Anda di halaman 1dari 38

Presentasi:

Paradigma dan Kebijakan Pengelolaan dan


Perlindungan Lingkungan Hidup di Kota Metro
Oleh:

Yerri Noer Kartiko


Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro

Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup


29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup


29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup


29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup


29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

DAMPAK KEGIATAN USAHA

negatif

Mengurangi
kenyamanan
Kerusakan lingkungan
Pencemaran lingkungan

positif

Keuntungan ekonomi
bagi pelaku usaha
Penyerapan tenaga
kerja
PAD PDRB Devisa

HASIL AKHIR USAHA

Man
Money
Method
Material
Machine
Market

(dibuang) ke
lingkungan

Produk
Akhir Yg
Diharapkan
Product

Output

Produk Akhir
Yg Tdk
Diharapkan
Keluaran
Bukan Product
- Non-product

Output

Paradoksial Pembangunan (1)


Pembangunan
Fisik

Kualitas Hidup
Manusia

Kualitas Hidup
Manusia

Ekonomi

Ekonomi

Kualitas
Kesehatan

Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup


29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

Sosial dan
Budaya

Kualitas
Lingkungan
Hidup

Paradoksial Pembangunan (2)


Jumlah
Penduduk
Kebutuhan
Hidup Manusia

Sampah dan
Limbah

Keanekaragaman
Hayati

Kebutuhan
Lahan

Alih Fungsi
Lahan

Lahan Pertanian,
Perkebunan,
Kehutanan,

Eksploitasi Sumber
Daya Alam

Ketersediaan Sumber
Daya Alam

Pencemaran dan
Kerusakan
Lingkungan Hidup

Lahan untuk Tempat


Sampah/Limbah

Ketahanan dan
Kedaulatan Pangan

Kualitas
Lingkungan Hidup
Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup
29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

PENCEMARAN UDARA

Perubahan iklim global


Perusakan lapisan ozon
Hujan asam
Pencemaran udara daerah
perkotaan
dll.

PENCEMARAN AIR

PENURUNAN
KEANEKARAGAMAN
HAYATI
Perusakan habitat
Kepunahan spesies

MASALAH
UTAMA
LINGKUNGAN

Sedimentasi
Bahan kimia beracun
Agen biologis pembawa
penyakit
Tumpahan minyak
Pencemaran panas
dll.

PENURUNAN
KETERSEDIAAN
PANGAN

Perusakan &
pengurangan luas lahan
pertanian
Penurunan air tanah
Penggurunan
Erosi tanah
Pemiskinan zat hara
Penggaraman tanah
Penangkapan ikan yang
berlebihan
dll.

PENURUNAN
KETERSEDIAAN
SUMBERDAYA
ALAM LAINNYA

Energi / bahan bakar


Mineral tidak terbarui

PRODUKSI LIMBAH
Limbah padat
Bahan berbahaya &
beracun

Lingkungan
Hidup

Manusia

Dikelola dan dikendalikan

Perilaku, Sikap,
karakteristik

Daya tampung, Daya


dukung, Daya lenting

Mengurangi beban
pencemaran

Kelestarian fungsi dan kualitas


lingkungan hidup, sumber daya
alam dan keanekaragaman hayati

Mencegah
kerusakan

Penanggulangan Mitigasi
Rehabilitasi/Recovery/Remediasi
(Pemulihan) - Adaptasi
Sosialisasi Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup
29 April 2014
Kota Metro, Lampung, Indonesia

Integrated Approach on
Environmental Development
Integrated
Sustainable City
= next model ?

Law & Order


Approach
(Regulation &
Law Enforcement)
Political Good
Will
Public
Participation

Continually Improvement

A Better Sustainability
A Better Efficiency
A Better Quality Life

Environmentally
Sustainable City

Ecogreen City

Socio
Economy
Approach

Mindset and
lifestyle changing

Love Environment
Culture
Reinvention
Revitalitation
Reactualization

Reinternalization
Encouragement
Empowerment

Ethical Value & Norm


Local Public Wisdom

Technology
Approach

Partnership Networking on Environmental


Development in Metro City
National, Regional,
Bilateral, Multilateral

Government &
Policy/Decision Maker
Non Government
Organization associated
with environment

Commitment
Consultation

Cultural Entities

Education Entities

Consistent
Communication
Coordination

Metro as the
Environmentally
Sustainable City

Private Sector

Efficient
Harmonization
Partneship
Economy Entities

Public Forum,
Comunity and
Social Entities

Accountable

Political Entities

Public

Environmental Quality Management and


Public Participations
Government is the
Top Management

Environmental Quality
Function Deployment

Public Participation

Environmental
Quality
Management
System

Public Confidence

Environment of Metro
City

Public Trust

Environmental
Sustainable City

Public Acceptance

Public Satisfaction

Environmental Quality
by Design
Good Governance

PERTUMBUHAN
EKONOMI
(Economic Growth)

SUSTAINABLE DEVELOPMENT

MENGABAIKAN
SUSTAINABILITY

EKONOMI, EKOLOGI, SOSIAL

(Pertumbuhan + Sustainability)

GG

GSDG
GOOD SUSTAINABLE
DEVELOPMENT
GOVERNANCE

KEMAMPUAN MELAKUKAN CHECK


& BALANCE DI ANTARA 3 ELEMEN
NEGARA
BANGSA
Eksekutif
Legislatif
Judikatif
MASYARAKAT
DUNIA USAHA
WARGA
Perbankan
Akademisi
Koperasi
Wartawan
BUMN
Tokoh masyarakat
BUMD
Pengamat
Private corporation
LSM
Masyarakat sadar politik

GG + SD

Belum tentu sensitif terhadap


perlindungan daya dukung
14
ekosistem

Keseimbangan 3 Pilar Pembangunan


Menguntungkan secara ekonomi
(Economically viable)

Diterima secara sosial


(Socially acceptable)

Ramah Lingkungan
(Environmentally sound)

Jangan menghasilkan limbah


Kalau penimbulannya tidak dapat dihindari,
memperkecil
Kuantitas limbah yang diproduksi

Lebih Diinginkan

Mendaur ulang limbah

Kalau dihasilkan dan tidak bisa didaur


ulang,mengolah limbah untuk
membuatnya menjadi tidak berbahaya

Kalau tidak bisa dijadikan


tidak berbahaya,
membuang limbah dengan
cara aman

Kalau sudah
dibuang, memantau
limbah dari dampak
negatif lain

Sasaran Pengolahan Limbah

Sasaran Pengolahan Limbah

LIMBAH DAN DAUR ULANG

Skema Pengaturan dan Pembangian Dokumen Lingkungan Hidup


USAHA
DAN/ATAU
KEGIATAN
WAJIB AMDAL

Kegiatan berdampak
penting terhadap LH

Pasal 22-33 UU 32/2009

Batas AMDAL

USAHA
DAN/ATAU
KEGIATAN
WAJIB UKL/UPL

Kegiatan tidak
berdampak penting
terhadap LH

Pasal 34 UU 32/2009
SPPL
Pasal 35 UU 32/2009

Peraturan MENLH
No 11/2006

Batas dokumen UKL-UPL


Kegiatan tidak wajib UKL/UPL &
tidak berdampak penting serta
Kegiatan usaha mikro dan kecil

Peraturan Gub.
atau
Bupati/Walikota

Perizinan Bidang Lingkungan

Izin Lingkungan
* Diterbitkan sebagai prasyarat utama untuk
memperoleh izin usaha dan/ atau kegiatan

* Diterbitkan pada tahap perencanaan

Izin Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup
* Diterbitkan sebagai persyaratan izin lingkungan
dalam rangka perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup
* Diterbitkan pada tahap operasional

Jenis Izin PPLH

Pembuangan Air Limbah Ke Air Atau Sumber Air;

Pemanfaatan Air Limbah Untuk Aplikasi Ke Tanah

Penyimpanan Sementara Limbah B3;

Pengumpulan Limbah B3;

Pemanfaatan Limbah B3;

Pengolahan Limbah B3;

Penimbunan Limbah B3;

Pembuangan Air Limbah Ke Laut;

Dumping Ke Media Lingkungan;

Pembuangan Air Limbah Dengan Cara Reinjeksi; Dan

Emisi; Dan/Atau

Pengintroduksian Organisme Hasil Rekayasa Genetika Ke Lingkungan.

(Sumber: M. Askary, 2010)

Proposal Kegiatan

Wajib AMDAL
Pengumuman &
konsultasi masyarakat
Penyusunan KA-ANDAL
Pemeriksaan Administrasi
Penilaian KA-ANDAL

Wajib UKL/UPL

Izin pembuangan air limbah


Izin pemanfaatan air limbah untuk aplikasi ke
tanah [land application]
Izin penyimpanan sementara LB3
Izin pengumpulan LB3
Izin pengangkutan LB3
Izin pemanfaatan LB3
Izin pengolahan LB3
Izin penimbunan LB3
Izin pembuangan air limbah ke laut
Izin dumping ke laut
Izin reinjeksi ke dalam formasi
Izin venting ke udara

Penyusunan ANDAL & RKL-RPL,


Permohonan Penilaian
ANDAL & RKL-RPL

Permohonan Izin Lingkungan


[Persyaratan Adm & Teknis]

Permohonan
Pemeriksaan UKL/UPL

Pemeriksaan Administrasi

Pemeriksaan Administrasi

Pemeriksaan Administrasi

Pengumuman
Penilaian ANDAL & RKL-RPL

Tidak
Layak

SKKLH

Pemeriksaan UKL/UPL
Rekomendasi UKL-UPL

Strategi Pengelolaan & Pengendalian Lingkungan


1.

Sebelum 1989 : bersifat reaktif yaitu berusaha


mengolah limbah pada unit pengolahan limbah
(end-of-pipe treatment)
Konsep pendekatan kapasitas daya dukung
(carrying capacity approach)

Pencemaran dan kerusakan lingkungan tetap terjadi

Kendala rendahnya pentaatan dan penegakan hukum dan peraturan,


masih lemahnya perangkat peraturan yang tersedia serta tingkat
kesadaran yang juga masih rendah

2. Sesudah 1990 bersifat Proaktif yaitu


berusaha meminimalisasi dampak & limbah
dengan mengolah pada beginning of pipe
treatment atau pendekatan teknologi
pencegahan dampak & limbah

Pendekatan Teknologi Produksi Bersih

Hasil KTT Bumi di Rio de Janeiro 1992

Pebruari 1994 pada konvensi internasional


di Melbourne atau Melbourne Principles
for Cleaner Production ditekankan
pertumbuhan ekonomi dengan prinsip
produksi bersih
POLLUTION PREVENTION
WASTE MINIMIZATION
CLEAN TECHNOLOGY
END - OF - PIPE TREATMENT
REMEDIASI

Preventif

Preventif
Kontrol

Kontrol
Pengo
lahan

Pengolahan

Pola Reaktip

Pola Proaktip

(sebelum 1990)

(sesudah 1990)

Semua kegiatan industri dituntut


untuk melaksanakan penyempurnaan
berkelanjutan

Pengolahan limbah tidak


menyelesaikan masalah dengan
tuntas

PARADIGMA PENGELOLAAN USAHA

single bottom line

financial

profit

triple bottom line


planet

people

28

1. Pilar Tunggal -Finansiil:


Aspek keuangan menjadi satu-satunya dasar
pengelolaan usaha dicerminkan pd tujuan
pencapaian laba
2. Tiga Pilar:
Profit:
Laba menjadi salah atu tujuan usaha
People:
Kepuasan stakeholder (para pihak) menjadi
salah satu tujuan perusahaan
Planet:
Menjaga kelestarian lingkungan hidup dimana
perusahaan tinggal atau beroperasi menjadi
salah satu misi penting perusahaan

29

PREVENTIVE
STRATEGY

Pencegahan & pengurangan

TREATMENT
STRATEGY

Pengolahan & pembuangan

30

Kombinasi Preventif & Treatment Strategy:

a. Rethink

Suatu konsep pemikiran yg harus dimiliki pd saat


awal kegiatan atau awal operasi

b. Reduce-pengurangan limbah pd sumbernya

Upaya mengurangi atau menurunkan timbulan


limbah pd sumbernya

c. Re-use-penggunaan kembali

Upaya menggunakan kembali suatu limbah tanpa


mengalami perlakuan fisika, kimia atau biologi

d. Recycle-daur ulang

Upaya memanfaatkan kembali dengan pemrosesan


ke proses semula yg dpt dicapai melalui perlakuan
fisika, kimia, dan biologi
31

e. Recovery-ambil ulang

Upaya memisahkan suatu bahan atau energi dr


suatu limbah untuk kemudian dikembalikan ke
dalam proses produksi dengan atau tanpa
perlakuan fisika, kimia dan biologi

f. Pengolahan limbah

Limbah yg muncul dalam sistem produksi, kualitas


dan kuantitasnya dikendalikan agar tidak melebihi
baku mutu yg dipersyaratkan

g. Pembuangan limbah

Upaya terakhir yakni membuang limbah yg


seharusnya diupayakan aman bagi manusia dan
lingkungan

32

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009


Pasal 36
1. Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki AMDAL atau UKLUPL wajib memiliki Izin Lingkungan
2. Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diterbitkan berdasarkan
keputusan kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL
Pasal 37
2. Izin Lingkungan dapat dibatalkan apabila: c. Kewajiban yang ditetapkan
dalam dokumen AMDAL atau UKL-UPL tidak dilaksanakan oleh
Penanggung Jawab Usaha dan/atau Kegiatan
Pasal 40
1. Izin Lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha
dan/atau kegiatan
Pasal 54
1. Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup wajib melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009

Pasal 55
1. Pemegang Izin Lingkungan wajib menyediakan dana penjaminan untuk
pemulihan fungsi lingkungan hidup
2. Dana penjaminan disimpan di bank pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri,
Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya
3. Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
menetapkan pihak ketiga untuk melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup
dengan menggunakan dana penjaminan
Pasal 59
1. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah
B3 yang dihasilkannya
3. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3,
pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain
Pasal 68
Setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban:
Memberikan informasi yang terkait dengan PPLH secara benar, akurat, terbuka
dan tepat waktu
Menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup dan menaati ketentuan tentang
baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009

Pasal 55
1. Pemegang Izin Lingkungan wajib menyediakan dana penjaminan untuk
pemulihan fungsi lingkungan hidup
2. Dana penjaminan disimpan di bank pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri,
Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya
3. Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
menetapkan pihak ketiga untuk melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup
dengan menggunakan dana penjaminan
Pasal 59
1. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah
B3 yang dihasilkannya
3. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3,
pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain
Pasal 68
Setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban:
Memberikan informasi yang terkait dengan PPLH secara benar, akurat, terbuka
dan tepat waktu
Menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup dan menaati ketentuan tentang
baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009


Pasal 69
Setiap orang dilarang:
Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan
lingkungan hidup
Membuang limbah, bahan B3, limbah B3 ke media lingkungan
Memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,
merusak informasi atau memberikan keterangan yang tidak benar

Pasal 76
1.

Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota menerapkan sanksi administratif kepada


Penanggung Jawab Usaha dan/atau Kegiatan jika dalam pengawasan
ditemukan pelanggaran terhadap Izin Lingkungan
2. Sanksi administratif terdiri atas: (a). Teguran Tertulis; (b). Paksaan
Pemerintah; (c). Pembekuan Izin Lingkungan; atau (d). Pencabutan Izin
Lingkungan
Pasal 78
Sanski administratif tidak membebaskan Penanggung Jawab Usaha dan/ atau
Kegiatan dari tanggung jawab pemulihan dan pidana

This earth is not our belonging, but they are belonged by


next generations. Finnaly, the deepest environmental

awareness is one of the deepest spitual awarenss.


So, come on, hand in hand ...
we build Environmental Intelligence and Quotient
together.

5th High Level Seminar Environment Asian Summit East Asia Summit Environmental Minister Meeting
28 February 01 March 2014
Surabaya, Indonesia

5th High Level Seminar Environment Asian Summit East Asia Summit Environmental Minister Meeting
28 February 01 March 2014
Surabaya, Indonesia