjadi turun. Berikutnya keuntungan pemodal menjadi turun, dan
mengakibatkan akumulasi modal turun, dan ujungnya adalah stagnasi ekonomi. Dan memang
rendahnya konsumsi atau kurangnya permintaan efektif yang menyebabkan output tak terbeli
inilah yang menurut Malthus merupakan penyebab utama keterbalakangan.Tetapi skenarionya
tidak harus seperti ini. Dengan kata lain stagnasi ekonomi tidak harus terjadi. Hal itu bisa
dihindarkan jika kita bisa mengatur agregat demand untuk bisa mengimbangi tingkat produksinya
Faktor-faktor non ekonomi yang penting untuk diperhatikan adalah organisasi. Termasuk
organisasi di sini adalah berbagai hal menyangkut keserasian kombinasi antara proses
produksi dengan distribusinya. Malthus menyatakan bahwa jika kombinasi antara dua hal
tersebut tidak seimbang maka akan diperlukan waktu ribuan tahun untuk membuat proses produksi
tersebut menyumbang secara berarti terhadap pembangunan. (Cocokkan perhitungan Malthus
tersebut dengan keadaan sekarang, di mana pertumbuhan bisa dicapai dengan tingkat yang tinggi
dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama, tetapi beberapa masalah mendasar seperti
kemiskinan dan pengangguran belum bisa diatasi).
Terdapat dua hal yang membedakan teori Malthus dan dua pendahulunya, yaitu Adam Smith
dan David Ricardo. Pertama, Malthus beranggapan bahwa proses pembangunan tidak harus
menuju posisi stasio,ner. Jika sektor pertanian telah sampai ke titik tertinggi dan tidak bisa
ditingkatkan lagi karena keterbatasan tanah, maka proses selanjutnya adalah mengolah sektor
industri. Perekonomian akan mengalami proses pasang surut dalam aktivitas proses produksi dan
konsumsi menuju tingkat kemakmuran pembangunan.

Kedua, Malthus menganggap bahwa untuk mencapai tingkat kesejahteraan tertinggi,


proses pembangunan tidak bisa dibiarkan berjalan dengan sendirinya, harus diambil langkahlangkah tertentu untuk mewujudkannya guna menghindari stagnasi perekonomian seperti yang
digambarkan di atas. Perhatikan langkah-langkah di bawah ini.

Melaksanakan pertumbuhan berimbang. Menurut Malthus, perekonomian dibagi ke dalam


dua sektor besar, yaitu pertanian dan industri. Kemajuan teknologi pada kedua sektor itulah
yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi. Modal diinvestasikan pada sektor
pertanian sampai semua lahan subur habis ditanami. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa
dilakukan di sektor pertanian (dalam tahap ini Malthus masih terpengaruh oleh bekerjanya the
Law of Diminsihsing Returns seperti yang dibayangkan oleh Smith dan Ricardo). Peluang
selanjutnya adalah di sektor industri. Hasil yang semakin berkurang karena bertambahnya tenaga
kerja pada lahan tersebut hanya dapat dihindari bila kemajuan teknologi di sektor industri cukup
pesat dan jika investa,si cukup besar untuk menyerap pertambahan penduduk di sektor
industri itu dan untuk menurunkan biaya hidup para pekerja pada lahan tersebut sehingga
memungkinkan pengurangan tingkat upah mereka.
Menaikkan permintaan efektif. Perhatikan sekali lagi bahwa keffiajuan teknologi yang
meningkatkan produk di sektor pertanian dan industri tidak akan bisa terus berlangsung jika
tidak ada permintaan efektif yang cukup untuk menyerapnya. Untuk meningkatkan
permintaan efektif ini Malthus menyarankan sejumlah langkah: pertama, distribusi
kepemilikan tanah secara lebih merata dan lebih adil. Jika tanah hanya dimiliki oleh sekelompok
kecil tuan tanah, maka hasil dari tanah tersebut tidak akan bisa mewujud menjadi permintaan
dalam jumlah besar karena kebutuhan sekelompok kecil tuan tanah tersebut tentu saja tidak akan
besar jika dibandingkan dengan kebutuhan skala seluruh perekonomian. Berbeda
keadaannya jika kepemilikan tanah tersebut tersebar merata, sehingga hasil dari tanah tadi akan
dibelanjakan oleh banyak petani yang tentu saja kebutuhan hidupnya jauh lebih besar dari
pada sekelompok tuan tanah tadi. Akan tetapi Malthus tidak setuju dengan berbagai kegiatan
santunan terhadap orang miskin karena jika orang miskin diberi santunan, maka tingkat
prouktivitas mereka tidak akan membaik. Yang akan mereka lakukan adalah mempunyai anak
lagi seringga santunan kepada orang miskin hanya akan berakibat menciptakan jumlah orang
miskin yang lebih besar lagi. Jadi program pembagian tanah tadi dilakukan terhadap orang
yang masih mungkin untuk meningkatkan produktivitasnya, tidak kepada orang yang sangat
miskin yang hanya akan menjual kembali tanah tersebut untuk keperluan konsumsinya.
Kedua, perluas perdagangan intermal dan eksternal. Perdagangan eksternal akan

menyediakan konsumen baru sekaligus pengenalan produk baru dengan bertambahnya


keinginan, selera, serta hasrat berkonsumsi yang diperlukan untuk menjaga tingkat
permintaan efektif. Ketiga, Malthus juga menyarankan program pekerjaan umum atau
sosial untuk mengatasi pengangguran dan menaikkan permintaan efektif.