Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Amobilisasi Sel


Amobilisasi berasal dari dua kata, yaitu a dan mobil. A artinya tidak dan mobil artinya
berpindah. Jadi, amobilisasi sel secara bahasa diartikan sebagai sel yang dibuat tidak
berpindah. Sedangkan menurut istilah, amobilisasi sel merupakan metoda untuk mengurung
atau menempatkan sel secara fisik pada suatu ruang tertentu dimana sel masih memiliki
aktivitas katalitik serta dapat dipergunakan secara kontinu dan berulang kali. Keadaan sel
yang teramobil ini bisa dalam keadaan tumbuh, istirahat (resting) dan atau pada keadaan
autolisis.
Amobilisasi dalam bidang bioteknologi didefinisikan sebagai suatu cara yang
digunakan untuk menempatkan secara fisika atau kimia suatu sel, organel, enzim atau protein
lainnya ke dalam suatu penyangga berupa bahan padat, matrik, atau membran. Amobilisasi
dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan stabilitas dan membuat sel, organel atau
enzim dapat digunakan secara terus menerus (Brodelius,1987).
Tujuan penggunaan sel amobil, adalah:
1. Mencegah gesekan sel dengan dinding bioreaktor.
2. Mencegah terjadinya agregasi/gumpalan sel, karena kalau terjadi agregasidapat
mengakibatkan sel terdiferensiasi

B. Metoda Amobilisasi Sel


Teknik amobilisasi terdiri atas beberapa prinsip, menurut Bickerstraff (1997) terdapat
5 prinsip amobilisasi sel atau enzim yaitu:
1.

Metoda Ikatan antar Polimer (cross-linking).


Dinding sel mikroba yang mengandung gugus amin bebas dan gugus karboksil dapat

berikatan silang dengan senyawa seperti glutaraldehid atau toluene diisosianat. Sel mikroba
juga dapat diamobilisasi melalui ikatan ion dengan senyawa polielektrolit. Metoda
amobilisasi dengan cara ini jarang dilakukan untuk sel. Dalam penggunaan untuk amobilisasi
sel, metoda ini biasanya dikombinasikan dengan metoda penjerapan (entrapment) untuk
stabilisasi proses amobilisasi. Metoda ini diterapkan untuk amobilisasi sel mikroba,
tumbuhan maupun enzim.
2.

Metoda Kopolimerisasi (copolymerization).

Metoda ini merupakan metoda pengembangan dari metoda ikatan antar polimer
(cross-linking). Pada saat proses amobilisasi biasanya ditambahkan senyawa yang berfungsi
sebagai spacer seperti gelatin, albumin, polietilenimin ke dalam suspensi sel yang akan
diamobilisasi. Selanjutnya suspensi sel ini diamobilisasi dengan metoda ikatan antar polimer.
Prosedur ini akan membuat sel terperangkap pada suatu jaring kovalen. Metoda ini banyak
menyebabkan kematian sel, akan tetapi pada beberapa aplikasi metoda ini dapat digunakan
(Brodelius, 1987).
Sama halnya dengan metoda ikatan antar polimer, metoda ini juga banyak digunakan
dalam amobilisasi sel tumbuhan, sel mikroba dan enzim.
3.

Metoda Ikatan Kovalen.


Metoda ini dilakukan dengan cara menggunakan sistem dimana sel dapat terikat
secara kovalen dengan gugus reaktif dari suatu matrik, atau sel terikat pada suatu senyawa
perantara yang menghubungkan sel dengan matriknya. Contohnya matrik selulosa dapat
dikombinasi dengan glutaraldehid sebagai senyawa perantara. Senyawa perantara ini
sebagian besar bersifat toksik sehingga dapat merusak sel (Brodelius, 1987). Digunakan
untuk amobilisasi semua jenis sel (tumbuhan, mikroba) dan enzim

4.

Metoda Adsorpsi
Metoda ini didasarkan kepada afinitas mikroba terhadap suatu permukaan padat.
Fenomena ini dapat terjadi secara alami. Misalnya, mikroba yang terikat pada butiran pasir,
partikel tanah, permukaan gigi, permukaan logam dan permukaan senyawa polivinilklorida.
Kekuatan afinitas mikroba terhadap suatu permukaan padat tergantung pada jenis mikroba.
Reaksi yang terjadi antara permukaan padat dengan sel adalah interaksi elektrostatik.
Beberapa jenis bahan yang telah digunakan untuk amobilisasi sel dengan cara ini adalah
selulosa, lektin, polivinilklorida (Brodelius, 1987). Metoda ini banyak diaplikasikan untuk
amobilisasi sel mikroba.

5.

Metoda Penjerapan (entrapment).


Metoda ini adalah metoda yang paling banyak dikembangkan untuk amobilisasi sel.
Metoda ini dilakukan dengan membuat sel mikroba terperangkap di dalam matrik polimer.
Metoda didasarkan pada terjadinya inklusi sel-sel di dalam suatu jaringan atau matrik yang
kaku yang mencegah sel berdifusi ke lingkungan atau medium disekitarnya, akan tetapi
masih dapat berinteraksi dengan substrat. Matrik yang umum digunakan adalah agar, alginat,
karagen, selulosa dan turunannya, kolagen, gelatin, resin epoksi, poliakrilamid. Metoda ini
lebih banyak digunakan untuk amobilisasi sel karena tingkat keberhasilannya tinggi dan lebih

kuat dalam menahan sel tetap berada di dalam matrik apabila dibandingkan dengan metoda
adsorpsi atau secara kimia (Brodelius, 1987).
Dalam aplikasinya, metode penjerapan ini paling sering digunakan untuk amobilisasi
sel tumbuhan, mikroba, maupun amobilisasi enzim.

C. Teknik Kultivasi
Metabolit sekunder dapat dihasilkan dengan kultivasi. Kultivasi digunakan untuk
memproduksi metabolit sekunder dalam skala besar atau skala industri. Kultivasi berdasarkan
cara operasi bioreaktor dapat dibagi menjadi 3 teknik, yaitu:
1. Sistem Batch (Nir Sinambung)
Bioreaktor diisi dengan media segar steril dan inokulasikan dengan inokulum (kultivasi
sistem tertutup), kemudian isi bioreaktor dikeluarkan untuk dilakukan pemanenan produk.
Bioreaktor dibersihkan untuk digunakan pada kultivasi berikutnya.

Skema 1. Proses kultivasi sistem batch


2. Sistem Continous (Kontinu/Sinambung)
Media cair steril dimasukkan ke dalam bioreaktor yang berisi inokulum secara kontinu dan
pada saat yang bersamaan cairan kultivasi dikeluarkan (sistem terbuka).

Gambar 2. Model sistem continous


3. Sistem Fed-Batch (Semi Sinambung)
Media cair steril dimasukkan ke dalam bioreaktor secara berkesinambungan tanpa
pengeluaran cairan kultivasi secara bersamaan. Saat isi biorekator penuh, cairan dikeluarkan
untuk digunakan pada proses kultivasi berikutnya.

Gambar 3. Sistem Fed-Batch

D. Keuntungan dan Keunggulan Amobilisasi Sel


Berdasarkan ketiga teknik kultivasi yang telah dijelaskan sebelumnya, keuntungan
teknik amobilisasi sel di antaranya adalah dapat dipakai pada sistem kontinu dan dapat
digunakan secara berulang pada sistem batch. Adapun keuntungan lainnya adalah dapat
dimanfaatkan untuk ekskresi metabolit sekunder, dapat melindungi dari gangguan aliran
turbulen serta dapat mencegah inaktivasi interfacial.
Menurut Mattel and Smith (1983), agar produksi metabolit sekunder tinggi maka
perlu optimasi faktor-faktor internal dan eksternal. Optimasi dapat dilakukan dalam dua
tahap, yaitu tahap pertumbuhan dan pada tahap produksi. Pada tahap pertumbuhan,
pengaturan kondisi kultur diarahkan untuk memproduksi biomassa dalam waktu dekat,
sedangkan tahap produksi, pengaturan kondisi kultur untuk produksi metabolit sekunder.
Selain optimasi pada kedua tahap di atas, pendekatan lain yang dapat dilakukan secara efektif
untuk meningkatkan produksi biomassa sel dan metabolit sekunder adalah penambahan
prekursor (prazat), elisitasi, dan amobilisasi.
Biomassa yang tertahan pada media amobil akan menghasilkan metabolit yang lebih
tinggi dan meningkatkan konsentrasi produk. Hal ini dikarenakan sel yang tertahan akan
mengalami stress sehingga produksi metabolit akan meningkat dengan sendirinya dalam
waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan kultur sel biasa.
Teknik ini digunakan untuk meningkatkan kadar metabolit sekunder tanpa
terpengaruh oleh pertumbuhan sel. Sistem sel amobil merupakan teknik pilihan karena
memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
a.

Mampu menggunakan kembali biomasa yang mahal harganya

b. Mampu secara fisikawi memisahkan antara sel, media, dan produk


c.

Meningkatkan daya guna bioreaktor

d. Mampu beroperasi secara berkesinambungan dalam jangka waktu lama


Akan tetapi banyak metabolit sekunder yang jarang dilepaskan dari suspensi atau kultur sel
amobil karena hidrofobisitas yang menyebabkan kelarutannya sangat rendah dalam air.

E. Matrik Amobilisasi
Matrik yang digunakan dalam proses amobilisasi ditentukan oleh metoda yang akan
dipilih untuk amobilisasi. Diantara matrik yang umum digunakan untuk amobilisasi sel dapat
adalah:
1. Polimer sintetis
Polimer sintetis biasanya dipilih karena ingin mendapatkan sifat fisika kimia tertentu
dari matrik tersebut. Porositas dan sifat hidrofob/hidrofil dari matrik jenis ini dapat diatur
lebih mudah. Contoh polimer sintetis yang banyak digunakan untuk amobilisasi sel adalah,
gel poliakrilamid, metakrilat, poliurethan, resin epoksi.
2. Polimer alam
Polimer alam mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh polimer sintetis yaitu,
polimer alam dapat diterima oleh hampir semua jenis sel. Sel umumnya dapat
mempertahankan availabilitasnya yang tinggi apabila diamobilisasi dengan polimer alam.
Polimer alam dapat dibedakan berdasarkan perbedaan mekanisme pembentukan gelnya, yaitu
polimer alam yang membentuk gel dengan perubahan temperatur (thermal gel) contohnya,
kolagen, gelatin, agar, karagen. Polimer alam yang membentuk gel dengan reaksi pengionan,
contohnya alginat, kitosan.
Alginat merupakan polimer alam atau polisakarida yang diekstraksi dari alga coklat
(Phaeophyta). Monomer alginat terdiri dari asam -D-manuronat dan asam -L-guluronat.
Alginat tidak memiliki unit berulang yang teratur. Alginat berada di dalam sel alga dalam
bentuk gel mengandung ion natrium, kalsium, magnesium, stronsium dan barium. Alginat ini
berfungsi memberikan kekuatan dan fleksibilitas pada jaringan. Alginat mempunyai
kemampuan dalam mengikat air dan membentuk gel, viskositasnya tinggi serta memiliki
stabilitas yang baik. Alginat adalah matrik amobilisasi sel yang paling banyak digunakan,
karena ramah terhadap sel, mudah teknik pembuatannya terutama untuk pembuatan dalam
jumlah besar, dan murah harga. Keuntungannya ini masih dapat mengimbangi
kekurangannya yang juga dimiliki oleh senyawa polimer alam lain yaitu kemampuannya
menahan sel di dalam matrik lebih rendah dari pada polimer sintetis (Brodelius, 1987).
Kitin adalah senyawa polimer alam yang disusun oleh monomer N-asetil Dglukosamin, bersifat sukar larut seperti selulosa. Kitin merupakan polisakarida berwarna
putih, bersifat kaku. Senyawa ini tinggi ketersediaannya di alam karena secara aktif
diproduksi oleh makhluk hidup dan merupakan senyawa penyusun cangkang udang dan
kepiting. Kitosan adalah turunan kitin yang telah kehilangan gugus asetilnya. Kitin dan

kitosan merupakan polimer poliamin yang berbentuk linier, mempunyai gugus amino aktif,
dapat diproses menjadi berbagai macam bentuk mulai dari serpihan, serbuk halus, butiran,
membran, spons, kapas, serat, dan gel. Keduanya bersifat biokompatibel, artinya dapat
berikatan dengan sel mamalia dan sel mikroba secara agresif, hampir tidak mempunyai efek
samping, tidak beracun, tidak dapat dicerna, mudah diuraikan oleh mikroba, mempunyai
aktivitas biologi di dalam jaringan, organ, sel hewan dan tumbuhan (Kumar 2000). Kitin
secara komersial diperoleh dari limbah industri pengolahan hasil laut, diantaranya udang dan
kepiting. kitin juga dapat ditemukan pada anggota Crustaceae yang lain, pada beberapa jenis
fungi, dan serangga tertentu. Ketersediaan yang tinggi dan untuk pemanfaatan limbah serta
usaha untuk mengurangi pencemaran akibat limbah hasil laut merupakan pertimbangan
utama dalam pemanfaatan limbah industri hasil laut sebagai sumber kitin (Kumar, 2000).

Gambar 2. Rumus struktur kitin (Kumar,


2000)

F. Teknik Pembuatan Sel Amobil


Ada beberapa teknik dalam pembuatan butiran sel amobil diantaranya dengan:
1.

Membuat desintegrasi sel ke dalam blok-blok polimer secara mekanik. Cara ini
menghasilkan keseragaman partikel yang rendah.

2. Membekukan sel bersama-sama dengan matriknya, setelah itu diperkecil ukurannya dengan
pemotongan. Cara ini kurang efisien untuk pembuatan dalam jumlah besar.
3. Membuat sel menjadi manik-manik atau butiran (beads) bersama-sama dengan matriknya.

G. Proses Amobilisasi Sel


Pembuatan sel amobil pada dasarnya adalah penjerapan sel dengan matriks tertentu.
Polimer merupakan bahan yang banyak digunakan dalam amobilisasi sel dan prinsip kerjanya
ada tiga macam, yaitu:
1. Pembentukan gel dengan proses pengikatan-silang ionik dari polimer yang bermuatan
2. Pembentukan gel dengan pendinginan polimer yang dilarutkan dengan pemanasan
3. Pembentukan gel dengan reaksi kimia (Brodelius,1985).
Secara berturut-turut dari prinsip tersebut adalah gelatin yang berikatan silang dengan
glutaraldehida, agar atau agarosa, dan natrium alginat menjadi kalsium alginat. Untuk
membebaskan produk dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan pelarut
organik, ultrasonifikasi, dan ionoforetik atau elektropermeabilisasi (Hunter dan Kilby,1988).
Proses amobilisasi secara umumyaitu menggunakan metode penjerapan (entrapment),
adalah sebagai berikut:
1.

Proses amobilisasi sel diawali dengan menginisiasi kalus dengan cara penanaman eksplan
pada media padat aseptis yang telah ditambahkan zat pengatur tumbuh.

2.

Setelah ditutup dengan kertas aluminium, selanjutnya diinkubasi pada suhu (25 3) C
hingga terbentuk kalus.

3. Setelah kalus cukup besar, dilakukan subkultur, yaitu memindahkan kalus yang telah dibagi
ke media padat. Subkultur dilakukan berulang kali hingga diperoleh kalus yang meremah
(friable).
4.

Dari kalus tersebut dibuat kultur suspensi sel dengan media cair; kemudian diinkubasikan
dengan digojog pada gyrorotary shaker (penggojog-berpusing).

5. Selanjutnya dilakukan subkultur sehingga diperoleh biomasa yang cukup. Suspensi sel yang
diperoleh disaring. Biomasa yang lolos disebut sel halus dan yang tertinggal di penyaring
disebut sel kasar.

6.

Amobilisasi dilakukan terhadap suspensi sel halus dan suspensi sel kasar dalam larutan
natrium alginat. Manik-manik yang mengandung sel (sel amobil) diinkubasi dalam media cair
sebagai control, media produksi ditambah elisitor dan prazat/precursor. Pertumbuhan sel
untuk kultur sel amobil diamati berdasarkan berat kering (BK) sel. Sel yang diamobilisasi
tumbuh lebih lambat dari pada kultur suspensi sel. Kadar dalam sampel kultur sel amobil
dianalisis dengan menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography), yang
dilengkapi dengan detektor UV (=254 nm) (Kadar, 2009).

(1)

(2)
Gambar 4. Manik-manik sel amobil, sel kasar (1) dan sel halus (2)

Skema 2. Proses amobilisasi sel

H. Problem dalam Sistem Sel Amobil


Masalah yang yang ditemukan dalam sel amobil antara lain:
1. Batas partisi dan difusi
Sistem ketidaksamaan
Nutrisi yang terdapat di luar sel tidak sama dengan yang berada di dalam sel sehingga
pengeluaran metabolit sekunder susah. Sehingga sebaiknya digunakan bentuk sel yang
geometris.
2. Pengukuran parameter seluler setelah amobilisasi
a.

Parameter pengukuran dasar dari pertumbuhan sel seperti peningkatan berat basah, berat
kering, jumlah sel, dan indek mitotik dan penentuan respirasi sel dan viabilitas sel sulit
dilakukan.

b.

Hilangnya nutrient di dalam media akan memberikan informasi yang sedikit mengenai
pertumbuhan sel atau tingkatan fisiologinya.

3. Pelepasan produk dan recovery


a.

Pelepasan produk
Pengoperasian sistem sel tumbuhan amobil ini penting dalam pelepasan produk dari sel ke
dalam medium dimana hal itu dapat diperbaiki tanpa kehilangan biomasa. Bagaimanapun,
eksresi dari metabolit sekunder dengan kultur sel tanaman adalah hal yang tidak biasa,
produknya akan terakumulasi dalam vakuola. Pengambilan produk dari sel merupakan

masalah yang utama dalam kultur. Dalam sistem yang tidak alamiah mengekskresi produk,
dua tahap sistem kultur yang terdiri dari pengulangan akumulasi produk dan pelepasan
produk yang sudah dipakai. Biomassa amobil yang digunakan kembali harus dapat
mempertahankan membrannya atau paling tidak dapat memperbaiki fungsi membrane dengan
cepat.
b. Produk recovery
Produksi sel amobil perlu dipertimbangkan juga dalam segi ekonominya. Metode klasik
misalnya, membutuhkan pelarut yang mahal sehingga tidak ekonomis tetapi dapat membuka
solusi baru dalam bidang bioteknologi, seperti penggunaan sel amobil antibody untuk
menghilangkan produk tertentu dari medium.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Amobilisasi dalam bidang bioteknologi didefinisikan sebagai suatu cara yang
digunakan untuk menempatkan secara fisika atau kimia suatu sel, organel, enzim atau protein
lainnya ke dalam suatu penyangga berupa bahan padat, matrik, atau membran. Amobilisasi
dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan stabilitas dan membuat sel, organel atau
enzim dapat digunakan secara terus menerus. Terdapat 5 metode pembuatan amobilisasi sel,
yaitu metoda ikatan antar polimer (cross-linking), metoda kopolimerisasi (copolymerization),
metoda ikatan kovalen, metoda adsorpsi, metoda penjerapan (entrapment). Matriks yang
digunakan adalah polimer sintetis dan polimer alam. Proses pembuatan amobilisasi sel adalah
pertama menginisiasi eksplan hingga terbentuk kalus yang friable pada media padat;
kemudian disubkultur pada suspensi sel dan dikulturkan bertahap hingga diperoleh biomassa
dengan jumlah yang diinginkan; dilakukan penyaringan suspensi sel dan diperoleh sel kasar
(tertahan pada penyaring) dan sel halus (filtrate); sel kasar dan halus dibuatkan ke dalam
matriks natrium alginat; manik-manik dimasukkan dalam media cair, dengan penambahan
elisitor atau prazat dan inkubasi hingga diperoleh metabolit sekunder yang diinginkan dalam
jumlah tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Brodelius, P.E., 1985, Immobilized Plant Cells, in: Enzymes and Immobilized Cell in
Biotechnology,(Laskin, A.I., ed.), 109-148, The Benyamin / Commings Publishing Company,
Inc., London.
Brodelius, P.E., 1990, Transport and Accumulation of Secondary Metabolites, in: Current Plant
Science and Biotechnology in Agriculture, Vol.IX: Progress in Plant Cellular and Molecular
Biology (Nijkamp,H.J., van der Plas, L.H.W., van Aartrijk,J., eds.), 567-576, Kluwer
Academic Publisher, Dordrecht-The Netherlands.
Chibata, I, 1978, Immobilized Enzymes. Kodansha Ltd., Jepang.

Hunter,C.S. and Kilby, N.J., 1988, Electropermeabilization and Ultrasonic Techniques for
Harvesting Secondary Metabolites from Plant Cells in Vitro, in: Manipulating Secondary

Metabolism, (R.J.Robins and M.J.C, Rhodes, eds.), 285-289, Cambridge University Press,
Cambridge.
Kadar, V.R., 2009, Peningkatan Kadar Andrografolid dari Kultur Sel Andrographis paniculata
(Burm.f.) Wallich ex Ness Melalui Teknik Amobilisasi Sel dalam Bioreaktor, ITB, Bandung.
Soegihardjo, C. J. dan Koensoemardiyah, 2005, Produksi diosgenin dengan sistem sel amobil
dari Costus speciosus smith, Majalah Farmasi Indonesia, 16(4), 246 253.
http://aboealkhair.blogspot.com/2013/07/amobilisasi-sel_9479.html