Anda di halaman 1dari 15

RADIOGRAPHY GIGI

Pembuatan Sinar X
Suatu tabung roentgen hampa udara

Terdapat elektron-elektron yang diarahkan dengan kecepatan tinggi pada suatu


sasaran(target).
Proses Terjadinya sinar x
1. Katode(filamen) dipanaskan (>2000C) sampai menyala dg mengaliri
listrik dari transformator
2. Karena panas, elektron-elektron dari katode terlepas
3. Sewaktu dihubungkan dg tranformator tegangan tinggi, elektron-elektron
akan dipercepat gerakannya menuju anode dan dipusatkan ke alat
pemusat (focusing cup)
4. Filamen dibuat relatif negatif terhadap target dengan memilih potensial
tinggi
5. Awan elektron mendadak dihentikan pada target dan terbentuk panas (>
99%) dan sinar X (< 1%)
6. Pelindung timah akan mencegah keluarnya sinar X dari tabung hanya
dapat keluar melalui jendela
7. Panas yang tinggi pada sasaran akibat benturan elektron ditiadakan oleh
radiator pendingi
Sifat sifat sinar X
1. Tidak dapat dilihat
2. Tidak dapat dibelokkan oleh medan magnet
3. Tidak dapat difokuskan oleh lensa apapun
4. Dapat diserap oleh timah hitam(Pb)
5. Dapat dibelokan setelah menembus logam atau benda padat.
6. Dapat difraksikan oleh unsur kristal tertentu
7. Mempunyai panjang gelombang sangat pendek
8. Mempunyai frekuensi gelombang yang tinggi
9. Mempunyai daya tembus yang sangat tinggi
10. Membutuhkan tegangan listrik yang tinggi untuk proses terjadinya
11. Dapat menimbulkan efek biologik sebagai akibat radiasi ionisasi
12. Dapat menimbulkan fluoresensi pada karton/plastik yang dilapisi bubuk
halida perak
13. Dapat bereaksi dengan film yang digunakan untuk
roentgenodiagnosa,karena timbul gambar dari objek yang dieksposi.
14. Dapat menstimulasi sel-sel muda dari organ tubuh hidup
15. Dapat menyebabkan nekrotik pada jaringan tubuh hidup
16. Dapat memutasikan sel-sel gonad
17. Dapat menimbulkan sindrom prodormal dari sisem saluran pencernaan
18. Dapat menimbulkan sindrom susunan syaraf pusat
19. Dapat menimbulkan kelainan sel darah,antara lain anemia(Hb sangat
rendah) trombositopenia,leukositosis,leukimia dan seterusnya.
Peralatan Dental Radiography meliputi :
1. Unit sinar X
2. Film

3.
4.
5.
6.
7.

Unit Prosesing
Larutan prosesing film
Unit pengering film
Radiography protection system
Viewer

efek Radiasi Sinar X


Sifat sinar x yang berbahaya terutama pada yang terkena radiasi baik makhluk
hidup maupun lingkungan,sebagai efek lanjut dari pengaruh radiasi ionisasi
terhadap jaringan dan keadaan lingkungan tersebut.
Secara umum,perubahan jaringan atau sel terkena radiasi ionisasi sinar X
sebagai akibat terurainya ion-ion air (akibat ionisasi) adanya rekomendasi
dengan terbentuknya molekul air dan terbentuknya peroksida yang merupakan
racun dalam jaringan atau sel,serta pula terbentuknya ion bebas hidrogen yang
akan menimbulkan reaksi kimiawi dan perubahan biokimia pada jaringan sel
tersebut.
Radiasi sinar X dapat menimbulkan perubahan2 di dalam tubuh antara lain :
1. Biokimia cairan tubuh
2. Biokimia sel
3. Biokimia jaringan
4. Biokimia organ
Hal ini akan mengakibatkan timbulnya keluhan,gejala klinis bahkan kematian
sel,jaringan dan organ tersebut.
Efek biologi yang terjadi ,mula-mula berupa absorbsi radiasi sampai timbulnya
gejala radiasi,keadaan ini memerlukan waktu bertahun-tahun.Masa atau waktu
tersebut disebut periode latent.Periode latent terjadi sebagai akibat efek biologi
kumulatif.
Gigi
Pada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu :
Efek radiasi langsung
Efek radiasi langsung terjadi paling dini dari benih gigi,berupa gangguan
kalsifikasi benih gigi,gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan erupsi
gigi.
Efek radiasi tak langsung
Efek radiasi tak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi normal
berada dalam rongga mulut,kemudian terkena radiasi ionisasi,maka akan terlihat
kelainan gigi tersebut misalnya ada karies radiasi.Biasanya karies radiasi terjadi
pada beberapa gigi bahkan seluruh regio yang terkena pancaran sinar
radiasi,keadaan ini disebut rampan karies radiasi,yang terjadi setelah
mengabsorbsi dosis radiasi 5.000R.
Kelenjar Liur
Radiasi ionisasi yang terjadi pada kelenjar liur dengan dosis radiasi sekitar
3.000R akan menimbulkan gangguan sekresi air liur,hal ini menyebabkan rongga
mulut terasa kering disebut xerostomia.
Tingkat perubahan kelenjar liur setelah radiasi
Untuk beberapa hari terjadi radang kelenjar liur,setelah satu minggu terjadi
penyusutan parensim sehingga terjadi pengecilan kelenjar liur,ada

penyumbatan.Terjadi penurunan sekresi air liur dan viskositasnya lebih


kental,warna air liu akan berubah kekuningan dan coklat.Phnya turun lebih
asam.
Lidah
Radiasi ionisasi pada lidah,menyebabkan pecahnya papila filiformis dan
fungiformis
Bibir,jaringan ikat di dalam mulut dan pipi
Setiap sel jaringan ikat yang terkena radiasi ionisasi akan mengalami
perubahan,antara lain :
Pecahnya kromosom

Pecahnya vakuola didalam inti sel

Pecahnya sitoplasma

Prubahan tersebut terjadi terus menerus sedangkan mitosis sel juga


terjadi.Perubahan tersebut mengakibatkan sel mitosis tidak normal dan
pembentukan sel-sel besar atau sel raksasa.Radiasi lebih lanjut akan
mengakibatkan terjadinya kematian jaringan tersebut (nekrotik).Pada beberapa
literatur radiasi tersebut dapat menyembuhkan kanker tetapi dapat menyebabkan
kanker.Kanker mulut kadang-kadang terjadi sebagai akibat pengobatan dengan
radiasi(radioterapi) dengan dosis radiasi sekitar 5000-7000 Rad.
Daerah leher
Bila daerah leher terkena radiasi,yang menderita radiasi ionisasi adalah kelenjar
tiroid.Dosis rendah yang terserap kelenjar tiroid lebih kecil dari 6,5 rad tidak
mengakibatkan kelainan,tetapi bila dosis radiasi tersersp jauh lebih tinggi,akan
mengakibatkan stimulasi sel kelenjar tiroid serta kanker tiroid. (Lukman, 1990)
Satuan dari Radiasi
3.1 Mengetahui prosesing film
Tahapan pengolahan film secara konvensional terdiri dari pembangkitan
(developing), pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan
pengeringan (drying).
A. Developing ( Pembangkitan )
Pembangkitan merupakan langkah pertama dalam memproses film. Suatu
larutan kimia yang dikenal sebagai larutan pengembang atau developer
digunakan dalam proses pembangkitan. Tujuan dari developer atau pengembang
adalah mengurangi paparan, energi Kristal perak halida kimia ke perak hitam
metalik. Larutan pengembang ini melembutkan emulsi film selama proses ini
a. Sifat dasar
Pembangkitan merupakan tahap pertama dalam pengolahan film. Pada tahap ini
perubahan terjadi sebagai hasil dari penyinaran. Dan yang disebut pembangkitan
adalah perubahan butir-butir perak halida di dalam emulsi yang telah mendapat
penyinaran menjadi perak metalik atau perubahan dari bayangan laten menjadi
bayangan tampak. Sementara butiran perak halida yang tidak mendapat
penyinaran tidak akan terjadi perubahan.
Perubahan menjadi perak metalik ini berperan dalam penghitaman bagian-

bagian yang terkena cahaya sinar-X sesuai dengan intensitas cahaya yang
diterima oleh film.Sedangkan yang tidak mendapat penyinaran akan tetap
bening. Dari perubahan butiran perak halida inilah akan terbentuk bayangan
laten pada film.
b. Bayangan laten (latent image)
Emulsi film radiografi terdiri dari ion perak positif dan ion bromida negative (AgBr)
yang tersusun bersama di dalam kisi kristal (cristal lattice). Ketika film
mendapatkan eksposi sinar-X maka cahaya akan berinteraksi dengan ion
bromide yang menyebabkan terlepasnya ikatan elektron. Elektron ini akan
bergerak dengan cepat kemudian akan tersimpan di daiam bintik kepekaan
(sensitivity speck) sehingga bermuatan negatif.
Kemudian bintik kepekaan ini akan menarik ion perak positif yang bergerak
bebas untuk masuk ke dalamnya lalu menetralkan ion perak positif menjadi
perak berwarna hitam atau perak metalik. Maka terjadilah bayangan laten yang
gambarannya bersifat tidak tampak.
c. Larutan developer terdiri dari:
i. bahan pelarut (solvent)
Bahan yang dipergunakan sebagai pelarut adalah air bersih yang tidak
mengandung mineral.
ii. Bahan pembangkit (developing agent).
Bahan pembangkit adalah bahan yang dapat mengubah perak halida menjadi
perak metalik. Di dalam lembaran film, bahan pembangkit ini akan bereaksi
dengan memberikan elektron kepada kristal perak bromida untuk menetralisir ion
perak sehingga kristal perak halida yang tadinya telah terkena penyinaran
menjadi perak metalik berwarna hitam, tanpa mempengaruhi kristal yang tidak
terkena penyinaran. Bahan yang biasa digunakan adalah jenis benzena (C6H6).
iii. Bahan pemercepat (accelerator).
Bahan developer membutuhkan media alkali (basa) supaya emulsi pada film
mudah membengkak dan mudah diterobos oleh bahan pembangkit (mudah
diaktifkan). Bahan yang mengandung alkali ini disebut bahan pemercepat yang
biasanya terdapat pada bahan seperti potasium karbonat (Na2CO3 / K2CO3)
atau potasium hidroksida (NaOH / KOH) yang mempunyai sifat dapat larut dalam
air.
iv. Bahan penahan (restrainer).
Fungsi bahan penahan adalah untuk mengendalikan aksi reduksi bahan
pembangkit terhadap kristal yang tidak tereksposi, sehingga tidak terjadi kabut
(fog) pada bayangan film. Bahan yang sering digunakan adalah kalium bromida.
v. Bahan penangkal (preservatif).
Bahan penangkal berfungsi untuk mengontrol laju oksidasi bahan pembangkit.
Bahan pembangkit mudah teroksidasi karena mengabsorbsi oksigen dari udara.
Namun bahan penangkal ini tidak menghentikan sepenuhnya proses oksidasi,
hanya mengurangi laju oksidasi dan meminimalkan efek yang ditimbulkannya.
vi. Bahan-bahan tambahan.
Selain dari bahan-bahan dasar, cairan pembangkit mengandung pula bahanbahan tambahan seperti bahan penyangga (buffer) dan bahan pengeras
(hardening agent). Fungsi dari bahan penyangga adalah untuk mempertahankan
pH cairan sehingga aktivitas cairan pembangkit relatif konstan. Sedangkan
fungsi dari bahan pengeras adalah untuk mengeraskan emulsi film yang

diproses.
B. Rinsing (Pembilasan)
Setelah proses pembangkitan, rendaman air digunakan untuk mencuci atau
membilas film. Pembilasan digunakan untuk menghilangkan developer atau
pengembang dari film dan memberhentikan proses pengembangan. Pada waktu
film dipindahkan dari tangki cairan pembangkit, sejumlah cairan pembangkit
akan terbawa pada permukaan film dan juga di dalam emulsi filmnya.
Cairan pembilas akan membersihkan film dari larutan pembangkit agar tidak
terbawa ke dalam proses selanjutnya.Cairan pembangkit yang tersisa masih
memungkinkan berlanjutnya proses pembangkitan walaupun film telah
dikeluarkan dari larutan pembangkit. Apabila pembangkitan masih terjadi pada
proses penetapan maka akan membentuk kabut dikroik (dichroic fog) sehingga
foto hasil tidak memuaskan.Proses yang terjadi pada cairan pembilas yaitu
memperlambat aksi pembangkitan dengan membuang cairan pembangkit dari
permukaan film dengan cara merendamnya ke dalam air. Pembilasan ini harus
dilakukan dengan air yang mengalir selama 5 detik.
C. Fixing (Penetapan)
Setelah proses pembilasan, difiksasi. Suatu larutan kimia yang dikenal sebagai
fiksator digunakan dalam proses fiksasi. Tujuan dari fiksator adalah untuk
menghilangkan Kristal perak halida yang tidak terpapar dan terkena energi
emulsi film. Fiksator menguatkan emulsi film selama proses ini.
Diperlukan untuk menetapkan dan membuat gambaran menjadi permanen
dengan menghilangkan perak halida yang tidak terkena sinar-X. Tanpa
mengubah gambaran perak metalik. Perak halida dihilangkan dengan cara
mengubahnya menjadi perak komplek. Senyawa tersebut bersifat larut dalam air
kemudian selanjutnya akan dihilangkan pada tahap pencucian.
Tujuan dari tahap penetapan ini adalah untuk menghentikan aksi lanjutan yang
dilakukan oleh cairan pembangkit yang terserap oleh emulsi film. Pada proses ini
juga diperlukan adanya pengerasan untuk memberikan perlindungan terhadap
kerusakan dan untuk mengendalikan akibat penyerapan uap air.
Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat suatu cairan penetap adalah:
a. Bahan penetap (fixing agent).
Dipilih bahan yang berfungsi mengubah perak halida. Bahan ini bersifat dapat
bereaksi dengan perak halida dan membentuk komponen perak yang larut dalam
air, tidak merusak gelatin, dan tidak memberikan efek terhadap bayangan perak
metalik. Bahan yang umum digunakan adalah natrium thiosulfat (Na2S2O3) yang
dikenal dengan nama hypo.
b. Bahan pemercepat (accelerator).
Untuk menghindari kabut dikroik dan timbulnya noda kecoklatan, biasanya
digunakan asam yang sesuai. Karena pembangkit memerlukan basa dalam
menjalankan aksinya, maka tingkat keasaman cairan penetap akan
menghentikan aksinya.
Asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) akan merusak bahan penetap dan
mengendapkan sulfur
c. Bahan penangkal (preservatif).
Untuk menghindari adanya pengendapan sulfur maka pada cairan penetap
ditambahkan bahan penangkal yang akan melarutkan kembali sulfur tersebut.
Bahan penangkal yang digunakan adalah natrium sulfit, natrium metabisulfit,

atau kalium metabisulfit.


d. Balian pengeras (hardener)
Bahan ini digunakan untuk mencegah pembengkakan emulsi film yang
berlebihan. Pembengkakan emulsi akan membuat perak bromida mudah
terkelupas dan pengeringan film yang tidak merata. Bahan yang digunakan
biasanya adalah potassium alum [K2SO4Al3(SO4)2H2O], aluminium sulfat
[Al2(SO4) 3].
e. Bahan penyangga (buffer).
Digunakan untuk mempertahankan pH cairan agar dapat tetap terjaga pada nilai
4 5. Bahan yang digunakan adalah pasangan antara asam asetat dengan
natrium asetat, atau pasangan natrium sulfit dengan natrium bisulfit.
f. Pelarut (solvent).
Pelarut yang ummn digunakan adalah air bersih.
D.Washing (Pencucian)
Setelah film menjalani proses penetapan maka akan terbentuk perak komplek
dan garam. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut
dalam air. Tahap ini sebaiknya dilakukan dengan air mengalir agar dan air yang
digunakan selalu dalam keadaan bersih.
E. Drying (Pengeringan)
Merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah
untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses
pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu,
endapan kristal, noda, dan artefak.
Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah
dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara,
kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.
Teknik prosesing film yg lain yaitu
1. MANUAL
a. dengan dark room ;
1) Metode visual
2) Metode temperatur dan waktu
b. Tanpa dark room (self processing)
2. OTOMATIS
dg film processing otomatics machine
Cara kerja dari metode visual
R Film dibuka di kamar gelap
R Lakukan developing dalam developer diangkat diamati (diulang)
sampai film hijau (putih dan hitam)
R Cuci dlm air tenang sampai bersih (20 detik)
R Fixing dalam fikser sampai radiograf jernih
R Cuci dalam air mengalir sampai bau asam hilang
R Radiograf dikeringkan
KEUNTUNGAN METODE VISUAL
-detail dan kontras lebih baik walupun exposure bervariasi:

-Film over-exposure Under-developing


- Film under-exposure over-developing
Cara kerja metode temperatur dan waktu
R Film dibuka di kamar gelap
R Masukkan film kedalam developer sesuai dengan waktu dan temepratur yang
telah ditentukan,
KEUNTUNGAN METODE TEMPERATUR DAN WAKTU
Tidak perlu pengamatan berkali-kali ada alarm

Dapat memperkirakan jumlah exposure

Dapat mengerjakan banyak film


KERUGIAN METODE TEMPERATUR DAN WAKTU
Kontras dan detail radiograf kurang baik
Cara kerja metode self prosesing
Larutan prosesing sudah mengandung developer dan fixer dalam satu larutan
(MONOBATH) Dsuntikkan kedalam film packet yang sudah di exposure
dibuka dan dicuci dengan air mengalir dikeringkan
Cara kerja otomatis prosesing
Film dimasukkan kedalam alat (prosesor otomatis) yang berisi developer dan
fixer. Film secara otomatis akan berjalan melewati kedua larutan tersebut dan
keluar dari alat sudah dalam keadaan kering.
3.2 Mengetahui alat dan cara pemaparan radasi
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak
yang selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan
kualitas dari produk yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan
menggunakan sumber radiasi (sinar-x atau sinar gamma) sebagai media
pemeriksa dan film sebagai perekam gambar yang dihasilkan. Radiasi melewati
benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji.
Sinar yang akan diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan
pada bagian belakang dari benda uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar
gelap maka film tersebut dapat dievaluasi. Bila terdapat cacad pada benda uji
maka akan diamati pada film radiografi dengan melihat perbedaan kehitaman
atau densitas. Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada ketebalan benda
yang diperlukan karena daya tembus sinar gamma terhadap material berbeda. P
ada sumber pemancar sinar gamma tergantung besar aktivitas sumber.
Sedangkan pemilihan tipe film sangat mempengaruhi pemeriksaan kualitas
material. Film digunakan untuk merekam gambar material yangdiperiksa.
Pemilihan tipe film yang benar akan menghasilkan kualitas hasil radiografi yang
sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film, yaitu film
cepat dan film lambat. Pada film cepatbutir-butirannya besar, kekontrasan dan
definisinya kurang baik. Sedangkan pada film lambat butir- butirannya kecil,

JENIS-JENIS FOTO RONTGEN GIGI

Teknik Rontgen Intra oral


Teknik radiografi intra oral adalah pemeriksaan gigi dan jaringan sekitar secara
radiografi dan filmnya ditempatkan di dalam mulut pasien. Untuk mendapatkan
gambaran lengkap rongga mulut yang terdiri dari 32 gigi diperlukan kurang lebih
14 sampai 19 foto. Ada tiga pemeriksaan radiografi intra oral yaitu: pemeriksaan
periapikal, interproksimal, dan oklusal.
Teknik Rontgen Periapikal
Teknik ini digunakan untuk melihat keseluruhan mahkota serta akar gigi dan
tulang pendukungnya. Ada dua teknik pemotretan yang digunakan untuk
memperoleh foto periapikal yaitu teknik parallel dan bisektris, yang sering
digunakan di RSGM adalah teknik bisektris.
Teknik Bite Wing
Teknik ini digunakan untuk melihat mahkota gigi rahang atas dan rahang bawah
daerah anterior dan posterior sehingga dapat digunakan untuk melihat permukan
gigi yang berdekatan dan puncak tulang alveolar. Teknik pemotretannya yaitu
pasien dapat menggigit sayap dari film untuk stabilisasi film di dalam mulut.
Teknik Rontgen Oklusal
Teknik ini digunakan untuk melihat area yang luas baik pada rahang atas
maupun rahang bawah dalam satu film. Film yang digunakan adalah film oklusal.
Teknik pemotretannya yaitu pasien diinstruksikan untuk mengoklusikan atau
menggigit bagian dari film tersebut.
Teknik Rontgen Ekstra Oral
Foto Rontgen ekstra oral digunakan untuk melihat area yang luas pada rahang
dan tengkorak, film yang digunakan diletakkan di luar mulut. Foto Rontgen ekstra
oral yang paling umum dan paling sering digunakan adalah foto Rontgen
panoramik, sedangkan contoh foto Rontgen ekstra oral lainnya adalah foto
lateral, foto antero posterior, foto postero anterior, foto cephalometri, proyeksiWaters, proyeksi reverse-Towne, proyeksi Submentovertex
Teknik Rontgen Panoramik
Foto panoramik merupakan foto Rontgen ekstra oral yang menghasilkan
gambaran yang memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila
beserta struktur pendukungnya. Foto Rontgen ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi
geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma.
Teknik Lateral
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan sekitar lateral tulang muka,
diagnosa fraktur dan keadaan patologis tulang tengkorak dan muka.

Teknik Postero Anterior


Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma, atau
kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Foto Rontgen ini juga
dapat
memberikan gambaran struktur wajah, antara lain sinus frontalis dan ethmoidalis,
fossanasalis, dan orbita.
Teknik Antero Posterior
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat kelainan pada bagian depan maksila
dan mandibula, gambaran sinus frontalis, sinus ethmoidalis, serta tulang hidung.
Teknik Cephalometri
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat trauma
penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat
digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan
palatum keras.
Proyeksi Waters
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat sinus maksilaris, sinus ethmoidalis,
sinus frontalis, sinus orbita, sutura zigomatiko frontalis, dan rongga nasal.
Proyeksi Reverse-Towne
Foto Rontgen ini digunakan untuk pasien yang kondilusnya mengalami
perpindahan tempat dan juga dapat digunakan untuk melihat dinding postero
lateral pada maksila.
Proyeksi Submentovertex
Foto ini bisa digunakan untuk melihat dasar tengkorak, posisi kondilus, sinus
sphenoidalis, lengkung mandibula, dinding lateral sinus maksila, dan arcus
zigomatikus.
ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PROSESING FILM

1. DARK ROOM
Tempat memproses film sampai terjadi gambar yang siap untuk dibaca
PERSYARATAN:
Ukuran memadai ~kapasitas, beban kerja
Terlindung (radiasi, sinar matahari,bahan kimia lain selain
bahan prosesing film)
ada sirkulasi udara
Air bersih
Safe light (cukup lampu merah atau hijau 5 watt)
DARK ROOM TERDIRI DARI:
Wet side

- bak berisi air mengalir


- Tangki pembangkit/pengembang (developer tank)
- Tangki penetap (fixer tank)
dry side
@ Almari untuk penyimpan
- Film
- Kaset
-dll
@ Film hanger
2. FILM PROSESING TANK
3. FILM PROCESSING SOLUTION
Developing solution
- Natrium Karbonat akselerator developer, menjaga developer tetap basa
-Kalium Bromide reduksi kristal yg tidak tertembus x-ray, mencegah kabut film
-Natrium sulfit (preservative) mencegah oksidasi zat pereduks
- Air pelarut
-Metol (elon) ; pereduksi timbulkan detail gambar
-Hiroquinone(pereduksi) kontras yg baik
Fixing solution
Bersifat asam Menghilangkan developerMengandung:
- Natrium tiosulfat melarutkan AgBr yg tidak larut dlm developing
-Asam asetat netralisir sisa developer pd film
-Natrium sulfit mencegah zat fixing terurai dlm asam asetat(mencegah
pengendapan)
-Kalium alum (boraks) mengeraskan gelatin pada emulsi film gambaran tahan
lama
-Air pelarut
3.3 Mengetahui evaluasi dari hasil prosesing film
Kegagalan dalam processing film bisa terjadi oleh beberapa alasan di antranya:
Time and temperature errors
Pengaturan waktu dalam processing film harus diperhatikan, seperti contoh
dalam FIXING, yang menurut ketentuan harus dilakukan selama 4-15 menit. Jika
kurang dari penetapan waktu tersebut maka hasil film akan mudah kabur dalam
jangka waktu pendek. Sedangkan pabila melebihi batasan waktu, maka gambar
pada film akan hilang. Sedangkan pengaturan temperature di gunakan dalam
processing film dengan metode Time and Temperature.
Chemical contamination errors
Bahan-bahan kimia yang mencampuri dalam processing film dapat
mengakibatkan hasil film yang buruk. Seperti bila ada senyawa AgBr, yang masih
tertinggal pada film maka hasil film pada nantinya akan terlihat buram
Film handling errors
Pemegangang pada film diperbolehkan saat memastikan bahawa film tersebut
sudah benar benar kering. Karena kalau tidak akan tercetak jari jari kita pada
film, bisa juga timbul bercak bercak yang akan mengganggu dari hasil FILM itu
sendiri.
Lighting errors

Tidak diperbolehkan untuk menggunakan warna lampu yang berwarna putih, dan
jarak antara penerangan denganworking area tidak boleh terlalu dekat, minimum
4 kaki. Bila hal ini tidak diperhatikan maka hasil pada film akan terlihat seperti
berkabut (fogged)

ARTEFACT RADIOGRAFI:
Struktur atau gambaran yang tidak normal ada/tampak dlm radiograf ; pada
obyek yg difoto tidak ada
SEBAB:
Defect pada film atau film packet
Improper handling of the film packet
Accidental incidental to processing of the film
Radiographic technical error
1. RADIOGRAF DENGAN GORESAN RADIOLUSEN
SEBAB : r Film tergores kuku atau benda lainnya
r film tertekuk / kerutan film
r goresan penjepit film yg terkontaminasi developer yg pekat
r pecikan larutan developer
2. RADIOGRAF DENGAN CAP JARI
SEBAB : Memegang film dengan jari yang basah atau berkeringan
3. RADIOGRAF DENGAN GAMBAR JARING/POLA ALUR BAN
SEBAB : penempatan film terbalik
4. NODA PUTIH PADA RADIOGRAF
SEBAB : artifak larutan fiksasi
emulsi tergores
Benda/obyek radiopak tertanam dalam jaringan
Benda/obyek radiopak pada cone
5. RETIKULASI PADA RADIOGRAF
SEBAB ; Perbedaan suhu yang tajam antara larutan developing dan air
pencuci
6. RADIOGRAF TIDAK LENGKAP
SEBAB : r Film kontak dengan hanger, sisi bak pencuci atau kontak dengan
film lain selama proses pengembangan
r penempatan film kurang tepat (kurang ke apikal; terlalu ke apikal)
r Sebagian film tidak masuk dalam larutan pengembang
r Kegagalan penempatan film sejajar dataran oklusal
r Angulasi vertikal terlalu kecil c pemanjangan
7. RADIOGRAF TERLALU PUTIH
SEBAB: r Underexposure
r waktu developing terlalu singkat
r Temperatur developer rendah
r Konsentrasi developer lemah
r larutan developer terlalu dingin, kadaluarsa, kotor atau
tercampur satu sama lain
r Kualitas film jelek
r Voltage dan mA kurang
Efek Radiasi pada Membran Mukosa Mulut

Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan


mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut. Akibatnya dalam keadaan akut
akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa
pasien sebagai nyeri pada saat menelan, mulut kering dan hilangnya cita rasa
(taste). Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada
mukosa lidah serta palatum.
Efek Radiasi pada Gigi
Gigi yang telah erupsi cenderung mengalami kerukan akibat radiasi daerah
rongga mulut, meskipun kerusakannya baru tampak setelah beberapa tahun
setelah radiasi. Manifestasi kerusakan berupa destruksi substansi gigi yang
disebut karies radiasi dan dimulai pada servikal gigi. Lesi berupa demineralisasi
yang lebih daripada karies pada umumnya, dengan pola melintas gigi dan
menyebabkan kerusakan mahkota gigi pada daerah servikal.
Kerusakan jaringan keras gigi (email, dentin, sementum) mengakibatkan karies
gigi. Secara radiografi daerah karies bersifat radiolusen bila dibandingkan
dengan email atau dentin. Hal ini penting bagi pendiagnosa untuk melihat
radiografi dalam situasi pengamatan yang tepat dengan pandangan yang jelas
agar dapat membedakan antara restorasi dan anatomi gigi yang normal. Pada
gigi terjadi dua efek radiasi yaitu efek radiasi secara langsung dan tidak
langsung.
a. Efek Radiasi Langsung
Efek radiasi ini terjadi paling dini dari benih gigi, berupa gangguan kalsifikasi
benih gigi, gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan erupsi gigi.
b. Efek Radiasi tidak Langsung
Efek radiasi tidak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi
normal berada dalam rongga mulut, kemudian terkena radiasi ionosasi, maka
akan terlihat kelainan gigi tersebut misalnya adanya karies radiasi. Biasanya
karies radiasi pada beberapa gigi bahkan seluruh region yang terkena pancaran
sinar radiasi, keadaan ini disebut rampan karies radiasi. Radiasi karies
merupakan bentuk rampan dari kerusakan gigi yang dapat terjadi pada tiap
individu yang mendapatkan radioterapi termasuk penyinaran dari glandula saliva.
Lesi karies dihasilkan dari perubahan glandula salivarius.
Penurunan arus, peningkatan pH, penurunan kapasitas buffer karena adanya
perubahan elektrolit dan peningkatan viskositas. Saliva normal dapat menurun
dan akumulasi debris yang cepat karena tidak adanya tindakan pembersihan.
Karies sekunder yang disebabkan radiasi memiliki bentuk jelas yang merata
pada cement enamel junction (CEJ) dari permukaan bukolabial, merupakan
lokasi yang biasanya tahan terhadap karies.
Permukaan bukal dan lingual sering Nampak warna putih atau opak karena
terjadi demineralisasi dari email. Daerah ini terjadi demineralisasi bila saliva
menjadi asam dan kehilangan suplai mineral yang secara normal mengisi ion
negative berubah, permukaan lembut, kehailangan translusensi dan sering
fraktur, menyebabkan erosi, membuat dentin menjadi terbuka.
Efek Radiasi pada Tulang
Perawatan kanker pada daerah mulut sering dialkukan penyinaran termasuk
pada mandibula. Kerusakan primer pada tulang disebabkan oleh penyinaran yan

mengakibatkan rusaknya pembuluh darah periosteum dan tulang kortikal, yang


dalam keadaan normalnya sudah tipis. Radiasi juga dapat merusak osteoblas
dan osteoklas. Jaringan sumsusm tulang menjadi hipovaskular, hipoxik, dan
hiposelular.
Sebagai tambahan, endosteum menjadi terjadi atrofi pada endosteum
menunjukkan berkurangnya aktifitas osteoblas dan osteoklas, dan beberapa
lacuna pada tulang yang kompak tampak kosong, hal tersebut merupakan
indikasi terjadinya nekrosis. Derajat mineralisasi menjadi berkurang, memicu
terjadinya kerapuhan, aytau perubahandari tulang yang normal. Jika keadaan ini
bertambah parah tulang akan mangalami kematian, kondisi seperti ini disebut
osteoradionecrosis.
Efek Radiasi pada Pulpa
Apoptosis adalah mekanisme biologis yang merupakan jenis kematian sel yang
terprogram, yang dapat terjadi pada kondisi fisiologis maupun patologis.
Apoptosis digunakan oleh organism multi sel untuk membuang sel yang sudah
tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis umumnya berlangsung seumur hidup dan
bersifat menguntungkan bagi tubuh.
Apoptosis dapat terjadi selama selama perkembangan, sebagai mekanisme
homeostatis untuk menjaga atau memelihara populasi sel dalam jaringan,
sebagai mekanisme pertahanan jika sel rusak oleh suatu penyakit atau bahan
racun pada proses penuaan.
Apoptosis pada jaringan fibroral pulpa dapat terjadi akibat dosis radiasi yang
diterima selama terapi radiasi adalah 200 rad sehingga apoptosis pada sel
fibrolas pulpa meningkat pulpa sehingga selain sel sel fibrolas, sel-sel lain juga
turut mati akibat efek radiasi. Dikarenakan sel fibrolas merupakan sel terbanyak
yang ada di pulpa dengan fungsi sebagai menjaga integritas dan vitalitas pulpa
berupa membentuk dan mempertahankan matriks jaringan pulpa dengan
membentuk ground substance dan serat kolagen sehingga apoptosis pada sel
fibrolas pulpa menjadi proses awal terjadinya karies radiasi.
Selain itu, Interaksi radiasi pengion dengan meteri biologic diawali dengan
interaksdi fisika yaitu, proses ionisasi. Elektron yang dihasilkan dari proses
ionisasi akan berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung bila penyerapan energi langsung terjadi pada molekul organik dalam
sel yang mempunyai arti penting, seperti DNA. Sedangkan interaksi secara tidak
langsung bila terlebih dahulu terjadi interaksi radiasi dengan molekul air dalam
sel yang efeknya kemudian akan mengenai molekul organik penting. Mengingat
sekitar 80% dari tubuh manusia terdiri dari air, maka sebagian besar interaksi
radiasi dalam tubuh terjadi secara tidak langsung.
A. Radiasi dengan Molekul Air (Radiolisis Air)
Penyerapan energi radiasi oleh molekul air dalam proses radiolisis air akan
menghasilkan radikal bebas (H* dan OH*) yang tidak stabil serta sangat reaktif
dan toksik terhadap molekul organik vital tubuh.
B. Radiasi dengan DNA..
Interaksi radiasi dengan DNA dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur
molekul gula atau basa, putusnya ikatan hydrogen antar basa, hilangnya basa
dan lainnya. Kerusakan yang lebih parah adalah putusnya salah satu untai DNA
yang disebut single strand break, atau putusnya kedua untai DNA yang disebut
double strand breaks
C. Radiasi dengan Kromosom.

Sebuah kromosom terdiri dari dua lengan yang dihubungkan satu sama lain
dengan suatu penyempitan yang disebut sentromer. Radiasi dapat menyebabkan
perubahan baik pada jumlah maupun struktur kromosom yang disebut aberasi
kromosom. Perubahan jumlah kromosom, misalnya menjadi 47 buah pada sel
somatic yang memungkinkan timbulnya kelainan genetic. Kerusakan struktur
kromosom berupa patahnya lengan kromosom terjadi secara acak dengan
peluang yang semakin besar dengan meningkatnya dosis radiasi.
DOSIS DAN EFEK SOMATIK RADIASI
1. Dosis lemah/rendah: 0 50 rad
a. 0-25 rad
tidak ada efek,mungkin tidak ada delayed effect
b. 25-50 rad
efek tidak ada/sedikit perubahan susunan darah,
mungkin ada delayed effect
2. Dosis sedang
: 50-200 rad
a. 50-100 rad
badan lemas/mual, perpendekan umur, perubahan
susunan darah delayed recovery
b. 100-200 rad
mual dan muntah 24 jam setelah radiasi, nafsu
makan kurang, lemas, suara serak, diare, epilepsi,
kerontokan rambut
3. Dosis semi letal
: 200-400 rad
- mual, mutah dalam 1-2 jam setelah radiasi
- epilepsi
- nafsu makan berkurang
- panas dan lemas
- pada minggu ke-3: radang mulut/tenggorok
- Pada minggu ke-4 : pucat, perdarahan hidung, diar
4. Dosis letal : 400-600 rad
- 1-2 Jam : mual muntah
- akhir minggu ke-1: radang mulut/tenggorokan

BAB IV. KESIMPULAN


1. Teknik prosesing film yg lain yaitu
MANUAL
a. dengan dark room ;
1) Metode visual
2) Metode temperatur dan waktu
b. Tanpa dark room (self processing)
OTOMATIS

dg film processing otomatics machine


Tahapan pengolahan film secara mannual terdiri dari pembangkitan (developing),
pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan pengeringan
(drying).
2. JENIS-JENIS FOTO RONTGEN GIGI
Teknik Rontgen Ekstra Oral
Teknik Rontgen Panoramik
Teknik Rontgen Oklusal
Teknik Bite Wing
Teknik Rontgen Periapikal
Teknik Rontgen Intra oral
Teknik Lateral
Teknik Postero Anterior
Teknik Antero Posterior
Teknik Cephalometri
3.Kegagalan dalam processing film bisa terjadi oleh beberapa alasan di antranya
Time and temperature errors
Chemical contamination errors
Film handling errors
Lighting errors
4.efek radiasi
Efek radiasi pada manusia merupakan hasil dari rangkaian proses fisik dan kimia
yang terjadi segera setelah terpapar (10-15 detik), kemudian diikuti dengan
proses biologic dalam tubuh. Proses biologic meliputi rangkaian perubahan pada
tingkat molekuler, seluler, jaringan dan tubuh.
Konsekuensi yang timbul dapat berupa kematian sel atau perubahan pada sel.
Bergantung pada dosis radiasi yang diterima tubuh. Pada paparan akut dosis
relative tinggi, efek yang timbul merupakan hasil kematian dari sel yang dapat
menyebabkan gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian.
*laporan tutorial kelompok enam*
DAFTAR PUSTAKA
Copyright 2003, Elsevier Science (USA). Produced in the United States of
America
OBrien, Richard C. 1982. Dental Radiography: An Introduction for Dental
Hygienists and Assistants. Philadelphia: W. B. Saunders Company
Clark, K.C., (1974), Positioning Radiography. Volume 2. Churchill Livingstone,
London.
Fong, E., et al., (1980), Body Structures and Functions. 6th ed. Delmar
Publishing Inc., Boston.
Hoxter, E.A., (1978), Teknik Pemotretan Rontgen. Hlm 129, EGC, Jakarta