Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Persoalan kepemimpinan selalu memberikan kesan yang menarik untuk di bahas.Topik
ini senantiasa memberikan daya tarik yang tinggi pada setiap orang. Berbagai sumber banyak
memberikan penjelasan bagaimana menjadi pemimpin yang baik, sikap dan gaya sesuai dengan
situasi kepemimpinan dan syarat-syarat pemimpin yang baik.
Hanya saja dalam kenyataannya, bahwa kepemimpinan Indonesia yang ada selama ini
sangat tidak kondusif menjadi kepemimpinan yang mewakili pemimpin umat Islam
dunia.Karena jangankan memimpin dunia Islam yang lebih kompleks itu, untuk hanya
memimpin umat Islam di Indonesia sendiri saja masih jauh dari yang diharapkan. Kita
menyaksikan, betapa masih terlalu jauh kesenjangan apa yang dikerjakan pemimpin dengan apa
yang diharapkan dan dibutuhkan rakyat atau umat yang dipimpin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

BENITO MUSSOLINI
Benito Amilcare Andrea Mussolini (lahir 29 Juli 1883 meninggal 28 April 1945

pada umur 61 tahun) adalah seorang diktator Italia yang menganut Fasis. Ia adalah
diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri
Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap,
ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mussolini
mengakhiri sebuah dekade seperti di Jerman yang dilakukan diktator Adolf Hitler dengan
Nazi-nya.
Setelah gagal pada Pemilu 1919, ia mengembangkan paham kelompoknya,
sehingga mulai mendapat pengaruh. Mereka, kaum fasis, menolak parlemen dan
mengedepankan kekerasan fisik. Anarki pecah di mana-mana. Pemerintah liberal tak
berdaya menghadapinya. Ia membawa "geng"nya, sejumlah besar kaum fasis yang
bertampang sangar, untuk melakukan Berbaris ke Roma.Melihat rombongan preman
berwajah angker memasuki Roma, Raja Vittorio Emanuele III menciut jeri. Mussolini
diundang ke istana lalu diberi posisi sang Pemimpin. Pada Oktober 1922, Raja
memintanya membentuk pemerintahan baru. Jadilah Italia dikelola pemerintahan fasis.
Gebrakan pertamanya setelah memegang kekuasaan, adalah menyerang Ethiopia
dengan merujuk pada pandangan rasis Charles Robert Darwin, "Ethiopia bangsa kelas
rendah, karena termasuk kulit hitam. Jika diperintah oleh ras unggul seperti Italia, itu
sudah merupakan akibat alamiah dari evolusi." Bahkan ia bersikeras bahwa bangsabangsa berevolusi melalui peperangan. Sehingga jadilah Italia waktu itu bangsa yang
ditakuti sepak terjangnya.
Yang meresahkan, ketika ia menduduki Abbesinia tahun 1937, kontan dunia
tersentak. Teman akrabnya di Eropa adalah Adolf Hitler, dan mereka membuat aliansi,
yang menyeret Italia ke dalam Perang Dunia II di pihak Jerman pada 1940. Namun,

pasukannya kalah di Yunani dan Afrika, dan Italia sendiri diserbu oleh pasukan Britania
Raya dan Amerika Serikat pada 1943. Pada saat itu Mussolini telah diturunkan dari
takhtanya dan ditahan.
Pasukan payung Jerman membebaskan dan mengembalikannya berkuasa di Italia
Utara. Akhir riwayatnya tiba tak lama kemudian. Ketika akhirnya Italia dikalahkan, ia
ditembak oleh musuh Italianya dan mayatnya digantung terbalik di Piazza Loreto di
Milan
Gaya Kepemimpinan Mussolini
Sebagai seorang tokoh dan pemimpin di tengah-tengah kehidupan social
kemasyarakatan. Kepemimpinan Mussolini adalah Diktator karena menggulingkan Raja
sebelumnya dan menganut Fasisme yaitu meninggikan kekerasan, perang, dan
militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan
renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam
karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer . Fasis
kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi semangat,
nasional dan vitalitas.

2.2

Sejarah Jendral Soedirman

Soedirman merupakan pejuang kemerdekaan yang mengobarkan semangat jihad,


perlawanan terhadap kezaliman, membekali dirinya dengan pemahaman dan pengetahuan
agama yang dalam. Sebelum terjun dalam dunia militer dia aktif dalam aksi-aksi
perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Lahir darikeluarga yang sederhana,
di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah,
pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebu pada pabrik gula di
Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di
Rembang, yaitu R. Tjokrosunaryo. Ketika dia menjadi seorang panglima, Soedirman
adalah seorang yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Memiliki semangat berdakwah
yang tinggi, dan lebih banyak menekankan pada ajaran tauhid, kesadaran beragama serta
kesadaran berbangsa. Sebagai bagian dari hamba-hamba Allah, kepedulian akan
kemurnian nilai-nilai ketauhidan terhadap masyarakat Jawa yang masih sangat kental
dipengaruhi oleh adat istiadat. Menjadi suatu kegiatan dakwah yang memiliki nilai
strategis, karena dengan cara itulah semangat jihad untuk melakukan perlawanan dalam
diri rakyat dapat terpompa dan terpelihara. Termasuk bagi seorang Soedirman, yang
memulainya dari kepanduan Hizbul Wathon bagian dari Muhammadiyah. Bakat dan jiwa
perjuangannya mulai terlihat sejak dari kepanduan Hizbul Wathon ini, juga peningkatan
kemampuan fisik dan penggemblengan mental. Bakat kemiliterannya ditempa melalui
organisasi berbasis dakwah. Bahkan semangatnya berjihad telah mengantarkan
Soedirman menjadi orang nomor satu dalam sejarah militer Indonesia. Seorang jenderal
yang shalih, senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan
kemerdekaan sebagai bagian dari wujud pelaksanaan jihad fi sabilillah. Semangat jihad
ini dia tanamkan kepada para anak buahnya, bahwa mereka yang gugur dalam perang ini
tidaklah mati sia-sia, melainkan gugur sebagai syuhada. Untuk menyebarluaskan
semangat perjuangan jihad tersebut, baik di kalangan tentara atau pun seluruh rakyat
Indonesia, Jenderal besar ini menyebarkan pamflet atau selebaran yang berisikan seruan
kepada seluruh rakyat dan tentara untuk terus berjuang melawan Belanda dengan
mengutip salah satu hadits Nabi. Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe

hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya


berhasrat perang poen tidak, maka matilah dia di atas tjabang kemoenafekan. Perang
gerilya yang dilakukan, tak luput dari mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah
saw. Sewaktu berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa
Sukarame, Panglima Besar Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang,
menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun
mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan taktik penyamaran, sebagaimana
yang dilakukan Rasulullah besarta para sahabatnya saat akan berhijrah. Setelah shalat
subuh, Soedirman dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa
dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota
rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser
segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah
selatan, sampai pada sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua
bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Soedirman. Pada sore harinya
pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya mengebom rumah yang sempat disinggahi
Heru Kesser dan Suparjo Rustam, ini membuktikan betapa seorang Panglima yang
menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam.

Gaya Kepemimpinan Sang Jendral


Sebagai seorang tokoh dan pemimpin di tengah-tengah kehidupan sosial
kemasyarakatan, kepemimpinan Sudirman tentu terkait dengan gaya kemimpinan yang
demokratik karena lebih banyak berperan sebagai seorang kordinator dan integrator.
Pemimpin yang demokratis harus memiliki kemampuan untuk membangun koordinasi
agar masyarakat lebih bersifat aktif untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian
masyarakat akan memiliki tanggung jawab dalam menjalankan organisasi atau kehidupan
komunitasnya. Dalam kehidupan yang demokratis akan menjunjung harkat dan martabat
manusia, memperlakukan setiap individu manusia secara manusiawi, bersifat rasional,
dan partisipasi seluruh anggota masyarakat merupakan faktor yang sangat menentuakan.

2.3

Mahmoud Ahmadinejad
Mahmoud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad (bahasa Persia: ; lahir 28

Oktober 1956) adalah Presiden Iran yang keenam. Jabatan kepresidenannya dimulai pada
3 Agustus 2005. Ia pernah menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni
2005 waktu ia terpilih sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh
konservatif yang mempunyai pandangan Islamis.
Lahir di desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 100 km dari Teheran,
sebagai putra seorang pandai besi, keluarganya pindah ke Teheran saat dia berusia satu
tahun. Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor
dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.
Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan
mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan, organisasi
mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang
mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.
Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal
Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam misi-misi di Kirkuk, Irak. Dia
kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di
sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur
Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur
provinsi Ardabil dari 1993 hingga Oktober 1997.
Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa
tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota
sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan
dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi
semacam manajer dalam harian Hamshahri dan memecat sang editor, Mohammad
Atrianfar, pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak
mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Sifatnya yang sederhana ini masih terlihat saat Ahmadinejad terpilih menjadi
Presiden. Karpet-karpet merah persia mahal dikeluarkan semua dari istana, menolak
mobil limosine dan tetap setia menggunakan mobil tuanya serta tetap tinggal di rumah
susunnya.Selain sifatnya yang sederhana ia dicintai karena lebih mementingkan
memperbaiki ekonomi negara ketimbang bidang-bidang lain dan memperjuangkan setiap
pendapatan minyak bumi agar jatuh ke meja makan rakyat Iran.
Ahmadinejad terkenal dengan kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari,
baik sebagai personal maupun sebagai seorang Presiden Iran. Dalam sebuah sesi
wawancara bersama wartawan TV Fox dari Amerika, terungkaplah sisi-sisi menakjubkan
dari seorang Ahmadinejad, kehidupannya yang sangat sederhana menjadi sangat
membanggakan jika kita bandingkan dengan kehidupan para pejabat di negeri kita sendiri
Indonesia,bahkan dunia memberikannya gelar sebagai Presiden termiskin di dunia.

Karakteristik Presiden Madmoed Ahmadinejad


Dunia barat memandang Ahmadinejad sebagai pemimpin kontroversial.Menjadi
ancaman bagi perdamian dunia yang sebenarnya tidak pernah damai.Dari pernyataan dan
sikapnya, apapun yang melatarbelakanginnya, entah kepentingan politik dalam negeri
atau luar negeri Ahmadinejad sebagai seorang pemipin memiliki karakter yang dapat
menjadi teladan bagi pemimpin dunia lainnya. Karakter tersebut antara lain:
Berani
Apa yang diungkapkan oleh Ahmadinejad terkait ketidakadilan di forum PBB
adalah rahasia umum yang tidak hanya diketahui oleh seorang presiden, orang biasa dan
anak sekolah pun tahu. Namun dia berani mengungkapkannya dunia di forum PBB.
Politik

luar

negeri

yang

ditempuh

Ahmadinejad

sepenuhnya

untuk

mempertahankan kedaulatan negaranya.Sedangkan, didalam negerinya dia tidak segan


untuk berhadapan dengan kaum liberal dan sekluer dari kelas atas yang tediri dari orangorang kaya di Iran yang hanya mementingkan diri sendiri.
Tegas
Baik didalam dan diluar negeri, Ahmadinejad terkenal dengan ketegasanya.Berani
mengambil sikap tidak populer di kancah internasional yang menyebabkan Iran selalu

dijatuhi sangsi.Didalam negeri, Ahmadinejad tegas mengambil sikap terhadap pejabat


yang melakukan penyelewengan dan tidak patuh terhadap konstitusi.
Sederhana
Untuk yang satu ini tidak diragukan lagi, dan mingkin satu-satunya presiden yang
paling sederhana di dunia.Setelah menjadi presiden Ahmadinejad masih menempati
rumah pribadinya yang sederhana, naik pesat terbang dengan kelas ekonomi, breakfast
hanya dengan sandwiches atau roti yang disiapkan oleh istrinya.Bahkan ada salah satu
foto yang menggambarkan dia tidur di lantai di ruang tamu dengan bantal matras.Sebagai
Presiden Ahmadinejad tidak pernah mengambil gajinya dengan alasan masih banyak
rakyatnya yang dihdup kekurangan. Dan yang paling mengagumkan sebagai seorang
presiden ketika Sholat Berjamaah dia tidak harus berada di barisan paling depan.1
Setelah mengetahui hal tersebut, tidak heran jika Ahmadinejad terpilih selama dua
periode menjadi presiden Iran.Tiga karakter Ahmadinejad sebagai seorang pemimpin
diatas menjadikan dia dicintai rakyatnya, walaupun diluar negaranya dia dipandang
sebagai ancaman, dihujat dan dikucilkan dari pergaulan internasional.
Kepemimpinan Presiden Mahmoed Ahmadinejad
Pemerintah Negara-negara barat yang dimotori oleh George W. Bush begitu
memusuhi Republik Islam Iran dan presidennya, Mahmoed Aahmadinejad.Berbagai isu
pun dikembangkan untuk menyudutkan Iran dan Ahmadinejad, mulai dari isu terorisme
sampai isu senjata nuklir.
Faktanya, semua itu hanyalah akal-akalan Zionis Israel dan Amerika untuk
melancarkan rencana busuk mereka yang hendak mendirkan Israel Raya yang
membentang dari Sungai Nil (Mesir) hingga ke Sungai Furat (Irak).Iran dan presiden
progresifnya menjadi batu penghalang terbesar bagi rencana itu.2

Kalahnya pasukan Israel oleh Hizbullah dukungan Iran di Libanon dan kefasihan
Ahmadinejad di Universitas Colombia, merupakan bentuk perlawanan yang mengangkat
martabat umat Islam yangs selama ini terpuruk dibawah kaki Amerika dan Zionis.
Kepemimpinan Republik Islam Iran di bawah Presiden Mahmoud Ahmadinejad
yang dinilai sangat radikal melawan kesombongan Presiden Amerika Serikat (AS) Gorge
W Bush dalam pertikaiannya mengenai keberadaan (pengayaan uranium) nuklir Iran
sejak beberapa waktu lalu.
Kepemimpinan Iran yang oleh AS dan sekutunya dijuluki sebagai pemimpin
Islam garis keras seperti itu, terutama dalam benak kita para generasi muda Islam
revolusioner, pantas diakui dan diteladani sebagai pemimpin bangsanya dan sekaligus
pemimpin yang mewakili umat Islam dunia untuk perlawanan terhadap kezaliman dan
arogansi kekuasaan dunia yang selama ini ditebarkan oleh negara AS, Israel dan sekutusekutunya. Jadi, dari sisi ini, samasekali tidak benar dan tidak beralasan tuduhan-tuduhan
yang mengaitkan kepemimpinannya sebagai biang terorisme internasional.
Dalam kepemimpinannya yang sangat fenomenal itu, Ahmadinejad bukan sekadar
pemimpin yang terlahir dan dilahirkan hanya untuk bangsa Iran. Akan tetapi
kehadirannya di tengah ketertindasan umat dan negara-negara Islam dari hegemoni
kekuasaan negara-negara super power, menjadikannya sebagai pemimpin yang pantas
mewakili pemimpin revolusi dunia Islam saat ini.
Ketinggian derajatnya sebagai pemimpin umat Islam, bukan hanya diberikan oleh
umat Islam dari bangsa Iran saja, akan tetapi juga oleh seluruh umat Islam dunia yang
berprinsip wajib menegakkan amar makruf nahi mungkar di muka bumi ini.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kita mengetahui bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik buknlah perkara yang
mudah, hal tersebut memebutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu yang tidak semua orang
bias memenuhinya.
Dapat kita lihat dewasa ini kepemimpinan Negara Indonesia sangatlah tidak kondusif,
sebagian besar pejabat-pejabat yang berkuasa terlena akan kekeuasaan yang mereka miliki
sehingga melupakan tujuan keberadaan mererka disana sebagai wakil rakyat. Berbagai usaha
mereka lakukan unutuk mendapatkan dan menambah kekuasaan, tidak jarang kita mendengar
berita-berita adanya pejabat yang melakukan tindak korupsi, kolusi maupun nepotisme.Hal
tersebut dapat terjadi tidak lain karena pemimpin sekarang sangatlah haus dengan kekukasaan.