Anda di halaman 1dari 9

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING

BIDANG STUDI IPA KELAS V DI SD NEGERI 2 PENGATIGAN


KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN PELAJARAN 2006/2007
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan di suatu sekolah dipengaruhi oleh banyak
faktor. Faktor-faktor yang dimaksud misalnya guru, siswa, kurikulum, lingkungan sosial, dan lain-lain.
Namun darifaktor-faktor itu, guru dan siswa faktor terpenting. Pentingnya faktor guru dan siswa
tersebut dapat dirunut melalui pemahaman hakikat pebelajaran, yakni sebagai usaha sadar guru untuk
membantu siswa agar dapat belajar dengan kebutuhan minatnya.
Bahwa pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia kiranya merupakan hal yang
tak dapat dibantah. Pada kenyataanya pendidikan telah dilaksanakan semenjak adanya manusia,
hakikatnya pendidikan merupakan serangkian peristiwa yang komplek yang melibatkan beberapa
komponen antara lain: tujuan, peserta didik, pendidik, isi/bahan cara/metode dan situasi/lingkungan.
Hubungan keenam faktor tersebut berkait satu sama lain dan saling berhubungan dalam suatu aktifitas
satu pendidikan (Hadikusumo, 1995;36).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada SD Negeri 2 Pengatigan dapat ditemukan
hal-hal sebagai berikut: (1) Kondisi lingkungan yang kurang kondusif, karena letak SD tersebut
berdekatan dengan jalan dan rumah penduduk, (2) Berdekatan dengan penggergajian kayu. Dari situasi
dan kondisi seperti ini mempengaruhi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung, seperti
kebisingan suara gergaji, dan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, sehingga perhatian siswa dapat
terganggu. Selain itu perhatian orang tua terhadap prestasi belajar anaknya juga kurang, dengan bukti
saat guru memberikan informasi tentang prestasi belajar anaknya yang sangat menurun, banyak orang
tua bersikap masa bodoh ini yang menyebabkan penurunan prestasi belajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran di SD
Negeri 2 Pengatigan tidak kondusif, sehingga menyebatkan penurunan nilai mata pelajaran IPA. Adapun
nilai mata pelajaran yang diperoleh siswa SD tersebut pada tahun ajaran 2003/2004 dibawah nilai
standar yaitu 6,1, sedangkan nilai standar yaitu 6,5 maka dapat dikatakan bahwa dalam pelaksanaan
proses belajar mengajar tidak kurang optimal.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara optimal adalah model
pembelajaranQuantum Teaching. Model pembelajaran ini merupakan model percepatan belajar
(Accelerated Learning) dengan metode belajar Quantum Teaching. Percepatan belajar yang di Indonesia
dikenal dengan program akselerasi tersebut dilakukan dengan menyingkirkan hambatan-hambatan yang
menghalangi proses alamiah dari belajar melalui upaya-upaya yang sengaja. Penyingkiran hambatan-

hambatan belajar yang berarti mengefektifkan dan mempercepat proses belajar dapat dilakukan
misalnya : melalui penggunaan musik (untuk menghilangkan kejenuhan sekaligus memperkuat
konsentrasi melalui kondisi alfa), perlengkapan visual (untuk membantu siswa yang kuat kemampuan
visualnya), materi-materi yang sesuai dan penyajiannya disesuaikan dengan cara kerja otak, dan
keterlibatan aktif (secara intelektual, mental, dan emosional).
Model pembelajaran ini menekankan kegiatannya pada pengembangan potensi manusia secara optimal
melalui cara-cara yang sangat manusiawi, yaitu: mudah, menyenangkan, dan memberdayakan. Setiap
anggota komunitas belajar dikondisikan untuk saling mempercayai dan saling mendukung. Siswa dan
guru berlatih dan bekerja sebagai pemain tim guna mencapai kesuksesan bersama. Dalam konteks ini,
sukses guru adalah sukses siswa, dan sukses siswa berarti sukses guru.
Berdasarkan alasan tersebut, penulis ingin memecahkan masalah dengan strategi
pembelajaran Quantum Teaching, karena strategi tersebut bisa diterapkan di sekolah dasar. Seperti
yang telah dikutip oleh Bobbi De Porter (dalam Ari Nilandri, 1994;4) menyatakan bahwa Quantum
Teaching mencakup petunjuk spesifik, untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang
kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar.
B. Identifikasi Masalah
Berdasar latar belakang yang dikemukakan diatas diperoleh beberapa identifikasi masalah sebagai
berikut :
a) Adanya prestasi belajar untuk mata pelajaran IPA yang rendah.
b) Adanya faktor Lingkungan sekolah yang kurang mendukung dalam proses belajar mengajar.
c) Kurangya perhatian siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.
d) Adanya karektristik siswa yang berbeda serta kelebihan dan kelemahan sehingga mempengaruhi
penerimaan mata pelajaran IPA.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian
ini yaitu: Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran Quantum
Teaching bagi siswa SD Negeri 2 Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.
D. Manfaat Penelitian
Adapun dua manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini, yaitu :
a. Bagi jajaran Dinas Pendidikan atau lembaga terkait, hasil penelitian dapat dipertimbangkan untuk
menentukan kebijakan bidang pendidikan, terutama berhubungan dengan peningkatan mutu
pendidikan di sekolah.

b. Bagi Kepala Sekolah dan Pengawas, hasil penelitian dapat membantu meningkatkan pembinaan
profesional dan supervisi kepada para guru secara lebih efektif dan efisien.
c. Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi tolok ukur dan bahan pertimbangan guna melakukan
pembenahan serta koreksi diri bagi pengembangan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas profesinya
d. Bagi SD Negeri 2 Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi sabagai subjek
penelitian, hasil penelitian ini dapat dijadikan alat evaluasi dan koreksi, terutama dalam meningkatkan
efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kerangka Teoritik
1. Tinjauan Tentang Teknologi Pendidikan
a. Pengertian Teknologi Pendidikan
Menurut Assosiation For Education And Technology (1994;l) Intrument tecnology is the theory and
praetice of the sains Development utilization, management and evalution of processes and
resourses forleraning Definisi ini diterjemahkan sebagai teknologi pembelajaran adalah merancang
mengembangkan, memanfaatkan, dan mengevaluasi prosesproses dan sumber-sumber teknologi
pembelajaran terbagi dalam beberapa komponen. Hal ini sesuai dengan pendapat Barbara B. Seels dan
Rita Richcy (1994;9) yang menyatakan bahwa teknologi pembelajaran meliputi :
1)

Teori dan praktik.

2)

Rancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan evaluasi.

3)

Proses dan sumber.

4)

Untuk belajar.

Berdasar uraian tersebut, maka teknologi pendidikan merupakan ilmu yang menaruh perhatian pada
semua aspek belajar melalui sumber sumber belajar, baik yang dirancang, dikembangkan, dikelola,
dimanfatkan dan dievaluasi baik secara langsung maupun tidak..dst
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini
disusun untuk memecahkan suatu masalah, diujicobakan dalam situasi sebenarnya dengan melihat
kekurangan dan kelebihan serta melakukan perubahan yang berfungsi sebagai peningkatan. Upaya

perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang
diangkat dari kegiatan sehari-hari di kelas. Penelitian tindakan adalah merupakan upaya kolaboratif
antara guru dan siswa, suatu kerja sama dengan perspektif berbeda. Misalnya bagi guru, demi
peningkatan profesi anaknya dan bagi siswa peningkatan prestasi belajarnya. Bisa juga antara guru dan
kepada sekolah, kerja sama kolaborarif ini dengan sendirinya juga partisipasi setiap tim secara langsung
mengambil bagian dalam pelaksanaan PTK pada tahap awal sampai akhir.
Penelitian tindakan ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas yang berbentuk kolaboratif. Menurut
Suyanto (1996;18) yang dikutip oleh Kasiani Kasbolah (1988;123) bahwa penelitian kolaboratif
melibatkan beberapa pihak yaitu guru, kepala sekolah maupun dosen secara serentak dengan tujuan
untuk meningkatkan praktik pembelajaran, menyumbang pada perkembangan teori, kolaboratif diberi
makna kerja sama antar guru dengan peneliti dari luar sekolah untuk melakukan penelitian tindakan
kelas secara bersama di kelas atau di sekolah.
Adapun Kelebihan penelitian tindakan menurut Sumsky seperti yang dikutip oleh Suwarsih Madya
(1994;13-15) adalah sebagai berikut :
1. Kerja sama dalam penelitian tindakan menimbulkan rasa memiliki. Dalam pembelajaran bertujuan
untuk menimbulkan rasa memliki terhadap siswa sehingga dengan rasa memiliki terhadap siswa merasa
bertanggung jawab.
2. Kerja sama dalam penelitian tindakan mendorong kualitas dan pemikiran kritis. Dengan penelitian
tindakan guru akan bertambah pengetahuan dan memiliki pemikiran yang kritis dalam intropeksi diri
tentang tugas yang dikerjakan sebelum dilakukan penelitian tindakan.
3. Kerja sama meningkatkan kemungkinan untuk berubah. Dengan kerja sama guru berusaha untuk
merubah strategi yang diterapkan sebelumnya dengan tujuan memperoleh hasil yang lebih baik.
4. Kerja sama dalam penelitian meningkatkan kesepakatan. Dengan kerja sama, guru mempunyai
kesepakatan bersama untuk menentukan strategi yang tepat untuk diterapkan guna meningkatkan hasil
belajar. Adapun penelitian tindakan juga mengandung kelemahan sebagai berikut :
1. Berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian tindakan
pada pihak peneliti.
2.

Berkenaan dengan waktu.

3.

Berhubungan dengan konsepsi proses kelompok.

4. Berkenaan dengan keuletan terhadap pertanyaan agar dapat meyakinkan orang lain bahwa
metode, strategi dan teknik yang diteliti benar-benar berjalan secara efektif. Meskipun penelitian
tindakan mempunyai banyak kelebihan-kelebihan, namun demikian kelemahan masih tetap ada yaitu
dengan terbatasnya waktu, biaya, serta sarana dan pra sarana yang mendukung.

Pendapat yang telah diuraikan mengenai pemilihan tindakan, sesuai dengan penelitian yang dilakukan
yaitu dengan mengadakan perbaikan tritmentritmen untuk memperoleh peningkatan kualitas tindakan
yang diberikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Lokasi Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian.
SD Negeri 2 Pengatigan terletak di Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. SD
ini terdiri dari enam kelas dengan dengan didukung oleh tenaga pengajar yang terdiri dari 6 guru kelas, 1
guru Agama Islam dan 1 guru Olah raga. Fasilitas yang dimiliki SD Negeri 2 Pengatigan antara lain UKS,
Koperasi Siswa, Perpustakaan dan ruang bermain. di SD Negeri 2 Pengatigan juga diselenggarakan
kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler.
2. Data Penelitian.
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa data pengamatan terhadap
prestasi siswa kelas V dalam pelajaran IPA.
B. Hasil Penelitian
1. Keadaan Awal Hasil Belajar Siswa
Sebelum pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode Quantum Teaching, rata-rata hasil
belajar IPA semester I kelas V SD Negeri 2 Pengatigan menunjukkan adalah 6,1. Kondisi tersebut
menjadikan indikator pada penelitian ini bahwa kemampuan belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 2
Pengatigan adalah rendah. Rendahnya kemampuan siswa tersebut di atas disebabkan karena siswa
mengalami kesulitan dalam mempelajari IPA. Berdasarkan hasil observasi pada waktu guru mengajar,
menunjukkan bahwa pembelajaran yang terjadi cenderung bersifat monoton, satu arah, kurang
komunikatif, cenderung bersifat ceramah, serta siswa kurang terlibat aktif.
Berdasarkan kajian awal tersebut, maka perlu suatu pendekatan pembelajaran yang mampu
meningkatkan situasi kelas yang kondusif, siswa terlibat aktif dalam belajar, terjadinya komunikasi dua
arah, serta siswa meningkat motivasunya untuk belajar. Pembelajaran yang dimaksud adalah
pembelajaran dengan metodeQuantum Teaching yang dilaksanakan dalam tiga siklus.
2. Siklus I
a. Perencanaan
1) Guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan.
2) Guru mempersiapkan alat peraga gambar orang terkena penyakit.

3) Guru menugaskan kepada siswa untuk membawa buku IPA


4) Guru mempersiapkan lembar kerja untuk siswa.
5) Guru membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari 4 anak.
b. Pelaksanaan
1) Sebelum di mulai pelajaran anak di ajak menyanyi, untuk menumbuhkan minat belajar
2) Anak-anak menyebutkan penyakit yang pernah dideritanya.
3) Anak-anak bersama guru memberi nama penyakit yang pernah dideritanya tersebut.
4) Anak-anak bersama guru mendemonstrasikan gambar-gambar yang ada hubungannya dengan
macam-macam penyakit.
5) Anak-anak diajak menyanyi lagi baru kemudian mengulangi materi yang telah diterangkan guru.
6) Anak-anak diberi pujian bila bisa menjawab pertanyan dari guru.
c. Pengamatan
Pengamatan terhadap siswa dilakukan dalam penerapan metode pembelajaran Quantung Teaching.
1) Pengamatan terhadap kerja sama siswa dalam kelompok Berdasarkan data hasil observasi kerja
sama siswa dalam kelompok saat pengajaran pada siklus I dengan metode Quantung Teaching pada
lampiran skor keaktifan siswa sebesar 52 dengan persentase 72,22% dan termasuk kategori sedang.
Ditinjau dari keaktifan masing-masing siswa, sebagian besar siswa cukup baik dalam kerja sama
kelompok, yaitu 9 dari 24 siswa atau 38,5% siswa dengan kerja sama yang tinggi, sebanyak 10 dari 24
siswa atau 41,7% siswa dengan kerja sama yang sedang dan sebanyak 5 dari 24 siswa atau 20,8% siswa
dengan kerja sama yang rendah.
2) Pengerjaan soal-soal siklus I Perilaku siswa terhadap pengerjaan soal-soal siklus I ada yang serius,
ada yang masih acuh tak acuh, ada yang tampak bingung dan belum jelas.
3) Nilai hasil tes siklus I Berdasar data hasil tes siklus I pada lampiran dapat diketahui nilai rata-rata
hasil belajar siswa adalah 6,6. Naik dari nilai sebelum dilakukan pembelajaran metode Quantum
Teaching yaitu 6.1.lebih jelasnya hasil belajar pada siklus satu tersebut dapat dilihat pada diagram
berikut ini :
Gambar 3. Diagram Rata-rata hasil belajar siswa siklus I
4) Dampak perlakuan siklus I Siklus I yang diawali dengan perencanaan, tindakaan dan pengamatan
berpengaruh pada diri siswa. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada kerja sama siswa dalam kelompok
dan hasil nilai tes yang dilakukan. Hasil belajar dapat diketahui peningkatannya yaitu pada nilai sebelum

dilakukan pembelajaran, rata-rata 6,1 dengan sesudah dilakukan pembelajaran dengan


metode Quantum Teaching, ratarata 6,6.
d. Refleksi siklus I
Berdasar hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa meskipun ada siswa
yang kurang dalam kerjasama dalam kelompoknya. Beberapa siswa masih sibuk bermain sendiri, bentuk
pembelajaran yang diawali dengan menyanyi secara bersama-sama menumbuhkan minat belajar yang
lebih baik, namun kekurangannya adalah bila siswa tersebut kurang suka bernyayi.
3. Siklus II
a. Perencanaan
1) Guru mempersiapkan materi yang akan diajarakan.
2) Guru mengatur kelas supaya siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
3) Guru mempersiapkan contoh gambar-gambar.
b. Pelaksanaan
1) Siswa mengelompok berdasar kelompok masing-masing.
2) Anak-anak diajak bernyanyi dan bermain untuk menumbuhkan minat belajar.
3) Anak-anak menyebutkan aktifitas fisik dan istirahat yang mereka ketahui di sekitarmya..
4) Anak-anak bersama guru mendemonstrasikan gambar-gambar yang termasuk aktifitas fisik dan
istirahat.
5) Anak-anak diajak mengulang materi secara bergilir.
6) Anak-anak diberi hukuman bila tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru.
c. Pengamatan
1) Pengamatan terhadap kerja sama siswa dalam kelompok Pengamatan dilakukan dengan melihat
partisipasi siswa dalam kelompok. Berdasar hasil pengamatan pada lampiran menunjukkan diperoleh
skor 62 dengan persentase 86,11 dan termasuk kategori tinggi. Ditinjau dari partisipasi masing-masing
siswa dalam kelompok, sebagian besar siswa yaitu 15 dari 24 siswa atau 62.5% partisipasinya dalam
kelompok tinggi, 8 dari 24 siswa atau 33.3% partisipasinya dalam kelompok sedang dan 1 dari 24 siswa
atau 4.2% partisipasinya dalam kelompok rendah.
2) Pengerjaan soal-soal Siklus II Siswa mengerjakan soal dengan antusias, hal tersebut dikarenakan
minat belajar semakin tinggi setelah mendapat perlakuan siklus II. Dalam mengerjakan soal tes kedua
ini, siswa lebih serius, tidak menoleh ke kanan dan kiri serta lebih cepat menyelesaikan soalsoal.

3) Nilai hasil tes Siklus II Berdasar hasil penelitian pada lampiran, diketahui nilai rata-rata hasil belajar
siswa pada siklus II adalah 7.3 atau mengalami kenaikan sebesar 0,7 atau 10,61% dari hasil belajajar
rata-rata siklus I. Lebih jelasnya kenaikan hasil belajar siswa pada siklus II ini dapat diperhatikan pada
diagram berikut.
Gambar 4. Diagram Rata-rata hasil belajar siswa siklusII
4) Dampak perlakuan siklus II Siklus II diawali dengan momen refleksi siklus I, siklus II berdampak pada
diri siswa yaitu dengan adanya peningkatan nilai tes. Hal tersebut dikarenakan semakin antusiasnya
siswa dalam mengikuti pelajaran.
d. Refleksi
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II yaitu partisipasi siswa terhadap kelompok menunjukkan
bahwa partisipasi siswa dalam kelompok sudah bagus, meskipun masih ada satu orang siswa yang
kurang dalam partisipasi kelompok.
4. Siklus III
a. Perencanaan
1) Guru menyiapkan materi pelajaran.
2) Guru mengatur siswa untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
3) Guru mempersipkan alat peraga.
b. Pelaksanaan
1) Anak-anak berkelompok menurut kelompoknya masing-masing.
2) Anak-anak diajak menyanyi, bermain dan menari untuk menimbuhkan minat belajar.
3) Anak-anak menyebutkan jenis permukaan bumi yang mereka ketahui.
4) Anak-anak bersama guru menyebutkan jenis-jenis permukaan bumi.
5) Anak-anak bersama guru mendemonstrasikan permukaan bumi dengan globe.
6) Anak-anak diajak mengulang materi secara bergilir bila kurang lengkap guru melengkapi.
7) Anak diberi pujian bila bisa menjawab pertanyaan, serta anak diberi hukuman bila anak tidak bisa
menjawab pertanyaan dengan menyanyi dan baca puisi di depan kelas.
c. Pengamatan
1) Pengamatan dilakukan terhadap kerja sama siswa dalam kelompok Pengamatan dilakukan dengan
melihat partisipasi siswa dalam kelompok. Berdasar hasil pengamatan pada lampiran menunjukkan

diperoleh skor 67 dengan persentase 93,06 dan termasuk kategori tinggi. Ditinjau dari partisipasi
masing-masing siswa dalam kelompok, sebagian besar siswa yaitu 19 dari 24 siswa atau
79,2%partisipasinya dalam kelompok tinggi, 5 dari 24 siswa atau 20,8%partisipasinya dalam kelompok
sedang dan tidak ada satupun siswayang partisipasinya dalam kelompok rendah.
2) Pengerjaan soal-soal sklus III Siswa secara antusias mengerjakan soal-soal yang ditugsakan setelah
mendapat perlakuan siklus II, dalam mengerjakan soal siswa lebih serius dan tampak berlomba dalam
menyelesaikan soalsoal.
3) Nilai hasil tes siklus III Berdasar hasil tes siklus III pada lampiran diketahui nilai rata-rata hasil belajar
siswa adalah 7,9 atau mengalami kenaikan sebesar 0,6 atau 8,22 % dari nilai rata-rata hasil belajar siklus
II. Lebihjelasnya kenaikan hasil belajar siswa pada siklus III ini dapat dilihat pada diagram berikut :
Gambar 5. Diagram Rata-rata hasil belajar siswa siklus III
4) Dampak perlakuan siklus III, Siklus III yang diawali dengan momen refleksi siklus II berpengaruh pada
hasil belajar siswa. Refleksi dari proses pembelajaran pada siklus I, siklus II sangat berpengaruh terhadap
siklus III dalam peningkatan nilai siswa. Selain itu diberlakukannya pembelajaran metode Quantum
Teachingini juga menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran yang ditunjukkan dari
tingginya konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran, tidak ada siswa yang berbicara sendiri ataupun
bermain sendiri.dst