Anda di halaman 1dari 14

PENILAIAN DAN CIRI PENILAIAN

Pandangan ttg Belajar :

Bahwa proses belajar yg terjadi dlm diri seseorang tak pernah ada orang yang dapat menyaksikan-nya
(teori Black-Box dari Behaviorisme).

Proses belajar tersebut telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya, yaitu
apa yang dapat dilakukan oleh orang tersebut atau perubahan apa yang telah terjadi pada diri orang
tersebut dibanding sebelumnya.

Oleh karena itu, diperlukan adanya kegiatan penilaian yaitu utk mengetahui sejauhmana kompetensi
tsb telah dikuasai peserta didik.

KLASIFIKASI HASIL BELAJAR:


Bloom, membagi hasil belajar ke dalam 3 (tiga) aspek/
ranah, yaitu:
Hasil belajar yang berkaitan dengan perkembangan kognitif.
Hasil belajar yang berkaitan dengan perkembangan afektif,
Hasil belajar yang berkaitan dengan perkembangan keterampilan (psikomotorik).
(Ketiga aspek di atas dapat juga dikelompokkan dengan istilah 3H: Head, Hand, and Heart).
PENGUKURAN, PENILAIAN & EVALUASI

Mengukur adalah menentukan dimensi kuantitatif berdasarkan suatu standar/ukuran/instrumen yang


telah ditetapkan sebelumnya.

Menilai adalah menentukan dimensi kualitatif terhadap suatu hasil pengukuran, berdasar-kan kriteria
tertentu yang telah ditetapkan.

Pengertian evaluasi dalam konteks evaluasi hasil belajar adalah sama dengan penilaian.

KONSEP DASAR PENILAIAN HASIL BELAJAR

Penilaian merupakan proses pengambilan keputusan tentang hasil belajar siswa.


Penilaian dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dengan menggunakan alat ukur/alat
penilaian/instrumen tertentu: tes, penugasan, penilaian kinerja, pengamatan, dsb.
Pengertian Penilaian & Evaluasi

PP 19 Tahun 2005, pasal 1, poin (17):

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi utk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik.

PP 19/2005, pasal 1, poin (18) dan

UU No. 20/2003, pasal 1:


Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan thd berbagai
komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sbg bentuk pertanggung-jawaban
penyelenggaraan pendidikan.

Ciri-ciri penilaian (pengukuran) dlm bidang pendidikan


Pengukuran (penilaian) tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi hanya didasarkan pada indikatorindikator atau gejala-gejala yang nampak. Oleh karena itu, masalah ketepatan alat ukur yang digunakan
(valid) menjadi masalah tersendiri variable laten vs. variable observed.

Penilaian biasanya didahului dengan kegiatan pengukuran, yg hasilnya berupa skor.


Hasil penilaian bersifat relatif, artinya hasilnya tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain,
dan sangat tergantung dari banyak faktor: peserta didik, penilai, dan situasi yang terjadi pada saat
penilaian berlangsung.
Dalam kegiatan pengukuran selalu terjadi kesalahan (error), yang disebabkan oleh: (1) alat ukurnya
(tidak valid dan realiabel); (2) penilai (faktor subyektif, kecenderungan nilai murah atau mahal, kesan
pribadi terhadap peserta tes, pengaruh hasil yang lalu, kesalahan menghitung, suasana hati penilai); (3)
kondisi fisik dan psikis peserta tes; dan (4) kesalahan akibat suasana ujian (suasana gaduh, pengawasan
yang tidak baik dsb).
FUNGSI PENILAIAN
Penilaian berfungsi selektif
Misal: untuk memilih peserta tes yang dapat diterima untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tertentu
atau seorang calon pegawai untuk bekerja di instansi tertentu.
Penilaian berfungsi Diagnostik,
untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang masih dialami oleh peserta didiknya, sehingga akan lebih
mudah dicari cara-cara untuk mengatasinya.
Penilaian berfungsi untuk Penempatan (Placement Test)
untuk mengelompokkan peserta tes sesuai dengan kemampuan awalnya, untuk selanjutnya dapat diberikan
perlakuan-perlakuan yang sesuai dengan kemampuan dasar atau kemampuan awalnya tersebut, sehingga
program pengajaran ataupun pelatihan yang akan diberikan akan lebih efektif.
Penilaian berfungsi Pengukur Keberhasilan Belajar (Achievement Test)

Digunakan untuk mengukur keberhasilan atau tingkat pencapaian suatu program pengajaran/pelatihan oleh
peserta didik dan disebut tes untuk penilaian pencapaian hasil belajar (achievement test).
PRINSIP PENILAIAN
Ketentuan Penilaian :
UU No. 20 Tahun 2003, Pasal 63, ayat:
Penilaian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, terdiri atas:
penilaian hasil belajar oleh pendidik;
penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan
penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi, terdiri atas:
- penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan
- penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi
CAKUPAN PENILAIAN

Pemanfaatan Hasil Penilaian :


UU No. 20 Tahun 2003, Pasal 64, ayat:

Penilaian hasil belajar oleh pendidik, dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses,
kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester dan ulangan kenaikan kelas.

Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk: menilai pencapaian kompetensi peserta
didik, bahan penyusunan laporan kemajuan belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.

Pasal 65, ayat (1):


Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan
utk semua mata pelajaran.

Pasal 66, ayat (1):


Penilaian hsl belajar oleh pemerintah, bertujuan utk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara
nasional pada mata pelajaran tertentu dlm klp mata pelajaran IPTEK, dan dilakukan dlm bentuk Ujian
Nasional.

Pemanfaatan Hasil UN
Permendiknas No. 78/2008 (POS UN):

Pasal 1 UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Pasal 2 UN bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pd mata pelajaran
tertentu dlm klp mata pelajaran IPTEK

Pasal 3 Hasil UN digunakan sbg salah satu pertimbangan untuk:


pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan
seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.
penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/ atau satuan pendidikan
Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dlm upaya peningkatan mutu
pendidikan

Ketentuan mengenai teknik/metode/cara penilaian


PP 19 Tahun 2005, pasal 22 ditetapkan bahwa:
Penilaian hasil pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan
berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa tes tertulis, observasi, tes
praktik, penugasan perorangan atau kelompok
Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran IPTEK, teknik penilaian observasi secara
individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester.
PENILAIAN HASIL BELAJAR

PRINSIP DASAR PENILAIAN HASIL BELAJAR


Dapat mengukur apa yang ingin diukur.
Teknik penilaian harus dipilih sesuai apa yang akan diukur.
Setiap teknik penilaian mempunyai keterbatasan
Penilaian yg komprehensif memerlukan lebih dari satu teknik penilaian.
Penilaian harus dilakukan secara objektif, jujur, dan adil.

Prinsip-prinsip penilaian:
1. Mendidik, yakni mampu memberikan sumbangan positif terhadap peningkatan pencapaian belajar
peserta didik. Hasil penilaian harus dapat memberikan umpan balik dan memotivasi peserta didik untuk
lebih giat belajar.
2. Terbuka/transparan, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
diketahui oleh pihak yang terkait.

3. Menyeluruh, yakni meliputi berbagai aspek kompetensi yang akan dinilai. Penilaian yang menyeluruh
meliputi ranah pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang
direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
4. Terpadu dengan pembelajaran, yakni menilai apapun yang dikerjakan peserta didik dalam kegiatan
belajar mengajar itu dinilai, baik kognitif, psikomotorik dan afektifnya.
5. Objektif, yakni tidak terpengaruh oleh pertimbangan subjektif penilai.
6. Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap untuk memperoleh gambaran
tentang perkembangan belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya.
7. Berkesinambungan, yakni dilakukan secara terus menerus sepanjang berlangsungnya kegiatan
pembelajaran.
8. Adil, yakni tidak ada peserta didik yang diuntungkan atau dirugikan berdasarkan latar belakang sosialekonomi, budaya, agama, bahasa, suku bangsa, warna kulit, dan jender.
9. Menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan
peserta didik.
KARAKTERISTIK PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI
Menilai kompetensi yg dicapai peserta didik yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Hasil penilaian harus dapat memberikan informasi yg akurat dan mendorong peningkatan kualitas
pembelajaran
Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan
Prinsip penilaian berkelanjutan: menilai kompetensi dasar, menganalisis hasil dan melakukan tindak
lanjut berupa remidi / pengayaan shg peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar secara bertahap
PENGEMBANGAN SISTEM PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

Menekankan pada pencapaian kompetensi dasar


Kompetensi yg telah dicapai dibandingkan dengan standar/kriteria yg telah ditetapkan
Sistem penilaian berkelanjutan
Hasil penilaian: lulus / belum
Yg belum lulus: remidial dan diuji lagi sampai mencapai kompetensi dasar
Teknik penilaian: tes, penilaian kinerja, pengamatan, tugas, proyek, portofolio dsb.

Penilaian Berbasis Kelas


Penilaian otentik : proses pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan pencapaian kompetensi
siswa dalam pembelajaran melalui berbagai teknik yang mampu membuktikan atau menunjukkan secara
tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kompetensi yang dimaksud telah benar-benar dicapai siswa.
Penilaian berbasis kelas (classroom based assessment), yaitu menerapkan berbagai teknik/metode (yang
tidak terbatas hanya tes) agar dapat menunjukkan secara tepat mengenai perkembangan dan pencapaian
kompetensi siswa dalam pembelajaran.
Penilaian berbasis kelas dilakukan melalui berbagai teknik/metode penilaian, antara lain:
(1) tes tertulis (paper and pencil test);
(2) penugasan;
(3) pengamatan/observasi;
(4) ujian lisan
(5) penilaian portofolio;
(6) penilaian proyek; dan
(7) penilaan kinerja (performance assessment).
TEKNIK NON TES :
Portofolio
Skala bertingkat (rating scale)
Kuesioner/angket (questionaire)
Jurnal
Wawancara (interview)
Inventori
Daftar Cocok (check-list)
Penilaian diri (self evaluation)
Pengamatan atau observasi (observation)
Penilaian oleh teman (peer review).
Riwayat Hidup
Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (termasuk SMK) meliputi 5 kelompok
mata pelajaran, yaitu:
Klp mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
Klp mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
Klp mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
Klp mata pelajaran estetika; dan
Klp mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Struktur Kurikulum SMK
. 1. Mata pelajaran wajib: Agama, PKn, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani
dan Olahraga.
Tujuan: membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja.
2. Mata pelajaran Kejuruan, terdiri atas: kemampuan adaptif, dasar kejuruan, teori kejuruan dan praktik
kejuruan.
Tujuan: utk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan
menyesuai-kan diri (adaptif) dalam bidang keahliannya.
3. Muatan lokal, merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan
ciri khas, potensi daerah, dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya
tidak dapat dimasukkan/dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.
4. Pengembangan diri, bukan merupakan mata pelajaran tersendiri. Pengembangan diri bertujuan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
Struktur Kurikulum SMK
1. Mata Pelajaran Klp. Kemampuan Normatif
2. Mata Pelajaran Klp. Kemampuan Adaptif
3. Mata Pelajaran Klp. Kemampuan Produktif, yg terdiri atas:
a. Dasar Kejuruan
b. Teori Kejuruan
c. Praktik Kejuruan
4. Mata Pelajaran Muatan Lokal
5. Program Pengembangan Diri
6.
PERGESERAN PARADIGMA PENILAIAN HASIL BELAJAR

PENDEKATAN TRADISIONAL
Penilaian hasil belajar:
1. Berorientasi pada pencapaian tujuan
2. Dilakukan hanya melalui pengukuran(measurement) tes
3. Penilaian hasil belajar merupakan kegiatan yg terpisah dari PBM (adhoc)
4. Alat ukur: tes buku-pensil (paper and pencil test)
PENILAIAN HASIL BELAJAR
( Pendekatan Tradisional )

PENDEKATAN ALTERNATIF
Penilaian proses dan hasil belajar:
1. Berorientasi pada pencapaian kompetensi.
2. Dilakukan melalui asesmen (assessment)proses dan hasil belajar.
3. Penilaian hasil belajar merupakan kegiatan yg tidak terpisah dari proses pembelajaran.
4. Alat ukur: paper and pencil test, performance assessment, portofolio, tugas dsb.
INSTRUMEN PENILAIAN

Tes adalah sejumlah pertanyaan yang harus dijawab, atau pernyataan-pernyataan yang harus ditanggapi, atau
tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang diuji untuk waktu tertentu, dengan tujuan untuk mengukur
kompetensi tertentu dari orang yang diuji.
Tes merupakan sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar dan salah, pertanyaan yang membutuhkan
jawaban, pertanyaan yang harus diberikan tanggapan, ATAU tugas-tugas yg harus dikerjakan dengan tujuan
mengukur kemampuan seseorang.

Persyaratan Tes :
Validitas
Suatu tes dikatakan valid (sahih) apabila tes tersebut secara tepat dapat mengukur apa yang seharusnya
diukurnya.
Contoh:
Untuk mengukur tingkat partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran, maka bukan diukur berdasarkan
nilai atau prestasi yang diperoleh pada saat mengikuti ujian, akan tetapi lebih tepat jika diukur berdasarkan :
Tingkat kehadirannya
Terpusatnya perhatian pada pelajaran
2. Reliabilitas, berarti dapat dipercaya. Tes dikatakan memiliki reliabilitas, apabila tes tersebut mempunyai sifat dapat
dipercaya, dapat memberikan hasil yang tetap (konsisten) apabila diteskan berulang-ulang.
3. Obyektivitas
Obyektif berarti tidak adanya unsur-unsur pribadi (subyektivitas) yang mempengaruhi hasil tes.
Suatu tes dikatakan memiliki obyektivitas apabila dalam penggunaannya tidak ada faktor subyektif dari pemakainya
yang dapat mempengaruhinya, terutama dalam skoring.
VALIDITAS TES
Yang terpenting: validitas isi
Tinggi rendahnya validitas isi dpt dilihat dari kisi-kisi tes:

Materi sudah representatif ?

Proses berpikir yg diukur sesuai dengan tujuan pembelajaran?

Tingkat kesukaran butir soal sudah diperhitungkan/sesuai dgn testi?

Jumlah soal dan waktu tes sesuai ?


1.

4. Praktikabilitas
Suatu tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi, apabila tes tersebut bersifat praktis atau mudah
digunakan, mudah dlm pemeriksaan dan mudah pula dalam pengadministrasiannya.
5. Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis adalah bahwa dalam pelaksanaan tes tersebut tidak dibutuhkan biaya yang
mahal, peralatan yang kompleks dan mahal, tenaga dan waktu yang banyak.
BENTUK PELAKSANAAN TES :
1. Tes lisan, berbentuk tanya jawab face to face. Penilai memberikan pertanyaan secara langsung kepada peserta tes.
2. Tes Perbuatan, dilakukan dengan cara menyuruh peserta didik (peserta tes) untuk melakukan sesuatu pekerjaan
yang bersifat fisik (praktik).
3. Tes Tertulis, dilakukan secara berkelompok dengan mengambil tempat di suatu ruangan tertentu. Dalam ujian
tertulis dikenal dua bentuk tes, yaitu tes essai (uraian) dan tes obyektif.
Keunggulan Tes Lisan:
Dapat digunakan untuk melakukan penilaian hasil belajar yang mendalam.
Dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan berpikir bertaraf tinggi.
Dapat digunakan untuk menguji pemahaman seseorang terkait dengan hasil karyanya.
Tidak memungkinkan penyontekkan dan bahannya cukup luas.
Kelemahan Tes Lisan
Jika pertanyaannya tidak dipersiapkan dgn baik, maka penguji hanya akan bertanya pada hal-hal yg diingatnya
saja.
Sangat mungkin terjadinya ketidak-adilan antara peserta tes, baik yang berkaitan dengan: lama waktu ujian,
tingkat kesukaran soal maupun tolok ukur dlm penilaian.
Penilaiannya bersifat sangat subyektif.
Banyak memakan waktu dalam pelaksanaannya; dan
Memungkinkan peserta tes untuk bersikap ABS, atau mengiyakan semua komentar penguji dengan maksud
supaya diluluskan.
Keunggulan Tes Perbuatan :
Tes perbuatan dapat digunakan untuk melakukan penilaian sejumlah perilaku atau penampilan yang kompleks
dalam situasi riil.
Tes perbuatan dapat digunakan untuk melakukan penilaian penampilan yang tidak dapat dievaluasi dengan alatalat evaluasi lainnya.
Ujian perbuatan dapat digunakan untuk melihat kesesuaian antara pengetahuan yang bersifat teoritis dan
keterampilan di dalam praktik.
Di dalam ujian perbuatan tidak ada peluang untuk saling menyontek.
Kelemahan Tes Perbuatan :
Ujian perbuatan memerlukan waktu yang lebih banyak, karena penilaiannya hanya dapat dilakukan seorang demi
seorang (terutama pada penilaian proses).
Ujian perbuatan pada umumnya memerlukan peralatan, mesin-mesin atau bahan-bahan khusus, sehingga menjadi
lebih mahal daripada ujian tertulis.
Penilaian dalam ujian perbuatan pada umumnya lebih subyektif, karena akan selalu melibatkan keputusan penilai.
Seringkali sangat membosankan, karena umumnya bersifat monoton.
TES TERTULIS
1. Soal Tes Bentuk Uraian (Essai),
Ciri khas tes uraian adalah bahwa jawaban soal tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksi tes, tetapi harus
dibuat oleh peserta tes sendiri. Peserta tes bebas menjawab pertanyaan yang diajukan.
2. Soal Tes Bentuk Obyektif,
Tes bentuk objektif adalah perangkat tes yang butir-butir soalnya mengandung alternatif jawaban yang harus
dipilih oleh peserta tes. Alternatif jawaban telah disediakan oleh pengkonstruksi butir soal. Peserta tes hanya memilih
jawaban dari alternatif jawaban yang telah disediakan
JENIS TES

Soal Tes Bentuk Uraian (Essai)


Tes ini umumnya memerlukan jawaban yang berbentuk bahasan. Ciri-cirinya selalu diawali dengan kata-kata
Bagaimana, Mengapa, Berikan alasan, Uraikan, Jelaskan, Bandingkan, Simpulkan, Tunjukkan, Bedakan dan
sebagainya.
Mengingat untuk dapat memberikan jawaban soal tes bentuk essai ini melibatkan tingkat berpikir yang tinggi dan
kemampuan berpikir abstrak, maka soal tes ini tentunya belum sesuai untuk digunakan bagi peserta didik di
tingkat dasar, seperti: kelas 1, 2, atau 3 SD.
Keunggulan Tes Uraian :
Jawaban harus disusun sendiri oleh testi (melatih dalam pemilihan kata-kata dan menyusun kalimat)
Tidak ada kemungkinan menebak;
Dapat mengukur kemampuan yang kompleks;
Dapat digunakan untuk mengembangkan penalaran testi;
Proses penyusunan soalnya relatif mudah; dan Proses berpikir testi dapat dilacak dari jawabannya
Kelemahan Tes Uraian:
Jumlah soal sangat terbatas, sehingga cakupan materi (validitas isi) lemah;
Tingkat kebenaran jawaban dan penilaiannya subyektif;
Jawaban testi kadang tidak relevan dengan pertanyaan;
Pemeriksaannya sulit, hanya dapat dilakukan oleh penyusunnya;
Skor umumnya kurang reliabel;
Kualitas jawaban tergantung pada kemampuan dalam memilih kata-kata dan menyusun kalimat; dan
Banyak dijumpai soal-soal tes uraian yang hanya mengungkap pengetahuan yang dangkal.
Ada 2 macam: uraian terbuka dan uraian terbatas Masalah serius dalam tes uraian:
1. Sampel materi yg ditanyakan dlm satu waktu ujian terbatas (kurang representatif)
2. Masalah scoring cenderung subyektif
MASALAH SCORING
Rater unreliability
Hallo effect
Carry over effect
Order effect
Mechanic and language effect
Meningkatkan Obyektivitas Tes Uraian :
Penilaian dilakukan oleh lebih dari satu orang (validitas antar rater);
Membuat pedoman penilaian;
Memecah langkah perumusan jawaban (dinilai tiap-tiap langkahnya penilaian kemampuan proses);
Koreksi hendaknya dilakukan sekali selesai (sehingga situasi kejiwaan penilai dalam kondisi yang sama).
Tes Obyektif
Tes bentuk objektif adalah perangkat tes yang butir-butir soalnya mengandung alternatif jawaban yang harus
dipilih oleh peserta tes. Alternatif jawaban telah disediakan oleh penyusun butir soal. Dalam hal ini, peserta tes
hanya tinggal memilih jawaban yang benar atau paling benar dari alternatif jawaban yang telah disediakan.
Pada dasarnya, ada empat bentuk tes obyektif, yaitu : (1) Bentuk Benar-Salah atau B-S; (2) Bentuk jawaban
singkat atau isian singkat; (3) Bentuk menjodohkan; dan (4) bentuk pilihan ganda (multiple choice).
Keunggulan Tes Obyektif:
Jumlah soal banyak, sehingga dapat mencakup semua isi mata pelajaran (representatif validitas isi baik);
Penilaiannya mudah dan obyektif;
Tidak ada kemungkinan bagi testi untuk me-ngemukakan hal-hal yang tidak relevan dengan pertanyaan;
Hasil tes dapat diinformasikan lebih cepat;
Reliabilitas skor tinggi; dan
Memungkinkan penyelenggaraan tes bersama pada wilayah yang luas (SPMB, UNAS, UAS, UUB dsb).
Kelemahan Tes Obyektif :
Tidak melatih testi untuk mengemukakan ide-idenya secara tertulis;
Kemungkinan menebak besar sekali, dan sulit dilacak;
Sulit untuk membuat soal yang baik, dan sering hanya mengukur kemampuan yang dangkal; dan
Banyak waktu yang tersita untuk membaca soal dan jawabannya.
Tes Bentuk Benar Salah
Nama lain dari tes ini adalah True-false Item atau True-false Test.
Tes berupa pernyataan (statement).
Tes menyediakan dua pilihan jawaban, yaitu Ya/Tidak atau Benar Salah. Model yang biasa digunakan adalah
Benar Salah atau B S.
Siswa hanya diminta menandai masing-masing pernyataan dengan melingkari huruf B jika per-nyataan tersebut
Benar, dan S jika pernyataan-nya Salah.

Tes Bentuk Jawaban Singkat


Tes bentuk jawaban singkat dan tes bentuk isian (melengkapi) keduanya merupakan bentuk tes yang dapat
dijawab dengan satu kata, satu bagian kalimat, angka atau simbol.
Perbedaan keduanya terletak pada cara menyajikan masalah atau persoalannya. Soal tes jawaban singkat disajikan
dengan kalimat tanya, sedangkan soal tes bentuk isian (melengkapi) disajikan dengan kalimat yang tidak lengkap.
Contoh:
Jawaban Singkat
: Siapakah nama penemu listrik ?
Isian
: Nama penemu listrik adalah .....
Tes Bentuk Menjodohkan
Pada dasarnya, tes bentuk menjodohkan adalah hampir sama dengan pilihan ganda, di mana peserta tes diminta
untuk menjodohkan sebuah butir soal di salah satu kolom dengan salah satu pilihan jawaban yang benar yang
terdapat pada kolom lainnya.
Dengan demikian, tes bentuk menjodohkan terdiri atas dua bagian, yaitu kolom pertanyaan (premis) yang
biasanya diletakkan pada kolom bagian kiri, dan kolom jawaban (respon), yang berada pada kolom bagian kanan.
Tes Bentuk Pilihan Ganda
Butir soal tes bentuk pilihan ganda ini merupakan salah satu bentuk tes obyektif yang paling luwes dan banyak
dikembangkan akhir-akhir ini, karena dapat digunakan untuk mengukur berbagai tataran pengetahuan dari yang
sederhana sampai yang kompleks.
Tes pilihan ganda terdiri atas bagian pokok soal/ pertanyaan yang disebut STEM, dan bagian alternatif jawaban
yang disebut OPTIONS. Opsi jawaban, terdiri atas: satu jawaban BENAR, yaitu kunci jawaban, dan beberapa
alternatif jawaban yang disebut pengecoh (distraktor).
PEMILIHAN JENIS TES
Sesuaikan dengan kompetensi yg akan diukur
Maksimalkan keunggulan tes yg dipilih dan minimalkan kelemahannya
Pertimbangkan jumlah peserta tes
Pertimbangkan jumlah (ruang lingkup) materi yg akan diteskan.
Tulis berdasarkan kaidah penulisan tes yg benar
Langkah Pengembangan Tes
1. Mengkaji kompetensi dasar & indikator
2. Menentukan bentuk tes yg akan digunakan
3. Membuat spesifikasi (kisi-kisi) tes
4. Menulis butir-butir tes (berdasarkan kaidah penyusunan butir tes)
5. Menelaah soal (mereview kembali soal-soal yang telah disusun)
6. Menguji-cobakan tes utk memperoleh dukungan empiris.
7. Menganalisis butir soal (untuk soal tertulis)
8. Memperbaiki tes, berdasarkan hasil analisis butir.
9. Merakit tes.
10. Menyiapkan perangkat pendukung tes: buku soal, lembar jawaban tes, kunci jawaban tes, pedoman skoring.
11. Menyelenggarakan tes.
12. Menafsirkan hasil tes.
Dasar Penyusunan Kisi-kisi:
Urgensi SK-KD materi penting yg harus dikuasai siswa
Kontinuitas SK/KD lanjutan/pendalaman materi sebelumnya
Relevansi sering dibutuhkan untuk me-nunjang SK/KD lain
Keterpakaian memiliki nilai terapan tinggi
LANGKAH PRAKTIS PENYUSUNAN KISI-KISI
Tentukan kompetensi dan indikator yang akan diukur ketercapaiannya
Tentukan pokok bahasan dan sub-pokok bahasan yang relevan dengan kompetensi dan indikator
Tentukan jumlah butir soal yang akan dibuat, sesuaikan dengan waktu ujian
Sebarkan butir soal ke dalam pokok bahasan dan sub-pokok bahasan sesuai dengan tingkat kepentingannya.
FORMAT KISI-KISI SOAL
Nama Mata Pelajaran :
Jenis Tes
: Uraian / Obyektif *)
Lama Ujian
:
Jumlah Soal
:

KAIDAH PENULISAN TES URAIAN


Tuliskan tes uraian berdasarkan kisi-kisi
Pilih tes uraian terbatas
Gunakan kalimat tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian.
Kembangkan soal dari suatu kasus
Gunakan kata-kata spt: jelaskan, bandingkan, simpulkan, analisislah dsb, hindarkan kata perintah sebutkan!
Rumuskan pertanyaan dengan jelas
Hindari pertanyaan pilihan
Buatlah pedoman penskorannya (scoring).
Sesuaikan tingkat kesulitan materi yang ditanyakan dengan tingkat berpikir peserta didik
Berikan petunjuk yang jelas mengenai cara mengerja-kan/cara menjawab soal.
Rumuskan kalimat soal komunikatif (mudah dipahami peserta tes).
Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Hindari penggunaan kata/ungkapan yang menimbul-kan penafsiran ganda atau salah pengertian.
Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/ tabu.
Tes Bentuk Pilihan Ganda
Pokok soal hendaknya jangan menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Pilihan jawaban harus homogen dan atau logis ditinjau dari segi materi.
Panjang rumusan pilihan jawaban hendaknya relatif sama.
Pilihan jawaban hendaknya jangan menggunakan pernyataan yang berbunyi semua pilihan jawaban di atas salah atau
semua jawaban di atas benar.
Pokok soal hendaknya jangan menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Pilihan jawaban harus homogen dan atau logis ditinjau dari segi materi.
Panjang rumusan pilihan jawaban hendaknya relatif sama.
Pilihan jawaban hendaknya jangan menggunakan pernyataan yang berbunyi semua pilihan jawaban di atas salah atau
semua jawaban di atas benar.

Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya.
Penyertaan gambar/grafik/tabel/diagram harus jelas dan berfungsi.
Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau paling benar.
Butir soal hendaknya jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
Penempatan alternatif jawaban yang benar hendaknya tidak mengikuti pola sistematis.
Taksonomi Bloom dlm Aspek Kognitif
Taksonomi Bloom dalam ranah kognitif mengklasifikasi-kan hasil belajar dalam ranah kognitif ke dalam enam tataran perilaku yang
menunjukkan tingkatan berpikir, yaitu:
Pengetahuan (knowledge)
Pemahaman (comprehension)
Aplikasi (application)
Analisis (analysis)
Sintesis (Synthesis)
Evaluasi (evaluation)
Pengetahuan (C-1):
Mencakup kemampuan dalam mengingat kembali: istilah, fakta-fakta, metode, prosedur, proses, prinsip-prinsip, pola,
struktur atau susunan.
Pemahaman (C-2):
Menyangkut kemampuan seseorang dalam: menafsirkan suatu informasi, menentukan implikasi-implikasi, akibat-akibat
maupun pengaruh-pengaruh.
Aplikasi (C-3):
Merupakan kemampuan menerapkan abstraksi-abstraksi: hukum, aturan, metoda, prosedur, prinsip, teori yang bersifat umum
dalam situasi yang khusus.
Analisis (C-4)
Kemampuan menguraikan informasi ke dalam bagian-bagian, unsur-unsur, sehingga jelas: urutan ide-idenya, hubungan dan
interaksi diantara bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut,
Sintesis (C-5)
Kemampuan menyusun/memadukan bagian-bagian, unsur-unsur, menjadi struktur atau pola yang baru, yang sebelumnya
tidak ada.
Evaluasi (C-6)
Kemampuan untuk menilai ketepatan: teori, prinsip, metoda, prosedur untuk menyelesai-kan masalah tertentu.
CONTOH PENGGUNAAN:
Pengetahuan tentang Istilah:
Manakah diantara istilah-istilah berikut yang memiliki makna yang sama dengan kata reliabel?
a. konsisten
c. sahih
b. tepat
d. obyektif
Pengetahuan tentang fakta-fakta:
Lima Negara di Asia Tenggara yang pertama kali tergabung ke dalam Asean adalah
A. Indonesia, Burma, Filipina, Muangthai, Singapura
B. Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Muangthai

C. Filipina, Indonesia, Burma, India, Muangthai


D. Singapura, Filipina, Malaysia, Burma, Muangthai
Pengetahuan tentang metode dan prosedur
Dalam melaksanakan penelitian ilmiah, maka langkah yang pertama-tama harus dilakukan
adalah .
A. mengumpulkan data
B. merumuskan hipotesis
C. merancang pelaksanaan eksperimen
D. menyiapkan bahan dan alat penelitian
Kemampuan memahami hubungan antara dua hal atau lebih:
Jumlah karbon monoksida akan meningkat apabila bahan bakar dibakar pada ruang yang terbatas oksigennya, sebab:
A. karbon bereaksi dengan karbon monoksida
B. karbon bereaksi dengan karbon dioksida
C. karbon monoksida merupakan agen reduksi yang efektif
D. terjadi oksidasi yang lebih besar
Kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip:
Hukum Pascal merupakan prinsip kerja dari.
A. kipas angin
B. rem hidrolis
C. pengumpil
D. penyemprot
Kemampuan menentukan implikasi-implikasi
Mengapa dalam aquarium diperlukan penerangan yang cukup ?
A. Untuk melihat makanan, ikan membutuhkan cahaya
B. Ikan mengambil oksigen di dalam kegelapan
C. Di kegelapan, tumbuhan akan mengeluarkan karbon dioksida
D. Di dalam kegelapan, tumbuhan tumbuh terlalu cepat
Kemampuan mensintesis/ menyimpulkan

A. Kebanyakan mahasiswa di semester-semester awal tidak mempunyai masalah


B. Kebanyakan mahasiswa di semester-semester akhir mempunyai lebih sedikit masalah dibanding mahasiswa semester-semester awal
C. Setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkonsultasi dengan konselor
D. Mahasiswa di semester-semester akhir mempunyai hak yang lebih besar untuk berkonsultasi dengan konselor
Kemampuan membuat sintesis/ simpulan
Berbagai usaha pemerintah untuk: (1) menaikkan tingkatkemakmuran di pedesaan dengan berbagai bantuan presiden, intensifikasi
pertanian dan peternakan; (2) menurunkan tingkat kelahiran dengan KB di pedesaan;dan (3) mengglakkan industri rakyat di pedesaan,
dimaksudkan agar.
A. Mengurangi arus urbanisasi
B. Menurunkan angka kejahatan di pedesaan
C. Meningkatkan pertambahan penduduk di kota
D. Meningkatkan industri padat modal di kota-kota
Kemampuan mengevaluasi (Pilihan Berganda)
Untuk soal-soal berikut ini, pilihlah:
A, jika jawaban (1), (2) dan (3) benar
B, jika jawaban (1) dan (3) benar
C, jika jawaban (2) dan (4) benar
D, jika jawaban (4) saja yang benar
E, jika semua jawaban benar
ANALISIS BUTIR SOAL :
Sebelum soal diujikan (Analisis rasional):
1. aspek materi,
2. konstruksi
3. kebahasaannya.
Setelah Soal Diujikan (Analisis Empiris):
1. Indeks kesukaran butir
2. Daya pembeda atau indeks diskriminasi butir
3. Korelasi skor butir dengan skor total tes
4. Analisis fungsi distractor

TELAAH SOAL URAIAN


Kesesuaian tes uraian dengan kisi-kisi
Soal tes uraian terbatas
Menggunakan kalimat tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian.
Soal dikembangkan dari suatu kasus
Menggunakan kata-kata spt: jelaskan, bandingkan, simpulkan, analisislah dsb,
Rumusan pertanyaan dirumuskan secara jelas
Tidak menggunakan pertanyaan pilihan
Telah dibuat pedoman penskorannya (scoring).
Tingkat kesulitan materi yang ditanyakan sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik
Telah diberikan petunjuk yang jelas mengenai cara mengerjakan/cara menjawab soal.
Rumusan kalimat soal komunikatif (mudah dipahami peserta tes).
Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbul-kan penafsiran ganda atau salah pengertian.
Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/ tabu.

Telaah dari Segi Materi


Butir soal sudah sesuai dengan indikator
Hanya ada satu jawaban benar.
Penggunaan istilah dari segi keilmuan sudah benar.
Pengecoh benar-benar berfungsi.
Pengecoh benar-benar homogen dari segi materi keilmuan.
Telaah dari Segi Konstruksi
Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban kunci.
Penyertaan grafik, gambar ataupun tabel pada soal benar-benar berfungsi.
Tidak menggunakan kata negatif ganda
Panjang alternatif pilihan jawaban relatif sama.
Untuk soal hitungan, jawaban sudah diurutkan berdasarkan nilainya.
Tidak menggunakan alternatif jawaban tidak ada jawaban yang benar atau semua benar.
Pengecoh benar-benar masuk akal dan tidak terlalu kentara kesalahannya.
Pengecoh tidak menggiring ke arah jawaban kunci.
Telaah dari Segi Bahasa
Tidak menggunakan kata-kata atau istilah yang mendua-arti.
Kalimat lugas (kalimat efisien)
Kalimat informatif / komunikatif (menurut pemahaman testi).
Memperhatikan persyaratan ejaan yang disempurnakan.
Menggunakan istilah baku (bebas dari istilah lokal).
Telaah Butir Soal Pilihan Ganda:

Indeks Kesukaran Butir :


Indeks kesukaran butir adalah proporsi dari peserta tes yang menjawab benar pada butir tersebut terhadap jumlah testi
(peserta tes) secara keseluruhan.
Jml Peserta Tes yg menjawab benar
Indeks Kesukaran = -------------------------------------------Jml Peserta Tes Keseluruhan
Jika semua testi dapat menjawab dengan benar pada butir tsb, maka indeks kesukaran butir tsb adalah 1,00. Sedangkan jika
semua testi menjawab salah pada butir tsb, maka indeks kesukaran butirnya adalah 0,00.
Kriteria Indeks Kesukaran Butir:

Indeks Daya Beda :


Indeks diskriminasi atau daya pembeda butir adalah kemampuan butir tersebut dalam membedakan antara peserta tes yang
berkemampuan tinggi dan yg berkemampuan rendah.
nT
nR
D = ------ - ------NT
NR
Klasifikasi Indeks Daya Beda:

Analisis Fungsi Distraktor :


Tujuan dari analisis keberfungsian distraktor (pengecoh) adalah
untuk mengetahui:
Berapa banyak subyek yang memilih jawaban kunci (subyek yang jawabannya benar)
Distraktor atau pengecoh mana yang bagi sebagian besar subyek terlalu menyokong kesalahannya, sehingga tidak ada
subyek yang memilih jawaban yang benar.
Distraktor mana yang merupakan distraktor yang menyesatkan.
Distraktor mana yang mempunyai daya tarik bagi subyek yang kurang pandai, dan tidak atau kurang mempunyai daya tarik
bagi subyek yang pandai.
Kriteria Distraktor Fungsional:
Dipilih oleh minimal 5% dari peserta tes, artinya bahwa distraktor yang dibuat tersebut mengundang respon atau
menggiurkan bagi testi.
Mempunyai daya tarik bagi subyek yang kurang pandai, dan tidak atau kurang mempunyai daya tarik bagi subyek yang
pandai.
Tidak bersifat menyesatkan, baik bagi kelompok bawah dan terlebih lagi bagi kelompok atas. Artinya bahwa jumlah pemilih
pada masing-masing distraktor hendaknya tidak melebihi jumlah pemilih pada jawaban kunci (terutama bagi kelompok atas).
Masing-masing distraktor hendaknya mengandung daya tarik (response-elicitation) yang kurang lebih seimbang.