Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN

Langkah-langkah Supervisor dalam Supervisi Pendidikan

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan


Dosen Pengampu : Edy Wiyono S. Pd, M. Pd.

Oleh :
Bagaswara Deas Arista
K2312017
Pend. Fisika 2012 B
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena bimbingan-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan makalah profesi kependidikan tentang Langkah-langkah
Supervisor dalam Supervisi Pendidikan dengan tepat waktu dan disusun untuk memenuhi tugas
UK 2 mata kuliah Profesi Kependidikan.
Secara garis besar, makalah ini memuat pembahasan tentang Bagaimana untuk
mensupervisi Pendidikan dan langkah-langkahnya agartercipta atau menjaga kondisi atau iklim
sekolah supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk pengembangan pengajaran.
Selanjutnya penulis ucapkan selamat membaca, semoga dapat menjadi semangat kita
untuk terus belajar dan berproses menjadi lebih baik.Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Saran dan kritik dari dosen dan semua pihak sangat penulis
harapkan dan akan menjadi sarana introspeksi serta peningkatan kualitas laporan ataupun tulisan
yang akan dibuat kemudian. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah
Profesi Kependidikan dan kepada rekan-rekan semua yang telah memberi dukungan yang sangat
berarti sehingga makalah ini selesai .
Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi diri
penulis ,umumnya bagi pembaca.

Surakarta, 15 April 2014


Penulis

2|Page

DAFTAR ISI
Halaman Judul.1
Kata Pengantar .......................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................4
1. Latar Belakang .......................................................................................4
2. Rumusan Masalah ..................................................................................5
3. Tujuan ....................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................6
A. Pengertian Supervisi Pendidikan ..........................................................6
B. Langkah-langkah Supervisor dalam supervisi Pendidikan ...................7
C. Contoh Langkah-langkah Supervisi ......................................................8
BAB III PENUTUP .................................................................................15
1 Kesimpulan ...........................................................................................15
2 Saran .....................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................16

3|Page

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jika kita melihat kondisi pendidikan kita saat ini, maka kita dapat merasakan kurangnya
pendidikan kita dalam segi mutu. Ini bisa direfleksikan dengan banyaknya pengangguran di
Indonesia, baik itu pengangguran yang usia produktif atau tidak, baik itu pengangguran dengan
ketergantungan atau tidak. Banyaknya pengangguran ini merupakan dampak langsung dan
sistemik dari kualitas hasil dari pendidikan yang rendah sehingga mereka yang telah lulus
menempuh pendidikan sukar bersaing dengan orang lain demi mendapatkan pekerjaan yang
layak karena tidak terpenuhinya kualifikasi pasar pegawai. Hal ini berimbas dengan tingkat
ekonomi masyarakat Indonesia rendah. Tak ayal, kualitas mutu pendidikan selalu dikaitkan
dengan tingkat ekonomi suatu negara.
Sangat sulit bagi kita untuk menetapkan satu penyebab utama dari fenomena miris
tersebut.Karena fenomena ini sudah sangat sistematis dan layaknya kita mengurai benang kusut
yang sulit diketemukan ujungnya. Namun demikian , sebuah pendidikan memiliki jantung
kehidupannya, yaitu sekolah, sehingga penelusuran kita akan penyebab dari rendahnya mutu
pendidikan adalah sekolah itu sendiri. Lebih lanjut, core businessnya pendidikan di
lingkungan sekolah adalah penyelenggaraan belajar mengajar yang ditangani guru. Maka dalam
hal ini penyelenggaraan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru harus diperhatikan.
Masalah penyelenggaraan belajar mengajar ini adalah menyangkut tentang kualitas guru
itu sendiri, diantaranya yang terkait adalah masalah kualitas mengajar dari guru tersebut. Untuk
itu, perlu adanya proses pengawasan dan pembinaan terus menerus dan kontinu. Masalah ini
berhubungan erat dengan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah selaku
pemimpin kepada guru-gurunya. Dengan adanya aktivitas ini,diharapkan langsung dapat
memperbaiki situasi belajar mengajar dari yang sebelumnya. Dari uraian tersebut, maka
diperlukan

langkah-langkah

untuk

mensupervisi

Pendidikan.Maka,

penulis

mencoba

menuangkan permasalahan tersebut dalam makalah ini yang berjudul Langkah-langkah


Supervisor dalam Supervisi Pendidikan.

4|Page

1.2. Rumusan Masalah


Dalam makalah profesi kependidikan Langkah-langkah Supervisor dalam Supervisi
Pendidikan ini terdapat rumusan masalah antara lain sebagai berikut :
Bagaimana langkah-langkah Supervisor dalam supervisi pendidikan?

1.3. Tujuan
Adapun

tujuan dari makalah profesi kependidikan Langkah-langkah Supervisor dalam

Supervisi Pendidikan ini adalah untuk mengetahui secara lebih jelas dan mempelajari tentang :
Langkah-langkah yang harus dilakukan supervisor dalam mensupervisi pendidikan

5|Page

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Supervisi Pendidikan


1. Pengertian supervisi Menurut Beberapa hal :
Arti Supervisi menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi
yang terkandung dalam perkataan itu ( semantik).
Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision.
Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan
dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan orang yang
berposisi diatas, pimpinan terhadap hal-hal yang ada dibawahnya.Supervisi juga merupakan
kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan
mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi
pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata
kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau
tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar
dan belajar dan belajar pada khususnya.
Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris Supervision artinya
pengawasan di bidang pendidikan.
Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.
2. Pengertian Supervisi Menurut Pendapat Para Ahli :
a. Good Carter,
Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam
memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk
menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi
tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi
pengajaran. God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar,
b. Boardman.
6|Page

Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan


membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun
secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi
pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap
murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi
modern. Boardman.Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat
modern.

B. Langkah-langkah Supervisor dalam supervisi Pendidikan


Dalam supervisi sekarang ini, pengamatan oleh pengawas dan kepala sekolah bukan satusatunya cara untuk mengetahui kualitas pembelajaran, mestinya pengawas selaku penanggung
jawab supervisi perlu terus-menerus berpikir untuk mencari variasi langkah kegiatan dengan
maksud memperoleh data yang lebih baik dan model pembinaan yang lebih baik dan model
pembinaan yang lebih efektif. Langkah-langkah yang sifatnya rutin akan menghasilkan data yang
rutin pula dan bentuk pembinaanya pun menjadi rutin.
Dalam supervisi model baru yang dikaitkan dengan supervisi klinis ini disarankan langkahlangkah alternatif berikut:
a.

Pengawas bersama kepala sekolah sewilayah pembinaanya berdiskusi menyusun rencana


kerja untuk kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun kemudian di penggal-penggal menjadi
rencana caturwulan dan bulan. Dalam rencana tersebut tertuang:
1)

Aspek yang menjadi titik pusat perhatian dalam program supervisi untuk tahun tersebut.
Karena supervisi pengamatan kelas meskipun cara tersebut masih digunakan sebagai salah
satu metode, dalam menyusun rencana tersebut perlu disebutkan dengan jelas apa yang
menjadi titik pusat perhatian, paling tepat untuk saat tersebut.

2)

Penjadwalan pelaksanaan yang mencakup lama kurun waktu dan penggalan untuk setiap
langkah kegiatan. Dalam langkah-langkah tersebut disebutkan isi, pihak, dan sarana yang
digunakan.

b.

Perencanaan yang rinci dan disusun bersama antara pengawas dan kepala sekolah, ini
dimaksudkan untuk menciptakan koordinasi antara keduanya sehingga pelaksanaan supervisi
tidak simpang siur.

7|Page

c.

Pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang di perlukan. Jika pengawas dan
kepala sekolah bermaksud mengaktifkan bagian lain dari hal-hal yang biasa disupervisi, tentu
saja di buku pedoman supervisi belum tersedia instrumen untuk memantaunya. Oleh sebab itu
kepala sekolah perlu menyusun sendiri instrumen pemantauan yang diperlukan.

d.

Pengawas dan kepala sekolah menyelenggarakan rapat pleno guru untuk menjelaskan langkah
program yang disusun bersama pengawas. Dalam rapat tersebut dibagikan blangko pada
semua guru, berisi tawaran kepada guru yang ingin menggunakan kesempatan untuk
mengemukakan masalah dan memerlukan pembinaan. Untuk ini guru diberi waktu yang
cukup agar dapat berpikir dengan sungguh-sungguh masalah apa saja yang perlu mendapatkan
pembinaan secara intensif, baik apa yang dilakukan sendiri, dilakukan bersama pimpinan
sekolah, atau pengawas dan orang tua siswa.

e.

Kepala sekolah menyampaikan usulan guru tersebut kepada pengawas sehingga di antara
kedua petugas supervisi tersebut dapat mengadakan pembagian tugas.

f.

Pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana operasional untuk melaksanakan supervisi.

g.

Pengawas dan kepala sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup
wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota.

C. Contoh Langkah-langkah Supervisi


Supervisi adalah suatu bentuk tindakan terhadap guru yang sedang dalam proses interaksi
dengan murid. Dengan demikian supervisi adalah suatu bentuk intervensi.Kegiatan supervisi
masuk ke dalam kegiatan belajar-mengajar.
Agar intervensinya dapat berjalan dengan efektif maka kegiatan supervisi tersebut harus
dilakukan melalui tahap-tahap diagnosis seperti tahap-tahap yang dilalui di dalam proses
pemecahan masalah pada umumnya. Tahap-tahap tersebut adalah:
1. Identifikasi masalah yaitu mengidentifikasikan celah antara keadaan yang sekarang ada
dengan keadaan yang diharapkan.
2. Diagnosis penyebab (diagnose causes) yaitu penelitian mengenai kemungkinan sebab-sebab
timbulnya masalah dengan cara menguji faktor-faktor penghambat (kendali) maupun faktorfaktor penunjang.

8|Page

3. Mengembangkan rencana kegiatan yaitu mengembangkan strategi untuk bertindak dengan


secara rinci menelaah alternatif yang ada, mengantisipasi akibat-akibat yang mungkin timbul,
mempertimbangkan untuk kemudian memilih salah-satu untuk dilaksanakan.
4. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dengan menerjemahkan setiap langkah
perencanaan dengan prosedur yang khusus.
5. Mengevaluasi rencana kegiatan yaitu melihat kembali keterlaksanaan dan nilai-nilai yang
perlu di pertimbangkan di dalam pelaksanaan nanti.
Tujuan kegiatan supervisi adalah menciptakan atau menjaga kondisi atau iklim sekolah
supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk terjadinya pengembangan pengajaran.Lalu
bagaimanakah iklim sekolah yang kondusif itu? Kegiatan supervise dapat berlangsung secara
efektif apabila suasana lingkungan sekolah dalam keadaan tenang, tidak mencekam. Suasana
yang tidak mencekam bagi pengembangan pembelajaran adalah suasana di mana setiap personal
yang terlibat di dalam kegiatan pengajaran (guru, kepala sekolah, murid dan pegawai tata usaha)
hatinya tentram, pasrah, dapat saling berhubungan satu sama lain dalam suasana kekeluargaan
dengan bebas tanpa ada rasa takut. Masih tambah lagi satu syarat, yaitu bahwa setiap personal
yang terlibat dalam pengembangan tersebut berada dalam posisi terpenuhinya kebutuhan
pribadinya.
Sistem manajemen di dalam organisasi sosial seperti yang digambarkan tersebut bersifat
partisipatif, dan ditandai oleh kepemimpinan yang mendukung, motivasi yang tinggi, hubungan
antar pribadi sangat dekat, kerja sama yang baik,ada kesetiaan kelompok, tanggung jawab atas
tugas masing-masing, saling percaya, masing-masing percaya pada diri sendiri dan mengarahkan
kepada pencapaian tujuan yang tinggi.
Ditinjau dari segi murid, di sekolah dengan iklim yang kondusif ditekankan pada disiplin
yang tinggi pada murid, masing-masing murid diketahui keadaannya (termasuk kelainankelainannya). Hubungan antar murid akrab dan merasa bahwa mereka berada di dalam satu
keluarga yang sama yakni keluarga sekolah itu. Masing-masing murid merasa tenteram dan puas
karena terpenuhi segala kebutuhannya.
Ciri terakhir dari iklim sekolah yang baik yang tidak dilihat dan tinjauan personil adalah
bahwa sekolah tersebut secara keseluruhan mengharapkan tercapainya tujuan akhir dari kegiatan
organisasi sosial tersebut, yaitu peningkatan prestasi belajar siswa.

9|Page

Dari sederetan ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari pengembangan
iklim sekolah adalah terciptanya iklim sekolah dalam system yang partisipatif, berorientasi pada
pengontrolan terhadap murid secara manusiawi dan ditekankan pada pencapaian tujuan
akademik yang tinggi.Apa yang disebutkan itu bukannya tujuan akhir sekolah, tetapi sesuatu
yang mendukung terjadinya program supervisi yang efektif.
Siklus diagnostik yang telah digambarkan di atas bukan hanya untuk memilih alternative
pendekatan supervisi atau pemecahan masalah saja, tetapi juga dapat diterapkan di dalam
program menciptakan iklim sekolah seperti yang sedang dibicarakan. Apabila iklim sekolah
belum berada pada kondisi yang diharapkan maka dipandang bahwa iklim sekolah berada dalam
keadaan yang bermasalah dan perlu untuk segera dipecahkan.
Pada bagian ini akan disampaikan contoh implementasi penggunaan siklus pemecahan
masalah dalam rangka meningkatkan iklim sekolah agar kondusif bagi kegiatan supervisi yang
efektif.

Identifikasi Masalah
Pelaksanan praktikum di sebuah sekolah kejurusan teknik tampak tidak lancar. Alat dan
bahan yang ada akan digunakan untuk praktek, tersedia kurang. Mencukupi kebutuhan untuk
praktek murid-murid. Pengelolaan tidak selalu berada di tempat, sehingga setiap kali instruktur
sudah siap dengan persiapan praktikum atau praktek, pintu laboratorium belum dibuka.
Kalaupun instruktur menemukan pintu sudah terbuka, alat-alat dan bahan praktek belum berada
di tempat yang dekat dengan tempat praktikum. Dengan demikian ketika waktu yang ditentukan
untuk praktikum pada jam itu sudah habis, murid-murid tidak segera meninggalkan tempat
karena tugas belum selesai. Instruktur yang mendapat giliran memimpin praktikum untuk jam
berikutnya sudah dating, dan hatinya kecewa karena melihat bahwa rombongan yang sesuai
praktikum

belum

meninggalkan tempat.

Terjadi

sedikit

keributan di

pintu masuk

laboratorium.Ada ganjalan di hati masing-masing instruktur, ada rasa tidak puas di hati
masing-masing murid.
Di lain kelas, seseorang guru sudah berdiri di depan sebuah kelas. Ia sudah masuk ke kelas
sebelum itu tetapi ditemukan bahwa kelasnya masih kosong. Murid-murid yang seharusnya
sudah siap untuk diajar pelajaran teori ternyata belum berada di tempat karena masih
menyelesaikan praktikum di laboratorium. Mereka terpaksa mundur waktunya karena sudah
10 | P a g e

diceritakan di depan, mulainya praktikum terlambat gara-gara pintu masuk belum dibuka. Maka
di kelas teori tersebut pun terjadi kekacauan.Pelajaran teori tidak berlangsung dengan baik
karena pada waktu murid-murid dari laboratorium dating, guru sudah kecewa. Apa yang sudah
disiapkan terpaksa harus diubah karena waktu yang seharusnya disediakan sudah terkurangi
beberapa menit.
Diagnosis Penyebab
Apa yang dikemukakan di atas adalah suatu situasi yang mengandung masalah. Keadaannya
begitu kompleks dan membingungkan, kalau situasi kacau tersebut berlangsung berkali-kali,
maka tidak mustahil moral kerja guru dan semangat belajar murid akan menurun. Kondisi
pengajaran berada dalam keadaan yang tidak kondusif. Hati para guru, instruktur dan muridmurid sudah terluka.Antara guru dengan instruktur menjadi retak.Ada rasa jengkel terbesit di
dalam jiwanya.Hubungan antar instruktur sendiri dengan penjaga ruangan juga tidak
baik.Instruktur dikecewakan oleh ketidaksiapan laboratorium pada waktu instruktur sudah siap
melaksanakan tugas membimbing praktikum.Mudah diduga bahwa dalam situasi mencekam
seperti itu pelajaran tidak berlangsung dengan baik.
Kekacauan terdapat di kelas teori dan di laboratorium.Dalam situasi seperti ini tugas
supervisor di sekolah itu menjadi sangat berat.Pihak-pihak yang harus digarap adalah guru,
instruktur, dan murid-murid. Mereka harus dikembalikan ke dalam situasi bebas dari kejengkelan
antara satu sama lain. Moral kerja masing-masing personal harus dinakkan kembali. Semangat
belajar murid-murid harus dibangkitkan agar siap untuk berpartisipasi di dalam proses
pengajaran.
Di dalam melakukan diagnosis penyebab ini supervisor melaksanakan tiga hal yaitu: (1)
mengumpulkan data agar proses diagnosis penyebab dapat dilakukan dengan seksama, karena
data yang tersedia cukup lengkap, (2) menganalisis data yang ada sehingga diketahui dengan
pasti kondisi yang ada untuk dibandingkan dengan kondisi yang diinginkan yang kondusif untuk
pengajaran, dan (3) menemukan celah antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharaokan,
dan celah inilah yang harus dihilangkan dengan pendekatan supervise yang tepat. Di dalam
penggarapannya supervisor membuat daftar untuk membandingkan dua kondisi yang telah
disebutkan.

11 | P a g e

Analisis Penyebab dan Alternatif Pemecahan Masalah


1. Instruktur datang di dengan laboratorium kecewa, menemukan ruangan masih tertutup, alatalat dan bahan belum tersedia. Pintu masih tertutup karena penjaga ruangan tidak datang
pada waktunya. Pemecahannya adalah bahwa penjaga ruangan diharuskan datang pada waktu
yang sudah ditentukan. Mengapa penjaga ruangan tersebut sedang mengalami broken
home.
2. Guru teori kecewa ketika datang ke kelas karena menjumpai kelas masih kosong. Muridmurid belum datang karena masih berada di laboratorium. Praktikum di laboratorium
terpaksa ditunda penyelesaiannya karena jam mulainya juga mundur. Pada waktu supervisor
membaca pernyataan masalah ini dan akan mennganalisisnya dapat mengambil kesimpulan
bahwa timbulnya masalah di kelas ini merupakan akibat dari masalah yang pertama, yaitu
yang terjadi di laboratorium. Kalau masalah yang terjadi di laboratorium sudah terpecahkan,
masalah yang terjadi di kelas juga akan ikut terpecahkan sesudah beberrapa waktu kemudian.
3. Hubungan antara instruktur dengan guru teori kurang baik. Terdapat perasaan jengkel pada
diri kedua guru itu, karena kepentingannya terganggu. Program pengajaran yang sudah
direncanakan tidak dapat dilaksanakan karena waktunya tergeser. Instruktur merasa jengkel
kepada guru teori barangkali karena guru tersebut pernah berbicara dengan nada yang tidak
enak kepada instruktur. Setelah kejadian ini dianalisis, ditemukan bahwa penyebab
timbulnya kejadian adalah karena instruktur menunda waktu praktikum. Andaikata waktu
praktikum dikurangi dan anak-anak dapat kembali ke kelasnya pada waktu yang telah
ditetapkan, maka guru teori tidak akan merasa kecewa. Hubungan antara instruktur dengan
guru tidak akan menjadi jelek. Jadi pemecahan permasalahannya adalah instruktur memulai
praktikum pada waktunya dan berhenti pada waktunya pula.
4. Moral kerja guru dan instruktur menurun. Hal ini diakibatkan karena dari waktu ke waktu
selalu dikecewakan oleh ketidaktersedianya alat-alat dan bahan pada waktu yang telah di
tetapkan.disiplin yang tinggi akan dapat terhapus oleh ketidakdisiplinan orang lain. Di satu
sisi mereka disiplin, di sisi lain mereka dikecewakan oleh orang lain yang tidak disiplin.
Keadaan moral kerja rendah ini akan berangsur-angsur pulih kalau sudah ad bukti bahwa
kebutuhannya sudah terpenuhi. Perlu kita ingat bersama bahwa penyakit yang
berhubungan dengan moral manusia merupakan penyakit yang sukar disembuhkan. Seperti

12 | P a g e

halnya menurunkan moral kerja, batu akan dapat terobati apabila sudah ada obatnya yang
tepat dan itupun akan memerlikan waktu yang lama untuk dapat pulih kembali.
5. Semangat belajar mengendor. Murid-murid kelihatan kurang bergairah dalam belajar. Hal ini
merupakan akibat dari kekecewaan yang beruntun karena menyaksikan: laboratorium yang
masih terkunci ketika mereka dating di laboratorium tersebut, ditambah dengan belum
siapnya alat-alat dan bahan praktikum. Pada waktu mereka memasuki ruangan kelas teori
mereka melihat kekecewaan guru teori dan merasakan tidak tentram menyaksikan suasana
kelas yang tampak tidak relaks dengan guru yang mengajar yang tidak sesuai dengan rencana
yang telah disusun. Keadaan mengendornya semangat belajar ini sebagai akibat dari
ketidakdisiplinan orang lain. Apabila sumbernya sudah dapat diberantas, diramalkan bahwa
keadaan yang merupakan akibat tersebut juga akan terhapus.
Dari analisis penyebab masalah ini diketahui dan dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah
yang semula Nampak ruwet, kompleks, terdapat lima kasus permasalahan, ternyata sesudah
diurai hanya ada satu saja pernyebab timbulnya masalah. Masalah-masalah yang tersebut di
dalam perumusan masalah dan yang teridentifikasikan karena Nampak di permukaan justru
bukan merupakan masalah yang pokok.Masalah yang pokok bahkan yang tidak tampak dari
luar.Masalah pokok ini bersifat terselubung.
Menyusun Perencanaan
Setelah diketahui penyebab dari semua permasalahan yang ada maka kini supervisor sampai
pada tahap berikutnya, tahap ketiga, yaitu menyusun perencanaan untuk memecahkan masalah.
Di dalam contoh khusus ini terdapat masalah pokoknya yang hanya satu, yaitu: penjaga ruang
tidak dapat dating tepat pada waktunya.
Apabila dilihat dari permasalahan yang tampak, diketemukannya penyebab adanya penjaga
ruang yang tidak dapat datang tepat pada waktunya adalah data untuk langkah ketiga dalam
prosedur supervisi. Akan tetapi apabila penjaga tidak dapat dating tepat pada waktunya itu
dianggap sebagai suatu masalah yang terlepas dari hal-hal lain, maka untuk memecahkannya
diperlukan juga langkah-langkah dari awal. Kini pernyataan tersebut berdiri sebagai identifikasi
masalah.Langkah berikutnya adalah mengadakan diagnosis sebab-sebab adanya masalah.Dari
langkah terlepas dapat diketahui bahwa yang menyebabkan penjaga ruangan tidak dapat datang
tepat pada waktunya karena dirumahnya sedang terjadi broken home. Jika ini yang
menyebabkan keterrlambatan datang, maka masalah ini harus dipecahkan dahulu, baru beruntun
13 | P a g e

pada masalah-masalah yang lain. Kalau supervisor harus menangani masalah keluarga penjaga
ruangan, maka kasusnya menjadi meluas dan merantai. Memang betul bahwa penjaga ruangan
juga merupakan tanggungjawab supervisor sekolah untuk disupervisi, tetapi masalah yang
pertama muncul menjadi masalah kedua yang segera harus diatasi.

14 | P a g e

BAB III
PENUTUP
1.

Kesimpulan
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap

pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera
diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Azwar, 1996).
Langkah-langkah supervisi yaitu: pengawas dan kepala sekolah berdiskusi menyusun
rencana kerja untuk jangka waktu tertentu, pengawas dan kepala sekolah menciptakan koordinasi
yang baik dalam pelaksanaan supervisi agar tidak terjadi kesalahpahaman, pengawas dan kepala
sekolah menelaah instrumen yang diperlukan, kepala sekolah mengadakan rapat pleno dengan
guru, kepala sekolah menyampaikan usulan dari guru ke pengawas, pengawas dan kepala
sekolah menyusun rencana operasional untuk melaksanakan supervisi, dan pengawas dan kepala
sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup wilayah yang menjadi
tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota

2.

Saran
Supervisi dalam dunia Pendidikan amatlah penting perlu adanya pengawasan yang
lebih kepada sekolah-sekolah sehingga kegiatan belajar-mengajar dapat terjalin secara
kondusif.Pengawas dan Kepala Sekolah haruslah mau dan mampu melaksanakan tugas
Supervisi ini dengan baik dan benar.Sehingga hasil atau out put dari sekolah itu sendiri
menghasilkan peserta didik yangberkualitas.Dan juga merupakan tanda bahwa Pengawas
dan Kepala Sekolah itu menunjukkan keprofessionalannya.

15 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
http://fauzinesia.blogspot.com/2012/06/proses-supervisi.html
diakses tanggal 15 April 2014 pukul 11.58
http://heru-moerdhani.blogspot.com/2012/06/langkah-langkah-supervisi.html
diakses tanggal 15 April 2014 pukul 11.07
http://ugisupriatna.blogspot.com/2013/05/makalah-supervisi-pendidikan.html
diakses tanggal 15 April 2014 pukul 22.58

16 | P a g e