Anda di halaman 1dari 4

KOMODITAS PRODUK KIMIA YANG BERASAL DARI FERMENTASI

1 .Etanol
Etanol memiliki aplikasi yang sangat luas dalam industri kimia, aditif bahan bakar, maupun
sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Alasan etanol digunakan karena menjadi
alternatif pengganti MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether) yang bersifat karsinogenik dan mudah
mencemari air tanah.
Saat ini, lebih dari 95% dari bahan bakar ethanol diproduksi di Amerika Serikat oleh
fermentasi glukosa yang berasal dari pati jagung. Di Amerika Serikat, etanol dibuat dari jagung
dengan menggunakan
basah,

protein,

penggilingan basah dan penggilingan kering. Dalam penggilingan jagung

minyak,

dan

komponen

serat

dipisahkan

sebelum

pati

dicairkan

dan

disaccharifikasi ke glukosa yang kemudian difermentasi menjadi etanol oleh Sacchmomyces

cerevisiae. Pada penggilingan kering, etanol dibuat dari uap jagung dengan menggunakan
sakarifikasi simultan dan proses SSF.
Beberapa bakteri seperti Escherichia coli, Klebsiella, Erwinia, Lactobacillus,Bacillus, dan

Clostridia dapat memanfaatkan gula campuran tetapi hanya menghasilkan etanol dengan kuantitas
yang terbatas. Bakteri ini umumnya menghasilkan asam campuran (asetat, laktat,propionat,
suksinat,) dan pelarut (aseton, butanol, 2,3-butanadiol, dll). Beberapa mikroorganisme telah
direkayasa secara genetik untuk memproduksi etanol dari substrat gula campuran dengan
menggunakan dua pendekatan yang berbeda

Dengan mengalihkan aliran karbon dari produk fermentasi asli etanol dalam
campuran gula yang efisien memanfaatkan mikroorganisme seperti Escherichia,

Envinia, dan Klebsiella

Dengan memperkenalkan pemanfaatan pentosa pada produksi etanol secara efisien


melalui organisme Saccharomyces dan Zymomonas.

Hasil penelitian berdampak langsung pada perkembangan penggunaan enzim selulase yang
efisien dan lebih murah dalam penggunaan untuk lignocellulosic biomass saccharification. Selain
itu, dibutuhkan juga etanol yang stabil, dan rekombinan organisme dengan etanologenik yang kuat
untuk memanfaatkan substrat gula yang lebih besar dan mentoleransi inhibitor seperti furfural,
hidroksimetil furfural, dan asam aromatik yang dihasilkan selama pengenceran asam.

2. 1,3-Propanediol
1.3-Propanediol (1,3-PD) adalah bahan kimia yang berharga yang cocok digunakan sebagai
monomer untuk polycondensation untuk menghasilkan poliester, polieter, dan poliuretan. 1-3
Propanediol bisa dihasilkan melalui fermentasi dari gliserol serta beberapa bakteri seperti

Klebsiella

pneumoniae,

Citrobacter

freundii,

dan

Clostridium

pastwureunum.

Proses

fermentasinya yaitu dengan mendehidrasi gliserol menjadi 3-hidroksipropionaldehid yang


kemudian tereduksi menjadi 1,3-PD menggunakan NADH2. NADH2 dihasilkan dari metabolisme
oksidatif gliserol melalui glikolisis yang menghasilkan etanol, butanol, dan 2,3-butadienol.
Beberapa produk seperti etanol dan butanol tidak berperan pada pengumpulan NADH 2.
1,3-Propanediol dapat dipoduksi dari glukosa dengan 2 pendekatan:

fermentasi

glukosa

menjadi

gliserol

dan

gliserol

menjadi

1,3-PD

dengan

menggunakan proses dua tahap dengan dua organisme yang berbeda

gen yang mengkonversi glukosa menjadi gliserol dan gliserol menjadi 1,3-PD dapat
dikombinasikan dalam satu organisme

3. Asam Laktat
Asam laktat (asam 2-hydroxypropionic) digunakan dalam makanan, farmasi, dan industri
kosmetik. Asam laktat memiliki potensi jumlah produksi yang besar. komoditas kimia menengah
yang diproduksi dari karbohidrat terbarukan untuk digunakan sebagai bahan baku untuk
biodegradable polimer, oygenated chemicals, pelarut ramah lingkungan, zat pengatur tumbuh, dan
bahan kimia khusus. Stereoisomer spesifik asam laktat (D atau L) dapat diproduksi dengan
menggunakan teknologi fermentasi. Banyak bakteri asam laktat (LAB) seperti Lactobacillus

fermentum, L. buchneri, dan L.fructivorans menghasilkan campuran dari D dan L-asam laktat.
Beberapa LAB seperti Lb. bulgaricus, L. Coryniformis subsp. torquens, dan Leuconostoc

mesenteroides subsp. mesenteroides menghasilkan asam D-laktat yang sangat murni dan LAB
seperti Lb. casei, Lb. rhamnosus, dan Lb. Mali menghasilkan asam laktat L-. Proses produksi
komersial yang ada biasanya menggunakan bakteri asam homolactic seperti Lb. delbrueckii, Lb

bulgaricus, dan Lb. Leichmonii


Enzim digunakan dan asam diperlakukan hemiselulosa hidrolizat dari jerami yang
teroksidasi basah sebagai substrat untuk produksi asam laktat dengan hasil 95% dan melengkapi
pemanfaatan substrat dengan mencampur kultur Lb.brevis dan Lb.pentosus tanpa inhibisi. Mutan

E.coli RR1 pta digunakan sebagai tempat produksi asam laktat D- dan L-. Sebuah mutan pta ppc
mampu melakukan metabolisme glukosa, terutama untuk Laktosa D- dibawah kondisi aerobik, dan

mutan pta ldh menjadi tempat gen L-ldh dari Lb. casei dan diproduksi laktat L- sebagai produk
besar fermentasi.

4. Potyhydroxyalkanoates (PHA)
Polyhydroxyalkanoates (PHAs) seperti seperti asam poli 3-hidroksibutirat (PHB) dan
kopolimer terkait seperti asam poli 3-hidroksibutirat-co-3-hydroxyvaleric (PHB-V) adalah homoatau

heteropolyesters

mikroorganisme

seperti

alami

(MW

Ralstonia

50,000-1,000,000)

eutropha,

yang

Alcaligenes

disintesis

latus,

oleh

Azotobacter

berbagai

vinelandii,

Chromobacteruium violaceum, methylotrophs, dan pseudomonad.


Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk membuat organisme rekombinan untuk
produksi PHA yaitu :

pemanfaatan substrat gen dapat diperkenalkan ke dalm produsen PHA

Biosintesis gen PHA dapat dimasukkan ke dalam produsen non-PHA

Banyak bakteri rekombinan yang berbeda dikembangkan untuk meningkatkan kapasaitas


produksi PHA, untuk memperluas rentang substrat yang dapat diapakai, dan untuk memproduksi
PHA baru.
Beberapa metode telah dikembangkan untuk pemulihan PHA. Metode yang paling sering
digunakan adalah ekstraksi polimer dari biomassa sel dengan pelarut seperti kloroform, metilen
klorida, propilena karbonat, dan dikloroetan. Dalam metode non-solven, sel pertama-tama
diekspos pada temperatur 80oC dan diperlakukan dengan cocktail dari jenis-jenis enzim hidrolisis
seperti lyzosome, phospolipaselechitinase, dan proteinase.

5. Exopolysaccharides (EPS)
Banyak spesies LAB menghasilkan berbagai macam EPS dengan komposisi kimia dan
struktur yang berbeda. EPS berkontribusi pada tekstur dan reologi produk susu fermentasi.
Biosintesis EPS kompleks dan membutuhkan tindakan dari sejumlah produk gen. Secara umum, 4
reaksi pemisahan terlibat, yaitu : transport gula ke dalam sitoplasma, sintesis gula-1 -fosfat,
aktivasi dan kopling gula, dan proses yang terlibat dalam ekspor EPS. Produksi EPS oleh LAB
sangat dipengaruhi oleh kondisi fermentasi seperti pH, temperatur, tekanan oksigen, dan
komposisi medium.

6. Vanilin
Vanilin (3-metoksi-4-hidroksibenzaldehid) merupakan satu dari bahan kimia aroma yang
banyak digunakan dalam industri pangan. Biasanya dibuat melalui dua tahap. Vanilin diekstrak dari
biji vanila yang terkandung 2% dari beratnya. Vanilin murni disintesis dari guiacol. Harga yang
mahal untuk vanilin terstimulasi penelitian pada pengembangan metode berbasis bio untuk
produksi vanilin. Asam freulat merupakan asam sinamik mayor yang ditemukan pada varietas di
dinding sel. Serat jagung mengandung 3% asam freulat.
Untuk menghasilkan vanilin dari glukosa melalui shikimate pathway memakai E.coli yang
telah dibiakkan. Rantai E.coli KL7 dengan plasmid pKl5.26A atau Pkl5.97A digunakan untuk
mengkonversi glukosa menjadi asam vanili memakai enzim aril aldehid dehidrogenase yang
diisolasi dari Neurospora.crassa.