Anda di halaman 1dari 11

SURAT TANDA REGISTRASI

SURAT IJIN PRAKTIK


DAN HUBUNGANNYA DENGAN
BIOETIK
Makalah
Tugas Bioetika

Shek Wendy

Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Hasanuddun
Makassar
2014

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Masyarakat di era modern seperti sekarang ini adalah masyarakat yang cerdas. Mereka
bisa mendapatkan informasi-informasi dengan mudah lewat berbagai media untuk
memperkaya pengetahuan mereka. Rasa ingin tahu mereka yang tinggi menbuat mereka giat
mencari informasi tertentu, baik itu informasi yang bersifat umum maupun informasi yang
bersifat khusus. Banyak dari mereka yang juga giat mencari informasi seputar masalahmasalah kesehatan.
Dengan kondisi masyarakat yang cerdas dan kritis terhadap informasi-informasi seputar
kesehatan, seorang dokter/dokter gigi haruslah lebih memperhatikan pelayanan kesehatan
yang dierikan dan mematuhi aturan-aturan yang berhubungan dan mengikat sehubungan
dengan pekerjaan dokter/dokter gigi tersebut. Disinilah kaidah-kaidah dasar bioetik perlu
diperhatikan dan diterapkan. Kaidah bioetik adalah hal paling dasar yang harus dikuasai oleh
seorang dokter/dokter gigi karena dari sanalah seorang dokter/dokter gigi belajar bagaimana
berperilaku sesuai dengan etika kedokteran, termasuk terhadap kaidah-kaidah hukum
kedokteran, dalam hal ini yang behubungan dengan surat tanda registrasi dan surat ijin
oraktek.
Dengan menerapkan kaidah bioetik secara benar, masyarakat akan lebih percaya
terhadap dokter dan terhadap segala kinerja medis yang dilakukan oleh seorang dokter. Pada
makalah saya kali ini, saya akan membahas kaidah-kaidah dasar bioetik dan hubungannya
dengan surat tanda registrasi dan surat ijin praktek.
RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang didapatkan antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan bioetika, surat tanda registrasi, dan surat ijin praktek?
2. Apa latar belakang dan tujuan pembelajaran kaidah dasar bioetika dalam hubungannya
dengan pembuatan surat tanda registrasi dan surat ijin praktek?

TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ilmiah ini adalah agar dapat mengetahui dan memahami
tentang bioetik dan hubungannya dengan pembuatan surat tanda registrasi dan surat ijin
praktek, sehingga pelayanan kepada pasien dapat berjalan baik dan optimal. Tenaga
kesehatan dapat berkerja dengan baik dan benar, sedang pasien dapat lebih percaya dan tanpa
was was terhadap mutu pelayanan kesehatan yang di berikan oleh tenaga kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. BIOETIKA
Saat ini ada banyak definisi yang diutarakan oleh beberapa ahli berkaitan dengan Bioetik.
Berikut ini adalah salah satu definisi Bioetik yang cukup mewakili definisi-definisi Bioetik
lainnya: Bioetik atau dikenal juga dengan istilah bioetika berasal dari kata bios yang memiliki
arti kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetik merupakan
studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan
juga ilmu kedokteran.
Bioetika juga diartikan sebagai studi tentang isu-isu etika dan membuat keputusan yang
dihubungkan dengan kegunaan kehidupan makhluk hidup dan obat-obatan termasuk di
dalamnya meliputi etika kedokteran dan etika lingkungan. Bioetik sangat erat hubungannya
dengan etika kedokteran.
Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti
norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang
baik. Secara sederhana etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap moral
secara sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku baik pada
masa lampau, sekarang atau masa mendatang. Moralitas merupakan dimensi nilai dari keputusan
dan tindakan yang dilakukan manusia. Bahasa moralitas termasuk kata-kata seperti hak,
tanggung jawab, dan kebaikan dan sifat seperti baik dan buruk (atau jahat), benar dan
salah, sesuai dan tidak sesuai. Secara lebih luas, etika merupakan norma-norma, nilai-nilai
atau pola tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam memberikan pelayanan jasa kepada
masyarakat, atau yang biasa di kenal dengan etika profesi.
Sehingga dapat di simpulkan bahwa, seorang dokter/dokter gigi dalam menjalankan
profesinya sebagai dokter/dokter gigi harus mempunyai etika, yang selanjutnya dikenal dengan
istilah etika kedokteran. Etika kedokteran merupakan salah satu cabang dari etika yang
merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam hubungannya dengan klien /
pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta merupakan bagian dari keseluruhan
proses pengambilan keputusan dan tindakan medik ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai
moral.
Di dalam memeberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdapat aspek etik dan
aspek hukum yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti
pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam

praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh
karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma
hukum yang mengandung nilai-nilai etika.
Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi
mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan
dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan
keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.
Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar
prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini
profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap
profesional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik
dan juga sekaligus pelanggaran hukum. Untuk memenuhi kewajiban memenuhi standar profesi
medis dan unutnk menghindari pelanggran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum, maka
setiap tenaga kesehatan, termasuk dokter/dokter gigi yang akan memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat di wajibkan memiliki STR dan SIP.
Hal ini tertuang dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Undang Undang no.29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran & Permenkes no.46 tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga
Kesehatan.

B. SURAT TANDA REGISTRASI


Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
Menteri kepada Tenaga Kesehatan yang telah diregistrasi.
Proses Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap tenaga kesehatan yang telah memiliki
sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara
hukum untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan profesinya.
Setiap dokter/dokter gigi yang melakukan praktik wajib memiliki surat tanda registrasi
dokter/dokter gigi.
Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi harus
memenuhi persyaratan :
a. Memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi spesialis dikeluarkan
oleh perguruan tinggi bidang kesehatan;

b. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau dokter gigi;
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. Memiliki sertifikat kompetensi dikeluarkan oleh Institusi Pendidikan setelah yang
bersangkutan mengikuti Uji Kompetensi dan dinyatakan lulus Uji Kompetensi oleh
perguruan tinggi bidang kesehatan yang memiliki izin penyelenggaraan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Uji Kompetensi diselenggarakan oleh
perguruan tinggi bekerja sama dengan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI)
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Persyaratan Pemohon Baru untuk mendapat STR:

Mengisi dan menandatangani Form 1a dan 1b.

Fotocopy ijazah yang di legalisir asli oleh Dekan FK/FKG atau Wakil Dekan I FK/FKG
bagi lulusan dalam negeri.

Fotocopy ijazah yang di legalisir asli oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti)
atau pejabat Dikti lainnya yang berwenang dan fotocopy surat selesai adaptasi yang di
legalisir asli oleh FK bagi lulusan luar negeri.

Fotocopy Sertifikat kompetensi yang dikeluarkan Kolegium dan dilegalisir asli oleh
Kolegium terkait.

Pas foto terbaru dan berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak 4 lembar dan ukuran 2x3 cm
sebanyak 2 lembar.

Surat keterangan sehat fisik dan mental yang dibuat oleh dokter yang memiliki Surat Izin
Praktek(SIP) dengan mencantumkan nomor SIP dokter yang memeriksa dan masih
berlaku.

Bukti Asli pembayaran biaya registrasi STR ditransfer ke Rekening KKI nomor :
93.20.5556 BNI cabang Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebesar Rp.
300.000,-(Tiga ratus ribu rupiah).

Surat Tanda Registrasi diberikan oleh Konsil Kedokteran Indonesia berkedudukan di ibu kota
negara Republik Indonesia. Konsil Kedokteran Indonesia mempunyai fungsi pengaturan
(melakukan registrasi dokter dan dokter gigi), pengesahan, penetapan (mengesahkan standar
pendidikan profesi dokter dan dokter gigi) serta pembinaan (melakukan pembinaan terhadap
penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan

fungsi masing-masing) dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran, dalam
rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.

Secara garis besarnya, surat tanda registrasi dapat dibedakan menjadi:

Surat tanda registrasi dokter/dokter gigi : 5 tahun.

Surat tanda registrasi sementara: 1 tahun untuk dr & drg WNA

Surat tanda registrasi bersyarat- untuk ppds & ppdgs WNA

Dokter dan dokter gigi lulusan luar negeri yang akan melaksanakan praktik kedokteran di
Indonesia harus dilakukan evaluasi yang meliputi:
a. Kesahan ijazah;
b. Kemampuan untuk melakukan praktik kedokteran yang dinyatakan dengan surat
keterangan telah mengikuti program adaptasi dan sertifikat kompetensi;
c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau dokter gigi;
d. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental; dan
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Surat tanda registrasi tidak berlaku karena :


a. Dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. Habis masa berlakunya dan yang bersangkutan tidak mendaftar ulang;
c. Atas permintaan yang bersangkutan;
d. Yang bersangkutan meninggal dunia; atau
e. Dicabut konsil kedokteran indonesia.

Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi berlaku selama % tahun, dan
apabila telah habis masa berlakunya, maka dokter/dokter gigi tersebut harus melakukan
registrasi ulang (Her Registrasi) setiap 5 (lima) tahun sekali dengan tetap memenuhi persyaratan

Persyaratan untuk pemohon registrasi ulang, meliputi:

Mengisi dan menandatangani Form 1c.

Fotocopy STR dokter/dokter spesialis atau dokter gigi /dokter gigi spesialis yang masih
berlaku.

Fotocopy Sertifikat kompetensi yang dikeluarkan Kolegium dan dilegalisir asli oleh
Kolegium terkait.

Pas foto terbaru dan berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak 4 lembar dan ukuran 2x3 cm
sebanyak 2 lembar.

Surat keterangan sehat fisik dan mental yang dibuat oleh dokter yang memiliki Surat Izin
Praktek(SIP) dengan mencantumkan nomor SIP dokter yang memeriksa dan masih
berlaku.

Bukti Asli pembayaran biaya registrasi STR ditransfer ke rekening KKI nomor :
93.20.5556 BNI cabang Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sebesar Rp.
300.000,-(tiga ratus ribu rupiah).

C. SURAT IJIN PRAKTIK


Surat izin praktik, selanjutnya disingkat SIP adalah bukti tertulis yang diberikan dinas kesehatan
kabupaten/kota kepada dokter dan dokter gigi yang akan menjalankan praktik kedokteran setelah
memenuhi persyaratan.

Setiap dokter dan dokter gigi yang akan melakukan praktik kedokteran wajib memiliki SIP

SIP diberikan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota tempat praktik kedokteran atau
kedokteran gigi dilaksanakan.

SIP berlaku sepanjang STR masih berlaku dan tempat praktik masih sesuai dengan yang
tercantum dalam sip

Satu surat izin praktik hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik. SIP dokter atau dokter gigi
diberikan paling banyak untuk 3 (tiga) tempat praktik, baik pada sarana pelayanan kesehatan
milik pemerintah, swasta maupun praktik perorangan. SIP untuk 3 (tiga) tempat praktik dapat
berada dalam kabupaten/kota yang sama atau berbeda di propinsi yang sama atau propinsi lain

Secara Garis Besar, SIP dapat di bedakan menjadi:

SIP dokter, SIP dokter gigi, SIP dokter spesialis, dan SIP dokter gigi spesialis.

SIP Internsip dengan kewenangan yang sama dengan dokter bagi peserta internsip

SIP dokter atau SIP dokter gigi dengan kewenangan sesuai kompetensi yang ditetapkan
oleh Ketua Program Studi (KPS) bagi PPDS/PPDGS

SIP dokter dengan kewenangan sebagaimana tercantum dalam surat keterangan


kompetensi yang dikeluarkan oleh Kolegium bagi peserta program dokter dengan
kewenangan tambahan yang memperoleh penugasan khusus di fasilitas pelayanan
kesehatan tertentu

Persyaratan permohonan untuk mendapatkan Surat Ijin Praktik:

Fotokopi surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi yang
diterbitkan dan dilegalisir asli oleh konsil kedokteran indonesia, yang masih berlaku.

Surat pernyataan mempunyai tempat praktik, atau surat keterangan dari sarana pelayanan
kesehatan sebagai tempat praktiknya;

Surat rekomendasi dari organisasi profesi, sesuai tempat praktik;

Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 3 (tiga) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua)
lembar

Dalam rangka terselenggaranya praktik kedokteran yang bermutu dan melindungi masyarakat
sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, perlu dilakukan
pembinaan terhadap dokter atau dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran, yang dilakukan
dilakukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia bersama-sama dengan organisasi profesi.

Untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran,
dibentuk Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, yang merupakan lembaga otonom
dari Konsil Kedokteran Indonesia
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia bertugas :
a. Menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter
dan dokter gigi yang diajukan; dan
b. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter atau
dokter gigi.

Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter
gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.

Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud dapat berupa :


a. Pemberian peringatan tertulis;
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik; dan/atau
c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau
kedokteran gigi.

KETENTUAN PIDANA sehbungan dengan Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktik serta
pelaksanaan Praktik
Pasal 75
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa
memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa
memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi yang :
a. dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat
(1);
b. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat
(1); atau
c. dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf
a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.

BAB III
KESIMPULAN

Masyarakat di era modern seperti sekarang ini adalah masyarakat yang cerdas. Mereka
bisa mendapatkan informasi-informasi dengan mudah lewat berbagai media untuk
memperkaya pengetahuan mereka.

Dengan kondisi masyarakat yang cerdas dan kritis terhadap informasi-informasi seputar
kesehatan, seorang dokter/dokter gigi haruslah lebih memperhatikan pelayanan kesehatan
yang dierikan dan mematuhi aturan-aturan yang berhubungan dan mengikat sehubungan
dengan pekerjaan dokter/dokter gigi tersebut.

Kaidah bioetik adalah hal paling dasar yang harus dikuasai oleh seorang dokter/dokter
gigi karena dari sanalah seorang dokter/dokter gigi belajar bagaimana berperilaku sesuai
dengan etika kedokteran, termasuk terhadap kaidah-kaidah hukum kedokteran, dalam hal
ini yang behubungan dengan surat tanda registrasi dan surat ijin oraktek.

Untuk memenuhi kewajiban memenuhi standar profesi medis dan unutnk menghindari
pelanggran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum, maka setiap tenaga kesehatan,
termasuk dokter/dokter gigi yang akan memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat di wajibkan memiliki STR dan SIP

Tenaga kesehatan dapat berkerja dengan baik dan benar, sedang pasien dapat lebih
percaya dan tanpa was was terhadap mutu pelayanan kesehatan yang di berikan oleh
tenaga kesehatan.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Hanafiah, M. J., Amir, Amri. 2009. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Edisi 4.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Undang Undang no.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 4431)
3. Peraturan Menteri Kesehatan no.46 tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 977)
4. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia. 2002.
Kode Etik Kedokteran dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia
5. Konsil Kedokteran Indonesia, www.kki.go.id
6. http:www.id.wikipedia.org/wiki/Bioetika