Anda di halaman 1dari 21

OSTOMY MANAJEMEN

Abstrak
Tindakan diversi
urin dan feces sering dikerjakan pada pasien dengan keganasan
abdomen dan pelvik yang memerlukan tindakan pembedahan pengangkatan kandung
kencing dan rektum serta penyakit obstruksi karena invasi tumor atau kerusakan karena
radiasi. Manajemen ostomy yang efektif penting diperhatikan pada paliative care dan
melibatkan pembuatan pouch sistem yang efektif, perhatian pada diversi, perubahan
spesifik pada intake diet dan cairan, manajemen komplikasi peristoma dan stoma.
Manajemen colostomy termasuk pencegahan terhadap konstipasi, manajemen ileostomi
termasuk strategi mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, dan pencegahan
dari sumbatan makanan, dan manajemen diversi urine termasuk fokus pada intake cairan.
Komplikasi peristoma dan stoma yang sering terjadi memerlukan produk barierr, sistem
kantong stoma untuk mencegah retraksi dan bahan pengikat. Tindakan pembedahan
diperlukan jika terjadi hernia inkarserata, prolaps persisten, atau stenosis yang
mengganggu fungsi.

Pendahuluan
Ostomy

adalah

tindakan

pembedahan

yang

dilakukan

untuk

menghubungkan sebagian dari usus ke bagian luar dinding perut a surgical


procedure that involves connecting a part of the colon onto the anterior abdominal
wall. Secara bahasa entero dapat diartikan segala sesuatu yang berhubungan
dengan usus sedangkan stoma merupakan suatu bukaan artifisial yang dibuat ke
dalam organ berongga.1,2
Enterostoma atau stoma intestinal adalah suatu prosedur bedah untuk
penyakit yang berhubungan dengan usus halus (ileum) maupun usus besar
(kolon). Prosedur ini adalah dengan membuat bukaan artifisial pada dinding
abdomen sehingga feses dapat keluar dari tubuh. Suatu stoma intestinal yang
paling sering digunakan adalah ileostomi dan kolostomi sedangkan sekostomi dan
appendikostomi aplikasinya terbatas dan lebih jarang digunakan. Esofagostomi,
gastrostomi, jejunostomi, dan sekostomi biasanya bersifat temporer, namun
ileostomi, kolostomi, dan beberapa stoma saluran kemih sering permanen.1-3
1

Feses terkadang harus dialihkan ke dinding abdomen anterior melalui


stoma. Keluaran feses akan terkumpul dalam kantung stoma yang dapat
dilepaskan dan dilekatkan dengan perekat ke kulit abdomen. Semakin distal lokasi
lesi awal maka semakin besar kemungkinan stoma dibutuhkan. Mayoritas stoma
dibuat pada operasi pembedahan kanker, walaupun terkadang juga dibutuhkan
pada inflammatory bowel disease (IBD), dan divertikulum. Indikasi untuk stoma
dan prinsip desain stoma serta perawatan setelahnya hampir sama pada semua
kondisi ini.1-4

Tabel 1. Indikasi pembuatan stoma

PREOPERATIF MANAJEMEN
Ketika diagnosis telah ditegakkan maka evaluasi menyeluruh harus
diperhatikan untuk meminimalkan resiko terhadap pasien. Yang termasuk tindakan
preoperatif manajemen adalah : (1). Preoperatif konseling, (2). Pemilihan
prosedur, (3). Pemilihan lokasi stoma yang tepat.2-3

Preoperatif konseling
Stoma intestinal dapat permanen atau temporer, jika ada kemungkinan
akan dibuat stoma harus diantisipasi sebelum pembedahan dan didiskusikan
dengan pasien. Pra pembedahan, akan dilakukan konseling pasien agar tidak
terjadi kesalahan pemahaman terhadap stoma, dan berbicara dengan pasien
2

stoma yang lain. Sering kali pasien salah persepsi terhadap efek stoma yang akan
mengakibatkan berkurangnya kualitas hidup dan mengakibatkan kecemasan.
Pada tahap ini akan diberikan pemahaman terhadap prosedur pembedahan yang
akan dijalani, kemungkinan stoma yang akan dipilih, dan bagaimana stoma akan
berfungsi.

Terkadang

diperlukan

alat

bantu

untuk

memahami, seperti: video, buku panduan atau CD-rom.

memudahkan

pasien

2-6

Pemilihan prosedur
Beberapa indikasi pilihan untuk pembuatan stoma dapat dilihat di tabel 1.
Indikasi ini biasanya berhubungan terutama dengan jenis stoma yang akan dipilih,
tetapi terkadang tidak mudah untuk menentukan pilihan yang tepat. Pada
beberapa keadaan pilihan yang ditetapkan pada satu pasien tidak dapat
diterapkan pada pasien yang lain.7

Tabel 2. Indikasi pembuatan tipe stoma.

Defungctioning dari distal anastomosis setelah eksisi dan anastomosis


keganasan rectum lebih dianjurkan dengan loop ileostomi atau loop colostomi
kolon transversum. Beberapa penelitian nonrandomized dan randomized control
trials menunjukkan bukti lebih baik dengan kedua pilihan tersebut. Akan tetapi loop
ileostomi lebih dianjurkan karena berhubungan dengan rendahnya komplikasi
akibat pembuatan stoma. Kedua pilihan stoma memberikan hasil yang sama
terhadap quality of life pasien.2,3

Tabel 3. Perbandingan komplikasi antara loop ileostomi dengan


loop colostomi colon transversum secara RCT.
.

Pemilihan lokasi stoma


Lokasi stoma yang tidak tepat akan mengakibatkan morbiditas dan
mempengaruhi quality of life pasien. Dengan pertimbangan ini, maka perlu
diperhatikan lokasi stoma yang akan dipilih pada dinding abdomen.
Pada tahap konseling perawat stoma kemudian akan mencari dan
menandai lokasi stoma yang paling cocok dan paling nyaman untuk pembuatan
stoma. Pemilihan lokasi ini juga mempertimbangkan pekerjaan dan hobi pasien
serta pakaian dan kemampuan untuk merawat diri. Lokasi stoma yang tepat akan
mencegah komplikasi seperti prolaps, hernia, dan masalah kulit.
Beberapa pertimbangan untuk pemilihan lokasi stoma adalah sebagai
berikut: (a). Permukaan rata kulit untuk perekatan kantong stoma, (b). Lokasi
4

stoma harus terlihat pasien, (c). Lipatan kulit, scar, dan tonjolan tulang harus
dihindari, (d). Jangan pada daerah ikat pinggang, (e). Lokasi stoma harus
diidentifikasi pada posisi tidur, duduk, dan berdiri, (f). Ketidakmampuan
sebelumnya/cacat tubuh harus dipertimbangkan.

Gambar 1. Pilihan lokasi stoma: Pasien posisi (a) berdiri,


(b) tidur, dan (c) duduk.
Lokasi stoma yang optimal yaitu pada bagian m.rectus untuk menghindari
parastoma hernia atau prolaps, di bagian menonjol infraumbilical kurang lebih 3-4
inch dari tepi incisi median, dan terlihat pasien. Lokasi stoma permanen harus
diputuskan secara hati-hati untuk memfasilitasi penatalaksanaan jangka panjang.
Lokasi biasanya di bawah pinggang. Kolostomi permanen biasanya terletak di
fossa iliaka kiri, sedangkan ileostomi pada fossa iliaka kanan.

Pembuatan Stoma
Cara stoma dibuat tergantung dari tujuannya. Stoma kolon dibuat dengan
mukosa usus terletak sejajar kulit. Stoma usus halus dibuat dengan bagian usus
yang menonjol sekitar 5 cm, agar isi usus halus yang iritatif dapat langsung masuk
ke kantong ileostomi tanpa mengalir ke kulit.
5

Gambar 2. Lokasi stoma pada m.rectus abd.

1. Sekostomi
Sebuah

sambungan

dibuat

antara

kulit

dengan

sekum

dan

dipertahankan agar tetap terbuka dengan kateter balon besar. Fungsi


utamanya adalah untuk dekompresi usus dari gas; metode ini tidak coeok
untuk diversi feses. Sekostomi saat ini jarang dipakai karena seringkali
tersumbat

oleh

feses

dan

membutuhkan

irigasi

rutin

untuk

mempertahankan patensi.
Prosedur sekostomi sering dilakukan untuk indikasi yang salah maka
sering kali tidak memperbaiki keadaan dan sebaliknya, malah menimbulkan
komplikasi.

Prosedur

ini

sebenarnya

digunakan

untuk

melindungi

anastomosis sisi kiri untuk terapi obstruksi usus besar, perforasi sekum,
clan volvulus sekum. Menurut Corman, satu-satunya indikasi sekostomi
adalah untuk pasien dengan sindrom Ogilvie. Ileus non-bedah yang
menyebabkan dilatasi sekum yang berat dan terdapat risiko kemungkinan
terjadinya perforasi dapat diterapi dengan sekostomi. Intinya sekostomi
bukan merupakan manuver dekompresi melainkan hanya penampungan

Gambar 3. Sekostomi

sementara. Sekostomi tidak mengalihkan feses. Jika dibutuhkan diversi


maka sebaiknya diilakukan ileostomi loop jika kolon transversum tidak bisa
dikerjakan. Ileostomi loop adalah prosedur yang baik tidak hanya untuk
diversi namun juga dalam penatalaksanaan stoma pasca operasi.

2. Stoma loop (loop stoma)


Stoma jenis ini dibuat agar kedua segmen usus proksimal dan distal
mengosongkan ke pennukaan kulit. Stoma ini mendefleksi buangan
proksimal ke kulit dan memberikan semacam katup pengatur untuk loop
distal. Oleh karena loop distal tidak lagi memiliki kapasitas fungsional,
stoma semacam ini sering disebut sebagai stoma yang "disfungsi". Stoma
ini terutama digunakan sebagai tindakan sementara.
Bentuk

kolostomi

loop

yang

paling

umum

adalah

kolostomi

transversum yang terletak di kuadran kanan atas.

Gambar 4. Loop colostomi.

3. Stoma ujung ganda (double barrel stoma)


Jenis ini merupakan varian dari stoma loop dan digunakan jika
dibutuhkan disfungsi total dalam waktu yang lama. Jembatan dibuat dari
sebuah pedikel dari dinding kulit abdomen yang akan ditinggalkan di
tempatnya sampai stoma ditutup.
4. Stoma ganda (divided stoma)
Jenis ini merupakan bentuk utama dari stoma disfungsional. Ujungujung usus terbagi secara total. Kedua ujung proksimal dan distal diletakkan
secara terpisah pada permukaan kulit dan isinya mengalir keluar ke kantung
terpisah.
5. Stoma ujung tunggal (end stoma)
Stoma jenis ini paling sering digunakan untuk menggantikan anus ke
dinding

abdomen.

Stoma

ini

permanen

dan

dibuat

setelah

panproktokolektomi atau pemotongan rektum dan sfingter anal (misalnya


pada reseksi abdominoperineal Milles).

Komplikasi Ileostomi Dan Kolostomi


Komplikasi setelah pembuatan stoma sering terjadi dan bervariasi (tabel 4)
dan dapat mengganggu quality of life. Dilaporkan oleh Williams (2004) bahwa
komplikasi pembuatan kolostomi sebesar 25% , ileoastomi57%, dan 75% setelah
loop ileostomi. Komplikasi kumulatif selama 20 tahun sebesar 76% pada pasien
ileostomi karena kolitis ulseratif, dan 56% setelah ileostomi karena Crohn disease.
Banyak komplikasi dapat diterapi dengan perawatan stoma saja, karena sering kali
tindakan pembedahan memberikan hasil yang kurang memuaskan.

Tabel 4. Insidensi tersering penyebab komplikasi stoma.

Komplikasi dini:

Pelepasan

mukosa

atau

nekrosis

usus

terminal

akibat

iskemia

membutuhkan operasi ulang dan pembuatan stoma kembali .

Obstruksi stoma akibat edema atau impaksi feses. Diatasi dengan


eksplorasi menggunakan jari yang bersarung tangan dan terkadang dengan
supositoria gliserin atau enema pelunak feses.

Kebocoran persisten antara kulit dan kantung menyebabkan erosi kulit dan
stres pada pasien, akibat lokasi stoma yang tidak tepat (misalnya di atas
9

lipatan kulit). Mungkin membutuhkan operasi kembali untuk memindahkan


lokasi stoma.
Komplikasi lambat.

Prolaps usus , membutuhkan pembuatan kembali stoma.

Hernia parastoma, akibat kelemahan dinding abdomen. Membutuhkan


pemindahan lokasi stoma.

Retraksi tonjolan ileostomi, memerlukan operasi ulang dan pembuatan


stoma baru.

Sebagian besar komplikasi kolostomi dapat dicegah. Prinsip dalam pembuatan


stoma telah digariskan yaitu usus harus dikeluarkan melalui dinding abdomen
tanpa regangan, usus juga harus dikeluarkan melalui otot rektus yang terpisah,
usus harus dijahitkan ke kulit, dan viabilitas kolon akhir harus jelas. Walaupun
tidak ada metode yang dapat menjamin komplikasi setelahnya dapat dihindari,
namun dengan mengindahkan prinsip-prinsip di atas maka risiko dapat
diminimalkan.
Komplikasi yang mungkin terjadi:
1. Iskemia dan nekrosis stoma
2. Abses parakofostomi
3. Perdarahan
4. Prolaps
5. Hernia peristoma
6. Penyakit yang rekuren

Gambar 5. A. Iskemi stoma B. Retraksi stoma C. Prolaps stoma


10

Sejumlah 20% dari keseluruhan komplikasi yang dapat terjadi pada


kolostomi. Sebanyak 15% darinya memerlukan tindakan operasi. Hernia
parakolostomi kronis merupakan komplikasi yang sering terjadi. Hal ini akibat dari
membesarnya dinding abdomen yang sejalan dengan waktu, mengakibatkan
kolon, omentum, dan usus halus untuk mengalami herniasi kearah kolostomi.
Hernia dan prolaps lebih mungkin terjadi pada orang obesitas. Retraksi dan
nekrosis biasanya terjadi akibat kesalahan dari tehnik dalam pembuatan stoma.
Komplikasi yang lebih ringan adalah diare, iritasi kulit, dan impaksi fecal.

Komplikasi dilaporkan pada pasien dengan ileostomi sekitar 40%.


Komplikasi yang dapat terjadi dapat berupa:
1. Iskemia stoma
Iskemi stoma akan nampak bila terjadi perubahan warna stoma dari
sehat ke arah kebiruan atau kehitaman, biasanya terjadi dalam 24 jam
pascaoperasi. Iskemi pada colostomi lebih sering terjadi daripada
ileostomi.
2. Obstruksi intestinal
Obstruksi dapat terjadi akibat adhesi, jeratan band, volvulus, maupun
hernia paraileostomi.
3. Stenosis
Pembentukan skar (bekas luka) yang melingkar pada kulit atau level
subkutan biasanya merupakan penyebab stenosis. Stenosis dapat
menyebabkan keluarnya cairan yang berlebih dari ileostomi. Untuk
mengatasi masalah ini memerlukan prosedur minor minimal lokal
terhadap pembebasan skar.
4. Retraksi
Stoma harus menonjol 5 cm diatas permukaan kulit untuk
menghindari kebocoran dari ileostomi. Stoma yang retraksi secara
fungsional akan memburuk dan harus ditinjau kembali.
11

5. Prolaps
Hal ini jarang terjadi apabila mesenterium dijahit ke peritoneum parietal
dengan benar.
6. Abses dan fistula paraileostomi
Perforasi dari ileum oleh jahitan dan tekanan berlebihan yang dapat
mengakibatkan jaringan nekrotik maupun penyakit yang rekuren dapat
menyebabkan abses dan fistula.
7. Iritasi kulit
Hal ini merupakan komplikasi yang paling biasa dan sering terjadi akibat
dari tumpahan cairan ileostomi ke kulit sekitar ileostomi. Iritasi ini sering
ringan

namun

dapat

menjadi

berat

apabila

dibiarkan

lama.

Penatalaksanaan dilakukan secara langsung terhadap tumpahan cairan


ileostomi

dengan

penggunaan

kantung

ileostomi

yang

baik,

perlindungan kulit sekitar dengan material tertentu.


8. Masalah dengan bau
Masalah ini dapat diatasi dengan pemberian deodoran tertentu yang
diletakkan di dalam kantong ileostomi, maupun dapat diatasi dengan
mengatur jenis konsumsi makanan.
9. Diare
Output yang berlebihan harus dilaporkan ke dokter yang merawat
secepatnya dan dengan pemberian suplemen air, gararn, dan kalium.
Pemberian kodein, loperamid dapat mengurangi output yang berlebih.
Adanya penyakit usus yang berulang, obstruksi usus, atau stenosis dari
ileostomi harus menjadi suatu perhatian
10. Batu saluran kemih
Asam urat dan batu kalsium terjadi sekitar 5-10% pada pasien dengan
ileostomi akibat dari berkurangnya asupan cairan atau adanya keadaan
dehidrasi yang kronis akibat tidak adekuat intake cairan. Ileostomi
berhubungan dengan keadaan pH urin yang rendah, volume dan
peningkatan konsentrasi kalsium, oksalat, dan asam urat dibanding
12

pada keadaan gastrointestinal yang intak.


11. Batu empedu
Batu kolesterol empedu terjadi 3 kali lipat terhadap pasien dengan
ileostomi dibanding populasi umum.
12. Ileitis
Pada pasien yang mengalami inflamasi pada ileum, proksimal dari
ileostomi biasanya mengalami rekurensi IBD.
13. Varises
Varises dapat terjadi pada sekeliling dari stoma pada pasien dengan
penyakit hipertensi portal. Terjadinya perdarahan dapat menjadi suatu
masalah.

Perawatan Pasca Operasi


Mempertahankan integritas kulit sangat diutamakan pada periode pasca operasi.
Kulit yang lembab, berair, berminyak, dan erosi akan menyebabkan kebocoran,
bau yang tidak enak, dan hilangnya tempat adhesi kantung. Perhatian yang lebih
diarahkan pada perawatan kulit sejak di ruang operasi atau ruang pemulihan
dengan pemakaian barrier kulit dan penggunaan kantung.
Barrier kulit adalah materi berpori yang dilekatkan pada kulit untuk
melindungi kulit dari isi kolon atau ileum. Kantung diletakkan di atas barrier.
Sebaliknya obat pelindung kulit seperti Skin Prep atau Skin Gel memberikan
lapisan bening yang menutupi kulit. Obat pelindung kulit ini hanya untuk digunakan
di bawah pita perekat atau penutup adhesif dari lempeng dua sisi gunanya adalah
untuk mencegah epidermis dari iritasi. Obat protektif ini tersedia dalam bentuk
semprot, tisu basah, larutan,atau pasta. Yang harus dibedakan adalah pasien
dengan ileostomi sama sekali tidak boleh menggunakan obat protektif untuk
menggantikan barrier kulit.

13

Gambar 6. Prosedur perawatan kulit stoma.

Perubahan

fisiologi

setelah

dilakukan

ileostomi

adalah

hilangnya

kemampuan menyerap air dan garam dari kolon. Apabila ileum bebas dari
penyakit dan reseksi yang berlebihan tidak dilakukan, maka ileostomi dapat
menghasilkan 12 liter cairan per hari. Kehilangan yang terjadi terhadap natrium
50 meq/hari, begitu pula dengan kehilangan dari kalium. Pasien dengan ileostomi
yang sehat mempunyai nilai rendah terhadap total natrium dan kalium yang dapat
bertukar, namun dengan serum

elektrolit yang seimbang dalam tubuh.

Pengurangan biasanya terjadi intrasel. Pasien dengan ileostomi yang mengalami


keadaan akut atau subakut terhadap deplesi air dan garam dapat bermanifestasi
fatigue, mual, sakit kepala, rasa haus, kekakuan otot, lemah. Keadaan diare atau
gastroenteritis, cuaca panas merupakan situasi yang perlu menjadi perhatian.
Asupan cairan yang didapat pada pasien dengan ileostomi harus setidaknya
menghasilkan output urin 1liter/hari.
Pada follow up jangka panjang pasien dengan ileostomi, banyak dari
14

mereka kembali ke kehidupan sebelumnya dengan normal. Continent ileostomi


lebih disukai dibanding dengan ileostomi konfensional terhadap pasien yang
pemah dengan keduanya.
Konsekuensi seksual terhadap pasien dengan proktokolektomi harus
diberitahu sebelum dan sesudah operasi. Derajat kelainan seksual dapat terjadi
pada 10-15 % pada laki-laki setelah rektum diangkat akibat dari IBD. Dispareunia
dilaporkan terjadi pada 3/4 % pasien perempuan atau berkurangnya sensasi
orgasme pada bulan pertama setelah ileostomi dan proktokolektomi. Infertilitas
lebih sering terjadi terhadap perempuan yang mengalami eksisi rectum. Kedua
masalah tersebut lebih berhubungan dengan fibrosis dari pelvis daripada adanya
ileostomi.
Terapis enterostoma merupakan ahli yang bertugas khusus untuk merawat
dan membimbing penderita dan keluarganya untuk menghadapi hidup dengan
anus pretematuralis. Tugas terapis enterostoma atau urostoma :

Penyuluhan prabedah

Perawatan paseabedah

Latihan penderita untuk merawat dan mengatur stomanya

Memesang alat reseptakulum

Nasihat mengenai cara hidup, makan, minum, dan seks

Masalah kulit disekitar stoma

Masalah bau

Masalah lain pada stoma

Masalah psikologik

Bimbingan jangka panjang bila perlu

Penatalaksanaan Kantung Stoma


Setelah pembuatan ostomi maka kantung yang biasanya dipilih adalah
yang transparan, menahan bau, dan dapat di drainase. Kantung yang seperti ini
akan memudahkan untuk melihat warna dan integritas stoma serta pengosongan
15

isi kantung dapat dilakukan tanpa harus sering mengganti kantung.

Gambar 7. Prosedur penggantian kantong stoma.

Pada pasien dengan ileostomi, kantung harus diganti pada hari pertama
pascaoperasi. Dengan penggantian ini maka akan memungkinkan untuk dilakukan
inspeksi dasar stoma, pembersihan kulit peristoma, dan pemakaian bukaan yang
lebih besar jika stoma mengalami edema. Penggantian kantung harus diteruskan
setiap dua hari sekali atau tiga kali seminggu sampai pasien pulang.
16

Gambar 8. A. Barrier kulit dan plug stoma, B. Sabuk stoma.

Perbedaan yang jelas antara kantung ileostomi dan kolostomi adalah pada
Ileostomi terdapat cincin protektif yang harus dipakai di sekitar stoma karena sifat
efluks yang korosif. Selama 68 hari pertama pascaoperasi dibutuhkan kantung
sekali pakai yang disertai barrier kulit. Pada hari ke- 7 atau ke-8, stoma harus
diukur ulang karena edema biasanya sudah menghilang walaupun biasanya
membutuhkan waktu 4-6 minggu untuk stoma menyusut ke ukuran terkecilnya.
Oleh karena itu, beberapa kali penggantian lempeng muka akan dibutuhkan
dalam periode ini. Setelah peralatan yang diperlukan sudah tepat maka pasien
harus tetap tinggal di rumah sakit selama 3 hari untuk latihan. Sebaiknya pasien
ditemani oleh keluarga dekat atau ternan agar ada orang lain yang mempelajari
prosedur.
Pada kunjungan pascaoperasi, sangat penting untuk memeriksa dan
mengukur ulang stoma,

serta memastikan

bahwa

pasien menggunakan

perlengkapan yang tepat. Kulit peristoma sebaiknya selaiu diperiksa untuk iritasi
atau lesi.
Faktor-faktor berikut yang esensial untuk diperhatikan saat memasang
kantung:
1. Harus dipakai selama 3-7 hari.
2. Tidak boleh bocor atau menyebabkan bau.
17

3. Tidak boleh menyebabkan iritasi kulit atau stoma.


4. Harus nyaman untuk semua aktivitas.
5. Harus tidak memerlukan pergantian pakaian.
6. Harus tidak menarik perhatian.

Pencegahan dan Perawatan Iritasi Kulit


Stoma akan menyebabkan masalah pada kulit walaupun telah dirawat
dengan baik dan dengan menggunakan kantung yang pas. Untuk mencegah
komplikasi maka pasien harus kontrol setiap tahun untuk inspeksi stoma sehingga
stoma dapat diukur ulang dan integritas kulit peristoma dapat dievaluasi.

Gambar 9. Komplikasi peristoma dan Yeast dermatitis.

Iritasi parah dapat disebabkan oleh ukuran lempeng mulka yang tidak tepat,
kebocoran, alergi terhadap produk adhesif, atau infeksi jamur. Membersihkan area
dengan

ANTACID

atau

SUKRALFAT

biasanya

mengurangi

iritasi.

Antasid/SUKRALFAT dituangkan perlahan dan diratakan tipis-tipis di atas kulit.


Setelah kering dipakai obat pelindung kulit, diikuti barrier kulit dan kantung yang
bersih.
18

Masalah dengan infeksi yeast sering terjadi pada cuaca hangat atau
kapanpun ketika terjadi kelembaban di bawah kantung. Area stoma harus
dibersihkan dan dikeringkan perlahan, dan sedikit Kenalog disemprotkan di area
stoma. Setelah kelebihannya dilap maka area sekitarnya dibubuhi sedikit bedak
Mycostatin, kemudian pada barrier kulit lalu pada kantungnya.
Pasien yang rambut tubuhnya banyak maka harus menyingkirkan rambut di
sekitar stoma dalam radius 10 cm dengan gunting atau pisau cukur elektrik. Alat
cukur manual atau krim perontok rambut sebaiknya tidak dipakai.
Diet dan higiene personal adalah cara paling efektif untuk mengurangi bau.
Ikan, telur, keju, dan bawang bombay menjadi masalah untuk pasien dengan
ileostomi, sementara sayuran hijau merupakan masalah terbesar untuk pasien
kolostomi. Yogurt, buttermilk, dan seledri mengurangi bau pada pasien kolostomi.
Beberapa produk yang dapat mengurangi bau adalah deodoran cair dan
tablet. Devrom (bismuth subgallate) tablet kunyah yang dimakan setengah jam
sebelum makan 2-3 kali/hari akan mengurangi bau secara efektif.
Gangguan fungsi seksual pada pasien dengan stoma intestinal di antaranya
adalah impotensi, dispareunia, daya tarik fisik yang menurun, kekhawatiran akan
bau, ketakutan melukai stoma, dan ketakutan akan penolakan dari pasangan
seksual. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pasien berharap agar ahli bedah
dapat berdiskusi dahulu mengenai masalah seksual dengan mereka sebelum
pelaksanaan operasi ostomi permanen.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Cataldo PA, MacKeigan JM. Intestinal stomas.New York:Marcel Dekker;2004.
2. Maidl L, Ohland J. Care of stoma. In: Fischer, Josef E, editors. Mastery of
surgery. Edisi ke-5. Lippincott Williams & Wilkin;2007.1449-66.
3. Orkin BA, Cataldo PA. Intestinal stomas. In: Wolff BG, Fleshman JW et all,
editors. The ASCRS textbook of colon and rectal surgery. Springer;2007:62240.
4. Boyer ML, Ostomy management. In: Sands LR, Sands DR, editprs.
Ambulatory colorectal surgery; New York;2009:283-303.
5. Gordon PH, MacDonald J, Cataldo PA. Intestinal stoma. In: Gordon PH,
Nivatvongs S, editors. Principles and practice of surgery for the colon, rectum,
and anus. New York;2007:1031-79.
6. Tjandra JJ. Intestinal stomas. In: Tjandra JJ, Clunie GJA, Kaye AH, Smith JA,
editors. Textbook of surgery. 3rd ed. Blackwell; Massachusetts;2006:251-6.
7. Williams JG. Intestinal stomas. In: Wiley SW, Mitchell FP, Gregory JJ, Larry
KR, William PH, John PH, Nathaniel SJ, editors. ACS surgery:principles &
pactice. 6th ed. 2007.
8. Corman ML. Colon and rectal surgery. 5th ed. Santa Barbara: J.B. Lippincott
Company; 2005.
9. Hyman N, Nelson R. Stoma complications. In: Wolff BG, Fleshman JW et all,
editors. The ASCRS textbook of colon and rectal surgery. Springer;2007:64352.
10. Doughty D. Principles of ostomy management in the oncology patient. J
support Oncol.2005;3;059-69. Diunduh dari: www.SupportiveOncology.net.

20

21