Anda di halaman 1dari 8

TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA KASUS APENDISITIS

(RADANG USUS BUNTU)


12:45 PM Ajunk Artawijaya 1 comment
PENDAHULUAN
1.1

Latar

Belakang

Pemeriksaan radiografi seperti sekarang ini cenderung mulai meninggalkan tradisi pemeriksaan
radiologi konvensional, hal ini dapat dilihat dari berbagai diagnosis yang memerlukan
keterampilan khusus di dalam melakukan pemeriksaannya. Seperti pemberian media kontras
dalam keperluan diagnostic imejing seperti CT-Scan, MRI, IVP dan lain sebagainya.
Maka dari itu seorang radiographer sebagai mitra kerja radiologist harus mampu mengetahui
berbagai aspek di dalam pemeriksaan dengan media kontras, salah satunya yakni pemeriksaan
radiologi pada kasus apendisitis (usus buntu) atau disebut apendicography.

Melihat pentingnya hal tersebut di atas dalam dunia kerja sebagai radiographer, maka dalam
kesempatan kali ini penulis akan menyajikan makalah mengenai teknik pemeriksaan radiologi
pada kasus apendisitis.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Apa definisi dari apendisitis?
2. Bagaimana teknik pemeriksaan pada kasus apendisitis?
1.3.

Tujuan

Dilihat dari latar belakang penulisan makalah ini maka dapat disimpulkan tujuan penulisan
makalah
ini
menjadi
dua
yakni
tujuan
umum
dan
tujuan
khusus.
1.3.1.
Tujuan
Umum
Mengetahui pengertian dari penyakit apendisitis dan pemeriksaan radiologi yang dilakukan.
1.3.2. Tujuan Khusus
Memahami lebih detail mengenai teknik pemeriksaan apendiks atau apendicografi, mulai dari
persiapan pasien sampai dengan kriteria gambaran.
1.4.

Manfaat

Manfaat penulisan ini adalah :


1. Memberikan gambaran mengenai pengertian apendisitis.

Penulisan

2. Memberikan gambaran mengenai teknik pemeriksaan apendichografi.


TINJAUAN TEORI
2.1. Apendisitis (radang usus buntu)
Pendahuluan
Apendisitis adalah peradangan pada apendix vermiformis (Pierce dan Neil, 2007). Apendisitis
merupakan kasus laporotomi tersering pada anak dan juga pada orang dewasa (Ahmadsyah dan
Kartono, 1995). Hampir 7% orang barat mengalami apendisitis dan sekitar 200.000 apendiktomi
dilakukan di Amerika Serikat tiap tahunnya. Insidens semakin menurun pada 25 tahun terakhir,
namun di negara berkembang justru semakin meningkat, kemungkinan disebabkan perubahan
ekonomi dan gaya hidup (Lawrence, 2006).
Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding kecuali pada umur 20-30 tahun,
insidens laki-laki lebih tinggi, sedangkan pada bayi dan anak sampai berumur 1-2 tahun jarang
ditemukan
(Syamsuhidajat,
1997).
Diagnosis harus ditegakkan dini dan tindakan harus segera dilakukam, keterlambatan
penanganan menyebabkan penyulit perforasi dan berbagai akibatnya (Ahmadsyah dan Kartono,
1995).
Anatomi
dan
Fisiologi
Appendix
Pada neonatus, apendix vermiformis (umbai cacing) adalah sebuah tonjolan dari apex caecum,
tetapi seiring pertumbuhan dan distensi caecum, appendix berkembang di sebelah kiri dan
belakang kira-kira 2,5 cm di bawah valva ileocaecal (Lawrence, 2006). Istilah usus buntu yang
sering dipakai di masyarakat awan adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah
caecum. Appendix merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya sekitar 10 cm (3-15 cm).
Lumennya sempit di bagian proximal dan melebar di bagian distal. Namun, pada bayi, appendix
berbentuk kerucut, lebar di pangkal, dan sempit di ujung (Syamsuhidajat, 1997). Ontogenitas
berasal dari mesogastrium dorsale. Kebanyakan terletak intraperitoneal dan dapat digerakkan.
Macam-macam letak appendix : retrocaecalis, retroilealis, pelvicum, postcaecalis, dan
descendentis
(Budiyanto,
2005).
Pangkal appendix dapat ditentukan dengan cara pengukuran garis Monroe-Pichter. Garis diukur
dari SIAS dextra ke umbilicus, lalu garis dibagi 3. Pangkal appendix terletak 1/3 lateral dari garis
tersebut dan dinamakan titik Mc Burney. Ujung appendix juga dapat ditentukan dengan
pengukuran garis Lanz. Garis diukur dari SIAS dextra ke SIAS sinistra, lalu garis dibagi 6.
Ujung appendix terletak pada 1/6 lateral dexter garis tersebut (Budiyanto, 2005).
Appendix menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir tersebut secara normal dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh
GULT yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendix adalah IgA. Imunoglobulin
ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi (Syamsuhidajat, 1997).

Etiologi

Apendisitis

Penyebabnya hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas (tinja
yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus,
dan
lain-lain
(Subanada,
dkk,
2007,
Price
dan
Wilson,
2006).
Patofisiologi
Setelah terjadi obstruksi lumen appendix maka tekanan di dalam lumen akan meningkat karena
sel mukosa mengeluarkan lendir. Peningkatan tekanan ini akan menekan pembuluh darah
sehingga perfusinya menurun akhirnya mengakibatkan iskemia dan nekrosis. Invasi bakteri dan
infeksi dinding appendix segera terjadi setelah dinding tersebut mengalami ulserasi. Infiltratinfiltrat peradangan tampak di semua lapisan dan exudat fibrin tertimbun di dalam lapisan serosa.
Meskipun perforasi belum terjadi, organisme-organisme biasanya dapt dibiakan dari mukosa
appendix. Nekrosis dinding appendix mengakibatkan perforasi dan pencemaran abdomen oleh
tinja
(Subanada,
dkk,
2007;
Chandrasoma,
2006).
Gambaran

Klinis

Nyeri di sekitar umbilikus dan epigastrium disertai anoreksia (nafsu makan menurun), nausea,
dan sebagian dengan muntah. Beberapa jam kemudian nyeri berpindah ke kanan bawah ke titik
Mc Burney disertai kenaikan suhu tubuh ringan (Ahmadsyah dan Kartono, 1995). Bila appendix
terletak retrokolik, rasa nyeri terasa di daerah pinggang bagian bawah, bila terletak pelvical rasa
nyeri dirasakan di hipogastrium atau di dalam pelvis, dan bila terletak retrocaecal bisa
mengiritasi m. psoas. Pada pemeriksaan fisik, pasien terlihat pucat, adanya nyeri tekan, nyeri
ketok, nyeri lepas, dan tahanan otot (defans muskuler). Iritasi pada psoas dan obturator
menimbulkan nyeri panggul. Peristaltik di daerah appendix menurun. Pada rectal toucher, ada
nyeri pada arah jam 10-11 merupakan petunjuk adanya perforasi (Subanada, dkk, 2007).
Diagnosis

Banding

Beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding (Pierce dan Neil, 2007):
limfadenitis
mesenterica
terutama
pada
anak-anak.
penyakit pelvis pada wanita : inflamasi pelvis, ISK, kehamilan ektopik, ruptur kista korpus

luteum,
endometriosis
externa.
lebih jarang : penyakit Crohn, kolesistitis, perforasi ulkus duodenum, pneumonia kanan bawah.
jarang
:
perforasi
karsinoma
caecum,
diverkulitis
sigmoid
Diagnosis
Diagnosis
ditegakkan
bila
memenuhi
(Pierce
dan
Neil,
2007):
gambaran
klinis
yang
mengarah
ke
appendisitis.
laboratorium : lekositosis ringan, lekosit > 13.000 /dl biasanya pada perforasi, terdapat
pergeseran
ke
kiri
(netrofil
segmen
meningkat).
USG untuk massa appendix dan jika masih ada keraguan untuk menyingkirkan kelainan pelvis
lainnya.
laporoskopi biasanya digunakan untuk menyingkirkan kelainan ovarium sebelum dilakukan
apendiktomi
pada
wanita
muda.
CT scan pada usia lanjut atau dimana penyebab lain masih mungkin.
Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendiktomi dan merupakan
satu-satunya pilihan yang baik. Penundaan tindak bedah sambil pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses atau perforasi. Apendiktomi bisa dilakukan secara terbuka atau pun dengan
cara laporoskopi. Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik,
kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata (Syamsuhidajat, 1997).
Komplikasi
Beberpa

komplikasi

yang

dapat

terjadi

1.
Perforasi
Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Perforasi appendix
akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat
meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler
di seluruh perut, peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik
(Syamsuhidajat,
1997).
2.
Peritonitis
Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. Bila
bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya
peritonitis generalisata. Dengan begitu, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus
paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam
lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Gejala :
demam, lekositosis, nyeri abdomen, muntah, Abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus
menghilang
(Price
dan
Wilson,
2006).
3.

Massa

Periapendikuler

Hal ini terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh
omentum. Umumnya massa apendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila
tidak terjadi peritonitis generalisata. Massa apendix dengan proses radang yang masih aktif
ditandai dengan keadaan umum masih terlihat sakit, suhu masih tinggi, terdapat tanda-tanda
peritonitis, lekositosis, dan pergeseran ke kiri. Massa apendix dengan proses meradang telah
mereda ditandai dengan keadaan umum telah membaik, suhu tidak tinggi lagi, tidak ada tanda
peritonitis, teraba massa berbatas tegas dengan nyeri tekan ringan, lekosit dan netrofil normal
(Ahmadsyah
dan
Kartono,
1995).
Prognosis
Apendiktomi yang dilakukan sebelum perforasi prognosisnya baik. Kematian dapat terjadi pada
beberapa kasus. Setelah operasi masih dapat terjadi infeksi pada 30% kasus apendix perforasi
atau
apendix
gangrenosa.
Pencegahan
Sering

makan

makanan

berserat

dan

menjaga

kebersihan.

2.2.

Patology

Bila terjadi peradangan dan appendik dapat mengakibatkan :

Masuknya lumen usus ke dalam perut : peritonitis


Terbentuknya Abses
Pada wanita , indung telur dan salurannya dapat menyebabkan kemandulan
Masuknya kuman dalam pembuluh dara
PEMBAHASAN DAN HASIL

3.1.

Appendikografi

DEFINISI

Appendikografi : Teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan appediks dengan


menggunakan
kontras
media
positif
barium
sulfat
.
Dapat dilakukan :

Secara oral
Ecara anal

PERSIAPAN PASIEN

48 jam sebelum pemeriksaan dianjurkan makan makanan lunak tidak berserat. Misal :
bubur kecap
12 jam atau 24 jam sebelum pem pasien diberikan 2/3 Dulcolac untuk diminum

Pagi hari pasien deberi dulkolac supositoria melalui anus atau dilavement
4 jam sebelem pemeriksaan pasien harus puasa hingga emeriksaan berlangsung
Pasien dianjurkan menghindari banyak bicara dan merokok

PERSIAPAN ALAT

Pesawat sinar-X yg dilengkapi fluoroskopi & dilengkapi alat bantu kompresi yg


berfungsi untuk memperluas permukaan organ yg ada didaerah ileosaekal / memodifikasi
posisi pasien supine mjd prone
Kaset + film

PERSIAPAN BAHAN

Bahan kontras barium sulfat dengan perbandingan 1 : 4 sampai 1 : 8

3.2.

Teknik

PA/AP

Pemeriksaan
PROJECTION

Posisi Pasien : Pasien pada posisi pone atau supine, dengan bantal di kepala.
Posisi Objek :

MSP berada di tengah-tengah meja pemeriksaan


Pastikan tidak ada rotasi

Central Ray :

CR tegak lurus terhadap kaset


CR setingi iliac crest
SID minimal 100 cm

Struktur yang tampak :

Colon bagian transversum harus diutamaka terisi barium.pada posisi PA dan terisi udara
pada posisi AP dengan teknik double contrast.
Seluruh luas usus harus nampak termasuk flexure olic kiri.

RPO

(Right

Posterior

Oblique)

Posisi Pasien : 35 to 45o menuju right dan left porterior oblique (RPO atau LPO), dengan bantal
pada
bantal
Posisi Objek :

Letakan bantal di atas kepala.


Flexikan siku dan letakan di depan tubuh pasien
Luruskan MSP dengan meja pemeriksaan dengan abdominal margins kiri dan kanan
sama jauhnya dari garis tengah meja pemeriksaan

CENRAL RAY :

CRtegak lurus terhadap IR


Sudutkan CR dengan titik pusat setinggi iliac crest dan sekitar 2,5 cm lateral menuju
garis midsaggital plane (MSP).
SID minimal 100 cm

STRUKTUR YANG TAMPAK

LPO colic flexura hepatic kanan dan ascending & recto sigmoid portions harus tampak
terbuka tanpa superimposition yang significant. RPO- colicflexure kiri dan descending
portions harus terlihat terbuka tanpa superimposition yang significant.

PENUTUP
4.1.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Apendisitis (radang usus buntu) adalah peradangan pada apendix vermiformi.
2. Appendikografi merupakan teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan
appediks dengan menggunakan kontras media positif barium sulfat, yang dilakukan
dengan dua proyeksi, yakni PA/AP dan RPO atau RAO.