Anda di halaman 1dari 8

PERLUKAH KURIKULUM 2013 DIRUBAH?

A. Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan,
karena setiap lembaga pendidikan menginginkan organisasinya mengalami
perkembangan yang pesat, sehingga dapat menarik banyak minat dari kalangan
pendidik, serta pesatnya input yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Pesatnya
suatu lembaga pendidikan diukur dari bagaimana kepala sekolah dan guru dapat
mengelola organisasi sekolah secara efektif dan efisien. Salah satu hal terpenting
yang harus dikelola secara efektif dan efisien adalah pengembangan kurikulum.
1. Kurikulum yang konservatif
Kurikulum pendidikan yang tidak sesuai dengan tuntutan sosial, tidak sesuai
lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga tidak sesuai
dengan dunia kerja, maka jelas kurikulum tersebut akan menimbulkan persoalan,
khususnya bagi siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan sistem kurikulum
tersebut. Berdasarkan pemahaman tersdebut, maka suatu kurikulum perlu dirubah,
dikembangkan, dan diperbaruhi,
Kurikulum yang telah usang korbannya bukan hanya terletak pada peserta
didik saja, tapi dampak negatifnya akan dialami lembaga atau organisasi sekolah
yang

menerapkannya.

Sekolah

akan

mengalami

keterketinggalan

ilmu

pengetahuan dan teknologi sehingga akan sulit mewujudkan tujuan nasional yang
telah direncanakan pada sebelumnya.
Kurikulum

pendidikan

harus

bersifat

dinamis,

senantiasa

berubah

menyesuaikan dengan kondisi tuntutan kemajuan zaman, sehingga dapat


memantapkan proses dan hasil pembelajaran. Namun, istilah perubahan dalam hal
ini bukan berarti menghapus kurikulum sebelumnya sepenuhnya, akan tetapi
menyempurnakan dan mengembangkannya.
2. Sentralisasi dan desentralisasi kurikulum
Mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada era Orde Baru, Fuad
Hasan, pernah mengemukakan bahwa merupakan suatu hal yang tidak mungkin
diterapkannya kurikukulum yang baku (sentralisasi) di seluruh Indonesia, karena
setiap daerah mempunyai potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia
1

yang berbeda. Dengan perbedaan potensi tersebut, setiap daerah diharapkan dapat
mengembang-kan dan mengelola sumberdayanya sesuai dengan potensinya
masing-masing, di mana potensi-potensi tersebut dapat diintegrasikan dalam
kurikulum muatan lokal. Dengan diberikannya kesempatan kepada daerah untuk
mengembangkan dan mengelola potensi daerah masing-masing, diharapkan dapat
membangun wilyahnya sendiri, yang salah satunya dapat dilakukan melalui
peningkatan kualitas lulusan sekolah yang siap membangun daerah dan
lingkungannya sendiri.
Berkaitan dengan pernyataan tersebut, Winarno Surachtmad mengemukakan,
bahwa sebenarnya Indonesia hingga masa pemerintahan Orde Baru tidak pernah
menerapkan kurikulum yang fleksibel. Kurikulum yang diberlakukan di sekolah
hanya satu dan terpusat, sehingga faktor daerah seringkali kurang diperhatikan. Di
dalam pengelolaannya,

sentralisasi

kurikulum seharusnya

dihindari

dan

seharusnya desentralisasi kurikulum diterapkan seoptimal mungkin. Untuk


menuju kurikulum yang berbasis desentralisasi tersebut diperlukan upaya
pengembangan kurikulum.
3. Tingkat kematangan siswa
Tingkat kematangan siswa pun menjadi alasan perlunya pengembangan
kurikulum, karena setiap peserta didik mempunyai tingkat pemahaman dan
penalaran yang berbeda. Jika kurikulum pendidikan tidak berusaha disesuaikan
dengan tingkat kemampuan peserta didik, maka tujuan pembelajaran akan sulit
tercapai. Untuk itu para pakar pengembang kurikulum membuat suatu pemikiran
agar anak dapat belajar dengan baik, memperoleh ilmu pengetahuan, merubah
sikap, dan memperoleh pengalaman, dengan cara mengembangkan kurikulum
yang berdasarkan azas psikologi peserta didik.

B. Perubahan Kurikulum
Mengapa kurikulum harus berubah? demikian pertanyaan yang kerapkali
dilontarkan orang ketika menanggapi terjadinya perubahan kurikulum yang terjadi
di Indonesia. Jawabannya pun sangat beragam, bergantung pada persepsi dan
tingkat pemahamannya masing-masing. Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah

mengalami beberapa kali perubahan hingga ada kesan di masyarakat bahwa ganti
menteri, ganti kurikulum.
Perubahan kurikulum pada dasarnya memang dibutuhkan manakala
kurikulum yang berlaku (current curriculum) dipandang sudah tidak efektif dan
tidak relevan lagi dengan tuntutan dan perkembangan jaman dan setiap perubahan
akan mengandung resiko dan konsekuensi tertentu.
Perubahan

kurikulum

yang

berskala

nasional

memang

seringkali

mengundang sejumlah pertanyaan dan perdebatan, mengingat dampaknya yang


sangat luas serta mengandung resiko yang sangat besar, apalagi kalau perubahan
itu dilakukan secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat serta tanpa dasar
yang jelas.
Namun dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
perubahan kurikulum untuk tingkat sekolah justru perlu dilakukan secara terus
menerus. Dalam hal ini, perubahan tentunya tidak harus dilakukan secara radikal
dan menyeluruh, namun bergantung kepada data hasil evaluasi. Mungkin cukup
hanya satu atau beberapa aspek saja yang perlu dirubah. Demikian pula halnya
dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 (K-13).
Kita maklumi bahwa semenjak pertama kali K-13 diberlakukan, kegiatan
pengembangan

kurikulum

di

sekolah

sangat

mungkin

diawali

dengan

keterpaksaan demi mematuhi ketentuan yang berlaku. Sehingga model yang


dikembangkan mungkin saja belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan dan
kondisi nyata sekolah. Oleh karena itu, untuk memperoleh model kurikulum yang
sesuai, tentunya dibutuhkan perbaikanperbaikan yang dilakukan secara terusmenerus dan berkesinambungan berdasarkan hasil evaluasinya, hingga pada
akhirnya dapat ditemukan model kurikulum yang lebih sesuai dengan
karakteristik dan kondisi nyata sekolah saat ini dan masa yang akan datang.
Justru akan menjadi sesuatu yang aneh dan janggal, kalau saja suatu sekolah
semenjak awal memberlakukan K-13, namun selanjutnya tidak pernah melakukan
perubahan-perubahan apapun. Hampir bisa dipastikan sekolah yang demikian,
sama sekali tidak menunjukkan perkembangan alias stagnan.
Oleh karena itu, dalam rangka menemukan model kurikulum yang sesuai di
sekolah, seyogyanya di sekolah dibentuk tim pengembang kurikulum tingkat

sekolah yaang bertugaas untuk meengelola kurrikulum di sekolah yanng bersangk


kutan.
Memang saat ini, di
d sekolah--sekolah su
udah ditun
njuk petugaas khusus yang
menanganni kurikulum
m (biasanyaa dipegang oleh
o wakaseek kurikulum
m). Namun
n pada
umumnyaa mereka ceenderung diisibukkan dengan
d
tugaas-tugas yan
ang lebih baanyak
bersifat ruutin dan tekn
nis, seperti m
membuat jaadwal pelajaaran, melakksanakan ulaangan
umum atau kegiatan yang beersifat rutin
n lainnya. Usaha unntuk mendeesain,
gembangan kurikulum yang
mengimpllementasikaan, dan menngevaluasi, serta meng
lebih inovvatif tampak
knya kurangg begitu dipeerhatikan.

C. Landasan Pengem
mbangan K
Kurikulum 2013
Pada gagasan awal penggembangan Kurikulum
m 2006 (K
KTSP) meenjadi
Kurikulum
m 2013 (K
K-13), terdaapat tiga hal
h yang melandasiny
m
ya, yaitu aspek
a
filosofis, aspek
a
yuridiis, dan aspeek konseptual.

Dari ketiga aspeek ang mennjadi pertim


mbangan dikembangkaannya kurik
kulum
ubahan pad
da tiga eleemen, yaitu
u: (1)
2013 tersebut, setidaknya dihaasilkan peru
ulusan, adannya peningk
katan dan keseimbanga
k
an soft skillls dan
elemen koompetensi lu
hard skillss yang melip
puti aspek kkompetensi sikap, keterampilan, ddan pengetahuan;
(2) elemenn kedudukaan mata pellajaran dari yang semu
ula kompeetensi dituru
unkan
dari mataa pelajaran
n berubah menjadi mata pelaajaran dikeembangkan dari

kompetensi, serta (3) elemen pendekatan dimana kompetensi untuk SD


dikembangkan melalui pendekatan tematik integratif dalam semua mata pelajaran,
kompetensi untuk SMP dikembangkan melalui mata pelajaran, kompetensi untuk
SMA dikembangan melalui mata pelajaran wajib dan pilihan, serta kompetensi
untuk SMK dikembangkan melalui mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasional.
Berkaitan dengan elemen pendekatan (standar isi), jumlah mata pelajaran
peserta didik lebih sedikit, tetapi jumlah jam bertambah menjadi lebih panjang
(bisa berarti anak sekolah pulang lebih siang atau menjelang sore hari), sementara
untuk jenjang SMK ada pengurangan untuk mata pelajaran kelompok normatifadaptif, sedangkan kelompok produktif bertambah.
Elemen lain yang juga mengalami perubahan pada kurikulum 2013 ini adalah
elemen standar proses, dimana semua siswa (mulai SD sampai SMA/SMK) harus
memiliki kemampuan untuk mengamati, bertanya, mengolah, menyajikan,
menyimpulkan, bahkan sampai menciptakan. Di sini belajar tidak hanya terjadi di
dalam kelas, tapi juga bisa di luar kelas seperti perpustakaan, bengkel sekolah,
industri/instansi terkait, dan bahkan masyarakat sekitar. Guru bukan satu-satunya
sumber belajar, tapi juga dapat diperoleh dari buku, koran, TV, radio, internet.
Dan sikap (attitude) tidak diajarkan secara verbal, tetapi siswa akan lebih banyak
melihat dari apa yang dicontohkan oleh guru dengan memberikan suri tauladan
yang baik.
Demikian pula halnya dengan elemen standar penilaian. Jika biasanya nilai
diambil dari sebuah tes/ujian, maka dalam kurikulum 2013 diubah menjadi
penilaian yang otentik (mengukur semua kompetensi mulai dari sikap,
ketrampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil kerja). Setiap siswa
memiliki semua rekaman kegiatan berupa portofolio yang dibuat oleh siswa
sendiri sebagai instrumen utama penilaian.

D. Persoalan-persoalan yang Dihadapi dalam Implementasi Kurikulum 2013


Jika menyimak landasan dari gagasan dikembangkannya kurikulum 2013
serta elemen-elemen dasar perubahannya, terlihat begitu ideal sebagai suatu upaya
untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Benarkah dengan

diberlakukannya kurikulum 2013 tersebut saat ini dapat memacu peningkatan


kualitas pendidikan di Indonesia?
Tampaknya cukup sulit untuk menjawab ya. Alasannya, mari kita tinjau
salah satu elemen yang menjadi fokus perhatian dari kurikulum 2013 ini, yaitu
siswa.
Di dalam kurikulum tersebut, siswa yang menjadi penerima perlakuan
(object of treatment) harus memiliki kemampuan untuk mengamati, bertanya,
mengolah, menyajikan, menyimpulkan, bahkan sampai menciptakan. Persoalannya, sudahkah siswa-siswa kita memiliki kemampuan-kemampuan tersebut agar
siap menerima perlakuan pembelajaran berdasarkan kurikulum ini?
Jika kita mau mengakui sejujurnya, sebagian besar masyarakat kita,
khususnya siswa-siswa kita hingga saat ini belum memiliki kesiapan untuk
melakukan semua itu tanpa adanya tuntunan dari guru. Kemampuan mereka
mengeksplorasi dan mengeksploitasi ilmu dan pengetahuan masih membutuhkan
tuntunan, penjelasan, ajakan, arahan, bahkan paksaan dari guru.
Ketika alasan itu dikemukakan, muncul pula pertanyaan lanjutan: Jika tidak
mencoba untuk melakukan perlakuan (berdasarkan kurikulum 2013) itu saat ini
dan menunggu para siswa kita siap, kapan mereka akan bisa siap? Pertanyaan ini
pun memang beralasan, jika kita tidak mulai merubah dari sekarang, hal yang
dikhawatirkan adalah kita akan semakin jauh tertinggal dari kemajuan peradaban
bangsa lain di dunia ini.
Akan tetapi ada hal yang harus disadari, bahwa untuk melakukan suatu
perubahan yang positif bagi kemajuan bangsa kita, khususnya dalam dunia
pendidikan, yaitu bahwa siswa sebagai peserta didik mempunyai tingkat
pemahaman dan penalaran yang berbeda dan memerlukan tahap-tahap
pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan alami-nya. Sehingga, apabila
gagsan-gagasan dalam kurikulum 2013 yang cukup ideal itu akan diterapkan,
perlu ditunjang oleh kesiapan tenaga pendidik dan kependidikan yang telah
mumpuni dan menguasai benar implementasi kurikulum tersebut. Di samping
itu, fasilitas penunjang pendidikan pun, baik infrastruktur maupun suprastruktur
pendidikan, harus terpenuhi seluruhnya secara merata di semua sekolah di
Indonesia, tidak hanya di sekolah-sekolah negeri dan sekolah favorit, serta tidak

hanya sebatas sekolah-sekolah di lingkungan perkotaan, tetapi juga harus sampai


ke setiap pelosok daerah, termasuk daerah-daerah terpencil.
Persoalan yang muncul ketika kurikulum 2013 ini diberlakuan secara
menyeluruh di Indonesia, sudah terpenuhikah seluruh kebutuhan akan tenaga
pendidik dan kependidikan yang mumpuni serta failitas penunjang pendidikan
yang diperlukan di setiap sekolah yang ada di Indonesia sebagaimana dituntut
dalam kurikulum 2013?
Persoalan lain yang muncul adalah bahwa dalam sistem penilaian pada
kurikulum 2013 yang menuntut terjadinya peningkatan dan keseimbangan soft
skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan dilakukan melalui sistem penilaian yang cukup kompleks, meliputi
(1) penilaian sikap spiritual dan sosial dengan menerapkan penilaian observasi,
penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal; (2) penilaian pengetahuan; dan
(3) penilaian keterampilan melalui penilaian praktek, penilaian proyek, dan
penilaian potofolio.
Seluruh penilaian ini harus dilaksanakan oleh seorang guru terhadap setiap
individu siswanya setiap proses tatap muka berlangsung. Jika benar-benar sistem
penilaian ini diterapkan secara objektif dan ideal, maka secara arsional setiap guru
tidak akan mampu melakukan penilaian terhadap siswa yang banyak. Sementara,
jumlah siswa dalam setiap kelas di sekolah-sekolah di Indonesia umumnya lebih
dari 30 orang siswa untuk tingkat SD atau lebih dari 40 orang untuk tingkat
SMP/SMA/SMK.
Dengan adanya persoalan-persoalan tersebut, tampaknya pemberlakuan
kurikulum 2013 di Indonesia saat ini perlu ditinjau kembali dari semua segi, baik
kesiapan sumberdaya manusianya (siswa, tenaga pendidik dan kependidikan,
manajemen, dan komponen sekolah lainnya) maupun sumberdaya lainnya
(fasilitas, sarana, dan prasarana). Hal lain yang perlu menjadi catatan dan
perhatian adalah:
1. Kurikulum bukan sekedar proyek masing masing menteri Pendidikan dan
Kebudayan yang setiap ganti menteri harus ganti kurikulum. Kurikulum adalah
jantung dari pendidikan itu sendiri, seyogyanya kurikulum yang sudah berjalan

dan telah memiliki nilai plus seperti kurikulum 2006 ini diperbaiki bukan
dirombak.
2. Kurikulum ini merupakan megaproyek dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yang memakan dana APBN sebesar 2,49 Trilyun rupiah,. Lebih
dari 50 % nya dialokasikan untuk pengadaan buku. Di sinilah harus ada kehatihatian dan pengawasan yang ketat, pengadaan buku merupakan lahan basah
yang sangat rawan menimbulkan korupsi.
3. Kalaupun memang harus mengubah kurikulm yang ada, sebaikanya kurikulum
yang baru ini didahuli dengan pengujian dan evaluasi dalam rentang waktu
yang rasional, dilanjutkan dengan mempersiapkan sumberdaya manusia
sebagai pelaksananya serta sumberdaya pendukung lainnya. Jika semua itu
telah siap, barulah kurikulum yang telah diuji dan dievaluasi tersebut
diberlakukan secara menyeluruh.
Bahkan akan lebih baik apabila kurikulum yang akan diberlakukan pada tahun
ini telah dipersiapkan jauh sebelum pemberlakuannya. Misalnya, kurikulum
pendidikan dasar dan menengah yang akan diberlakukan mulai tahun 2020
dipersiapkan

sejak

sekarang

dengan

terlebih

dahulu

menguji

dan

mengevaluasinya, serta menyiapkan pembinaan bagi calon-calon gurunya


(mahasiswa kependidikan) melalui serangkaian perkualiahan berkaitan dengan
implementasi kurikulum 2020 yang akan diberlakukan nantinya yang biasanya
dapat memakan waktu 4 sampai 5 tahun. Sehingga ketika mereka lulus kuliah,
setidaknya mereka telah memiliki penguasaan ilmu, pengetahuan, dan
keterampilan khusus dalam penerapan kurikulum 2020 tersebut.

Pendidikan jangan sampai hanya terbelenggu dengan kurikulum, wujudkan


kembali kurikulum sesuai konstitusi yang ada yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa, bukan hanya mengikuti permintaan pasar