Anda di halaman 1dari 9

Ketika Angin Menjadi Saksinya

Ki Dewabrata memiliki sebuah padepokan silat di Gunung Cemara Sukma.


Padepokan itu tidak begitu besar tetapi terlihat sangat tenang. Di pintu masuk terdapat sebuah
gapura yang siap menyambut tamu yang datang.
Padepokan silat tersebut sangat terkenal dalam dunia persilatan. Hal ini terbukti dari
banyaknya murid yang belajar di padepokan tersebut. Banyak prestasi yang diraih oleh
padepokan tersebut. Selain itu, Padepokan itu terkenal karena istri Ki Dewabrata sangat
cantik. Hal ini menyebabkan banyak pemimpin padepokan lainnya yang menaksir pada istri
Ki Dewabrata. Akibatnya, padepokan tersebut pun terkenal memiliki banyak musuh.
Suatu hari ada salah satu pemimpin padepokan lain yang menantang Ki Dewabrata.
Nama pemimpin itu adalah Ki Leo Untung. Ki Leo Untung merupakan mantan kekasih istri
Ki Dewabrata. Karena dorongan sakit hati, Ki Leo Untung menantang Ki Dewabrata untuk
memperebutkan kembali Nyi Maria Sukamtiistri Ki Dewabrata.
Pertandingan tersebut melibatkan para murid dari masing-masing padepokan. Muridmurid di padepokan Ki Dewabrata sangat mahir bermain silat. Mayoritas, murid-murid Ki
Dewabrata adalah laki-laki. Kemahiran murid-murid Ki Dewabrata terlihat pada saat setiap
adanya pertandingan mereka selalu menang.
Ki Dewabrata dan Ki Leo Untung mengirimkan murid-murid mereka yang terbaik
untuk mewakili mereka. Ini bukan karena keduanya takut untuk bertanding, tetapi muridmurid mereka memaksa untuk membela kepentingan gurunya. Kedua belah pihak sama-sama
kuat hingga korban jatuh bergelimpangan.
Ki Leo Untung dan Ki Dewabrata merasa hal tersebut harus diakhiri. Mereka pun
turun langsung untuk bertanding. Pertandingan mereka berlangsung dengan sengit. Tak ada
satu pun yang kalah. Akhirnya mereka membuat kesepakatan untuk bertanding pada waktu
bulan purnama yang telah ditentukan.
Saat hari yang ditentukan berlangsung, yaitu saat bulan purnama telah meninggi,
mereka bertemu di bawah pohon pinus dengan tekad yang tertanam kuat di genggaman
masing-masing.
Ki Brata, sudah lama aku menantikan hari ini, hari dimana aku bisa membalaskan
dendamku dan mengambil apa yang semestinya sudah menjadi hakku.
Sama halnya denganku, aku ingin menyelesaikan semua ini dengan cara membawa
pulang nyawamu itu.
Cih. Jangan hanya pintar omong kau, cepat turunlah dari tungganganmu dan lawan
aku !
Ki Dewabrata turun dengan membawa golok tuanya, golok turun-temurun bekas dari
kakek buyutnya. Dengan nafas memburu dan darah yang mengalir deras, Ki Dewabrata
berlari menuju Ki Leo lalu menebaskan goloknya kepada Ki Leo. Pertandingan sengit itu

tidak bisa terelakkan. Cucuran keringat bahkan darah tidak menjadi halangan bagi mereka
untuk menghentikkannya. Justru dengan begitu, mereka lebih bersemangat untuk membunuh
satu sama lain. Saat mereka sudah sama-sama lelah dan tidak ada satu pun dari mereka yang
kalah, mereka memutuskan untuk berbaring sambil menatap bulan purnama yang bersinar
terang saat malam itu. Dengan nafas tersengal dan debaran jantung yang tidak keruan, Ki
Dewabrata mulai membuka suara dengan susah payah.
Ki Leo, sebenarnya apa yang kau mau dariku ? Apakah istriku ? Bukankah kau
sendiri sudah mempunyai istri dan empat anak di padepokanmu ? Lalu, kenapa kau masih
menginginkan istriku ?
Ki Leo tersenyum tipis sambil menyeka keringat di dahinya.
Aku sudah bilang, kalau aku ingin mengambil hakku. Ki Leo tersenyum sengit lalu
berdiri. Aku tahu kalau istrimu sedang mengandung bukan ? Ingat, aku hanya mnegambil
apa yang semestinya menjadi hakku. Ki Leo tertawa lalu menuju tunggangannya,
meninggalkan Ki Dewabrata yang masih berbaring dengan genggaman tangannya yang
mengeras.
Keesokan paginya saat matahari mulai meningi dan murid-murid dari padepokan
mulai belajar silat dengan guru masing-masing, Ki Dewabrata mencari istrinya yang tengah
memasak di dalam dapur. Nyi Maria Sukamti menyeka keringat di dahinya sambil sesekali
memegangi perutnya yang semakin membesar. Kecantikan Nyi Maria Sukamti memang tidak
ada bandingannya. Meskipun rambutnya terlepas dari ikatan rambutnya dan wajah yang tidak
keruan, dia tetap terlihat cantik.
Ki Dewabrata menggelengkan kepalanya. Ucapan Ki Leo semalam membuatnya
darahnya mengalir dengan deras. Nafas Ki Dewabrata memburu. Ki Dewabrata mengahmpiri
istirnya dengan langkah yang tegas.
Istriku, apakah kau masih membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan
semua ini ? Nyi Maria Sukamti tersenyum lalu menggeleng pelan.
Tidak kakanda, tunggu sebentar lagi. Setelah itu, aku akan menghidangkan makanan
ini untukmu. Nyi Maria tersenyum lagi, membuat Ki Dewabrata tidak sampai hati untuk
menanyakan kejelasannya kepada Nyi Maria. Ki Dewabrata berbalik lalu melangkah menuju
gazebo, dimana tempat itu yang ia gunakan untuk menghabiskan makan siang bersama
istrinya.
Ki Dewabrata menatap matahari yang semakin meninggi. Matanya memanas.
Entahlah, apakah mataharilah penyebabnya atau justru rasa kepercayaan kepada istrinya yang
sekarang sedang diuji. Saat Nyi Maria datang dengan membawa masakan, Ki Dewabrata
mengubah posisi duduknya, menyila lalu mempersilahkan istrinya menuangkan nasi di atas
piringnya.
Bagaimana kakanda ? Apakah sayurnya enak ? Apakah terlalu asin ?

Tidak istriku, justru masakanmu selalu terasa enak, tidak pernah terasa hambar.
Hanya saja.. Ki Dewabrata memutuskan pembicaraannya.
Hanya saja, apa kakanda ?
Ada sesuatu yang membuatku tidak nafsu untuk makan saat ini, istriku ? Nyi Maria
menaikkan alisnya, tidak mengerti dengan pikiran Ki Dewabrata saat ini.
Apa yang membuat kakanda tidak nafsu makan ? Ceritakan saja, barangkali aku bisa
membantumu menyelesaikan masalah itu
Ki Dewabrata menghentikan makannya dan menatap istrinya lekat-lekat, membuat
Nyi Maria mengerutkan kedua alisnya.
Kalau begitu, jawablah jujur pertanyaanku ini.
Nyi Maria terkejut dengan perubahan Ki Dewabrata yang mendadak menjadi serius.
Tetapi, dengan rasa patuh terhadap suamimya, Nyi Maria mengangguk dengan senyum manis
di wajahnya.
7 bulan yang lalu, saat aku meninggalkan padepokan ini untuk belajar bersama
murid-muridku di Hutan Akarmati, apa saja yang sudah kau lakukan ? Jantung Ki
Dewabrata berdetak sangat cepat. Lidahnya terasa kelu, begitupun pikirannya saat ini. Nyi
Maria tersenyum lagi sambil menggenggam kedua tangan suaminya.
Aku disini, bersama adikku, Sunarti. Memangnya kenapa kakanda ?
Lalu, apa yang Ki Leo lakukan disini pada saat itu ? Nyi Maria terperanjat, terkejut
dengan pertanyaan Ki Dewabrata yang mengungkit soal mantan kekasihnya.
Itu.. Dia.. Dia hanya ingin memberikanku bunga abadi yang dia ambil dari Gunung
Mahameru, kakanda
Benarkah hanya itu ? Lalu, kenapa kau menjawab dengan terbata-bata ? Mata Ki
Dewabrata mulai memanas. Tangannya mengepal keras.
Sebenarnya jawaban apa yang kakanda inginkan dariku ? Sejak kapan kakanda
mulai meragukanku, kakanda ? Wajah Nyi Maria mulai memerah, menahan tangis. Nafasnya
naik turun tidak keruan. Nyi Maria mengalihkan wajahnya, tidak ingin menatap mata Ki
Dewabrata terlalu lama.
Istriku, aku tahu kalau Ki Leo adalah mantan kekasihmu. Tidakkah aku bisa berfikir
jernih jika ada seseorang yang menemui mantan kekasihnya ? Tidak lain, tidak bukan karena
dia merindukannya dan mengingat kejadian di masa lalu yang mereka lalui bersama ? Atau
jangan-jangan.. Ki Dewabrata tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia menatap perut Nyi
Maria yang semakin membesar dengan perasaan yang susah dijelaskan.
Jangan ada pikiran aneh tentang aku dan dia, kakanda. Selama kau pergi, aku tidak
melakukan apapun selain memasak, membersihkan padepokan, dan selalu menantikan

kehadiranmu, kakanda. Meskipun, Ki Leo datang berkunjung kemari, aku tidak menemuinya,
justru Sunarti yang menemuinya. Tidakkah kakanda percaya denganku ?
Ki Dewabrata menatap istrinya yang sudah berkaca-kaca. Suara Ki Leo malam itu
masih terngiang di telinganya, seperti perekam suara yang terus-menerus berbunyi tanpa bisa
dihentikan.
Lalu apakah ada bukti yang bisa menunjukkan bahwa kalian tidak melakukan
apapun ? Ki Dewabrata bisa mendengar jantungnya yang berdegup dengan cepat. Ki
Dewabrata masih menatap langit biru yang diselimuti awan.
Lalu apa yang bisa aku lakukan agar kakanda percaya ? Nyi Maria menatap balik
Ki Dewabrata dengan berani. Angin berhembus dengan cepat, menerpa wajah mereka berdua.
Apakah kau mau jika aku memintamu keluar dari padepokan ini dan hidup sendiri di
luar sana ? Ki Dewabrata menggigit bibir bawahnya, tidak tega karena kalimat itu begitu
lancar ke luar dari bibirnya. Ki Dewabrata menatap lekat-lekat istrinya yang kini sedang
menerawang. Jika kau hidup dengan selamat dan tidak ada satu goresan dari hewan liar di
luar sana, itu berarti kau memang mengatakan dengan benar semuanya
Baiklah. Aku akan melakukannya. Berapa waktu yang kau berikan ? Nyi Maria
mulai meneteskan air mata. Dia tidak percaya bahwa kepercayaan suaminya saat ini mulai
memudar hanya karena perkataan orang lain. Nyi Maria tidak ingin kepercayaan suaminya
menjadi berkurang. Ia harus menuruti apa perintah suaminya.
15 tahun. Bagaimana dengan waktu 15 tahun ?
Tidakkah itu terlalu lama kakanda ? Bagaimana dengan anak yang ada di dalam
kandungan ini ? Nyi Maria mulai terisak. Bahunya naik turun karena menangis dengan
sangat hebatnya. Ki Dewabrata mengalihkan pandangan, juga tidak tega dengan keputusan
yang sudah diambilnya.
Hanya itu cara satu-satunya agar aku percaya bahwa anak yang ada di dalam
kandunganmu adalah darah dagingku
Nyi Maria menyeka air matanya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi tanpa
menoleh sama sekali kepada suaminya yang sudah sekian lama hidup bersamanya. Nyi Maria
menangis dengan sangat keras di dalam kamarnya. Tanpa ada seseorang yang tahu bahwa
sebenarnya hatinya lah yang benar-benar menangis karena kepercayaan suaminya yang mulai
menghilang.
Keesokan paginya, di saat embun masih bergelayutan di atas dedaunan, Nyi Maria
menenteng pakainnya dan pergi meninggalkan padepokan tanpa ditemani siapapun. Setelah ia
berpamitan kepada suami, adik, dan suami adiknya, ia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke
belakang. Ia harus kuat. Ia harus kuat agar kepercayaan suaminya bisa kembali. Nyi Maria
mulai memasuki hutan dengan semak belukar yang terlihat mengerikan. Suara hewan-hewan
hutan mulai terdengar membuat Nyi Maria memeluk tubuhnya sendiri, ketakutan. Ia tidak

tahu harus kemana dan bagaimana nanti. Nyi Maria benar-benar putus asa. Dia duduk di
salah satu pohon dan menangis sekeras-kerasnya.
Tuhan. Apa yang harus aku lakukan ? Saat Nyi Maria terus saja menangis dan tidak
tahu lagi apa yang bisa dia lakukan, tiba-tiba Nyi Maria mendengar suara di depannya.
Jangan menangis. Menangis tidak akan menyelesaikan apapun Suara itu terdengar
begitu lembut dan menenangkan. Nyi Maria mendongakkan kepalanya dan mencari dimana
sumber suara itu berasal.
Kau siapa ? Kau dimana ? Apakah kau bisa membantuku ?
Kalau begitu, bantu aku terlebih dahulu. Bisakah kau menyiramku dengan air dari
danau yang ada di depan sana ? Tidak ada seorangpun yang mau membantuku karena mereka
takut kepadaku Nyi Maria segera berlari dan mengambil air danau itu. Nyi Maria menyiram
air itu kepada pohon yang berada di depannya. Tiba-tiba pohon itu mengeluarkan cahaya
putih yang menyilaukan mata Nyi Maria. Nyi Maria memejamkan mata karena silau dengan
cahayanya.
Bukalah matamu. Terima kasih karena sudah membantuku. Suara itu membuat Nyi
Maria berani membuka kedua matanya. Nyi Maria begitu terkejut melihat sosok di depannya.
Kau berasal dari pohon itu ? Tanya Nyi Maria dengan penasaran. Lelaki itu
tersenyum sambil mengangguk dengan mantap.
Karena kau sudah membantuku terbebas dari kutukan musuhku, sekarang aku akan
membantumu. Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Ki Ageng. Aku berasal dari
padepokan sebelah timur. Sepertinya kau berasal dari arah utara tadi ? Lalu apa yang
menyebabkan kau berada disini saat ini ? Wajah Nyi Maria mendadak berubah menjadi
murung dan mengalirlah cerita yang terjadi hingga ia berada di hutan itu saat ini.
Kalau begitu, ikutlah aku. Tinggalah di padepokanku dan besarkan anakmu itu. Aku
akan membantu keperluanmu sebisa mungkin Lelaki itu tersenyum hingga terlihat lesung
pipinya.
Tetapi bagaimana dengan istrimu ?
Aku belum menikah. Tidak usah khawatir
Akhirnya, Ki Ageng dan Nyi Maria pergi ke padepokan timur. Tempat dimana anak
Nyi Maria lahir dan besar nantinya. Nyi Maria banyak berhutang budi terhadap Ki Ageng.
Oleh karena itu, Nyi Maria berusaha mengabdi kepada Ki Ageng. Ketika anak Nyi Maria
mulai beranjak dewasa, Nyi Maria mengajari anaknya untuk bersikap patuh dan hormat
kepada Ki Ageng dan meminta anaknya untuk menganggap Ki Ageng seperti ayahnya
sendiri. Nyi Maria benar-benar merasa sedih ketika anaknya, Wibisono terus menanyakan
keberadaan ayah kandungnya.

Kurang 1 tahun lagi, hari dimana Nyi Maria bisa kembali ke padepokan, tempat
tinggalnya. Nyi Maria masih melakukan hal yang sama duduk termenung di depan gapura,
menanti suaminya yang akan datang dan menjemputnya pulang. Tetapi, itu tidak akan terjadi.
Nyi Maria tahu betul bahwa suaminya itu benar-benar teguh dalam keputusannya.
Hari sudah mulai malam, tidakkah kau beristirahat ? Suara Ki Ageng membuyarkan
lamunan Nyi Maria. Nyi Maria menggeleng lemah sambil menyeka ujung matanya.
Ki, bagaimana jika suamiku masih belum bisa percaya kepadaku ? Tanya Nyi Maria
kepada Ki Ageng, orang yang sangat ia percaya selama ini, yang sudah membantunya hingga
saat ini.
Ki Ageng tersenyum simpul lalu duduk menyila di samping Nyi Maria.
Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Meskipun suamimu tidak percaya
kepadamu, tapi aku percaya kepadamu. Pasti akan ada hukuman bagi suamimu yang sudah
membuat wanita baik sepertimu menjalankan hukuman yang sangat berat ini. Nyi Maria
terisak di samping Ki Ageng.
Aku tahu sebenarnya suamimu orang yang baik, Maria. Hanya saja dia mudah
terhasut oleh omongan orang lain. Semoga kejadian ini bisa membuatnya berpikiran jernih
dan tidak akan membuatnya melakukan kesalahan yang sama, kata Ki Ageng menenangkan.
Satu tahun sudah berlalu. Matahari mulai meninggi dan suara ayam berkokok mulai
menandakan bahwa hari ini adalah hari dimana Nyi Maria dan anaknya kembali ke tempat
padepokan aslinya. Nyi Maria terharu melihat suasana di padepokan yang banyak berubah
semenjak kepergiannya. Nyi Maria datang bersama putranya, Wibisono.
Bu, apakah hari ini aku bisa melihat ayahku ? Tanya Wibisono dengan mata yang
berbinar. Nyi Maria mengangguk membuat Wibisono semakin antusias untuk memasuki
gapura padepokan. Padepokan terlihat ramai. Murid-murid dari Ki Brata mulai bebaris rapi
untuk menyambut kedatangan Nyi Maria bersama anaknya. Tak lama kemudian, Ki Brata
muncul, membuat Nyi Maria terkejut melihat penampilan Ki Brata yang tidak keuan dengan
jenggot panjangnya yang tidak terurus, semenjak ia pergi meninggalkan Ki Brata.
Jadi akhirnya kau pulang dengan selamat, istirku. Kata Ki Brata dengan senyum
puas di wajahnya. Lalu, siapa dia ? Tanya Ki Brata kepada lelaki di samping Nyi Maria.
Nyi Maria menarik tangan Wibisono untuk maju ke depan.
Ini buah hati kita, kakanda. Wibisono. Jawab Nyi Maria dengan penuh haru. Ki
Brata menarik Wibisono dan memeluknya erat-erat.
Ayah sangat merindukanmu, nak. Kau baik-baik saja di luar sana ? Wibisono
mengangguk mantap.
Aku baik-baik saja, yah. Apalagi ada ayah Ki Ageng yang sangat baik kepadaku.
Jawab Wibisono lancar membuat wajah ayahnya yang ramah menjadi ganas.

Ayah ? Tanya Ki Brata kepada istrinya. Jadi, kau selingkuh di luar sana bersama
lelaki lain ? Suara Ki Brata meninggi, membuat semua orang yang ada di padepokan
terperanjat.
Tuhan, sekarang cobaan apalagi ? Ki Ageng, apa yang harus aku lakukan, batin Nyi
Maria.
Tiba-tiba Nyi Maria mendengar suara tunggangan kuda di belakangnya. Lelaki itu
turun dari tunggangannya dan menghampiri Nyi Maria persis seperti saat mereka bertemu
pertama kali. Wajah Nyi Maria yang putus asa dan sedih muncul kembali di wajah itu.
Maria, ada sesuatu yang kau lupakan. Kerudungmu tertinggal di padepokan. Ki
Ageng mengamati sekeliling dan matanya berhenti saat menatap Ki Brata dengan sorotan
matanya yang tajam. Kau pasti Dewabrata, suami dari Maria yang tega menghukum istrinya
selama bertahun-tahun. Tangan Ki Brata mengepal dengan keras di samping celana
hitamnya.
Istriku, jadi dia yang selama ini tinggal bersamamu saat kau keluar dari padepokan
ini ? Tanya Ki Brata dengan nafas memburu. Nyi Maria hanya bisa menunduk pasrah dan
mengangguk samar. Ki Brata berdecak lalu menjambak rambutnya, frustasi.
Setelah akhirnya kita bertemu lagi dan aku percaya bahwa kau tidak melakukan
apapun dengan Ki Leo. Sekarang kau datang bersama pria lain dan anakku menyebutnya
ayah ? Air mata Ki Brata mulai turun. Suaranya meninggi seiring dengan bahunya yang
naik-turun menahan emosi. Kau tetap melakukan kesalahan yang sama, Maria. Kau suka
bermain-main dengan pria lain di belakangku !
Tidak kakanda, tidak ! Tangisan Nyi Maria pecah saat itu juga, membuat semua
orang yang ada di padepokan itu menundukkan kepala, sibuk dengan pikirannya masingmasing.
Lalu, sekarang apalagi yang bisa kau buktikan agar aku percaya ? Mata Ki
Dewabrata memerah menahan marah, tangannya sudah terkepal keras-keras di samping
celana hitamnya. Nyi Maria berjalan menuju sungai yang tenang di samping padepokan. Ki
Dewabrata dan semua orang yang ada di padepokan berlari mengejar Nyi Maria yang sudah
berjalan dengan air mata deras yang turun dari kedua matanya.
Ibu, apa yang ibu lakukan ? Wibisono berteriak histeris melihat kelakuan ibunya
yang sudah putus asa seperti itu. Wibisono berlari, menarik tangan ibunya tapi ditepis oleh
Nyi Maria.
Biarkan nak, biarkan. Biar ayahmu tahu yang sebenarnya bahwa aku tidak pernah
mengkhianatinya. Nyi Maria menatap lama kedua manik mata Wibisono. Ada maksud
tersirat yang disampaikan Nyi Maria kepada putranya itu. Wibisono menangis, tidak tahu
harus berbuat apa dan bagaimana selain mematuhi ibunya untuk tetap berdiam diri di tempat.

Suamiku, Ki Dewabrata. Aku tidak pernah berbohong ataupun mengkhianatimu. Aku


sudah mematuhi dan melaksanakan semua hukuman yang kau berikan kepadaku. Aku sudah
bersusah payah hidup berjuang sendirian di hutan antah berantah di luar sana, membesarkan
anak kita sendirian, tanpa seorang ayah selama belasan tahun hingga dia tumbuh menjadi
remaja. Apakah kau tahu setiap malam aku melihat gapura di padepokan Ki Ageng dengan
harapan kau akan menjemputku dan memahami kesalahanmu ? Tangisan Nyi Maria pecah.
Dia tidak peduli teriakan adiknya, Sunarti yang memintanya untuk kembali. Dia tidak peduli
anaknya yang ikut menangis dan tengah bersujud untuk meminta ibunya kembali.
Biarlah. Semuanya sudah terjadi. Biar alam yang menjadi saksinya saat ini. Biarkan
desahan angin yang menjadi saksi semua kejadian hidup kita, kakanda. Dengan sungai ini
sebagai perantaranya. Jika sungai ini berwarna sangat jernih dan sebening cermin, hingga
orang-orang menyebutnya Labuan cermin dan akan menjadi tempat wisata suatu hari nanti itu
berarti selama ini aku berkata benar, bahwa aku tidak pernah mengkhianati kepercayaanmu
kakanda. Tetapi, jika sungai ini keruh, kotor, dan bau, aku pastikan tempat ini tidak akan
pernah dijamah orang lain itu berarti apa yang kakanda maksudkan selama ini memang benar,
bahwa aku sudah bermain bersama lelaki lain di belakangmu. Biarkan alam yang menjadi
saksinya, kakanda !
Ki Dewabrata maju perlahan, berusaha merayu istrinya untuk tidak melakukannya.
Tetapi, setengah hatinya ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Apakah Ki Dewabrata
sanggup dengan jawaban yang sebenarnya ? Ki Dewabrata memejamkan matanya, tidak tahu
lagi harus berbuat apa hingga ia mendengar suara deburan air yang membuat kedua matanya
terbuka lebar. Ia melihatnya. Tidak lama kemudian, air itu berubah warnanya menjadi biru
cerah, sangat jernih dan bening sebening cermin. Ki Dewabrata tertunduk lemas. Ia menyesal
karena sudah percaya dengan orang lain, bukan dengan istrinya sendiri yang sudah lama
tinggal bersamanya.
Ayah, sekarang ayah lihat kan perbuatan apa yang sudah ayah lakukan ? Wibisono
berdiri di depan ayahnya. Tangan kanannya sudah membawa golok pemberian Ki Ageng
suatu mereka berada di padepokan. Ayah, sudah lama aku hidup bersama ibu. Susah senang
kami jalani bersama tanpa ayah tahu bagaimana susah payah kami berjuang untuk hidup. Dan
saat ibu merasa bahagia karena sudah kembali ke tempat asalnya, kenapa justru ayah
membawanya ke dalam jurang yang sangat dalam ?
Ki Dewabrata menangis terisak di bawah kaki ayahnya. Tangannya memukul tanah
dengan keras-keras. Dia menyesal atas perbuatannya yang tidak pernah percaya terhadap
istrinya. Sekarang dia memahami kesalahan besar yang sudah dia ambil dalam hidupnya.
Mungkin memang harusnya ayah sekarang yang mati !
Ki Dewabrata pasrah melihat keberingasan anaknya itu. Dia pasrah menerima
hukumannya saat ini. Mungkin dengan mati, dia bisa menebus semua kesalahan yang dia
perbuat kepada istrinya, Nyi Maria.

Selamat tinggal, ayah. Ki Dewabrata memejamkan matanya, bersiap menerima


tebasan golok dari anaknya. Semoga Tuhan bisa memaafkan semua perbuatannya selama di
dunia ini.
Aaaaah..
Ki Dewabrata membuka matanya. Darah sudah tercecer di kedua tangannya. Mata Ki
Dewabrata terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan penglihatannya.
Wibisono jatuh di pelukan sang ayah dengan darah yang mengalir deras.
Hahaha. Terima kasih Ki Brata, akhirnya aku bisa meminta hak milikku kembali. Ki
Dewabrata menoleh dengan cepat. Seketika itu matanya memanas melihat siapa lelaki yang
sudah memanah anaknya tersebut dari kejauhan. Ki Leo datang dengan anak panah di tangan
kanannya.
APA YANG KAU LAKUKAN ?
Hei, tenanglah. Sudah aku katakan bukan bahwa aku akan mengambil hakku. Hakku
adalah mengambil nyawa anakmu !
Ki Dewabrata terkejut setengah mati. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu tetapi
kalimat itu seperti tertahan di kerongkongannya.
Jadi, selama ini kau hanya ingin mengambil nyawa anakku ? Bukankah dia
anakmu ?
Ki Leo terbahak dengan deraian air mata di kedua ujung matanya.
Karena dengan mengambil nyawa anakmu adalah cara membalas dendam paling
ampuh bukan ?
Ki Dewabrata menangis sejadi-jadinya. Pikiran negatif sudah membuatnya hilang akal
hingga dia tidak percaya lagi kepada istrinya. Sekarang dia tahu kesalahan apa yang sudah
diperbuatnya.
SELESAI