Anda di halaman 1dari 18

Rangkuman Kimia Analitik

SPEKTROFOTOMETER
Spektroskopi : ilmu yang memelajari interaksi radiasi dengan materi
Spektrometri : pengukuran kuantitatif intenstitas radiasi elektromagnetik pada satu atau lebih panjang
gelombang dengan suatu detektor.
Spektrum

: tampilan intensitas radiasi yang teremisikan, teradsorbsikan, atau terhamburkan oleh sampel
vs kuantitas yang berhubungan dengan energi foton, seperti panjang gelombang ().

Radiasi RE

: energi yang ditransmisikan melewati ruang dengan laju sangat besar, gelombang dan energi,
UV VIS = cahaya

Sifatnya : dapat dipantulkan, membias, interferens, difraksi

Kita umumnya pake spektrofotometer UV vis change of electron distribution = eksitasi-emisi


RE : gelombang = refraksi refleksi, energi = absorpsi emisi
Persamaan LAMBERT-BEER:
A = absorbansi

= absroptivitas molar

a = absorptivitas

Penyimpangan hukum Lambert-Beer


a. Penyebab kimia
i. Ionisasi
ii. Kompleks
iii. Hidrolisis
b. Penyebab instrumental

i. Radiasi tak monokromatis


ii. Alat lelah
c. Penyebab nyata
i. Larutan terlalu encer
ii. Larutan terlalu pekat

Instrumentasi Spektrofotometer

Sumber cahaya : UV = H2 atau D2 (deuterium) ; VIS = Wolfram/Tungsten lamp


Wadah sampel
- Transparan

- VIS = plastik, kuarsa, kaca

- Umumnya 1 cm

- IR = AgCl, NaCl, KBr

- UV = kuarsa
Pemilihan panjang gelombang
- Filter optik : memblok radiasi yang tak diinginkan
o Filter absropsi : lebar pita efektif, mempersempit pita, menurunkan transmitans
o Filter interferens : transmitans tinggi, pita sempit, umum untuk spektroskopi absorpsi
- Monokromator : mendispersi radiasi dan memilih pita yang diinginkan
o Terdiri dari : celah masuk (mempersempit radiasi), lensa kolimator (menjajarkan berkas sinar cek
gambar), media pendispersi (umumnya prisma ataupun kisi/grating), lensa fokus, celah keluar
o Gambar

- Interferometer : modulasi pada frekuensi berbeda

Tranduser radiasi:
1. Mengkonversi kuantitas fisika kimia menjadi sinyal (muatan, voltase, arus)
2. Idealnya :
a. Sensitif

c. Respon yang besar

b. Derau yang rendah

d. Linear hasilnya

Tipe spektrofotometer

Spektrofotometer umumnya digunakan untuk analisis kuantitatif dibandingkan analisis kualitatif.


Inget lagi: max, panjang gelombang maksimum.
Dalam pengukuran, umumnya alat akan
memiliki
anomali
ketepatan
panjang
gelombang karena tidak stabilnya listrik yang
digunakan. Panjang gelombang dapat naikturun secara tidak stabil. Apabila analat diukur
pada panjang gelombang tidak maksimum =
error besar dibandingkan dengan pangjang
gelombang maksimum.

Kesalahan dalam pengukuran absorbans:


1. Larutan encer : C kecil = %T besar
2. Larutan pekat : C besar = %T kecil
Baik jika digunakan dalam rentang %T : 20% - 80%

Istilah dalam pengukuran kuantitatif:


- Blangko:
Perlakuannya sama seperti analat, tapi Conc analat = 0,
- Analat
Zat yang dianalisis harus berwarna pada rentang vis dan memiliki kromofor pada rentang UV
- Standar
Konsentrasinya diketahui, perlakuannya pun harus sama.
Kurva kalibrasi : hubungan absorbansi dengan konsentrasi standar
Sinyal : respon sistem dan variabel dependen (sumbu y pada grafik = yang diubah)
Konsentrasi : variabel independen (sumbu x pada grafik = peubah)
Inget-inget PERANCANGAN PERCOBAAN lagi. Koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (R 2),
semakin mendekati 1, kurva yang dibuat baik, kerja yang kita lakukan juga baik

Tipe Kalibrasi:
Tipe Kalibrasi

Makna

Sensitivitas
(sinyal/konsentrasi)

Matriks sampel

Eksternal

Seperti praktikum

Disebabkan oleh analat

Tak diperhitungkan

Larutan standar + ke
dalam analat
Senyawa lain (mirip
analat) ditambah ke
standar dan analat

F(x) [fungsi] dari


konsentrasi larutan standar

Diperhitungkan

Mengukur konsentrasi
analat + senyawa lain

Diperhitungkan

Standar adisi
Standar Internal

Metode pengukuran
Serapan normal : zat diukur pada 20% < %T < 80%
Serapan tinggi : diukur pada T < 20%
Metode renik : diukur pada T < 80%
Ketelitian tinggi : diukur pada T yang sangat berdekatan, ex: 40% - 50%

Pengukuran multikomponen
a. Spektrum absorbsi terpisah
b. Spektrum absorbsi bertindih sebagian
c. Spektrum absorbsi bertindih sempurna

Gangguan
instrument
Tak
diperhitungkan
Tak
diperhitungkan
Diperhitungkan

Inget lagi rumus Lambert Beer:


A = .b.C
Ketemu soal seperti : (ayo latihan sendiri yaa )
Konsentrasi Fe3+ dan Cu2+ dapat ditetapkan dengan mereaksikannya dengan heksasianorutenat(II) yang
menghasilkan kompleks Fe3+ warna biru keunguan (max1 550 nm) dan kompleks Cu2+ warna hijau pucat
(max2 396 nm). K11 = 9970. K12 = 84. K21 = 34. K22 = 856. Ketika kedua analat tersebut dianalisis pada satu
sampel bersamaan, menghasilkan %T sebagai berikut: pada 550 nm = 65.61% dan 396 nm = 77.80%.
Berapakah konsentrasi Fe3+ dan Cu2+ pada sampel ?
Fe3+ = 1.80 x 10-5 M
Cu2+ = 1.26 x 10-4 M
Titrasi spektrofotometer: (pahamin konsepnya, ngga usah dihapalin )

Istilah pada spektrofotometri UV


- Auxochrome : substituen yang meningkatkan intensitas absorpsi dan mungkin (halogen, metil, amina,
hidroksi)
- Zatnya: tak harus berwarna, serapannya = transisi e- = distribusi e-, pelarut khusus
- Syarat pelarut :
1. Transparan dan tidak memiliki konjugasi (gugus double bond organik yang berdampingan)
2. Pengaruh terhadap pita absorpsi
a. Pelarut polar : spektrum kurang bagus
b. Pelarut non polar : spektrum seperti fase gas
3. Pengaruh terhadap max : blue shift ( *) dan red shift (- *)
- Pengaruh substitusi:
Efek bathokromik : pergeseran ke tingkat energi yang lebih rendah ( naik) (red shift)
Efek hipsokromik : pergeseran ke tingkat energi yang lebih tinggi ( turun) (blue shift)
Efek hiperkromik : peningkatan intensitas

Efek hipokromik : penurunan intensitas

Aplikasi spektrofotometri :
1. Hasil fraksinasi kromatografi
2. Analisis kuantitatif komponen:
a. Penentuan kadar analat (umum dilakukan)
b. Penentuan aktivitas enzim (nanti dilakukan, insya Allah )
_______________________________________________________________________________________

KROMATOGRAFI UMUM
Sejarah : ditemukan Michael Tsweet 1906 Ahli Botani, memisahkan pigmen tumbuhan.
Definisi : pemisahan komponen dalam contoh dengan distribusi komponen pada dua fase yang tidak saling
bercampur (fase gerak dan fase diam).
Klasifikasi :
1. Berdasar fase gerak dan fase diam
Fase Diam
Padat
Cair

Fase Gerak
Cair
Gas
Cair
Gas

Nama
LSC
GSC
LLC
GLC

2. Berdasar interaksi
a. Adsorpsi

c. Pertukaran ion

b. Partisi

d. Filtrasi

3. Berdasar bentuk ruang penyangga


a. Planar

: kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis (KLT)

b. Kolom

: kromatografi manual, HPLC, GC

Tujuan analisis:
1. Kualitatif : butuh standar dan membandingkan berdasarkan waktu retensi (kolom) atau faktor retensi
(planar)
2. Kuantitatif : berdasarkan luas kurva yang terbentuk. Jika planar butuh densitometer atau spektro lagi.

Kegunaan kromatografi:
1. Analisis : identifikasi senyawa
2. Preparatif : bagian dari isolasi dan pemurnian senyawa
_______________________________________________________________________________________

KROMATOGRAFI PLANAR
Sistem kromatografi :
- Fase diam : kertas atau lapis tipis (alumina
ataupun silikat)

- Terdapat jarak start finish


- Parameter identifikasi = Rf (retention factor)

- Fase gerak : campuran ataupun tunggal

Penjenuhan ruang
- Harus jenuh dengan uap eluen
- Dibiarkan selama 10-15 menit
- Tujuan : melancarkan gerak eluen dan komponen selama elusi

Penjelasan kromatografi kertas


- Mekasnisme adsorpsi pada kertas dan partisi pada eluen dengan kertas-eluen
- Arah : naik (ascending) dan turun (descending)

Deteksi kromatogram
- Harus kering terlebih dahulu lalu disemprot, dicelup, diuapi, atau cara gabungan.
- Inget lagi rumus Rf pas praktikum = (jarak spot) / (jarak eluen)

Kromatografi dua dimensi


- Digunakan jika pada kromatografi satu spot tidak menghasilkan spot yang baik
- Memeriksa tingkat kemurnian komponen/spot
- Inget lagi latihan soal yang jadi tugas dari ibunya. Kalo ditanya berapa banyak spot pada dimensi
pertama, inget aja cara : tarik spot dari F2 ke S2 dan hitung berapa banyak spotnya.
Kromatografi lapis tipis
- Tujuan : mencari eluen terbaik yang akan digunakan di kolom dan KLT, analisis, preparatif
- Eluen terbaik = menghasilkan spot terbanyak
- Sifat adsorben:
Polaritas relatif : kekuatan untuk mengadsorpsi spesies tertentu
-COOH > -OH > -NH2> -SH > -CHO > =C=O > -COOR> -OCH3> -CH=CH Kapasitas adsorpsi : jumlah gram solut yang dapat diadsorpsi per gram adsorben
arang aktif > silika gel > alumina asam > alumina basa > Cr2O3> ZnS > Al2O3> CaF2> CaO

KROMATOGRAFI KOLOM
Mekanisme : adsorpsi, partisi, eklusi, pertukaran ion
Sistem : manual, instrumental (HPLC, GC)
Sistem pemberian fase gerak : frontal, elusi biasa, pergeseran
Syarat kromatografi kolom :
1. Kolom tidak kelebihan beban solut (sampel ngga kebanyakan)
2. Efek difusi sesedikit mungkin (bergantung dari pengepakan kolom dan peningkatan laju)
3. Adsorpsi dan desorpsi dari fase diam harus cepat kesetimbangan cepat
4. Distribusi solut antara 2 fase berubah linear
Sistem elusi :
1. Elusi isokratik : dari awal sampe beres isi eluennya sama terus
2. Elusi gradien : eluen dapat berubah kekuatannya (konsentrasi bahkan jenisnya, diganti pas tengah2
elusi)
Urutan kepolaran pelarut
Asam/basa > asam organik > Piridin > Air > metanol > etanol > propanol > aseton > dikloroetana > etil
asetat > kloroform & dietileter > diklorometana > benzena & toluena > CCl4 > Heksana
Parameter kromatografi kolom (ini berlaku juga untuk HPLC dan GC yaa):
1.

Nisbah partisi / koefisien partisi / koefisien distribusi (sama kaya ekstraksi dulu) = K

Cs = konsentrasi di fase Stationer (diam)

Cm = konsentrasi di fase Mobile (gerak)

2.

Waktu retensi (tr) : waktu untuk molekul tertahan fase diam mencapai detektor saat injeksi

3.

Waktu mati (tm) : waktu yang dibuktuhkan molekul tak tertahan untuk mencapai detektor

4.

Volume retensi : volume fase gerak yang dibutuhkan untuk menggerakan molekul mencapai detektor

5.

Baseline widht (w) : lebar pita senyawa yang terukur

6.

Rerata laju migrasi linear solut :

7.

Rerata laju migrasi linear fase gerak ()


:

8.

Hubungan nilai K dan laju migrasi :

9.

Faktor kapasitas (k)


(

Idealnya 1<k<5, kurang dari 1 kecepetan, lebih dari 5 kelambatan.

10. Faktor selektivitas (): [b = ditahan lebih lama; a = duluan keluar]

11. Efisiensi kolom:


a. Jumlah lempeng total (N)
( )
b. HETP (JSPT = Jarak Setara Plat Teoritis)

c. Persamaan van Deemter :

Keterangan :
a = difusi Eddy : kemasan kolom tidak teratur, panjang jalur partikel dalam kolom beragam
B = difusi longitudinal : difusi zat dalam gas carrier.
C = laju transfer massa (waktu kesetimbangan zat dalam dua fase)
d. Resolusi
(

LATIHAN SOAL
Dalam kromatografi kolom, asam butirat dielusi dengan waktu retensi 7.63 menit, tm kolom tersebut = 0.31
menit. Hitunglah faktor kapasitas (k) asam butirat tersebut. (23.6)
Dalam analisis kromatografi yang sama, didapatkan bahwa waktu retensi asam isobutirat 5.98 menit.
Berapakah faktor selektivitas antara asam isobutirat dan asam butirat? (1.29)

Analisis kromatografi terhadap pestisida terklorinasi Dieldrin memberikan puncak dengan waktu retensi
8.68 menit dan baseline widhtnya 0.29 menit. Berapa banyak plat teoritisnya? (14300 plat) Jika panjang
kolom = 2m, berapa jarak setara plat teoritis (dalam mm/plat)? (0.14 mm/plat).
_______________________________________________________________________________________

KROMATOGRAFI GAS (GC)


Fase geraknya : gas inert / sukar bereaksi maka tak terjadi interaksi antara analat dengan fase gerak.
Fase diamnya :
Padat : (Gas SOLID Chromatography / GSC)
Retensi analat karena adanya adsorpsi fisik pada fase diam, maka grafiknya nanti tailing. Khusus
untuk gas berBM rendah.

Cair : (Gas LIQUID Chromatography / GLC)


Partisi analat antara kedua fase yang diimobilisasi pada permukaan yang inert.
Analat : gas, volatil, ataupun dapat dijadikan gas dan harus stabil pada panas (umumnya non polar)
Sejarah :
1970 : dilengkapi komputer untuk memroses data
1980 : komputer mengatur parameter instrumen (suhu kolom, laju alir, dan injeksi sampel)
Instrumen GC:

Syarat gas pembawa (fase gerak):


Harus inert
Umum digunakan : H2, He, N2
Sistem gas pembawa : terdapat penyaring air dan pengotor
Tekanan diatur pressure controller dan flow controller.
Sampel diinjeksi dengan syringe ke bagian septum. Volume injeksi di kolom kapiler = 10-3 L, kolom biasa
= 10 20 L.
Kolom ditempatkan dalam oven (dalam Gcnya ada oven), suhu oven disesuaikan dengan Titik Didih
sampel.
Dua tipe kolom:
Kemas (packed column)
Dibuat dari gelas, stainless, alumunium, teflon, atau tembaga. Panjang 2-3 m dibuat koil. Diameter 24mm. Ukuran partikel 60-100 mesh.
Kapiler (capillary column)
Panjang 2-50 m. Koil. Dibuat dari gelas, stainless, alumunium, plastik, teflon. Dua tipe dasar dari
kolom kapiler:
Wall Coated Open Tubular (WCOT)
Fase diam dilapisi di dinding kapiler.
Support Coated Open Tubular (SCOT)

Dinding kapiler dilapisi support material ex tanah diatom. Lalu fase diamnya dilapiskan pada
support material tersebut.
Syarat fase diam :
Volatilitas rendah, TD > 100oC di atas suhu penggunaan kolom
Stabil secara termal
Inert secara kimia
Memiliki karakteristik yang sesuai dengan solut yang akan dipisahkan.
Contohnya :

Pengukur laju alir gas:


Rotometer pada column head
Soap-bubble meter dibagian ujung kolom.
Detektor
Karakternya :
Sensitif

Respon cepat dan terbebas dari laju alir

Stabil dan reprodusibilitasnya baik

Hasil perolehan mudah dipercaya

Repson linear

Mudah digunakan

Suhu optimum : suhu kamar - 400oC


Contohnya:
Flame Ionization Detector (FID)
Keluaran kolom dicampur hidrogen lalu dibakar. Ion menghasilkan arus listrik yang dapat diukur.
Thermal Conductivity Detector (TCD)
Perubahan konduktivitas thermal aliran gas = keberadaan molekul analat
Sulphur Chemiluminescence Detector (SCD)
Sulfur dalam analat direaksikan dengan ozon. Intensitas luminescence = jumlah sulfur.
Electron Capture Detector (ECD)

Penangkapan elektron dari emitter oleh analat yang menyebabkan penurunan arus.
Atomic Emission Detector (AED)
Pengukuran spektra emisi molekul sampel karena adanya proses dalam microwave plasma helium.
Aspek kualitatif:
Menentukan kemurnian suatu senyawa organik (ngga murni ? = ada puncak tambahan)
Efektivitas prosedur pemurnian suatu zat
Identifikasi komponen dalam campuran (dibandingkan dengan standar, ada nilai tr)
Aspek kuantitatif:
1.

Volume retensi

2.

Laju alir rata-rata volumetrik


(

Keterangan :
Fmeter = flow / laju alir pada meteran

P = tekanan gas pada ujung kolom

Tc = suhu kolom

Pair = tekanan gas parsial dari air

T = suhu pada meteran


3.

Koreksi drop tekanan antara inlet-outlet (j)

4.

Volume retensi terkoreksi

5.

Volume retensi spesifik

[(

[(

W = massa fase diam


6.

Hubungan K dengan volume retensi spesifik

s = massa jenis / densitas cairan pada fase diam


7.

Faktor selektivitas

_______________________________________________________________________________________

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (HPLC)


Fase gerak : cairan

Fase diam : cairan atau padatan

Perbedaan dengan kromatografi kolom biasa :


Sensitivitas tinggi
Analisis kuantitatif akurat
Memberikan hasil yang baik
Dasar pemisahan HPLC:
Partisi : distribusi analat dalam fase diam dan fase gerak
a. Normal phase : fase diam polar, fase gerak non-polar
b. Reverse phase : fase diam non-polar, fase gerak polar
Adsorpsi : keterjerapan analat dalam fase diam (silika atau alumina)
Pertukaran ion : analat = spesi bermuatan (asam amino, kation anion), fase diam = resin penukar ion
Size Exclusion : permeasi gel, filtrasi gel berdasarkan ukuran analat (tak ada interaksi fisik dan kimia)
Instrumentasi :

Reservoir fase gerak:


Fase gerak harus terbebas dari gas terlarut. Gas terlarut dapat membentuk gelembung yang dapat
mengganggu performa detektor.
Ingat lagi elusi isokratik dan elusi gradien. Elusi gradien dapat memperbaiki efisiensi pemisahan.
Syarat sistem pompa :
Tekanan yang dihasilkan tinggi
Output tekanan bebas dari pulsa
Laju alir 0.1 10 mL per menit.

Kontrol dan reprodusibilitasnya laju alir


baik
Komponennya tahan korosi

Tiga jenis pompa


Pompa resiprok
Didorong piston. Keuntungannya : tekanan yang dihasilkan tinggi, dapat menggunakan gradien
elusi, laju alir konstan, laju alirnya independen dari viskositas eluen dan tekanan balik kolom
Kekurangan : menghasilkan aliran yang memiliki pulsa.
Displacement pump
Pompa menyerupai syringe besar, aliran bebas dari viskositas eluen.
Pneumatic pump
Didorong oleh tekanan udara, tak dapat digunakan untuk gradien elusi, tekanan yang dihasilkan
kurang dari 2000 psi.
Sistem injeksi sampel awalnya menggunakan syringe. Tetapi karena reprodusibilatasnya kurang baik, maka
digunakan loop yang terintegrasi dalam sistem HPLC.
Kolom:
Dapat dikemas dalam bentuk koil. Beberapa kolom dapat digabung menjadi coupling column.
Kategorinya:
Kolom kemas
Kolom kapiler
Kolom preparatif
Terdapat guard kolom : menyingkirkan kontaminan dalam eluen dan matriks. Memperpanjang umur
kolom.
Thermostat kolom : menjaga suhu operasi kolom.
Detektor:
Karakteristik:
Sensitif

Respon cepat dan bebas dari laju alir

Stabil dan reprodusibilitasnya baik

Hasil dapat dipercaya

Respon linear

Mudah digunakan

Tipe
Bulk property detector : mengukur ciri khas fase gerak
Solute property detector : mengukur ciri khas analat
Contoh
Detektor absorbansi; UV berfilter, UV monokromator, IR
Detektor fluoresen : intensitas pancaran fluorensi yang diukur
Detektor indeks refraktif : sensitif jika suhu berubah, mengukur indeks refraktif fase gerak
Detektor elektrokimia : prinsip amperometri, konduktometri,
Detektor spektroskopi masa : efluen interface pelarut menguap, solut tersisa solut menjadi
ion, ion diukur dengan spektroskopi masa.

Pengembangan analisis:
Untuk senyawa organik : Y=yes, N=no

Untuk senyawa non-organik :

Tandem dengan spektrometri massa :


Sumber ion yang dapat digunakan :
Electron Impact ion source (EI) : elektron dari filamen panas bereaksi dengan analat yang
menghasilkan ion. Ion tidak stabil ion tersebut terfragmentasi menjadi lebih kecil.
Chemical Ionisation (CI) : sama seperti EI, tapi menggunakan reagent gas untuk menghasilkan
elektronnya.
Field Ionisation (FI) : ionisasi terjadi pada daerah tertentu.
Interface pada HPLC :
Moving belt interface
Thermospray interface
Atmospheric pressure ionization interface
Electrospray interface
Particle beam interface
Aspek kualitatif sama dengan GC
Aspek kuantitatif :
1.

Extra column band broadening

Keterangan :

2.

Hex = total tinggi plat teoritis

r = jari-jari kolom

u = kecepatan laju alir linear

Dm = koefisien difusi solut dalam fase gerak

Jumlah plat teoritis

Keterangan :
N = jumlah plat teoritis

dp = diameter partikel fase diam

L = panjang kolom
3.

Resolusi (keterpisahan dua puncak)


(

4.

Faktor selektivitas kolom

5.

Konstanta partisi

6.

Faktor kapasitas kolom


(

_______________________________________________________________________________________

ELEKTROFORESIS DASAR
Analat yang memiliki struktur ionik dapat dipisahkan dengan kromatografi pertukaran ion atau
elektroforesis.
Keadaan struktur ionik dipengaruhi oleh :
1. Jumlah dan keadaan gugus-gugus yang dapat diionkan
2. pH lingkungan
3. Keberadaan ion-ion lain
Pemisahan suatu partikel berdasarkan laju migrasi pada suatu medan listrik arus dan voltasenya.
Perkembangan elektroforesis : U-tube Tiselius Zona Kapiler-Zona kapiler
Pergerakan molekul dipengaruhi oleh :
Driving force: molekul/spesies bermuatan bergerak
Retarding force: menahan gerakan
Elektroforesis = proses transport partikel akibat diberikan gaya listrik (gaya elektroforetik). Selalu ada gaya
yang menahan gerakan, disebut frictional force (gaya friksi, gaya tahan, gaya gesek).
Bila partikel ingin
bergerak : F > f.v
steady : F = f.v
Teori lapis ganda listrik : Helmholtz, Gouy-Chapman, Stern
Proses elektroforesis dilakukan di dalam larutan elektrolit. Partikel bergerak dengan kecepatan konstan
setelah diberi medan listrik.
Pengaruh mobilitas elekroforetik:
sifat partikel : viskositas

jari-jari

ukuran partikel : MR

muatan listrik (e) = 14 x 10-14 V = 4.8 x 10-

ukuran muatan bersih (z)

10

esu

Medium :
Contoh:
kertas : biasa, selulosa asetat
Gel : alami (gel pati), buatan (gel poliakrilamida, gel agarosa)
Fungsi :
Reseptor spot/band dari zat-zat terlarut
Menyediakan jalur migrasi komponen

Buffer : konduktor arus jembatan konduksi diantara dua elektroda sehingga


memungkinkan aliran medan listrik.
Kelemahan medium kertas : hanya untuk molekul kecil, efek difusi besar
Untuk memperbaiki resolusi akibat difusi maka digunakan medium gel.
Faktor yang memengaruhi pemisahan :
Voltase yang digunakan dan pengaruh termal
Konsentrasi buffer
pH buffer
pengaruh elektroosmotik
pengaruh difusi
Pembuatan gel poliakrilamida dari monomer akrilamida (N,N-metilena-bis-akrilamida) yang
dibantu proses polimerisasinya oleh inisiator ammonium persulfat / N,N,N,N
tetrametilenadiamina (TEMED).
Polimerisasi fotokimiawi diaktifkan riboflavin dengan adanya sinar UV.
Ciri elektroforesis gel diskontinu :
dua konsentrasi gel : stacking = konsentrasi rendah, separation = konsentrasi tinggi
terdapat dua nilai buffer
Perhitungan BM protein :
perlu protein standar yang diketahui BM nya
Sumbu X = jarak migrasi
Sumbu Y = log BM
_______________________________________________________________________________________