Anda di halaman 1dari 15

55

BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang


5.1.1 Letak Geografis
Puskesmas Tanjung Karang seperti halnya puskesmas lain di Indonesia
berdasarkan pada KEPMENKES No.128 Tahun 2008, sebuah unit pelaksanaan
teknik (UPT) Dinas Kesehatan Kota Mataram yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah
kecamatan yang dalam hal ini yaitu wilayah kecamatan Ampenan dan Sekarbela
kota Mataram. Keadaan geografis Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
sebagian besar berupa dataran pinggir pantai dan sebagian lainnya daerah dataran
rendah.
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang yang daerahnya berupa dataran
rendah adalah kelurahan Kekalik Jaya dan Taman Sari.Luas Wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang adalah 7.533 km yang terdiri dari 6 kelurahan
dengan batas wilayah sebagai berikut:
1.

Sebelah Utara

: Berbatasan dengan kelurahan Ampenan Tengah, Wilayah

kerja Puskesmas Ampenan.


2.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan kecamatan Mataram, Wilayah kerja


Puskesmas Pagesangan.

3.

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan kelurahan Karang Pule, Wilayah kerja


Puskesmas Karang Pule.

56

4.

Sebelah Barat

: Berbatasan dengan selat Lombok.

5.1.2 Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang


1. Kepadatan Penduduk
Jumlah kepadatan penduduk yang dilayani di wilayah kerja puskesmas
Tanjung Karang adalah 40.231 jiwa yang tersebar di 6 kelurahan. Penduduk
terpadat berada dikelurahan Tanjung Karang Permai yaitu berjumlah 8.630
jiwa, kemudian disusul dengan kelurahan Ampenan Selatan yang berjumlah
6.735 jiwa, dan kelurahan Kekalik Jaya 8.171 jiwa, Kelurahan Banjar 6.735
jiwa, kelurahan Taman Sari 5.502 jiwa, kelurahan Tanjung Karang 2.300 jiwa.
Sedangkan kelurahan terluas adalah Tanjung Karang dan luas wilayah terkecil
adalah Tanjung Karang Permai.
Perbandingan antara penduduk berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan adalah 20.469 jiwa (47,78%) dengan 22.402 jiwa (52,22%).
Kebanyakan penduduk tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
bekerja dibidang perdagangan, nelayan, jasa angkutan dan industri pengolahan.
2. Sarana/ tempat pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan lingkup kerja Puskesmas Tanjung Karang
selain Puskesmas induk juga memiliki 2 Puskesmas Pembantu (pustu) yaitu
Pustu Ampenan Selatan dan Pustu di Tanjung Karang tepatnya di wilayah
Perumnas. Dengan 2 buah polindes di Ampenan Selatan dan 1 buah polindes di
wilayah Kekalik Jaya dimana bidan desanya menetap di polindes.

57

3. Sumber Daya Tenaga Kesehatan


Jumlah tenaga pada lingkup Puskesmas Tanjung Karang tahun 2012
adalah 46 orang yang terdiri dari 38 (80,85%) tenaga PNS dan 8 (19,15%)
tenaga mengabdi/sukarela. Dari jumlah 46 orang tenaga yang ada, sebagian
besar adalah tenaga paramedik perawatan (perawat, perawat gigi, dokter dan
bidan) dan para non medik perawatan (Sarjana kesehatan, sanitarian, ahli gizi,
analis kesehatan dan asisten apoteker).
Tabel 5.1 Data Ketenagakerjaan
No
1

Jenis Tenaga *
Medik
- Dokter umum
- Dokter gigi
Serjana kesehatan
- S. Kep
- SKM
Paramedik perawatan
- S. Kep. Ners
- D3 Keperawatan
- SPK
- D3 Kebidanan
- Bidan
- SPRG
Paramedik non perawatan
- AKL/APK
- AAK
- AKZI
- DIII FARMASI
- SPAG
- SPPH
- SMF/SAA
- Pekarya kesehatan
- SMAK
Non medik
- Sarjana (S1)
- Sarjana muda (DIII)
- SMU
- SMP
- SD
Jumlah

*Data Profil PKM Tanjung Karang.

Jumlah
3
1
7
9
7
2
2
3
2
1
2
2
1
1
1
2
46 Orang

58

5.2 Hasil Penelitian


5.2.1 Karakteristik Umum Responden
Gambaran karakteristik umum responden yang akan dijelaskan meliputi
umur, pendidikan, pekerjaan, kunjungan antenatal dan dukungan keluarga
yang dideskripsikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berikut ini:
1.

Berdasarkan Umur
Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan umur dapat terlihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Wilayah
kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Umur
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
< 20 tahun
5
15,62 %
2
20 35 tahun
25
78,12 %
3
> 35 tahun
2
6,25 %
Jumlah
32
100 %
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden mempunyai umur antara 20-35 tahun yaitu sebanyak 25 orang
(78,12%), dan usia responden yang paling sedikit adalah > 35 tahun
sebanyak 2 orang (6,25%).

2.

Berdasarkan Pendidikan
Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat
terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
SD
3
9,37 %
2
SMP
7
21,87 %

59

3
SMA
4
PT
Jumlah
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.

19
3
32

59,37 %
9,37 %
100

Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar


responden yaitu lebih dari setengah responden berpendidikan SMA yaitu
sebanyak 19 orang (59,37%) dan yang paling sedikit adalah responden yang
memiliki tingkat pendidikan PT yaitu 3 orang (9,37%).
3.

Berdasarkan Pekerjaan
Hasil identifikasi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dapat
terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
IRT
21
65,62 %
2
Swasta
9
28,12 %
3
PNS
2
6,25 %
4
Lain-lain
0
0
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat diketahui bahwa lebih dari setengan
responden yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga (IRT) yaitu
sebanyak 21 orang (65,62%) dan paing sedikit adalah responden yang
bekerja sebagai PNS yaitu 2 orang (6,%).

60

4.

Berdasarkan Kunjungan Antenatal


Hasil identifikasi karakteristik responden berdasarkan kunjungan antenatal
dapat terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kunjungan
Antenatal di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun
2013
No
Kunjungan Antenatal
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
< 4 kali
6
18,25 %
2
> 4 kali
26
81,25 %
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat diketahui bahwa lebih dari setengan
responden yang melakukan kunjungan antenatal > 4 kali yaitu sebanyak 26
orang (81,25%) serta yang < 4 kali yaitu sebanyak 6 orang (18,25%).

5.

Berdasarkan Dukungan Sosial


Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan dukungan sosial
dapat terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Sosial di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Dukungan Sosial
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
Ia
29
90,62 %
2
Tidak
3
9,37 %
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden yang mendapat dukungan sosial yaitu sebanyak 29 orang (90,
62%) dan yang kurang mendapat dukungan sosial yaitu sebanyak 3 orang
(9, 37%).

61

5.2.2 Tingkat Kecemasan


Tingkat kecemasan pada ibu
Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada ibu dapat dilihat pada
table 5.7 berikut:
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pada Ibu Dalam
Menghadapi Persalinan di Puskesmas Tanjung Karang bulan
Juli tahun 2013
No

Tingkat Kecemasan

Tidak mengalami
kecemasan
2
Ringan
3
Sedang
4
Berat
5
Panik
Jumlah

Frekuensi
(N)
10

Persentase
(%)
31, 25 %

6
14
2
0
32

18,75 %
43, 75 %
6,25 %
0
100

Berdasarkan table 5.7 diatas terlihat dari 32 responden sebagian besar


responden 14 orang (43,75%) memiliki tingkat kecemasan sedang dan
sebagian kecil responden 2 orang (6,25%) memiliki tingkat kecemasan
berat.
5.3 Pembahasan
5.3.1 Karakteristik Demografi Responden
1. Umur
Hasil penelitian pada tabel 5.2 dan lampiran 3 diketahui bahwa sebagian
besar responden mempunyai umur antara 20-35 tahun yaitu sebanyak 25 orang
(78,12%), dimana terdapat 10 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pada
umur < 20 tahun sebanyak 5 orang terdapat 3 orang yang mengalami tingkat

62

kecemasan sedang dan yang berumur > 35 tahun sebanyak 2 orang dan terdapat
2 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang.
Berdasarkan hasil tersebut berarti bahwa sebagian besar responden
mempunyai usia pada masa remaja dewasa dan masih dalam masa produktif
dalam usia 20-35 ini selain memiliki tingkat kematangan diri yang cukup pada
wanita usia 20-35 resiko komplikasi serta abnormalitas rendah. Pada wanita
yang melahirkan lebih muda mempunyai kecendrungan mengalami distrees
emosional menjelang menghadapi persalinan, selain itu pula wanita yang telah
berusia > 35 tahun mempunyai resiko komplikasi persalinan dan abnormalitas
kongenital hal ini menyebabkan kecemasan pada ibu dengan usia > 35 tahun.
Pada spektrum usia subur terdapat persepsi umum yang setara bahwa
wanita yang lebih dewasa dapat mempengaruhi kemampuan wanita untuk
beradaptasi terhadap kehamilannya (Henderson dan Jones, 2005).
2. Pendidikan
Hasil penelitian pada tabel 5.3 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
berpendidikan hampir dari setengah responden berpendidikan SMA yaitu
sebanyak 19 orang (59,37%) terdapat 7 orang yang tidak mengalami
kecemasan dan paling sedikit mempunyai pendidikan PT (perguruan tinggi)
sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 3 orang yang tidak mengalami kecemasan
dan SD sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 2 orang yang mengalami tingkat
kecemasan sedang dan yang berpendidikan SMP terdapat 7 orang (21,87 %)
terdapat 6 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang.

63

Berdasarkan hasil tersebut berarti menunjukkan bahwa sebagian besar


responden sudah memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik. Pada wanita
yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik akan mempengaruhi
seseorang dalam

menerima

ide

baru

hal

ini

mempengaruhi

dapat

mempengaruhi kecemasan pada saat menghadapi persalinan dikarenakan ibu


yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dapat menerima proses demi
proses dalam kehamilannya sebagai suatu hal yang biologis sedangkan pada
ibu yang berpendidikan rendah sering kali mengalami kecemasan dikarenakan
proses kehamilan tersebut dianggap sebagai hal yang membebani dirinya serta
kurang dapat menerima ide baru.
Wanita-wanita intelektual biasanya menghadapi kehamilan dan kecemasan
itu secara objektif-rasional walaupun seringkali diliputi penghargaan dan
antisipasi, pengalaman-pengalaman tersebut dapat memperkaya dan lebih
mematangkan dirinya (Kartono 2005).
3. Pekerjaan
Hasil penelitian pada tabel 5.4 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
mempunyai pekerjaan hampir dari setengah responden tidak bekerja atau
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 21 orang (65,62%) terdapat 8
orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang sedangkan paling sedikit
responden mempunyai pekerjaan sebagai PNS yaitu sebanyak 2 orang (6,25%)
terdapat 2 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pekerjaan swasta sebanyak
9 orang (28,12 %) terdapat 4 orang yang tidak mengalami kecemasan.

64

Diketahui ibu yang bekerja memiliki toleransi terhadap penderitaan dan


rasa sakit ketika melahirkan bayinya (Kartono, 2005). Sehingga ibu yang
bekerja dapat memahami rasa sakit sebagai suatu hal yang biologis sehingga
dapat meningkatkan adaptasi ibu terhadap kehamilannya dan meminimalkan
tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan.
4. Kunjungan Antenatal
Hasil penelitian pada tabel 5.5 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
sebagian besar telah melakukan kunjungan antenatal > 4 kali yaitu sebanyak 26
orang (81,25%) terdapat 10 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang
dan 10 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pada ibu yang melakukan
kunjungan antenatal < 4 kali terdapat 6 orang (18,25 %) terdapat 4 orang yang
mengalami tingkat kecemasan sedang . Hal ini menggambarkan telah tingginya
angka kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan hal
tersebut juga dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan sudah cukup tinggi.
Asuhan antenatal memberikan kesempatan pada wanita untuk mengenal
bayinya sebelum lahir dapat meminimalkan disstres (Henderson dan Jones,
2005). Dengan ibu mengetahui kondisi perkembangan bayinya serta dapat
menerima konseling pada saat kunjungan antenatal hal ini dapat meningkatkan
kenyamanan serta ketenangan yang akan sangat berpengaruh pada tingkat
kecemasan ibu yang akan mengahadapi persalinannya.
5. Dukungan Sosial
Hasil penelitian pada tabel 5.6 dan lampiran 3diketahui bahwa hanya
sebagian kecil saja dari para ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan

65

sosial yaitu sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 2 orang yang mengalami


tingkat kecemasan berat . Pada ibu yang mendapatkan dukungan sosial yaitu 29
orang (90,62 %) terdapat 13 orang yang mengalami kecemasan sedang hal ini
terlihat pada saat pemeriksaan ibu hamil ibu diantar oleh suami, orang tua,
saudara dan bahkan para tetangga.
Wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangannya selama hamil dan
merasa bahagia dengan pernikahannya menunjukkan gejala emosi yang lebih
ringan dan sedikit komplikasi persalinan dan lebih mudah dalam penyesuaian
masa nifas (Ai Yeyeh, 2009).
5.3.2 Tingkat Kecemasan
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7 dan lampiran 3 diperoleh data
pada primigravida tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan 14
(43,75%) memiliki tingkat kecemasan ringan.
Yang menghadapi tingkat kecemasan berat hanya terdapat 2 orang (6,25%)
dan tidak terdapat ibu yang mengalami tingkat kecemasan panik.Hal ini
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu yang sudah memadai serta umur ibu
hanya sebagian kecil yang berusia < 20 tahun serta kesadaran ibu hamil
primigravida di wilayah kerja puskesmas Tanjung Karang telah memiliki
kesadaran tinggi dalam pemeriksaan ibu hamil hal ini dapat terlihat dari
kunjungan ibu hamil > 4 kali terdapat 26 orang (81,25%) serta dukungan dari
keluarga cukup besar yaitu 29 (90,62%).

66

Menghadapi proses persalinan menimbulkan respon emosi yang umum


ditandai dengan kekhawatiran dan ketegangan menghadapi proses kelahiran
dan persalinan, sehingga cenderung memicu kecemasan baik untuk kelahiran
yang pertama maupun yang kesekian kalinya. Sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa kegelisahan atau kecemasan kadang-kadang berhubungan
dengan pengalaman pun yang pernah dialami kegelisahan atau kecemasan
kadang-kadang berhubungan dengan pengalaman pun yang pernah dialami.
Emosional dan kekhawatiran yang tinggi biasanya tercatat pada wanita-wanita
yang sebelumnya pernah kehilangan bayinya (Kartono, 2005).
Pada proses persalinan kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan
akan berpengaruh pada aktivitas melahirkan bayi, emosi yang terkontrol akan
memudahkan ibu untuk menyimpan energinya dan menerima arahan oleh
tenaga kesehatan. Selain itu pada perawatan bayi selanjutnya, perasaan saat
hamil (kecemasan), perubahan fisik dan emosional akan dapat berlanjut setelah
kelahiran bayi yaitu pada masa nifas yang disebut dengan baby blues yaitu
dimana ibu akan merasa sedih berkaitan dengan bayinya hal ini akan
berpengaruh pada proses perawatan bayinya (Ambarwati, 2008).
Sementara menurut hasil penelitian orang lain, terdapat penelitian yang
mendukung hasil penelitian antara lain penelitian oleh Maria Rosa Lamunde
tahun 2009 di RSU kota Semarang yang menyatakan bahwa adanya hubungan
antara support sistem suami dengan tingkat kecemasan ibu dalam proses
persalinan kala I dan kala II; demikian pula pada penelitian yang dilakukan Tri
Indri Maharani pada tahun 2010 di Rumah sakit Melania Depok yang

67

menyatakan hasil subyek yang memiliki dukungan sosial yang rata-rata tinggi
dan kecemasan dalam menghadapi persalinan rendah.hal ini sesuai dengan
penelitian yang telah dilakukan yaitu hanya terdapat 2 orang yang memiliki
tingkat kecemasan berat yang terdapat pada ibu yang tidak menerima dukungan
sosial dari keluarga ataupun lingkungannya.
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Laili Rahmi, 2009 di
RSUP DR. Djamil Padang terdapat hasil yang mendukung dan yang tidak
mendukung. Hasil yang mendukung antara lain yaitu a) terdapat hubungan
antara dukungan suami dan tingkat kecemasan, b) terdapat hubungan bermakna
antara dukungan keluarga dan tingkat kecemasan, dan yang tidak mendukung
antara lain yaitu c) tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dan
tingkat kecemasan, d) tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
pendidikan dan tingkat kecemasan. Pada pengaruh usia dan pendidikan hal ini
bertentangan dengan hasil penelitian dikarenakan pada penelitian tingkat
kecemasan berat berada pada usia < 20 tahun serta pada pendidikan yang
memiliki pendidikan PT yang hanya terdapat 3 orang tidak mengalami
kecemasan.

68

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya maka
dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar ibu primigravida mengalami
tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 14 orang (43,75%)
6.1.1 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 10 orang (31,25 %).
6.1.2 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 6 orang (12,5 %).
6.1.3 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 14 orang (43,75 %).
6.1.4 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan berat 2 orang (18,75 %)
6.1.5 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan berat sekali (panik) tidak ada.
6.2 Saran
6.2.1 Saran Bagi Puskesmas
Disarankan KIE yang baik dan benar dengan jalan menyusun rencana
KIE yang bertahap diharapkan mengurangi kecemasan dalam persalinan
primi dan dalam pertotlongan persalinan melibatkan orang terdekat pasien.

69

6.2.2 Saran Bagi Institusi


Diharapkan untuk dipergunakan sebagai pengembangan bahan bacaan
dan hasil yang berguna dan berguna dan sebagai tambahan bahan pustaka
dan memberikan tambahan teori tentang tingkat kecemasan pada ibu hamil
bagi aktivis Akademik Kebidanan Stikes Yarsi Mataram.
6.2.3 Saran Bagi Ibu Hamil
Bagi para ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
diharapkan secara rutin memeriksakan kehamilannya petugas kesehatan
untuk mendapatkan pengetahuan umum ibu hamil khususnya yang
mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan.
6.2.4 Bagi Peneliti
Diharapkan peneliti dapat mengaplikasikan teori yang didapat dari
perkuliahan dan menjadikan pengalaman di bidang asuhan kebidanan pada
ibu.