Anda di halaman 1dari 31

HUKUM TATA NEGARA

LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA, ALAT NEGARA, DAN STATE AUXILIARY


MENURUT UUD 1945
I. LEMBAGA NEGARA:
A. MPR :
1. Pengaturan: Pasal 2, Pasal 3 UUD 1945, UU No.22 Tahun 2003
tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
2. Kewenangan:
a. Mengubah dan Menetapkan UUD (Pasal 3 ayat (1) UUD)
b. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden (Pasal 3 ayat (2)
UUD)
c. Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam
masa jabatannya menurut UUD (Pasal 3 ayat (3) UUD jo. Pasal
7A dan 7B UUD 1945)
d. Memilih presiden dan/atau wakil presiden apabila presiden dan
wakil presiden secara bersama-sama diberhentikan, berhenti,
mangkat, atau tidak dapat menjalankan tugasnya. Kewenangan
ini dapat dilakukan hanya dalam keadaan emergency saja.
Maksudnya, ketika presiden dan wakil presiden mangkat,
berhenti, diberhentikan atau tidak dapat menjalankan
kewajibannya (Pasal 8 ayat (3) UUD 1945).
e. Memilih presiden dan wakil presiden, ketika calon presiden dan
wakil presiden terpilih berhalangan tetap (Pasal 34 ayat (5) UU
No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden).
Ad. a. Mengubah dan Menetapkan UUD:
Mengubah UUD
Untuk mengubah UUD, MPR harus memenuhi terlebih
dahulu syarat yang ditentukan dalam Pasal 37 UUD.
Berdasarkan Pasal 37 UUD, perubahan UUD selanjutnya
akan dilakukan dengan sistem amandemen sebab
usulan untuk mengubah harus diajukan oleh minimal 1/3
dari anggota MPR dan diajukan secara tertulis bagian
yang akan diubah serta harus disetujui oleh lima puluh
persen ditambah satu anggota (50% +1) dalam sidang
yang harus dihadiri oleh minimal 2/3 anggota MPR.
Proses amandemen pada Pasal 37 UUD juga
mengambarkan bahwa amandemen yang dilakukan
adalah perubahan UUD secara formal (tertulis).
Issue:
Apakah kemudian tidak diperbolehkan perubahan
UUD 1945 dengan cara non-formal (tidak tertulis)
yang dilakukan melalui interpretasi?
Menetapkan UUD
Prosedur untuk menetapkan UUD belum diatur dalam
UUD 1945, sebab dari kewenangan tersebut MPR
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 1 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

dapat melakukan dua hal, yaitu mengubah dan


menetapkan. Yang diatur dalam Pasal 37 UUD 1945
hanyalah prosedur dan syarat untuk mengubah, tidak
untuk menetapkan.
Issue:
Apakah hal ini berarti tidak diperbolehkan
mengganti UUD?
Ad.b. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden:
Kewenangan ini merupakan suatu konsekuensi yuridis
terhadap perubahan mekanisme pemilihan presiden
dan/atau wakil presiden. Sebelumnya presiden dan/atau
wakil presiden dipilih oleh MPR, sedangkan saat ini presiden
dan/atau wakil presiden dipilih langsung melalui suatu
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang diatur
dalam UU No.23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden.
Oleh karena perubahan mekanisme pemilihan presiden
dan/atau wakil presiden tersebut, maka kewenangan MPR
hanyalah melantik kandidat presiden dan/atau wakil
presiden yang menang dalam Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden; tidak mengangkat Presiden dan wakil
presiden sebagaimana dilakukan MPR sebelum dilakukan
amamndemen terhadap UUD 1945.
Persyaratan untuk memenangkan Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden ditentukan pada Pasal 6A UUD
1945.
Ad.c. Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden:
Pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden dalam masa
jabatannya bisa dilakukan apabila presiden dan/atau wakil
presiden terbukti telah melakukan pengkhianatan terhadap
Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya,
atau perbuatan tercela, maupun apabila terbukti tidak lagi
memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil
Presiden. Proses pembuktian tuduhan oleh DPR tersebut
terlebih dahulu diperiksa, diadili, dan diputus oleh Mahkamah
Konstitusi.
Proses pemberhentian itu diawali dengan adanya usulan dari
DPR bahwa presiden dan/atau wakil presiden telah melakukan
tindak pidana yang disebutkan diatas dan/atau tidak lagi
memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden.
Usulan tersebut harus disetujui oleh minimal 2/3 anggota yang
hadir dalam suatu sidang paripurna DPR. Sidang Paripurna
DPR tersebut harus pula dihadiri minimal 2/3 dari seluruh
anggota DPR.
Usulan tersebut kemudian diajukan ke Mahmakah Konstitusi
untuk dilakukan pemeriksaan apakah tuduhan DPR tersebut
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 2 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

dapat dibenarkan secara hukum dengan berdasarkan alat bukti


yang diajukan kepada Mahkamah Konstitusi. Alat bukti yang
dapat diajukan adalah surat atau tulisan, keterangan saksi,
keterangan ahli, keterangan para pihak, petunjuk, dan alat
bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik
atau yang serupa dengan itu. (Pasal 39 ayat (1) UU No. 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). Dari proses
pemeriksaan sampai dengan putusan harus dilakukan dalam
waktu 90 hari sejak usulan DPR tersebut tercatat dalam buku
Registrasi Perkara Konstitusi (Pasal 84 UU no. 24 tahun 2003).
Apabila Mahkamah Konstitusi (MK) mengatakan bahwa usulan
tersebut terbukti maka putusan atas usulan DPR tersebut
kemudian dikirim kembali ke DPR. Setelah menerima putusan
MK tersebut, DPR mengadakan sidang paripurna lagi untuk
meneruskan usulan yang telah diperiksa oleh MK tersebut ke
MPR (Pasal 7B ayat (5) UUD 1945).
Setelah menerima usulan DPR itu, MPR kemudian
mengadakan sidang untuk memutuskan usulan DPR tersebut.
Sidang MPR tersebut harus dihadiri oleh minimal anggota
MPR. Putusan untuk memberhentikan presiden dan/atau wakil
presiden tersebut, dapat diambil apabila disetujui oleh 2/3 dari
anggota MPR yang hadir dalam persidangan tersebut setelah
terlebih dahulu diberikan kesempatan kepada presiden dan/atau
wakil presiden untuk memberikan penjelasan (Pasal 7B ayat (7)
UUD 1945).
Ad. d. Memilih Presiden dan Wakil Presiden
Kewenangan ini hanya dapat dilakukan apabila presiden dan
wakil presiden
secara bersama-sama berhenti,
diberhentikan, mangkat, atau tidak dapat lakukan
kewajibannya lagi. Kekuasaan Pemerintahan (executive)
pada saat itu dipegang oleh Menteri dalam Negeri, Menteri
luar Negeri, dan Menteri Pertahanan (Trium Virat). Calon
presiden dan wakil presiden yang bisa diajukan oleh parpol
atau gabungan parpol adalah calon yang telah mengikuti
pemilihan presiden dan wakil presiden terakhir dan yang
berperingkat satu dan dua saja (Pasal 8 ayat (3) UUD 1945).
Bila terjadi kekosongan jabatan wakil presiden, maka MPR
bersidang untuk melakukan pemilihan wakil presiden dari
dua calon yang diusulkan oleh presiden (Pasal 8 ayat (2)
UUD 1945).
Issue:
o Bagaimana mekanismenya pemilihan pada kedua
scenario di atas?
2. Keanggotaan:

TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 3 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

Pasal 2 UU No.22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan


MPR, DPR, DPD, dan DPRD menentukan bahwa keanggotaan MPR
terdiri dari seluruh anggota DPR ditambah dengan seluruh anggota
DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Sedangkan, anggota DPR, yang
ditentukan oleh Pasal 16 UU No.22 Tahun 2003, berjumlah 550 orang,
sedangkan anggota DPD akan berjumlah 128 (dengan asumsi ada 32
provinsi) sebab anggota DPD akan dipilih sebanyak 4 orang dari setiap
provinsi (Pasal 33 UU No 22 Tahun 2003). Bila dijumlahkan, maka
anggota MPR akan berjumlah 678 orang yang seluruhnya dipilih
melalui pemilihan umum.
Pada Pasal 22C ayat (2) UUD 1945 ditentukan bahwa jumlah seluruh
anggota DPD tidak boleh melebihi 1/3 dari seluruh anggota DPR.
B. Lembaga Kepresidenan :
1. Pengaturan : Pasal 4, 5, 6, 6A, 7, 7A, 7B, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
UUD 1945, UU No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum
Presiden dan Wakil Presiden.
2. Kewenangan:
a. Pemegang Kekuasaan Executive menurut UUD 1945 (Pasal 4
ayat (1) UUD 1945), dan
b. Kepala Negara (Pasal 10-15 UUD 1945).
Ad. a. Pemegang Kekuasaan Executive.
9 Presiden dalam
kedudukannya
sebagai
pemimpin
kekuasaan executive terlihat pada Pasal 4 ayat (1) UUD
1945. Konsekuensi yuridis dari pasal ini mengakibatkan
sistem
pemerintahan
Indonesia
menjadi
sistem
pemerintahan presidensiil karena the head of executive-nya
adalah presiden, sebab salah satu syarat sistem
pemerintahan presidensiil adalah the head of executive-nya
adalah presiden dan masa jabatannya (tenure) terbatas.
Selain itu, Pasal 5 ayat (2) UUD 1945 juga menentukan
bahwa presiden diberi kewenangan untuk menetapkan
Peraturan Pemerintah (PP) untuk melaksanakan UU.
9 Sebagai pemimpin kekuasaan executive-nya presiden
dibantu oleh seorang wakil presiden (Pasal 4 ayat (2) UUD
1945) dan menteri-menteri Negara (Pasal 17 UUD 1945)
dalam melaksanakan tugasnya. Walaupun kedua jabatan
tersebut hanyalah pembantu presiden, tetapi mekanisme
pertanggungjawaban kedua jabatan tersebut sangat
berbeda. Di satu sisi, menteri-menteri Negara bertanggung
jawab kepada presiden karena mereka ditunjuk oleh
presiden. Sedangkan disisi lain, Wakil Presiden, tidak
bertanggung jawab kepada presiden, walaupun wakil
presiden juga merupakan jabatan pembantu presiden. Wakil
presiden hanya dapat diberhentikan oleh MPR melalui
proses impeachment yang diawali oleh usulan DPR. Apakah
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 4 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

seorang presiden dapat mengusulkan pemberhentian


seorang wakil presiden ke MPR dengan alasan dia tidak
dapat bekerja sama lagi dengan wakil presiden tersebut?
Pertanyaan ini terbentuk karena pada saat terjadinya
kekosongan jabatan wakil presiden, MPR harus memilih dari
2 calon yang diusulkan oleh presiden. Ratio terhadap
scenario ini adalah wakil presiden adalah pembantu
presiden, sehingga presiden berhak mengusulkan calon
yang menurut penilaiannya dapat bekerja sama dengannya.
Dalam mekanisme ini tidak ada keharusan bagi presiden
untuk mengusulkan calon wakil presiden dari calon yang
juga ikut dalam pemilihan presiden dan wakil presiden
terakhir.
9 Menurut Bagir Manan, kekuasaan presiden sebagai the
head of executive dimasukan dalam kekuasaan yang
bersifat umum. Kekuasaan yang bersifat umum yaitu tugas
dan wewenang administrasi di bidang keamanan dan
ketertiban umum; di bidang penyelenggaraan tata usaha
pemerintahan; di bidang pelayanan umum; dalam
penyelenggaraan kesejahteraan umum.
9 Salah satu karasteristik kekuasaan presiden sebagai the
head of executive di Indonesia adalah Presiden ikut serta
dalam proses pembuatan suatu UU. Hal ini juga merupakan
salah satu kekhususan sistem presidensiil di Indonesia
sebab keikutsertaan executive dalam proses legislasi secara
teoritis hanya dikenal pada sistem pemerintahan
parlementer (Pasal 20 ayat (2) UUD 1945).
Ad. b. Kepala Negara
Masiih menurut Bagir Manan, presiden dalam kedudukannya
sebagai kepala Negara, kekuasaannya dimasukan dalam
kekuasaan yang bersifat khusus. Kekuasaan-kekuasaan
tersebut diberikan oleh konstitusi dan bersifat prerogative.
Kekuasaan yang bersifat khusus tersebut meliputi
kekuasaan sebagai pimpinan tertinggi atas angkatan darat,
angkatan laut, dan angkatan udara (Pasal 10 UUD 1945); di
bidang hubungan luar negeri (Pasal 11 dan 13 UUD 1945);
pada pemberian gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda
kehormatan (Pasal 15 UUD 45); di bidang kekuasaan
kehakiman, yaitu memberi grasi, rehabilitasi, amnesti, dan
abolisi (Pasal 14 UUD 1945).
3. Pengisian Jabatan Presiden dan Wakil Presiden:
Pengisian jabatan kepresidenan sangat berbeda sekali bila
dibandingkan mekasnisme yang digunakan pada masa praamandemen dan pasca-amandemen. Mekanisme yang
digunakan pada pra-amandemen, pengisian jabatan
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 5 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

kepresidenan dilakukan melalui pemilihan yang dilakukan


oleh MPR, sedangkan pasca-amandemen, pengisian
jabatan kepresidenan dilakukan melalui suatu pemilihan
umum presiden dan wakil presiden (UU No. 23 Tahun 2003).
Akan tetapi, ada pembatasan terhadap calon presiden dan
wakil presiden yang dapat mengikuti pemilihan umum
presiden dan wakil presiden, yaitu hanya calon presiden dan
wakil presiden yang berasal dari partai politik atau gabungan
partai politik yang mendapatkan 15% dari jumlah kursi di
DPR atau 20% dari jumlah suara sah secara nasional dalam
pemilihan umum anggota DPR (Pasal 5 ayat (4) UU No.23
Tahun 2003). Berdasarkan kriteria ini, maka tidak
dimungkinkan adanya calon presiden dan wakil presiden
dalam pilihan presiden dan wakil presiden yang
mencalonkan diri secara independent (independent
candidate).
Suatu pasangan calon presiden dan wakil presiden akan
dilantik menjadi presiden dan wakil presiden oleh MPR
apabila calon presiden dan wakil presiden tersebut
memperoleh lebih dari 50% jumlah suara dalam pemilu
presiden dan wakil presiden dengan ketentuan bahwa
perolehan tersebut harus tersebar di minimal setengah
jumlah provinsi yang ada, dan di setiap provinsi tersebut
calon presiden dan wakil presiden tersebut harus
memperoleh minimal 20% dari jumlah suara di provinsi ybs
(Pasal 6A ayat (3) UUD 1945).
Bila ketentuan yang disebutkan diatas tidak terpenuhi, maka
akan diadakan pemilu presiden dan wakil presiden putaran
kedua yang hanya dapat diikuti oleh calon presiden dan
wakil presiden yang memperoleh peringkat pertama dan
kedua pada putaran pertama. Pada putaran kedua ini,
pemenangnya hanya ditentukan dengan simple majority.
Jadi siapa yang menang akan dilantik menjadi presiden dan
wapres (Pasal 6A ayat (4) UUD 1945).
Syarat umum untuk menjadi presiden dan wakil presiden
ditentukan pada Pasal 6 UUD 1945, sedangkan syarat
secara khusus ditentukan pada Pasal 6 UU No.23 Tahun
2003.
Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil
Presiden: presiden dan wakil presiden memegang masa
jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih
kembali dalam masa jabatan yang sama, hanya dalam satu
kali masa jabatan (Pasal 7 UUD 1945).

4. Issues:
Apa perbedaan arti kata dibantu yang terdapat dalam Pasal 4
ayat (2) UUD 1945 dan dalam Pasal 17 ayat (1) UUD 1945?
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 6 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

Jika Presiden dan Wakil Presiden terpilih berhalangan tetap,


siapakah yang akan memilih presiden dan wakil presiden?
Sebutkan dasar hukumya dan apakah dasar hukumnya itu telah
sesuati dengan tata urutan peratuan perundang-undangan?
Syarat untuk mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil
presiden ditentukan dalam Pasal 6 UUD 1945, apakah KPU
diperbolehkan untuk menambah syarat calon presiden dan
wakil presiden selain yang ditentukan dalam Pasal 6 UUD 1945
seperti dalam kasus pencalonan Gus Dur? Sebutkan dasar
hukumnya?
Presiden selain sebagai kepala pemerintahan juga mempunyai
kedudukan sebagai kepala negara. Salah satu kewenangan
presiden sebagai kepala negara adalah panglima tertinggi atas
angkatan darat, laut dan udara sebagaimana ditentukan dalam
Pasal 10 UUD 1945. Apakah presiden sebagai kepala negara
juga adalah panglima tertinggi atas Kepolisian Republik
Indonesia? Jelaskan jawaban saudara dan disertai dengan
dasar hukumnya.

C. DPR :
1. Pengaturan: Pasal 19, 20, 21, 22 ayat (2)-(3), 22 A, 22B UUD 1945,
UU No.22 Tahun 2003 tentang SUSDUK MPR, DPR,DPD, dan DPRD
2. Kewenangan:
a. Pemegang Kekuasaan Legislative dalam Sistem Pemerintahan
RI (fungsi legislasi).
b. Pengawas terhadap jalannya proses pemerintahan (fungsi
pengawasan).
c. Memberikan pengesahan terhadap penggunaan anggaran
Negara fungsi anggaran).
3. Keanggotaan:
Pada Pemilu 1999 dihasilkan 462 anggota DPR dan ditambah 38
anggota DPR yang diangkat oleh Presiden sebagai wakil dari TNI/
Polri. Jadi anggota DPR berdasarkan UU No. 4 Tahun 1999 tentang
Susduk MPR, DPR, DPRD berjumlah 500 orang. Pada Pemilu 2004
akan dihasilkan sebanyak 550 orang anggota DPR (Pasal 16 UU
No.22 Tahun 2003 tentang Susduk MPR, DPR, DPD, dan DPRD).
Amandemen terhadap UUD 1945 mengakibatkan perubahan
terhadap siapa yang berhak mencalonkan diri dalam Pemilu DPR,
DPD dan DPRD. Hanyalah partai politik yang dapat mengajukan
calon untuk pemilu anggota DPR dan DPRD, sedangkan Calon
Independent (Pribadi) hanya dapat mencalonkan diri untuk
pemilihan umum anggota DPD.
Apa yang dimaksud dengan Sistem Proporsional dengan Daftar
Terbuka? Lihat Pasal 84 ayat (1) UU No.12 Tahun 2003 tentang
Pemilu.
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 7 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

D. DPD :
1. Pengaturan: Pasal 22 c, 22D UUD 1945, UU No.22 Tahun 2003
tentang SUSDUK MPR, DPR, DPD, dan DPRD
2. Kewenangan:
1. mengajukan RUU kepada DPR dalam bidang hubungan
pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainya, serta perimbangan keuangan
pusat dan daerah.
2. memberikan pertimbangan RAPBN dan RUU dalam bidang
pendidikan, pajak, dan agama.
3. pengawasan terhadap pelaksanaan UU di bidang otonomi
daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan
daearah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan SDA
dan SDE lainnya, APBN, Pajak, Pendidikan, dan Agama.
4. memberikan pertimbangan dalam pemilihan dalam anggota
BPK.
3. Keanggotaan:
DPD merupakan salah satu lembaga Negara baru yang
dilahirkan dalam proses amandemen UUD 1945. Lembaga ini
akan beranggotakan 4 wakil dari setiap provinsi. Mekanisme
pemilihannya pun dilakukan melalui pemilihan umum, akan
tetapi sistem yang digunakan adalah dengan sistem distrik
karena pemilihan umum untuk anggota DPD hanya akan
dilakukan ditingkat provinsi dan berdasarkan wilayah (provinsi).
Jumlah anggota DPD secara keseluruhan belum ada karena
pada saat ini masih ada beberapa provinsi yang masih dalam
proses pembentukan, tetapi yang sudah ditentukan oleh Pasal
22 C ayat (2) UUD 1945 yang menentukan bahwa jumlah
maksimal anggota DPD adalah 1/3 dari anggota DPR. Apabila
anggota DPR hasil pemilu 2004 telah ditentukan sebanyak 550,
maka jumlah maksimal anggota DPD adalah 183 orang.
Masa jabatan keanggotaannya adalah 5 tahun.
4. Issues:
Menurut Fajrul Falaakh bahwa sistem ketatanegaraan
Indonesia menggunakan sistem bicameral yang asimetris pada
parlement-nya, apa maksudnya?
Apa rasio yang digunakan sehingga jumlah anggota DPD
sebanyak-banyaknya hanya 1/3 dari anggota DPR dan
kekuasaan legislative hanya ada pada DPR?
UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU
No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah telah disetujui bersama oleh
DPR dan Presiden pada Sidang Paripurna DPR tanggal 29
TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 8 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

September 2004. apakah kedua UU ini sah jika melihat


kewenangan DPD yang diberikan oleh Pasal 22 C dan 22 D
UUD 1945? Jelaskan jawaban saudara yang disertai dengan
dasar hukumnya!

E. MA :
1. Pengaturan: Pasal 24, 24A UUD 1945, UU No.14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung jo. UU No. 5 Tahun 2004 tentang
Perubahan atas UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.
2. Kewenangan:
a. Melaksanakan kekuasaan kehakiman secara umum
(Pengadilan Negeri, Pengadilan Tata Usaha Negara,
Pengadilan Militer, Pengadilan Agama) yang ditentukan
dalam Pasal 24 ayat (2) UUD 1945.
b. Melaksanakan Judicial Review terhadap peraturan
perundang-undangan dibawah UU (Pasal 24 A UUD 1945
jo. Pasal 31 UU No. 14 Tahun 1945 hasil perubahan UU No.
5 Tahun 2004 .
3. Keanggotaan:
Jumlah hakim agung paling banyak 60 orang sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 4 ayat (3) UU No.14 Tahun 1985 hasil
perubahan UU No. 5 Tahun 2004.
Hakim agung dipilih oleh DPR dengan berdasarkan usulan dari
Komisi Yudisial. Yang kemudian, keanggotaannya diresmikan oleh
Presiden.
Pemberhentian sebagai hakim agung: terhormat dan tidak
terhormat.
Usia pensiun 65 tahun dan dapat diperpanjang sampai 67 tahun
dengan syarat tertentu sebagaimana ditentukan dalam Pasal 11
UU No.14 Tahun 1985 hasil perubahan UU No. 5 Tahun 2004.
Ad.a. Pelaksana Kekuasaan Kehakiman (umum):
Kekuasaan MA diselenggarakan melalui Pengadilan Negeri,
Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Militer, dan
Pengadilan Agama.
Kewenangan
absolute
suatu
pengadilan
adalah
kewenangan suatu pengadilan untuk mengadili suatu
perkara yang terdapat unsur pidana, perdata, dan untuk
golongan agama lain mengenai perkawinan (PN), keputusan
administrasi (PTUN), Kemiliteran (PM), Keagamaan,
khususnya Islam (PA).
Kewenangan Relatif adalah kewenangan yang berkait
dengan wilayah kewenangan suatu pengadilan.
Ad.b. Judicial Review

TEAM TEACHING KELAS B

Halaman 9 dari 31 halaman

HUKUM TATA NEGARA

1. Issues:

Pengertian hak uji formal dan uji materiil (Judicial Review).


Hak uji formal adalah hak menguji dari lembaga peradilan
untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan
itu telah dibuat sebagaimana seharusnya menurut UUD,
sedangkan hak uji materiil adalah hak menguji dari lembaga
peradilan untuk menentukan apakah suatu peraturan
perundang-undangan yang dibuat oleh suatu lembaga
Negara itu tidak melampaui wewenang yang diberikan
kepada lembaga tersebut. Selain itu hak uji materiil meliputi
pula hak menguji tentang nilai rohaniah suatu peraturan
perundang-undangan, yaitu apakah suatu peraturan
perundang-undangan yang dibuat oleh suatu lembaga
Negara itu sudah logis dan bermanfaat, sehingga secara
moral dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut UU No. 14 Tahun 1985 sebelum dilakukan
perubahan oleh UU No. Tahun 2004, MA hanya dapat
menguji secara materiil peraturan perundang-undangan
dibawah UU, tetapi menurut peraturan MA No. 1 tahun 1999,
MA dapat menguji secara materiil UU walaupun hal tersebut
dapat dilakukan jika kasus atau bila ada tuntutan. Jadi
bersifat represif. Dengan dilakukannya amandemen
terhadap Pasal 24 UUD 1945 dan kemudian menjadi Pasal
24, 24A, 24B, dan 24C, maka kewenangan untuk menguji
secara materiil yang ditentukan dalam PerMA No. 1 Tahun
1993 batal secara hukum karena kewenangan menguji
suatu UU sudah diberikan ke MK.

Siapakah yang berhak menguji Perpu dalam struktur


ketatanegaran Indonesia pasca dilakukan amandemen UUD
1945? MA ataukah MK?Jelaskan jawaban saudara yang
disertai dengan dasar hukumnya!

E. MK (Mahkamah Konstitusi)
1. Pengaturan: Pasal 24 dan Pasal 24C, Pasal 7B UUD 1945, UU
No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
2. Kewenangan:
a. Melaksanakan judicial review UU terhadap UUD
1945
b. Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara
yang kewenangannya diberikan oleh UUD
c. Memutus pembubaran partai politik,
d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 10 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

e. Memberi putusan atas usulan DPR mengenai dugaan


pelanggaran oleh Presiden dan/atau wakil presiden
menurut UUD.
3. Keanggotaan:
Sembilan orang hakim konstitusi.
Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih sendiri
oleh pada hakim konstitusi untuk masa jabatan selama 3
tahun (Pasal 2 ayat (3) UU No.24 Tahun 2003).
Kesembilan hakim konstitusi tersebut dipilih dan diusulkan
masing-masing tiga orang dari Presiden, DPR, dan MA serta
kemudian diresmikan oleh Presiden dengan menggunakan
Keppres.
Masa jabatan 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk sekali
masa jabatan (Pasal 22 UU No.24 Tahun 2003).
Pensiun 67 tahun (Pasal 23 ayat (1) huruf c UU No. 24
Tahun 2003)
Diberhentikan secara hormat dan tidak hormat oleh MK
sendiri (Pasal 23 ayat (1) dan (2) UU No.24 Tahun 2003).
4. Issue:

Dengan berdasar pada kewenangan MK, siapa sajakah


yang berwenang (legal standing) mengajukan judicial review
UU terhadap UUD?
Apakah MK berhak menguji secara materiil dan formil UU
terhadap UU? Jelaskan jawaban saudara yang disertai
dengan dasar hukumnya!
F. Komisi Yudisial
Komisi Yudisial dibentuk melalui perubahan ketiga UUD 1945.
Pasal 24 B UUD menyebutkan, bahwa Komisi Yudisial merupakan
lembaga negara 1 yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka
menjaga dan menegakan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku
hakim. 2 Dengan demikian, komisi yudisial memiliki dua kewenangan yaitu
mengusulkan pengangkatan calom hakim agung di Mahkamah Agung
beserta peradilan dibawahnya, dan hakim di Mahkamah Konstitusi.
Anggota komisi yudisial berjumlah 7 orang dan berstatus sebagai
pejabat negara yang terdiri atas mantan hakim, praktisi hukum, akademisi
hukum, dan anggota masyarakat. 3 Keanggotaan komisi yudisial diajukan
oleh presoden kepada DPR, dengan terlebih dahulu Presiden membentuk
panitia seleksi yang terdiri dari unsure pemerintah, praktisi hukum,
akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Dalam melaksanakan tugas

Pasal 2 UU Komisi Yudisial


Pasal 24 B UUD 1945
3
Pasal 6 UU Komisi Yudisial
2

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 11 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

dan wewenangnya, panitia seleksi bekerja secara transparan dan


mengikutsertakan partisipasi masyarakat. 4
Komisi ini dibentuk sebagai respon terhadap upaya penegakan dan
reformasi di institusi peradilan, yang selama ini dianggap kurang baik.
Selain itu, untuk meminimalisir interest politik dari anggota DPR didalam
memilih dan menentukan Hakim Agung di Mahkamah Agung. Mahkamah
Agung adalah institusi peradilan yang independent dan seharusnya
terlepas dari campur tangan dari kekuasaan manapun. Dengan adanya
Komisi Yudisial, diharapkan pencalonan Hakim Agung dilakukan secara
transparan, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Komisi Yudisial juga dibentuk untuk memberikan pengawasan
terhadap perilaku hakim. Pengawasan yang dilakukan secara internal
peradilan terhadap para hakim, terbukti kurang efektif untuk menindak
secara tegas hakim-hakim yang melakukan pelanggaran.
1. Pengaturan: Pasal 24A ayat (3), 24B UUD 1945, UU No.22 Tahun
2004 tentang Komisi Yudisial.
2. Kewenangan:
1. Mengusulkan pengangkatan hakim agung kepada
DPR, dan
2. menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat,
serta menjaga perilaku hakim, termasuk hakim
mahkamah konstitusi.
3. Keanggotaan:
Beranggotakan 7 Orang, termasuk ketua dan wakil
ketua yang merangkat anggota (Pasal 6 ayat (1) UU
No.22 Tahun 2004).
Masa Jabatan 5 tahun dan hanya dapat dipilih kembali
untuk satu kali masa jabatan (Pasal 29 UU No.22 Tahun
2004)
Yang dapat menjadi anggota Komisi Yudisial adalah
mantan hakim, praktisi hukum, akademisi hukum, dan
anggota masyarakat (Pasal 6 ayat (3) UU No.22 Tahun
2004).
Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh diangkat oleh
presiden dengan persetujuan DPR (Pasal 27 ayat (1) UU
No.22 Tahun 2004).
Calon anggota Komisi Yudisial diseleksi oleh Panitia
Seleksi Pemilihan Anggota Komisi Yudisial yang dibentuk
oleh presiden. Panitia ini terdiri dari unsur pemerintah,
praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota
masyarakat (Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) UU No.22
Tahun 2004)
4. Issue:
4

Pasal 28 UU Komisi Yudisial.

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 12 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

Ketika Komisi Yudisial mengusulkan pemberhentian seorang


hakim kepada MA, dan MA tidak melaksanakannya. Bagaimana
jalan keluarnya? Jelaskan jawaban saudara disertai dengan
dasar hukumnya!
Berkaitan dengan issue Kocok Ulang Hakim Agung yang
sedang menyeruan di media massa, apakah Komisi Yudisial
berwenang melakukannya?
Masih berkaitan dengan issue di atas, apakah Perpu adalah
produk hukum yang paling tepat untuk memberikan dasar
hukum pelaksanaan maksud kocok ulang itu?
Apakah terjadi pelanggaran kewenangan ketika, Ketua MA
melakukan perpanjangan masa kerja beberapa hakim agung
pada tahun 2005 kemarin?

G. BPK:
1. Pengaturan:
Pasal 23E, 23F, dan 24G UUD 1945, UU No. 5 Tahun 1973
tentang BPK, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
2. Kewenangan Pasal 2 UU No. 5 Tahun 1973:
1. Badan Pemeriksa Keuangan bertugas untuk memeriksa
tanggung-jawab Pemerintah tentang Keuangan Negara.
2. Badan Pemeriksa Keuangan bertugas untuk memeriksa
semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
3. Pelaksanaan pemeriksaan tersebut di atas dilakukan
berdasarkan ketentuan-ketentuan Undang-undang.
4. Hasil pemeriksaan dan Pemeriksa Keuangan diberitahukan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Keanggotaan:
DPR mempunyai kewenangan untuk memilih anggota BPK
dengan memperhatikan pertimbangan dari DPD. Setelah
terpilih, orang tersebut akan diresmikan keanggotaannya
oleh Presiden (Pasal 23F ayat (1) UUD 1945). Akan tetapi,
dalam UU No.5 Tahun 1973 yang masih berlaku saat ini,
ditentukan bahwa ketua, wakil ketua dan para anggota BPK
diangkat oleh presiden dengan usul DPR (Pasal 7 UU No.5
Tahun 1973).
Badan Pemeriksa Keuangan berbentuk dewan yang terdiri
atas seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Wakil
Ketua merangkap Anggota dan 5 (lima) orang Anggota
(Pasal 6 UU No.5 Tahun 1973).
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 13 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

Anggota Badan Pemeriksa Keuangan diangkat untuk masa


jabatan selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali
sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan setiap kali
untuk masa jabatan 5 (lima) tahun (Pasal 9 ayat (1) UU No.5
Tahun 1973).
Apabila karena berakhirnya masa jabatan Anggota-anggota
Badan Pemeriksa Keuangan akan terjadi kekosongan dalam
keanggotaan Badan Pemeriksa Keuangan, maka masa
jabatan Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan
diperpanjang sampai terselenggaranya pengangkatan atas
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota Badan
Pemeriksa Keuangan(Pasal 9 ayat (2) UU No.5 Tahun
1973).
Untuk menjamin kontinuitas kerja Badan Pemeriksa
Keuangan dan tanpa mengabaikan kebutuhan akan
penyegaran, maka untuk setiap pergantian keanggotaan
Badan Pemeriksa Keuangan sedapat-dapatnya 3 (tiga)orang
anggota lama diangkat kembali(Pasal 9 ayat (3) UU No.5
Tahun 1973).
Anggota Badan Pemeriksa Keuangan berhenti/diberhentikan
oleh Presiden (Pasal 10 UU No.5 Tahun 1973):
a. karena meninggal dunia;
b. atas permintaan sendiri;
c. karena masa jabatannya berakhir;
d. karena mencapai usia 65 (enam puluh lima) tahun;
e. karena tidak dapat lagi secara aktif menjalankan
tugasnya karena sedang menjalani hukuman penjara
berdasarkan keputusan pengadilan yang tidak dapat
diubah lagi, karena tindak pidana yang dikenakan
ancaman hukuman sekurang-kurangnya 5 (lima)
tahun;
f. karena tidak memenuhi lagi syarat-syarat tersebut
dalam Pasal 8 ayat (2) Undang-undang ini
berdasarkan keterangan Pemerintah;
g. karena menurut pertimbangan Mahkamah Agung dan
Dewan Perwakilan Rakyat telah melanggar
sumpah/janjinya;
h. karena penyakit jiwa atau penyakit badan atau
ketidak-mampuan yang terus menerus, tidak dapat
melakukan kewajibannya dengan baik;
i. karena ternyata melanggar
larangan-larangan
tersebut dalam Pasal 11 Undang-undang ini.

4. Beberapa Ketentuan Checks and Balances:


Badan Pemeriksa Keuangan adalah Lembaga Tinggi Negara
yang dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh dan
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 14 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

kekuasaan Pemerintah, akan tetapi tidak berdiri di atas


Pemerintah (Pasal 1 UU No.5 Tahun 1973).
Apabila suatu pemeriksaan mengungkapkan hal-hal yang
menimbulkan sangkaan tindak pidana atau perbuatan yang
merugikan keuangan Negara, maka Badan Pemeriksa
Keuangan memberitahukan persoalan tersebut kepada
Pemerintah (Pasal 3 UU No.5 Tahun 1973). Sehubungan
dengan penunaian tugasnya Badan Pemeriksa Keuangan
berwenang meminta keterangan yang wajib diberikan oleh
setiap orang, badan / instansi Pemerintah atau badan swasta,
sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang (Pasal
4 UU No.5 Tahun 1973).
Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di lbukota Negara
Republik Indonesia (Pasal 5 UU No.5 Tahun 1973).
Pasal 30 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2003: Presiden
menyampaikan
rancangan
undang-undang
tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa
laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa
Keuangan, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun
anggaran berakhir.
Pasal 32 ayat (2) UU No. 17 Tahun 2003: Standar akuntansi
pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun
oleh suatu komite standar yang independen dan ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahulu
mendapat pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan.
Pasal
31
ayat
(1)
UU
No.
17
Tahun
2003:
Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan rancangan peraturan
daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD
kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa
oleh Badan Peme- riksa Keuangan, selambat-lambatnya 6
(enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Pasal 14 Ayat (4) UU No.1 Tahun 2004: Dokumen pelaksanaan
anggaran yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan
disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga, kuasa
bendahara umum negara, dan Badan Pemeriksa Keuangan.

Pasal 15 ayat (4) UU No. 1 Tahun 2004: Dokumen


pelaksanaan anggaran yang telah disahkan oleh Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah disampaikan kepada Kepala
satuan kerja perangkat daerah dan Badan Pemeriksa
Keuangan.

Pasal 55 ayat (3) UU No.1 Tahun 2004: Laporan Keuangan


yang dibuat oleh Menteri Keuangan sebagai pengelola fiskal
disampaikan Presiden. Kemudian oleh Presiden disampaikan
kepada Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 3 (tiga)
bulan setelah tahun anggaran berakhir.

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 15 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

Pasal 56 ayat (3) UU No.1 Tahun 2004: Laporan Keuangan


yang dibuat oleh Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan
Daerah selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
disampaikan
gubernur/bupati/walikota.
Kemudian
oleh
gubernur/bupati/walikota
disampaikan
kepada
Badan
Pemeriksa Keuangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun
anggaran berakhir.
Pasal 60 ayat (1) UU No. 1 Tahun 2004: Setiap kerugian
negara wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala
kantor kepada menteri/pimpinan lembaga dan diberitahukan
kepada Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari kerja setelah kerugian negara itu diketahui.
Pasal 62 ayat (1) UU No.1 Tahun 2004: Pengenaan ganti
kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh
Badan Pemeriksa Keuangan.
Pasal 62 ayat (2) UU No. 1 Tahun 2004: Apabila dalam
pemeriksaan kerugian negara/daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditemukan unsur pidana, Badan Pemeriksa
Keuangan menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 2 ayat (2) UU No. 15 Tahun 2004: BPK melaksanakan
pemerikasaan atas pengelolaan dan tanggung jawab
pemeriksaan keuangan negara.
Pengelolaan keuangan negara (Pasal 1 angka 6 UU No. 15
Tahun 2004) adalah keseluruhan kegiatan pejabat pengelola
keuangan sesuai dengan kedudukan dan kewenangannya,
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
pertanggungjawaban.
Tanggung Jawab Keuangan Negara (Pasal 1 angka 7 UU No.
15 Tahun 2004): kewajiban pemerintah untuk pengelolaan
keuanngan negara secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis dan transparan
dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Pasal 3 ayat (2) UU No. 15 Tahun 2004: apabila pemeriksaan
dilakukan oleh akuntan publik, laporan hasil pemeriksaan wajib
disampaikan kepada BPK.
Pasal 5 ayat (2) UU No. 15 Tahun 2004: Standar pemeriksaan
keuangan negara disusun oleh BPK, setelah berkonsultasi
dengan pemerintah.
Pasal 6 UU No. 15 Tahun 2004: penentuan obyek
pemeriksaan, perencanaan dan pelaksanaan pemeriksaan,
penentuan waktu dan metode pemeriksaan serta penyusunan
dan penyajian laporan pemeriksaan dilakukan secara bebas
dan mandiri oleh BPK.
Pasal 7 ayat (1) UU No. 15 Tahun 2004: dalam merencanakan
tugas [emeriksaan, BPK memperhatikan permintaan, saran dan

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 16 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

pendapat DPR, DPD, dan DPRD. Selain itu, BPK dapat


mempertimbangakn informasi dari pemerintah, bank sentral,
dan masyarakat (Pasal 8 UU No. 15 Tahun 2004).
Pasal 14 UU No. 15 Tahun 2004: apabila dalam pemeriksaan
ditemukan unsur pidana, BPK segera melaporkan hal tersebut
kepada instansi yang berwenang sesuai dengan prosedur yang
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 17 UU ayat (1) No. 15 Tahun 2004: bahwa laporan hasil
pemeriksaan harus disampaikan kepada DPR dan DPD dalam
waktu 2 bulan semenjak diterimanya laporan keuangan
pemerintah pusat .
Pasal 17 ayat (2) UU No. 15 Tahun 2004: bahwa laporan hasil
pemeriksaan harus disampaikan kepada DPRD dalam waktu 2
bulan semenjak diterimanya laporan keuangan pemerintah
daerah.
Pasal 17 ayat (3)-(5) UU No. 15 Tahun 2004: Hasil
pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh BPK disampaikan
kepada
Presiden/
kepala
daerah
sesuai
dengan
kewenangannya. Hal yang sama juga dilakukan kepada DPR,
DPD/DPRD.
Pasal 20 UU No. 15 Tahun 2004: terdapat kewajiban pihak
yang diperiksa pengelolaan keuangannya oleh BPK untuk
menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK. Jika hal itu tidak
dilakukan, maka dapat dikenai sanksi administratif sesuai
dengan peraturan perundang-undang di bidang kepegawaian
Pasal 22 UU No. 15 Tahun 2004: apabila BPK menemukan
kekurangan
kas/barang
yang
merugikan
keuangan
negara/daerah, BPK menetapkan surat keputusan penetapan
batas waktu pertanggungjawaban bendahara terhadap
kekurangan tersebut. Bendahara dapat mengajukan keberatan
terhadap hal tersebut dalam waktu 14 hari kerja setelah
diterima surat keputusan BPK. Apabila bendahara tidak
mengajukan keberatan atau pembelaan dirinya ditolak, maka
BPK menetapakan surat keputusan pembebanan penggantian
kerugian
negara/daerah
kepada
bendahara
yang
bersangkutan.

5. Issue:
Ketentuan Pasal 23E ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa
BPK adalah badan yang bebas dan mandiri. Kepada siapakah
BPK memberikan pertanggungjawabannya?
Berkaitan dengan sengketa kewenangan yang terjadi antara
DPD, di satu sisi, dan DPR serta Presiden, di sisi lain, dalam
hal pengusulan pengangkatan anggota BPK beberapa waktu
silam, apakah DPR dan Presiden telah melakukan
pelanggaran terhadap kewenangan DPD?
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 17 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

H. KPU (Komisi Pemilihan Umum):


Komisi ini dibentuk berdasarkan ketentuan pasal 22 ayat (5) UUD
yang mengatur, bahwa Pemilihan Umum diselenggarakan oleh suatu
komisi pemilihan umum yang bersifat nasional., tetap dan mandiri.
Adapun kedudukan, tugas dan wewenang KPU lebih lanjut diatur melalui
UU no. 12 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD dan
DPRD dan UU Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Adapun tugas dan wewenang dari KPU tertuang dalam ketentuan
pasal 25 UU No 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum anggota DPR,
DPD dan DPRD adalah; (a) merencanakan penyelenggaraan Pemilu, (b)
menetapkan organisasi dan tata cara semua tahapan pelaksanaan
Pemilu, (c) Mengkoordinasikan, meyelenggarakan, dan mengendalikan
semua tahapan pelaksanaan Pemilu, (d) memetapkan peserta Pemilu, (e)
menetapkan daerah pemilihan, jumlah kursi dan calon anggota DPR,
DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/Kota, (f) Menetapkan
tanggal, waktu, tata cara pelaksanaan kampanye, dan pemungutan suara,
(g) Menetapkan hasil Pemilu dan mengumumkan calon terpilih anggota
DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, (h) melakukan
evaluasidan pelaporan pelaksanaan Pemilu, (i) melaksanakan tugas dan
kewenangan lain yang diatur undang-undang.
Calon keanggotaan KPU diusulkan oleh Presiden kepada DPR
untuk mendapatkan persetujuan. Calon anggota KPU Provinsi diusulkan
oleh gubernur untk mendapatkan persetujuan untuk ditetapkan sebagai
anggota KPU provinsi., dan calon anggota KPU Kabupaten/Kota
diusulkan oleh bupati/walikota untuk mendapatkan persetujuan KPU
provinsi untuk ditetapkan sebagai anggota KPU Kabupaten/Kota. Adapun
penetapan keanggotaan KPU dilakukan oleh Presiden untuk KPU dan
oleh KPU untuk KPU provinsi dan KPU Kabupaten/Kota. Adapaun
keuangan KPU bersumber dari APBN dan APBD.
Dalam Konteks demokrasi, keberadaan komisi ini menjadi penting
untuk menyelenggarakan sebuah mekanisme demokratik dalam memilih
dan menentukan siapa saja yang berhak mengisi kelembagaankelembagaan negara, khususnya anggota legislative dan Eksekutif
(Presiden dan Wakil Presiden). Diharapkan, dengan pemilihan yang
demokratis, akan menghasilkan wakil-wakil rakyat yang dapat
memperjuangkan aspirasi dan kepentingan mereka.
1. Pengaturan: Pasal 22E ayat (5) UUD 1945, UU No.12 Tahun 2003
tentang Pemilihan Umum jo. UU No. 20 Tahun 2004 tentang
Penetapan Perpu No.2 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 12
Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD
menjadi Undang-Undang.
2. Kewenangan:
Sebagai penyelenggara Pemilihan Umum
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 18 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

3. Keanggotaan:
KPU pada tingkat nasional beranggotakan 11 orang;
KPU provinsi, kabupaten, dan kota masing-masing
beranggotakan 5 orang anggota (Pasal 16 ayat (1) UU
No.12 Tahun 2003)
Masa jabatan 5 tahun (Pasal 19 ayat (6) UU No.12
Tahun 2003)
Proses pencalonan anggota KPU (Pasal 19 ayat (1)-(5)
UU No.12 Tahun 2003):
1. Untuk anggota KPU, diusulkan oleh presiden
dengan persetujuan DPR dan diresmikan oleh
presiden.
2. Untuk anggota KPU Provinsi, diusulkan oleh
gubernur
dengan
persetujuan
KPU
dan
diresmikan oleh KPU.
3. Untuk anggota KPU Kabupaten/Kota, diusulkan
oleh bupati/walikota dengan persetujuan KPU
Provinsi dan diresmikan oleh KPU.
4. Issues:
Apakah KPU secara politis dan hukum benar-benar
mandiri? Jelaskan jawaban saudara yang disertai
dengan dasar hukumnya!
Apakah KPU berhak membatasi mengeluarkan peraturan
yang membatasi hak konstitusional seseorang untuk ikut
serta dalam pemelihan umum? Jelaskan jawaban
saudara yang disertai dengan dasar hukumnya!
Mengapa MK berkesimpulan bahwa Pilkada tidak
termasuk dalam ranah pemilu yang diatur dalam UUD
Negara RI Tahun 1945?
Apakah KPUD dan KPU Provinsi/Kabupaten/Kota itu
sama? Jelaskan.

I. Bank Sentral:
1. Pengaturan: Pasal 23D UUD 1945, UU No.23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia jo. UU No.3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU
No.23 Tahun 1999.
Pada Pasal 23 D UUD 1945 tidak secara eksplisit
disebutkan bahwa Bank Indonesia adalah Bank Sentral,
melainkan dalam pasal tersebut hanya disebutkan bahwa
negara memiliki suatu bank sentral yang independen.
Apabila dilihat pada Pasal 4 ayat (1) UU No. 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia jo. UU No. 3 Tahun 2004
dapat ditemukan bahwa Bank Indonesia adalah Bank
Sentral Republik. Selain itu, pada ayat (2) pasal yang
sama juga ditentukan bahwa Bank Indonesia adalah
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 19 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

lembaga negara yang independen, bebas dari pengaruh


pemerintah dan/atau pihak-pihak lain.
2. Kewenangan:
Pada Pasal 23D UUD 1945 hanya disebutkan bahwa
susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab,
dan independensinya diatur dengan undang-undang.
Jadi dalam UUD 1945 tidak disebutkan secara jelas
kewenangan dari Bank Indonesia. Oleh karena pasal tsb
langsung menunjuk pada UU organiknya (Organic Act),
maka harus dilihat pada UU organik, i.e. UU No.23
Tahun 1999 jo. UU No. 3 Tahun 2004.
Pada Pasal 8 UU No.23 Tahun 1999 disebutkan bahwa
BI mempunyai kewenangan untuk:
a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem
pembayaran;
c. mengatur dan mengawasi Bank
Tujuan BI sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU No UU
No.23 Tahun 1999 jo. UU No. 3 Tahun 2004, adalah:
1. mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah
2. dalam rangka mencapai tujuan di atas, BI
melaksanakan
kebijakan
moneter
secara
berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di
bidang perekonomian.
3. Keanggotaan:
Pimpinan BI disebut dengan Dewan Gubernur BI yang
beranggotakan 4-7 orang Deputi Gubernur. Dewan
Gubernur ini dipimpin oleh seorang Gubernur dan Deputi
Gubernur Senior (Pasal 37 UU No.23 Tahun 1999).
Pengisian jabatan Gubernur dan Deputi Gubernur Senior
dilakukan dengan mekanisme: Diusulkan dan Diangkat
oleh Presiden dengan persetujuan DPR, sedangkan
Deputi Gubernur diusulkan Gubernur BI, diangkat oleh
Presiden dengan persetujuan DPR (Pasal 41 UU No.23
Tahun 1999).
4. Issues:
Apakah BI benar-benar independent dari segala
kekuasaan yang ada?
Apakah BI dapat mengeluarkan peraturan perundangundangan yang memberikan pembatasan terhadap hak
seseorang? Jelaskan jawaban saudara yang disertai
dengan dasar hukumnya!
II. ALAT NEGARA:
A. TNI
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 20 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

1. Pengaturan: Pasal 10, Pasal 30 UUD 1945, UU No. 3 Tahun 2002


tentang Pertahanan Negara, dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang
Tentara Nasional Indonesia.
2. Kewenangan:
Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara,
mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD
1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap
keutuhan bangsa dan negara (Pasal 7 ayat (1) UU No. 34
Tahun 2004) .
TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan
(Pasal 5 UU No. 34 Tahun 2004).
Pertahanan
negara
adalah
segala
usaha
untuk
mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap
bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa
dan negara (Pasal 1 angka 1 UU No. 3 Tahun 2002 jo. Pasal 1
Angka (5) UU No. 34 Tahun 2004).
TNI terdiri dari Angkatan Darat, Laut, dan Udara (Pasal 10 ayat
(2) UU No. 3 Tahun 2002)
TNI adalah alat pertahanan negara (Pasal 10 ayat (1) UU No.
3 Tahun 2002). Konsekuensi sebagai alat pertahanan negara
adalah TNI berkedudukan di bawah presiden sebagai kepala
negara.
Tentara Nasional Indonesia bertugas melaksanakan kebijakan
pertahanan negara untuk (Pasal 10 ayat (3) UU No. 3 Tahun
2002) :
1. mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan
wilayah;
2. melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa;
3. melaksanakan Operasi Militer Selain Perang
(MOOTW: Military Operation Other Than War); dan
4. ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan
perdamaian regional dan internasional.
Ketika TNI sebagai pelaksana kebijakan pertahanan negara
maka presiden adalah penentu kebijakan umum pertahanan
negara (Pasal 13 ayat (2) UU No. 3 Tahun 2002). Dalam
melaksanakan kewenangan ini presiden dibantu oleh Dewan
Pertahanan Nasional yang mempunyai fungsi sebagai
penasihat presiden khusus dalam bidang menetapkan kebijakan
umum pertahanan dan pengerahan segenap komponen
pertahanan negara (Pasal 15 ayat (2) UU No. 3 Tahun 2002).
Dewan ini diketuai sendiri oleh Presiden dan beranggotakan
Anggota Tetap (yang terdiri dari Wapres, MenHan, Menlu,
MenDagri dan Panglima TNI) dan Anggota tidak Tetap (yang
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 21 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

terdiri dari pejabat pemerintah dan pejabat non pemerintah yang


dianggap perlu dalam masalah yang dihadapi). Adalah sesuatu
yang tidak masuk akal seseorang duduk secara bersamaan
sebagai penasehat dan orang yang diberikan nasehat. Ini
merupakan kekurangan karena struktur dalam lembaga
kepresidenan kita belum diatur secara jelas dalam peraturan
perundang-undangan yang ada. Bandingkan dengan Nasional
Security Council di US.
Presiden berwenang dan bertanggung jawab dalam
pengelolaan sistem pertahanan negara (Pasal 13 ayat (1) UU
No. 3 Tahun 2002). Kedudukan presiden dalam pasal ini,
secara umum adalah sebagai kepala negara karena TNI adalah
alat pertahanan negara.
Presiden berwenang dan bertanggung jawab atas pengerahan
TNI (Pasal 14 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2002). Akan tetapi jika
ada ancaman bersenjata, pengerahan TNI oleh presiden harus
mendapat persetujuan DPR. Persetujuan DPR dimasukan
sebagai salah satu syarat pengerahan TNI untuk ancaman
bersenjata dengan dasar:
1. Adanya konsekuensi anggaran dalam pengerahan
TNI
2. TNI sebagai alat pertahanan negara, sehingga rakyat
melalui parlemen diperlukan persetujuannya (Civilian
Supremacy).
3. Menanggulangi penyalahgunaan kekuatan TNI.
4. Adanya pendekatan hukum humaniter dalam
kekuasaan militer presiden.
Selain itu, presiden dapat mengerahkan TNI terlebih dahulu
dalam keadaan memaksa untuk menghadapi ancaman
bersenjata (Pasal 14 ayat (3) UU No. 3 Tahun 2002) dan
maksimal 2x24 jam, presiden harus mendapatkan persetujuan
dari DPR (Pasal 14 ayat (4) UU No. 3 Tahun 2002).
Sebenarnya kewenangan ini agak berbahaya karena mungkin
dalam waktu 2x24 jam setelah pengerahan TNI telah terjadi
peperangan yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat.
Ketika kerugian itu telah nyata terjadi, bagaimana proses
pengembalian keadaan dan pemberian ganti rugi terhadap hal
tersebut? Dalam UU ini belum diatur. Pada sisi lain, proses ini
sangat bergantung pada kegiatan intelegensi yang dilakukan
oleh TNI, Mungkin ini adalah salah satu cara meminta
pertanggung jawab penyelenggara kegiatan intelegensi dalam
tubuh TNI, karena selama ini kegiatan intelegensi selalu
menggunakan rahasia negara sebagai tameng untuk tidak
mempertanggungjawabkannya usulan yang diberikannya.
Yang dimaksud dengan ancaman bersenjata adalah berbagai
usaha dan kegiatan oleh kelompok atau pihak yang

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 22 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

terorganisasi dan bersenjata, baik dari dalam maupun luar


negeri yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah,
dan keselamatan segenap bangsa (Penjelasan Pasal 14 ayat
(2) UU No. 3 Tahun 2002).
Presiden mengangkat dan memberhentikan Panglima TNI
dengan persetujuan DPR (Pasal 17 ayat (1) UU No. 3 Tahun
2002 jo. Pasal 13 ayat (2) UU No. 34 Tahun 2004). Ini
merupakan reduksi kekuasaan presiden sebagai kepala negara
yang dilakukan melalui UU. Di satu sisi ada pembenaran
terhadap ketentuan semacam ini. Pembenarannya adalah
adanya supremasi sipil terhadap militer dan presiden setuju
untuk direduksi kekuasaannya karena UU merupakan produk
hukum yang dihasilkan melalui persetujuan bersama antara
DPR dan Presiden. Di sisi lain, ketentuan ini menyalahi
ketentuan yang ditetapkan dalam UUD 1945. Suatu UU
seharusnya tidak mempersempit ataupun memperluas
ketentuan yang ditentukan dalam UUD karena UUD adalah
bentuk perjanjian yang tertinggi yang disetujui bersama oleh
Bangsa Indonesia.
Kandidat yang diusulkan presiden untuk menjadi panglima TNI
adalah kandidat yang sedang atau pernah menjabat sebagai
kepal staf angkatan (Pasal 17 ayat (2) UU No. 3 Tahun 2002 jo.
Pasal 13 ayat (4) UU No. 34 Tahun 2004), sedangkan kepala
staf angkatan diangkat dan diberhentikan presiden berdasarkan
usulan dari Panglima TNI(Pasal 17 ayat (3) UU No. 3 Tahun
2002 jo. Pasal 14 ayat (2) UU No. 34 Tahun 2004).
Panglima TNI menyelenggarakan perencanaan strategi dan
operasi militer, pembinaan profesi dan kekuatan militer, serta
memelihara kesiagaan operasional (Pasal 18 ayat (2) UU No. 3
Tahun 2002) dan mempertanggung jawab kepada Presiden
dalam melaksanakan tugasnya (Pasal 18 ayat (4) UU No. 3
Tahun 2002).
Bagaimana mekanisme yang berlaku untuk menyatakan
perang? Clue: Lihat UU No.37 Tahun 1999 tentang
Hubungan Internasional.
Jika terjadi serangan terhadap RI, apakah mekanisme yang
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan tetap
berlaku? Kalau tidak berlaku, bagaimana mekanismenya? Clue:
lihat ketentuan dalam UU No.3 Tahun 2002 dan UU
No.23/Prp/1959 tentang Keadaan Darurat.

3. Issues:
1. Ketika terjadi perselisihan pendapat antara Presiden dengan
DPR mengenai pemberhentian Panglima TNI yang dijabat oleh
Jenderal Endiarto dan pengangkatan Jenderal Riakudu sebagai
Panglima TNI, apakah perselisihan ini dapat diajukan kepada
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 23 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

MK? Jelaskan jawaban saudara yang disertai dengan dasar


hukumnya!
2. Bagaimana hubungan hukum antara TNI dengan Departemen
Pertahanan? Sebutkan dasar hukumnya!

B. POLRI
1. Pengaturan: Pasal 30 ayat (4) UUD 1945, UU No. 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2. Kewenangan:
Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan
negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban
masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman,
dan pelayanan kepada masyarakat (Pasal 2 UU No. 2 Tahun
2002). Dengan menggunakan logika sebagai salah satu fungsi
pemerintahan, Polri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
kekuasaan pemerintahan negara yang berada di bawah
Presiden.
Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara
yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat,
menegakkan
hukum,
serta
memberikan
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri (Pasal 5
ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002). Dalam kedudukannya sebagai
alat negara, Polri berkekedudukan di bawah presiden sebagai
kepala negara karena presiden sebagai kepala negara
merupakan personifikasi dari NKRI.
Tugas Pokok Polri (Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2002):
1. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
2. menegakkan hukum; dan
3. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
kepada masyarakat.
Pengemban fungsi kepolisian adalah Kepolisian Negara
Republik Indonesia yang dibantu oleh (Pasal 3 UU No. 2 Tahun
2002):
a. kepolisian khusus;
b. penyidik pegawai negeri sipil; dan/atau
c. bentuk-bentuk pengamanan swakarsa
Susunan organisasi dan tata kerja Kepolisian Negara Republik
Indonesia disesuaikan dengan kepentingan pelaksanaan tugas
dan wewenangnya yang diatur lebih lanjut dengan Keputusan
Presiden (Pasal 7 UU No. 2 Tahun 2002). Rasio mengapa
diatur lebih lanjut dengan Keppres karena letak kepolisian yang
berada di bawah presiden sebagai kepala negara dan kepala
pemerintahan. Oleh karena itu, Kapolri diangkat dan
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 24 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

diberhentikan oleh presiden dan dalam melaksanakan tugasnya


bertanggung jawab langsung kepada presiden.
Terdapat hubungan hirarkisitas antara polri dengan polda
diseluruh indonesia (Pasal 10 UU No. 2 Tahun 2002). Adanya
hubungan hirarkisitas ini karena negara memberikan
kekuasaannya kepada Polri dan Polri merupakan satukesatuan, sehingga ada garis komando dari Kapolri kepada
Kapolda di seluruh Indonesia.
Kapolri diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan
persetujuan DPR (Pasal 11 UU No. 2 Tahun 2002). Mekanisme
ini sedikit bermasalah ketika Kapolri adalah pembantu presiden
dalam menyelenggarakan salah satu fungsi pemerintahan,
sebab seorang pembantu Presiden adalah political appointy.
Artinya, diangkat dan diberhentikan seorang pembantu presiden
adalah kewenangan presiden saja; tidak perlu ada persetujuan
DPR. Di sisi lain, ketika Kapolri adalah pembantu presiden
dalam kedudukannya sebagai kepala negara, pengangkatan
dan pemberhentian Kapolri memang perlu persetujuan rakyat,
melalui DPR.
Ada batasan waktu persetujuan DPR yaitu 20 hari sejak
diterima surat presiden (Pasal 11 ayat (3) UU No. 2 Tahun
2002) mengenai pengangkatan dan pemberhentian Kapolri.
Pertanyaannya kemudian, jika presiden mengajukan calon yang
sama, walaupun calon tersebut telah ditolak oleh DPR
sebelumnya, bagaimana penyelesaiannya?
Anggota kepolisian tunduk pada kekuasaan peradilan umum
(Pasal 29). Konsekuensinya pemeriksaan dan penuntutan juga
dilakukan oleh kepolisian (Internal Affairs) dan kejaksaan. Hal
ini didasarkan karena kepolisian sama kedudukannya dengan
civilian.
Adanya lembaga kepolisian nasional, sering disebut Komisi
Kepolisian Nasional, yang berkedudukan dan bertanggung
jawab langsung kepada Presiden (Pasal 37 UU No. 2 Tahun
2002). Tugas pokok komisi ini adalah (Pasal 38 UU No. 2
Tahun 2002):
1. membantu Presiden dalam menetapkan arah
kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia;
dan
2. memberikan pertimbangan kepada Presiden
dalam pengangkatan dan pemberhentian Kapolri
Komisi Kepolisian Nasional beranggotakan 6 orang yang
berasal dari unsur pemerintah, pakar kepolisian dan tokoh
masyarakat.
Bantuan diberikan kepada TNI ketika terjadi keadaan darurat
militer dan keadaan perang (Pasal 41 UU No. 2 Tahun 2002 )
yang akan diatur lebih lanjut dengan PP.

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 25 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

4. Issues:
Apa ratio presiden memegang kekuasaan tertinggi terhadap
atas Polri? Jelaskan jawaban saudara yang disertai dengan
dasar hukum jawab saudara! Clue: Presiden sebagai kepala
negara karena TNI dan Polri adalah Alat Negara dan
Penyelenggara Pemerintahan.
Ketika presiden adalah pemegang kekuasaan tertinggi TNI dan
Polri, apa konsekuensi yuridisnya? Clue: Presiden sebagai
penanggung jawab pelaksanaan tugas kedua lembaga
tersebut.
Apakah kekuasaan presiden di bidang pertahanan dan
keamanan dapat diserahkan kepada Wakil Presiden ketika
Presiden berhalangan sementara? Clue: lihat Tap MPR No
VII/MPR/1973. Sebaiknya kekuasaan ini tidak diberikan dengan
alasan presiden dan wapres berasal dari partai politik yang
berbeda, akan tetapi bila presiden dan wakil presiden dalam
prinsip one ticket, hal ini bisa dilakukan karena wapres adalah
ban serep dari Presiden.
Bagaimana pola hubungan antara presiden dengan Panglima
TNI dan Kapolri? Clue: lihat UU No.2 Tahun 2002, , UU No.34
Tahun 2004.
III. STATE AUXILIARY 5 :
A. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Komnas HAM dibentuk bedasarkan UU No. 39 Tahun 1999.
Adapun tujuan dibentuknya Komisi ini adalah: (a) mengembangkan
komdisi yang konduktif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai
dengan Pancasila, UUD 1945, dan piagam perserikatan bangsa-bangsa,
serta deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, (b) Meningkatan
perlindungan dan penegakan hak asasi manusia Indonesia guna
berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuan
berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Komisi ini dibentuk untuk
mendukung sistem pemerintahan, dalam mendorong dan menegakkan
Hak Asasi manusia.
Keanggotaan Komnas HAM sesuai dengan pasal 83 UU No.
39/1999 Tentang HAM berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang yang dipilih
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan usulan
Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden selaku Kepala Negara.
Anggaran Komnas HAM dibebankan kepada APBN.
Pendirian komisi ini sangat penting untuk meningkatkan dan
mendorong penghormatan terhadal HAM oleh Negara dan penyelenggara
negara. Selain itu, untuk memberikan kepastian hukum bagi para
pelanggar HAM.
5

Diambil dari proposal penelitian Lembaga Negara, KRHN, 2004.

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 26 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

B. Komisi Tindak Pidana Korupsi (KPK)


Komisi ini dibentuk berdasarkan Pasal 43 Undang-undang No.31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tujuan
pembentukan komisi ini adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil
guna terhadap upaya pemberantasan korupsi. 6 Komisi ini bertugas
mengkoordinasikan intansi yang berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi, supervisi terhadap instansi yang melakukan tindak
pidana korupsi, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan
pencegahan tindak pidana korupsi dan melakukan monitoring terhadap
penyelenggaraan pemerintahan negara 7 .
Adapun wewenang KPD adalah: mengkoordinasikan penyidikan,
dan penuntutan tindak pidana korupsi, menetapkan system pelaporan
dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi, meminta informasi
tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi
yang terkait, melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan
instasi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi,
dan meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana
korupsi 8 .
KPK terdiri dari 5 (lima) orang pimpinan komisi dan 4 orang tim
penasehat. Pimpinan komisi berstatus sebagai pejabat negara 9 . Pimpinan
KPK dipilih oleh DPR RI berdasarkan calon anggota yang diusulkan oleh
Presiden RI. Untuk melancarkan pemilihan dan penentuan calon
Pimpinan KPK, pemerintah membentuk panitia seleksi yang bertugas
menyaring calon anggota KPK yang akan diusulkan ke DPR RI.
Sebelum adanya KPK, telah dikeluarkan UU No.28 Tahun 1999
tentang Penyelnggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, yang
mengharuskan dibentuknya Komisi Pemeriksa. Untuk itu, dikeluarkanlah
PP No.68 Tahun 1999 yang membentuk Komisi Pemeriksa Kekayaan
Penyelenggara Negara (KPKPN). Setelah KPK terbentuk, dengan
sendirinya KPKPN dibubarkan.
KPK dibentuk sebagai respon tidak efektifnya Kepolisian dan
Kejaksaan dalam memberantas korupsi yang semakin merajalela.
Diharapkan dengan adanya KPK dapat mendorong penyelenggaraan
Good Governance. Sehingga keberadaan komisi sangat penting, hanya
saya perlu ada koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan
yang serupa.
C. Komisi Ombudsman Nasional (KON)

Pasal 4 UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pasal 6 UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
8
Pasal 7 UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
9
Pasal 21 ayat (1) dan ayat (3) UU No.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
TEAM TEACHING KELAS B
Halaman 27 dari 31
halaman
7

HUKUM TATA NEGARA

Komisi ini dibentuk berdasarkan Keppres No. 44 Tahun 2000


tentang Ombudsman, dan saat ini sedang dibahas RUU Komisi
Ombudsman. Tugas utama dari komisi ini adalah menyebarluaskan
pemahaman mengenai komisi Ombudsman, melakukan koordinasi dan
ata kerjasama dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga
swadaya masyarakat, para ahli, praktisi, organisasi profesi lainnya. Selain
itu Komisi melakukan langkah untuk menindaklanjuti laporan atau
informasi mengenai terjadinya penyimpangan oleh penyelenggara negara
dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam memberikan pelayanan
umum.
Dalam pelaksanaan keseharian, tugas dan wewenang komisi
Ombudsman Nasional dilakukan oleh beberapa sub komisi dan masingmasingkomisi memiliki wewenang yang berbeda-beda. Sub komisi
tersebut adalah sub komisi klarifikasi, Monitoring dan Pemeriksaan, Sub
Komisi Penyuluhan dan Pendidikan, Sub Komisi Pencegahan dan Sub
Komisi Khusus.
Ombudsman Nasional dipimpin oleh seorang ketua, dan dibantu
oleh seorang wakil ketua, serta anggota yangs semuanya berjumlah
sebanyak-banyaknya 9 orang. Anggota Ombudsman dipilih dari para
tokoh masyarakat yang dianggap memiliki kemampuan untuk
melaksanakan tugas komisi ini. Adapun untuk pertama pembentukannya,
pimpinan Ombudsman Nasional ditetapkan dengan keputusan Presiden.
Adapun segala biaya bagi pelaksanaan tugas Ombudsman Nasional
dibebankan kepada anggaran belanja Sekretariat Negara.
Komisi Ombudsman Nasional dibentuk untuk meningkatkan
pengawasan terhadap penyelenggaraan negara dan untuk menjamin
perlindungan terhadap hak-hak masyarakat. KON lebih banyak
berhubungan dengan aparatur penyelenggara negara terutama
pemerintah dan peradilan, dalam rangka mendorong penyelenggaraan
pemerintah secara bersih dan mempercepat proses penegakan
pemberantasan korupsi.
D. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)
Komisi ini dibentuk berdasarkan UU No. 5/1999 dan Keppres No.
75/1999. Adapun tugas dan wewenang dari Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (KPPU): (a) menerima laporan masyarakat dan atau dari pelaku
usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat, (b) melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan
usaha dan atau tindak pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya
praktek momopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat, (c) melakukan
penyidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek
monopoli dan atau usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat
atau pelaku usaha atau menghadirkan pelaku usaha saksi, saksi ahli, atau
setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f, yang tidak
bersedia memenuhi panggilan komisi, (d) meminta keterangan dari
instansi pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau
TEAM TEACHING KELAS B
halaman

Halaman 28 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

pemeriksaan, (f) memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya


kerugian dipihak pelaku usaha lain atau masyarakat, (g) memberitahukan
putusan komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat, (h) menjatuhkan sanksi
berupa tindak administrative kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang ini.
KPPU adalah suatu usaha independent yang terlepas dari
pengaruh dan kekuasaan pemerintah seta pihak lain dan Komisi
bertanggung jawab kepada Presiden.
Komisi ini terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang
wakil ketua merangkap anggota sekurang-kurangnya 7 orang anggota.
Anggita Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Adapun pembiayaan Komisi ini
dibebankan kepada APBN dan atau sumber-sumber lain yang
diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun tujuan dibentuknya Komisi ini adalah untuk menjamin iklim
usaha yang kondusif, dengan adanya persaingan yang sehat, sehingga
ada kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku
usaha menengah, dan pelaku usaha kecil. Selain itu, komisi ini dibentuk
juga untuk mendorong terciptanya efisiensi dan efektivitas dalam kegiatan
usaha.
E. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Landasan hukum pembentukan Komisi Penyiaran adalah Undangundang No. 32 Tahun 2002 Penyiaran. Untuk menyelenggarakan
penyiaran, maka dibentuk sebuah komisi penyiaran. 10
Komisi penyiaran Indonesia merupakan wujud dari peran serta
masyarakat yang berfungsi mewadahi aspirasi dan kepentingan
masyarakat dan memiliki wewenang untuk: (a) memetapkan standard
program siaran, (b) menyusun peraturan dan dan menetapkan pedoman
perilaku penyiaran, (c) mengawasi pelaksaan peraturan dan pedoman
perilaku penyiaran serta standard program siaran, (d) memberikan sanksi
terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta
standard program siaran, (e) melakukan koordinasi dan/atau kerjasama
dengan Pemerintahan, lembaga penyiaran, dan masyarakat. 11 Adapun
tugas dan kewajiban komisi ini adalah: (a) menjamin masyarakat untuk
memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi
manusia, (b) ikut membantu infrastruktur bidang penyiaran, (c) ikut
membantu persaingan yang sehat antar lembaga penyiaran dan industri
terkait, (d) memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan
seimbang, (e) menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan,
sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap
penyelenggaraan
penyiaran,
dan
(f)
menyusun
perencanaan
10
11

Pasal 6 ayat (4) UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.


Pasal 8 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran

TEAM TEACHING KELAS B


halaman

Halaman 29 dari 31

HUKUM TATA NEGARA

pengembangan SDM yang menjamin profesionalitas di bidang penyiaran.


12

KPI adalah lembaga negara yang bersifat independent dengan


jumlah keanggotaan meliputi KPI pusat berjumlah 9 orang dan KPI daerah
berjumlah 7 orang. Anggota KPI pusat dipilih oleh DPR RI dan KPI
Daerah oleh DPRD Privinsi. Calon anggota KPI dipilih atas usul
masyarakat. Pengawasan terhadap komisi ini dlakukan oleh DPR RI untuk
KPI Pusat dan DPRD Provensi untuk KPI Daerah. Sementara, anggaran
KPI berasal dari APBN untuk KPI Pusat dan APBD untuk KPI daerah.
F. Komisi Hukum Nasional (KHN)
Komisi Hukum Nasional dibentuk berdasarkan Keppres No. 15
Tahun 2000. Komisi yang dibentuk pada zaman pemerintahan Gus Dur
memiliki tugas; (a) memberikan pendapat atas permintaan
presidententang berbagai kebijakan hukum atau direncanakan oleh
Pemerintah tentang masalah-masalah Hukum yang berkaitan dengan
kepentingan umum dan kepentingan nasional, (b) Membantu Presiden
dengan bertindak sebagai pengarah dalam mendesain suatu rencana
umum untuk pembaharuan rencana umum untuk pembaharuan di bidang
hukum yang sesuai dengan cita-cita negara hukum dan rasa keadilan,
dalam upaya mempercepat penanggulangan krisis hukum dan rasa
keadilan, dalam upaya penegakkan hukum, serta dalam menghadapi
tantangan dinamika globalisasi terhadap system hukum di Indonesia. 13
Komisi Hukum Nasional merupakan lembaga non structural yang
bertanggung jawab kepada Presiden. 14 Keanggotaan Komisi berjumlah 6
orang terdiri dari seorang Ketua, seorang sekretaris, dan anggota. Adapun
pemberhentian, penambahan, atau pemberhentian ditetapkan oleh
Presiden atas usul Komisi. 15 Segala biaya yang diperlukan untuk
pelaksanaan tugas dari kimisi ini dibebankan kepada APBN. 16
Perlu upaya pengintegrasian peran dan wewenang antara KHN
dengan instansi yang lain, misalnya dengan BPHN atau dengan Badan
Legislatif DPR.
G. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
Pembentukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia merujuk pada
Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adapaun
pembentukan Komisi ini dilakukan melalui Keppres No. 77 Tahun 2003
tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Komisi ini bertugas
melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan
informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan,
12

Pasal 8 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2002 tentang penyiaran


Pasal 2 Keppres No. 15 tahun 2000 Tentang Komisi Hukum Nasional.
14
Pasal 2 ayat (2) Keppres No. 15 Tahun 2000 tentang Komisi Hukum Nasional.
15
Pasal 4 ayat ( 1 ) dean (2) Keppres No. 15 tahun 2000 tentang Komisi Hukum Nasional.
16
Pasal 9 Kepres No. 15 tahun 2000 tentang Komisi Hukum Nasional.
TEAM TEACHING KELAS B
Halaman 30 dari 31
halaman
13

HUKUM TATA NEGARA

pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan


perlindungan anak. Selain itu komisi ini juga memberikan laporan, saran,
masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan
anak. 17
Keanggotaan Komisi terdiri dari seorang ketua, dua orang wakil
ketua, seorang sekreatis dan lima orang anggota. Mereka terdiri dari
unsure-unsur pemerintah, tokoh agama, masyarakat, organisasi social,
organisasi masyarakat, organisasi profesi, LSM, dunia usaha, dan
kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak. 18
Keanggotaan Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
setelah mendapatkan persetujuan dari DPR dan bekerja untuk masa
jabatan 3 tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali. 19 Segala biaya
yang diperlukan Komisi ini dibebankan kepada APBN. 20
H. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)
Tujuan pembentukan komisi ini adalah untuk menyelesaikan
penlanggaran HAM yang berat yang terjadi di masa lalu di luar
pengadilan, guna mewujudkan perdamaian dan persatuan bangsa. Selain
itu juga untuk mewujudkan rekonsiliasi dan persatuan nasional dalam jiwa
saling pengertian. 21
Kelembagaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi bersifat public
dengan anggota komisi sebanyak 21 orang yang terdiri dari 3 orang
pimpinan, 9 orang anggota sub komisi penyelidikan dan klarifikasi, 5
orang sub komisi kompensasi, restitusi dan rehabilitasi dan 4 orang
anggota sub komisi pertimbangan amnesty. 22
Untuk pertama kali proses seleksi dilakukan oleh Presiden dengan
membentuk panitia seleksi. Panitia seleksi terdiri dari 2 orang unsur
pemerintah dan 3 orang dari unsur masyarakat. Panitia seleksi
mengusulkan sebanyak 42 calon anggota Komisi dan Presiden memilih
21 orang untuk diajukan kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan.
Keanggotaan 21 orang Komisi ditetapkan dengan keputusan Presiden. 23
Sumber pembiayaan Komisi dibebankan kepada APBN dan sumber lain
yang tidak mengikat. Adapun sumber pembayaran untuk pemberian
Kompensasi dan/atau rehabilitasi dibebankan kepada APBN. 24

17

Pasal 3 Keppres No. 77 tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
Pasal 4 dan 5 Kepres No. 77 Tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
19
Pasal 10 dan 11 Keppres No. 77 Tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia
20
Pasal 19 Kepres No. 77 Tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia
21
Pasal 3 RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.
22
Pasal 38 RUU Kimisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.
23
Pasal 33, 34 dan 36 RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
24
Pasal 42 dan 43 RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi.
TEAM TEACHING KELAS B
Halaman 31 dari 31
halaman
18