Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

M DENGAN
DIAGNOSA MEDIS
TUMOR COLON RESIDIF METASTASIS TUMOR HEPAR
LONTARA 2 (DIGESTIVE)
RSUP. DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

KONSEP MEDIS
TUMOR HEPAR
Tumor hepar terjadi sebagai primer atau
metastatik. Kanker hati primer dapat
tumbuh dari hepatosit (sel hati), jaringan
penyambung, pembuluh darah atau
saluran empedu.
Kanker ini dapat berupa benigna atau
maligna. Kanker hati maligna metastatik
dapat muncul dari kanker primer pada
organ-organ lain, tetapi pada umumnya
bersumber dari perut, pankreas, kolon dan
rektum.

Etiologi

Alkohol
Diabetes Mellitus (DM)
Obesitas
Karsinogen Kimia
Sirosis Hati
Virus Hepatitis

Manifestasi klinis
Nyeri abdomen kanan atas
Massa badomen atas
Perut kembung timbul karena massa tumor sangat
besar dan gangguan fungsi hati.
Anoreksia : timbul karena fungsi hati terganggu,
tumor mendesak saluran gastrointestinal
Letih, kurus
Demam : timbul karena nekrosis tumor, disertai
infeksi dan metabolit tumor,
Icterus : tampil sebagai kuningnya sklera dan kulit,
biasanya sudah stadium lanjut,
Ascites

Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium
Peningkatan kadar bilirubin, alkali fosfatase,
SGOT, SGPT, LDH, CPK, HbsAg positif dalam
serum, leukositosis, eritrositosis,
hiperkalsemia, hipoglikemia, dan
hiperkolesterolemia.
Alfa fetoprotein (AFP) 500 mg/dl. AFP
meningkat pada klien dengan karsinoma
hepatoseluler
Kadar antigen karsinoembrionik (CEA) yang
berfungsi sebagai penanda kanker saluran
cerna dapat meningkat

Radiologi
Radiologi ; meliputi sinar X abdomen dan
dada serta Ultrasonografi (USG) dapat
menunjukkan adanya masa.
CT Scan (Sidik Tomografi Komputer) dengan
zat kontras dapat membantu dokter dalam
menentukan apakah ada atau tidak ada lesilesi benigna dan atau maligna.
Angiografi Hepatik dapat memperlihatkan
pembuluh darah yang terkena sebelum
pembedahan.
Biopsi jaringan hati dilakukan dengan
tuntunan USG atau laparoskopi

Diagnosa keperawatan Teori


Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan
pembengkakan hepar dan bendungan vena porta.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan gangguan absorbsi dan
metabolisme pencernaan makanan penurunan
peristaltic (reflek visceral), empedu tertahan.
Kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan
metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
meningkatnya kebutuhan metabolisme sekunder
terhadap infeksi kronik hepatoma.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
pengumpulan cairan intra abdomen, asites, dan
penurunan ekspansi paru.

Gangguan perfusi jaringan berhubungan


dengan penurunan aliran darah sekunder
terhadap karsinoma hepatoseluler.
Kelebihan volume cairan berhubuangn
dengan hipertensi portal, tekanan osmotic
koloid yang merendah akibat dari
penurunan protein albumin ditandai dengan
penumpukan cairan bawah kulit, intake dan
output tidak seimbang.
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan
jaringan berhubungan dengan pruritus
sekunder terhadap akumulasi pigmen
bilirubin dalam garam empedu.

Resiko terhadap cidera berhubungan


dengan penurunan produksi dan sekresi
eritropoetin, penurunan produksi sel darah
merah, penurunan masa hidup sel darah
merah, gangguan faktor pembekuan darah
dan peningkatan kerapuhan kapiler.
Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi
berhubungan dengan sifat menular dari
agent virus.
Resiko gangguan konsep diri : gangguan
citra tubuh berhubungan dengan
perubahan peran, perubahan penampilan
fisik (ikterik, asites).

Pengkajian Kasus

Nama
: Tn. M
Usia
: 43 tahun
Tanggal Lahir
: 1 Januari 1971
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Tanggal Masuk: 23 Maret 2014
Dari : IRD
Waktu pengkajian: 25 Maret 2014
Alamat : Dusun 1 Emea Morowali
Sumber Informasi : Pasien, keluarga dan status pasien

Alasan masuk RS
Keluarga pasien mengatakan 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit pasien
mengeluh
kembung
perut
dan
dianggapnya sebagai sakit maag, akan
tetapi sejak tanggal 9 maret 2014 perut
pasien mulai membengkak dan terasa
nyeri hingga sekarang. Pasien memiliki
riwayat operasi tumor colon pada 14
November 2013 dengan tindakan operasi
laparatomi eksplorasi hemilodectomi
dextra.

Keluhan saat pengkajian


Pasien mengeluh nyeri pada bagian perut
dan tembus hingga ke seluruh belakang,
pasien mengatakan nyeri pada skala 10
dan sering datang tiba-tiba. Pasien
mengatakan nyeri yang dirasakan seperti
ditusuk-tusuk. Pasien mengatakan jika
nyeri datang perutnya terasa mau
meledak. Pasien juag mengeluh jika nyeri
datang susah untuk bernafas. Pasien
susah untuk miring ke kanan.

Pemeriksaan laboratorium
Darah rutin 23 Maret 14

WBC
RBC
HGB
PLT
HCT
NEU
LYMPH
MONO
EO
BASO

17,5.103/ul
2,13.106/ul
9,4 g/dl
450 . 103
27,5%
0,72 103/ul
0,94 103/ul
0,019 103/ul

Nilai rujukan
4,00 10,0. 103/ul
4,00 6,00. 106/ul
12,0 16,0
150 400
37,0 48,0
2-7,5
4,1%
1-4
5,4%
0,2-1
0-0,5
1,1%
0-0,2

Kimia darah 23 Maret 14

GDS
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT
Natrium
Clorida
Kalium
HbsAg
Anti HCV

101 mg/dl
35 mg/dL
0,50 mg/dl
701 U/L *
270 U/L *
127 mmol/L *
96 mmol/L
4,6 mmol/L
non reactive
non reactive

<200
10-50
<1,3
<38
<41
136-145
97-111
3,5-5,1

Darah rutin 1 April 14

WBC
RBC
HGB
PLT
HCT
NEU
LYMPH
MONO
EO
BASO

Nilai rujukan
19,44.103/ul 4,00 10,0. 103/ul
2,71.106/ul 4,00 6,00. 106/ul
8,0 g/dl
12,0 16,0
382 . 103
150 400
24,7%
37,0 48,0
17,51 103/ul 90,1% 52-75
0,61 103/ul
3,1% 20-40
1,29 103/ul
6,6% 2-8
0,02 103/ul
0,1% 1-3
0,01 103/ul
0,1% 0,00-0,10

Kimia Darah 1 April 14

GDS
SGOT
SGPT
Albumin
Natrium
Clorida
Kalium

73 mg/dl
411 U/L *
97 U/L *
2,5 *
130 mmol/L *
95 mmol/L
4,5 mmol/L

<200
<38
<41
3,5-5,0
136-145
97-111
3,5-5,1

Radiologi
CT abdomen tanggal 23 Maret 2014
Hepatomegali, efusi pleura bilateral dan
asites.

Foto thoraks PA tanggal 30 Maret 2014


Cor dan pulmo normal
Elevasi diafragma (proses intraabdominal)

Kalsifikasi data :
Data subjektif
Pasien mengeluh nyeri pada perut bagian kanan
menjalar sampi ke belakang
Pasien mengatakan nyeri pada skala 10
Pasien mengatakan nyeri terasa seperti ditusuktusuk
Pasien mengatakan perutnya terasa mau
meledak
Pasien mengatakan merasa panas didaerah perut
sampai belakang
Pasien mengatakan hanya bisa miring ke kiri
Pasien mengatakan susah bernafas
Pasien mengatakan mual
Pasien mengatakan susah untuk tidur

Pasien mengatakan hanya makan 2 sendok bubur


Keluarga pasien mengatakan pasien juga diberi
makan pisang, anggur, madu, sari kurma dan
susu
Pasien mengatakan berat badan sebelum MRS
adalah 45kg
Pasien mengatkan tidak mampu berjalan ke
kamar mandi kecuali dibantu istrinya
Pasien dan keluarga mengatakan setelah selesai
dioperasi tumor colon, dokter mengatakan tidak
terdapat keganasan

Data objektif
Pasien terlihat meringis kesakitan
Pasien terlihat mengelus-elus area perut kanan
yang sakit
Keluarga pasien terlihat meletakkan handuk
basah di perut kanan dan belakang pasien
Pasien terlihat hanya miring ke kiri
Pasien terlihat sesak
Pernafasan 36x/m dengan suara nafas
bronchovesikuler di RIC 1
Pasien terlihat terpasang oksigen 2,5L dengan
binasal kanul
Terlihat makanan tidak dihabiskan
Pasien terlihat lemah

Terlihat istri pasien memapah pasien untuk ke toilet


Perut pasien terlihat besar khususnya di bagian kanan
Lingkar abdomen 89cm
Terlihat dilatasi vena superfisial didaerah perut
sebelah kanan
Bising usus 6x/m
Pasien memperlihatkan seluruh hasil pemeriksaan
laboratorium dan radiologi
TD 120/80mmHg, Nadi 98x/m, Pernafasan 36x/m,
suhu badan 380c
BB pasien 45 kg, TB 166cm. Berat badan ideal 59,4kg.
Pasien loss weight sebesar 11,4kg. Pasien kehilangan
BB >20% dari BB ideal
Pemeriksaan hemoglobin 9,4mg/dl
Pemeriksaan CT abdomen hepatomegali, efusi pleura
bilatral dan asites

Diagnosa keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agens-agens
penyebab cedera biologis : tumor hepar
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
nyeri, penurunan energi dan kelelahan,
penurunan ekspansi paru
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
hilang nafsu makan
Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan
fisik (nyeri dan sesak nafas)
Keletihan berhubungan dengan anemia, kondisi
fisik yang buruk, keadaan penyakit dan kurang
nutrisi
Kesiapan meningkatkan pengetahuan (Tindakan
medis dan perawatan)

PKDM KASUS PKDM kanker hepar.xlsx

Pembahasan :
Pengkajian
Pada pengkajian demografi dikatakan bahwa
sering terjadi pada orang yang dengan pekerjaan
yang berlebihan, sedangkan pasien merupakan
pekerja bengkel saja dan penyakit yang
didapatkan merupakan kelanjutan dari tumor
colon yang diderita sebelumnya. Selanjutnya
pada pola fungsional, tidak ditemukan
bradikardia akibat hiperbilirubinemia, ikterik
pada kulit dan membran mukosa. Pada
neurosensori dikatakan pasien cenderung tidur,
tetapi pada pasien didapatkan susah tidur karena
tumor hati telah menekan diafragma dan
mengakibatkan susah bernafas atau dispnue.

Pada pemeriksaan fisik, diaktakan bahwa terdapat


tekanan darah tinggi, tetapi pada pasien didapatkan
hipotensi, tidak didapatkan skelra ikterik, gatal pada
kulit. Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium
semua sesuai dengan teoritis, kecuali peningkatan
bilirubin karena pada pasien tidak dilaksanankan
pemeriksaan bilirubin.
Pada pemeriksaan didapatkan peningkatan sel darah
putih hingga 17.500 l yang menandakan adanya
infeksi didalam tubuh, kerusakan pada sel hati
meningkatkan konsentrasi sel darah putih. Untuk
pemeriksaan sel darah merah didapatkan hasil
2,13.106/ l, kerusakan pada hati mempengaruhi juga
pembentukan pemecahan sel darah merah yang juga
mempengaruhi penurunan hemoglobin.

Pemeriksaan tes fungsi hati seperti SGOT dan SGPT


juga mengalami peningkatan dimana menunjukkan
kerusakan jaringan pada hati dan adanya proses
inflamasi. Terjadi peningkatan natrium juga yang
merupakan mekanisme kompensasi untuk mencukupi
kebutuhan cairan dalam tubuh akibat penurunan
cardiac output. Terjadi hipoglikemia pada pasien,
dimana
pembentukan
glukogenesis
serta
glukoneogenesis terjadi di dalam hati, maka
kerusakan hatindapat
mempengaruhi
proses
tersebut.
Untuk pemeriksaan CT abdomen didapatkan
hepatomegali sebagai akibat karena adanya tumor
pada hati, terdapat efusi pleura bilateral karena
kelebihan cairan pada paru-paru dan pasien juga
mengalami sesak nafas dan asites. Terdapat elevasi
diafragma dikarenakan tekanan dari tumor hepar
yang menekan diafragma sehingga menekan paruparu dan menyebabkan sesak nafas.

Diagnosa keperawatan
Adapun kesenjangan yang didapatkan ada 2 diagnosa
yang tidak didapatkan dikasus yaitu :
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan aliran darah sekunder terhadap karsinoma
hepatoseluler.
Kelebihan volume cairan berhubuangn dengan
hipertensi portal, tekanan osmotic koloid yang
merendah akibat dari penurunan protein albumin
ditandai dengan penumpukan cairan bawah kulit,
intake dan output tidak seimbang

Intervensi keperawatan
Dalam proses perencanaan ada beberapa
rencana keperawatan yang tidak sesuai dengan
teori karena perencanaan yang dibuat
berdasarkan dengan kebutuhan klien. Tujuan
yang ditetapkan pada asuhan keperawatan
memiliki kriteria spesifik, namun tidak ditentukan
waktu pencapaian tujuan dengan alasan penyakit
yang
diderita
sudah
kronik
sehingga
membutuhkan waktu yang lebih untuk
pemberian intervensi.

Implementasi
Nyeri
Perencanaan tindakan keperawatan disesuaikan pada
rencana keperawatan berdasarkan teori yaitu : kaji
tingkat nyeri, istirahatkan tangan yang sakit dan
elevasikan setinggi jantung, observasi tanda tanda
vital, tindakan manajemen nyeri non farmakologis,
beri posisi yang menyenangkan, penatalaksanaan
pemberian analgetik.
Pola nafas tidak efektif
Tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan
yag ada di teori yaitu kaji kedalaman, frekuensi dan
irama bernafas, berikan posisi semi fowler, ajarkan
penggunaan nafas dalam dan kolaborasi dalam
pemberian oksigen.

Nutrisi kurang
Tindakan keperawatan yang dilakukan antara lain :
mengkaji kebiasaan makan pasien, menentukan
kemampuan makan pasien, memberikan porsi sedikit
tetapi sering, memberikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi.
Insomnia
Tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu :
mengkaji pola tidur pasien, membantu pasien
beristirahat dengan memberikan tindakan
kenyamanan, mengatasi neri sehingga membantu
pasien untuk dapat tertidur.

Keletihan
Tindakan keperawatan yaitu, mengakji dampak
keletihan bagi aktifitas sehari-hari, memantau respon
kardiorespirasi, memantau asupan nutrisi,
meningkatkan pembatasan aktivitas, menjelaskan
keletihan dan kondisi penyakit.
Kesiapan meningkatkan pengetahuan
Mengkaji tingkat kebutuhan belajar pasien sesuai
pemahaman, membina hubungan saling percaya,
memberi penyuluhan yang sesuai dengan tingkat
pemahaman pasien, memberikan waktu kepada
pasien untuk mengajukan beberapa pertanyaan,
memberikan informasi secara berulang.

Hal-hal yang mendukung


Klien dan keluarga cukup kooperatif sehingga
dapat diajak kerjasama dalam melaksanakan
tindakan keperawatan yang dilakukan.
Partisipasi petugas ruangan dalam memberi
bimbingan serta pengawasan selama kelompok
melaksanakan asuhan keperawatan pada klien.
Kelompok mendapat kepercayaan dalam
melaksanakan tindakan-tindakan sesuai dengan
masalah yang dihadapi.

Hal-hal yang menghambat.


Kondisi Tn.M masih belum berlanjut ke tahapan yang
kritis pada saat pengkajian, sehingga tidak ada
tindakan dokter selama seminggu lebih. Semua
tindakan keperawatan yang diberikan tidak dapat
membantu sepenuhnya mengatasi keluhan Tn.M,
pemeriksaan laboratorium baru dilaksanakan 2
minggu setelahnya, jadi hal tersebut menghambat
penulis untuk menilai keadaan pasien

Evaluasi
Pada kasus yang ditangani dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan sebagai metode
pemecahan masalah sehingga dalam evaluasi setelah
diberikan asuhan keperawatan selama enam hari
yaitu sejak tanggal 24 sampai 29 Maret 2014
menunjukkan belum ada diagnosa yang bisa teratasi
karena keadaan pasien semakin memburuk seiring
dengan gejala penyakit. Klien memerlukan perawatan
yang lebih lama sesuai dengan tingkat keparahan
penyakit yang dialami Tn. M