Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Morbus Hansen (MH) atau lepra atau sering disebut kusta merupakan
penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang
ditemukan oleh Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 di Norwegia. Bakteri
ini mempunyai sifat intraselular obligat, aerob, tahan asam dan alkohol serta
memunyai afinitas terhadap makrofag dan sel Schwann. Bentuknya basil Gram
positif, ukuran 3 -8m x 0,5m dan dapat bereproduksi maksimal pada suhu 27C
30C sehingga tumbuh dengan baik pada jaringan yang lebih dingin. Saraf
perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian
atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. [1]
Indonesia menempati urutan ke tiga terbanyak di dunia setelah India dan
Brasil untuk penderita kusta. Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan
penyebaran daerahnya meliputi Sumenep lalu Probolinggo, Jember, Pamekasan,
Bangkalan dan Lumajang. [2,3]
Cara penularannya belum diketahui pasti hanya berdasarkan anggapan
klasik yaitu melalui kontak langsung antar kulit yang lama dan erat serta secara
inhalasi karena M.leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet.

[1]

Menyerang penderita pada kelompok usia 25-35 tahun. Faktor predisposisinya


antara lain penduduk pada area yang endemik, memiliki kerentanan lepra dalam
darah, kemiskinan (malnutrisi), dan kontak dengan affected armadillos.[4]
Gejala dan tanda utama dari kusta antara lain lesinya dapat berbentuk
bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau kemerahan (erithmatous) yang mati
rasa (anasethesi), penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi saraf serta
ditemukanya BTA dalam kerokan jaringan kulit.[5]

Kusta dahulu dikenal dengan penyakit yang tidak dapat sembuh dan
diobati, namun sejak tahun 1980 dimana program Multi Drug Treatment (MDT)
mulai diperkenalkan, kusta dapat diterapi dengan prognose lebih baik.
Keberhasilan terapi dimulai dari anamnesa, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
penunjang yang cermat dapat menjurus kediagnosa yang tepat. Terapi yang
diberikan sesuai dengan diagnosa yang didapatkan, sehingga pengobatanya dapat
optimal dan dapat memutus mata rantai penularan serta mencegah kecacatan lebih
jauh dari penyakitnya. [1]

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara mendiagnosis pasien tersebut ?
2. Apa saja diagnosis banding yang sesuai dengan pasien tersebut ?
3. Mengapa setelah pasien berobat ke puskesmas tetap tidak sembuh ?
4. Bagaimana cara penatalaksanaan dari Morbus Hansen tipe Multibasiler ?

BAB II
KASUS

2.1

2.2

IDENTITAS

Nama penderita

: Ny. Siti Asia

No. RM

: 175766

Umur

: 30 tahun

Alamat

: Wonolangan, Probolinggo

Pekerjaan

: Petani jagung

Status

: Sudah menikah

Tanggal pemeriksaan

: 30 Januari 2014

ANAMNESA

Keluhan Utama
Muncul benjolan warna merah ditelinga kanan

Riwayat Penyakit Sekarang

Benjolan warna merah ditelinga kanan muncul sejak 1 bulan yang


lalu.

Benjolan tidak terasa gatal, tidak nyeri.

Kedua tungkai bawah bagian depan terlihat kering seperti ada sisik.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Dahulu tidak pernah sakit seperti ini.

Riwayat keluarga

Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini.

Riwayat sosial

Tetangga maupun teman dekat tidak ada yang sakit seperti ini.

Riwayat pengobatan

Sudah pernah diobatkan di puskesmas dua kali. Diberi obat warna


kuning, putih dan hijau tetapi tidak sembuh.

2.3

PEMERIKSAAN KLINIS

Status Dermatologi

a.

Lokasi

: telinga kanan bagian bawah

Distribusi

: terlokalisir

Ruam

: infiltrat eritematous, batas tegas, bentuk anular,

dengan diameter 5cm.

b.

Lokasi

: tungkai bawah bagian depan kaki kanan dan kiri

Distribusi

: terlokalisir

Ruam

: patch hipopigmentasi, batas tegas, bentuk oval,

ukuran 20 x 9 cm, dengan skuama dibagian atasnya.


Pemeriksaan Saraf Tepi
1. N. auricularis magnus kanan : ada penebalan, diameter sebesar 1 cm,
panjangnya 4-5 cm, bentuk seperti kabel, lunak, nyeri.
2. N. ulnaris

: Tidak dilakukan

3. N. peroneus lateralis

: Tidak dilakukan

4. N. tibialis posterior

: Tidak dilakukan

Pemeriksaan Fungsi Saraf


A. Tes sensorik
1. Rasa raba

: Tidak dilakukan

2. Rasa tajam

: Tidak dilakukan

3. Suhu

: Tidak dilakukan

B. Tes Otonom
1. Tes keringat dengan tinta: Tidak dilakukan
2. Tes Pilokarpin

: Tidak dilakukan

3. Tes Motoris pada n. ulnaris, n.medianus, n.radialis, dan n. peroneus : Tidak


dilakukan

2.4

DIAGNOSIS BANDING

1. Morbus Hansen tipe Multibasilar


2. Psoriasis
3. Tinea Korporis

2.5

PEMERIKSAAN LAB/PENUNJANG

Usulan pemeriksaan penunjang :


Pemeriksaan bakteriologik untuk mendapatkan sel Virchow yang didalamnya
terdapat Mycobacterium leprae.[1]

2.6

DIAGNOSIS
Morbus Hansen tipe Multibasilar

2.7

TERAPI
Multi Drug Treatment (MTD) tipe Multibasilar [1]

Rifampisin 600 mg setiap bulan, dalam pengawasan

DDS 100 mg setiap hari

Klofazimin 300 mg setiap bulan, dalam pengawasan, diteruskan 50


mg sehari atau 100 mg selama sehari atau 3 kali 100 mg setiap
minggu.

SARAN [1]

2.8

Memberi petunjuk sederhana, misalnya :


5

Memakai sepatu untuk melindungi kaki yang telah terkena.

Memakai sarung tangan bila bekerja dengan benda yang tajam atau panas

Memakai kacamata untuk melindungi mata.

Diajarkan cara perawatan kulit sehari-hari, misalnya :

Memeriksa ada tidaknya memar, luka atau ulkus.

Tangan dan kaki direndam, disikat dan diminyaki agar tidak kering dan
pecah.

Pemeriksaan pada keluarga yang tinggal serumah.

Obat diminum dengan teratur dalam pengawasan.

BAB III
PEMBAHASAN

Dari identitas pasien didapatkan data bahwa pasien dengan jenis kelamin
perempuan, usia 30 tahun, bertempat tinggal di Wonolangan Probolinggo, status
sudah menikah, pekerjaan sebagai petani jagung. Dari usia pasien yaitu 30 tahun
dapat dikaitkan dengan kelompok usia dengan frekuensi tertinggi menderita kusta
yaitu 25-35 tahun dengan perbandingan berdasarkan jenis kelamin sama antara
laki-laki dan perempuan. Pasien bertempat tinggal di desa Wonolangan
Kabupaten Probolinggo, hal ini sesuai dengan daerah endemik dari kusta di
Indonesia dengan peringkat pertama yaitu provinsi Jawa timur dengan penyebaran
terbanyaknya di Sumenep disusul dengan Probolinggo dan Jember.
Dari anamnesa didapatkan keluhan utama pasien yaitu timbul bejolan
warna merah ditelinga kanan bawah. Benjolan tersebut muncul sejak 1 bulan yang
lalu, tidak terasa gatal dan tidak nyeri. Kedua tungkai bawah bagian depan terlihat
kering seperti ada sisik. Dari anamnesa tersebut sesuai dengan lesi dari Morbus
Hansen tipe Borderline Tuberkuloid yaitu bentuk lesinya berupa makula yang
dibatasi infiltrat atau berupa infiltrat saja. Jumlah lesi bisa beberapa atau hanya
satu dengna distribusi asimetris disertai dengan lesi permukaan kering bersisik.
Dari riwayat penyakit dahulu pasien berkata bahwa dahulu tidak pernah
sakit seperti ini. Hal ini menandakan bahwa ini bukan merupakan kasus relaps,
sehingga terapi yang digunakan bukan terapi untuk relaps. Dari keluarga, tetangga
dan orang yang sering berinteraksi dengan pasien tidak ada yang menderita gejala
seperti ini. Hal ini menunjukkan kontak penularan dari kusta belum ditemukan,
bisa disebabkan karena pertanyaan yang diajukan kurang mendetail atau pasien
melupakan hal yang berhubungan dengan kontak penularan.
Dari riwayat pengobatan, pasien mengaku sudah pernah diobatkan di
puskesmas dua kali, diberi obat warna kuning, putih dan hijau tetapi tidak

sembuh. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa obat yang diberikan dari
puskesmas tidak manjur. Banyak faktor yang menyebabkannya antara lain dari
faktor orang yang memberikan obat, dari faktor obatnya sendiri ataupun dari
faktor pasien. Dari faktor si pemberi obat, kemungkinan anamnesa, pemeriksaan
fisik serta penunjangnya kurang cermat sehingga diagnosa yang ditegakkan tidak
sesuai dengan penyakit yang sebenarnya diderita pasien sehingga terapi yang
diberikan tidak bisa bekerja secara optimal.

Dari faktor obat, proses

penyimpanannya tidak memenuhi standart atau tanggal kadaluarsa yang dilampaui


dapat menyebabkan obat tersebut tidak bisa bekerja secara optimal. Dari segi
pasien, faktor kepatuhan dalam meminum obat yang sering diabaikan dapat
menyebabkan resistensi sehingga obat tidak dapat bekerja secara optimal.
Dari pemeriksaan fisik berupa status dermatologi didapatkan lesi antara
lain :
1. Lokasi : telinga kanan bagian bawah, distribusi : terlokalisir, ruam :
infiltrat eritematous, batas tegas, bentuk anular, dengan diameter 5cm.
2. Lokasi : tungkai bawah bagian depan kaki kanan dan kiri, distribusi :
terlokalisir, ruam: patch hipopigmentasi, batas tegas, bentuk oval, ukuran
20 x 9 cm, dengan skuama dibagian atasnya.
Dari pemeriksaan tersebut sesuai dengan lesi Morbus Hansen tipe Borderline
Tuberkuloid yaitu :[1]
Sifat

Borderline Tuberkuloid (BT)

Lesi :
-

Bentuk

Makula dibatasi infiltrat atau


infiltrat saja.

Jumlah

Beberapa atau satu

Distribusi

Asimetris

Permukaan

Kering bersisik

Batas

Jelas

Anestesia

Jelas

BTA :

Lesi kulit

Tes Lepromin

Negatif atau hanya 1+

Positif lemah

Dari anamnesa serta status dermatologis, dapat di ambil diagnosa banding


antara lain :
Morbus Hansen

Definisi

merupakan

Tinea korporis

penyakit dermatofitosis

infeksi yang kronik, kulit


dan penyebabnya ialah

tubuh

Psoriasis
pada

penyakit

tidak

residif, tidak infeksius

berambut

yang

kulit

kronik

ditandai

oleh

Mycobacterium leprae
yang

adanya

bersifat

intraselular obligat

eeritematosa

macula/plak
dengan

skuama kasar, transparan


dan berlapis

Etiologi

Mycobacterium leprae

Trichophyton rubrum,

tidak diketahui, diduga

T. mmentagrophytes,

autoimmune

M. canis

Predileksi

Saraf perifer sebagai badan,m leher, perut, perbatasan kulit kepala


afinitas pertama, lalu dada,
kulit dan mukosa

atas

lengan.

traktus

kaki,

dengan
ekstremitas

ekstensor

respiratorius

bagian atas, kemudian

khususnya siku dan lutut,

dapat ke organ lain

daerah lumbo-sakral

kecuali susunan saraf


pusat
Gejala

rambut,

bercak keputih-putihan gatal-gatal


(hypopigmentasi) atau

gatal

kemerahan
(erithmatous)

yang

mati rasa (anasethesi),


penebalan saraf tepi
disertai

gangguan

fungsi saraf
Ruam

patch

bentuk lesi sirninar,

macula/plak eeritematosa

hipopigmentasi/eritematus

anular,

dengan skuama kasar,

yang

psoriatrikform,

berlanjut

sesuai

dengan klasifikasi

polisiklik,

macula/

transparan dan berlapis


plak

eritematosa

ditutupi

skuama,

khas: fenomena tetean


lilin dan auspitz

central

healing, tepi meninggi


(aktif),

lesi dapat

konfluen

melebar

membentuk

plakat,

single/multiple
zoophilic:

bagian

tengah tampak aktif


dengan pustule/vesikel

Usulan pemeriksaan penunjang pada kasus Morbus Hansen pada kasus ini
antara lain :
1. Pemeriksaan bakteriologik untuk mendapatkan sel Virchow yang didalamnya
terdapat Mycobacterium leprae.

10

2. Pemeriksaan Histopatologik, dapat terlihat :


a. tuberkel dan kerusakan saraf yang nyata
b. tidak ada kuman atau sedikit kuman dan berbentuk non-solid
3. Pemeriksaan Serologis, menemukan antibodi spesifik Mycobacterium leprae
yaitu :
a. Anti bodi anti phebolic glycolipid-1 (PGL-1)
b. Antibodi antiprotein 16 kD & 35 kD [1]

Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, dapat disimpulkan bahwa diagnosis


yang sesuai dengan gejala dan tanda dari pasien tersebut adalah Morbus Hansen
tipe Pausibasilar. Terapi yang digunakan adalah MTD (Multi Drug Treatment)
tipe Multibasilar karena BT (Borderline Tuberkuloid) merupakan bentuk yang
labil, sehingga sangat mungkin terjadi perubahan tipe mendekati tipe Lepromatosa
atau Tuberkuloid. Yang dikhawatirkan bila terjadi perubahan tipe mendekati
Lepromatosa yang akan mengandung kuman Mycobacterium lepra semakin
banyak sehingga rentan terjadi penularan. Makadariitu terapi yang digunakan
adalah MDT tipe Multibasilar.

Regimen terapi MTD tipe Multibasilar adalah :

Rifampisin 600 mg setiap bulan, dalam pengawasan

DDS 100 mg setiap hari

Klofazimin 300 mg setiap bulan, dalam pengawasan, diteruskan 50


mg sehari atau 100 mg selama sehari atau 3 kali 100 mg setiap
minggu.[1]

Saran yang diberikan pada pasien Morbus Hansen tipe Multibasilar antara lain :

Memberi petunjuk sederhana, misalnya :

Memakai sepatu untuk melindungi kaki yang telah terkena.

Memakai sarung tangan bila bekerja dengan benda yang tajam atau panas

Memakai kacamata untuk melindungi mata.

Diajarkan cara perawatan kulit sehari-hari, misalnya :


11

Memeriksa ada tidaknya memar, luka atau ulkus.

Tangan dan kaki direndam, disikat dan diminyaki agar tidak kering dan
pecah.

Pemeriksaan pada keluarga yang tinggal serumah.

Obat diminum dengan teratur dalam pengawasan. [1]

12

BAB IV
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

1. A.Kosasih, I Made Wisnu, Emmy Sjamsoe Dili, Sri Linuwih Menaldi.


Kusta. Dalam : Djuanda,Adhi dkk.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Edisi Kelima Cetakan Kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.2010;73-88
2. Ridwan, Mohammad. 2012. Jumlah Penderita Kusta Jatim Tertinggi di
Indonesia. (online). (http://www.lensaindonesia.com/2012/01/28/jumlahpenderita-kusta-jatim-tertinggi-di-indonesia.html, diakses 17 Februari
2014).
3. Kesmas. 2013. Pengertian dan Klasifikasi Penyakit Kusta. (online)
(http://www.indonesian-publichealth.com/2013/12/klasifikasi-penyakitkusta.html, diakses 17 Februari 2014).
4. Wolff, Klaus, Johnson, Richard A, Suurmond, Dick. Fitzpatrick's Color
Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology 5th ed. USA: McGraw-Hill.
2007. P 665-671
5. Adyatma, dkk. 2007. Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit
Kusta.

Jakarta:

Departemen

Kesehatan

RI

Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

13

Direktorat

Jendral