Anda di halaman 1dari 5

KHOTBAH IDUL ADHA 1434 H

Oleh: Nakhruddin Mardamas


Allahu akbar (7x). Allahu akbar kabira, wal-hamdulillahi kasyira. Wa subehanal-lahi
bukratan wa azila. La ilaha illal-lah(u), wahdah(u), zadaka wadah(u), wanazara
abdah(u), wa asysya jundah(u), wahasyamal-ahsyaba wahdah(u). Allahu akbar, wa
lillahil-hamd(u).
Alhamdul-lillahil-ladzi, lam yalide, wa lam yulade, wa lam yakum, lahu kufuwan ahade.
Wa la hawla, wa la kuwwata, illa billahil-adzim. Allahul-ladzi jaalana min ibadihilmuminina.
Ashadu, an la ilaha illallahu. La nabudu, illa mukhlizina, lahud-dina, walaw karihalmusyrikun(a).
Wa ashadu anna muhammadan rasulullahiz-zadikul-waddi amiin.
Allahumma, zalli, wa zallim, wa barik, ala sayyidina, wa maulana Muhammaden , wa ala
alihi, washabihi, wat-tabi-ina, wat-tabi-tabi-ina, wa manta biahum bi ikhsanin ila
yaomind-din(a). Ammabaddu. Ya, ayyu hannas, ittaqullah.Haqqa tu katih, wa la
tamutunna, illa wa antum muslimun.
Kalal-lahu, azza wa jalla, fil quranul-adzim. Audzu billahi minas-saitani rajim. Bismillahi
rahmanirahim. Inna ataina kalkausar, fa salli li rabbika wa nahar, inna saniatan huwal
abtar.(sadaqal-lahul-adzim).
Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Segala puji dan syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT, yang telah banyak
memberikan nikmat dan berkahNya, sehingga pada pagi hari ini, kita diberi nikmat iman,
nikmat kesehatan,dan nikmat kesempatan, sehingga kita dapat berkumpul bersaf-saf
memenuhi sunnah RasulNya, mengikuti shalat Idul Adha di tempat yang penuh baraqah
ini. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW dan keluarga beliau, serta para sahabatnya. Dan, semoga terlimpah pula pada kita yang
mengikuti shalat Idul Adha di tempat ini.
Dan, mudah-mudahan shalawat, salam dan berkah Allah selalu diberikan kepada
tamu-tamu Allah , saudara-saudara kita yang mulai kemarin, tanggal 9 Dzulhijjah, sedang
mengerjakan ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah. Dan, hari ini mereka sedang

melakukan mabit di Mina. Semoga para jemaah haji kita dijadikan oleh Allah dengan gelar
haji mabrur. Amin ya rabbal alamin.
Allahu Akbar 3 x, Walillahil-hamd.
Masasyiratul Muslimin Rahimakumullah.
Hari ini tanggal 10 Dzulhijjah, seluruh kaum muslimin seluruh dunia, merayakan Idul
Adha, yang lazim disebut Idul Qurban. Ibadah ini, sejatinya, merupakan sarana untuk
mengenang kisah heroik dan kepatuhan yang luar biasa, dilakoni oleh dua anak manusia, di
pentas sejarah kehidupan yang sulit ditemui padanannya, yakni, Nabi Ibrahim AS dan putra
kesayangannya Nabi Ismail AS.
Sejarah pengorbanan ini bermula sewaktu, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah
SWT, menempatkan isterinya Hajar, bersama bayinya Ismail di suatu lembah yang tandus
dan gersang, tak berpohon, tak bertumbuh-tumbuhan, di dekat Baitullah. Lembah yang
sunyi, dan tak berpenghuni, di sebelah utara kurang lebih 1600 km dari negaranya, Pelastina,
yakni, di Bakkah (Mekkah). Namun, Nabi Ibrahim dan isterinya Sitti Hajar menerima
perintah itu dengan tulus, ikhlas, dan penuh tawakkal, saminna wa atanna, mendengar dan
melaksanakan perintah Allah secara bulat.
Suatu ketika, pada lembah yang tandus itu, Sitti Hajar kehabisan air untuk
diminumnya, maka demi menyelamatkan bayinya, Sitti Hajar terpaksa mencari air ke sana
ke mari, mengharap adanya kafilah yang lewat membawa air untuk di minum. Sitti Hajar
mendaki ke bukit Safa melihat ke jauhan, tapi, tidak ditemui tanda adanya kafilah, kemudian
selanjutnya, menuju ke bukit Marwah dengan tujuan yang sama ,sambil berlari-lari kecil
(sai) antara kedua bukit tersebut, tapi, belum ditemukan juga adanya tanda-tanda
keberadaan orang. Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dilakukan sebanyak tujuh
kali. Sampai, Allah mengutus Malaekat Jibril membuatkan mata air zam-zam, sehingga
Hajar dan Ismail mendapatkan rezki, sumber kehidupan yang baik.
Inna ataina kalkausar fa salli lirabbika wa nahr, inna saniyatan wu walbattar.
Artinya, Sungguh kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah
shalat dan berkurbanlah. Sungguh, orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari
Allah), (QS Al Kausar (108) : 1-3.
Lembah yang tadinya gersang, karena sudah memiliki persediaan air yang melimpah,
menarik perhatian orang dari berbagai pelosok, terutama pedagang yang melintas. Hal ini,

mendatangkan dan mengait rezki dari berbagai penjuru, sehingga makmurlah tempat
sekitarnya, sekitar Baitullah, yakni Kota Mekkah.
Mekkah menjadi aman dan makmur berkat doa Nabi Ibrahim AS, seperti
digambarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dalam QS Al Baqarah : 126.
Wa is kala Ibrahimu, rabbij-al haza baladan, aminan, warsuk ahlahu minassamarati, man amana min-hum, bil-lahi, wal-yaomil akhir(i).
Artinya, Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini,
sebagai negeri yang aman dan berilah rezki berupa buah-buahan kepada penduduknya,
yaitu, diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Hadirin jamaah Idul Adha yang dimuliakan oleh Allah.
Allahu Akbar 3 x. Walillahil-hamd.
Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamakan juga Idul Nahr atau Idul Qurban.
Sejarahnya bermula dari ketaatan Nabi Ibrahim dan kesabaran anaknya, Ismail, menghadapi
ujian yang paling berat, yang memerlukan pengorbanan yang dahsat.
Berkat pengorbanan ini , Nabi Ibrahim mendapat dua keistimewaan dari sisi Tuhan
dan manusia. Pertama, Allah mengangkatnya sebagai kekasih sehingga Ibrahim berhak
menyandang gelar Khalilullah (kekasih Allah). Kedua, Ibrahim adalah pendiri trah ambiya
yang dari keturunannya melahirkan nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi Muhammad SAW.
Untuk keistimewaan ini, Ibrahim berhak atas gelar Abul Anbiya (leluhur para nabi), dan juga
Nabi Ibrahim dijadikan oleh Allah sebagai contoh teladan buat kita, selain Nabi kita
Muhammad SW. Dan, dalam Al Quran disebutkan :
Kade kanat lakum, uswatun hazanahtun, fii ibrahima, wal-ladzina ma a hu
Artinya, Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orangorang yang bersamanya (QS Al-Mumtahanah (60) : 4).
Dengan gelar Al-Khalil yang disandangnya. Malaekat bertanya kepada Allah. Ya
Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal, ia disibukkan
oleh urusan kekayaan dan keluarganya ?. Allah, berfirman : Jangan kamu menilai hambaku
Ibrahim ini dengan ukuran lahiriah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya.

Sebagai realisasi dari firmanNya, Allah mengizinkan para Malaekat menguji


keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya, tidak
membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah SWT.
Karena kekayaan ternak yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, maka pada suatu hari,
Ibrahim ditanya oleh seseorang : Milik siapa ternak sebanyak ini ?, Ibrahim menjawab :
Kepunyaan Allah, tapi saat ini masih milikku, sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku
serahkan semuanya, jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail,
niscaya akan aku serahkan juga.
Pernyaataan inilah kemudian menjadi bahan ujian baginya, yaitu, Allah menguji
iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, dengan mendengarkan perintah
Allah untuk mengorbankan putranya, yang kala itu berusia 7 tahun, yang mana, pada usia
tersebut dia sudah sanggup berusaha bersama ayahnya. Anak yang elok dan rupawan,
sehat dan cerdas, diperintahkan oleh Allah untuk disembelih dengan menggunakan
tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan. Peristiwa spektakuler ini dinyatakan dalam
Al Quran surah As-Saffat(37) ayat 102.
Kala, ya bunaiyya, Inni ara fil-manami, anni adz-bahuka, fandzur, masya tara.
Kala, ya abati f-al ma tumaru. Satajiduni insya Allah(u) minas-sabirin(a).
Artinya, Ibrahim berkata : Wahai anakku, sesungguhnya aku ber mimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!. Ismail menjawab : Wahai
ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang yang sabar.
Ketika keduanya siap melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda, baik
kepada sang ayah,sang anak , maupun sang ibu, silih berganti. Akan tetapi, Nabi Ibrahim,
Sitti Hajar dan Nabi Ismail, tidak tergoyahkan oleh bujukan dan rayuan Iblis laknatullah, yang
menggoda agar mereka membatalkan niatnya. Mereka tidak terpengaruh godaan tersebut,
dan bahkan Ibrahim melempar Iblis dengan batu untuk mengusirnya. Dan, dikemudian hari,
pelemparan batu kecil, atau, melempar jumrah, ini merupakan salah satu proses rangkaian
ibadah haji.
Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Ketika sang ayah, Ibrahim, belum juga mengayunkan pisau di leher putranya, Ismail.
Ismail mengira ayahnya merasa ragu, seraya melepaskan tali pengikat kaki dan tangannya,
agar tidak muncul suatu kesan dipaksakan, Ismail meminta ayahnya mengayunkan pisaunya

sambil berpaling, agar supaya tidak melihat wajahnya, karena dengan melihat wajahnya
dikhawatirkan ayahnya tidak sanggup melakukannya. Hati siapa yang tidak iba mendengar
kepasrahan anak seperti itu.
Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah secara total. Keduanya
sudah tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipisnya. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berfirman sebagaimana
dalam surat As-Shafat ayat 104-107. Artinya : Wahai Ibrahim (104). Sungguh, engkau telah
membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat baik (105). Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan,
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).
Nabi Ismail digantikan dengan seekor bahimah (binatang ternak).
Subhanallah, menyaksikan penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam
sejarah manusia dari suatu ketaatan kepada Allah SWT, Malaekat Jibril terkagum-kagum,
seraya terlontar suatu ungkapan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Mendengar
itu, Nabi Ibrahim menjawab Laailaha Ilahu Allahu Akbar, kemudian disambung oleh Nabi
Ismail Allahu Akbar Walillahi Hamd(u).
Hadirin Rahimakumullah.
Apakah kita perlu berkorban seperti yang dilakukan oleh Ibrahim dan anaknya Ismail
pada saat ini. Tentu saja tidak. Tetapi, semangat berkorban tetap diperintahkan dan
diperlukan. Apa dan siapa yang akan menjadi Ismail-ismail yang kita perlu korbankan ?.
Apakah cukup dengan sapi atau kambing saja ?, yang daging dan darahnya tidak sampai
kepada Allah, yang sampai adalah nilai ketakwaannya. Tentu saja bukan hanya itu. Lainnya,
seperti jabatan, kekuasaan, kehormatan, pertemanan, kepandaian, harta, rumah,
kendaraan dan keluarga, kita perlu korbankan. Ringkasnya, secara batiniah diri kita perlu
dikorbankan, jikakalau hal itu, menghalangi kita atau melemahkan imam dan aqidah kita
mengabdi kepada Allah SWT. Lihatlah, Ismail mengorbankan dirinya dan Ibrahim
mengorbankan kesayangannya demi pengabdiannya. Karena, sesungguhnya, hanya satusatunya tugas kita hidup di dunia hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT, sesuai dalam QS
Az zariat (51) : 56,.
Wa ma halaqaltu jinna wal insana, illa li yabudun(i).
Artinya, Dan kami tidak menciptakan jin dan manusia kecuali mengabdikan diri
kepadaKU.

Jadi, kita boleh saja memiliki kekuasaan, jabatan, kepandaian, harta, rumah,
kendaraan dan lain sebagainya, namun harus dilakoni dan dikelola dengan nilai ibadah, yakni
lillah, billah atau watallah. Bukan, untuk siapa-siapa selain Allah. Jagalah diri kita dari
perbuatan yang dapat mensarikatkan Allah.
Mari kita terus tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, mengabdi kepada Allah
Azza Wa Jalla.
Ya ayyu halladzina amanu, Ittakullah hakka tukatih(i) wa la tamutunna illa wa
antum muslimun, (QS Al Imran (3) :102.
Artinya, Wahai orang-orang beriman, bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa,
janganlah mati sebelum kamu menjadi orang yang pasrah diri (kapada Allah).
Allahu Akbar 3 x Walillahil hamd.
Penilaian dari pengorbanan yang kita lakukan adalah diukur dari besarnya nilai
ketakwaan kita mengorbankan sesuatu. Bukan, sapi atau kambingnya. Bukan harta, rumah,
kendaraan dan keluarga, atau jabatan, kekuasaan, dan kepintaran , secara fisik-lahiraih
menjadi penilaian dari sisi Allah. Tapi, yang sampai dan dinilai oleh Allah adalah keikhlasan
dan ketakwaan dibalik pengorbanan yang dilakukan. Ketakwaan diri secara pribadi kepada
Allah, bukan pengorbanan orang lain yang kita peratas namakan untuk diri kita. bukan pula,
siapa yang harus kita korbankan untuk diri kita, bukan siapa yang harus kia pekerjakan
secara paksa untuk diri kita. Kalau seperti ini yang terjadi. Naudzu billahi min dzalik. Ya
rabbi, pasti jiwa ini hampa, jiwa ini berkabut, jiwa ini sakit, jiwa ini miskin tak berarti, diri ini
bergeliman noda dan dosa. Maka hanya rahmat dan magfirahMu Ya Allah yang kami minta ,
kami ini ibarat setetes embung dalam lautan keagunganMU. PertolonganMu dan hidayahMu
kami nanti menyadarkan kami.
Allahu Akbar 3 x Walillahil hamd.
Hadirin yang saya hormati.
Negara yang kita cintai, Indonesia, saat ini, butuh pengorbanan dari kita. Bukan, yang
terjadi bahwa negara di korbankan karena kepentingan dan perbuatan kita. Bangsa kita
butuh pengorbanan, bukan bangsa kita dikorbankan karena kepentingan dan perbuatan kita.
Masyarakat butuh pengorbanan, bukan masyarakat dikorbankan karena kepentingan dan
perbuatan kita.

Egoisme perlu kita korbankan, ambisi perlu kita korbankan, kepentingan perlu kita
korbankan, kebebasan perlu kita korbankan, demi kepentingan bersama sebagai mahluk
sosial dan individu yang ingin hidup damai dan sejahtera mengabdi kepada Allah. Tanpa kita
sisihkan apa yang kita miliki untuk berkorban, maka tidak mungkin kita dapat hidup bersama,
semua orang memiliki keinginan, semua orang memiliki kepentingan yang harus dibagi. Kita
tidak harus memiliki semuanya, apalagi kita ingin memiliki yang sudah dimiliki orang lain,
kita tak perlu mencoba semuanya. Kita hanya perlu bekerja sesuai sesuai kemampuan kita
untuk berbangsa ,bernegara dan bermasyarakat. Manusia, sesungguhnya tidak pernah
diberatkan oleh Allah, Allah Maha Kasih dan Sayang. Kasih sayang Allah tidak terbatas,
rahmatNya juga tidak terbatas. Mintalah, berdoalah. Tapi, ulah manusialah yang menjadikan
dirinya terbebani, risau dan ragu, karena, mereka tidak mampu menahan harga diri dan
tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya yang serakah, apalagi kalau melihat orang lain
berhasil, kurang mengsyukuri nikmat apa yang ada pada dirinya, sudah dikuasai dan
dipimpin oleh setan. Padahal, Kata Allah, setan adalah musuh yang nyata bagimu.
Bayangkan saja, misalnya, seseorang yang sudah jadi ulama mau juga menjadi
penguasa, mau juga menjadi pedagang. Sebaliknya, sudah jadi pedagang mau juga menjadi
penguasa, mau juga menjadi ulama. Seterusnya, sudah jadi penguasa mau juga ikut-ikut
dagang, mau juga ikut-ikut jadi ulama. Semua diingininya, semua mau dilakoninya, karena
terdorong oleh rasa kemampuannya yang berlebih.
Janganlah, kita hanya terdorong oleh kemampuan semata, walaupun kita memang
kuat dan bisa menurut kita, tapi, kepercayaan dan kejujuran atau amanah tidaklah mudah
diemban, dan, harus diingat, bahwa apabila Allah memberikan anamah, maka amanah itu
harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah, agar kita tidak digolongkan sebagai orang
munafik, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Olehnya itu, jangan sampai menyia-nyiakan
amanah, karena tidak kompetennya kita, karena memang bukan bidang yang kita kuasai dan
memiliki ilmu untuk itu.
Disampaikan, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ketika
Rasulullah berada di dalam majelis, beliau berbicara kepada sahabatnya, tiba-tiba datang
seorang Arab Baduwi seraya berkata, Ya Rasulullah Kapan kiamat akan terjadi?. Namun,
Rasulullah terus berkata-kata pada kaumnya, seolah-olah tidak memperhatikannya.
Berkatalah beberapa orang yang hadir Rasulullah mendengar apa yang dikatakan orang itu,
namun, tidak suka dengan apa yang ditanyakan. Sebagian lainnya berkata, Dia tidak
mendengar. Namun, setelah selesai berbicara, beliau bersabda, Di mana orang yang
bertanya tentang hari kiamat. Maka orang tadi berkata, Sayalah orangnya wahai

Rasullullah. Rasullullah bersabda, Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.
Orang tadi berkata, Bagaimana tandanya bahwa amanah itu telah disia-siakan?. Rasulullah
menjawab, Jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan
ahlinya, tidak ada ilmunya), maka tunggulah kiamat.
Kiamat ada dua macam, kiamat besar dan kiamat kecil. Kiamat kecil adalah
kehancuran. Kehancuran suatu negara atau daerah bisa saja terjadi, apabila semua
pemegang fungs-fungsi tegaknya suatu negara ,atau, pemangku tiang penegak sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak amanah lagi, dan rakyat tidak
ambil peduli, dan tidak memiliki keperhatian lagi, apalagi, kalau masyarakat sudah bermasa
bodoh dan tidak ada yang mampu menyuarakan lagi. Tunggulah asab dari Allah. Tentu, ini
tidak kita inginkan.
Rasulullah juga memperingatkan dalam satu hadis, bahwa, Kekuatan suatu negara
bergantung pada empat golongan, yaitu ulama atau cerdik pandai, umarah atau pemerintah,
pengusaha atau pedagang , dan rakyatnya negara itu sendiri, termasuk fakir miskin di
dalamnya. Keempat golongan ini harus bekerjasama dan saling bahu-membahu
membangunan masyarakat, bangsa dan negara. Bukan, saling menjelekkan, saling gontokgontokan, saling menyalahkan, saling fitnah, saling intervensi dan lain sebagainya.
Alahu Akbar 3 x Walilahil Hamd.
Kalau kita diberi nikmat kesempatan oleh Allah menjadi penguasa maka jadilah
penguasa yang amanah dan adil. Kalau diberi kesempatan menjadi pengusaha, maka jadilah
pengusaha yang santun dan jujur. Kalau kita diberi kesempatan menjadi ilmuwan,
cendikiawan dan ulama maka jadilah penasehat dan penyejuk suasana. Kalau kita rakyat
jadilah rakyat yang patuh dan taat kepada pemerintahan yang amanah.
Marilah, kita saling manghargai dan menyadari hal ini semua agar kita terhindar dari
malapetaka asab dari Allah. Semoga Allah SWT tetap memberikan petujuk dan hidyah
kepada kita semua, agar apa yang baik pada diri kita tetap dipertahankan dan
mensyukurinya, dan apa yang kurang sempurna diperbaikiNya dan ditambah nikmatNya.
Amin.., Amin.., Ya Rabbal Alamin.
Inna laha wa malaikatahu yusallina ala nabi ya ayyu hal-ladzina anamu sallu
alaehi wa sallim(u) taslima(n).

Allahuma salim, wa salim, ala Muhammad, wa ala ali Muhammad, kama salleta,
ala Ibrahim, wa ala ali Ibrahim. Wa barik, ala Muhammad, wa ala ali Muhammad, kama
barakta, ala Ibrahim, wa ala ali Ibrahim. Fil alamina innaka hamidonmajid(e).

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah
Engkau berikan petunjuk kepada kami , dan karuniakanlah kepada kam rahmat dari sisiMu.
Sesungguhnya Engkau Maha pemberi).

Allahuma-gfirlil-muslimina wal muslimat, wal muminina wal muminat(i), al ahyai


min hum wal amwat. Innaka anta samiyon, karibon, mujibon dawat(i) dai.

Rabbana, atina, fiddunya, hazanatan, wa fil akhirati hazanatan. wa kina azaban

(Ya Allah, ampunilah dosa-dosa bagi semua Islam laki-laki dan perempuan, mumin
laki-laki dan perempuan, yang masih hidup maupun yang sudah mati. Sungguh Engkau Maha
mendengar, maha dekat, dan mengabulkan permohonan orang yang berdoa).
Rabbanag-firlana, dzunubana, wa isra-fana fii amrina, wa syabbit-akda-mana,
wansurna alal kaumil-kafirin(a).
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan tindakan-tindakan kami yang
berlebihan (dalam) urusan kami , dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami
terhadap orang-orang kafir).
Rabbana dhalamna, anfusan, wa in lam tagfirlana, watarhamna, lanakunanna
minal khasirin.
(Ya Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri, jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rakhmat kepada kami , niscaya kami termasuk orangorang yang rugi).
Rabbaana. wa la tahmil alaina, israng, kama hamaltahu alal-ladzina min qablina.
(Ya Tuahan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat,
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami).
Rabbana, wa la tu hammilna, ma la taqata lana bih (i), waf-fuanna, wa wagfirlana,
warhamna, anta maulana, fansurlana, alal-kaumil kafirin.
(Ya Tuhan kami, janganlan Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup
kami memikulnya. maafkanlah kami, ampunilah kami, rakhmatilah kami. Engkau pelindung
kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir).
Rabbana, la tu siq-qulubana, bada idz-hadaitana, wahablana, min ladungka
rahmatan. Innaka antal wah-hab(e).

nar.
(Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
lindungilah kami dari azab neraka).
Subehan rabbika, rabbil-izzati, amma ya zifun, wa salamun alal mursalin, wal
hamdul-lillahi rabbil-alamin.
(Maha suci Engkau Tuhan. Tuhan segala kemuliaan. Suci dari segala yang dikatakan
orang kafir. Semoga kesejahteraan atas rasulMu. Dan, segala puji tetap bagi Allah Tuhan
seluruh alam).
Selamat hari raya idul Adha. Sekian
Wabillahi Tauhid Wal Hidayah.
Wasaalamu alikum wa rahmatullahi wa baraqatuh.