Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb.


Syukur Alhamdulillah, senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala
taufik, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan
makalah ini adalah untuk memenuhi syarat dalam memperoleh nilai terbaik pada Fakultas
Ekonomi, Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Makassar.
Dalam penulisan makalah ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk
memberikan hasil yang terbaik. Namun demikian penulis juga mempunyai keterbatasn
kemampuan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu penulis menyadari tanpa adanya
bimbingan, dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materiil dari berbagai pihak,
maka makalah ini tidak dapat terselesaikan.
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan ucapan terimakasih kepada:
1. Dosen Nailiya
2. Pihak pihak yang belum penulis sebutkan yang turut membantu baik dengan moril
maupun materiil sehingga makalah ini dapat terselesaikan terima kasih atas kebaikan
dan perhatian yang kalian berikan.
Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka
saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan di masa
mendatang.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Banjarmasin, 30 Oktober 2013

Penulis

Daftar isi

Kata Pengantar ....................................................................................................................


Daftar Isi ...............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................................
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................
C. Tujuan ..............................................................................................................................
D. Kegunaan .........................................................................................................................
1. Kegunaan Teoritis ......................................................................................................
2. Kegunaan Praktis .......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Fenomena Masalah di Indonesia ..................................................................................
1. Masalah keuangan ......................................................................................................
2. Masalah kesehatan .....................................................................................................
3. Masalah pengangguran ..............................................................................................
B. Solusi Islam dalam Mengatasi Masalah di Indonesia .................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................................................
B. Saran ................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia saat ini dilanda berbagai masalah. Banyaknya masalah yang terjadi
mengakibatkan polemik yang berkepanjangan Di sisi ekonomi, sistem ekonomi kapitalis
yang diterapkan di dunia saat ini telah menyebabkan terjadinya krisis moneter yang selalu
berulang, utang luar negeri yang terus bertambah dan juga menciptakan kesenjangan antara
yang kaya dengan yang miskin. Dari sisi politik, perpolitikan di Indonesia sangat
beraromakan uang. Para pemilik modal berkolusi dengan politisi menguasai hajat hidup
masyarakat. Di bidang hukum, hukum buatan manusia membuat keadilan menjadi langka.
Hukum buatan manusia juga menjadi wasilah korporasi raksasa untuk menjajah dan
mengeruk kekayaan rakyat.
Akar masalahnya adalah sistem yang bobrok dan rezim yang mengkhianati rakyat
yang telah terbukti berdampak buruk dan merugikan.Sistem pemerintahan demokrasi
bukannya mewujudkan kesejahteraan, tetapi justru menimbulkan problem sosial yang
kompleks.HAM sebagai bagian demokrasi liberal, yaitu kebebasan yang dipuja-puja hanya
menghasilkan permasalahan baru seperti seks bebas, dekadensi moral, penggerusan akidah,
keterasingan, dan hancurnya keluarga.Sistem ekonomi kapitalis juga dirancang sedemikian
rupa oleh Negara-negara barat dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoniya terhadap
negara-negara berkembang.
Berbeda dengan syariah islam, sistem ekonomi islam yang anti riba, spekulasi,
kezaliman dan kecurangan. Begitu pula dalam berbagai bidang lainnya, sistem syariah yang
diterapkan Khalifah Islam jelas lebih unggul dibandingkan hukum buatan manusia. Sistem
syariah islam terbukti mampu memangkas akar permasalahan. Misalnya narkoba, Islam jelasjelas mengharamkannya. Disamping itu syariah islam juga dengan tegas mengharamkan
segala bentuk pornografi, pornoaksi, dan pelakunya dikenai sanksi takzir. Dengan semua itu,
semua bentuk perzinaan bisa diminimalkan dan penyakit HIV/AIDS tidak akan sampai
menular.
Jelaslah, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah sistem yang mampu menciptakan
kesejahteraan dan memakmurkan kehidupan rakyat. Syariah islam hadir menjadi solusi untuk
mengatasi semua masalah. Dengan menerapkan syariah islam secara kaffah dalam semua

aspek kehidupan maka Indonesia akan mampu mensejahterakan dan memakmurkan


rakyatnya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik mengangkat judul Indonesia
dengan Sistem Pemerintahan Islami.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah permasalahan di Indonesia saat ini ?
2. Apa penyebab yang mendasari permasalahan di Indonesia saat ini ?
3. Apa solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan di Indonesia saat ini ?

C. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan Indonesia dengan Sistem Pemerintahan
Islami.
D. Kegunaan
1. Kegunaan Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat mengembangkan teori keilmuan di bidang
pemerintahan, khususnya tentang Indonesia dengan Sistem Pemerintahan Islami.
2. Kegunaan Praktis
Makalah ini diharapkan dapat memperkenalkan syariah Islam sebagai solusi
untuk mengatasi masalah yang ada di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

A. Fenomena Masalah di Indonesia


Indonesia sebagai negara yang memiliki tanah luas subur dan memiliki kekayaan
sumber daya alam yang melimpah, seharusnya memiliki penduduk yang makmur dan
sejahtera. Tetapi kenyataanya hanya sebagian kalangan yang menikmatinya dan sebagian
lainnya sebenarnya dirugikan.
Masalah lain seperti, kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, korupsi, kriminalitas,
pornografi, kerusakan moral, harga sembako melangit, penddikan mahal, kesehatan tak
terjangkau, cengkeraman imperialis, dan lainnya adalah kenyataan yang harus dihadapi
bangsa Indonesia.
Sedikit yang diketahui dari permasalahan di Indonesia, berikut ini dipaparkan
beberapa masalah yang sedang melanda Indonesia.
1. Masalah keuangan
Saat ini, Indonesia tengah mengalami krisis moneter
Melemahnya nilai rupiah dan nilai mata uang Asia lainnya seperti ruppe (India)
terhadap dollar telah mengingatkan kita pada krisis finansial Asia pada 1997. Pemerintah
telah mengeluarkan 4 paket kebijakan baru untuk mengatasi penurunan nilai rupiah.
Pertama, memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar
dengan mendorong ekspor dan keringanan pajak kepada industri tertentu. Kedua, menjaga
pertumbuhan ekonomi. Pemerintah akan memastikan defisit APBN 2013 tetap sebesar
2,38% dan pembiayaan aman. Ketiga, menjaga daya beli. Keempat, mempercepat
investasi. (Detikfinance, Senin, 26/08/2013 dalam Al Islam, hal. 1, tgl 30/08/2013)
Walaupun kebijakan sudah dikeluarkan tetapi nilai tukar terhadap dolar AS masih
terus melemah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada posisi Rp.
10.800 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di
Rp. 10.770 per dolar AS. (Al Islam, hal. 1, tgl 30/08/2013)
Wapres Boediono menyatakan : Jangan sebut Rupiah melemah, tapi Dolar
menguat...

(detikfinance,22/08/12).

Pernyataan

ini

menyesatkan,

seolah-olah

melemahnya nilai rupiah bukan akibat kebijakan ekonomi Indonesia. Padahal


melemahnya nilai rupiah atau awal krisis moneter ini disebabkan oleh kebijakan ekonomi
yang makin kapitalis yang diterapkan SBY & Boediono. (Al Islam, hal. 1, tgl 30/08/2013)
Penyebab terjadinya krsis moneter yang selalu berulang di Indonesia dan juga
kawasan Asia, bahkan juga di negara-negara Eropa dan Amerika, sebenarnya disebabkan
adanya faktor internal-substansial dan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di dunia
saat ini. Sistem ekonomi kapitalis ini dirancang sedemikian rupa oleh Negara-negara
Barat dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoninya terhadap negara-negara
berkembang. Diantara prinsip dan pola sistem kapitalis yang menyebabkan terjadinya
krisis ini adalah: Sistem perbankan dengan suku bunga; berkembangnya sektor non riil;
utang luar negeri yang menjadi tumpuan pembiayaan pembangunan; penggunaan sistem
moneter yang tidak disandarkan pada emas dan perak; dan liberalisasi atau swastanisasi
sumber daya alam. (Al Islam, hal. 1, tgl 30/08/2013)
Praktek ribawi, sejak masa Yunani Kuno, sebenarnya tidak disukai dan dikecam
habis-habisan. Aristoteles mengutuk sistem pembungaan ini dengan mengatakan riba
sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur. Begitu juga ekonom modern,
misalnya J.M. Keyness, mengkritik habis-habisan teori klasik mengenai bunga uang ini.
Keynes beranggapan, perkembangan modal tertahan oleh adanya suku bunga uang. Jika
saja hambatan ini dihilangkan, lanjut keynes, maka pertumbuhan modal di dunia modern
akan berkembang cepat. Hal ini memerlukan kebijakan yang mengatur agar suku bunga
uang sama dengan nol. (Al Islam, hal. 1, tgl 30/08/2013)
Di sektor non riil diperdagangkan mata uang dan surat berharga termasuk surat
utang, saham, dan lainnya. Sektor ini terus membesar dan segala transaksinya tidak
berpengaruh langsung pada sektor riil (sektor barang dan jasa). Pertumbuhan yang
ditopang sektor ini akhirnya menjadi pertumbuhan semu. Secara angka ekonomi tumbuh
tapi tidak berdampak pada perekonomian secara riil dan perbaikan taraf ekonomi
masyarakat.
Transaksi di sektor keuangan ini lebih banyak ditujukan untuk mendapat
keuntungan yang besar secara cepat dan selisih harga valuta dan surat berharga. Makin
besar selisih makin besar pula keuntungan yang didapat..Untuk itu tak jarang para pelaku
sektor ini merekayasa pasar modal. Saat ini transaksi yang terjadi di pasar finansial
sekitar Rp. 6,7 Trilyun per hari dan 60 % masih dikuasai asing. Jika investasi di luar
negeri lebih menarik, dalam waktu singkat bisa terjadi aliran modal ke luar negeri (capital
outflow) yang bisa menyebabkan melemahnya nilai rupiah. Dan itulah diantaranya yang
terjadi akhir-akhir ini.
Sementara itu, utang luar negeri oleh para penjajah dijadikan sebagai salah satu
alat penjajahan baru. Dengan utang, negara-negara berkembang terjebak dalam perangkap

utang atau Debt Trape. Mereka terus dieksploitasi dan kebijakannya dikendalikan. Negeri
ini, dari tahun 2000-2011, telah membayar pokok dan bunga utang yang totalnya lebih
dari 1800 triliun rupiah. Namun nyatanya, total utang negeri ini tidak pernah berkurang,
bahkan terus meningkat hingga lebih dari 2000 triliun rupiah pada saat ini. Ketika banyak
utang luar negeri yang jatuh tempo secara bersamaan, termasuk utang luar negeri pihak
swasta, mereka pun ramai-ramai mencari mata uang asing terutama dolar, dengan
menjual rupiah. Akibatnya, kurs rupiah pun metemah.
Semua itu diperparah oleh sistem moneter yang diterapkan di seluruh dunia saat
ini yang tidak disandarkan pada emas dan perak. Uang akhirnya tidak memiliki nilai
instrinsik yang bisa menjaga nilainya. Nilai nominal yang tertera ternyata sangt jauh
berbeda dengan nilai intrinsiknya. Ketika terjadi penambahan uang baru melalui
pencetakan uang baru atau penambahan total nominal uang melalui sistem bunga dan
reserve banking, maka total nominal uang dan jurnlah uang yang beredar bertambah lebih
banyak, tak sebanding dengan pertambahan jumlah barang. Akibatnya, nilai mata uang
turun dan terjadilah inflasi. Inflasi otomatis ini diperparah dengan kegagalan pemerintah
memenej pnoduksi dan pasokan barang, terutama bahan pangan, seperti yang terjadi saat
ini; begitu pula dengan kebijakan kenaikan harga BBM.
Sementara itu sumbendaya alam dikelola dengan cara diliberaliasasi dan
pnivatisasi. Akibatnya, hampir sebagian besar SDA dikuasai oleh swasta, terutama Asing,
khususnya sumber energi. Menunut BPK, perusahaan asing menguasai 70 pensen
pertambangan migas; 75 persen tambang batu bara, bauksit, nikel, dan timah; 85 persen
tambang tembaga dan emas; serta 50 persen perkebunan sawit (http://www.tempo.co/
read/news/2013/07/31). Kondisi ini menyebabkan mahalnya bahan bakar minyak yang
juga menyebabkan terjadinya inflasi. .
2. Masalah kesehatan
Ketua BKKBN, Sugiri Syarief, memaparkan bahwa Indonesia merupakan negara
dengan penularan HIV tercepat di Asia Tenggara. Ini tentu saja belum mencerminkan
data yang sesungguhnya, karena AIDS merupakan fenomena gunung es, dimana yang
terlihat hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan yang tidak diketahui jumlahnya akan
lebih banyak, ujarnya (vivanews.com, 20/11).
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, M.
Subuh, di Jakarta, jumat, 25 November 2011 mengungkapkan bahwa menurut data
kementerian Kesehatan, diperkirakan sebanyak lebih dari 200.000 penduduk Indonesia
menderita penyakit HIV/AIDS (lihat, tempo.co.id, 25/11). Seperti kata ketua BKKBN,
angka sesungguhnya jauh lebih besar dari angka ini.
Lebih tragis lagi, pemerhati HIV/AIDS dari Elijah Generation, Mena Robert Satya
mengatakan seks bebas di Papua adalah kebiasaan buruk yang bahkan sampai tahap
sistematis dan tak terkendali. AIDS di Papua sudah seperti genosida. Jadi butuh tindakan
nyata oleh semua pihak baik pemerintah, gereja, dan masyarakat agar tidak makin parah.
Jika tidak, maka diperkirakan 20 tahun kemudian kita hanya mendengar bahwa di atas
tanah Papua pernah ada bangsa kulit hitam yang hidup dan akhirnya Papua hanya menjadi
museum. (vivanews.com, 2/11)

HIV/AIDS sudah masuk ke Indonesia diperkirakan pada tahun 1983. Sejak itu
seiring merebaknya gaya hidup liberal seperti pemakaian narkoba, seks bebas, dan
penyimpangan seksual seperti gay-lesbian, jumlah pengidap HIV/AIDS terus meningkat.
Data Komisi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS berubah dalam lima tahun
terakhir. Berdasrkan penelitian tahun 2011, penyebab transmisi tertinggi adalah seks
bebas (76,3 persen), diikuti jarumsuntik (16,3 persen), (kompas.com, 22/11).
Meski telah terbukti gaya hidup liberal dan hedonis adalh pangkal dari penyebaran
virus HIV/AIDS, sebagian kalangan masih saja menyangkal kenyataan ini. Bagi mereka,
pencegahan HIV/AIDS bukan dengan menghapuskan gaya hidup serba bebas, apalgi
melarang perzinaan dan prostitusi. Tapi mencegah HIV/AIDS adalah dengan
mengkampanyekan A-B-C, yakni menghindari seks bebas (Absinence), setia pada
pasangan (Be faithuful), dan menggunakan kondom (Condom).
Hal ini sejalan dengan keyakinan sebagian orang bahwa ada otoritas tubuh pada
setiap insan yang tidak boleh dilarang atau diintervensi oleh siapapun, termasuk oleh
agama sekalipun. Ini berarti setiap orang bebas menggunakan dan mengeksploitasi
tubuhnya, termasuk untuk kepentingan pornografi dan seks bebas. Melarangnya bebas
berarti melanggar otoritas tubuh orang lain dan itu melanggar HAM. HAM dan
demokrasi memang menjadi tameng ampuh bagi para budak nafsu rendahan ini. Dalam
demokrasi setiap warga negara diberikan jaminan untuk mengeksploitasi tubuhnya
sendiri.
Bagi mereka pencegahan HIV/AIDS adalah dengan kondomisasi, bukan melarang
perzinaan. Itulah diantara alasan gencarnya program kondomisasi. Selain ditujukan
kepada kalangan dewasa, program kondomisasi juga ditujukan kepada remaja. Tujuannya
agar remaja yang rawan sebagai pelaku seks bebas dan rawan tertular penyakit kelamin
HIV/AIDS dapat menjaga diri mereka.
Sejumlah kalangan berkeyakinan bahwa membubarkan prostitusi juga bukan
solusi pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Selain persoalan ekonomi, yakni para PSK
membutuhkan makan, pembubaran lokalisasi diyakini justru akan membuat pelacuran
menjadi liar sehingga menyulitkan pengontrolan terhadap penyebaran HIV/AIDS.
Menurut mereka, dengan dilokalisasi maka akan sangat mudah mencegah
penyebaran wabah ini. Sehingga dinas kesehatan maupun LSM yang bergerak di bidang
kesehatan dapa dengan mudah melakukan penyuluhan kesehatan, penyebaran alat-alat
kontrasespsi, dan pemberian pelayanan kesehatan bagi pelaku seks resiko tinggi.
Melihat pola penanggulangan HIV/AIDS yang ada kita patut pesimis negeri ini
akan terbebas dari ancaman HIV/AIDS. Meski miliaran rupiah telah digelentorkan,
nyatanya angka penderita HIV/AIDS justru meningkat. Pembelanjaan untuk program
AIDS tahun 2010 mencapai US $ 50,8 juta atau Rp. 457,2 miliar dengan kurs Rp. 9000.
Tapi itu ibarat membuang garam ke laut, semua usaha itu percuma. Faktanya, angka

penderita HIV/AIDS di negeri ini terus saja meningkaat. Hal itu juga terjadi ditingkat
dunia. Terlihat dari tingginya angka penularan baru. Kini jumlah penularan baru di dunia
sekitar 2,7 juta orang setiap tahun. Artinya program kondomisasi yang dikampanyekan
secara besar-besaran oleh kelompok liberal selama ini terbukti gagal!
Kegagalan itu wajar saja. Sebab mesin pnyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas
dan narkoba tidak dipangkas sejak akarnya. Pelacuran justru dilokalisasi dan diluar
lokalisasi pun tetap marak. Pornografi dan sensualitas terus dipasarkan. Dan ditambah
lagi, gaya hidup bebas terus dikampanyekan.
3. Masalah pengangguran
Di antara permasalahan berat yang membelenggu bangsa Indonesia dan hingga
kini masih belum bisa diatasi adalah masalah pengangguran. Pengangguran sampai saat
ini masih menjadi persoalan yang serius.
Terlampau banyak orang hari ini menganggur.Ada yang menganggur secara
terbuka (open unemployed), yakni penduduk angkatan kerja yang benar-benar
manganggur total. Di samping itu, ada lebih banyak lagi yang menganggur secara
setengah terbuka (under employed), yaitu tenaga kerja yang jumlah jam kerjanya tidak
optimal karena ketiadaan kesempatan untuk bekerja. Selain itu, terdapat juga sejumlah
besar penganggur yang dalam konsep ekonomi termasuk dalam kualifikasi pengangguran
terselubung (disguised un employed), yakni tenaga kerja yang tidak bekerja secara
optimal karena tidak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya disebabkan
lemahnya permintaan tenaga kerja.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah
penduduk Indonesia yang berumur 15 tahun ke atas pada Februari tahun 2007 adalah
sebanyak 162.352.048 orang. Di antara jumlah tersebut, yang mampu bekerja hanyalah
sebanyak 108.131.058 orang. Namun yang benar-benar bekerja adalah sebanyak
97.583.141 orang. Lalu bagaimana dengan sisanya? Sisanya tidak bekerja. Tapi yang
tidak bekerja karena sedang sekolah atau berada di rumah (karena sakit, cacat, tua,
menjadi ibu rumah tangga) atau lainnya itu mencapai jumlah 54.220.990 orang. Sedang
jumlah yang menganggur tanpa suatu pekerjaan alias nganggur total adalah sebanyak
10.547.917 orang. (www.bps.com). Mereka ini menganggur karena banyak sebab; antara
lain karena baru lulus sekolah atau kuliah, terkena PHK, peluang kerja sempit,
kemiskinan, malas dan lain-lain.
Sungguh ironis memang, Indonesia yang terkenal dengan tanahnya yang subur itu
mempunyai penduduk yang tidak bekerja alias menganggur dalam jumlah yang sangat
besar. Seharusnya modal.sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan sumber daya
manusia (SDM) yang besar ini menjadi basis kekuatan untuk menggerakkan dan
menumbuhkan perekonomian umat. Seharusnya modal alam dan insan yang sangat
berharga ini bisa dimanfaatkan untuk memberi peluang kerja bagi mereka yang
membutuhkannya. Namun sayangnya, semua itu belum dimanfaatkan secara maksimal.
Akibatnya, pengangguran terjadi di mana-mana, baik di desa maupun di kota.
Pengangguran dialami oleh banyak orang, baik laki-laki maupun wanita, remaja maupun
orang tua.

Yang lebih parah lagi adalah, fenomena pengangguran ini tidak saja dialami oleh
mereka yang miskin dan berpendidikan rendah, tapi juga mereka yang dari kelas
menengah ke atas dan sudah mengenyam pendidikan tinggi. Sarjana-sarjana kita hari ini
banyak yang bingung karena tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu
pengetahuan yang mereka perolehi di bangku kuliah. Sarjana-sarjana kita hari ini banyak
yang kecewa, geram dan putus asa menghadapi masa depan yang suram. Telah begitu
banyak biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan, dan sudah begitu banyak tenaga dan
pikiran dikerahkan supaya lulus dalam perkuliahan, namun apa yang mereka dapatkan
setelah banyak pengorbanan? Tidak ada kecuali bingung dan frustasi.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, menurut data tahun 2006 yang dikeluarkan
oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DIY terdapat 151.570 penganggur.
Dari jumlah tersebut ada sebanyak 9.895 orang lulusan PerguruanTinggi dan sebanyak
9.715 orang lulusan Akademi yang nganggur dan kebingungan mencari kerja. (Harian
Kedaulatan Rakyat, hal. 15, tgl. 6/8/2007)
Kalau lulusan universitas saja sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
bidang masing-miasing (yaitu kurang lebih ada 4O9.890 lulusan unversitas yang
menganggur di seluruh Indonesia, menurut data BPS bulan Februari 2007), maka apa1agi
saudara-saudara kita yang baru lulus SMP (ada 2.643.062 orang menganggur) atau SMA
(ada 3.745.035 orang menganggur). Dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang diperoleh
di SMA apa1agi SMP, tentu mereka belum siap menghadapi tantangan pekerjaan yang
semakin hebat. Paling-paling yang mampu mereka lakukan hanyalah menjadi office boy
atau tukang suruhan atau pelaksana kerja-kerja kasar bergaji rendah lainnya.
Dampak negatif dari sempitnya lowongan keija membuat sebagian masyarakat
kita kreatif membuat pekerjaan sendiri. Sayangnya, kreatifitas mereka cenderung yang
negatif. Mereka menciptakan pekerjaan yang kurang baik atau bahkan tidak halal. Ada
sebagian di antara mereka yang mengemis di perempatan jalan, menunggu belas kasthan
orang-orang yang sedang menunggu di trayffic light. Mereka ini menggunakan berbagai
aksi untuk mendapatkan simpati. Ada yang pura-pura cacat. Ada yang beraksi dengan
menggendong anak kecil. Dan ada pula yang berulah seolah-olah membersihkan badian
depan mobil atau motor yang sedang menunggu lampu hijau.
Sebagian lain, menciptakan pekerjaan dengan cara menjual dirinya alias menjadi
PSK (pekerja seks komersial). Banyak pula yang kehabisan akal mencari pekerjaan,
sehingga akhirnya menempuh jalan bahaya yaitu dengan menjual barang-barang haram
seperti pil ekstasi, ganja, heroin dan lainnya. Dan sebagian lainnya lagi ada yang
memakai cara licik yaitu dengan cara menipu, women trafficking, menculik dan lainnya.
Dan tidak jarang pula ada yang menggunakan cara kekerasan, yaitu dengan menjambret
atau merampok.
Demikianlah kondisi masyarakat kita dewasa ini. Pekerjaan yang halal sulit
didapatkan sehingga mendorong sebagian masyarakat melakukan apa saja untuk
memperoleh harta yang mereka perlukan demi menutupi kebutuhan hidup yang semakin
meningkat.
Bahkan begitu memprihatinkannya kondisi masyarakat dalam masalah peluang
kerja, sampai ada yang mengatakan: jika kerja yang haram saja sekarang susah, apalagi
yang halal.Keadaan demikian tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarutan. Jalan keluar
untuk mengatasi masalah pengangguran perlu diusahakan oleh semua pihak; pemerintah,
swasta dan terutama masyarakat itu sendiri.

B. Solusi Islam dalam mengatasi permasalahan yang ada


Solusi Islam dalam mengatasi permasalahan

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN

Daftar Pustaka

Tugas Ilmu Ukur Tanah I

Jurusan : Teknik Sipil


Prodi : Geodesi

Kelas : 1 B

Politeknik Negeri Banjarmasin


2013/2014
4 alasan memilih judul Indonesia Dengan Sistem Pemerintahan Islami:
1. Banyaknya masalah yang terjadi di Indonesia
2. Sistem demokrasi liberal menjadi penyebab terjadinya masalah.
3. Sistem pemerintahan islami terbukti mampu memangkas akar permasalahan
4. Indonesia saat ini membutuhkan sistem yang mampu menciptakan kesejahteraan dan
memakmurkan kehidupan rakyat.