Anda di halaman 1dari 3

APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)

Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) didasarkan pada ketentuan Pasal 23 ayat
(1) Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diubah menjadi Pasal 23 Ayat (1), (2) dan (3) Amandemen
UUD 1945 yang berbunyi (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai wujud dari
pengelolaan keuangan Negara ditetapkan setiap tahun dengan undang undang dan dilaksanakan secara
terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; (2) Rancangan undangundang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan
Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah; (3) Apabila
Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang
lalu. APBN ditetapkan dengan Undang-Undang, berarti penyusunannya harus dengan persetujuan DPR,
sesuai dengan UUD 1945 Pasal 23.
Tahapan dalam penyusunan APBN, yaitu:
a. tahap penyusunan RAPBN oleh pemerintah;
b. tahap pembahasan dan penetapan RAPBN menjadi APBN dengan Dewan Perwakilan Rakyat;
c. tahap pelaksanaan APBN;
d. tahap pengawasan pelaksanaan APBN oleh instansi yang berwenang antara lain Badan
Pemeriksa Keuangan; dan
e. tahap pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
o Penyusunan APBN
Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang APBN kepada DPR.
Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang-Undang tentang APBN selambat-lambatnya
2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan
o Pelaksanaan APBN
Setelah APBN ditetapkan dengan Undang-Undang, pelaksanaan APBN dituangkan lebih lanjut
dengan - Peraturan Presiden. Berdasarkan perkembangan, di tengah-tengah berjalannya tahun
anggaran, APBN dapat mengalami revisi/perubahan. Untuk melakukan revisi APBN, Pemerintah
harus mengajukan RUU Perubahan APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR.Perubahan APBN
dilakukan paling lambat akhir Maret, setelah pembahasan dengan Badan anggaran DPR. Dalam
keadaan darurat (misalnya terjadi bencana alam), Pemerintah dapat melakukan pengeluaran yang
belum tersedia anggarannya.
o Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN
Selambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir, Presiden menyampaikan RUU tentang
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan keuangan yang telah diperiksa
oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)
Berdasarkan UU No.17/2003 tahapan tersebut adalah :
1. Pemerintah Daerah melalui Panitia Anggaran Eksekutif menyampaikan kebijakan umum APBD
tahun anggaran paling lambat pada bulan Juni tahun berjalan. Kebijakan umum APBD tersebut
berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

2. Proses Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dilakukan antara lain dengan
melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG) yang selain diikuti
oleh unsur pemerintah juga mengikutsertakan dan/atau menyerap aspirasi masyarakat terkait,
antara lain asosiasi profesi, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pemuka
Adat, Pemuka Agama dan kalangan dunia usaha.
3. Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kemudian membahas kebijakan
umum APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah dalam pembahasan pendahuluan
rancangan APBD tahun anggaran.
4. Berdasarkan kebijakan umum APBD yang telah disepakati dengan DPRD, pemerintah daerah
melalui Panitia Anggaran Eksekutif bersama dengan Panitia Anggaran Legislatif membaca
plafon anggaran sementara untuk dijadikan acuan bagi setiap Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(SKPD).
5.

Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) selaku pengguna anggaran menyusun Rencana
Kerja Anggaran Satuan Kerja Pemerintah Daerah (RKA-SK) tahun berikutnya dengan mengacu
pada prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah
bersama DPRD.

6. RKA - SKPD tersebut kemudian disampaikan kepada DPRD untuk dibahas dalam pembahasan
terdahulu.
7. Hasil pembahasan RKA-SKPD disampaikan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
(PPKD) sebagai bahan penyusunan rancangan PERDA tentang APBD tahun berikutnya.
8. Pemerintah Daerah mengajukan rancangan PERDA tentang APBD disertai dengan penjelasan
dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD pada minggu pertama bulan Oktober tahun
sebelumnya.
9. Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai rancangan PERDA tentang APBD dilakukan
selambat lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan.
Perbedaan APBN dan APBD:
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) rencana keuangan tahunan pemerintahan
negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, ditetapkan dengan UndangUndang.
2. APBD rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama
oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat daerah, dan ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
3. Landasan hukum dari penyusunan APBD tercantum dalam:
a. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
b. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan daerah.
4. Landasan hukum dari penyusunan APBN didasarkan pada ketentuan Pasal 23 ayat (1) UndangUndang Dasar 1945 yang telah diubah menjadi Pasal 23 Ayat (1), (2) dan (3) Amandemen UUD

1945, UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, dan UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
5. APBN berskala nasional sedangkan APBD terbatas pada wilayah daerah dan pelaksanaannya
diserahkan kepada kepala daerah atau gubernur dan bupati/ walikota, serta sesuai dengan
kebijakan otonomi daerah.