Anda di halaman 1dari 32

BAB VIII Pendidikan Islam

Pengertian Pendidikan Islam


Pendidikan secara umum adalah upaya sistematis untuk anak
didik agar tumbuh berkembang melalui aktualisasi potensi diri
berdasarkan kaidah-kaidah moral al-quran, ilmu pengetahuan,
dan keterampilan hidup (life-skill). Al-Quran dan Sunah dijadikan
sebagai sumber otentik dalam pengembangan pendidikan dan
mampu menyelasaikan suatu problem. Pendidikan Islam mulai
dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah
dalam surat Al-Mudatstsir (74) ayat 1-7.
Pengertian dalam bahasa
Dalam kamus bahasa Indonesia, dengan dasar kata didik yg
berarti pengubahan perilaku seseorang menjadi dewasa.
Dalam kalangan tokoh Islam dibagi tiga istilah yaitu, Al-Tarbiyah
(pengetahuan tentang al-rabb), Al-Talim (ilmu teoritik, kreatifitas,
komitmen, dan sikap yang menjunjung nilai-nilai ilmiah), Al-Tabib
(integrasi ilmu dan iman yang membuahkan amal).
Pengertian Istilah
Kalangan tokoh indonesia: Menurut Ki Hajar Dewantara,
pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuh dan
berkembangnya anak-anak segala kekuatan kodrat yang ada
pada anak-anak tersebut agar mereka sebagai manusia dan
sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan
dam kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kalangan tokoh islam: Menurut Abdur Rahman An-Nahlawi,
pendidikan Islam adalah pengaturan pribadi dan masyarakat
sehingga dapat memeluk Islam secara logis dan sesuai cara
keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.
Dari beberapa definisi tersebut pengertia pendidikan
dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
Pendidikan dalam arti sempit: usaha sadar yang dilakukan oleh
manusia dewasa menyiapkan peserta didik untuk berperan di
masa yang akan datang.
Pendidikan dalam arti luas: Segala proses interaksi seseorang
dengan lingkungan dalam mengembangkan potensi dan
bertanggung jawab.
Hakikat Islam pengertian pendidikan Islam yaitu usaha untuk
menjadi manusia dewasa sesuai dengan ajaran Islam.
Unsur utama yang harus ada dalam pendidikan yaitu:
Pendidik, Peserta didik, tujuan, Materi, Metode, Alat

Sumber Pendidikan Islam


adalah Al-Quran dan Al-Sunnah karena bukan hanya terdapat
kebenaran didalamnya, namun juga dapat diteliti seperti tentang
objek ilmu pengetahuan yang dijadikan sebagai sumber
pendidikan. Selain itu, beberapa pengalaman manusia,
pemikiran para ulama, dan karya buju ulam juga bisa dijadikan
sumber pendidikan islam. Ayat Al-Qurn mengandung implikasi
pendidikan yaitu; al-imran: 190-191, ad-Dukhan: 38-39, al-Anbiya:
16-18.
Tujuan Pendidikan
Dari beberapa definisi yang dikemukakan beberapa ahli tujuan
Pendidikan Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut yang
diungkapkan Abudin Natta sebagai berikut:
Mengarahkan anak menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan
sebaik-baiknya.
Mengarahkan anak sebagai tugas khalifah dimuka bumi dalam
rangka beribadah kepada Allah.
Mengarahkan anak agar memiliki akhlak mulia.
Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya.
Mengarahkan anak agar dapat tercapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.
Jadi tujuan pendidikan Islam adalah upa sadar, terstruktur,
terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia
yang memiliki kompetensi:
Kepribadian Islam
Menguasai Tsaqafah Islamiyah dengan Handal
Menguasai ilmu-ilmu terapan (IPTEK)
Memiliki Skills/Keterampilan yang Tepat Guna dan Berdaya Guna.
Asas-Asas Pendidikan Islam
Dari ayat-ayat dan As-sunah dapat disimpulkan bahwa pola
dasar pendidikan Islam adalah:
Segala Fenomena alam adalah ciptaan Tuhan
Manusia harus dididik supaya bisa menanamkan iman dan takwa
Manusia menjadi khalifah di muka bumi
Manusia harus dibekali ilmu untuk memberdaya bumi sesuai
tuntutan Tuhan.
Manusia sebagai makhluk sosial untuk membentuk tali
persaudaraan.
Manusia cenderung untuk memeluk agama
Pendidikan seumur hidup sebagi konsep keimanan

Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam


Ada tujuh prinsip dalam pendidikan Islam:
Selalu mengacu kepada Al-quran dan Hadis, Selalu Mengarah
Kepada Dunia dan Akhirat, Bersifat Teoritis dan Praktis, Sesuai
dengan Potensi yang dimiliki manusia, beroirentasi pada Hablum
Minallah Wa Hamlum Minannas, Ikhlas, Pendidikan seumur hidup,
efektifitas pendidikan
Pendidik
Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik.
Syarat-syarat pendidik: Takwa Kepada Allah S.W.T, Berilmu, Sehat
jasmani, berkelakuan baik, sehat rohani (berakal Sehat).
Tugas Pendidik: Membimbing peserta didik, menciptakan situasi
untuk pendidikan, Memiliki pengetahuan yang diperlukan.
Tanggung Jawab pendidik dalam bidang: pendidikan akidah
tauhid, pendidikan akhlak, pendidikan akal, pendidikan jasmani,
sosial kemasyarakatan, keilmuan.
Kompotensi: kemampuan dasar (kepribadian), kemampuan
umum(mengajar), kemampuan khusus(pengembangan
keterampilan).
Peserta didik
Adalah makhluk yang berada dalam proses menuju fitrahnya
masing-masing.
Untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh
sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yaitu; aspek
Paedogogis, aspek Sosiologi dan Kultural, aspek tauhid.
Metode Pendidikan Islam
Metode suasana gembira (Q.S. Al-Baqarah: 25 dan 185), Metode
lemah lembut (Q.S. Al-Imran: 159), Metode bermakna (Q.S.
Muhammad: 16), Metode Prasyarat atau muqadimah (Q.S. AlBaqaah: 1-2), Metode komunikasi terbuka (Q.S. Al-Araf: 179),
Metode memberikan pengetahuan baru (Q.S. Al-Ahzab: 21),
Metode praktek atau pengamatan aktif (Q.S. As-Shof: 2-3 dan AlBaqarah: 25), Metode bimbingan (Q.S. Al-Anbiya: 107 dan AnNahl: 25), Metode cerita (Q.S. Al-Araf: 176), Metode
perumpamaan (Q.S. Ibrahim: 18), Metode hukuman dan hadiah
(Q.S. Al-Ahzab: 72-73).
Bab IX Poltik, HAM, dan Demokrasi Islam
2.1 Politik Islam

2.1.1
Pengertian dan Sejarah Politik Islam
Politik islam terdiri dari dua term, yaitu politik dan Islam. Politik
berarti kekuasaan, sedang kekuasaan menurut Miriam Budiardjo
adalah kemampuan kelompok yang berkuasa unttuk
mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain
sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan keinginan dan tujuan
dari kelompok yang berkuasa. Politik berarti suatu cara
bagaimana penguasa mempengaruhi perilaku kelompok yang
dikuasai, agar sesuai dengan keinginan penguasa. Sedangkan
Islam berarti suatu penataan dan Islam sebagai din merupakan
oraganisasi penataan menurut ajaran Allah, yaitu Al-Quran
menurut Sunnah Rasul-Nya.
Term politik sebagai terjemah dari siyasah, secara etimologis
berarti mengatur. Politik Islam berarti aspek ajaran Islam yang
mengatur system kekuasaan dan pemerintahan. Politik juga
berarti segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan
sebagainya) mengenai pemerintahan dan kebijakan atau cara
bertindak suatu Negara dalam menghadapi atau menangani
masalah.
Dalam politik, kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi yang dapat
mempersatuan kekuatan-kekuatan dan aliran-aliran yang
berbeda-beda di masyarakat. Dalam konsep Islam, kekuasaan
tertinggi adalah Allah SWT yang tertuang dalam Al-Quran
menurut Sunnah Rasul.
Umat Islam berbeda pendapat tentang kedudukan politik dalam
syariat Islam. Pendapat pertama menyatakan Islam adalah suatu
agama yang serba lengkap. Didalamnya terdapat pula antara
lain system ketatanegaraan atau politik.
Pendapat kedua, kelompok yang berpendirian bahwa Islam
adalah agama dalam pengertian Barat. Artinya agama tidak
ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut
pendapat kelompok ini, Nabi Muhammad hanyalah seorang
Rasul seperti rasul-rasul yang lain bertugas menyampaikan risalah
Tuhan kepada segenap alam. Nabi tidak bertugas untuk
mendirikan dan memimpin suatu Negara.
Pendapat ketiga menolak bahwa Islam adalah agama yang
serba lengkap yang terdapat di dalamnya segala system
kehidupan termasuk system ketatanegaraan, tetapi juga menolak
pendapat bahwa Islam sebagaimana pandangan Barat yang

hanya mengatur hubugan manusia dengan Tuhan. Aliran ini


berpendirian bahwa Islam tidak terdapat system ketatanegaraan,
tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan
bernegara.
Nabi Muhammad selain sebagai Rasul, kepala agama, juga
beliau adalah kepala Negara. Nabi menguasai suatu wilayah
yaitu Yatsrib ysng kemudian menjadi Madinah al-Munawwarah
sebagai wilayah kekuasaan Nabi, sekaligus menjadi pusat
pemerintahannya dengan piagam Madinah sebagai aturan
dasar kenegaraannya. System pemerintahannya disebut khalifah.
Menurut Harun Nasution, khalifah (pemerintahan) yang timbul
sesudah wafatnya Nabi Muhammad, tidak mempunyai bentuk
kerajaan, tetapi lebih dekat merupakan republic, dalam arti
kepala negara dipilih dan tidak mempunyai sifat turun temurun.
Khalifah pertama adalah Abu Bakar, khalifah kedua Umar bin
Khattab, khalifah ketiga adalah Usman bin Affan dan khalifah
keempat adalah Ali bin Abi Thalib. Satu sama lainnya tidak
mempunyai hubungan darah, mereka adalah sahabat Nabi dan
dengan demikian hubungan mereka sesama sahabat mereka
merupakan hubungan persahabatan.
Ibnu Khaldu (w. 1406 M.) menyatakan kekhalifahan maupun
kerajaan adalah khalifah Allah di antara manusia bagi
pelaksanaan segala peraturan di antara manusia.
Al-Mawardi (w. 1058 M.) dalam bukunya al-Ahkam al-Sulthaniyyah
mengemukakan pembahasan teoritis dan idealistis menyangkut
khalifah. Menurutnya Allah adalah penguasa yang absolute bagi
alam semesta dan merupakan pokok wewenang bagi Negara.
Khalifah dicalonkan dan dipilih oleh para pemuka masyarakat,
yakni ahl al-halli wa al-aqdi. Pemilihan mesti diikuti oleh baiat
dari masyarakat. Tugas utama khalifah yang paling utama
adalah menjaga dan melaksanakan syariah, serta mewujudkan
kedamaian dan kesejahteraan. Dia adalah pengawas dan
pelindung Islam juga pembela keimanan.
Al-Mawardi, Ali Abd al-Raziq dalam bukunya al-Islam wa Ushul alHukm (Islam dan Ketatanegaraan) berpendapat bahwa system
pemerintahan tidak disinggung-singgung oleh Al-Quran dan AlSunnah. Oleh karena itu dalam ajaran Islam tidak terdapat
ketentuan-ketentuan tentang corak Negara.
Muhammad Rasyid Ridha memberikan reaksi keras terhadap
gagasan Ali Abd al-Raziq. Menurutnya khalifah adalah system

pemerintahan yang harus dipertahankan di dunia Islam untuk


mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam (jamiah
Islamiyah).
2.1.2
Nilai-nilai Dasar Sistem Politik dalam Al-Quran
Nilai-nilai dasar yang harus diaplikasikan dalam pengembangan
system politik Islam adalah:
Kemestian mewujudkan persatuan dan kesatuan umat
Kemestian bermusyawarah dalam menyelesaikan masalahmasalah ijtihadiyah
a.
Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara
mereka
b.
Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu
Dalam kata al-Amr (urusan) tercakup urusan ekonomi, politik,
social, budaya dan sebagainya.
Keharusan menunaikan amanat dan menetapkan hukum secara
adil (Q.S. Al-Nisa:58)
Kemestian menaati Allah, Rasulullah, dan Ulil al-Amr (pemegang
kekuasaan)
Keniscayaan mendamaikan konflik antar kelompok dalam
masyarakat Islam
Kemestian mempertahankan kedaulatan Negara dan larangan
melakukan agresi dan invasi
Kemestian mementingkan perdamaian daripada permusuhan
Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam bidang
pertahanan dan keamanan
Keharusan menepati janji dan mengutamakan perdamaian
bangsa-bangsa
Kemestian peredaran harta pada seluruh lapisan masyarakat
Keharusan mengikuti prinsip-prinsip pelaksanaan hukum dalam
hal:
a.
Menyedikitkan beban (taqlil al-takalif)
b.
Berangsur-angsur (al-tadarruj)
c.
Tidak menyulitkan (adam al-haraj)
2.1.3
Prinsip-prinsip Politik Luar Negeri dalam Islam
1.
Saling menghormati fakta-fakta dan traktat-traktat
2.
Kehormatan dan integrasinasional
3.
Keadilan universal (internasional)

4.
Menjaga perdamaian abadi
5.
Menjaga kenetralan terhadap Negara-negara lain
6.
Larangan terhadap eksploitasi para imperialis
7.
Memberikan perlindungan dan dukungan pada orangorang Islam yang hidup di Negara lain
8.
Bersahabat dengan kekuasaan-kekuasaan netral
9.
Kehormatan dalam hubungan internasional
10. Persamaan dan keadilan untuk para penyerang (aggressor)
2.1.4
Kontribusi Umat Islam dalam Perpolitikan Nasional
Islam telah menyumbangkan banyak pada Indonesia, demikian
kata Kuntowijoyo. Islam membentuk civic culture (budaya
bernegara), national solidarity, ideology jihad, dan control social.
Sumbangan besar Islam berujung pada keutuhan Negara dan
terwujudnya persatuan dan kesatuan.
2.2 HAM dalam Islam
2.2.1
Pengertian dan Sejarah Hak Asasi Manusia dalam Islam
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakekat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati
dan dijunjung tinggi serta dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
Umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya
HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta pada tahun 1215 di
inggris yang mencanangkan bahwa raja memiliki kekuasaan
absolut (raja yang menciptakan hukum tapi ia sendiri tidak terikat
pada hukum), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat
dimintai pertanggungjawabannya di muka hukum. Pada tahun
1689 lahirlah Bill of Rights di Inggris dengan adagium manusia
sama di muka hukum. Kemudian muncul The American
Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau
dan Montesquieu. Selanjutnya pada tahun 1789 lahir The French
Declaration , dimana hak-hak lebih dirinci yang kemudian
melahirkan The Rule of Law.
Namun sejatinya, islam telah terlebih dahulu mempelopori di
deklarasinya sebuah piagam yang berisi tentang jaminan HAM
yang disebut Piagam Madinah ini disepakati pada tahun 622 M
oleh Rasulullah bersama dengan seluruh masyarakat madinah

yang heterogen, yaitu terdiri dari umat islam, nasrani, yahudi dan
beberapa suku arab yang belum memeluk islam.
Piagam ini berisi jaminan terhadap hak asasi warga madinah,
seperti jaminan sosial, persamaan hak, kebebsan menjalankan
ibadah dan keyakinan masing-masing warga, juga persamaan
dimata hukum, dan sebagainya.
2.2.2
Perbedaan Prinsip Konsep HAM Islam dengan HAM Barat
HAM menurut pemikiran barat semata-mata bersifat
antroposentris, artinya segala suatu berpusat kepada manusia.
Manusia sangat dipentingkan. Sebaliknya, HAM dilihat dari sudut
pandang islam bersifat teosentris, artinya segala sesuatu berpusat
kepada Tuhan. Dengan demikian Tuhan sangat dipentingkan.
HAM dalam islam tidak semata-mata menekankan kepada HAM
saja melainkan hak-hak itu dilandasi kewajiban asasi manusia
untu mengabdi kepada Allah sebagai penciptanya.
Prinsip-prinsip HAM yang tercantum dalam al-Quran antara lain
Martabat manusia. Manusia mempunyai kedudukan atau
martabat yan tinggi. Martabat yang tinggi yang telah
dianugerahkan Allah pada hakekatnya merupakan fitrah yg tidak
dapat dipisahkan dari diri manusia. (al-Quran surat 17:70 ; 17:33 ;
5:32).
a.
Prinsip persamaan
Pada dasarnya semua manusia sama, karena semuanya adalah
hamba Allah (al-Quran surat 49:13)
b.
Prinsip kebebasan menyatakan pendapat
Al-Quran memerintahkan kepada manusia agar berani
menggunakan akal pikiran terutama untuk mnyatakan pendapat
yang benar.
c.
Prinsip kebebsan beragama
Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia sepenuhnya
mempunyai kebebasan untuk menganut suatu keyakinan yang
disenanginya (al-Quran surat 2:256 ; 88:22 dan 50:45).
d.
Hak atas jaminan sosial
Dalam al-Quran banyak dijumpai ayat-ayat yang menjamin
tingkat dan kualitas hidup minimum bagi seluruh masyarakat (alQuran surat 51:19 ; 70:24 ; 104:2 ; 9:60 dan 2:273).
e.
Hak atas harta benda
Siapapun bahkan penguasa sekali pun tidak diperbolehkan
merampas hak milik orang lain kecuali untuk kepentingan umum.

2.3 Demokrasi dalam Islam


2.3.1
Pengertian Demokrasi dalam Islam
Kata demokrasi berasal dari bahsa latin demos dan cratein
atau cratos. Pengertian demokrasi sering disebutkan sebagai
suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Demokrasi islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan
konsep-konsep islami yang sudah lama berakar, yaitu
musyawarah (syura), persetujuan (ijma), dan penilaian
interpretatif yang mandiri (ijtihad).
Masalah musyawarah disebutkan dalam al Quran 42:28 yang
isinya berupa perintah kepada para pemimpin dalam kedudukan
apapun untuk menyelesaikan urusan mereka dengan cara
bermusyawarah. Dengan demikian tidak terjadi kesewenangwenangan dari seorang terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Bab XII Seni dan Budaya Islam


A. Pengertian dan Hakikat Seni dan Budaya dalam Islam
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan
bahwa : budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Bahasa
inggris sering menggunakan istillah Culture danCivilization untuk
merujuk arti budaya. Sedangkan daalm bahasa arab, terdapat
istillah al-tsaqafah dan al-hadlarah. Para ahli sosial cenderung
berpendapat bahwa kata al-tsaqafah menunjuk pada aspek ide.
Sedangkan kata al-hadlarah menunjuk kepada aspek material.
Maka al-hadlarah lebih tepat sebagai terjemahan dari civilization,
sementara kata al-tsaqafah lebih tepat diterjemahkan
sebagai culture. Sedang kan kebudayaan adalah hasil kegiatan
dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti
kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi
mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (
adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan
kebudaaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi
melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan
kelakuan.

Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan


kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan,
Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1. Kehidupan
Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu
Pengetahuan. Menurut Taylor, kebudayaan adalah kompleks
yang menyangkut pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta
kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai
anggota masyarakat.
Aspek kehidupan Spritual, mencakup kebudayaan fisik, seperti
sarana (candi, patung nenek moyang, arsitektur) , peralatan
(pakaian, makanan, alat-alat upacara). Juga mencakup sistem
sosial, seperti upacara-upacara (kelahiran, pernikahan,
kematian). Adapun aspek bahasa dan kesusteraan mencakup
bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel. Aspek seni dapat
dibagi menjadi dua bagian besar yaitu ; visual arts dan
performing arts, yang mencakup ; seni rupa (melukis), seni
pertunjukan (tari, musik) Seni Teater (wayang) Seni Arsitektur
(rumah,bangunan , perahu). Aspek ilmu pengetahuan meliputi
scince (ilmu-ilmu eksakta) dan humanities (sastra, filsafat
kebudayaan dan sejarah).

B. Wujud Kebudayaan
Menurut Kontjaraningrat, wujud kebudayaan meliputi :
1. Wujud ideal, berupa ide-ide,norma, peraturan, hukum, dan
sebagainya
2. Wujud tingkah laku, berupa aktivitas tingkah laku berpola dari
manuasia dalam masyarakat. Pola tingkah laku yang mendasar
dan dimaksudkan dalam ajaran islam meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a)
Ketakwaan, beriman, cinta , dan takut kepada allah swt.
Tidak ada satupun yang patut disembah dan dihormati selain
allah swt yang membuahkan kerendahan hati dan keberanian
moral dan optimisme.
b)
Penyerahan diri mencakup penghindaran diri dari kejahatan
nafsu hewani, memberikan kemuliaan sejati pada kepribadian,
dan menjamin kelestarian serta usaha untuk kebajikan.

c) Kebenaran menciptakan pola tingkah laku setia pada realita


atau suatu pendekatan realistis terhadap kehidupan dan
ketulusan.
d) Keadilan baik terhadap diri sendiri, maupun orang lain,atau
makhluk lain. Keadilan menjamin penghindaran diri dari
perbuatan tidak adil yang tidak sepatutnya dilakukan terhadap
siapapun. Keadilan pada diri sendiri menjamin upaya yang tinggi
untuk meningkatkan kehidupan yang alamiah,sehat,dan teguh.
e) Cinta terhadap makhluk tuhan, termasuk terhadap diri
sendiri, akan membuahkan upaya yang simpati, kebaikan,rasa
hormat,kemurahan hati dan menghindarkan diri dari melukai
perasaan pihak lain.
f) Hikmah mendorong seseorang untuk menumbuhkan tingkah
laku berdasarkan keilmuan dan mencapai penalaran yang
semakin tinggi terhadap realita dan fenomena.
g) Keindahan membuahkan kemanisan, kelembutan, dan
keluwesan yang muncul dalam moral dan kebiasaan.
3.
Wujud benda, berupa benda hasil karya. Peradaban
sering disebut juga untuk kebudayaan yang memiliki sistem
teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan
sebagainya. Maka, peradaban adalah bagian dari kebudayaan
tapi tidak sebaliknya.

C. Prinsip-Prinsip Kebudayaan Islam


Suatu kebudayaan bisa bergerak kearah yang lebih maju atau
bergerak mundur. Dalam istillah lain, suatu kebudayaan bisa
bergerak kearah yang lebih baik atau bergerak ke arah yang
lebih buruk. Dalam hal ini tergantung pada aktor-aktor
penggeraknya.
Prinsip kebudayaan dalam islam adalah salah satu di
antara dua alternatif. Sepanjang sejarah umat manusia,
kebudayaan hanya mempunyai dua model tersebut yaitu
membangun atau merusak. Kedua model kebudayaan itu hidup
dan berkembang saling berganti (al-anbiya:104)
Di samping itu, prinsip kebudayaan dalam pandangan
islam adalah adanya ruh (jiwa) di dalamnya dan ruh itu tidak lain
adalah wahyu allah (al-quran menurut sunnah rasul-nya), seperti

yang dinyatakan oleh surat asy-syuraa: 52 dan 53. Selain itu tentu
saja ada ruh di luar wahyu.
Jika ruh budaya adalah wahyu allah, maka
kebudayaan bergerak ke arah membangun. Seperti yang
dibuktikan oleh para rasul allah sejak adam sampai nabi
muhammad saw. Sebaliknya jika ruh budaya adalah bukan
wahyu allah, maka kebudayaan bergerak ke arah yang merusak.
Itulah model kebudayaan yang digerakkan firaun, qorun, para
kapitalis, dan komunis.
D. Hubungan Antara Agama dan Budaya
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan
untuk berbudaya meupakan dinamika ilahi. Bahkan menurut
Hegel, keseluruhan karya sadar insane yang beupa ilmu, tata
hokum, tata Negara, kesenian, dan filsafat tak lain daipada
proses realisasi diri dari ruh ilahi.
Sebaliknya, menurut kaum rohaniawan (terutama dari kalangan
Katolik), menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara
agama dan budaya, karena menurutnya, agama merupakan
keyakinan hidup rohani pemeluknya, sebagai jawaban atas
panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman
merupakanpemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan
merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa
ditemukan. Adapun menurut para ahli antropologi, bahwa
agama merupakan salah satu unsure kebudayaan. Hal itu,
karena para ahli antropologi mengatakan bahwa manusia
mempunyai akal pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan
yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol
simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak
mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci
masing-masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayatayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan nalanya.
Disinilah bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia.
Berbagai tingkah laku keagamaan, menurut ahli antropologi,
bukanlah diatur oleh ayat-ayat dari kitab suci, melainkan oleh
interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut. Dari
keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa para ahli
kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam
memandang hubungan antara agama dan kebudayaan.

Sebagai sebuah kenyataan, agama dan kebudayaan dapat


saling mempengaruhi kaena keduanya terdapat nilai dan simbol.
Agama dalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada
Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya
manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem
simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan.
Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang
final, universal, abadi, dan tidak mengenal perubahan (absolut).
Sedangkan kebudayaan bersifat particular, relative dan
temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat
berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan
agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.
Interaksi antara agama dan kebudayaan itu dapat terjadi
dengan :
1.
Agama mempengaruhi kebudayaan dalam
pembentukannya, nilainya adalah agama, tetapi simbolnya
adalah kebudayaan. Contoh: bagaimana solat mempengaruhi
bangunan.
2.
Agama dapat mempengaruhi simbol agama.
Contoh : kebudayaan Indonesia mempengaruhi Islam
dengan pesantren dan kiai yang berasal dari padepokan.
3.
Kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan
simbol agama.Agama dan kebudayaan mempunyai dua
persamaan yaitu, keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol
dan keduanya mudah sekali terancam setiap kali ada peubahan.
Agama dalam persepektif ilmu-ilmu sosial adalah
sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai
konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan
struktur tata normative dan tata sosial serta memahamkan dan
menafsikan dunia sekitar. Sementara seni tradisi meupakan
ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat
tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas,
wawasan filosofis dan kearifan lokal.
Baik agama maupun kebudayaan, sama-sama memberikan
wawasan dan cara pandang dalam mensikapi kehidupan agar
sesuai dengan kehendak Tuhan dan kemanusiaannya. Misalnya,
dalam menyambut anak yang baru lahir, bila agama
memberikan wawasan untuk melaksanakan aqiqah, sementara
kebudayaan yang dikemas dalam marhaban dan bacaan
berjanji memberikan wawasan dan cara pandang lain, tetapi

memiliki tujuan yang sama, yaitu mendoakan kesolehan anak


yang baru lahir agar sesuai dengan harapn ketuhanan dan
kemanusiaan. Demikian juga dalam tahlilan, baika agama
maupun budaya lokal dalam tahlilan sama-sama saling
memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi
orang yang meninggal.
Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat
menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan
demikian islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya
yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu
yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh
dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa
madharat di dalam kehidupannya. Sehingga islam perlu
meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di
masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan
berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaa.
Dari sudut pandang Islam, kebudayaan itu terbagi menjadi tiga
macam :
1. Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan
Islam.
Dalam kaidah fiqh disebutkan : al-adatu muhakkamatun.
Maksudnya, adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang
merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh
di dalam penentuan hukum. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa
kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada
ketentuannya dalam syariat, seperti kadar besar kecilnya mahar
dalam pernikahan.
2. Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan
ajaran Islam, kemudian direkonstruksi sehingga menjadi Islami.
Contohnya adalah tradisi jahiliyah yang melakukan ibadah haji
dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Seperti talbiyah yang sarat dengan kesyirikan, thawaf di Kabah
dengan telanjang direkonstruksi dengan menghilangkan unsurunsur jahiliyahnya menjadi bentuk ibadah yang telah ditetapkan
aturan-aturannya. Dalam konteks seni sastra budaya Arab dalam
bentuk syair-syair Jahiliyah isinya direkonstruksi dengan
memasukkan nilai-nilai Islam.
3. Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.
Contohnya, budaya ngaben yang dilakukan oleh masyarakat
Bali, yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan

dalam suasana yang meriah dan gegap gempita dan secara


besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan
bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada
penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang
sangat besar.
Suatu hal yang harus disadari bahwa asas (fondasi) dari
budaya Islam itu adalah menumbuh kembangkan kesadaran
berketuhanan (rabbaniyah, ribbiyah). Maka dari itu, apapun
bentuk manivestasi dari budaya Islam tersebut didasari dan
dimaksudkan untuk tegaknya nilai-nilai ketuhanan pada setiap
manusia dan tujuannya tidak lain dalam rangka mencari
keredaan Tuhan. Karena itu dapat dipastikan dalam rangka
mencari keredaan Tuhan tersebut, setiap muslim dalam
aktivitasnya mengharapkan balasan dari Tuhan berupa pahala.
E. Seni Islami sebagai Manifestasi Budaya Umat Islam
Seni (fan,art) secara umum merupakan penjelmaan rasa indah
yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan
perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang ditangkap oleh
indera pendengar (seni suara) penglihatan (seni tulis/lukis) atau
dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari, drama) (Ensiklopedi
Indonesia, V/3080,3081). Secara sederhana bisa dikatakan bahwa
esensi dari seni itu adalah apa saja yang mengandung
keindahan atau kebaikan. Penilaian terhadap keindahan atau
kebaikan itu sendiri kadang-kadang sangat subyektif, temporer
(tidak abadi), dan lokal (tidak global).
Dalam Islam, untuk menggambarkan sesuatu itu indah atau baik
dapat digunakan istilah ihsan, shalih, atau jamil. Dalam hadis
dijelaskan ihsan termasuk salah satu dari trilogy arkan al-din
(tiang/fondasi agama), yaitu iman, islam, danihsan. Penjabaran
dari ihsan bedasarkan hadis tersebut adalah engkau
menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika
engkau tidak melihatnya, maka pasti sesungghunya Dia
melihatmu. Sedang kata shalih biasanya disandarkan dengan
kata amal, sehingga menjadi amal shalih, secara harfiyah
bermakna kerja yang baik. Perkataan jamil biasanya
dihubungkan dengan hadis Nabi yang popular, Allah itu indah
(jamil) dan menyenangi keindahan.
Secara definitive, seni menurut Islam pada hakikatnya sebgai
refleksi dan ekspresi dari berbagai cita rasa, gagasan, dan ide

sebgai media komunikasi yang begaya estetis untuk menggugah


citarasa inderawi dan kesadaran manusiawi dalam memahami
secara benar berbagai fenomena, panorama, dan aksioma yang
menyangkut dimensi alam, kehidupan, manusia dan keesaan /
keagungan ketuhanan berdasarkan konsepsi ilahi dan nilai-nilai fiti
yang tertuang dan tesajikan dalam bentuk suara/ucapan,
lukisan/tulisan, geak dan berbagai implementasi dan apresiasi
lainnya. Oleh karena itu tiada satu pun bentuk apresiasi dan karya
seni yang bebas nilai. Maka dalam menilai satu seni sebagai seni
Islam diperlukan criteria dan rambu-rambu yang jelas sehingga
dapat membedakan dan memilahkannya dari kesenian jahiliyah
meskipun bernama ataupun menyebut lafal keislaman.
Di antara kaidah-kaidah (rambu-rambu) yang menjadi criteria
seni Islam tersebut, menurut Yusuf Al-Qaradhawi, adalah :
1.
Harus mengandung pesan-pesan kebijakan dan ajaran
kebaikan di antara sentuhan estetiknya agar
terhindar laghwun (perilaku absurdisme, hampa, sia-sia).
2.
Menjaga dan menghormati nilai-nilai susila Islam dalam
pertunjukkannya.
3.
Tetap menjaga aurat dan menghindari erotisme dan
keseronokan.
4.
Menghindari semua syair, teknik, metode, sarana dan
instrument yang diharamkan syariat terutama yang meniru gaya
khas ritual religious agama lain (tasyabbuh bil kuffar)dan yang
menjurus kemusyrikan.
5.
Menjauhi kata-kata, gerakan, gambaran yang tidak
mendidik atau meracuni fitrah.
6.
Menjaga disiplin dan prinsip hijab.
7.
Menghindari perilaku takhanus (kebancian).
8.
Menghindari fitnah dan praktek kemaksiatan dalam
penyajian dan pertunjukkannya.
9.
Dilakukan dan dinikmati sebatas keperluan dan menghindari
berlebihan (israf dantabdzir) sehingga melalaikan kewajiban
kepada Allah.
Menurut Islam seni bukan sekedar untuk seni yang absurd dan
hampa nilai (laghwun). Keindahan bukan berhenti pada
keindahan dan kepuasan estetis, sebab semua aktivitas hidup
tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal. Seni Islam harus
memiliki semua unsur pembentuknya yang penting yaitu, jiwanya,
prinsipnya, metode, cara penyampaiannya, tujuan dan sasaran.

Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah


menjalankan kebenaran (haq), menegakkan dan membelanya
demi mencari ridha Allah swt, bukan mencari popularitas ataupun
matei duniawi semata. Seni Islam harus memiliki risalah dakwah
melalui sajian seninya yaitu melalui tiga pesan:
1.
Ketauhidan, dengan menguak dan mengungkap
kekuasaan, keagungan dan transdensi (kelemahannya) dalamm
segala-galanya, ekspresi dan penghayatan keindahan alam,
ketakberdayaan manusia dan ketergantungannya terhadap
Allah, prinsip-prinsip uluhiyah dan ubudiyah.
2.
Kemanusiaan dan penyelamatan hak-hak asasi manusia
serta memelihara lingkungan seperti, mengutuk kezhaliman,
penjajahan, perampasan hak, penyalahgunaan wewenang dan
kekuasaan, memberantas kriminalitas, dsb.
3.
Akhlak dan Kepribadian Islam, seperti pengabdian,
pengorbanan, kesetiaan, kepahlawanan , dll. Juga penjelasan
nilai-nilai Islam dalam berbagai segi menyangkut keluarga dan
kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, dan politik.
Puncak dari manifestasi seni Islam adalah Al-Quran. Maka dari itu
ukuran jiwa seni bagi setiap Muslimitu adalah seberapa besar
kesadaran dan penghayatan nilai-nilai Al-Quran pada dirinya.
Penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Quran tersebut
menumbuhkan kesadaran terhadap ayat-ayat Tuhan lainnya,
yakni jagad raya ini (ayat kauniyah). Artinya, estetika dan
harmoni seni Islam tidak saja diwarnai oleh nilai-nilai Al-Quran.
F. Masjid sebagai pusat peradaban islam
Masjid pada umumnya dipahami oleh masyarakat sebagai
tempat ibadah khusus seperti shalat. Padahal masjid lebih luas
daripada sekedar tempat shalat. Masjid dijadikan sebagai symbol
persatuan umat islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi
mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan orisinil
sebagai pusat peribadatan dan peradaban. Masjid Al-Azhar di
Mesir merupakan salah satu contoh yang sangat dikenal luas
kaum muslimin indonesia. Masjid ini mapu memberikan beasiswa
bagi para pelajar dan mahasiswa. Bahkan pengentasan
kemiskinan pun merupakan program nyata masjid.
Tapi sangat disesalkan masjid kemudian mangalami penyempitan
fungsi, apalagi adanya intervensi pihak-pihak tertentu yang
menjadikan masjid sebagai alat untuk memperoleh dan

mempertahankan kekuasaan. Masjid hanya mengajari umat


tentang baca tulis Al-quran tanpa pengembangan wawasan
dan pemikira islami dan tempat belajar umat tentang ilmu fiqih
ibadah, bahkan lebih sempit lagi yaitu ibadah praktis dari salah
satu mahzab. Kita mungkin tidak akan menemukan masjid yang
memiliki kegiatan yang terprogram secara baik dalam
pembinaan keberagaman umat.
Pada pengembangan berikutnya muncul kelompok-kelompok
yang sadar untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana
mestinya. Kesadaran ke arah optimalisasi fungsi masjid kembali
tumbuh terutama di kalangan para intelektual muda, khususnya
para aktivis masjid. Kini mulai tumbuh kesadaran umat akan
pentingnya peranan mesjid untuk mencerdaskan dan
mensejahterakan jamaahnya. Meluasnya fungsi dan peranan
masjid ini seiring dengan laju pertumbuhan umat islam di
Indonesia, baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang
tercermin dalam pertambahan jumlah penduduk muslim dan
peningkatan jumla intelektual muslim yang sadar dan peduli
terhadap peningkatan kualitas umat islam Dalam syariat islam
masjid memiliki dua fungsi utama yaitu: pertama sebagai pusat
ibadah ritual dan kedua berfungsi sebagai pusat ibadah sosial.
Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya bahwa fungsi utama
mesjid adalah sebagai pusat pembinaan umat islam.
G. Nilai-nilai Islam dalam Budaya Indonesia
Islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayanya. Oleh
karena itu Islam besar dari negeri Arab, maka Islam yang masuk
ke Indonesia tidak terlepas dari budaya Arab. Pada awalnya
masuknya dakwah islam ke Indonesia, dirasakan sangat sulit
membedakan mana jaran islam dan mana budaya arab.
Sebagaimana para wali di tanah jawa yang mendakwahkan
ajaran islam melalui bahasa dan budaya. Lebih jauh lagi nilai-nilai
islam sudah menjadi bagian yang tidak dapat di pisahkan dari
kebudayaan mereka. Seperti upacara adat dan penggunaan
bahasa sehari-hari. Istilah-istilah arab yang masuk ke dalam
budaya jawa, seperti dalam pewayangan actor janoko yang
tidak lain dalam bahasa Arab adalah jannaka. Empat sekawan
semar, gareng, petruk, dan bagong merupakan produk
personifikasi dari ucapan Ali Bin Abi thalib itsmar khairan,fatruk
ma bagha(berbuatlah kebaikan, tinggalkan perbuatan sia-sia).

Dan masih banyak lagi istilah-istilah dalam bahasa arab lainnya,


yang diadopsi menjadi bahasa indonesia.

H. Islam dan Budaya Lokal


Sebagai salah satu agama yang universal, risalah islam ditunjukan
untuk semua umat manusia, segenap ras, dan bangsa serta untuk
semua lapisan masyarakat. Universalisme islam menampakkan diri
dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah
dalam ajaran-ajarannya.ajaran-ajaran islam yang mencakup
aspek akidah, syariah dan akhlak, menampakkan perhatiannya
yang sangat besar terhadap persoalan utam kemanusiaan. Hal
ini dapat dilihat dari lima tujuan umum syariah yaitu; menjamin
keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, harta. Selain itu risalah
islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social
values) yang luhur, yang biasa dikatakan sebagai tujuan dasar
syariah yaitu keadilan, ukhuwwah (persaudaraan),
takaful(jaminan keselamatan), kebebasan dan kehormatan.
Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti
sebenarnya. Refleksi dan manifestasi kosmopolitanisme islam bias
dilacak dalam etalase sejarah kebudayaan sejak rasulullah, baik
dalam format non material sepertimkonsep-konsep
pemikiran,maupun yang material seperti arsitektur bangunan dan
sebagainya.
Walaupun demikian , menurut Ibnu Khaldun, abhwa diantara hal
aneh tapi nyata bahwa mayoritas ulama dan cendekiawan
dalam sejarah perkembangan islam adalahajam(non
arab). Maka jadilah ilmu-ilmu ini semua ilmu-ilmu keterampilan
yang membutuhkan pengajaran. Begitu juga iintelektualintelektual dalam bidang hadits, ushul fiqih, ilmu kalam dan tafsir.
Dari paparan di atas, menunjukkan kepada kita betapa
kebudayaan dan peradaban islam dibangun di atas kombinasi
nilai ketaqwaan (Q.S al-Hujurat:13), persamaan dan kreativitas
dari jiwa islam yang universal (Q.S al-Mulk:2) dengan akulturasi
timbal balik dari budaya-budaya local luar arab yang
terislamkan, tanpa harus mempertentangkan antara Arab dan
non Arab.

I. Local Wisdom (Kearipan Lokal)


Gagasan pribumisasi Islam, secara genelogis dilontarkan pertama
kali oleh Abdurahman Wahid pada tahun 1980an. Dalamg
'Pribumisasi Islam' tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran
yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam
kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan
identitasnya masing-masing. Inti 'Pribumisasi Islam' adalah
kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama
dan budaya, sebab polarisasi demikian memang tidak
terhindarkan.Pribumisasi Islam telah menjadikan agama dan
budaya tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam
pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya
yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan
jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan
budaya. 'Pribumisasi Islam' justru memberi keanekaragaman
interpretasi dalam praktek kehidupan beragama (Islam) di setiap
wilayah yang berbeda-beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi
dipandang secara tunggal, melainkan beraneka ragam. Tidak
ada lagi anggapan Islam yang di Timur Tengah sebagai Islam
yang murni dan paling benar, karena Islam sebagai agama
mengalami historitas yang terus berlanjut.
'Islam Pribumi' sebagai jawaban dari Islam otentik mengandaikan
tiga hal. Pertama, 'Islam Pribumi' memiliki sifat kontekstual, yakni
dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman
dan tempat. Perubahan waktu dan perbedaan wilayah menjadi
kunci untuk menginterpretasikan ajaran. Dengan demikian, Islam
akan mengalmi perubahan dan dinamika dalam
merespons perubahan zaman. Kedua, 'Islam Pribumi' bersifat
progresif, yakni kemajuan zaman bukan dipahami sebagai
ancaman terhadap penyimpangan ajaran dasar agama (Islam),
tetapi dilihat sebagai pemicu untuk melakukan respons kreatif
secara intens. Ketiga, 'Islam Pribumi' memiliki problem-problem
kemanusiaan secara universal tanpa melihan perbedaan agama
dan etnik. Dengan demikian, Islam tidak kaku dan rigid dalam
menghadapi realitas sosial masyarakat yang selalu
berubah. Sejak kehadiran Islam di Indonesia, para ulama telah
mencoba mengadopsi kebudayaan lokal secara selektif.
Kalangan ulama Indonesia telah berhasil mengintegrasikan
antara keislaman dan keindonesiaan, sehingga apa yang ada di
daerah ini telah dianggap sesuai dengan nilai Islam, karena Islam

menyangkut nilai dan norma, bukan selera atau ideologi apalagi


adat.
Berbeda dengan agama lain, Islam masuk Indonesia dengan
begitu elastis. Baik itu yang berhubungan dengan pengenalan
simbol-simbol Islami (misalnya bentuk bangunan peribadatan)
atau ritus-ritus keagamaan (untuk memahami nilai-nilai Islam).
Inilah pribumisasi Islam yang dilakukan para penyebar Islam di
tanah air, khususnya para Wali Songo di Jawa, yang
menggunakan media budaya sebagai sarana mendakwahkan
Islam. Dengan langkah persuasif ini, terbukti Islam bisa diterima
dengan baik sebagai agama baru setelah sebelumnya
penduduk lokal menganut animisme, dinamisme atau Hindu
Budha selama bertahun-tahun lamanya.Yang patut diamati pula,
kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap
konsep-konsep dalam simbol-simbol Islam, sehingga seringkali
tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang
penting dalam kebudayaan populer di Indonesia.

BAB XII Sains Dan Teknologi dalam Islam


B. Landasan Agama Tentang Sains dan Tekonologi
Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi
kemanusiaan,sangat mendorong dan mementingkan umatnya
untuk mempelajari, mengamati, memahami, dan merenungkan
segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain islam sangat
mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Berbeda dengan pandangan barat yang melandasi
pengembangan ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi
yang matre dan sekular, maka islam mementingkan
pengembangan dan penguasaan iptek untuk menjadi sarana
ibadah pengabdian muslim kepada allah S.W.T, dalam
mengemban amanat sebgai khalifatullah (wakil allah) di muka
bumi,

Ada lebih dari 800 ayat dalam al-quran yang mementingkan


proses perenungan, pemikiran, dan pengamatan terhadap
berbagai gejala alam, untuk di tafakuri dan menjadi bahan dzikir
kepada allah. Diantaranya (Q.S Ali imron 3:190-191) dan (Q.S.
mujadillah 58:11). Bagi umat islam keduanya adalah merupakan
ayat-ayat ke mahakuasaan dan keagungan Allah S.W.T. Dengan
demikian agama dan ilmu pengetahuan dalam islam tidak
terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah
dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya
saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat
secara sinergis, holistik dan integral.
Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern.
Justru islam sangat mendukung umatnya untuk me-research dan
bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi.
Bagi islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat allah
yang perlu di gali dan dicari keberadaannya ayat-ayat allah
yang tersebar di alam semesta ini.
C. Urgensi Penguasaan Sains dan Teknologi bagi Kemajuan
Umat Islam
Di dalam Al-Quran terdapat ratusan ayat-ayat yang
menerangkan tentang ilmu, ajakan untuk berfikir dan melakukan
penalaran seperti mengamati dan menyelidiki dengan seksama,
serta sanjungan kepada ilmuwan yang suka menggunakan akal
fikirannya. Ini menjadi bukti sangat pentingnya kedudukan ilmu
dalam Islam termasuk sains dan teknologi.
Ilmu merupakan sarana pencari dan mendekati kebenaran dan
menyadarkan manusia akan posisi dirinya, karena dengan ilmu
dapat menambah referensi baru untuk mendapatkan informasi
lebih banyak tentang kebenaran.
Di masa Khulafa Al-Rasyiddin, Islam berkembang pesat. Perluasan
wilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya
penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru dunia. Penakhlukan
wilayah-wilayah adalah sebagian dari upaya untuk menyebarkan
Islam, bukan menjajahnya. Itu sebabnya, banyak orang yang
kemudian tertarik kepada Islam.
Salah satu contoh menarik adalah ketika Shalahuddin Al-Ayubi
merebut kembali Yerusalem dari tangan Pasukan Salib Eropa, ia
malah melindungi jiwa dan harta 100 ribu orang Barat.

Shalahuddin juga memberi ijin ke luar kepada mereka dengan


sejumlah tebusan kecil oleh mereka yang mampu, juga
membebaskan sejumlah orang-orang miskin. Panglima Islam ini
pun membebaskan 85 ribu orang dari Pasukan Salib Eropa dan
saudaranya Al-Malikul Adil membayar tebusan untuk 2 ribu orang
laki-laki di antara mereka.
Padahal 90 tahun sebelumnya, ketika pasukan Salib Eropa
merebut Baitul Maqdis, mereka justru melakukan pembantaian.
Para sejarawan muslim menyebutkan jumlah mereka yang
dibantai di Masjid Aqsa sebanyak 70 ribu orang. Sedangkan para
sejarawan Perancis sendiri tidak mengingkari pembantaian
mengerikan itu, bahkan mereka kebanyakan menceritakannya
dengan bangga.
Fakta ini cukup membuktikan betapa Islam mampu memberikan
perlindungan kepada penduduk yang wilayahnya ditakhlukan.
Karena perang dalam Islam memang bukan untuk
menghancurkan, tetapi memberi kehidupan.
Empat belas abad yang silam, Allah Taala telah mengutus Nabi
Muhammad S.A.W sebagai panutan bagi umat manusia. Beliau
merupakan Rasul terakhir yang membawa agama terakhir yakni
Islam. Masa kejayaan Islam telah menjadi bukti sejarah bahwa
dengan mengamalkan ajaran Al-Quran umat Islam sendiri akan
menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan di atas bumi
ini. Di masa kejayaan Islam, pimpinan Islam berada di tangan
tokoh-tokoh yang setiap orangnya patuh sepenuhnya dan setia
kepada Nabi Muhammad S.A.W, baik secara keimanan,
keyakinan, perbuatan, akhlak, pendidikan, kesucian jiwa,
keluruhan budi maupun kesempurnaan. Pimpinan umat Islam
sesudah wafatnya Nabi Muhammad S.A.W adalah Abubakar,
Umar, Utsman dan Ali merupakan pemimpin duniawi dengan
jabatan Khalifah yang menganggap kedudukan mereka itu
sebagai pengabdian pada umat Islam, bukan sebagai alat untuk
mendapatkan kekuasaan mutlak dan kemegahan.
Untuk era globalisasi saat ini Iptek menjadi kekuatan dunia
kemajuan Negara dan Bangsa. Berikut ini urgensi penguasaan
sains dan teknologi :
1.
Memperoleh kemudahan
2.
Mengenal dan mengagungkan Allah untuk mencapai
kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat
3.
Meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah

4.
Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah
5.
Memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup
6.
Meningkatkan kemampuan memanfaatkan kekayaan alam
7.
Meningkatkan harkat martabat manusia
8.
Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan
kewajiban
9.
Meningkatkan rasa percaya diri
10. Meningkatkan produktifitas kerja
11. Memperoleh amal jariah bila diamalkan
12. Memiliki keunggulan hidup dunia akhirat
D. Dampak Penggunaan Sains dan Teknologi Bagi Umat Manusia
Manusia sebagai makhluk individu memiliki perbedaan
antara satu dengan manusia yang lain dalam hal
kepribadian,pola pikir,kelebihan,kekurangan untuk mencapai
cita-cita. Sehingga sebagai pribadi yang khas tersebut manusia
berusaha mengeluarkan segala potensi yang ada pada dirinya
dengan cara menciptakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
hidup tanpa bantuan orang lain. Potensi-potensi manusia sebagai
makhluk hidup dapat dituangkan dalam sebuah sains dan
teknologi.
Kemajuan sains dan teknologi dapat dirasakan di berbagai
aspek, serta memiliki berbagai dampak positif dan negatif. Kalau
penggunaan sains dan teknologi berdasarkan tuntunan agama,
terutan islam, maka hal ini dapat menimbulkan kehidupan yang
positif, tetapi sebaliknya jika digunakan secara negatif maka
dapat menimbulakan kehidupan yang destruktif/merusak.
Sains dan teknologi yang boleh digunakan dan
dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah islam.
Keharusan standar syariah ini didasarkan kepada banyaknya
ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang sains dan teknologi.
Ketentuan Allah dan Rasul-Nya seperti:
ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan
janganlah kamu pemimpin-pemimpin selain Nya. Amat sedikitnya
kamu mengambil pelajaran (dari padanya)
Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada
perintah kami atasnya maka perbuatan itu ditolak

Dampak Positif

1.
Menyadarkan umat Islam untuk selalu mengenal dan dekat
dengan sang penciptanya Allah S.W.T, karena sumber segala
sains dan teknologi yang diciptakan dan dikembangkan oleh
manusia pada hakikatnya dari Allah S.W.T, terutama bersumber
pada suroh/ayat kauniyah.
2.
Mengantarkan manusia kepada era kehidupan yang maju,
modern dan sejahtera. Menurut ajaran agama islam, sains dan
teknologi harus dipergunakan untuk mencapai kehidupan
bahagia dunia dan akhirat.
3.
Mempercepat dan mempermudah komunikasi.
4.
Mempercepat dan mempermudah transportasi ke suatu
tempat.
5.
Pembuatan senjata dan peralatan perang untuk menjaga
keamanan dari serangan musuh.
6.
Komputerisasi dan informasi.

Dampak Negatif
1.
Informatika. Kemajuan teknologi dan informasi faktanya juga
membuat dunia kejahatan makin canggih. Praktek-praktek
pencurian melalui jaringan komputer dan internet,seperti
pembobolan bank, penipuan dagang via internet.
2.
Persenjataan. Akibat yang ditimbulkan senjata modern dan
canggih, bisa lebih menimbulkan kerusakan dan kerugian yang
lebih besar atau korban yang jauh lebih banyak jumlahnya
ketimbang senjata konvesional, juga karena dengan itu jumlah
korban yang dibunuh dapat lebih banyak daripada perang
tradisional.
3.
Biologi. Dengan teknologi, kalangan ahli biologi dapat
mengembangkan apa yag disebut sebagai clonning yang bisa
diterapkan pada tumbuhan, hewan, dan sangat mungkin juga
pada manusia.
4.
Medis. Kemajuan teknologi kedokteran sangat pesat,
banyak peralatan medis mutakhir banyak ditemukan. Kecuali
dampak yang positif, sudah tampak bahwa peralatan modern itu
juga membawa dampak negatif.
5.
Lingkungan hidup. Dari banyak pengalaman, kerusakan
lingkungan akibat pembangunan industri masih sering terjadi.
Sistem pengelolaan industri yang tidak ditata secara tepat dan
baik, menyebabkan lingkungan bukan hanya kotor , tapi juga
tercemar.

6.
Membawa kepada kekhafiran atau kekuasaan dunia.
7.
Menumbuhkan sikap sombong dan kecongkakan.
8.
Memodernisir kepuasaan hawa nafsu manusia.
9.
Menutupi kefasikan diri.
10. Menambahkan kepintaran berdebat dengan memperhalus
kedustaan serta membanggakan diri.
11. Gaya hidup yang cenderung ke arah negatif.
Mengingat bahaya dari dampak negatif yang ditimbulkan dari
pengembangan dan penerapan sains dan teknologi diatas perlu
dikembangkan paradigma islam dalam melihat hubungan
agama dengan sains dan teknologi. Islam memandang bahwa
agama merupakan dasar untuk mengatur kehidupan yang
memiliki konsep aqidah sebagai landasan sains dan teknologi
dan syariah sebagai standirisasi benar salahnya atau boleh atau
tidak bolehnya pemanfaatan dan penerapan sains dan
teknologi.
Implikasi lain dari prinsip ini, yaitu Al-Quran dan Al-Hadis
hanyalah standar iptek, dan bukan sumber iptek, adalah bahwa
umat islam boleh mengambil iptek dari kaum non muslim. Dulu
Nabi S.A.W menerapkan penggalian parit di sekeliling Madinah,
padahal strategi militer itu berasal dari tradisi kaum Persia yang
beragama Majusi. Dulu Nabi S.A.W juga pernah memerintahkan
dua sahabatnya mempelajari teknik persenjataan ke Yaman,
padahal di Yaman dulu penduduknya adalah Ahli Kitab (kristen).
Umar bin Khatab pernha mengambil sistem administrasi dan
pendataan Baitul Mal (Kas Negara), yang berasal dari romawi
yang beragama kristen. Jadi, selama tidak bertentangan dengan
aqidah dan syariah islam, iptek dapat diadopsi dari kaum kafir.
E. Peran dan Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Alam dan
Lingkungan
Allah menciptakan manusia dengan dua fungsi yaitu sebagai
hamba Allah (Abdun) dan sebagai khalifatullah dil ardh. Kedua
fungsi ini merupakan keterpaduan tanggung jawab yang
melahirkan dinamika hidup yang sarat dengan kreatifitas dan
alamiah yang selalu berpihak kepada nilai-nilai kebenaran.
Sebagai Abdun, manusia berarti seorang hamba yang taat dan
patuh kepada perintah Allah. Keengganan manusia

menghambakan diri kepada Allah S.W.T sebagai pencipta akan


menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh
sang maha pencipta berupa potensi-potensi dan keikhlasan
manusia menghambakan dieinya kepada Allah akan mencegah
kehambaan kepada sesama manusia termasuk kepada dirinya
sendiri.
Sebagai Khalifah, manusia memiliki tanggung jawab tehadap diri
sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun
lingkungan alam. Manusia mendapat amanah dari Allah untuk
memelihara alam agar terjaga kelestariannya dan
keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia. Untuk itu
Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi
manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan
ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh
nafsu amarah.
Dalam kaitan dengan lingkungan, mereka mempunyai tanggung
jawab untuk menjaga kelestarian dari kelompok-kelompok
perusak. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini,
tidak bisa dipungkiri banyak menghantarkan manusia kepada
kemudahan efektifitas, dan efisiensi hidup. Dengan IPTEK manusia
telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sebagai sesuatu
yang mustahil. Namun disisi lain, kemajuan IPTEK membawa akses
negatif dan destruktif yang merugikan dan mengancam
keberlangsungan umat manusia dan alam lingkungan. Proses
dehumanisasi dan terancamnya keseimbangan ekologis dan
kelestarian alam, merupakan imbas negatif dari kemajuan IPTEK.
Oleh karena itu, ilmuwan harus dibekali dengan iman dan takwa.
Ilmuwan yang beriman dan bertakwa akan memanfaatkan
kemajuan IPTEK menjaga, memelihara, melestarikan,
keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan ekologi dan
bukan untuk fasad fil ardhi.
Ilmuan harus mempunyai tanggung jawab, karena diberi
amanah Allah untuk berbuat baik terhadap lingkungannya (AlAhzab:72). Seorang ilmuan yang berpegangan pada ajaran Allah
dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan
ditekankan, agar tidak mengikuti perintah orang yang membuat
kerusakan di bumi tanpa mengadakan kebaikan (AsySyuara:151-152). Allah S.W.T dan Rasulnya telah memperingatkan
manusia agar jangan melakukan kerusakan di bumi. Namun,
banyak manusia yang mengingkari peringatan tersebut.

Seorang Ilmuan Islam yang tetap berpegang teguh pada ajaran


Allah dan giat melaksnakan penelitian, akan berhasil dalam
menemukan rumus untuk membendung kerusakan alam yang
lebih parah dan mampu mengatasi kerusakan yang telah terjadi.
Manusia diberi keistimewaan berupa kebebasan untuk memilih
dan berkreasi sekaligus menghadapkannya dengan tuntutan
kodratnya sebagai makhluk psiko-fisik. Akan tetapi dia harus sadar
akan keterbatasannya yang menuntut ketaatan dan ketundukan
terhadap aturan Allah, baik terhadap perintah untuk beribadah,
maupun sunatullah. Pepaduan antara dua tugas ini, yaitu
sebagai abdun dan khalifah akan mewujudkan manusia yang
ideal yakni manusia yang selamat dunia dan akhirat

Bab xiii Ekonomi Islam


Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku
ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan
agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana
dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.
Kata Islam setelah Ekonomi dalam ungkapan Ekonomi Islam
berfungsi sebagai identitas tanpa mempengaruhi makna atau
definisi ekonomi itu sendiri. Karena definisinya lebih ditentukan
oleh perspektif atau lebih tepat lagi worldview yang digunakan
sebagai landasan nilai.
Sedang ekonomi adalah masalah menjamin berputarnya harta
diantara manusia, sehingga manusia dapat memaksimalkan
fungsi hidupnya sebagai hamba Allah untuk mencapai falah di

dunia dan akherat (hereafter). Ekonomi adalah aktifitas yang


kolektif.
Berikut ini definisi Ekonomi dalam Islam menurut Para Ahli :
S.M. Hasanuzzaman, ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan
dan aplikasi ajaran-ajaran dan aturan-aturan syariah yang
mencegah ketidakadilan dalam pencarian dan pengeluaran
sumber-sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia
dan memungkinkan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban
mereka terhadap Allah dan masyarakat.
M.A. Mannan, ilmu ekonomi Islam adalah suatu ilmu
pengetahuan social yang mempelajari permasalahan ekonomi
dari orang-orang memiliki nilai-nilai Islam.
Khursid Ahmad, ilmu ekonomi Islam adalah suatu upaya
sistematis untuk mencoba memahami permasalahan ekonomi
dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan
permasalahan tersebut dari sudut pandang Islam.
M.N. Siddiqi, ilmu ekonomi Islam adalah respon para pemikir
muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi zaman mereka.
Dalam upaya ini mereka dibantu oleh Al Quran dan As Sunnah
maupun akal dan pengalaman.
M. Akram Khan, ilmu ekonomi Islam bertujuan mempelajari
kesejahteraan manusia (falah) yang dicapai dengan
mengorganisir sumber-sumber daya bumi atas dasar kerjasama
dan partisipasi.
Louis Cantori, ilmu ekonomi Islam tidak lain merupakan upaya
untuk merumuskan ilmu ekonomi yang berorientasi manusia dan
berorientasi masyarakat yang menolak ekses individualisme
dalam ilmu ekonomi klasik.
Ciri Ekonomi Islam
Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya
prinsip-prinsip yang mendasar saja. Karena alasan-alasan yang
sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak sekali membahas
tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai
produsen, konsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit
tentang sistem ekonomi. Ekonomi dalam Islam harus mampu
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku
usaha. Selain itu, ekonomi islam menekankan empat sifat, antara
lain:
Kesatuan (unity)

Keseimbangan (equilibrium)
Kebebasan (free will)
Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (khalifah) Tuhan di dunia tidak mungkin
bersifat individualistik, karena semua (kekayaan) yang ada di
bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah
kepercayaannya di bumi. Didalam menjalankan kegiatan
ekonominya, Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang
dari segi bahasa berarti "kelebihan".
Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:
Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau
titipan dari Allah swt kepada manusia.
Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang
dikuasai oleh segelintir orang saja.
Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan
penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak
orang.
Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan
di akhirat nanti.
Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi
batas (nisab)
Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Konsep Dasar
Melihat keadaan keuangan modern saat ini yang banyak
dipengaruhi oleh konsep kapitalis yang membolehkan banyak
apa yang telah dilarang dalam agama Islam, ummat Islam
akhirnya berusaha mencari suatu alternatif sistem keuangan yang
dapat menghindarkan diri mereka dari berbagai macam
kegiatan dan transaksi yang bertentangan dengan hukum yang
mereka fahami dalam agama mereka.
Berbagai usaha telah dilaksanakan untuk mewujudkan suatu
konsep keuangan (dan ekonomi) alternatif yang dapat
menghindarkan ummat Islam dari berbagai transaksi yang bersifat

paradoks tersebut. Seperti bunga (interest) yang sangat


diharamkan dalam ajaran Islam dan sangat bertentangan
dengan Al-Quran dan Al-Hadits dilaksanakan dalam banyak
transaksi perbankan dan pasar keuangan modern. Belum lagi
elemen gharar (uncertainty) dan maysir (gambling) yang
terdapat dalam beberapa kontrak asuransi dan beberapa pasar
keuangan derivatif lainnya, yang menyebabkan kegelisahan di
hati banyak Ummat Islam.
Dengan konsep dasar merujuk kepada Ayat-ayat dan Haditshadits yang menolak banyak kegiatan transaksi dan kontrak ini,
beberapa usaha kaum Muslim telah berhasil membuat suatu
konsep dasar keuangan Islam untuk mewujudkan suatu konsep
keuangan alternatif yang berlandaskan Syariah yang mereka
dambakan selama ini. Bermula dengan usaha Ahmed El-Naggar
pada tahun 1963 di Mesir dengan mendirikan sebuah bank lokal
yang menghindarkan segala transaksinya dari riba
(berlandaskan syariah) dan diikuti oleh banyak usaha akademisi
dan praktisi dari kaum Muslim lainnya.
Dan kini, perkembangan keuangan Islam semakin pesat di
berbagai belahan dunia Timur dan Barat, dan semakin diminati
oleh banyak orang untuk dipelajari secara lebih mendalam.
Perbedaan Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Konvensional.
Krisis ekonomi yang sering terjadi ditengarai adalah ulah sistem
ekonomi konvensional, yang mengedepankan sistem bunga
sebagai instrumen provitnya. Berbeda dengan apa yang
ditawarkan sistem ekonomi syariah, dengan instrumen provitnya,
yaitu sistem bagi hasil. Sistem ekonomi syariah sangat berbeda
dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi
syariah bukan pula berada ditengah-tengah ketiga sistem
ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang
lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua
tanggungjawab kepada warganya serta komunis yang ekstrim,
ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta
perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di transaksikan.

Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan


bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan
dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluasluasnya kepada setiap pelaku usaha