Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Fisiologi Tumbuhan


Dosen Pengampu Ir. Untung Sudjianto, M.Si

Disusun Oleh
Kelompok 14 :
1.

Yuni Maria Sriwulansih

(2012-41-035)

2.

Enggal Fajar Setiyani

(2012-41-034)

3.

Iik Suciati Ningrum

(2012-41-041)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
TAHUN 2012/2013

I.

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

A. Pendahuluan
Salah satu ciri kehidupan tumbuhan adalah bahwa tumbuhan itu mengalami proses tumbuh.
Tumbuh adalah kenaikan volume yang tidak dapat balik. Besar pertumbuhan persatuan waktu
disebut laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut
waktu.

Oleh karena itu bila laju tumbuh digambarkan dalam grafik, dengan laju tumbuh pada
sumbu ordinatnya dan waktu sebagai absis, maka grafik yang terjadi merupakan suatu
kurva yang berbentuk huruf S atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid pertumbuhan ini
berlaku bagi keseluruhan tumbuhan atau sel-selnya.
Kurva sigmoid yaitu kurva pertumbuhan cepat pada fase organisme sampai titik
tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun
pada fase organ. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga
fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan.
Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi
kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Semakin
besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran
berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang
menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. Pertumbuhan
tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai
suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati laju pertumbuhan daun sejak dari
embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap pada kacang tanah.
C. Bahan dan Alat
Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut :
1.

Bahan tumbuhan: Biji kacang tanah

2.

Alat : Kertas milimeter, pisau silet, pot berisi campuran pasir dan tanah

D. Prosedur
Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah :
1.

Rendam biji kacang tanah selama 2-3 jam dalam gelas piala.

2.

Pilih 15 biji yang baik untuk percobaan.

3.

Kupas 3 biji dan buka kotiledonnya, ukur panjang daun embrionya dengan
kertas milimeter, kemudian hitung nilai rata-ratanya.

4.

Tanam 12 biji dalam pot, siram dengan air secukupnya dan peliharalah dalam
rumah kaca atau di tempat yang teduh selama 2 minggu.

5.

Adakan pengamatan sebagai berikut:


1.

Ukur panjang daun pertama dan petiolnya (tangkai daun) pada umur 3,
5, 7, 10, dan 14 hari setelah tanam.

2.

Pengukuran daun pada hari ke-3 dan ke-5 dengan menggali biji (ambil
3 biji).

3.

Pengukuran selanjutnya dilakukan dengan cara mengukur langsung 3


tumbuhan sampel yang tumbuh normal.

6.

Dari pengukuran ini buatlah grafik dengan panjang rata-rata daun (termasuk
petiol/tangkainya) sebagai ordinat dan waktu pengukuran (umur tumbuhan)
sebagai absisnya.

E. Hasil dan Pembahasan


1.

Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan


Umur

Tanaman 1

Tanaman 2

Tanaman 3

Rata-rata

(2+2)/2=2 mm

(1+1)/2=1 mm

(2+1)/2=1,5 mm

1,5 mm

(2+4)/2=3 mm

(3+3)/2=3 mm

(3+3)/2=3mm

3 mm

(3+2)/2=2,5 mm

(13,5+4)/2=8,75 mm

(4,5+4,5)/2=4,5 mm

5,25 mm

7 cm

6,5 cm

4,8 cm

6,1 cm

10

8,5 cm

8 cm

6 cm

7,5 cm

14

9 cm

8,5 cm

7 cm

8,17 cm

(Hari)

Grafik kurva sigmoid

tinggi (mm)
90
80
70
60
50
tinggi (mm)

40
30
20
10
0
0

2.

10

14

Pembahasan

Kurva sigmoid merupakan kurva pertumbuhan cepat pada fase vegetatif


sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan
akhirnya menurun pada fase senesen. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai
fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik,
fase linier dan fase penuaan. Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan
lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan
ukuran organisme. Pada hasil pengamatan fase ini terjadi dari hari pertama
pengamatan sampai pada hari ke-6 sampai panjang daun rata-rata mencapai 5,25 mm
memperlihatkan pertumbuhan yang terus-menerus sampai batas-batas tertentu, hal ini
merupakan akibat adanya imbibisi air sehingga aktifitas metabolism membesar dan
sel-sel embrio membesar.
Semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Kemudian pertumbuhan
dengan meningkat tajam spade hari ke-8 dan ke-10, yang berturut-turut panjang rataratan daunnya mencapai 61 mm dan 75 mm. Pada fase linier, pertambahan ukuran
berlangsung secara konstan. Jika dilihat hasil pengamatan fase ini terjadi setelah hari
ke 10 sampai pada akhir pengamatan yaitu hari ke 14, hal ini dapat dikatakan fase
linier karena penambahan panjang rata-rata tak terlalu drastis hampir stabil. Fase
penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah

mencapai kematangan dan mulai menua. Pada pengamatan fase ini belum terlihat,
kemungkinan jika waktu pengamatan diperpanjang, fase ini dapat dilihat.
F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil data dan perhitungan data serta pembahasan dia atas maka dapat
praktikan simpulkan bahwa :
1.

Proses pertumbuhan ini dipengaruhi oleh bebrapa faktor internal seperti gen dan
hormon pertumbuhan dan faktor eksternal seperti cahaya, nutrisi, air, kelembaban,
dan sebagainya.

2.

Tumbuhan dalam pertumbuhannya mengalami tiga fase pertumbuhan yaitu fase


logaritmik, fase linier, dan fase penuaan.

3.

Laju pertumbuhan tanaman meningkat sebanding dengan waktu.


G. Daftar Pustaka

4.

Ismadi, M. H. 1993. Biokimia Umum. Gadjah Mada Press Yogyakarta.


Lakitan Benyamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.

5.

http://puspalarasati.wordpress.com/2011/02/24/biologi45ipb/

6.

http://laporanpraktikumpertanian.blogspot.com/2011/01/laporan-praktikum-fisiologitumbuhan_08.html.

II.

EVAPOTRANSPIRASI

A. Pendahuluan
Evapotranspirasi adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan
bertanaman melalui evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah proses dimana air
diubah menjadi uap air (vaporasi, vaporization) dan selanjutnya uap air tersebut
dipindahkan dari permukaan bidang penguapan ke atmosfer (vapor removal).
Evaporasi terjadi pada berbagai jenis permukaan seperti danau, sungai lahan
pertanian, tanah, maupun dari vegetasi yang basah. Transpirasi adalah vaporisasi di
dalam jaringan tanaman dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari permukaan
tanaman ke atmosfer (vapor removal). Pada transpirasi, vaporisasi terjadi terutama di
ruang antar sel daun dan selanjutnya melalui stomata uap air akan lepas ke atmosfer.
Hampir semua air yang diambil tanaman dari media tanam (tanah) akan
ditranspirasikan, dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan tanaman (Allen et al.
1998).
Air yang dibutuhkan tumbuhan sebagian besar akan diuapkan melalui
permukaan tumbuhan dan permukaan tanah (evapotranspirasi). Laju evapotranspirasi
dapat diketahui dengan berbagai cara, salah satu cara tersebut adalah dengan cara
penimbangan (gravimetri).
B. Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui laju evapotranspirasi
pada tanaman.
C. Bahan dan Alat
Bahan : benih, tanah, kompos dan perlengkapan bertanam (pot, cetok dan cangkul).
Alat

: timbangan, penggaris, label, gayung, dan alat tulis.

D. Prosedur
Prosedur dalam praktikum ini adalah :
1.

Menyiapkan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1.

2.

Timbang 1 buah pot dan dica tat bobotnya.

3.

Memasukan media ke dalam pot yang telah disiapkan dengan bobot


keseluruhan kira-kira 1 kg.

4.

Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga muncul tetesan air pada lubang
bawah pot dan tiriskan.
Biarkan selama 2 hari pada tempat yang teduh dan tidak terkena air hujan,

5.

kemudian ditimbang bobotnya. Selisih bobot yang terjadi merupakan air


maksimal yang dapat ditahan oleh tanah (air kapasitas lapangan)
6.

Tanam benih dalam pot masing-masing 3 biji per pot dan tambahkan air
sebanyak kapasitas lapangan. Kemudian ditimbang dan dicatat bobotnya.

7.

Letakan pot tersebut dalam rumah kaca atau pada tempat yang teduh
(usahakan agar tidak terkena air hujan).
Timbang Pot setiap 2 hari sekali catat bobotnya, jika terjadi perubahan bobot

8.

tanbahkan air agar bobotnya kembali seperti semula.


9.

Setelah umur 14 hari timbang dan catat bobotnya dan hentikan penyiraman.

10.

Timbang pot setiap hari dan catat bobotnya. Saat tanaman layu tambahkan air
agar bobotnya kembali seperti semula.

11.

Gambar perubahan bobot dengan sumbu x sebagai umur tanaman dan bobot
pot sebagai sumbu y.

E. Hasil dan Pembahasan


a. Hasil
Tabel 2. Hasil Pengamatan
Bobot Ember+Tanah+Air+Biji (g)
Tanggal
Pot 1

Pot 2

Pot 3

Pot 4

11-Jun

1400

1450

1450

1425

13-Jun

1375

1425

1450

1375

15-Jun

1420

1425

1425

1450

18-Jun

1400

1425

1375

1375

20-Jun

1400

1400

1425

1400

22-Jun

1450

1430

1450

1475

25-Jun

1450

1430

1450

1475

27-Jun

1425

1430

1450

1475

28-Jun

1375

1400

1375

1400

29-Jun

1350

1350

1325

1315

30-Jun

1325

1325

1275

1275

02-Jul

1275

1275

1215

1200

rata2

1387,08

1397,08

1388,75

1386,67

Ket : bobot keseluruhan awal = 1505 g (tanah 1000g, air 425 g dan pot 80 g)
Tabel 3. Pengurangan air
Tanggal

Pot 1

Pot 2

Pot 3

Pot 4

11-Jun

105

55

55

80

13-Jun

130

80

55

130

15-Jun

85

80

80

55

18-Jun

105

80

130

130

20-Jun

105

105

80

105

22-Jun

55

75

55

30

25-Jun

55

75

55

30

27-Jun

80

75

55

30

28-Jun

130

105

130

105

29-Jun

155

155

180

190

11-Jun

180

180

230

230

13-Jun

230

230

290

305

Rata-rata

118

108

116

118

Grafik rata-rata penguapan

rata-rata penguapan
120
115
110

rata-rata
penguapan

105
100
pot 1

pot 2

pot 3

pot 4

Ulangan

Jenis Tanaman

Rata-rata

Ulangan 1

Kacang tanah

77,27

Ulangan 2

Jagung

111,36

Ulangan 3

Kedelai

98,5

Ulangan 4

Kacang hijau

115

Ulangan 5

Padi

105

Ulangan 6

Kacang tanah

95,8

Ulangan 7

Jagung

93,18

Ulangan 8

Kedelai

141,67

Ulangan 9

Kacang hijau

100,5

Ulangan 10

Padi

75

rata-rata penguapan
160
140
120
100
80
60

rata-rata penguapan

40
20
0

b. Pembahasan
Berdasarkan tabel 2 dan 3 dapat diketahui adanya laju transpirasi yang
berbeda-beda dari masing-masing pot, baik pot yang ada tanamannya maupun pot
kosong. Hal tersebut disebabkan oleh faktor penentu transpirasi yang berbeda-beda
pula. Diantaranya adalah faktor yang berkaitan dengan tanah maupun faktor yang
berasal dari tumbuhan itu sendiri. Faktor dari tanah yaitu mengenai kelembapan
sedangkan dari daun bisa berasal dari jumlah daun, lebar daun maupun lebar stomata.
Dari pengamatan tabel 2 dan 3 dapat disimpulkan bahwa pot yang tidak ada
tanamannya akan memiliki bobot kotor yang lebih besar atau dengan kata lain
penguapan lebih rendah dibandingkan dengan pot-pot lain yang berisi tanaman.
Berdasarkan fakta tersebut maka kita dapat mengetahui bahwa tanah yang tanpa
tanaman akan lebih sukar mengalami evapotranspirasi dikarenakan tidak adanya
faktor penentu evapotranspirasi yang berasal dari tanaman.
Beranjak ke pengamatan tabel 4 / grafik 3 kita dapat mengetahui bahwa laju
evapotranspirasi tertinggi diperoleh pada ulangan ke-8 dengan jenis tanaman kedelai.
Hal tersebut sejalan dengan teori bahwa semakin lebar dan banyak daun akan
meningkatkan laju evapotranspirasi disebabkan banyaknya stomata pada daun yang
merupakan tempat keluarnya udara. Dari rata-rata 1kali penimbangan memang terlihat
bahwa tanaman kedelai memiliki lebih banyak daun dibandingkan dengan tanaman
lainnya. Dengan demikian laju evapotranspirasi tertinggi diperoleh tanaman kedelai.

`
F. Kesimpulan
Evapotranspirasi adalah proses naiknya air ke udara melalui tumbuhtumbuhan. Faktor penentu evapotranspirasi diantaranya adalah :
1. Parameter-parameter iklim
2. Faktor-faktor tanaman dan tanah
3. Kondisi lingkungan dan pengelolaan
Karena dalam praktikum memiliki faktor iklim dan pengelolaan tanah yang
sama maka penentu besar kecil evapotranspirasi berasal dari faktor tanah dan
tumbuhan, sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa tanaman kedelai memiliki laju
evapotranspirasi tinggi disebabkan daunnya yang banyak dan lumayan lebar.

G. Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Penguapanblogspot.com/2011/03/evapotranspirasi
http://yossigozaima.blogspot.com/2011/03/evapotranspirasi.
http://www.ubaid.web.id/2011/05/faktor penentuevapotranspirasi.html

III.

PERTUMBUHAN TANAMAN

A. Pendahuluan
Tanaman merupakan salah satu dari organisme atau makhluk hidup di bumi
ini. Setiap makhluk hidup akan mengalami tumbuh dan berkembang, kedua proses
tersebut dapat diketahui melalui perubahan tinggi tanaman, panjang akar yang diikuti
bertambahnya bobot segar dan bobot kering tanaman tersebut.
Pertumbuhan tanaman dilihat dari pengertian benih dan biji. Benih adalah
simbol dari suatu permulaan. Benih merupakan inti dari kehidupan di alam semesta
dan paling penting adalah kegunaanya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman.
Benih disini adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Menurut
strukturnya biji adalah suatu ovule atau bakal biji yang masak yang mengandung suatu
tanaman mini atau embrio yang biasanya terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif
(gamet) di dalam kandung embrio (embryo sac) serta cadangan makanan yang
mengelilingi embrio (Anonimous, 2011a).
Pertumbuhan terbesar merupakan pertumbuhan yang terdiri dari fase
membesar dan memanjang sel-sel dari tanaman. Selanjutnya menyertakan bahwa
pertumbuhan terjadi pada daerah meristem atau pada pangkalan yang mempunyai
kambium (Dwijoseputro, 1994).
Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya tambahan
substansi yang bersifat irrevesibel (tidak dapat balik). Termasuk disini adalah
perubahan yang menyertai penambahan jumlah sel sebagai akibat kegiatan titik
tumbuh, pembesaran dari tiap tiap sel serta hormon yang dapat merangsang atau
menperlambat proses proses perkembangan tumbuhan seperti 2,4 D ( 2,4dichlorophenoxy acetid acid) dan IAA (Heddy, 1986).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan tanaman
melalui tinggi tanaman, panjang akar, bobot segar dan bobot kering dari bagianbagian tanaman secara periodik yaitu tiap seminggu sekali.
C. Bahan dan Alat
1.

Bahan

: Benih kacang hijau dan pupuk organik

2.

D.

Alat

: Perlengkapan menanam, timbangan, gunting, penggaris dan alat tulis.

Prosedur
Prosedur dalam praktikum ini adalah :
1.

Menimbang 100 biji untuk masing-masing jenis biji dan diulang 3 kali.

2.

Mengolah dan memberi pupuk dasar pada lahan pertanaman.

3.

Menanam menggunakan tugal dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm untuk


kacang hijau, kacang tanah dan kedelai serta jarak tanam 75 cm x 75 cm untuk
biji jagung. Tiap lubang tanam diisi 3 biji.

4.

Pada umur 1 minggu setelah tanam (mst), membongkar 3 tanaman untuk


masing-masing jenis tanaman. Sebelum dibongkar diukur tinggi tanamannya.
Selanjutnya dipotong masing-masing bagian daun, batang dan akarnya dan
ditimbang bobot segarnya.

5.

Memasukan tanaman tersebut ke dalam kantong kertas kemudian dikeringkan


dalam oven pada suhu 60 C serta ditimbang bobot keringnya pada akhir
penelitian.

6.

Ulangi langkah ke 4 dan selanjutnya selang 1 minggu sekali hingga selesai,


kemudian buatlah grafik antara tinggi tanaman, bobot segar dan bobot
keringnya dengan umur tanaman.

7.

Bandingkan

antara

masing-masing

tanaman

adakah

perbedaan

pertumbuhannya?
E.

Hasil dan Pembahasan


a. Hasil Pengamatan
1.

Panjang akar dan tinggi tanaman (dalam cm)


Tanaman 1

Tanaman 2

Tanaman 3

Tanggal
Panj. Akar Tinggi Tan Panj. Akar

Tinggi Tan

Panj. Akar Tinggi Tan

10-April

10

16-April

11

14,5

8,9

14

10

14,7

24-April

01-Mei
08-Mei
15-Mei
22-Mei
29-Mei

2.

Bobot basah (dalam gram)

Tanaman 1
Tanaman 1
Tanggal
Akar

batang

daun

bunga

biji/buah

10-April

0,14

0,24

0,12

16-April

0,18

0,63

0,87

24-April

01-Mei

08-Mei

15-Mei

22-Mei

29-Mei

Tanaman 2
Tanaman 2
Tanggal
Akar

Batang

Daun

Bunga

Biji/Buah

10-April

0,03

0,20

0,12

16-April

0,22

0,58

0,65

24-April

01-Mei

08-Mei

15-Mei

22-Mei

29-Mei

Tanaman 3
Tanaman 3
Tanggal
Akar

Batang

Daun

Bunga

Biji/Buah

10-April

0,07

0,16

0,14

16-April

0,19

0,50

1,03

24-April

01-Mei

08-Mei

15-Mei

22-Mei

29-Mei

3.

Bobot kering

Tanaman 1
Tanaman 1
tanggal
Akar

Batang

Daun

Bunga

Buah

11-Mei

0,03

0,04

0,1

17-Mei

0,09

0,19

0,44

25-Mei

0,19

1,02

2,02

01-Jun

0,19

0,32

0,6

08-Jun

1,34

2,76

5,98

15-Jun

2,61

4,65

10,03

22-Jun

5,44

8,61

17,87

29-Jun

97,3

62,63

43,29

7,85

12,57

Tanaman 2
Tanaman 2
Tanggal
Akar

Batang

Daun

Bunga

Buah

11-Mei

0,02

0,02

0,13

17-Mei

0,11

0,21

0,46

25-Mei

0,19

0,33

0,74

01-Jun

0,26

1,65

3,79

08-Jun

1,78

3,3

7,34

15-Jun

10,34

13

23,05

22-Jun

4,88

9,22

16,79

29-Jun

13,2

41,67

30,65

6,48

8,07

Tanaman 3
Tanaman 3
Tanggal
Akar

Batang

Daun

Bunga

Buah

11-Mei

0, 01

0,1

17-Mei

0,09

0,11

0,35

25-Mei

0,29

0,11

0,35

01-Jun

0,74

1,15

2,86

08-Jun

1,04

1,84

4,15

15-Jun

2,24

3,94

6,45

22-Jun

9,17

16,4

23,34

29-Jun

5,6

18,84

22,15

2,85

3,65

Grafik rata-rata panjang akar


140
120
100
80

batang

60

akar

40
20
0
tanaman 1

tanaman 2

tanaman 3

Grafik bobot basah

bobot basah (gr)


90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
bobot basah (gr)

40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
Akar

Grafik bobot kering

batang

daun

bunga

biji/buah

berat kering (gr)


30.00
25.00
20.00
15.00

berat kering (gr)

10.00
5.00
0.00
akar

batang

daun

bunga

buah

b. Pembahasan
Tanaman memiliki ciri tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan pada tanaman
dicirikan dengan bertambahnya ukuran, bobot basah maupun bobot keringnya.
Adapun perkembangan pada tanaman bisa dilihat dengan munculnya bunga.
Tumbuh dan berkembangnya tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
tersebut diantaranya adalah :
1.

Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan


Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh
kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik
bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius.
Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.

2.

Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara


Kadar

air

dalam

udara

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

serta

perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di


mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya
penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat. Namun
demikian tetap bergantung pada jenis tanaman, karena tidak semua jenis tanaman
memiliki kemampuan untuk tumbuh dalam keadaan yang lembab.
3.

Faktor Cahaya Matahari

Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan


fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya
matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuningkuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat
proses pertumbuhan.
4.

Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu
perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel,
hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk
mempercepat buah menjadi matang.

5.

Faktor Air
Air berpengaruh dalam pertumbuhan kecambah, yaitu air berfungsi sebagai
pelarut reaksi dalam tubuh tumbuhan dan sebagai medium reaksi enzimatis.
Apabila kekurangan air, maka terjadi peningkatan asam absisat yang menghambat
pertumbuhan dan menurunkan produksi hormon auksin pada tanaman. Sehingga
sulit bertambah pertumbuhannya.

Pada bobot segar mempunyai berat yang berbeda-beda sesuai dengan


tinggi tanaman dan tingkat kesuburan tanaman. Sedangkan pada bobot kering di
pengaruhi oleh bobot segar tanaman tersebut. Dari tabel dan grafik dapat diketahui
bahwa bagian tanaman yang memiliki bobot segar paling tinggi terdapat pada
bagian batang. Hal ini disebabkan karena batang memiliki kandungan air yang
cukup banyak dibandingkan dengan bagian tumbuhan lainnya.
Sedangkan pada bobot kering bagian tanaman yang memiliki bobot terbesar
adalah pada biji. Hal ini dikarenakan tanaman jagung memiliki bobot tongkol
yang lumayan berat sehingga biji memiliki bobot tertinggi dibandingkan dengan
bagian tanaman yang lain.
1.

Perbandingan
Tabel Perbandingan

Jenis Tanaman

Kelompok

Timggi Tan

Panj. Akar

Kacang Tanah kel

20,7

14,55

Jagung kel

92,9

28,56

Kacang Tanah kel

24,45

10,4

Jagung kel

86,89

25,61

Grafik perbandingan

100
90
80
70
60
50

tinggi tan

40

panj akar

30
20
10
0
Kacang
Tanah kel 1

Jagung kel 2

Kacang
Tanah kel 6

Jagung kel 7

Tabel Perbandingan dengan Uji T


1.

Tinggi tanaman
No

Perbandingan

Uji t

Tan 1 dan 2

3,72

tan 1 dan 6

3
4

Taraf

Daerah kritis

Keterangan

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

-0,16

5%

-2,145x2,145

tidak berbeda nyata

tan 1 dan 7

3,99

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

tan 2 dan 6

3,51

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

kepercayaan

tan 2 dan 7

-0,23

5%

-2,145x2,145

tidak berbeda nyata

tan 6 dan 7

3,754

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

Daerah kritis

Keterangan

2.

3.

Panjang akar
Taraf

No

Perbandingan

Uji t

Tan 1 dan 2

5,22

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

tan 1 dan 6

0,25

5%

-2,145x2,145

tidak berbeda nyata

tan 1 dan 7

3,32

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

tan 2 dan 6

6,61

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

tan 2 dan 7

0,72

5%

-2,145x2,145

tidak berbeda nyata

tan 6 dan 7

4,51

5%

-2,145x2,145

berbeda nyata

kepercayaan

Keterangan :
Hasil dari perhitungan dengan menggunakan uji T dapat kita ketahui bahwa antara
tanaman satu dengan tanaman lain sebagai pembanding ada yang menunjukkan
perbedaan yang nyata dan ada yang menunjukkan hasil perbedaan yang tidak nyata.
Berdasarkan perbandingan antara tanaman 1 dengan tanaman 2, tanaman 1 dengan
tanaman 7, tanaman 2 dengan tanaman 6 maupun tanaman 6 dengan tanaman 7 baik
dilihat dari panjang akar maupun tinggi tanaman menunjukkan hasil beda sangat nyata.
Hal itu terjadi karena laju pertumbuhan tanaman yang berbeda-beda. Laju pertumbuhan
tanaman jagung lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan tanaman kacang
tanah.
Sedangkan perbandingan antaratanaman 2 dengan tanaman 7 dan tanaman 1 dengan
tanaman 6 menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Dengan pemupukan yang
berbeda yaitu tanaman 1 dan 2 yang memerlukan 7 kg sedangkan tanaman 6 dan
tanaman 7 dengan perlakuan pemupukan 21,5 kg menunjukkan hasil yang tidak berbeda
nyata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dosis pupuk optimum adalah 7 kg,
sehingga apabila dosis ditambah lebih banyak tidak akan memberikan pengaruh yang

lebih baik dari pemupukan 7 kg.


F. Kesimpulan
Pertumbuhan adalah peristiwa perubahan biologi yang terjadi pada makhluk hidup
yang berupa pertambahan ukuran (volume, massa, dan tinggi). Proses pertumbuhan
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu :
1.

Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan

2.

Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara

3.

Faktor Cahaya Matahari

4.

Faktor Hormon

5.

Faktor Air
Untuk mengetahui adanya perbedaan nyata dan tidak nyata antara tanaman satu
dengan tanaman lain maka dapat dihitung dengan Uji T.

G. Daftar Pustaka
http://organisasi.org/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-dan-pertumbuhantumbuhan tanaman-teori-biologi
http://organisasi.org/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-dan-pertumbuhantumbuhan tanaman-teori-biologi. diunduh tanggal 14 februari 2008
http://dezimeutya.blogspot.com/2011/06/laporan-pertumbuhan-tanaman.html