Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KELOMPOK HUKUM FILSAFAT PANCASILA

NAMA KELOMPOK :
DIMITRI ANGGREA NOOR

(1203005055)

MERTAYASA

(12033005056)

MADE AGUS SANJAYA

(1203005057)

DIAN PERTIWI

(1203005058)

DESAK NYOMAN TRI PUTRA DEWI

(1203005059)

TRISNA ANGGITA

(1203005060)

SINTHA TJIRI PRADNYADEWI

(1203005061)

PARAMARTA

(1203005062)

SATRIA WIBAWA

(1203005063)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYA
2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena berkat rahmatNya kami bisa menyelesaikan paper yang berjudul paper ini diajukan
guna memenuhi tugas mata kuliah filsafat pancasila.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
paper ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Denpasar, 13 okt 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Salah satu faham yang berkembang dalam era modern adalah postmodernisme. Era
ini merupakan gerakan abad ahir ke-20 dalam seni arsitektur dan kritik.
Postmodernisme termasuk interprestasi skeptic terhadap budaya, sastra, seni,
filsafat,sejarah, ekonomi,arsitektur,fiksi dan kritik sastra.
Gerakan postmodernisme ini pada dasarnya muncul sebagai kritik atas kegagalan
manusia modern dalam menciptakan situasi social yang lebih baik, kondusif dan
berkeadilan sosoial.
Kehadiran postmodernisme dalam ruang pergulatan intelektualitas manusia disadari
telah membuat warna baru yang menarik untuk dikaji. Hal ini tidak saja karena
kehadirannya cukup menyentakkan dunia akademik, melainkan juga postmodernisme
telah turut membawa pesan-pesan kritis untuk melakukan pembacaan ulang atas
berbagai tradisi yang selama ini diyakini kebenarannya. Masyarakat dikagetkan
dengan munculnya gejala postmodernisme yang cukup untuk meluluh-lantakkan
dimensi-dimensi ontologi, epistemologi, bahkan aksiologi yang tumbuh dalam
pengetahuan dasar masyarakat mengenai realitas. Bagi gerakan postmodernisme,
manusia tidak akan mengetahui realitas yang objektif dan benar, tetapi yang diketahui
manusia hanyalah sebuah versi dari realitas.
Asumsi-asumsi mutlak di atas dengan tegas ditolak oleh Heidegger, Horkheimer dan
Adorno. Menurut mereka modern (modernisasi) bukanlah sekedar perjalanan terseokseok, melainkan perjalanan ke sebuah disintegrasi total, sebuah malapetaka sejarah
umat manusia. Dalam pemikiran Bataille, Rorty, Foucault, dan Derrida, juga

terkandung nafsu yang sama untuk menyingkapkan bahwa kehendak untuk


menjadi modern tak kurang untuk berkuasa (Hardiman, 2003: 151).
Untuk itu, usaha membebaskan diri dari dominasi konsep dan praktek ilmu, filsafat
dan kebudayaan modern. Jika dalam visi modernisme, penalaran (reason) dipercaya
sebagai sumber utama ilmu pengetahuan yang menghasilkan kebenaran-kebenaran
universal, maka dalam visi postmodernisme hal itu justru dipandang sebagai alat
dominasi terselubung yang kemudian tampil dalam bentuk imperialisme dan
hegemoni kapitalistik. Sebuah warna yang paling dominan dalam masyarakat
modern. Maka postmodernisme menyadari bahwa seluruh budaya modernisme yang
bersumber pada ilmu pengetahuan dan teknologi pada titik tertentu tidak mampu
menjelaskan kriteria dan ukuran epistemologi bahwa yang benar itu adalah yang
real, dan yang real benar itu adalah rasional. Meskipun postmodernisme sendiri juga
berusaha menggiring manusia ke dalam sebuah paradoks, yaitu di satu pihak telah
membuka cakrawala dunia yang serba plural yang kaya warna, kaya nuansa, kaya
citra, tetapi di lain pihak, ia menjelma menjadi sebuah dunia yang seakanakan tanpa
terkendali (Pilliang, 2004: 358).

1.2.Rumusan masalah
1. Apakah

postmodernisme

dan

perbedaan

postmodernisme

dengan

postmodernitas, keunggulan dan kekurangan postmodernisme serta berikan


pendapat postmodernisme menurut para ahli?
2. Bagaimana ciri-ciri dan gejala awal bergulirnya era postmodern ?
1.3.Tujuan
1. Untuk mengetahui istilah postmodernisme dan perbedaan postmodernisme
dengan postmodernitas, serta pendapat postmodernisme menurut para ahli
2. Untuk mengetahui Untuk mengetahui ciri-ciri dan gejala awal bergulirnya era
postmodern.
1.4.Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Perkembangan Postmodernisme
Istilah Postmodernisme berasal dari bahasa Inggris yang artinya paham (isme),
yang berkembang setelah (post) modern. Istilah tersebut muncul pertama kali pada
tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari
modernisme. Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of
History pada tahun 1947. Setelah itu berkembang dalam bidang-bidang lain dan
mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.
Postmodernisme dibedakan dengan postmodernitas, jika postmodernisme lebih
menunjuk pada konsep berpikir, maka postmodernitas lebih menunjuk pada situasi
dan tata sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup,
konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya
negara dan bangsa serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. Hal ini secara
singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang
dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme dan sekularisme.
Setidaknya kita melihat dalam bidang kebudayaan yang diajukan Frederic
Jameson, bahwa postmodernisme bukan kritik satu bidang saja, namun semua bidang
yang termasuk dalam budaya. Ciri pemikiran di era postmodern ini adalah pluralitas
berpikir dihargai, setiap orang boleh berbicara dengan bebas sesuai pemikirannya.

Postmodernisme menolak arogansi dari setiap teori, sebab setiap teori punya tolak
pikir masing-masing dan hal itu berguna.

Menurut Para Ahli Postmodernisme


Jean Francois Lyotard mendefinisikan postmodern sebagai ketidakpercayaan
pada narasi besar modernisme. Lyotard menganggap postmodernisme adalah lawan
dari modernisme yang tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern.
Menurut Antoni Giddens. Postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra,
politik atau filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan
suatu kondisi, atau suatu keadaan, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan
pada lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sebagai postmodernitas. Postmodernisme
adalah "fenomena budaya dan intelektual".
Josh McDowell & Bob Hostetler menawarkan definisi berikut mengenai
postmodernisme: "Postmodernisme adalah suatu pandangan dunia yang ditandai
dengan keyakinan bahwa tidak ada kebenaran dalam pengertian objektif. Tetapi
Postmodernisme diciptakan, bukan ditemukan. Kebenaran adalah yang diciptakan
oleh budaya spesifik dan hanya ada di budaya.
Menurut Marvin Harris, postmodernisme merupakan gerakan intelektual yang
(sedikit) bertentangan dengan modernisme. Istilah ini lebih menitikberatkan
pemahaman budaya dalam konteks khusus. Postmodernisme juga tidak memiliki
paradigma penelitian yang lebih istimewa.

Keunggulan Dan Kekurangan Filsafat Postmodernisme


a. Kelebihan Posmodernisme adalah:
1. Pengingkaran atas semua jenis ideology. Konsep berfilsafat dalamera
postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis
fondasi pemikiran.Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam
satu bentuk fondasi pemikiranfilsafat tertentu.
2. menggantikan

peran

cerita-cerita

besar

menuju

cerita-cerita

kecil,dimana aliran modernism dianggap bergantung dan terpaku pada


grand narrative dari kemapanan filsafat yang hanya mengandalkan
akal, dialektika roh, emansipasi subjek yang rasional, dan sebagainya.
3. aliran

ini

tidak

meniru

sesuatu

yang

ada

(pemikiran)

tetapimenggunakan sesuatu yang sudah ada dengan gaya baru.

b. Kelemahan Postmodernisme adalah


1. postmodernisme tidak memiliki asas-asas yang jelas (universal
dan permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat
menerima sesuatu yangtidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban
mereka positif, jelas sekali hal itu bertentangan dengan pernyataan
mereka sendiri, sebagaimana postmodernisme selalumenekankan
untuk

mengingkari

bahkan

menentang

hal-hal

yang

bersifat

universaldan permanen.
2. segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme, tidak dengan
menolak

modernisme

itu

memperbaharui premis-premis

secara
modern

total,
di

melainkan
sana-sini

dengan
saja.

Ini

dimaksudkan lebih merupakan "kritik imanen" terhadap modernisme


dalam rangka mengatasi berbagai konsekuensinegatifnya. Misalnya,
mereka tidak menolak sains pada dirinya sendiri, melainkanhanya
sains sebagai ideologi dan scientism saja di mana kebenaran ilmiahlah
yangdianggap kebenaran yang paling sahih dan meyakinkan.

3.

pemikiran-pemikiran yang terkait erat pada dunia sastra dan


banyak berurusan dengan persoalan linguistik. Kata kunci yang paling
populer dan digemarioleh kelompok ini adalah "dekontruksi".

1.2 Ciri-Ciri dan Gejala Awal Bergulirnya Era Postmodern


Latar Belakang Munculnya Postmodernisme
Munculnya Postmodernisme tentunya berawal dari sebuah pemikiran yang kemudian
ditindaklanjuti menjadi sebuah tindakan yang pada akhirnya menjadi paham dan
aliran pola pemikiran pihak-pihak dan golongan tertentu. Peneliti memaparkan
beberapa latar belakang yang melatarbelakangi munculnya paham Postmodernisme
itu sendiri.
Postmodernisme adalah sebuah reaksi melawan modernisme yang muncul sejak akhir
abad 19. Istilah postmodernisme dibuat pada akhir tahun 1940 oleh sejarawan
Inggris, Arnold Toynbee. Akan tetapi istilah tersebut baru digunakan pada
pertengahan 1970 oleh kritikus seni dan teori asal Amerika, Charles Jencks, untuk
menjelaskan gerakan antimodernisme seperti Pop Art, Concept Art, dan
Postminimalisme.
Di Jerman Istilah postmodernisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Rudolf
Pannwitz pada tahun 1917, untuk menggambarkan nihilisme budaya barat abad ke201[28]. Istilah Postmodernisme mulai dipergunakan pada bidang arsitektur, ketika

perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis dihancurkan dengan dinamit dan dimulailah


pengembangan karya-karya arsitektur yang berwajah baru.
Selain itu Federico de Onis sekitar tahun 1930-an juga menggunakan istilah tersebut
dalam sebuah karyanya untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari modernisme.
Kemudian di bidang historiografi digunakan oleh Arnold Toynbee dalam A Study of
History tahun 1947, dan sekitar tahun 1970 Ilhab Hasan menerapkan istilah ini
dalam dunia seni dan arsitektur. Pada akhirnya istilah postmodernisme menjadi lebih
popular manakala digunakan oleh para seniman, pelukis dan kritikus.
Banyak sejarahwan sebelumnya menyebut era postmodern adalah perkembangan dari
era modern. Jika modern memiliki simbol pabrik, karena banyak didominasi oleh
perindutrian, era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi dengan komputer
sebagai simbol utamanya. Manusia sekarang sedang dalam masa transisi dari
masyarakat industrial menuju kepada masyarakat informasi.2[29]
Jean-Francois Lyotard merupakan salah satu contoh pemikir pertama yang menulis
secara lengkap mengenai postmodernisme sebagai fenomena budaya yang lebih luas.
Ia memandang postmodernisme muncul sebelum dan setelah modernisme, dan
merupakan sisi yang berlawanan dari modernisme. Hal ini diperkuat oleh pendapat
Flaskas yang mengatakan bahwa postmodernisme adalah oposisi dari premis
modernisme.

Hal senada juga dilontarkan oleh Robert C. Solomon yang mengatakan bahwa inti
dari filsafat postmodern adalah penolakan terhadap asumsi dan prinsip dasar
modernisme. Fokus pada diri manusia merupakan kepalsuan kaum modern. Kaum
postmodern mengejek keyakinan kaum modern terhadap pengetahuan. Mereka
mengkritik asumsi modern yang berupa duplisitas, yakni menganggap segala macam
orang di dunia ini pada dasarnya sama seperti mereka.3[30]
Banyak tokoh yang mendukung postmodernisme. Tetapi dari semuanya itu, ada tiga
tokoh yang menonjol, yakni Michael Foucault, Jacques Derrida, dan Richard Rorty.
Mereka bertiga adalah trio nabi postmodern, terkadang mereka bernyanyi bersama
dengan harmonis, tetapi lebih sering menghasilkan musik yang tidak harmonis
sebagaimana ciri-ciri postmodern.
Sedangkan di Indonesia, postmodernisme telah ada sejak awal kemunculannya di
awal tahun 1990. Pada masa itu wacana terhadap posmodernisme sendiri kurang
mendapat apresiasi yang positif. Hal ini karena bangsa Indonesia tengah disibuki
dengan urusan politik dan persoalan degradasi ekonomi yang tidak kunjung kondusif,
sampai saat ini. Meskipun demikian realitas postmodernisme telah hadir menjadi
bagian dari masyarakat Indonesia yang ditandai dengan munculnya beragam
teknologi informasi, seni, budaya urban, sampai gaya hidup.

Secara umum latar belakang lahirnya postmodernisme menurut Pauline Rosenau


dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu :4[32]
a)

Sebagai bentuk protes akan anggapan kurangnya ekspresi dalam aliran

modernisme.
b) Karena terjadinya krisis kemanusiaan modern dalam aliran modernisme.
c)

Kegagalan Modernisme dalam mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis

sebagaimana diinginkan para pendukung fanatiknya.


d)

Tidak mampunya Ilmu pengetahuan modern untuk melepaskan diri dari

kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada


preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian.
e)

Adanya semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan

ilmu-ilmu modern.
f)

Adanya semacam keyakinan yang sesungguhnya tidak berdasar bahwa

ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi


manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita
menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus
terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

g)

Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan

metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik


individu.

KESIMPULAN
Istilah Postmodernisme berasal dari bahasa Inggris yang artinya paham (isme), yang
berkembang setelah (post) modern. Istilah tersebut muncul pertama kali pada tahun
1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari
modernisme.
Jean Francois Lyotard mendefinisikan postmodern sebagai ketidakpercayaan pada
narasi besar modernisme. Lyotard menganggap postmodernisme adalah lawan dari
modernisme yang tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern.
Menurut Antoni Giddens. Postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra, politik atau
filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan suatu
kondisi, atau suatu keadaan, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pada
lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sebagai postmodernitas. Postmodernisme
adalah "fenomena budaya dan intelektual".

Munculnya Postmodernisme tentunya berawal dari sebuah pemikiran yang kemudian


ditindaklanjuti menjadi sebuah tindakan yang pada akhirnya menjadi paham dan
aliran pola pemikiran pihak-pihak dan golongan tertentu. Peneliti memaparkan
beberapa latar belakang yang melatarbelakangi munculnya paham Postmodernisme
itu sendiri.
Postmodernisme adalah sebuah reaksi melawan modernisme yang muncul sejak akhir
abad 19. Istilah postmodernisme dibuat pada akhir tahun 1940 oleh sejarawan
Inggris, Arnold Toynbee. Akan tetapi istilah tersebut baru digunakan pada

pertengahan 1970 oleh kritikus seni dan teori asal Amerika, Charles Jencks, untuk
menjelaskan gerakan antimodernisme seperti Pop Art, Concept Art, dan
Postminimalisme.

Secara umum latar belakang lahirnya postmodernisme menurut Pauline Rosenau


dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu :5[32]
a)

Sebagai bentuk protes akan anggapan kurangnya ekspresi dalam aliran

modernisme.
b) Karena terjadinya krisis kemanusiaan modern dalam aliran modernisme.
c)

Kegagalan Modernisme dalam mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis

sebagaimana diinginkan para pendukung fanatiknya.


d)

Tidak mampunya Ilmu pengetahuan modern untuk melepaskan diri dari

kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada


preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian.
e)

Adanya semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan

ilmu-ilmu modern.
f)

Adanya semacam keyakinan yang sesungguhnya tidak berdasar bahwa

ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi

manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita
menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus
terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
g)

Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan

metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik


individu.

SARAN
postmodern dapat juga diartikan sebagai keterbukaan untuk melihat hal-hal baru,
yang berbeda, yang lain sambil menolak kecenderungan dogmatis dan ketaatan pada
suatu otoritas, tatanan, atau kaidah baru. Era postmodernisme memiliki karakteristik
betapa kebenaran memang terlalu besar untuk bisa dimonopoli satu sistem saja dan
bahwa keragaman pandangan itu lebih indah daripada keseragaman yang meskipun
menghasilkan

kesatuan,

namun

membelenggu

kebebasan

manusia

bahkan

mengeksploitasinya. Sehingga, dalam era ini di harapkan bahwa masyarakat kritis


dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Namun, tidak melupakan adat dan
karakteristik dari kebudayaan dll.

DAFTAR PUSTAKA
Rizer,George,Teori Sicial Postmodern, Terjemahan, Muhammad Taufik, Yogyakarta:

Juxtapose, 2003, hlm :31

Grenz, Stanley. 1996. A Primer on Postmodernism. Yayasan Andi. Yogyakarta


Hedwig, Klaus. 1990. The Philosophical Presuppositions of Postmodernity. Communio.
Summer.
Jencks, Charles. 1989. What is Post-modernism. St. Martin Press, New York
Rose, A. Margareth. 1991. The Postmodern dan the Postindustrical : a Critical Analysis.
Cambridge University, Cambridge.
Benamou, Micahel. 1977. Performance in Postmodern Culture. Twentieth Century Press.
Milwaukee.
Kroker, Arthur. 1989. The Postmodern Scene : Excremental Culture and Hyper-Aesthetics. St.
Martins Press. New York

Said, Edward. 1998. After Foucault: Humanist Knowledge, Postmodern Challenges. Rutgers
University Press, New Brunswick
Portoghesi, Paolo. 1982. After Modern Architecture. Terjemahan Meg Shore. Rizzoli, New York.