Anda di halaman 1dari 20

PENGELOLAAN DAN METODE

PENELITIAN TERUMBU KARANG

RESTU AJENG S 140410110005


MEIDHA AUDINA 140410110027
RIANI ROSTAMI 140410110080

Pendahuluan
Pada saat ini terumbu karang di
Indonesia sedang mengalami
ancaman kerusakan baik yang
disebabkan oleh alam maupun
manusia. Kegiatan manusia yang
merusak seperti penangkapan
ikan dengan menggunakan bom,
racun (potas) atau pembuangan
jangkar di atas terumbu karang
merupakan sasaran dari berbagai
kampanye penyadaran
masyarakat yang sedang
digalakkan.

Mengingat begitu pentingnya fungsi


terumbu karang baik secara ekologis
dan ekonomis, maka kondisinya pada
saat sekarang maupun
perkembangannya dari waktu ke
waktu perlu selalu dimonitoring dan
perlu dilakukan penilaian
(assessment).

Pemantauan berbasis masyarakat


yang sejalan dengan UU Nomor 22
tahun 1999 dapat membantu
mengatasi isu dan kecenderungankecenderungan yang ada sehubungan
dengan pengelolaan terumbu karang
dimana pemerintah dan masyarakat
lokal mempunyai wewenang untuk
mengelola sumberdaya alamnya
sendiri.

Tujuan
Mengetahui
Mengetahui
metode
pengelolaan
penelitian
terumbu
terumbu
karang
karang

Identifikasi
Masalah
Bagaimana
pengelolaan
terumbu
karang

Apa saja
metode
penelitian
terumbu
karang

Tentang Terumbu Karang....


Ekosistem terumbu karang sebagian
besar terdapat di perairan tropis,
sangat sensitif terhadap perubahan
lingkungan hidupnya terutama suhu,
salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan
memerlukan kualitas perairan alami
(pristine).

Demikian halnya dengan perubahan


suhu lingkungan akibat pemanasan
global yang melanda perairan tropis
pada tahun 1998 telah menyebabkan
pemutihan karang (coral bleaching)
yang diikuti dengan kematian massal
mencapai 90-95%

Untuk dapat bertumbuh dan


berkembang biak secara baik, terumbu
karang membutuhkan kondisi
lingkungan hidup yang optimal, yaitu
pada suhu hangat sekitar di atas
20oC. Terumbu karang juga memilih
hidup pada lingkungan perairan yang
jernih dan tidak berpolusi.

PEMUTIHAN KARANG
Pemutihan karang (yaitu menjadi
pudar atau berwarna putih salju) terjadi
akibat berbagai macam tekanan, baik
secara alami maupun karena manusia,
yang menyebabkan degenerasi atau
hilangnya zooxanthellae pewarna dari
jaringan karang (Brown et al.,1999).
Warna terumbu karang tergantung pada
alga Zooxanthellae yang menempel dan
bersimbiosis
dengannya.
Alga
Zooxanthellae
berfotosintesis
menghasilkan makanan bagi terumbu
karang, sementara terumbu karang
menyediakan tempat yang aman untuk
alga ini hidup
Zooxanthellae : alga kecil yang hidup di
jaringan karang

PENYEBAB PEMUTIHAN KARANG

Tingginya suhu air


laut yang tidak
normal
Kurangnya cahaya
Tingginya tingkat
kekeruhan dan
sedimentasi air
Penyakit
Kadar garam yang
tidak normal
Polusi

Pembangunan pesisir untuk perumahan, resort, hotel,


industri, pelabuhan dan pembangunan marina
Pengelolaan yang tidak berkelanjutan di daerah aliran
sungai, termasuk pengurangan lahan hutan, pertanian
yang buruk dan praktek pemanfaatan lahan yang buruk
Eksploitasi berlebihan
Kegiatan perikanan yang merusak, seperti memakai alat
peledak dan penggunaan jaring insang dan pukat
Kegiatan kapal dapat berdampak bagi terumbu melalui
tumpahan minyak dan pembuangan dari ballast kapal
Orang menginjak karang untuk mengumpulkan kerang
dan organisme lain di dataran terumbu karang atau di
daerah terumbu karang yang dangkal, dan penyelam
(diving maupun snorkel) berdiri diatas atau mengetukketuk terumbu karang.

PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU


KARANG
Pengelolaan
ekosistem terumbu
karang adalah suatu
proses pengontrolan
oleh manusia, agar
pemanfaatan
sumberdaya alam
dapat dilakukan
secara bijaksana
dengan
mengindahkan
kaidah kelestarian
lingkungan

PENGELOLAAN BERBASIS
MASYARAKAT
Pengelolaan terumbu karang berbasis-masyarakat adalah
pengelolaan secara kolaboratif antara masyarakat,
pemerintah setempat, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan
pihak-pihak terkait yang ada dalam masyarakat yang
bekerja sama dalam mengelola kawasan terumbu karang
yang sudah ditetapkan/disepakati bersama.
Tujuan dari pengelolaan terumbu karang berbasismasyarakat adalah untuk menjaga dan melindungi kawasan
ekosistem atau habitat terumbu karang supaya
keanekaragaman hayati dari kawasan ekosistem atau
habitat tersebut dapat dijaga dan dipelihara kelestariannya
dari kegiatan-kegiatan pengambilan atau perusakan

Langkah-langkah dalam pengelolaan sumberdaya terumbu


karang berbasis masyarakat adalah sebagai berikut
1. Komponen Input
Memasukkan unsur kebijakan
dalam hal pengelolaan sumber
daya di tingkat nasional dan lokal
2. Studi Awal Secara Partisipatif
Memberikan gambaran secara
menyeluruh tentang kondisi dan
bentuk pelaksanaan program
pengelolaan terumbu karang
berbasis masyarakat.
3. Peningkatan Kepedulian dan
Pengetahuan Masyarakat
Memberikan sosialisasi dan
mencari bentuk-bentuk yang
tepat bagi peningkatan
kepedulian dan pengetahuan

4. Penguatan Kelembagaan,
Kebijakan dan Peraturan
Kajian yang menganalisis
kekuatan, kelemahan,
peluang pengembangan/
pengurangan dari
kelembagaan dan
kebijakan serta peraturan
perundang-undangan yang
ada dalam rangka
menunjang kegiatan
pengelolaan terumbu
karang berbasis
masyarakat.

5. Penyusunan Rencana Pengelolaan


Sumberdaya Terumbu Karang
Berbasis Masyarakat
Dalam penyusunan rencana
pengelolaan terumbu karang berbasis
masyarakat diharapkan mampu
a. Meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya SDA
dalam menunjang kehidupan
mereka
b. Meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk berperan serta
dalam setiap tahapan-tahapan
pengelolaan secara terpadu
c. Meningkatkan pendapatan
(income) masyarakat dengan
bentuk pemanfaatan yang lestari
dan berkelanjutan serta
berwawasan lingkungan.

6. Implementasi Rencana
Dalam kegiatan implementasi tersebut,
kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan
adalah:
(a) integrasi ke dalam masyarakat
(b) pendidikan dan pelatihan
masyarakat
(c) memfasilitasi arah kebijakan
(d) penegakan hukum dan peraturan.
7. Monitoring
Tahap monitoring (pengawasan)
dilakukan mulai awal proses
implementasi rencana pengelolaan.
Pada tahap ini, monitoring dilakukan
untuk menjawab segenap pertanyaan
tentang efektivitas pengelolaan, atau
masalah lain yang terjadi yang tidak
sesuai dengan harapan yang ada pada
rencana pengelolaan.
8. Evaluasi
Evaluasi dilakukan terhadap segenap
masukan dan hasil pengamatan yang
dilakukan selama proses monitoring
berlangsung.

METODE PENELITIAN TERUMBU KARANG

Mengingat begitu pentingnya fungsi


terumbu karang baik secara ekologis
dan ekonomis, maka kondisinya
maupun perkembangannya dari
waktu ke waktu perlu selalu
dimonitoring dan perlu dilakukan
penilaian (assessment)
Monitoring: kegiatan pengambilan data
dan informasi pada ekosistem terumbu
karang atau pada manusia yang
memanfaatkan sumberdaya terumbu
karang tersebut. Terdapat tiga skala
monitoring yang digunakan dalam
penelitian:
Skala Luas
Skala Sedang
Skala Detil

ILUSTRASI SKALA MONITORING

METODE MONITORING SKALA LUAS


1.

Metode Manta Tow


Metode Manta Tow Suatu
teknik pengamatan kondisi
terumbu karang atau parameter
tertentu dengan cara menarik
pengamat yang memakai peralatan
dasar menyelam di belakang
perahu kecil bermesin melalui
sebuah tali dengan kecepatan
konstan untuk mencatat data
setiap waktu tertentu (misalnya
setiap 2 menit).

ILUSTRASI METODE MANTA TOW

Kelebihan
area luas dimonitor dalam waktu singkat
mudah dilakukan setelah pelatihan
sederhana
Peralatan murah
pengamat tidak akan kelelahan untuk
memonitor wilayah yang luas
sangat sesuai untuk mencari tempat
penelitian (site) dan menilai tipe terumbu
karang
Kekurangan
hewan-hewan yang biasa bersembunyi (cryptic)
gampang terlewati
monitoring dapat dilakukan pada lokasi di luar
terumbu secara tidak sengaja
peneliti sangat sulit mengingat bila terlalu
banyak variabel yang diamati
dapat dilakukan pada terumbu karang dangkal
saja
ketelitian sangat terbatas

2. Metode Timed Swim


Metode yang dikembangkan
untuk skala luas ataupun sedang.
Dengan metode ini, pengamat
berenang pada suatu kedalaman
dan kecepatan yang konstan

Kelebihan
Keakuratan lebih besar dibanding Manta Tow
Tidak memerlukan training khusus
Area yang luas dapat disurvei dalam waktu singkat
Sangat berguna untuk memperoleh daftar spesies
yang ada di suatu wilayah, murah, dan tidak
membutuhkan kapal.

selama waktu tertentu.


Informasi yang diperoleh dapat
berupa persentase penutupan
kategori komunitas benthik

dasar seperti karang keras,


karang lunak, makroalga, ikan
dan makro-invertebrata.

Kekurangan
Sangat melelahkan
Sulit dilakukan jika kawasan pengamatan sangat
luas
Subyektifitas pengamat dapat menyebabkan data
menjadi bias
Pengukuran hanya berdasarkan perkiraan, dan
tidak dapat mendeteksi perubahan yang kecil
dalam ekosistem.

METODE MONITORING SKALA


SEDANG
1. Point Intercept Transect
Metode ini adalah metode
transek yang paling sederhana.
Pengamat berenang sepanjang
transek garis dan mencatat
kategori bentik yang terletak
tepat dibawah transek pada
titik-titik tertentu (poin) di
sepanjang transek. Metode ini
digunakan untuk
mendapatkan data persen
tutupan komunitas bentik
dengan lebih akurat jika
dibanding dengan survey
manta dan survey snorkel.

Kelebihan
Daerah cakupan kecil
Waktu pengamatan tidak terlalu lama
Data kuantitatif dan lebih akurat
Mudah dipelajari bagi pemula

Kekurangan
Tidak dapat dilakukan untuk
mengambil data di tubir dan kawasan
bergua
Jumlah titik (poin) yang dibutuhkan
harus disesuaikan kondisi di lapangan
Tidak cocok untuk jenis-jenis yang
jarang ditemui
Informasi tentang ukuran koloni
karang tidak dapat diperoleh.

2. Line Intercept Transect


Metode LIT digunakan untuk menentukan besarnya persentase penutupan
masing-masing kategori komunitas benthik. Metode ini dapat digunakan secara
tersendiri maupun dengan mengkombinasikannya dengan metode lain seperti
Metode Kuadrat atau visual sensus ikan. Metode ini sangat direkomendasikan
oleh GCRMN untuk menentukan tujuan persentase penutupan dan ukuran koloni
pada monitoring di tingkat managemen (pengelola)
Kelebihan
Kategori lifeform memungkinkan
didapatkannya informasi yang berguna oleh
pengamat dengan pengetahuan terbatas
dalam identifikasi komunitas benthik
terumbu karang
Data kuantitatif sehingga lebih akurat
Metode sampling data yang gampang dan
efisien untuk memperoleh persentase
penutupan kuantitatif
Dapat menyajikan informasi secara detail
terhadap pola spasial
Dapat menyediakan informasi perubahan
temporal bisa mendapatkan ukuran koloni
karang,
Memerlukan peralatan minimal dan relatif
sederhana
Dapat mengukur kerapatan relatif
Dapat dikombinasikan dengan teknik
serupa, misalnya belt dan video transect
maupun sensus ikan dan informasi
mengenai ukuran koloni dapat diperoleh.

Kekurangan
Sangat sulit untuk standarisasi beberapa
ketegori lifeform di antara sejumlah
pengamat
Hanya terbatas pada data persentase
penutupan dan atau kelimpahan relatif
Pengamat harus penyelam yang baik
Tidak dapat digunakan untuk masalahmasalah demografi seperti pertumbuhan,
rekrutmen dan mortalitas
Tidak bagus digunakan untuk pendugaan
kuatitatif persentase penutupan spesies
yang jarang atau kecil
Memerlukan waktu yang lebih lama
sehingga biaya juga meningkat
Membutuhkan keahlian khusus sesuai
dengan tingkat presisi data dan informasi
yang diinginkan
Tidak bisa digunakan untuk biota yang
jarang ditemukan atau terlalu kecil.

METODE PEMANTAUAN SKALA DETIL


1.

Quadran
Metode ini termasuk
metode yang cukup
komprehensif dan
dapat digunakan untuk
mengamati berbagai
macam parameter.
Metode ini bertujuan
untuk mendapatkan
data yang
komprehensif dan
mendeteksi perubahan
yang kecil dalam
ekosistem.

Kelebihan
Dapat melihat perubahan kecil
Cocok untuk jenis-jenis yang
kecil, jarang, atau yang suka
bersembunyi
Informasi mendetil mulai dari
persentase tutupan,
kelimpahan, hingga frekuensi.
Kekurangan
Memakan banyak waktu
Penempatan kuadrat dapat
merusak karang jika tidak hatihati
Tidak cocok untuk biota yang
berukuran lebih dari 1 m.

2. Belt Transect
Secara umum metode ini digunakan untuk menggambarkan kondisi suatu
populasi makro-invertebrata tertentu di terumbu karang.
Metode ini dapat juga digunakan untuk menghitung populasi karang tertentu
seperti Fungia spp. dan karang-karang hias ataupun visual sensus untuk ikan.
Metode ini sudah sangat umum dan dikembangkan dengan baik oleh Reef
Check.
Dengan metode ini sepasang penyelam yang berenang sepanjang sabuk
(belt) dan menghitung kelimpahan kelompok invertebrate target, selain
kesehatan terumbu atau kerusakan secara fisik.
Kelebihan
Biaya yang murah, khususnya dengan
menggunakan tenaga sukarela
Proses pembelajaran dan membangkitkan
kepedulian
Memberikan gambaran global kesehatan
terumbu karang
Pengulangan survey dapat dilakukan sebagai
suatu program monitoring lokal.

Kekurangan
Secara idealnya pengulangan
dilakukan lebih dari 4 kali per
site dan lebih dari 4 kali survey
dilakukan dalam setahun
supaya data dapat
dibandingkan, dengan
demikian hal ini akan
menambah mahal biaya
operasional.

KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengelolaan yang berbasis
masyarakat adalah suatu system pengelolaan sumberdaya
alam dimana masyarakat lokal terlibat secara aktif dalam
proses pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung di
dalamnya. Pengelolaan disini meliputi berbagai dimensi
seperti perencanaan, pelaksanaan, serta pemanfaatan
hasil-hasilnya.
Metode penelitian terumbu karang terbagi menjadi 3
kategori yaitu metode monitoring skala luas yang terdiri
dari metode Manta Tow dan Timed Swim, Metode
monitoring skala sedang yang terdiri dari Point Intercept
Transect dan Line Intercept Transect, serta metode
pemantauan skala detil yang terdiri dari Quadran dan Belt
Transect.

Putri : Metode yang paling efektif dan biasa


digunakan dalam penelitian? Dari masingmasing skala
Desti (29): Penyakit dan pencegahan pada
pemutihan karang
Linda (76): Contoh pengelolaan terumbu karang
berbasis masyarakat di Indo (yang sudah
dilakukan) Wisata bunaken, mempengaruhi
biota bawah laut.