Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

LAPORAN KASUS
CORPUS ALIENUM
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Diajukan Kepada :
Pembimbing : Dr. Retno Wahyuningsih, Sp M
Disusun Oleh :
Optie Ardha Berliana

H2A010039

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Mata


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa
1

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT MATA

Presentasi kasus dengan judul :


CORPUS ALIENUM
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa
Disusun Oleh:
Optie Ardha Berliana

H2A010039

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Nama pembimbing

Tanda Tangan

Dr. Retno W, Sp M

.............................

Tanggal

.............................

Mengesahkan:
Koordinator Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata

Dr. Retno Wahyuningsih, Sp M

BAB I
STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.K

Usia

: 26 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Karanganyar RT 2 RW 5 Tambakboyo

Pekerjaan

: Pekerja bangunan

Pendidikan tertinggi

: SMA

No. RM

: 069854

Tanggal masuk RS

: 1 Desember 2014

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 1 Desember 2014
jam 10.00 WIB di Poli mata RSUD Ambarawa.
Keluhan Utama
Mata merah
Perjalanan Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli dengan keluhan mata kanan merah yang
dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Mata merah timbul secara tiba-tiba setelah
pasien memotong kayu dan mata kanan pasien terkena serpihan kayu. Mata
merah dirasakan semakin lama semakin berat dan terus menerus sepanjang hari
3

disertai nyeri sehingga aktivitas pasien terganggu. Untuk mengurangi keluhan


pasien memeriksakan diri ke puskesmas hari sabtu dan diberi tetes mata dan
pasien lupa nama obat tersebur tetapi keluhan tidak berkurang. Pasien
merasakan nrocos, silau, cekot-cekot seperti ada yang mengganjal di mata
kanan, dan pasien merasakan pandangan kabur secara perlahan-lahan di mata
kanan
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Lain / Sebelumnya : pasien tidak pernah merasakan
keluhan yang sama sebelumnya. Pasien menyangkal adanya darah tinggi,
kencing manis, alergi obat, jatuh yang menyebabkan mata pasien terbentur,
dan riwayat operasi mata sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada anggota keluarga yang
mengalami keluhan yang sama, riwayat darah tinggi dan kencing manis
disangkal.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai pekerja bangunan. Biaya ditanggung pribadi. Kesan
social ekonomi cukup.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 1 Desember 2014 jam 10.10 WIB di
poli mata RSUD Ambarawa.
Status Generalis
Keadaan Umum

: tampak kesakitan

Kesadaran

: compos mentis

Tensi

: 110 /70 mmHg

Nadi

: 85 x/menit, regular, isi dan tegangan cukup

Nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 370 C (axiller)

Kulit

: warna kulit sawo matang

Kepala

: mesosefal

Jantung

: tidak ada kelainan

Paru

: tidak ada kelainan

Hati

: tidak ada kelainan

Limpa

: tidak ada kelainan

Limfe

: tidak ada pembesaran

Ekstremitas

: tidak ada kelainan

Status Oftalmologi

Oculi Dekstra

Pemeriksaan

6/12

Visus

Oculi Sinistra
6/6

Tidak dilakukan

Koreksi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sensus Coloris

Tidak dilakukan

Gerak bola mata bebas di


segala

arah,

Parese/ Paralysis

ortophori,

segala

eksoftalmos (-)

mata

rontok

arah,

ortophori,

eksoftalmos (-)

Trikiasis (-), distikiasis (-),


bulu

Gerak bola mata bebas di

Supercilia

(-),

bulu

krusta (-)
Hiperemis (-), spasme (-),

Trikiasis (-), distikiasis (-),


mata

rontok

(-),

krusta (-)
Palpebra Superior

Hiperemis (-), spasme (-),

ptosis (-), belvenomen (+),

ptosis (-), belvenomen (+),

nyeri tekan (+), massa (-),

nyeri tekan (-), massa (-),

udem (-), entropion (-),

udem (-), entropion (-),

ektropion (-)

ektropion (-)

Hiperemis (-), spasme (-),

Palpebra Inferior

Hiperemis (-), spasme (-),

ptosis (-), belvenomen (+),

ptosis (-), belvenomen (+),

nyeri tekan (-), massa (-),

nyeri tekan (-), massa (-),

udem (-), entropion (-),

udem (-), entropion (-),

ektropion (-)

ektropion (-)

Hiperemis (+), corpal (-),

Conjunctiva Palpebra

secret (-), cobelstone (-),

Superior

Hiperemis (-), corpal (-),


secret (-), cobelstone (-)

corpal (+)
Hiperemis (+), corpal (-),
secret (-)
Hiperemis (+), corpal (-),

Conjunctiva Palpebra
Inferior
Conjunctiva Fornices

secret (-) mukopurulent,

Hiperemis (-), corpal (-),


secret (-)
Hiperemis (-), corpal (-),
secret (-), cobelstone (-)

cobelstone (-)

Injeksi

konjungtiva

(+),

Conjunctiva Bulbi

Injeksi (-), hiperemis (-),

hiperemis (+), corpal (-),

corpal (-), pterygeum (-),

pterygeum (-), simblefaron

simblefaron (-), secret (-)

(-), secret (-) mukopurulen


Ikterik (-), hiperemis (+)

Sclera

Ikterik (-), hiperemis (-)

Jernih

Cornea

Jernih

(+),

defek(-),

(+),

defek

(-),

neovaskularisasi (-), udem

neovaskularisasi (-), udem

(-)

(-)

Keruh, tyndal efek (-),

Camera Oculi Anterior

Jernih,

tndal

efek

(-),

kedalaman cukup, hifema

kedalaman cukup, hifema

(-), hipopion (-)

(-), hipopion (-)

Coklat,

kripte

tremulan

(+),

Iris

(-),

central,

kripte

tremulan

neovaskularisasi (-)
Bulat,

Coklat,

(+),
(-),

neovaskularisasi (-)
regular,

Pupil

Bulat,

central,

regular,

diameter 3 mm, reflek

diameter 3 mm, reflek

cahaya (N +)

cahaya (N +)

Jernih

Lensa

Jernih

Tidak dilakukan

Fundus Reflek

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Corpus Vitreum

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tensio Oculi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

System Canalis

Tidak dilakukan

Lacrimalis
Tidak dilakukan

Tes Fluorescein

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Funduscopy

Tidak dilakukan

IV. RESUME
Laki-laki 26 tahun datang dengan keluhan mata merah pada okuli dekstra,
disertai nyeri, dan fotofobia sejak 3 hari yang lalu. Terdapat corpus alienum pada
konjungtiva palpebra superior dektra. 2 hari yang lalu pandangan pasien kabur
pada okuli dekstra. Riwayat sosial ekonomi pasien kesan cukup.
Status Oftalmologi

Oculi Dekstra

Oculi Sinistra

Visus

6/12

6/6

Conjunctiva

palpebra Hiperemis

(+),secret

(-) Hiperemis (-), secret (-)

palpebra Hiperemis (+), secret (-)

Hiperemis (-), secret (-)

Superior

Corpal (+)

Conjunctiva
Inferior

Conjunctiva fornices

Hiperemis

(+),

secret

(+) Hiperemis (-), secret (-)

mukopurulen
Conjunctiva bulbi

Injeksi

konjungtiva

(+), Injeksi (-), hiperemis (-)

hiperemis (+)
Sclera

V.

Hiperemis (+)

DIAGNOSIS
Corpus Alienum konjungtiva palpebra superior OD

VI.

INISIAL PLAN
1. Corpus Alienum

Terapi
-

Ekstraksi Corpal

Tobroson eyedrops 4 dd gtt 1 OD

Hiperemis (-)

Edukasi
-

Menjelaskan

ke

pasien

mengenai

Corpus

alienum

komplikasinya

VII.

Meneteskan tetes mata 4 kali dalam sehari pada mata kanan

Tidak mengucek mata

Menggunakan kacamata atau Google saat bekerja

Kontrol kembali saat obat sudah habis

PROGNOSIS

Qua ad visam : ad bonam

Qua ad sanam : ad bonam

Qua ad vitam : ad bonam

Qua ad cosmeticam : ad bonam

serta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. ANATOMI PALPEBRA
Struktur mata yang berfungsi sebagai proteksi lini pertama adalah palpebra.
Kelopak mata atau palpebra superior dan inferior merupakan modifikasi lapisan
kulit yang dapat menutup yang berguna untuk melindungi bola mata bagian anterior
terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola mata. Palpebra atau kelopak
mata mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi
kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan komea. Kelopak mata
mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang
ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.1,2
Pembasahan dan pelicinan seluruh permukaan bola mata terjadi karena
pemerataan air mata dan sekresi berbagai kelenjar sebagai akibat gerakan buka tutup
kelopak mata. Kedipan kelopak mata dapat membantu menyebarkan lapisan tipis air
mata sekaligus menyingkirkan debu yang masuk, melindungi kornea dan
konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata, palpebra
inferior menyatu dengan pipi. Gangguan penutupan kelopak akan mengakibatkan
keringnya permukaan mata sehingga terjadi keratitis et lagoftalmos.2,3

10

Gambar. Struktur Palpebra

Kelopak mata (palpebra) terdiri dari 5 bidang jaringan yang utama. Dari
superfisial ke dalam terdapat lapisan kulit, otot rangka (orbicularis oculi), jaringan
areolar, jaringan fibrosa (lempeng tarsus), dan lapisan membran mukosa
(konjungtiva palpebralis).
a. Lapisan Kulit
Kulit palpebra berbeda dengan kulit di kebanyakan bagian tubuh lainnya
karena tipis, longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut serta tanpa
lemak subkutan.
b. Musculus Orbicularis Oculi
Fungsi musculus orbicularis oculi adalah menutup palpebra. Serat-serat
ototnya mengelilingi fissura palpebrae secara konsentris dan menyebar dalam
jarak pendek mengelilingi tepi orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi.
Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai pratarsal; bagian
11

di atas septum orbitale adalah bagian praseptal. Segmen di luar palpebra


disebut bagian orbita. Orbicularis oculi dipersarafi oleh nervus facialis.
c. Jaringan Areolar
Jaringan areolar submuskular yang terdapat di bawah musculus orbicularis
oculi berhubungan dengan lapisan subaponeurotik kulit kepala.
d. Tarsus
Struktur penyokong palpebra yang utama adalah lapisan jaringan fibrosa padat
yang bersama sedikit jaringan elastik disebut lempeng tarsus. Sudut lateral
dan medial serta juluran tarsus tertambat pada tepi orbita dengan adanya
ligamen palpebrae lateralis dan medialis. Lempeng tarsus superior dan inferior
juga tertambat pada tepi atas dan bawah orbita oleh fasia yang tipis dan padat.
Fasia tipis ini membentuk septum orbitale.
e. Konjungtiva Palpebra
Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebrae, yang melekat erat pada tarsus.2,3

Gambar. Potongan sagital palpebra superior

12

Tepian palpebra
Panjang tepian palpebra adalah 25-30 mm dan lebarnya 2 mm. Tepian ini
dipisahkan oleh garis kelabu (sambungan mukokutan) menjadi tepian anterior dan
posterior.
a. Tepian anterior
Bulu mata, muncul dari tepian palpebra dan tersusun tidak teratur.
Glandula Zeis, merupakan modifikasi kelenjar sebasea kecil, yang
bermuara ke folikel rambut pada dasar bulu mata.
Glandula Moll, merupakan modifikasi kelenjar keringat yang bermuara
membentuk barisan dekat bulu mata.
b. Tepian posterior
Tepian posterior berkontak langsung dengan bola mata, dan sepanjang tepian
ini terdapat muara-muara kecil kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi
(glandula Meibom atau tarsal).
c. Punctum palpebra
Pada ujung medial tepian posterior palpebra terdapat penonjolan kecil dengan
lubang kecil di pusat yang terlihat pada palpebra superior dan inferior.
Punctum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulusnya ke saccus lacrimalis.2
Retraktor Palpebrae
Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra, yang dibentuk oleh
kompleks muskulofasial, dengan komponen otot rangka dan polos, yang dikenal
sebagai kompleks levator di palpebra superior dan fasia kapsulopalpebra di palpebra
inferior. Di palpebra superior bagian otot rangkanya adalah levator palpebrae
superioris, dan otot polosnya adalah musculus Mller (tarsalis superior). Di
palpebra inferior, retraktor utamanya adalah musculus rectus inferior dan otot
polosnya musculus tarsalis inferior.

13

Komponen otot polos retraktor palpebrae dipersarafi oleh saraf simpatis


sedangkan levator dan musculus rectus inferior dipersarafi oleh nervus
oculomotorius.3
Persarafan
Persarafan sensoris palpebra berasal dari divisi pertama dan kedua nervus
trigeminus

(N.

V).

Nervus

lacrimalis,

subpraorbitalis,

supratrochlearis,

infratrochlearis, dan nasalia eksterna adalah cabang divis oftalika nervus kranial
kelima (nervus trigeminus). Nervus infraorbitalis, zygomaticofacialis, dan
zygomaticotemporalis merupakan cabang-cabang divisi maksilaris (kedua) nervus
trigeminus.
Serabut otot muskulus orbikularis okuli pada kedua palpebra dipersarafi
cabang zigomatikum dari nervus fasialis sedangkan muskulus levator palpebra dan
beberapa muskulus ekstraokuli dipersarafi oleh nervus okulomotoris. Otot polos
pada palpebra dan okuler diaktivasi oleh saraf simpatis. Oleh sebab itu, sekresi
adrenalin akibat rangsangan simpatis dapat menyebabkan kontraksi otot polos
tersebut.2
Pembuluh Darah Dan Limfe
Pasokan darah palpebra datang dari arteria lacrimalis dan ophthalmica melalui
cabang-cabang palpebra lateral dan medialnya. Drainase vena dari palpebra
mengalir ke dalam vena ophthalmica dan vena-vena yang membawa darah dari dahi
dan temporal.
Pembuluh limfe segmen lateral palpebra berjalan ke dalam kelenjar getah
bening preaurikular dan parotis. Pembuluh limfe dari sisi medial palpebra
mengalirkan isinya ke dalam kelenjar getah bening submandibular.3
Apparatus Lakrimalis
Aparatus lakrimalis dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem sekresi dan sistem
ekskresi air mata. Sistem sekresi air mata atu lakrimal terletak di daerah temporal
bola mata. Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakur
lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior.3
14

Gambar. Anatomi sistem lakrimalis

a) Sistem Sekresi Air Mata


Sistem produksi atau glandula lakrimal. Gladula lakrimal terletak di temporo
antero superior rongga orbita. Permukaan mata dijaga tetap lembab oleh kelenjar
lakrimalis. Sekresi basal air mata perhari diperkirakan berjumlah 0,75-1,1 gram dan
cenderung menurun seiring dengan pertambahan usia. Volume terbesar air mata
dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis pada
kuadran temporal di atas orbita. Kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari ini
terletak didalam palpebra superior. Setiap kelenjar ini dibagi oleh kornu lateral
aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus palpebra yang
lebih kecil. Setiap lobus memiliki saluran pembuangannya tersendiri yang terdiri
dari tiga sampai dua belas duktus yang bermuara di forniks konjungtiva superior.
Sekresi dari kelenjar ini dapat dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan
air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora). Persarafan pada
kelenjar utama berasal nukleus lakrimalis pons melalui nervus intermedius dan
menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus trigeminus.2,3

15

Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya sepersepuluh dari massa utama,


mempunya peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar
utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem saluran.
Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks superior. Sel
goblet uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan glikoprotein dalam
bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis di tepian palpebra
memberi substansi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah modifikasi kelenjar
keringat yang juga ikut membentuk film prekorneal.2,3
b) Sistem Ekskresi Air Mata
Sistem ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup mirip dengan risleting mulai di
lateral, menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke
dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra. Setiap kali mengedip, muskulus
orbicularis okuli akan menekan ampula sehingga memendekkan kanalikuli
horizontal. Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan
penguapannya, dan itulah sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi.
Bila memenuhi sakus konjungtiva, air mata akan masuk ke punkta sebagian karena
hisapan kapiler.
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pre-tarsal yang mengelilingi
ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Secara bersamaan, palpebra ditarik
ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis
berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif pada sakus.
Kerja pompa dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus, yang kemudian masuk
melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya.3

16

II.

FISIOLOGI MENGEDIP
Refleks Mengedip
Sentuhan halus pada kornea atau konjungtiva mengakibatkan kelopak mata

berkedip. Impuls aferen dari kornea atau konjungtiva berjalan melalui divisi
ophthalmica nervus trigeminus ke nucleus sensorius nervi trigemini. Neuron
internuncial menghubungkannya dengan nukleus motorik nervus facialis kedua sisi
melalui fasciculus longitudinalis medialis. Nervus facialis dan cabang-cabangnya
mempersarafi musculus orbicularis oculi yang menimbulkan gerakan menutup mata.
Pada beberapa penelitian telah dibuktikan adanya hubungan langsung antara
jumlah dopamine di korteks dengan mengedip spontan dimana pemberian agonis
dopamin

D1

menunjukkan

peningkatan

aktivitas

mengedip

sedangkan

penghambatannya menyebabkan penurunan refleks kedip mata.


Refleks kedip mata dapat disebabkan oleh hampir semua stimulus perifer,
namun dua refleks fungsional yang signifikan adalah :
1) Stimulasi terhadap nervus trigeminus di kornea, palpebra dan konjungtiva
yang disebut refleks kedip sensoris atau refleks kornea. Refleks ini
berlangsung cepat yaitu 0,1 detik.
2) Stimulus yang berupa cahaya yang menyilaukan yang disebut refleks kedip
optikus. Refleks ini lebih lambat dibandingkan refleks kornea.3

Gambar. Refleks mengedip

Ritme Normal Kedipan Mata


Pada keadaan terbangun, mata mengedip secara reguler dengan interval dua
sampai sepuluh detik dengan lama kedip selama 0,3-0,4 detik. Hal ini merupakan

17

suatu mekanisme untuk mempertahankan kontinuitas film prekorneal dengan cara


menyebabkan sekresi air mata ke kornea. Selain itu, mengedip dapat membersihkan
debris dari permukaan okuler. Sebagai tambahan, mengedip dapat mendistribusikan
musin yang dihasilkan sel goblet dan meningkatkan ketebalan lapisan lipid. Nilai
normal frekuensi mengedip rata-rata adalah 15-20 kali/menit.3

III. TRAUMA MATA


Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan
perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata. Perlukaan yang
ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan
kehilangan mata1,2.
Macam-macam bentuk trauma2 :
a. Fisik atau Mekanik

Trauma Tumpul, misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock,


membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel

Trauma Tajam, misalnya pisau dapur, gunting, garpu, bahkan peralatan


pertukangan

Trauma Peluru, merupakan kombinasi antara trauma tumpul dan trauma


tajam, terkadang peluru masih tertinggal didalam bola mata. Misalnya peluru
senapan angin, dan peluru karet

b. Khemis
-

Trauma Khemis basa, misalnya sabun cuci, sampo, bahan pembersih lantai,
kapur, lem (perekat)

cuka, bahan asam-asam dilaboratorium, gas airmata

c. Fisis
-

Trauma termal, misalnya panas api, listrik, sinar las, sinar matahari

Trauma bahan radioaktif, misalnya sinar radiasi bagi pekerja radiologi

18

Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya trauma2
a. Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai tertinggalnya
benda asing didalam mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat tidak
beracun dan beracun. Benda beracun contohnya logam besi, tembaga serta
bahan dari tumbuhan misalnya potongan kayu. Bahan tidak beracun seperti
pasir, kaca. Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan infeksi jika
tercemar oleh kuman.
b. Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan
penglihatan sementara sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata,
terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai terputusnya saraf penglihatan
sehingga menimbulkan kebutaan menetap.
c. Trauma Khemis asam umumnya memperlihatkan gejala lebih berat daripada
trauma khemis basa. Mata nampak merah, bengkak, keluar airmata berlebihan
dan penderita nampak sangat kesakitan, tetapi trauma basa akan berakibat
fatal karena dapat menghancurkan jaringan mata/ kornea secara perlahanlahan

IV. CORPUS ALIENUM


a. Definisi
Corpus alienum adalah benda asing, merupakan salah satu penyebab
terjadinya cedera mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat serius.
Apabila suatu corpus alienum masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi
reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata. Oleh
karena itu, perlu cepat mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di
dalam bola mata untuk kemudian mengeluarkannya2,4.

19

Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok,
yaitu4 :
1) Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga
2) Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian
3) Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan
tidak mengganggu fungsi mata. Contoh : emas, platina, batu, kaca, dan
porselin
4) Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi
jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng,
nikel, alumunium, tembaga
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari4 :
1) Besarnya corpus alienum,
2) Kecepatan masuknya,
3) Ada atau tidaknya proses infeksi,
4) Jenis bendanya.

b. Penyebab
Penyebab cedera mata pada pemukaan mata adalah4 :
1) Percikan kaca, besi, keramik
2) Partikel yang terbawa angin
3) Ranting pohon
4) Dan sebagainya
c.

Gambaran Klinik
Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing, fotofobia,
mata merah dan mata berair banyak. Dalam pemeriksaan oftalmologi,
ditemukan visus normal atau menurun, adanya injeksi konjungtiva atau injeksi
silar, terdapat benda asing pada bola mata, fluorescein (+)3,4.
20

d. Diagnosis
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan4 :
1) Anamnesis kejadian trauma
2) Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
3) Pemeriksaan dengan oftalmoskop
4) Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
5) Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita
e.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut
dari bola mata. Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva,
kornea maka dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal.
Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau
tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda bersifat magnetik,
maka dapat dikeluarkan dengan magnet portable. Kemudian diberi antibiotik
lokal, siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa steril dan diperban3.
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi
di limbus, melalui insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik
benda asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang
mengandung benda asing tersebut3.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan
dengan magnit sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik
dengan magnit, sesudah insisi pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat
dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier

untuk usia muda dan

ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua2,3.


Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan
dengan giant magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat
dilakukan dengan operasi vitrektomi3.

21

f.

Pencegahan
Pencegahan agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata, baik
dalam bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata
pelindung4.

g. Komplikasi
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman,
dan efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian
sentral dimana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat
mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum
yang mengenai kornea merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik maupun
perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup dalam2,3,4.
Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi
sekunder seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan
sikatrik pada media refraksi yang berarti, prognosis bagi pasien adalah baik2,3,4.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. 2008. Balai Penerbit FKUI Jakarta.
2. Anonim, 2008. Trauma Mata. Available on
http://www.rsmyap.com/component/option,com_frontpage/Itemid,1/
3. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum, Edisi 17. 2010. Widya Medika Jakarta.
4. Bashour M., 2008. Corneal Foreign Body. Available on
http://emedicine.medscape.com/ article/

23