Anda di halaman 1dari 35

Gunung Merapi

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun
sekali.

Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahn 1006 (dugaan), 1786,
1822, 1872, dan 1930

Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengaH Pulau Jawa diselubungi abu,

Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi
modern. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau
sama.

Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang.

Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga
menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia.

Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan
korban jiwa

Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas

tinggi yang berlangsung terus-menerus.

Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua
nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas.

Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang
terbesar sejak letusan 1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November
2010),

meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen


pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe
Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar
hingga jarak 20-30 km.

Tanda gunung akan meletus


Suhu disekitar gunung naik
Mata air menajadi kering
Sering mengeluarkan suara gemuruh terkadang
ditandai dengan gempa
Tumbuhan disekitar gunung mulai layu
Binatang disekitar gunung bermigrasi.

MANAJEMEN DARURAT ERUPSI GUNUNG


MERAPI
Proses manajemen darurat melibatkan empat tahap, antara lain: mitigasi,
kesiapsiagaan, respon , bencana, dan pemulihan (Fred Cuny ).

Mitigasi

Kesiapsiagaan

Respon

Pemulihan

siklus Manajemen Darurat harus mencakup kerja jangka panjang pada


infrastruktur penunjang, kesadaran publik, hingga legalitas hukum yang
mengikat pada permasalahan.

MITIGASI BENCANA

MITIGASI BENCANA GUNUNG BERAPI


Mitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf c dilakukan
untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada
kawasan rawan bencana yang dapat dilakukan melalui berbagai cara
termasuk
pelaksanaan
penataan
ruang,
pengaturan
pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata bangunan dan tak
kalah penting adalah penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan
pelatihan baik secara konvensional maupun modern.

Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat


pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung
dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung
berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.

Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan
aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk
tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara
terpadu.

Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis

dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri,
lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.

Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia.


Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.

Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat


terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa
pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.

KESIAPSIAGAAN BENCANA LETUSAN


GUNUNG MERAPI

STATUS AKTIVITAS DAN TINDAKAN

DIAGRAM ALIR DATA DAN INFORMASI STATUS


AKTIVITAS GUNUNG API

KESIAPSIAGAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG


MERAPI

Mengenali

tanda-tanda

bencana,

karakter

gunung

dan

ancaman-

ancamannya.

Memasang stasiun pengamatan gunung Merapi di beberapa titik (Pos Kaliurang,


Pos Babadan, Pos Ngepos, Pos Balerante)

Membuat sistem peringatan dini yang efektif dan efisien. Namun, terdapat
kelemahan

pada

distribusi

informasi

sistem

peringatan

dini ialah

keterbatasan masyarakat di rawan bencana dalam mengakses media-media


informasi tersebut, lemahnya jaringan telekomunikasi.

Pada

tahun

2010

rakyat

mengembangkan

penyebarluasan informasi status gunung api.

radio

komunitas

untuk

Membuat peta kawasan rawan

gunung api yang diterbitkan oleh instansi

berwenang.

Membuat perencanaan penanganan bencana seperti mempersiapkan jalur dan


tempa pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban,

makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan. Pada poin ini, implementasi saat
erupsi Merapi 2010 terkesan tidak tertata dengan rapih.

Penyediaan lokasi pengungsian dan obat-obatan bagi warga korban letusan gunung
Merapi oleh Pemerintah. Namun, pada letusan tahun 2010 persediaan yang
dilakukan oleh Pemerintah kurang maksimal.

Bagi korban bencana dihimbau agar menyelamatkan harta benda serta surat
berharga agar dokumen penting yang menyangkut kelangsungan hidup tidak ikut
menjadi korban bencana. Namun himbauan ini kurang diperhatikan sehingga
kerugian material yang diderita cukup besar.

RESPON TERHADAP BENCANA

Respon bencana adalah tindakan oleh pemerintah dan warga korban


bencana dalam menanggapi bencana yang akan, saat dan telah terjadi. Pada

kasus meletusnya gunung Merapi 2010 warga kurang mengindahkan


instruksi BPPTK untuk

segera mengungsi, mereka

lebih

menaruh

kepercayaan kepada mendiang Mbah Maridjan yang ketika itu berperan


sebagai juru kunci. Selain itu, Kurangnya jumlah dan persiapan armada
transportasi di tempat, putusnya jaringan listrik dan telekomunikasi, kurang
kesiapsiagaan aparatur desa dalam proses evakuasi massal, menjadi
beberapa penyebab buruknya emer gency management pada fase respon
bencana ini.

Hambatan evakuasi Penduduk.


Upaya dalam manajemen evakuasi selama krisis vulkanik di gunung
merapi telah dibuat dengan penyediaan sarana dan prasarana serta
pelatihan dan simulasi proses evakuasi.
Terdapat hambtan evakuasi saat memindahkan penduduk di tinjau dari
beberapa konteks :
Sosial
Kehadiran orang yang sangat dihormati dalam masyarakat dengan
menentukan keputusan penduduk dievakuasi atau tidak. Seperti
kehadiran mbah marijan dan pandangan pandangannya yang
mempengaryhi keputusan pendududk untuk mengungsi. Orang
orang yang tinggal disekitar rumah mbah marijan ingin tetap tinggal
di rumah.

Psikologis

Penduduk percaya bahwa aktivitas gunung merapi tidak berbahaya


mereka menerima bahaya vulkanik sebagai bagian dari kegiatan
sehari-hari mereka (Laviegne et al., 2008). Alasan tersebut membuat

penduduk tidak mau untuk dievakuasi karena kurang nyamannya


area pengungisan, kurangnya ketersediaan air dan jumlah kamar
mandi yang terbatas
Kesehatan
Proses traumatis dan kondisi barak pengungsian yang tidak selalu
bersih menyebabkan masalah kesehatan. Masalah yang timbul sering

berkaitan dengan kelaparan dan epidemi penyakit. Banyak pengungsi


sakit infeksi saluran pernafasan karena debu gunung merapi.

PASCA BENCANA LETUSAN


GUNUNG MERAPI

PENANGGULANGAN PASCA BENCANA LETUSAN


GUNUNG MERAPI BERDASARKAN JANGKA WAKTU
SHORT TERM, dilakukan dalam waktu 1 sampai 4 minggu pasca letusan gunung. Penanggulangan ini
dilakukan dengan cara pemeriksaan daerah yang dilalui material buangan gunung merapi, pengamatan
bencana dengan analisis bencana meletusnya gunung merapi. Selain itu bagi warga korban bencana
dilakukan pemeriksaan kesehatan, pembagian sembako dan pemberian pendidikan bagi anak yang
bersekolah.

INTERMIDATE, dilakukan dalam waktu 1 hingga 6 bulan pasca bencana. Penanggulangan ini dilakukan
dengan pembersihan desa yang dilanda bencana letusan gunung merapi, membersihkan rumah warga
yang masih tersisa dan pembersihan jalan agar dapat dilalui dan menghubungkan antar desa.
LONG TERM, dilakukan dalam jangka waktu yang lumayan lama, hal ini digunakan sebagai rekonstruksi
bangunan yang habis karena letusan gunung merapi. Penanggulangan ini dilakukan dengan cara
pembangunan jalan, pembenahan bendungan lahar, pembangunan rumah di daerah yang tidak rawan
dilalui material letusan gunung merapi dan membangun fasilitas umum yang rusak.

Pemulihan

Relokasi kawasan kecamatan yang terkena dampak langsung erupsi gunung


merapi diantaranya Daerah
Wukirsari,

Kecamatan Cangkringan yang

meliputi desa

Argomulyo, Kepuharjo, Glagah Harjo dan sebagainya. Daerah

tersebut memiliki kemungkinan besar akan terkena awan panas dan erupsi
gunung merapi kembali di Masa Mendatang. Sehingga badan geologi
merekomendasikan untuk mengindari wilayah tersebut dalam pembangunan

perumahan permanen.

Rencana pemerintah untuk merelokasi penduduk

terdampak langsung

erupsi Merapi memerlukan kerjasama dengan semua pihak. Sebanyak 3.299


kepala keluarga ( KK) yang tinggal di daerah yang terdampak langsung
erupsi Merapi dan sebagian terdampak lahar dingin direlokasi di tempat
yang lebih aman

Kejadian bencana erupsi gunung Merapi tahun


2010 berdampak di 4 wilayah kabupaten di

Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi Jawa


Tengah.

Dalam

rangka

pemulihan

wilayah

bencana, maka Pemerintah melalui BNPB dan


Kementerian PPN/Bappenas, bersama sama
kementerian/lembaga serta pemerintah daerah
telah menyusun Rencana Aksi Rehabilitasi dan
Rekonstruksi

Wilayah

Pascabencana

Erupsi

Gunung Merapi di Provinsi D.I Yogyakarta dan


Provinsi Jawa Tengah.

Rehabilitasi dan rekonstruksi di lakukan pada 5


sektor, yaitu permukiman, infrastruktur, sosial,

ekonomi produktif, dan lintas sektor.

Bendungan Sabo untuk lahar dingin Gunung Merapi di


Sungai Gendol, Yogyakarta
untuk mengurangi resiko bencana lahar dingin Gunung
Merapi (mitigasi fisik)
Sumber: Sagala (2008), Sagala (2010)

Dalam rangka kelanjutan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pasca

bencana erupsi Gunung Merapi tanggal 13 Januari 2013 di DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah telah dibangun Hunian Tetap (Huntap) di Kab. Sleman Provinsi D.I
Yogyakarta sebanyak 2.083 unit yang diperuntukkan bagi 2.083 KK dari 2.739 KK
yang memenuhi kriteria. Sedangkan di Kab. Magelang Provinsi Jawa Tengah

terbangun 406 unit yang diperuntukkan bagi 470 KK yang bersedia direlokasi dari
708 KK. Selain itu juga dilakukan program perbaikan jalan dan jembatan, terutama
untuk akses Huntap. Dari sektor ekonomi telah dilakukan pula pemulihan kegiatan
ekonomi masyarakat yang mencakup pertanian, peternakan, perkebunan,
kehutanan, perikanan, perdagangan, revitalisasi pasar dan modal UKM. Serta
kegiatan kesejahteraan sosial yang meliputi padat karya, trauma healing, senam
lansia serta kegiatan lainnya seperti kesehatan, kebudayaan, keagamaan,
pendidikan, pembangunan shelter permanen, tempat evakuasi, revitalisasi posko
dan perangkat pendukung early warning system

Tim Koordinasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah


Pasca Bencana Erupsi Gunung Merapi D.I Yogyakarta

dan Jawa Tengah terdiri dari Menko Perekonomian


sebagai Ketua Pengarah, Menko Kesra sebagai Wakil
Ketua, Kepala BNPB sebagai Ketua Pelaksana Harian
dan Menteri Sosial RI merupakan salah satu anggota

tim yang bertugas mengkoordinasikan penyusunan


kebijakan umum dan strategi rehabilitasi dan
rekonstruksi

Merapi

serta

mengkoordinasikan

perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi


pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi Merapi.

BANGUNAN PENDUKUNG MITIGASI BENCANA


LETUSAN GUNUNG MERAPI
Departemen PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, membuat bangunan
sabo yang terdiri dari check dam. Secara teknis, sabo mempunyai fungsi menjaga
erosi permukaan tanah, menstabilkan dasar dan tebing sungai, mengurangi
kecepatan banjir serta menampung aliran sedimen.

Bangunan sabo sudah banyak dibuat di Kali Boyong yang berada di bagian
selatan.

Beberapa sungai yang diprediksi akan terkena aliran letusan Gunung Merapi
Arah barat daya yaitu Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Putih
Arah utara yaitu Kali Apu, Kali Trising dan kali Senowo
Arah timur tenggara yaitu Kali Woro, Kali Gendol, Kali Boyong

Arah selatan yaitu Kali Batang, Kali Lamat, Kali Putih, Kali Blongkeng

SABO adalah istilah yang berasal dari Jepang


yang terdiri dari kata SA yang berarti pasir
(sand) dan BO yang berarti penanggulangan

(prevention). Jadi kata SABO mempunyai


arti:

Penanggulangan

bencana

yang

diakibatkan pergerakan tanah atau sedimen


yang dibawa oleh aliran air. Di Indonesia
teknik sabo diperkenalkan pertama kali oleh
seorang tenaga ahli Jepang, Mr. Tomoaki
Yokota pada tahun 1970, untuk menangani
masalah banjir lahar di daerah vulkanik,
yaitu Gunung Merapi, Gunung Kelud dan
Gunung Agung.

USAHA PEMERINTAH UNTUK


MENGURANGI KORBAN JIWA

Daftar pustaka

http://www1.pu.go.id/uploads/berita/ppw1505
06sdaa.htm
http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/informasi_m
erapi.php?page=informasimerapi&subpage=mitigasi-aktivitas-merapi
http://kanalsatu.com/id/post/18557/bangunan
_beratap_lancip_lebih_tahan_hujan_abu

TERIMAKASIH