Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kependudukan sudah merupakan masalah serius yang bukan saja
dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga oleh negaranegara maju karena menyangkut banyak segi seperti ekonomi, sosial dan budaya.
Pengetahuan tentang penduduk dan masalah kependudukan merupakan salah satu
masalah di dunia dewasa ini yang selalu berhubungan dengan kebutuhankebutuhan hidup yang selalu diperlukan semua umat manusia.
Penduduk merupakan objek dan sekaligus subjek dalam pembangunan
nasional, kebijaksanaan di bidang kependudukan bukan saja hanya menyangkut
jumlah dan kepadatan. arus penduduk arus migrasi, kelahiran dan kematian juga
kebijakan dalam mengendalikan pertumbuhan yang tinggi serta mengarahkan
mobilitas dan persebaran penduduk yang lebih merata, terutama di daerah yang
jarang penduduknya.
Keberhasilan pelaksanaan program pembangunan dapat di ukur dan berbagai
aspek fisik maupun non fisik. Salah saatu aspek penting yang dipakai sebagai
objek sekaligus subjek pembangunan itu sendiri. Jumlah penduduk yang besar dan
berkualitas

merupakan

modal

pelaksanaan

pembangunan

potensi

bagi

peningkatan pembanguna di segala bidang. Namun jika jumlah penduduk yang


besar tidak diupayakan pengembangan kualitasnya maka merupakan beban bagi
pembangunan dan justru dapat mengurangi hasil-hasil pembangunan yang dapat
dinikmati rakyat.
Kabupaten

Kotabaru adalah

salah

satu kabupaten di provinsi Kalimantan

Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Kotabaru. Kabupaten ini

merupakan salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan dahulu. Dan
pada masa Hindia Belanda merupakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe
dengan ibukota Kota Baru. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.442,46 km dan
berpenduduk sebanyak 290.142 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010)
dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa. Motto daerah ini adalah "Sa-ijaan"
(bahasa Banjar) yang memiliki arti: Semufakat, satu hati dan se-iya sekata.
Kabupaten kotabaru memili ibukota kabupaten yang terletak di kecamatan
Pulau Laut Utara. Kabupaten ini terdiri dari 20 kecamatan dengan 197 desa dan 4
kelurahan. Kelurahan tesebut meliputi kelurahan kotabaru tangah, Kotabaru
Tengah, Kotabaru Hulu, Kotabaru Hilir, dan Baharu Selatan yang keseluruhannya
juga terdaapat di kecamatan Pulau Laut Utara. Di tahun 2008, kabupaten
Kotabaru hanya terdiri dari 191 desa dan 4 kelurahan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan penduduk kabupaten Kotabaru dilihat dari piramida
penduduknya?
2. Apa manfaat mengetahui keadaan penduduk dan perbandingan jumlah umur
penduduk kabupaten Kotabaru?

C. Tujuan
Penulisan makalah ini memiliki tujuan untuk mengetahui manfat dari data yang
bisa kita peroleh dari Bdan Pusat Statistika dalaam pembangunan Kabupaten
Kotabaru dan mengetahui perencanaan yang tepat untuk pembangunan kedepan.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Gambar piramida penduduk kabupaten Kotabaru

Sumber : BPS Banjarbaru

Pembahasan
2.1 Penduduk Kotabaru
Jumlah penduduk kabupaten Kotabaru hasil proyeksi penduduk 2011
adalah 296.987 jiwa dengan jaulam rumahtangga sebanyak 78.792
rumahtangga yang tersebar di 201 desa/kelurahan dengan rata-rata banyaknya
anggota rumah tangga 4 orang. Jumlah penduduk terbesar masih berada di
kecamatan Pulau Laut Utara dengan 81.571 jiwa. Jumlah penduduk terkecil
berada di kecamatan Kelumpang Utara yang hanya tercatat sebesar 5.424
jiwa.
Jumlah penduduk yang begitu besar tidak diimbangi dengan penyebaran
penduduk. Selama ini sebagian besar penduduk Kabupaten Kotabaru masih
terpusat di Kecamatan Pulau Laut Utara. Sekitar 27,45 persen penduduk
tinggal di kecamatan tersebut. Ironisnya, kecamatan Hampang yang memiliki
luas sekitar 17,88 persen dari luas total kabupaten Kotabaru hanya dihuni
sekitar 3,5 persen penduduknya.

2.2 pengertian piramida penduduk


Piramida penduduk adalah dua buah diagram batang, pada satu sisi
menunjukkan jumlah penduduk laki-laki dan pada sisi lainnya menunjukkan
jumlah penduduk perempuan dalam kelompok interval usia penduduk lima
tahunan. Penduduk laki-laki biasanya digambarkan di sebelah kiri dan
penduduk wanita di sebelah kanan. Grafik dapat menunjukkan jumlah
penduduk atau prosentase jumlah penduduk terhadap jumlah penduduk total.

Bentuk piramida penduduk dibadakan menjadi tiga macam yaitu :


1. Bentuk Limas (Expansive), menunjukkan jumlah penduduk usia muda
lebih banyak dari pada usia dewasa maupun tua, sehingga pertumbuhan
penduduk sangat tinggi, contohnya: Indonesia, Filipina, Mesir, Nigeria,
Brazil.
2. Bentuk Granat (Stationer), menunjukkan jumlah usia muda hampir sama
dengan usia dewasa, sehingga pertumbuhan penduduk kecil sekali,
contohnya: Amerika Serikat, Belanda, Norwegia, Finlandia.
3. Bentuk Batu Nisan (Constructive), menunjukkan jumlah penduduk usia
tua lebih besar dari pada usia muda, jumlah penduduk mengalami
penurunan, contohnya: negara-negara yang baru dilanda perang.
2.3 manfaat data kependudukan
Terwujudnya database kependudukan yang dapat dipergunakan sebagai
data/bahan/masukan untuk pembangunan database kependudukan kabupaten,
juga sebagai dasar dalam pemberian NIK kepada setiap penduduk, untuk
mendukung tertib administrasi kependudukan, tertib administrasi pelayanan
publik, pelaksanaan pemilu dan untuk pelaksanaan pemilu Kepala Daerah
serta dalam jangka panjang digunakan sebagai data dasar dalam
Pembangunan Database Penduduk Nasional.
2.4 kependudukan dan pembangunan
Penduduk memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi.
Melalui berbagai aspek seperti besarnya jumlah penduduk, penyebaran
geografis, kepadatan penduduk, komposisi dalam usia, jenis kelamin,
pendidikan dan kesehatan, serta tingkat pertumbuhannya, maka jelaslah

bahwa penduduk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik dalam


makna buruk maupun baik.
Masalah kependudukan erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi.
Selain menyangkut produk nasional riel dan produk per kapita riel, juga
terjadi perubahan- perubahan institutional dan perubahan- perubahan
struktural ekonomi masyarakat. Hal ini tercermin dari perubahan atau
pergeseran peranan sumbangan sektor- sektor ekonomi dalam produk dan
pendapatan nasional.
2.5 masalah pertumbuhan penduduk
Masalah

kepadatan

penduduk,

kecepatan

perkembangannya,

penyebarannya yang tidak merata, produktivitas rata- rata yang relatif rendah,
pengangguran dan masalah underitilized dari angkatan kerja tersebut, telah
lama menjadi pusat perhatian dan merupakan bagian dari sasaran perbaikan
dalam strategi pembangunan Indonesia. Dengan demikian perlu disadari,
bahwa pemecahan untuk masalah- masalah tersebut meliputi aspek- aspek
perluasan pendidikan dan peningkatan keterampilan, pembinaan dan
pengembangan kewiraswastaan yang memungkinkan tumbuhnya self creating
jobs ataupun self employment, di samping peningkatan dan perluasan
investasi yang lebih berorientasi kepada kegiatan- kegiatan yang padat karya
dan program- program konvensional lain seperti keluarga berencana dan
transmigrasi.
Tekanan penduduk pada sumber- sumber kekayaan yang terbatas di
negara- negara yang ekonominya tengah berkembang juga mengakibatkan
bahwa lebih banyak dari kekayaan yang tersedia harus dipakai untuk

10

memenuhi kebutuhan konsumsi pertambahan penduduk itu. Hal ini berarti,


bahwa kekayaan negara akan teralihkan dari tabungan, investasi modal, dan
investasi manusia, kearah konsumsi, sehingga capital- labour ratio akan
semakin kecil dan tingkat produktivitas semakin merosot.
Bekerja atau tidak, manusia tetap membutuhkan makanan (Pangan).
Dalam hal ini terdapat kenyataan, bahwa tingkat kenaikan produksi beras
yang sudah cukup memadai masih dikalahkan oleh tingkat kenaikan jumlah
masyarakat yang amat berorientasi kepada beras. Sedangkan hubungan
dengan masalah pendidikan yaitu suatu bangsa akan berhasil dalam
pembangunannya secara self propelling dan tumbuh menjadi bangsa yang
maju apabila telah berhasil memenuhi minimum jumlah dan mutu dalam
pendidikan penduduknya. Karena pendidikan membentuk manusia- manusia
membangun. Pendidikan dapat mengembangkan semangat inner will
peningkatan

kemampuan

diri

dan

bangsa

yang

terpencar

dalam

pembangunan pendidikan mental intelektual, dan professional bagi seluruh


penduduk dan pemuda Indonesia.

11

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manfaat sangat besar dapat kita peroleh dari mengamati data statistika
kependudukan untuk menentukan rencana pembangunan masyarakat. Data
statistika kependudukan juga merupakan referensi kiti dalam mengamati kondisi
dan gambaran lengkan tentang jumlah dan komposisi peduduk dari suatu daerah
baik dilihat dari sisi umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, dan suku.

3.2 Saran
Sebaiknya dalam penyusunan makalah, bahan yang didunakan sebagai
sumber sebaiknya tersedia dalam jumlah banyak agar memudahkan dalm mencari
data yang paling akurat. Waktu yang disediakan pun juga harus memadai dalam
penyusunan makalah dngan memperhitungkan lamanya waktu yang dibutuhkan
dalam mengumpulan bahan, mengolah data, dan mempresentasikan dalam bentuk
tulisan.

12