Anda di halaman 1dari 4

Sandy Fajrian

12311012

CBA
Untuk mengerti sifat dari anomali gravitasi bawah permukaan, ada beberapa koreksi yang
harus diaplikasikan :
1. Theoritical gravity harus dihilangkan sehingga hanya menyisakan efek lokal gravitasi
2. Elevasi dari titik pengukuran gravitasi tersebut diambil harus diubah menjadi datum
referensi untuk membandingkan keseluruhannya. Ini disebut juga Free Air correction
dan saat digabungkan dengan koreksi theoritical gravity datanya disebut free-air
anomaly
3. Gradien normal gravitasi (perubahan gravitasi dengan perubahan elevasi). Kita harus
mengoreksi efek material di antara titik dilakukan gravimetri dilakukan dan geoid.
Untuk ini kita harus memodelkan material diantaranya seperti terbuat dari slab
dengan ketebalan t tak terhingga. Ini disebut Bouguer correction.
4. Untuk kasus khusus, digital terrain model (DTM) yaitu koreksi kondisi lokasi yang
dikomputasi dari struktur model.
Untuk proses pemetaan, metode yang bisa digunakan adalah :
1. Free-air anomaly; perubahan gravitasi berdasarkan jarak dengan permukaan
bumi. Koreksi ini tidak memakai model medannya, hanya aplikasi gradien normal
0.3086 mGal/m.
2. Simple Bouguer anomaly; reduksi ke arah bawah dengan hanya gradien Bouguer
(0.1967). Koreksi ini menganggap medan seperti di tempat datar.
3. Complete bouguer anomaly; koreksi seakurat mungkin, menggunakan densitas
standar sebesar 2.67 g/cm3. Anomali Bouguer ideal untuk geofisika karena
melihatkan efek dari batuan yang berbeda di bawah permukaan. Anomali
Bouguer merupakan penjumlahan dari anomali regional dan anomali residual.

Pemisahan Anomali Regional dan Residual


Anomali regional dan residual saling berinteraksi dan menimbulkan anomali yang tumpangtindih. Oleh sebab itu, anomali-anomali tersebut harus saling dipisahkan. Sehingga
diperlukan suatu metode pemisahan anomali regional dengan anomali residual yang cukup
baik, agar didapatkan anomali residual yang akurat untuk pemodelan geologi bawah
permuakan bumi. Banyak sekali metode yang sering digunakan dalam pemisahan anomali
regional-residual. Akan tetapi para peneliti belum mempunyai suatu metode penghitungan
yang dapat dijadikan pegangan, sehingga para peneliti mengalami kesulitan dalam
melakukan pemisahan anomali ini. Hal ini terlihat dari beberapa penelitian gravitasi yang
dalam proses pemisahan anomali ini, masih menggunakan metode-metode yang berbedabeda. Metode-metode yang digunakan antara lain: metode moving average (rataan
bergerak), metode polinomial, dan metode inversi.

Sandy Fajrian
12311012

Pemisahan dengan Moving Average (rataan bergerak)


Moving Average dilakukan dengan cara merata-ratakan nilai anomalinya. Hasil dari peratarataan ini merupakan anomali regionalnya. Sedangkan anomali residualnya didapatkan
dengan mengurangkan data hasil pengukuran gravitasi dengan anomali regionalnya. Secara
matematis persamaan moving average untuk 1 dimensi adalah sebagai berikut :

(1)
Setelah didapatkan Treg , maka harga T residual dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :

(2)
Persamaan 1 merupakan dasar dari metode ini, dari persamaan tersebut akan dapat
dihitung nilai anomali regional pada sebuah titik penelitian. Dimana nilai anomali regional
pada sebuah titik penelitian, sangat tergantung pada nilai anomali yang terdapat di sekitar
titik penelitian. Sehingga nilai anomali regional pada sebuah titik merupakan hasil rata-rata
dari nilai anomali-anomali di sekitar daerah penelitian.

Pemisahan Metode Polynomial


Polinomial fitting atau sering disebut dengan metode kuadrat terkecil yang mengasumsikan
bahwa permukaan Polinomial dapat menggambarkan model bidang regional yang lebih
halus yang ditentukan oleh orde Polinomial. Peta kontur anomali regional yang dihasilkan
sudah cenderung tetap dan tidak mengalami perubahan ketika orde yang diberikan semakin
besar. Pada umumnya Polinomial fitting mencakup bentuk konstan.

Pemisahan dengan Metode Inversion


Pemodelan inversi sering dikatakan sebagai kebalikan dari pemodelan ke depan (forward)
karena dalam pemodelan inversi, parameter model diperoleh langsung dari data. Teori
inversi merupakan satu kesatuan metode matematika dan statistik untuk memperoleh
informasi yang berguna mengenai suatu sistem fisika berdasarkan observasi terhadap
sistem.

Sandy Fajrian
12311012

Second Vertical Derivative


Menggambar sumber-sumber anomali yang kecil/dangkal, sehingga identik dengan anomali
residual. Secara teoritis, metode ini diturunkan dari persamaan laplace dalam gravity yang
diukur dipermukaan, yaitu:

Untuk data 1D (data penampang) persamaannya diberikan oleh :

Beberapa rumus second vertical derivative pendekatan, diantaranya :

Elkins formula

Nettleton formula

Sandy Fajrian
12311012

Sebagai kesimpulan, secara ringkas proses pada penyelidikan gaya berat dapat disimpulkan
sebagai berikut: