Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH MKU KEWARGANEGARAAN

Moderasi Agama Islam di Indonesia pada Era Globalisasi


Dosen Pembimbing :
Kasim Sembiring SH., M.Si.

Disusun oleh :

Puspandaru Nur Iman Fadlil

FKG

(121610101079)

UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa,karena atas berkat dan rahmatNya lah,penulis mampu meyelesaikan
Makalah MKU yang berjudul Moderasi Agama Islam di Indonesia pada
Era Globalisasi dengan baik serta tepat waktu.
Makalah

ini

disusun

untuk

melengkapi

tugas

MKU

kewarganegaraan dengan didukung oleh referensi-referensi yang bisa


dipertanggungjawabkan.
Penulis menyusun makalah ini melalui berbagai tahap baik dari
pencarian bahan,pembahasan,belajar mandiri,dan lain-lain. Makalah ini
tidak mungkin terwujud tanpa ada kerjasama yang abaik diantara pihakpihak yang terlibat. Oleh karena itu,penulis menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Kasim

Sembiring

SH.,

M.Si.

selaku

Dosen

MKU

Kewarganegaraan
2. Teman-teman KWN 08
Semoga Makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya.Tiada gading yang tak retak,apabila ada yang kurang
sempurna dalam laporan ini,penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran pembaca guna perbaikan lebih lanjut pada masa yang akan datang.
Jember, 27 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Bab I : Pendahuluan

.................................................................

Bab II : Tinjuan Pustaka

.................................................................

Bab III : Pembahasan

.................................................................

14

Bab IV : Penutup

.................................................................

29

Daftar Pustaka

.................................................................

31

BAB I
Pendahuluan

Pasca serangan 9/11 terhadap World Trade Centre dan Pentagon


tahun 2001, serta aksi-aksi terorisme selanjutnya di Eropa, telah
memporak-porandakan sendi kehidupan banyak orang. Sebagian orang
menyebutnya sebagai ancaman Islam yang kini ada di dalam maupun di
luar negeri. Dampak serangan tersebut telah memunculkan beberapa
pertanyaan

terkait

agama

Islam

dan

Muslim.

Di Amerika dan sejumlah negara Eropa pada abad ke-21,


pertumbuhan terorisme global, kenaikan ekponensial anti-Amerika dan
anti-Barat secara umum diiringi politisi sayap kanan, pengamat politik,
tokoh media dan para pemuka agama, yang mengaitkan Islam arus utama
dengan terorisme. Mereka menambah amunisi bagi diskriminasi terhadap
Islam dan kaum Muslim. Akibatnya Islam semakin terpojok dengan klaim
penganut ajaran ektrimisme.[1]

Peristiwa 9/11 juga menimbulkan serangan teroris selanjutnya di


negera-negara Muslim dan di Madrid serta London. Citra negatif tersebut
1diperburuk dengan menguatnya Islomofobia yang hampir tumbuh secara
eksponensial. Islam dan Muslim dianggap bersalah sebelum terbukti
bersalah. Agama Islam lebih dianggap sebagai penyebab, ketimbang
konteks bagi radikalisme, ektrimisme dan terorisme.[2]

1. John L. Esposito, Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, terj, The
Future of Islam (Bandung: Mizan, 2010), 32
2. John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara! : Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat,
Kekerasan, HAM, Isu-Isu Kontemporer Lainnya, terj, Who Speaks for Islam? (Bandung: Mizan,2008), 174

Menurut jejak pendapat dari CNN, USA Today dan Gallup di


Amerika, warga Amerika menepis pandangan negatif dunia Muslim
terhadap Barat. Mayoritas mereka menyatakan bahwa Amerika telah
berbuat adil terhadap umat Islam, p2andangan tersebut lebih dikarenakan
pemberitaan atau informasi yang di sampaikan oleh pemerintah dan
media Islam sendiri tentang Amerika yang tidak akurat dan bukan juga
karena tindakan dan kebijakan Amerika terhadap dunia Islam.[3]

Salah satu isu dalam hubungan antara masyarakat Islam dan Barat
adalah dampak yang dirasakan dari sistem nilai Barat pada sistem nilai
lokal dalam masyarakat

yang didominasi Islam.

Hasil penelitian

menunjukkan bahwa di semua negara yang disurvei, responden melihat


nilai-nilai Barat memiliki efek negatif pada nilai-nilai lokal. Dalam empat
negara, Jordan, Pakistan, Arab Saudi, dan Lebanon, respon yang paling
umum tunggal untuk pertanyaan tentang "dampak budaya Barat" adalah
pilihan pada skala yang menunjukkan bahwa efek dari nilai Barat telah
"sangat negatif" pada sistem nilai masyarakat3 mereka.[4]

Keyakinan banyak orang Barat bahwa Muslim tidak terbuka


terhadap gagasan lain mungkin berasal dari pemikiran yang ramai
dipublikasikan

bahwa

anti-Amerikanisme

sama

dengan

kebencian

terhadap nilai-nilai dan budaya Barat. Akan tetapi respon kaum Muslim
terhadap banyak pertanyaan terbuka menunjukkan fakta berbeda. 32 %
warga Amerika menyatakan bahwa mereka tidak melihat satu pun yang
patut dikagumi dari seorang Muslim, persentase kaum Muslim yang
mengatakan bahwa tak ada yang mereka kagumi dari Barat, sangat

3. Lydia Saad, Americans Believe Muslim Antipathy Toward United States Based on Misinformation, di akses
dari http://www.gallup.com/poll/5434/Americans-Believe-Muslim-Antipathy-Toward-United-States-BasedMisinformation.aspx, 10- Desember- 2012
4. Gallup Poll, Poll of the Islamic World: Perceptions of Western Culture, di akses
darihttp://www.gallup.com/poll/5458/Poll-Islamic-World-Perceptions-Western-Culture.aspx, 11-Desember-2012

rendah (6,3% di Yordania, 10% di Arab Saudi dan 1% di Mesir).


Kebencian di kalangan Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara
sebagiannya berasal dari kenyataan bahwa meski mengagumi kemajuan
ilmiah dan teknologi Barat, serta Demokrasinya, sedikit yang percaya
Barat bersedia mengizinkan mereka mendapatkan manfaat yang sama.[5]
Sebuah artikel berjudul Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat,
keduanya tak akan pernah bertemu, yang ditulis oleh4 sastrawan terkenal
asal Inggris, Kipling (1865-1939), peraih Nobel tahun 1907, seakan
menjadi menjadi argumen penguat akan tesis Samuel Hutington yang
5dipublikasikan tahun 1993, tentang benturan peradaban. Yaitu, benturan
yang terjadi antara peradaban Barat di satu pihak dan peradaban Timur di
pihak lain, khususnya peradaban Islam.[6]

Perdebatan antara Islam dan Barat mengenai isu ekonomi, politik,


sosial dan budaya, masih menjadi perdebatan yang hangat hingga saat
ini. Saling klaim atas keberhasilan dan kegagalan masing-masing pihak
menjadi diskursus yang panjang dan melelahkan. Sehingga rentetan
peristiwa yang terjadi didalam Dunia Islam dan Barat merupakan indikasi
dari belum membaiknya hubungan antara Barat dan Islam.
Islam sebagai agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia dan
Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di
dunia,[7] memang seharusnya dapat memberikan sahamnya secara lebih
5. John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara!....., 179-180
6. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, terj, al-Islam fi> Ashr al-Aulamah, Abdullah
Hakam Syah (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), 35
7. Menurut hasil studi demografis yang dirilis oleh Forum Pew Research Center on Religion and Pulic Life
pada tahun 2012, menyebutkan jumlah penganut agama Islam berada pada posisi kedua, setelah Kristen, dengan angka 1,6
miliar umat Muslim (23%). Laporan tersebut mencatat Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di
dunia, yakni sebesar 209.120.000 Muslim atau 13,1% dari total penduduk Muslim dunia. Lihat, Riset Pew: Muslim
Indonesia Terbesar di Dunia, http://www.srie.org/2012/12/riset-pew-muslim-indonesia-terbesar-di.html, diakses pada 7Januari-201.

riil karena sebagaimana diungkapkan oleh Weber bahwa agama memiliki


kekuatan untuk membantu menyingkap makna dunia. Oleh karena itu,
dalam konteks Islam, diperlukan pemikiran dan pergerakan yang dimotori
oleh para intelektual aktivis Islam untuk meletakkan basis-basis kesadaran
baru bagi masyarakat agar mampu menjawab tantangan modernitas dan
globalisasi yang melingkupinya.[8]

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Globalisasi memaksa umat Islam mencari solusi alternatif untuk


mempertahankan ideologinya. Modernisasi tak dapat di elakkan dan umat
Islam Indonesia sebagai bagian dari peradaban dunia, harus mencari
metode yang solutif dalam menghadapi arus globalisasi. Islamophobia
pasca 9/11, merupakan moment yang tepat bagi Muslim Indonesia untuk
meletakkan

dasar

pemahaman

keagamaan

yang

moder6n,

demi

mengangkat kembali citra negatif terhadap Islam dan berbagai isu besar
yang kerap di justifikasi oleh Barat terhadap Islam, seperti isu demokrasi,
hak asasi manusia, ekonomi Islam dan lainnya. Konsep sekulerisasi
yang ditawarkan oleh Nurcholish Madjid merupakan salah satu ide
cemerlang, dalam membangun kemajuan Islam di masa depan.

Dinamika Peradaban Dunia Islam dan Barat

Peradaban merupakan entitas budaya. Desa-desa, wilayah-wilayah,


kelompok-kelompok etnis, bangsa, agama, semua memiliki budaya yang
berlainan. Peradaban adalah pengelompokan budaya tertinggi dari
sekelompok orang dan identitas budaya paling luas yang dimiliki oleh

[8] Syamsul Bakri dan Modhofir, Jombang-Kairo, Jombang-Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Caknur
dalam Pembaruan Islam Indonesia (Solo: Tiga Serangkai, 2004), 14

orang-orang

yang

membedakan

manusia

dari

makhluk

lain.

Ia

teridentifikasi baik lewat unsur-unsur objektif umum, seperti bahasa,


sejarah, agama, kebiasaan, institusi maupun melalui identifikasi diri yang
subjektif. [9]

Menurut
perjalanan

hipotesis

peradaban

deskriptif
dunia,

Samuel

garis

P.

pemisah

Hutington, dalam
antarperadaban

menggantikan batas-batas ideologi dan politik Perang Dingin sebagai


pemicu munculnya krisis dan pertumpahan darah. Perang Dingin mulai
ketika tirai besi memisahkan Eropa secara politis dan ideologis, sehingga
memunculkan pembagian budaya Eropa antara 7Kristen Barat di satu sisi
dan Kristen Ortodoks dan Islam di sisi lain muncul kembali.
Setelah perang dunia II, Barat justru mundur, kekaisaran kolonial hilang,
nasionalisme Arab awal dan kemudian fundamentalisme Islam muncul.
Barat mulai bergantung pada negara-negara Teluk Persia untuk sumber
energi, negara-negara Muslim kayapun berlimpah uang. Invansi dan
imprialisme negara-negara Eropa terhadap dunia Muslim terlihat ketika
Perancis menggelar perang yang amat berdarah dan kejam di Aljazair
sepanjang 1950-an, pasukan Inggris dan Perancis melakukan invasi ke
Mesir pada 1956, pasukan bersenjata Amerika memasuki Libanon pada
1958 dan kembali lagi ke Libanon, menyerang Libia, dan terlibat
pertempuran dengan Iran, kaum teroris Arab dan Islam. Perang antara
Arab dan Barat ini memuncuk pada 1990, ketika Amerika Serikat
mengirimkan pasukan dalam jumlah yang besar ke Teluk Persia untuk
membantu mempertahankan beberapa negara Arab dari agresi yang
dilancarkan oleh negara tetangganya.[10] Di dunia Arab, demokrasi yang
di anut dan di agung-agungkan oleh Barat ternyata memperkuat kekuatan

[9]Samuel P. Hutington, Tak Ada Jalan Keluar: Kesalahan-kesalahan Endisme, dalam Samuel P. Hutington
dkk, Amerika dan Dunia: Memperdebatkan Bentuk Baru Politik Internasional (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
2007), 55

politik anti Barat dan semakin memperumit hubungan antara negaranegara Islam dan Barat secara politis.

Sejak berakhirnya Perang Dingin tersebut pula, fundamentalis


agama Islam dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi
demokrasi liberal. Serangan al-Qaeda pada 11 September 2001
memberikan kesimpulan atas perdebatan yang mengemuka setelah
keruntuhan tembok Berlin mengenai ancaman baru bagi perdamaian dan
keamanan dunia. Media terkemuka seperti Economist, Atlantic Monthly,
Time dan Foreign Affairs, menampilkan beberapa pendapat politisi seperti
Jacques Chirac, Helmut Kohl, Daniel Quayle dan Yitzhak Rabin bahwa
mereka memperingatkan akan bahaya hijau akan menggantikan
ancaman merah komunisme sebagai tantangan bagi peradaban
Barat.[11]

Anggapan bahwa dunia Muslim dapat merangkul begitu banyak


perspektif yang berbeda menunjukkan betapa amat simplistik pandangan
yang menduga tak terelakkan perbenturan antara Islam dan Barat.
Pandangan ini, yang populer di kalangan mantan perwiran Perang Dingin
yang mencari musuh baru untuk membenarkan8 anggaran dan imperium
industri militer mereka yang besar, telah memperoleh dukungan akademik
dengan terbitnya artikel panjang, seperti tulisan Samuel P. Hutington
di Foreign Affairs tahun 1993. Pandangan ini menyalakan nyali atavistik di
seluruh Eropa Kristen, membangkitkan kenangan kuno tentang pasukan

[10] Samuel P. Hutingtong, dkk, Amerika dan Dunia...., 63-64


[11] Nader Hashemi, Islam, Sekularisme dan Demokrasi Liberal: Menuju Teori Demokrasi dalam Masyarakat
Muslim (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), 4
[12] Adam Lebor, Pergulatan Muslim di Barat: Antara Identitas dan Integrasi (Bandung: Mizan, 2009), 357358
[13] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), 20
[14]Murad Wilfred Hoffman, Jalan Menuju Mekah: Menelusuri Cahaya Keimanan, terj. Abdul Hayyie, dkk
(Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 224

Muslim mengepung Wina dan tentara Islam bergerak maju ke selatan


Italia menuju Roma. Muslim melawan argumen itu dengan Perang Salib
dan dominasi Barat atas negara-negara Muslim selama berabad-abad,
sebuah proses yang puncaknya pada Perang Teluk.[12]

Perang Salib selama dua abad merupakan salah satu tonggak


penting dalam proses interaksi dalam proses interaksi antara peradaban
Islam dengan Barat (Kristen). Dengan terjadinya perang itu mulai terjadi
kontak dagang, pertumbuhan Merkantilisme dan proses pertukaran
budaya, meski tidak seimbang antara kedua peradaban. Tidak seimbang
sebab Barat jauh lebih banyak belajar dan mengambil manfaat dari
interaksinya dengan Dunia Islam ketimbang sebaliknya.[13] Namun disisi
lain, Perang Salib mempertajam rasa takut dan jiwa permusuhan terhadap
Islam dan orang-orang Muslim. Perang Salib ini telah menyerang orangorang Eropa dengan guncangan ilmu pengetahuan yang hebat dan
dasyat, karena dengan terjadinya Perang Salib, bangsa Eropa meyakini
bahwa orang-orang yang mendiami tanah Syam (Muslim), merupakan
bangsa yang berperadaban besar dan maju, bahkan mereka mengungguli
peradaban Kristen-eropa dalam segala aspek dan segala bidang
kehidupan.[14]

Perdebatan intelektual sebelum peristiwa 11 September 2001,


seperti tesis Fukuyama tentang Akhir Sejarah, sebuah argumentasi
pertarungan antara Jihad vs McWorld, prediksi Robert Kaplan tentang
anarki yang akan datang, Samuel Hutington mengenai benturan antar
peradaban,[15] memperkuat argumentasi dan gagasan bahwa Islam dan
peradabannya tidak cocok dengan gagasan kebebasan, demokrasi, hak
asasi manusia, keadilan gender dan lainnya.

Perselisihan-perselisihan yang paling penting menurut Hutington,


akan terjadi sepanjang garis kebudayaan yang memisahkan Barat dari

10

peradaban-peradaban non-Barat. Ia memprediksi bahwa perang dunia


berikutnya adalah sebuah perang antar peradaban. Tesis tersebut juga
9diperkuat dengan fakta bahwa Amerika secara militer telah memerangi
yang mereka anggap teroris di bagian Iran dan bagian dunia Arab lainnya
dan mencapai puncaknya ketika Perang Teluk, antara Irak dengan Kuwait
dan Barat mendukung sepenuhnya keberpihakkan Arab Saudi. [16]

Pendapat yang senada dengan Hutington adalah sebuah artikel


yang diterbitkan oleh majalah Cross Currents edisi Vol.51, No.4 pada
tahun 2002, yang ditulis oleh Jack Miles,[17] dengan judul Theology and
The Clash of Civilizations. Dia berpendapat bahwa ada tiga mazhab
peradaban yang mempunyai kemungkinan berbenturan. Pertama, the
western civilization yang tentu saja diwakili oleh negara adikuasa Amerika.
Kedua, the eastern civilization yang personifikasikan dengan dua negara,

[15] Lihat, Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (New York:Free Press, 1992), 235-237,
Benjamin Barber, Jihad vs.McWorld: How Globalism and Tribalsm are Reshaping the World (New York: Ballentine
Books, 1996), 205-216, Robert Kaplan, The Coming Anarchy: Shatteting the Dreams of the Post Cold War (New York:
Vintage Books, 2000) 59-98, Samuel Hutington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (New York:
Simon and Schuster, 1996), 56-78, 207-218.
[16] Samuel P. Hutington, The Clash of Civilizations? Foreign Affairs (Summer 1993), 25-39

11

Jepang dan Cina.10 Ketiga,the Islamic Civilization yang disebut Jack


Miles dengan da>r al-Isla>m.[18]

Pada mazhab pertama dan kedua, benturan peradaban bisa


diminimalkan sampai titik terendah. Barat tidak akan berbenturan dengan
Timur yang diwakili oleh dua mainstreambesar, Jepang dan Cina.
kepentingan peradaban Jepang sudah terakomodasi dalam perjalanan
zaman dan Cina pun sudah menunjukkan indikasi tidak memunculkan
resistensi

terhadap western

civilization, dengan

indikasi

pengadaan

Olimpiade di Beijing. Satu-satunya kemungkinan terjadinya clash datang


dari perdabana Islam yang menurut Jack Miles disebut dengan peradaban
yang menggariskan garis berdarah yang panjang dalam peradaban dunia
dan inilah yang melahirkan peperangan antara komunitas Muslim dan non
Muslim, seperti konflik yang terjadi di Mindanao, yaitu Katolik Roma
dengan Muslim Mindanao, Katolik Roma dengan Muslim di Timor Leste
Indonesia, pengikut ajaran Confucius dan penganut Budha dengan
Muslim di Singapura dan Malaysia, Hindu dengan Muslim Kasmir dan
Minoritas Muslim di India, Katolik Ortodoks Rusia dengan Muslim di
Afganistan, katolik Ortodoks Rusia dengan Muslim di Chechnya, Katolik
Armenia dengan Muslim di Nagorno, Katolik Maronit dan Mekhit dengan
Muslim di Lebanon dan koflik lainnya.[19]

Para spesialis studi wilayah Timur Tengah, para sarjana ahli alQuran dan para pelajar hukum Islam telah memperdebatkan serangkaian
isu yang berkenaan dengan tesis benturan tersebut. Para kritikus
menentang gagasan tentang suatu budaya Islam yang tunggal dan

[17] Jack Miles seorang penasehat senior Presiden Amerika dari sebuah lembaga yang bernama Paul Getty
Trust. Dia juga seorang anggota Dewan Kebijakan Intenasional untuk Pasifik (Pasific Council on International Policy) dan
merupakan penulis ternama yang sudah mengeluarkan sebuah buku yang cukup menyita perhatian kaum Kristiani dengan
judul Christ: A Crisis in the Life God.
[18] Herry Nurdi, Lobi Zionis dan Rezim Bush (Jakarta: Hikmah, 2006), 272

12

menunjuk berbagai perbedaan subtansial yang ditemukan di antara


masyarakat Muslim di berbagai negara seperti, Pakistan, Yordania,
Azerbaijan, Indonesia, Bangladesh dan Turki. Terdapat pula perbedaan di
antara umat Islam yang radikal atau moderat, tradisional atau modern,
konservatif atau liberal, garis keras atau revisionis. Para pengamat
berpendapat bahwa terjadinya perbedaan di dalam dunia Islam tersebut
diakibatkan oleh tradisi sejarah dan warisan kolonial, perpecahan etnis,
tingkat

perkembangan

ekonomi

dan

peran

kekuasaan

kaum

fundamentalis keagamaan di negara-negara yang berbeda. Maka tidak


fair membandingkan Muslim yang ada di Jakarta, Riyadh dan Istanbul
dalam suatu kelompok budaya.[20]

Peristiwa 11 September 2001, menurut mereka disebabkan oleh


keyakinan-keyakinan ideologis ekstrem yang diyakini oleh kelompokkelompok al-Qaeda dan kalangan fundamentalis Taliban, bukan opini
publik Muslim pada umumnya. Seperti halnya merupa11kan kesalahan
jika memahami pengeboman Kota Oklahoma 1995 sebagai serangan
kolektif

terhadap

pemerintah

federal

yang

dilakukan

oleh

kaum

fundamentalis Kristen, bukan ulah dari individu-individu.

BAB III
PEMBAHASAN

Hubungan Dunia Muslim dan Barat

Maxime Rodinson, seorang cendikiawan Perancis menyatakan


bahwa umat Kristen di Barat mempersepsi dunia Muslim sebagai bahaya,
[19] Herry Nurdi, Lobi Zionis....., 273
[20] Pippa Norris dan Ronald Inglehart, Sekularisasi di Tinjau Kembali: Agama dan Politik, terj. A. Zaim Rofiqi
(Jakarta: Pustaka Alvabet, 2009), 167

13

jauh sebelum Islam dilihat sebagai masalah nyata. Sejahrawan Inggris


Albert Haourani senada dengan pernyataan Rodinson. Dia mengatakan
bahwa kemunculan Islam merupakan maslah bagi Eropa-Kristen. Bangsa
Kristen tdak menerima kenabian Muhammad dan wahyu yang diturunkan
kepadanya, Allah bukanlah Tuhan dan Islam hanya karangan orang-orang
yang berwatak dan berniat buruk dan didukung oleh kekuatan pedang.
Hubungan antara kaum Muslim dan Non Muslim Barat (Kristen Eropa)
adalah hubungan penuh dengan ketegangan, yang dimulai dengan
ekspansi militer-politik Islam klasik yang menimbulkan kerugian Kristen
dengan kulminasinya berupa pembebasan konstatinopel, kemudian
Perang Salib, lalu berbalik, berkembang dalam tatanan dunia yang
dikuasai oleh Barat imperalis-kolonialis atas Dunia Islam sebagai yang
paling dirugikan. Disebabkan oleh hubungan anatar Islam dan Barat yang
traumatik tersebut, maka diskursus Islam tentang negara berlangsung
dalam kepahitan menghadapi Barat sebagai musuh.[21]

Interaksi berabad-abad telah menoreh catatan buruk antara Islam


dan Barat yang beragama Kristen. mereka sama-sama mengklaim sebuah
misi dan pesan universal dan mewarisi bu12daya Yahudi-Kristen dan
Yunani-Romawi. Bandul hubungan Barat dan Muslim telah berayun di
antara rivalitas, konfrontasi dan kolaborasi, walaupun konflik yang timbul
dari faktor-faktor budaya, religius dan ideologis ini telah menjadi norma,
politik riil dan kepentingan antar negara juga membentuk hubungan antar
kedua peradaban.[22]

[21] Nurcholis Madjid, Agama dan Negara dalam Islam: Telaah atas Fikih Siyasi Sunni, dalam Budhy
Munawar-Rachman, ed, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995), 588

[22] Fawaz A.Gerges, Amerika dan Islam Politik: Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan?(Jakarta:
Alvabet, 2002), 47-48
[23] Fawaz A.Gerges, Amerika dan Islam Politik...., 48-49

14

Secara

historis,

kekuatan-kekuatan

Barat

merasa

nyaman

bersekutu dengan Muslim melawan sesama kekuatan Kristen. Sepanjang


abad ke-19, Perancis, Inggris dan Jerman bersatu dengan bangsa Muslim
Ottoman melawan musuh-musuh Eropa mereka. Lain halnya dengan
Amerika, yang tak terlibat dalam hubungan panjang dan berdarah dengan
negara-negara maupun masyarakat Muslim. Amerika tidak pernah secara
langsung menguasai tanah Arab dan Muslim ataupun membentuk sistem
rumit penjajahan yang dulakukan Eropa. Bahkan pada awal abad ke-20,
Amerika membuka hubungan yang santun dan dinamis dengan dunia
Arab dan Muslim.

Setelah menjadi negara adikuasa, Amerika lebih terhambat oleh


faktor-faktor kolonial, historis dan budaya dibanding dengan negaranegara Eropa. Kontrol politik dan ekonomi lebih mendorong washington
untuk mengambil kebijakan lebih dekat dengan Timur dekat. Ameria tidak
terganggu dengan munculnya komunitas imigran di negara mereka,
walaupun tantangan religius dan intelektual Islam terus mewarnai
imajinasi banyak warga amerika, lebih disebabkabkan dampak dari
pertahanan dan keamanan serta strategi dari politik massa islam, bukan
isu religius dan intelektual.[23]

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, di Barat mulai muncul


fenomena ke-Islaman yang sampai sekarang belum memperoleh
perhatian memadai dari institusi-institusi Islam, sekalipun dunia Barat
sendiri telah memperhatikannya secara serius. Fenomena ini terlihat dari
semakin meluasnya kawasan hunian Muslim si sepanjang negara-negara
Barat, dengan bertambahnya jumlah kaum Muslim di Eropa dan
Amerika.[24]

15

Kebanyakan kaum Muslimin yang menetap di negara-negara Barat


dewasa ini merupakan keturunan orang-orang Arab-Islam yang hijrah ke
sana setelah berakhirnya Perang Dunia ke dua, yang kemudian
memutuskan untuk terus tinggal di negara tersebut. Jumlah mereka
bertambah seiring dengan banyaknya peduduk pribumi (Barat) yang
memutuskan memeluk agama Islam.

Pada mulanya negara-negara Barat tak pernah memikirkan


kemungkinan keberadaan Islam di Barat. Setelah berakhirnya perang
dunia ke dua, negara-negara tersebut membutuhkan tenaga-tenaga kerja
untuk melakukan pembangunan kembali puing-puing yang diakibatkan
oleh perang, seperti negaraInggris, Perancis dan Jerman. Namun ketika
para urban ini semakin memperoleh posisi yang layak dinegara-negara
Barat, maka terjadilah gesekan antara masyarakat Barat dengan warga
urban Muslim. Misalnya persoalan yang berkaitan dengan pelestarian
identitas

ke-Islaman,

pengajaran

agama

Islam,

adaptasi

dengan

peradaban barat dan lainnya., sehingga menimbulkan kondisi yang tidak


nyaman,

perlakuan

diskriminatif,

tindakan

kesewenang-wenangan,

depresi sosial yang dialami warga Muslim secara diam-diam maupun


terang-terang13an.[25]

Pada saat ini, kebebasan Barat memungkinkan para pemuka


agama, intelektual dan aktivis Islam menjadi suara utama demi perubahan
religius, sosial dan politik. Tulisan dan khutbah banyak yang memuat

[24] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, terj, al-Isla>m fi> Ashr al-Aulamah, penj,
Abdullah Hakam Shah (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), 41
[25] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi....., 43-44
[26] Gallup Organization, Muslim Americans: A National Potrait, Muslim West Facts Project, 2009, 59. Lihat
http://www.muslimwestfacts.com/mwf/116074/Muslim-Americans-National-Portrait.aspx
[27] Azyumardi Azra, Jejak-Jejak Jaringan Kaum Muslim dari Australia hingga Timur Tengah(Jakarta:
Hikmah, 2007), 117

16

tentang pentingnya penafsiran ulang dan pembaruan, dengan memberi


penghargaan terhadap hak dan peran kaum perempuan, pluralisme dan
toleransi beragama, walaupun sebagian ulama menurut Ingrid Mattson
belum bisa memberi solusi terhadap semua perubahan.[26]

Sebuah survey yang dilakukan Pew Research Institute yang direlease belum lama ini, melibatkan 14.030 orang (Muslim dan Non
Muslim) dilaksanakan di 15 negara; Amerika Serikat, China, Inggris, India,
Indonesia, Jepang, Jerman, Mesir, Nigeria, Pakistan, Perancis, Rusia,
Spanyol, Turki dan Yordania, menghasilkan beberapa temuan yang
menggambarkan bahwa hubungan antara Muslim dan Barat belum
menunjukkan perbaikan yang berarti, yang ditandai dengan mispersepsi,
prasangka timbal balik. Hubungan kedua belah pihak tetap buruk (bad)
tetapi jelas tidak kian memburuk (worse), karena tidak ada peristiwa
internasional luar biasa dalam setahun terakhir yang menyebabkan
terjadinya peningkatan permusuhan di antara kedua belah pihak.[27]

Pada level pertama, survey tersebut menyimpulkan, orang-orang


Barat dan Muslim umumnya memiliki pandangan yang bertolak belakang
tentang peristowa-peristiwa besar pada tingkat internasional. Kedua belah
pihak umumnya menganggap satu sama lain suka pada kekerasan, tidak
toleran dan kurang menghargai perempuan. Kaum Muslim di Timur
Tengah dan Asia menganggap orang-orang Barat sebagai immoral dan
mementingkan diri sendiri (selfish), sementara orang-orang Barat
menganggap

kaum Muslim fanatik.

Beberapa

temuan poko

lain

adalah; pertama, sentimen anti-yahudi tetap tinggi di negara-negara


Muslim dan di kalangan kaum Muslim di Jerman, Inggris dan Spanyol.
Tetapi 71% kaum Muslim Perancis memiliki pandangan positif terhadap
Yahudi. Kedua, mayoritas Muslim menyatakan, kemengan Hamas di
Palestina membantu penyelesaian yang adil antara Israel dan Palestina.
Pendapat ini secara solid ditolak orang-orang Barat. Ketiga, mayoritas

17

Muslim dalam kasus kontroversi kartun Nabi Muhammad belum lama ini
memandang Barat tidak menghargai Islam. Sedangkan pihak Barat
menganggap

hal

itu

sebagai

bukti

sikap

tidak

toleran

kaum

Muslim. Keempat, orang-orang Spanyol dan Jerman, memiliki sikap


antagonis lebih besar terhadap kaum Muslim. Sebaliknya mayoritas orang
Inggris dan Perancis memiliki pandangan lebih positif terhadap kaum
Muslim. Kelima, kaum Muslim Eropa lebih cenderung memiliki pandangan
positif terhadap orang-orang Eropa dan mereka juga cenderung melihat
bahwa ketegangan antara Dunia Muslim dan Barat bukanlah benturan
peradaban (clash of civilizations).[28]14

Muslim di Era Globalisasi

Sebagian

umat

Islam

mengalami

kekhawatiran

ketika

membicarakan wacana globalisasi. Globalisasi bagi sebagian umat Islam


dianggap sebagai faktor yang dapat menghancurkan nilai-nilai luhur
agama dan identitas umat Islam dari pengaruh negatif berbagai pemikiran
dan aliran baru, baik di bidang ekonomi, politik dan lain-lain, yang berasal
[28] Azyumardi Azra, Jejak-Jejak Jaringan Kaum Muslim......, 118-119

18

dari Timur maupun dari Barat. Namun, pada saat yang sama sebagian
umat Islam juga cenderung menerima apa yang datang dari Timur
maupun Barat tanpa melakukan reserve. mereka menganggap bahwa apa
yang datang dari negara-negara maju dapat menjamin terselenggaranya
kemajuan dan perkembangan.[29] Kedua kelompok tersebut sering
terlibat dalam debat dan perselisihan panjang yang kadang menghabiskan
waktu dan energi. Seperti, perdebatan mengenai sikap terhadap
peradaban Barat atau sikap orientalisme di Barat, globalisasi saat ini dan
isu kontemporer lainnya.
Bidang ekonomi merupakan salah satu isu globalisasi. Salah satu
bentuk implementasinya adalah realisasi pasar bebas dengan piranti
15pendukungnya, seperti hilangnya sekat penghalang bagi transaksi
perdagangan, dibukanya pintu jual beli tanpa proteksi dan menjamurnya
konglomerasi perekonomian raksasa yang banyak menguasai negaranegara maju. Dalam bidang ekonomi, ajaran Islam menekankan penting
pemenuhan
kesejahteraan

terhadap

kebutuhan

hidupnya

sehingga

materil
dapat

guna

meningkatkan

menjalankan

agamanya

secara kaffah. Meskipun dunia Muslim memiliki manifestasinya sendiri


tentang materialisme dan hedonisme, namun konsep manusia ekonomi
rasional dalam pengertian sosial-Darwinis, utilitarian dan materialis dalam
kaitannya dengan pemenuhan kepentingan diri sendiri dan maksimalisasi
kekayaan dan pemenuhan kebutuhan tidak mendapatkan perhatian
intelektual sama sekali. Sekalipun keseimbangan antara aspek materiil
dan spritual pada umumnya dapat dipertahankan dalam inti pemikiran
Islam, namun terdapat juga penyimpangan-penyimpangan. Kaum sufi
menekankan kepuasan spritual dan mengabaikan kemakmuran materiil
karena

memandang

bahwa

kekayaan

memiliki

kecenderungan

mendorong arogansi dan berbuat salah.[30]

[29] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi....., 3

19

Kaum Muslim menghadapi banyak persoalan dan keprihatinan


berkaitan dengan ekonomi. Dalam riset yang dilakukan oleh John L.
Esposito dan Dalia Mogahed, banyak responden yang menyatakan bahwa
persoalan ekonomi merupakan persoalan yang banyak disorot oleh umat
Islam. Kondisi ekonomi yang lebih baik, kesempatan kerja, standar hidup
yang lebih baik, yang diikuti oleh kebutuhan untuk memperbaiki hukum
dan ketertiban, menghilangkan ketegangan dan peperangan sipil dan
mempromosikan ideal demokrasi di dalam sistem politik mereka, serta
mendongkrak status dan kemandirian internasional negara mereka agar
lebih dihargai oleh pihak lain dan menghentikan campur tangan luar.[31]
Dalam bidang politik, umat Islam dihadapkan dengan isu-isu
penting, seperti demokrasi, hak asasi manusia dan pluralisme politik.
Sistem demokrasi adalah sistem yang memungkinkan masyarakat untuk
menuntut diterapkannya prinsip-prinsip keadilan. Fungsi normatif utama
dari tatanan politik yang demokratis adalah menjamin dan melindungi
wilayah 16kebebasan individu, yakni menjamin hak individu untuk
menjalani hak individu untuk menjalani kehidupan menurut pilihannya
masing-masing.[32] Samuel P. Hutington, salah seorang Guru Besar ilmu
politik di Harvard University menganggap bahwa demokrasi adalah
peradaban Barat dan meragukan jika konsolidasi demokrasi bisa terjadi di
peradaban non-Barat. secara khusus ia menyebut kriteria sikap,
kepercayaan pada aturan hukum dan komitmen terhadap individualisme,
di samping pemisahan antara gereja dan negara, pengalaman dengan
lembaga representatif dan pluralisme sosial. Kriteria budaya demokrasi
tersebut diyakini hanya dapat dihasilkan oleh peradaban Barat dan tidak
oleh yang lain.[33]
Hutington

juga

meragukan

demokrasi

dalam

Islam

karena

menurutnya ketidakmungkinan demokrasi dalam masyarakat Muslim


[30] M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah tinjauan Islam, perj. Ikhwan Abidin B (Jakarta:
Gema Insani, 2001), 54-55
[31] John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara: Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat,
Kekerasan HAM dan Isu-Isu Kontemporer Lainnya , terj. Eva Y. Nukman (Jakarta: Mizan, 2007), 49
[32] Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam untuk Liberalisme (Jakarta: PT Garsindo, 2010), 130

20

berakar sangat kuat dalam budaya dan tradisi politik Islam. Islam memiliki
sistem politik komprehensif yang sudah teruji dalam sejarah panjang
masyarakat Muslim. Menurut Bernard Lewis, sistem ini bukanlah
demokrasi dan didalamnya tidak ditemukan unsur demokrasi yang
signifikan. Ke17yakinan terhadap syariah,sistem hukum yang mengatur
semua aspek kehidupan kaum Muslim, boleh jadi merupakan inti sistem
politik Islam yang membedakan dengan sistem politik lain seperti
demokrasi.[34]
Antara Hutington dan Lewis memiliki pemahaman yang baik
tentang watak dan tradisi politik Islam, hingga tradisi itu mendominasi
dunia Islam hingga saat ini. Pendapat mereka tentang sekulerisme di satu
sisi ada benarnya karena di beberapa negara Islam, sistem yang mereka
anut ternyata gagal dalam pelaksanaannya. seperti rezim Imam Komeini
pada saat memimpin Republik Islam Iran, Taliban di Afganistan.
Kelompok-kelompok Islamis yang aktif saat ini, seperti Ikhwanul
Muslimin di Mesir, Jamaati Islami di Pakistan, FIS di Aljazair, Hizb atTahrir di Palestina, Darul Islam dan Majelis Mujahidin di Indonesia juga
memperkuat pandangan mereka.[35] Namun di sisi lain, argumen
mengenai sikap politik kaum Muslim diatas,18 tidak dapat di generalisasi
empiris seperti tesisnya Hutington dan Lewis terhadap sikap kaum Muslim
di seluruh dunia. Untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut,
dibutuhkan observasi sistematis tentang relegiusitas kaum Muslim,
orientasi politik dan orientasi kaum Muslim terhadap budaya demokrasi.

[33] Lihat, Samuel P. Hutington, The Third Wave: Democratization in The Late Twentieth Century(University
of Oklahoma Press, 1991), Samuel P. Hutington, The Clash of Civilization and the Remaking of the World Order (New
York: Simon and Schuster, 1996), Francis
[34] Lihat juga, Bernard Lewis, What Went Wrong? Western Impact and Middle Eastern Responce(London:
Phoenix, 2002)
[35] Saiful Mujani, Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca
Orde Baru (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), 227
[36] Ahmad al Rasyuni dan Muhammad jamal Barut, Ijtihad, terj. Ibnu Rusydi (Jakarta: Erlangga, 2002), 28

21

Isu hak asasi manusia dalam Islam menjadi bagian dari isu
demokrasi. Barat menganggap ajaran Islam tidak menghormati hak asasi
manusia, seperti hukum potong tangan bagi pencuri, cambuk atau rajam
bagi pelaku zina dan lainnya. Dr. Muhammad Abid Jabiri berpendapat
bahwa potong tangan bagi pelaku pencurian bukannya tidak menghormati
hak

asasi

manusia,

namun

lebih

disebabkan

karena maqa>sid

syari>ah (tujuan umum syariat) dan landasan kemaslahatan (kebaikan)


yang merupakan tujuan final dari syariat dan itu adalah dasar dari segala
dasar. Hukum potong tangan pada waktu itu bertujuan mewujudkan
kemaslahatan dan menyesuaikan karena pada waktu itu belum ada
sistem penjara, para sipir dan otoritas kekuasaan yang menaungi dan
memberi makan para tahanan.[36]

Salah satu norma yang pelanggarannya dapat dijatuhi hukuman


rajam dalam hukum pidana Islam adalah zina yang dilakukan oleh orang
yang sudah menikah (zina muhsan) atauadultery. Sedangkan bagi pezina
yang belum menikah (zina ghairu muhsan) ataufornication tidak dijatuhi
hukuman rajam, melainkan dengan hukuman jilid (cambuk) sebanyak
seratus kali. Diluar zina muhsan tadi tidak ada hukuman rajam. Hukuman
dalam pidana Islam bertujuan untuk menegakkan keadilan, membuat jera
pelaku, memberi pencegahan secara umum/prevensi general dan
memperbaiki pelaku. Menurut Muhammad Iqbal Siddiqi, kritik-kritik Barat
yang dilancarkan terhadap hukuman perzinaan bukan semata-mata
karena tidak suka terhadap ide hukuman fisik, tetapi lebih pada perasaan
moral (moral sense) mereka belum terbangun seutuhnya. Mereka tidak
memandang

perzinaan

sebagai

kejahatan

sosial

yang

akan

mempengaruhi masyarakat secara menyeluruh.[37]


Bagi Maududi, seorang pemikir Islam, berpendapat bahwa dalam
pandangan Islam, manusia memiliki hak-hak dasar yang melekat dalam
dirinya, misalnya hak untuk hidup, hak atas keselamatan hidup, hak untuk

22

memperoleh kehormatan kesuciannya bagi kaum perempuan, hak untuk


memperoleh kebutuhan hidup pokok, hak individu atas kebebasan, hak
atas keadilan, kesamaan yang paling utama diantara hak-hak dasar
adalah hak untuk hidup.[38]
Demokrasi dan hak-hak asasi manusia di abad modern saling
berkaitan, yang satu memerlukan yang lain. Umat Islam pada skala global
tidak punya sikap dan bahasa yang sama menghadapi isu demokrasi dan
hak-hak asasi manusia. Menurut Khaled Abou el Fadl, ada dua kelompok
yang menyikapi persoalan demokrasi, yaitu puritan dan moderat.
Kelompok puritan bersikap anti terhadap semua sistem Barat, khususnya
demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi menikmati hasil teknologinya. Di
antara doktrin yang mengikat mereka adalah doktrin taat kepada
pemimpin, hampir tanpa reserve. Karena itu, ada yang menggolongkan
mereka sebagai faksi totalitarian dengan payung syariah. Pada kutub lain,
kelompok moderat juga mengatakan berpedoman kepada kitab suci (alQura>n),19 namun tidak merisaukan apakah gagasan demokrasi dan hak
asasi manusia itu berasal dari Baratatau Timur, bagi kelompok ini selama
demokrasi dan hak asasi manusia dapat menjamin tegaknya keadila,
perdamaian, moralitas dan hubungan baik sesama manusia, tidak ada
alasan untuk menolaknya. Kelompok moderat berupaya menafsirkan
kembali konsep konsensus (ijma) untuk mendukung gagasan demokrasi
berdasarkan keinginan mayoritas rakyat.[39]
Moderasi Islam Indonesia dan Tantangan Globalisasi

Mayoritas sejahrawan sependapat bahwa modernitas muncul sebagai


akibat dari revolusi besar. Revolusi Amerika dan perancis menyediakan
landasan institusional politik modernitas berupa; demokrasi konstitusional,
kekuasaan berdasarkan hukum dan prinsip kedaulatan negara-bangsa.

[38] Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, Civic Education: Antara Realitas Politik dan Implementasi
Hukumnya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), 223

23

Revolusi industri Inggris menyediakan landasan ekonomi berupa produksi


industri oleh tenaga kerja bebas di kawasan urban, yang menyebabkan
industrialisme dan urbanisme menjadi gaya hidup dan kapitalisme menjadi
bentuk distribusi baru.[40]

Menurut

Kumar,

modernitas

memiliki

ciri-ciri

sebagai

berikut; pertama, individualisme. Individu terbebas dari posisitergantikan,


bebas dari tekanan ikatan kelompok, bebas berpindah ke kelompok yang
di inginkannya, bebas memilih keanggotaan kesatuan sosial yang
d inginkannya, bebas menentukan dan bertanggungjawab sendiri atas
kesuksesan maupun kegagalan tindakannya sendiri. Kedua, diferensiasi.
Dengan muncul sejumlah besar spesialisasi, penyempitan definisi
pekerjaan dan profesi, akan memerlukan keragaman keterampilan,
kecakapan dan latihan. Ketiga, rasionalitas. Berfungsinya institusi dan
organisasi

tidak

tergantung

pada

seseorang. Keempat,

ekonomisme. Seluruh aspek kehidupan sosial di dominasi oleh aktifitas


ekonomi, tu20juan ekonomi, kriteria ekonomi dan prestasi ekonomi
dan kelima,

perkembangan. Modernitas

cenderung

memperluas

jangkauannya terutama ruangnya dan inilah yang dimaksud proses


globalisasi,

seperti

yang

dikatakan

Giddens:

Modernitas

adalah

Globalisasi.[41]
Permasalahan modernitas dan modernisasi merupakan tantangan
besar yang saat ini dihadapi oleh semua kelompok di dalam masyarakat,
tak kecuali masyarakat Islam. Bagi masyarakat Islam, modernitas dan
modernisasi bukan saja membawa pebgaruh bagi posisi kesejarahan
selanjutnya di Indonesia, tetapi juga menentukan relevansinya bagi
menjadi Indonesia di masa depan. Munculnya gerakan-gerakan reformasi

[39] Ahmad Syafii Maarif, Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi
Sejarah (Bandung: Mizan, 2009), 154-155
[40] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, terj. Alimandan (Jakarta: Prenada, 2007), 82

24

Islam, tak lain adalah salah satu ekspansi kesadaran akan ketertinggalan
umat di dunia yang sedang berubah.[42]
Masyarakat Islam di Indonesia menghadapi dua permasalahan
pokok pada saat modernisasi mulai dicanangkan. Persoalan pertama
adalah masih belum berhasilnya komunitas Islam dan pimpinannya
mengatasi persoalan-persoalan internal sehingga mampu berkosentrasi
penuh menghadapi perubahan. Persoalan kedua, penetrasi yang kuat dari
luar,

terutama

negara

yang

semakin

dominan,

yang

gilirannya

mempengaruhi keterlibatan Islam di dalam modernisasi yang sedang


berlangsung. Akibatnya, muncul kesan seolah-olah Islam dan modernisasi
merupakan dua hal yang berlawanan atau incompatible. Kesan ini makin
diperkuat oleh paradigma modernisasi dan developmentalisme yang
dianut. Paradigma itu mengandung bias ideologi yang meragukan
kemampuan sistem nilai dan pranata tradisional untuk turut serta dan
mendukung modernisasi. islam, yang masuk dalam kategori ini, serta
merta dipandang seba21gai masalah yang harus dipecahkan dan bukan
sebagai salah satu kekuatan penopang bagi proses tersebut.[43]

Sosiolog biasanya menunjukkan sejumlah fenomena baru yang


muncul dalam masyarakat modern. Fenomena yang muncul dalam bidang
kultur salah satunya adalah Sekulerisasi. Merosotnya arti penting
keyakinan agama, kekuatan gaib, nilai dan norma dan digantikan oleh
gagasan dan aturan yang disahkan oleh argumen dan pertimbangan
duniawi.[44]
Menurut Nurcholish Madjid, sekulerisasi mempunyai kaitan erat
dengan desakralisasi, karena keduanya mengandung unsur pembebasan.
Sekulerisasi berarti terlepasnya dunia dari pengertian religius dan
[41] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial....., 85-86. Lihat juga, Anthony Giddens, The Consequences
of Modernity (Cambridge: Stanford University Press, 1990)
[42] Muhammad A.S Hikam, Islam, demokrasi dan Pemberdayaan Civil Society (Jakarta: Erlangga, 2000), 42
[43] Muhammad A.S Hikam, Islam, demokrasi......, 44-45

25

desakralisasi dimaksudkan sebagai penghapusan atau pembebasan dari


legitimasi sakral. Pemutlakan transendensi semata-mata kepada Tuhan
harus melahirkan desakralisasi pandangan terhadap semua selain
Tuhan, sebab sakralisasi kepada sesuatu selain Tuhan hakikatnya adalah
syirik. [45]
Pemahaman kaum Muslim atas prinsip-prinsip ajaran yang
terkandung dalam al-Quran senantiasa berkembang akibat perkembangan
zaman yang selalu memberikan masukan baru kepada alam pikiran
manusia dan pemahaman yang berkembang itu tidak seluruhnya benar
dan tepat, bahkan terkesan vulgar, kasar, sehingga justru mendangkalkan
penegrtian agama itu sendiri. Paham-paham apologetis yang muncul di
kalangan umat untuk membela Islam dalam menghadapi invasi peradaban
modern Barat, sebagai contoh pendangkalan. Sikap apologi atau
apologetis, kerap menunjukkan gejala rasa rendah diri. Karena itu,
menurutnya setiap pikiran apologetis pada dasarnya tidak mengandung
kreativitas yang orisinal. Kritik Nurcholish tentang kecenderungan
apologetis ini dituj22ukan terutama kepada mereka yang justru mengecap
kenikmatan peradaban modern. Ia menyebut gejala ini sebagai ironi,
betapa Muslim itu tidak memiliki kemantapan sebagai seorang Muslim
tatkala menikmati perdaban modern.[46]
Pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling
berhubungan, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari
nilai-nilai yang berorientasi kedepan. Proses tersebut bisa dicapai dengan
cara liberalisasi. Beberapa langkah liberalisasi yang harus dilakukan oleh
umat Islam untuk mencapai modernitas adalah sekulerisasi, kebebasan
berpikir dan sikap terbuka (idea of progress).

[44] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial....., 88


[45] Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam......., 94. Lihat juga, Ann Kull, Piety and Politics, Nurcholish
Madjid and His Interpretation of Modern Indonesia (Lund: Lund University, 2005), Greg Barton,Gagasan Islam Liberal di
Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad dan Abdurrahman Wahib (Jakarta:
Paramadina, 1995)

26

Akar persoalan yang dihadapi komunitas Islam adalah hilangnya


daya gerak psikologis (psychological striking force). Hal ini ditandai oleh
ketidakmampuan umat Islam yang diwakili oleh para pemimpinnya, untuk
membedakan antara nilai-nilai yang transedental dan temporal. Umat
Islam

harus

membebaskan

dirinya

dari

kecenderungan

untuk

menempatkan hal-hal yang semestinya duniawi sebagai duniawi (dalam


hal ini yang berkaitan dengan muamalah, seperti persoalan ekonomi,
politik dan sosial) dan hal-hal yang semestinya ukhrawi sebagai ukrawi
(ibadah), gagasan inilah yang disebut dengan sekulerisasi. Sekulerisasi
dipahami dalam konteks sosiologis berarti suatu paham yang mendorong
bahwa kehidupan bernegara dan ranah politik hendaknya didekati secara
rasional dengan teori-teori politik modern, dimana agama berada pada
tataran moral, Proses teknispolitisnya melewati mekanisme demokrasi,
kedaulatan rakyat 23di tangan rakyat, dan maslah-maslah sosial politik di
dekati dengan ilmu dan teknologi.[47]

Proses

liberalisasi

kedua

adalah intellectual

freedom atau

kebebasan berpikir. Pandagannya tersebut diperkuat dengan mengutip


hadist Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa perbedaan
pendapat di kalangan umat merupakan rahmat. Dalam nomenklatur
modern, perbeda24an pendapat harus dipandang sebagai bagian dari

[46] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner (Jakarta: Kompas,
2010), 117-118
[47] Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam......., 93
[48] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid......, 95-97
[49] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid...., 98

27

transaksi ide-ide di pasar bebas. Pandanganini berakar tunjang pada


mazhab

berhaluan

liberal

produk

masa

Pencerahan

(Enlightenment/Aufklarung) di Eropa yang telah berlangsung sejak abad


ke-18. Gejala-gejala lain yang menghinggapi kesadaran kaum Muslim
seperti kcaunya hierarki anatar nilai-nilai yang bersifat duniawi dan
ukhrawi, sistem berpikir yang masih terlalu tebal diliputi oleh tabu dan a
priori, akibat dari hilangnya kebebasan berpikir.[48]

Proses liberalisasi yang ketiga adalah idea of progress (sikap


terbuka), yaitu kesediaan menerima dan mengambil nilai-nilai (duniawi),
asalkan mengandung kebenaran. Idea of progress melekat secara inheren
dalam Islam, karena konsep tersebut bertitik tolak dari konsepsi atau
doktrin bahwa manusia pada adasrnya adalah baik, suci dan cinta pada
kebenaran atau kemajuan.[49] Umat Islam senantiasa berani melakukan
ijtihad, termasuk merespon persoalan-persoalan Indonesia kontemporer
dan tidak phobia terhadap fenomena modernisasi yang implikasinya
adalah penerimaan atas sekularisasi.

BAB IV
Penutup

Kesimpulan

Perdebatan antara Islam dan Barat mengenai isu-isu besar di


bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya, masih menjadi perdebatan
yang menarik untuk dikaji hingga saat ini. Saling klaim atas keberhasilan

28

dan kegagalan masing-masing pihak menjadi diskursus yang panjang dan


melelahkan, sehingga rentetan peristiwa yang terjadi didalam Dunia Islam
dan Barat merupakan indikasi dari belum membaiknya hubungan antara
Barat dan Islam.

Selain sebagai agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat


Indonesia, negara Indonesia juga sebagai negara yang berpenduduk
Muslim terbesar di dunia. Fakta tersebut seharusnya dapat memberikan
sahamnya secara lebih riil karena sebagaimana diungkapkan oleh Weber
bahwa agama memiliki kekuatan untuk membantu menyingkap makna
dunia. Oleh karena itu, dalam konteks Islam, diperlukan pemikiran dan
pergerakan yang dimotori oleh para intelektual aktivis Islam untuk
meletakkan basis-basis kesadaran baru bagi masyarakat agar mampu
menjawab tantangan modernitas dan globalisasi.

Globalisasi seakan menjadi momok yang menakutkan sehingga


memaksa umat Islam mencari solusi alternatif untuk mempertahankan
ideologinya. Modernisasi tak dapat di elakkan dan umat Islam Indonesia
sebagai bagian dari peradaban dunia, harus mencari metode yang solutif
dalam menghadapi arus globalisasi.

Islamophobia yang dialami Muslim di beberapa negara pasca 9/11,


merupakan moment yang tepat bagi Muslim Indonesia untuk meletakkan
dasar pemahaman keagamaan yang modern, demi mengangkat kembali
citra negatif terhadap Islam dan berbagai isu besar yang kerap di
justifikasi oleh Barat terhadap Islam, seperti isu demokrasi, hak asasi
manusia, ekonomi Islam dan lainnya. Konsep sekulerisasi yang
ditawarkan oleh Nurcholish Madjid merupakan salah satu ide cemerlang,
dalam membangun kemajuan Islam di masa depan.

29

DAFTAR PUSTAKA

[1] John L. Esposito, Masa Depan Islam: Antara Tantangan


Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, terj, The Future of Islam
(Bandung: Mizan, 2010), 32
[2] John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara! :
Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, Isu-Isu

30

Kontemporer

Lainnya,

terj,

Who

Speaks

for

Islam?

(Bandung:

Mizan,2008), 17425
[3] Lydia Saad, Americans Believe Muslim Antipathy Toward United
States

Based

on

Misinformation,

di

akses

dari http://www.gallup.com/poll/5434/Americans-Believe-MuslimAntipathy-Toward-United-States-Based-Misinformation.aspx,

10-

Desember- 2012
[4] Gallup Poll, Poll of the Islamic World: Perceptions of Western
Culture,

di

akses

darihttp://www.gallup.com/poll/5458/Poll-Islamic-

World-Perceptions-Western-Culture.aspx, 11-Desember-2012
[5] John

L.

Esposito

dan

Dalia

Mogahed, Saatnya

Muslim

Bicara!....., 179-180
[6] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, terj,
al-Islam fi> Ashr al-Aulamah, Abdullah Hakam Syah (Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2004), 35
[7] Menurut hasil studi demografis yang dirilis oleh Forum Pew
Research Center on Religion and Pulic Life pada tahun 2012,
menyebutkan jumlah penganut agama Islam berada pada posisi kedua,
setelah Kristen, dengan angka 1,6 miliar umat Muslim (23%). Laporan
tersebut mencatat Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim
terbesar di dunia, yakni sebesar 209.120.000 Muslim atau 13,1% dari total
penduduk Muslim dunia. Lihat, Riset Pew: Muslim Indonesia Terbesar di
Dunia, http://www.srie.org/2012/12/riset-pew-muslim-indonesiaterbesar-di.html, diakses pada 7-Januari-201.
[8] Syamsul

Bakri

dan

Modhofir, Jombang-Kairo,

Jombang-

Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Caknur dalam Pembaruan Islam
Indonesia (Solo: Tiga Serangkai, 2004), 14
[9]Samuel P. Hutington, Tak Ada Jalan Keluar: Kesalahankesalahan Endisme, dalam Samuel P. Hutington dkk, Amerika dan

31

Dunia: Memperdebatkan Bentuk Baru Politik Internasional (Jakarta:


Yayasan Obor Indonesia, 2007), 55
[10] Samuel P. Hutingtong, dkk, Amerika dan Dunia...., 63-64
[11] Nader Hashemi, Islam, Sekularisme dan Demokrasi Liberal:
Menuju

Teori

Demokrasi

dalam

Masyarakat

Muslim (Jakarta:

PT

Gramedia Pustaka Utama, 2011), 4


[12] Adam Lebor, Pergulatan Muslim di Barat: Antara Identitas dan
Integrasi (Bandung: Mizan, 2009), 357-358
[13] Ahmad

Suhelmi, Pemikiran

Politik

Barat (Jakarta:

PT

Gramedia Pustaka Utama, 2001), 20


[14]Murad Wilfred Hoffman, Jalan Menuju Mekah: Menelusuri
Cahaya Keimanan, terj. Abdul Hayyie, dkk (Jakarta: Gema Insani Press,
2000), 224
[15] Lihat, Francis Fukuyama, The End of History and the Last
Man (New York:Free Press, 1992), 235-237, Benjamin Barber, Jihad
vs.McWorld: How Globalism and Tribalsm are Reshaping the World (New
York: Ballentine Books, 1996), 205-216, Robert Kaplan, The Coming
Anarchy: Shatteting the Dreams of the Post Cold War (New York: Vintage
Books, 2000) 59-98, Samuel Hutington, The Clash of Civilizations and the
Remaking of World Order (New York: Simon and Schuster, 1996), 56-78,
207-218.
[16] Samuel P. Hutington, The Clash of Civilizations? Foreign
Affairs (Summer 1993), 25-39
[17] Jack Miles seorang penasehat senior Presiden Amerika dari
sebuah lembaga yang bernama Paul Getty Trust. Dia juga seorang
anggota Dewan Kebijakan Intenasional untuk Pasifik (Pasific Council on
International Policy) dan merupakan penulis ternama yang sudah
mengeluarkan sebuah buku yang cukup menyita perhatian kaum Kristiani
dengan judul Christ: A Crisis in the Life God.
[18] Herry Nurdi, Lobi Zionis dan Rezim Bush (Jakarta: Hikmah,
2006), 272

32

[19] Herry Nurdi, Lobi Zionis....., 273


[20] Pippa Norris dan Ronald Inglehart, Sekularisasi di Tinjau
Kembali: Agama dan Politik, terj. A. Zaim Rofiqi (Jakarta: Pustaka Alvabet,
2009), 167
[21] Nurcholis Madjid, Agama dan Negara dalam Islam: Telaah
atas

Fikih

Siyasi

Sunni,

dalam

Budhy

Munawar-Rachman,

ed, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina,


1995), 588
[22] Fawaz

A.Gerges, Amerika

dan

Islam

Politik:

Benturan

Peradaban atau Benturan Kepentingan?(Jakarta: Alvabet, 2002), 47-48


[23] Fawaz A.Gerges, Amerika dan Islam Politik...., 48-49
[24] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi, terj,
al-Isla>m fi> Ashr al-Aulamah, penj, Abdullah Hakam Shah (Yogyakarta:
Pustaka Pesantren, 2004), 41
[25] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi.....,
43-44
[26] Gallup Organization, Muslim Americans: A National Potrait,
Muslim

West

Facts

Project,

2009,

59.

Lihat

http://www.muslimwestfacts.com/mwf/116074/Muslim-Americans-NationalPortrait.aspx
[27] Azyumardi Azra, Jejak-Jejak Jaringan Kaum Muslim dari
Australia hingga Timur Tengah(Jakarta: Hikmah, 2007), 117
[28] Azyumardi Azra, Jejak-Jejak Jaringan Kaum Muslim......, 118119
[29] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam di Era Globalisasi.....,
3
[30] M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah tinjauan
Islam, perj. Ikhwan Abidin B (Jakarta: Gema Insani, 2001), 54-55
[31] John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara:
Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan HAM dan Isu-Isu
Kontemporer Lainnya , terj. Eva Y. Nukman (Jakarta: Mizan, 2007), 49

33

[32] Budhy

Munawar-Rachman, Argumen

Islam

untuk

Liberalisme (Jakarta: PT Garsindo, 2010), 130


[33] Lihat, Samuel P. Hutington, The Third Wave: Democratization
in The Late Twentieth Century(University of Oklahoma Press, 1991),
Samuel P. Hutington, The Clash of Civilization and the Remaking of the
World

Order (New

Fukuyama, Trust:

York:
The

Simon

Social

and

Virtues

Schuster,
and

The

1996),

Francis

Creation

of

Prospeity (London: Hamish Hamilton, 1995)


[34] Lihat juga, Bernard Lewis, What Went Wrong? Western Impact
and Middle Eastern Responce(London: Phoenix, 2002)
[35] Saiful Mujani, Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi dan
Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2007), 227
[36] Ahmad al Rasyuni dan Muhammad jamal Barut, Ijtihad, terj.
Ibnu Rusydi (Jakarta: Erlangga, 2002), 28
[37] Topo

Santoso, Membumikan

Hukum

Pidana

Islam:

Penegakan Syariat dalam Wacana dan Agenda (Jakarta: Gema Insani


Press, 2003), 93-94. Lihat Juga, Muhammad Iqbal Siddiqi, The Penal Law
of Islam(Lahore: Kazi Publication, 1985)
[38] Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, Civic Education: Antara
Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya (Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2010), 223
[39] Ahmad Syafii Maarif, Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan
Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (Bandung: Mizan, 2009), 154-155
[40] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, terj. Alimandan
(Jakarta: Prenada, 2007), 82
[41] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial....., 85-86. Lihat
juga, Anthony Giddens, The Consequences of Modernity (Cambridge:
Stanford University Press, 1990)
[42] Muhammad A.S Hikam, Islam, demokrasi dan Pemberdayaan
Civil Society (Jakarta: Erlangga, 2000), 42

34

[43] Muhammad A.S Hikam, Islam, demokrasi......, 44-45


[44] Pioter Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial....., 88
[45] Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam......., 94. Lihat
juga, Ann Kull, Piety and Politics, Nurcholish Madjid and His Interpretation
of Modern Indonesia (Lund: Lund University, 2005), Greg Barton,Gagasan
Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid,
Djohan Effendi, Ahmad dan Abdurrahman Wahib (Jakarta: Paramadina,
1995)
[46] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup
Seorang Visioner (Jakarta: Kompas, 2010), 117-118
[47] Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam......., 93
[48] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid......, 95-97
[49] Ahmad Gaus A.F, Api Islam Nurcholish Madjid...., 98

35