Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kasus Kelompok

DERMATITIS ATOPIK
Pembimbing: dr.Noorsaid Masadi, Sp.KK
Kelompok 1:

Reza Ariandes
Fredyton Risminardo
Silvia Roza
Bagian Ilmu kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad
Provinsi Riau
2010

PENDAHULUAN
Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis
papulasquamosa yang dapat mengenai segala
jenis usia yang berkaitan dengan alergi.
paling sering muncul pada bayi (70-95%)
Wanita lebih banyak menderita dermatitis
atopik daripada pria dengan resiko 1,3 : 1.

PATOGENESIS
Faktor Genetik
Predisposisi Dermatitis atopi dipengaruhi perbedaan
genetik aktifitas transkripsi gen IL-4

Respons imun pada kulit


Melibatkan sel Langerhans (SL) epidermis, limfosit,
eosinofil dan sel mas. Dapat juga terjadi autoimunitas.

Respons sistemik
- Sintesis IgE meningkat.
- IgE spesifik terhadap alergen ganda meningkat.
- Ekspresi CD23 pada sel B dan monosit meningkat.
- Respons hipersensitivitas lambat terganggu
- Eosinofilia
- Sekresi IL-4, IL-5 dan IL-13 oleh sel TH2 meningkat
- Sekresi IFN- oleh sel TH1 menurun
- Kadar reseptor IL-2 yang dapat larut meningkat.
- Kadar CAMP-Phosphodiesterase monosit
meningkat disertai peningkatan IL-13 dan PGE2

Sawar kulit
Terjadi kekeringan kulit akibat kadar lipid epidermis
yang menurun, trans epidermal water loss
meningkat, skin capacitance menurun ambang
rangsang gatal garukan kerusakan sawar kulit
mikroorganisme dan alergen

Faktor lingkungan
Bayi dan anak kecil susu dan telur
Dewasa sea food dan kacang-kacangan
Asma bronkialetungau debu rumah dan serbuk
sari (alergen hirup)

GAMBARAN KLINIS
Terdiri dari 3 fase klinis,:
Dermatitis atopik infantil (2 bulan 2 tahun)
lokasi: muka (dahi-pipi) meluas ke kepala, leher, pergelangan tangan dan
tungkai, ekstensor ekstremitas.
Ruam: eritema, papul-vesikel, krusta.
Dermatitis atopik pada anak (2 10 tahun)
Lokasi: lipatan siku/lutut, bagian fleksor pergelangan tangan, kelopak mata
dan leher.
Ruam: papul likenifikasi, skuama, erosi, hiperkeratosis dan infeksi sekunder.
Dermatitis atopik pada remaja dan dewasa
Lokasi: remaja adalah di lipatan siku/lutut, samping leher, dahi, sekitar
mata. Pada dewasa, distribusi di tangan dan pergelangan tangan, bibir
(kering, pecah, bersisik), vulva, puting susu, skalp,di daerah lipatan,
mengalami likenifikasi.
Lesi: kering, agak menimbul, papul datar cenderung berkonfluens menjadi
plak likenifikasi, skuama, ekskoriasi, eksudasi, hiperpigmentasi.

VARIASI KLINIS
Ekzema Dishidrotik
terjadi pada telapak tangan dan kaki dengan
bentuk vesikel dan bula yang berulang (tidak
selalu atopik).
Erupsi bentuk varisela kaposi.
cenderung untuk terkena infeksi virus.
Lesi vesikopustular yang difus

KRITERIA DIAGNOSTIK (Hanifin dan Rajka)


Kriteria Mayor
Pruritus
Dermatitis di muka atau ekstensor bayi dan anak
Dermatitis di fleksura pada dewasa
Dermatitis kronis atau residif
Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

Diagnosis ditegakkan
minimal 3 kriteria mayor
dan 3 kriteria minor

Kriteria Minor
Xerosis
Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus dan virus H.
simpleks)
Dermatitis non spesifik pada tangan dan kaki
Iktiosis/hiperlinearis palmaris/keratosis pilaris
Pitiriasis alba
Dermatitis di papila mame
White dermatografism dan delayed blanched
esponse
Keilitis
Lipatan infra orbital Dennie Morgan
Konjungtivitis berulang
Keratokonus
Katarak subkapsular anterior
Orbita menjadi gelap
Muka pucat dan eritema
Gatal bila berkeringat
Intolerans perifolikular
Hipersensitif terhadap makanan
Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor
lingkungan atau emosi
Tes alergi kulit tipe dadakan positif
Kadar IgE dalam serum meningkat
Awitan pada usia dini

PENATALAKSANAAN UMUM
Menghindarkan pemakaian bahan-bahan iritan (deterjen,
alkohol, astringen, pemutih, dll)
Menghindarkan suhu yang terlalu panas dan dingin,
kelembaban tinggi.
Menghindarkan aktifitas yang akan mengeluarkan
banyak keringat.
Menghindarkan makanan-makanan yang dicurigai dapat
mencetuskan DA.
Melakukan hal-hal yang dapat mengurangi jumlah
TDR/agen infeksi, seperti menghindari penggunaan
kapuk/karpet/mainan berbulu.
Menghindarkan stres emosi.
Mengobati rasa gatal.

PENATALAKSANAAN KHUSUS
1. Pengobatan topikal
Hidrasi kulit dengan melembabkan kulit.
Kortikosteroid topikal
Imunomodulator topikal
Takrolimus penghambat calcineurin. sediaan: salap 0,03%
(2 15 th), salap 0,03% dan 0,1% (dewasa).
Pimekrolimus Sediaan: konsentrasi 1%

Preparat ter anti pruritus dan anti inflamasi.


Sediaan: salap hidrofilik misalnya mengandung liquor
carbonat detergent 5% - 10% atau crude coaltar 1%-5%.

Antihistamin Antihistamin topikal tidak dianjurkan


pada DA

2. Pengobatan sistemik
Kortikosteroid tapering off.
Antihistamin antipruritus
Anti infeksi antibiotika (eritromisin, asitromisin atau
kaltromisin).
Interferon menekan respons IgE dan menurunkan
fungsi dan proliferasi sel TH1. jumlah eosinofil total .
Siklosporin imunosupresif kuat transkripsi sitokin
ditekan. Dosis 5 mg/kg BB/oral.
Terapi sinar (phototherapy) untuk DA yang berat.
Terapi menggunakan UV atau kombinasi UVA dan
UVB.
Probiotik perinatal menurunkan resiko DA pada
anak di usia 2 tahun pertama.

PROGNOSIS
Sulit meramalkannya karena adanya peran
multifaktorial.
Faktor yang berhubungan dengan prognosis kurang
baik, adalah :
DA yang luas pada anak.
Menderita rinitis alergika dan asma bronkiale.
Riwayat DA pada orang tua atau saudaranya.
Awitan (onset) DA pada usia muda.
Anak tunggal.
Kadar IgE serum sangat tinggi

KASUS
Seorang laki-laki 5 tahun, bangsa Indonesia,
suku melayu, beragama islam, status belum
menikah, tidak bekerja.
KU: gatal-gatal pada leher, lipatan lengan dan
tengkuk.

RPS:
Sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh gatal-gatal di leher,
lipatan lengan dan tengkuk. Gatal dirasakan sepanjang hari.
Awalnya muncul bintil-bintil merah yang gatal. Bintil-bintil
tersebut berisi cairan dan sebagian berisi nanah. Pasien
sering menggaruknya sehingga timbul luka. Pada pasien ini
juga ditemukan sisik pada daerah leher, lipatan lengan dan
tengkuk. Kemudian menyebar ke wajah, kaki, tangan dan
badan.
Bintil-bintil tersebut tidak ditemukan di sela jari tangan,
bokong dan genital. Pasien merasakan gatal bertambah jika
memakan telur atau makanan laut. Tidak ada riwayat digigit
serangga.
Pasien pernah berobat ke Puskesmas dan diberi obat makan
dan oles. Setelah diobati keluhan berkurang tetapi setelah
obat habis keluhan muncul lagi.

Pemeriksaan fisik
keadaan umum : tampak sakit sedang
keadaan gizi
: baik
status generalis : dalam batas normal.
Status dermatologi
Lokasi
: leher, kedua lipatan lengan, tengkuk,
wajah, kaki, tangan
Efloresensi
: vesikel, papul, eritema, pustul,
skuama, dan erosi.
Penyebaran
: Regional
Pemeriksaan mikrobiologis
Pemeriksaan Gram : Ditemukan coccus gram +
Pemeriksaan sediaan basah: tidak ditemukan Sarcoptes
scabei.

Sebelum
Pengobatan

Diagnosis banding:
Dermatitis atopik dengan infeksi sekunder
Skabies
Prurigo hebra
Diagnosis:
Dermatitis atopik dengan infeksi sekunder.

Penatalaksanaan:
Umum:
mengidentifikasi dan menghindari faktor pensetus seperti bahan
iritan (sabun, deterjen, astingen dll)
Mengindari suhu yang terlalu panas atau dingin serta kelembaban
tinggi.
Menghindarkan aktivitas yang akan mengeluarkan banyak keringat
Menghindarkan makanan yang dicurigai dapat mencetuskan DA
Menghindarkan penggunaan kaput/ karpet/ mainan berbulu
Menghindarkan stres emosi
Mengobati gatal

Khusus:
Sistemik
Lokal

: Eritromisin 3x200mg selama 7 hari


Clortrimetrol maleat 2x2 mg/hari.
: Betametason valerate krim 0.01 %
Hidrokortison krim 0,5 %

Pasien datang kembali kontrol setelah 7 hari


pengobatan gatal berkurang, kemerahan
dan sisik juga berkurang.

Setelah
pengobatan

PEMBAHASAN
Pasien anak usia 5 tahun dengan dermatitits atopik
gejala klinis: pruritus, eritema, vesikel, pustul, papul dan erosi
pada leher, tengkuk, pergelangan yang menyebar ke wajah,
badan, dan kaki. Pasien mempunyai riwayat alergi makanan.
Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan gatal di leher,
lipatan lengan yang dirasakan sepanjang hari. Awalnya
muncul bintil-bintil merah yang gatal. Bintil tersebut berisi
cairan dan sebagian berisi nanah. Pasien sering
menggaruknya sehingga timbul luka. Kemudian timbul sisik
yang menyebar ke wajah, tangan, badan dan kaki. Pada status
dermatologis didapatkan vesikel, papul, eritema, pustula,
skuama dan erosi pada wajah, tengkuk, leher, lengan, tangan,
badan dan kaki. Pada pemeriksaan ulangan setelah diberikan
terapi didapatkan pruritus berkurang , eritem dan skuama
juga berkurang.

Memenuhi kriteria diagnosis Hanifin dan Rajka


yaitu memenuhi tiga kriteria mayor dan tiga
kriteria minor.
Pada pasien ini ditemukan:
Pruritus
dermatitis dimuka dan ekstensor
dermatitis kronik dan residif

Kriteria
mayor

infeksi kulit
dermatitis nonspesifik pada tangan dan kaki
hipersensitifitas terhadap makanan

Kriteria
minor

Berdasarkan gejala klinis


usia 5 tahun
lokasi lesi: kedua lipatan
lengan, wajah dan leher
efloresensi :berbentuk papul,
erosi dan skuama

dermatitis
atopik fase
anak

Pruritus meningkatnya pelepasan mediator


inflamasi seperti histamin. Fungsi abnormal
dari sistem imun juga dapat berpengaruh
terhadap dermatitis atopik. Kadar Ig E dalam
serum penderita dan jumlah eosinofil dalam
darah perifer umumnya meningkat.

Pemberian antihistamin (clortrimetrol maleat)


tujuan menghambat reseptor histamin H1,
pruritus <.

Eritema vasodilatasi yang disebabkan oleh


terlepasnya faktor inflamasi .
Pelepasan faktor inflamasi dihambat dengan
kortikosteroid topikal:
betametason valerat krim 0,01%: leher, tengkuk,
badan, tangan dan kaki
hidrokortison krim 0,5% : wajah

Antibiotik karena:
Terdapat tanda lesi sekunder berupa pustul
Coccus gram +

Pada dermatitis atopik resiko rekurensi sering


terjadi karena pada dasarnya penyakit ini
merupakan kelainan genetik yang juga di
pengaruhi banyak faktor lainnya.
Pasien dermatitis atopi biasanya lebih rentan
terhadap bahan iritanmengidentifikasi dan
menyingkirkan faktor yang memperberat
kekambuhan dermatitis atopi.
Penatalaksanaan sangat penting kerjasama
dan perhatian orang tua dan keluarga dekat
pasien dalam mengurangi resiko dermatitis
atopi yang berulang.

Hasil anamnesis dan pemeriksaan ulang:


Keluhan pruritus dan squama <.
Eritema, papul, vesikel dan pustula <.

Diagnosis banding
Skabies
persamaan dengan dermatitis atopi berupa
adanya gatal, papul dan erosi, namun pada
skabies gatal yang meningkat pada malam hari,
papul yang ditemukan pada sela jari, bokong
dan genital, pemeriksaan mikroskopis
ditemukan juga adanya Sarcoptes scabei.
Prurigo hebra
persamaan berupa adanya gatal dan papul
namun pada prurigo biasanya didahului oleh
ada riwayat digigit serangga.

KESIMPULAN
Telah dilaporkan kasus dermatitis atopik dengan
penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh gatal
sepanjang hari di leher, lipatan lengan, tengkuk dan
meluas kemuka, tangan, kaki dan badan. Awalnya
muncul bintil-bintil merah yang gatal. Bintil-bintil
tersebut berisi cairan dan sebagian berisi nanah.
Pasien merasakan gatal bertambah jika memakan
telur atau makanan laut

Dari pemeriksaan dermatologi ditemukan vesikel,


papul, eritema, pustul, skuama, dan erosi. Dari
pemeriksaan mikrobiologis yaitu pemeriksaan sediaan
basah tidak ditemukan Sarcoptes scabei dan
pemeriksaan gram ditemukan coccus gram +.
Terapi umum pada pasien ini adalah anjuran untuk
mengidentifikasi dan menghindari faktor-faktor yang
memperberat dan memicu siklus garuk-garuk
misalnya sabun dan deterjen.
Terapi khusus yang diberikan adalah pengobatan
sistemik berupa eritromisin 3x 200mg selama 7 hari
dan clortrimetrol maleat 2x4 mg/hari. Pengobatan lokal
yang diperoleh yaitu betametason valerate krim 0.01 %
dan hidrokortison krim 0,5 %
Setelah kontrol ulang, terapi menunjukkan
keberhasilan.