Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Korosi merupakan proses rusaknya logam (degradasi material) secara

alamiah yang tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikendalikan. Proses korosi pada
material terjadi melalui suatu reaksi elektrokimia dan berlangsung dengan
sendirinya. Korosi adalah salah satu dari berbagai kegagalan mekanis yang sering
menjadi pengganggu utama pekerjaan di dunia teknik, bersama-sama dengan
buckling, creep, fatigue, fracture, impact, dan lain sebagainya.
Dalam istilah umum, korosi merupakan oksidasi elektrokimia dari logam
dalam reaksinya dengan senyawa oksidan seperti oksigen. Yang paling umum
adalah peristiwa perkaratan besi, yaitu terbentuknya oksida besi berwarna
kemerahan di atas besi yang disebut karat besi. Proses perkaratan umumnya
memperlemah kekuatan logam dan menjadikannya rapuh, sehingga perlu
dilakukan pengendalian terhadap korosi secara tepat, misalnya dengan
mengendalikan nilai potensial sel galvaniknya.

1.2

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui nilai potensial

masing-masing logam yang berbeda dalam media korosif dan untuk mengetahui
korosi galvanik pada logam tersebut.

1.3

Batasan Masalah
Pada percobaan ini, permasalahan dibatasi pada penggunaan berbagai pelat

logam yang memiliki perbedaan nilai potensial sel masing-masing logam yang
ditempatkan pada suatu media korosif sehingga laju korosi yang terjadi pada
masing-masing rangkaian sel galvanik dapat diketahui. Varibel bebas pada

percobaan ini adalah maerial yang digunakan dan variabel terikatnya adalah laju
korosi dan larutan Nacl
1.4

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari lima bab sebagai kajian

utama. Bab I menjelaskan latar belakang, tujuan percobaan, batasan masalah, dan
sistematika penulisan laporan yang digunakan. Bab II merupakan tinjauan pustaka
yang berisi mengenai teori singkat yang terkait dengan percobaan yang dilakukan.
Bab III menjelaskan mengenai metode penelitian yang dilakukan. Bab IV
menjelaskan mengenai data percobaan, dan pembahasan berdasarkan tinjauan
pustaka dari data yang telah diperoleh. Bab V menjelaskan mengenai kesimpulan
dari percobaan yang telah dilakukan, yang dilengkapi dengan saran seputar
percobaan. Sebagai kajian tambahan, di akhir laporan terdapat lampiran yang
memuat contoh perhitungan, jawaban pertanyaan dan tugas, gambar alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum serta blanko percobaaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Korosi Galvanik
Korosi galvanik merupakan salah satu jenis korosi yang dapat terjadi pada

suatu material, disebut juga sebagai korosi logam tak sejenis atau korosi
dwilogam. Korosi ini terjadi jika 2 buah atau lebih logam atau logam paduan yang
berbeda dalam suatu lingkungan yang sama dan saling berhubungan. Hal ini
terjadi karena dihasilkan suatu beda potensial di antara logam tesebut.
Galvanik

Active

Noble

Gambar 2.1 Korosi Galvanik


Prinsip korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat
elektroda (katoda dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi
sebagai anoda adalah logam yang sebelum dihubungkan dengan logam lainnya
bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial sel lebih negatif. Pada anoda akan
terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan sedangkan pada katoda terjadi reaksi
reduksi logam. Jenis korosi ini dapat diketahui dengan baik karena adanya dua
logam yang kontak secara elektrik dan tercelup dalam larutan air membentuk sel
elektrokimia. Di mana salah satu logam yang relatif kurang mulia akan
mengalami korosi dan logam yang lebih mulia tidak akan terjadi korosi. Dasar
timbulnya mekanisme reaksi korosi jenis ini karena adanya perbedaan potensial
sistem logam di media larutan berair yang lebih dikenal dengan deret tegangan

logam. Gambar 2 di bawah ini menunjukan skematik daerah katodik dan anodik
pada korosi galvanik. [Rizal, 1986]
Water
Neutral aqueos electrolyte,
e.q. No solution
O2
M2+

M2+

Anode

O2
OH-

OH-

Cathode

+
Electron flow

Gambar 2.2 Skematik Korosi Galvanik


2.2

Sel Galvanik
Pada sel volta atau sel galvanik, anoda merupakan kutub negatif karena

pada anoda terjadi pelepasan elektron, sedangkan katoda merupakan kutub positif.
Penulisan suatu sel volta dengan menggunakan lambang disebut diagram sel atau
bagan sel.
anoda

katoda

ZnZn2+ Cu2+Cu
Gambar 2.3. Diagram Sel Volta
Ruas kiri merupakan anoda tempat terjadinya oksidasi dan ruas kanan
adalah katoda tempat terjadinya reduksi. Garis tegak lurus tunggal merupakan
pembatas suatu elektrode dalam fase berbeda. Garis tegak lurus tunggal ganda
merupakan pembatas antara setengah sel, yaitu pembatas antara reaksi oksidasi
dan reduksi.

Deret galvanik adalah suatu daftar harga-harga potensial korosi untuk


berbagai logam paduan yang berguna dalam kehidupan. Selain itu deret galvanik
juga mencantumkan harga-harga potensial korosi untuk logam-logam murni.
Berikut adalah deret galvanik :
Cathodic (noble)

Platinum
Gold
Graphite
Titanium
Silver
Zirconium
AISI Type 316, 317 stainless steels (passive)
AISI Type 304 stainless steels (passive)
AISI Type 430 stainless steels (passive)
Nickel (passive)
Copper-nickel (70-30)
Bronzes
Copper
Brasses
Nickel (active)
Naval brass
Tin
Lead
AISI Type 316, 317 stainless steels (active)
AISI Type 304 Stainless steels (active)
East iron
Steels or iron
Aluminum alloy 2024
Cadmium

Aluminum alloy 1100


Zinc
Magnesium and magnesium alloys

Anodle (active)
Gambar 4. Deret galvanik
Nilai potensial reduksi elektrode beberapa jenis logam, misalnya seperti
pada reaksi reduksi Alumuium (Al) -1,66 Volt, Seng (Zn) -0,763 Volt, Besi(II)
(Fe2+) -0,409 Volt, Timbal (Pb) -0,126 Volt, dan Tembaga (Cu) +0,34 Volt.
[Oxtoby, 2001]

2.3

Pencegahan Korosi Galvanik


Peristiwa korosi pada logam merupakan fenomena yang tidak dapat

dihindari, namun dapat dihambat maupun dikendalikan untuk mengurangi


kerugian dan mencegah dampak negatif yang diakibatkannya. Dengan
penanganan ini umur produktif peralatan elektronik menjadi panjang sesuai
dengan yang direncanakan, bahkan dapat diperpanjang untuk memperoleh nilai
ekonomi yang lebih tinggi. Upaya penanganan korosi diharapkan dapat banyak
menghemat biaya opersional, sehingga berpengaruh terhadap efisiensi dalam
suatu kegiatan industri.
Ada

beberapa

cara

pengendalian

yang umum

dilakukan

untuk

mengendalikan korosi galvanik, antara lain :


1. Pemilihan material yang tepat. Mengusahakan beda potensial antara
kedua material tersebut sekecil mungkin.
2. Menghindarkan penggunaan 2 jenis logam yang saling berhubungan
dalam suatu kontruksi.
3. Lakukan penggunaan lapis lindung. Jika harus menggunakan lapis
lindung maka gunakan lapis lindung pada katoda.
4. Hindari kombinasi luas penampang material dengan anoda kecil
sedangkan luas penampang katoda besar.
5. Tambahkan inhibitor untuk mengurangi keagresifan lingkungan.

2.4

Penyebab Korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan
meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit
yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu,
kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa
serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara

dapat

mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa
dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan
tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal
sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa
bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup
banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan
ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara. Ammoniak
dalam kegiatan industri umumnya digunakan untuk sintesa bahan organik, sebagai
bahan anti beku di dalam alat pendingin, juga sebagai bahan untuk pembuatan
pupuk. Bejana-bejana penyimpan ammoniak harus selalu diperiksa untuk
mencegah terjadinya kebocoran dan pelepasan bahan ini ke udara.
Embun pagi saat ini umumnya mengandung aneka partikel aerosol, debu
serta gas-gas asam seperti NOx dan SOx. Dalam batubara terdapat belerang atau
sulfur (S) yang apabila dibakar berubah menjadi oksida belerang. Masalah utama
berkaitan dengan peningkatan penggunaan batubara adalah dilepaskannya gas-gas
polutan seperti oksida nitrogen (NOx) dan oksida belerang (SOx). Walaupun
sebagian besar pusat tenaga listrik batubara telah menggunakan alat pembersih
endapan (presipitator) untuk membersihkan partikel-partikel kecil dari asap
batubara, namun NOx dan SOx yang merupakan senyawa gas dengan bebasnya
naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas. Di dalam udara, kedua gas
tersebut dapat berubah menjadi asam nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4).

Oleh sebab itu, udara menjadi terlalu asam dan bersifat korosif dengan terlarutnya
gas-gas asam tersebut di dalam udara. Udara yang asam ini tentu dapat !
berinteraksi dengan apa saja, termasuk komponen-komponen renik di dalam
peralatan elektronik. Jika hal itu terjadi, maka proses korosi tidak dapat dihindari
lagi.
Korosi yang menyerang piranti maupun komponen-komponen elektronika
dapat mengakibatan kerusakan bahkan kecelakaan. Karena korosi ini maka sifat
elektrik komponen-komponen elektronika dalam komputer, televisi, video,
kalkulator, jam digital dan sebagainya menjadi rusak. Korosi dapat menyebabkan
terbentuknya lapisan non-konduktor pada komponen elektronik. Oleh sebab itu,
dalam lingkungan dengan tingkat pencemaran tinggi, aneka barang mulai dari
komponen elektronika renik sampai jembatan baja semakin mudah rusak, bahkan
hancur karena korosi. Dalam beberapa kasus, hubungan pendek yang terjadi pada
peralatan elektronik dapat menyebabkan terjadinya kebakaran yang menimbulkan
kerugian bukan hanya dalam bentuk kehilangan atau kerusakan materi, tetapi juga
korban nyawa.
Mekanisme korosi tidak terlepas dari reaksi elektrokimia. Reaksi
elektrokimia melibatkan perpindahan elektron-elektron. Perpindahan elektron
merupakan hasil reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Mekanisme korosi melalui
reaksi elektrokimia melibatkan reaksi anodic di daerah anodik. Reaksi anodik
(oksidasi) diindikasikan melalui peningktan valensi atau produk electron-elektron.
Reaksi anodik yang terjadi pada proses korosi logam yaitu :
M --> Mn+ + ne
Proses korosi dari logam M adalah proses oksidasi logam menjadi satu ion
+

(n ) dalam pelepasan n elektron. Harga dari n bergantung dari sifat logam sebagai
contoh besi :
Fe--> Fe2+ + 2e

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1

Diagram Alir Percobaan


Percobaan ini secara umum digambarkan dalam bentuk diagram alir

sehingga memudahkan pelaksanaan percobaan yang dilakukan seperti gambar 3.1.

Plat Pb, Cu, Zn masing-masing 2 buah, garam dapur 3 gram,


aquades 100ml.

Pembuatan larutan NaCl 3%, kemudian pencelupan


2 pelat yang berbeda ke dalam larutan

Menghubungkan Kedua plat logam dengan multitester


kemudian mencelupkan kedalam larutan NaCl

Pencatatan voltase yang tertera pada multitester tiap 1, 3, 5 menit

Data

Pembahasan

Kesimpulan
Gambar 3.1. Diagram Alir Percobaan

Literatur

10

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat yang digunakan


Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu di antaranya:
1. Beaker glass 250 ml 1 buah.
2. Multitester (voltmeter).
3. Timbangan.
4. Sel percobaan.

3.2.2 Bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu di antaranya:
1. Garam dapur 3 gram.
2. Aquades 100 ml.
3. Pelat logam Cu, Pb, dan Zn masing-masing 2 buah

3.3

Prosedur Percobaan
1. Membuat larutan NaCl 3%.
2. Mengisi beaker glass dengan larutan NaCl 3 %.
3. Memasukan dua pelat logam ke dalam beaker glass yang sudah diisi
dengan larutan NaCl.
4. Menyusun rangkaian sel galvanik.
5. Mengamati tegangan yang ditunjukan oleh voltmeter setiap 1, 3 , dan 5
menit.
6. Mengulangi percobaan untuk pasangan-pasangan pelat logam lainnya.

11

BAB IV
HASILDAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Percobaan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data percobaan

yang ditunjukkan dalam tabel 1.


Tabel 1. Data Hasil Percobaan

Material

Cu/Zn

Cu/Pb

Pb/Zn

4.2

E0

Waktu

Redoks (menit)

1,1 V

0,47 V

0,63 V

E korosi
(Volt)

E korosi
(Volt)

E
(Volt)

Laju Korosi
(Volt/menit)

0,544

0,541

0,562

0,570

0,3132

0,3162

0,3178

0,0309

0,2185

0,4195

0,2175

0,1952

0,559

0,541

0,180
0,108
0,1543

0,3157

0,2165

0,1543

0,4195

0,0514

0,1398
0,0390

Pembahasan
Setelah melakukan percobaan dan pengamatan selama percobaan

berlangsung didapatkan hasil percobaan sebagai berikut.


Untuk plat logam Cu/Zn , logam Cu memilki Eo= +0.34 volt dan Zn Eo= 0.76 volt sehingga E redoksnya = 1.1 volt. Dari data tersebut dapat dikatakan
bahwa logam Cu sebagai katoda akan mengalami reduksi dan logam Zn sebagai
anoda mangalami oksidasi. Pada saat kedua logam tersebut disambungkan ke

12

multitester (voltmeter) dimana logam Cu sebagai katoda disambungkan ke kabel


berkutub positif (+) sedangkan logam Zn sebagai anoda disambungkan ke kabel
berkutub negatif (-) dicelupkan kedalam larutan NaCl 3% didapatkan hasil
pengamatan seperti pada grafik berikiut ini

Laju Korosi (volt/menit)

0.6
0.5

0.4
Material Cu/Zn

0.3
0.2
0.1

0
0

2
3
Waktu (menit)

Gambar 4.1 Grafik hubungan antara waktu terhadap laju korosi


pada menit ke-1 E korosi = 0,544 volt, pada menit ke-3 E korosi = 0.562
volt, dan pada menit ke-5 E korosi = 0.570 volt dan E rata-rata = 0.559. Adapun
setelah dilakukan perhitungan didapatkam hasil E = 0.541 volt dan laju korosi
yang terjadi pada menit ke-1 = 0,541 volt/menit, pada menit ke-3 = 0.180
volt/menit, dan pada menit ke-5 = 0.108 volt/menit.
Untuk plat logam Cu/Pb, logam Cu memilki E= +0.34 volt dan Pb Eo= 0.13 volt sehingga E redoksnya = 0.47 volt. Dari data tersebut dapat dikatakan
bahwa logam Cu sebagai katoda akan mengalami reduksi dan logam Pb sebagai
anoda mangalami oksidasi. Pada saat kedua logam tersebut disambungkan ke
multitester (voltmeter) dimana logam Cu sebagai katoda disambungkan ke kabel
berkutub positif (+) sedangkan logam Pb sebagai anoda disambungkan ke kabel
berkutub negatif (-) dicelupkan kedalam larutan NaCl 3% didapatkan hasil
pengamatan sebagai berikut, pada menit ke-1 E korosi = 0.3132 volt, pada menit
ke-3 E korosi = 0.3162 volt dan pada menit ke-5 E korosi = 0.3178 volt serta
didapat E rata-rata = 0,3157. Adapun setelah dilakukan perhitungan didapatkam
hasil E = 0,1543 volt dan laju korosi yang terjadi pada menit ke-1 = 0,1543

13

volt/menit, pada menit ke-3 = 0,0514 volt/menit dan pada menit ke-5 = 0.0309
volt/menit.
Untuk plat logam Pb/Zn, logam Pb memilki E= -0.13 volt dan Zn E= 0.76 volt sehingga E redoksnya = 0.63 volt. Dari data tersebut dapat dikatakan
bahwa logam Pb sebagai katoda akan mengalami reduksi dan logam Zn sebagai
anoda mangalami oksidasi. Pada saat kedua logam tersebut disambungkan ke
multitester (voltmeter) dimana logam Pb sebagai katoda disambungkan ke kabel
berkutub positif (+) sedangkan logam Zn sebagai anoda disambungkan ke kabel
berkutub negatif (-) dicelupkan kedalam larutan NaCl 3% didapatkan hasil
pengamatan pada menit ke-1 E korosi = 0.2185 volt, pada menit ke-3 E korosi =
0.2175 volt dan pada menit ke-5 E korosi = 0.1952 volt serta didapat E rata-rata =
0.2165. Adapun setelah dilakukan perhitungan didapatkam hasil E = 0.4195 volt
dan laju korosi yang terjadi pada menit ke-1 = 0.4195 volt/menit, pada menit ke-3
= 0.1398 volt/menit dan pada menit ke-5 = 0.0390 volt/menit.
Dari percobaan yang telah dilakukan dan data yang didapatkan dari hasil
percobaan yang telah dilakukan kita juga dapat mengetahui logam mana yang
memilik laju korosi yang paling tinggi serta pengaruh waktu pencelupan terhadap
laju korosi yang akan digambarkan pada grafik berikut ini,

Laju Korosi (volt/menit)

0.6
0.5

Material Cu/Zn

0.4
material Cu/Pb

0.3
Material Pb/Zn

0.2
0.1
0
0

Waktu (menit)
Gambar 4.2 Grafik hubungan antara waktu denga laju korosi.

14

Grafik diatas merupakan grafik mengenai waktu percobaan terhadap laju


korosi yang dihasilkan dimana pengamatan pada multitester dilakukan setiap
menit ke-1, ke-3 dan menit ke-5. Dapat kita ketahui semakin lama waktu
pencelupan kedalam larutan elektrolit maka semakin kecil nilai laju korosi yang
dihasilkan. Ini diakibatkan karena dianodanya sudah banyak terlapisi oleh katoda
atau bisa dikatakan logam yang dilapisinya sudah mengalami titik jenuh sehingga
laju korosinya jadi menurun. Dan laju korosi yang paling tinggi adalah material
Cu/Zn dengan nilai E0 Redoks sebesar 1,1.
Menurut analisa yang dilakukan oleh praktikan, adanya perbedaan nilai
tegangan (potensial korosi) ini dapat terjadi karena proses korosi mulai terjadi,
dengan diperolehnya nilai laju korosi pada masing-masing sel percobaan. Proses
korosi yang terjadi ini kemungkinan menyebabkan terjadinya pengurangan nilai
potensial redoks atau potensial sel yang dimiliki oleh suatu sel galvanik. Laju
korosi yang diperoleh untuk setiap sel percobaan menurun berdasarkan pada
peningkatan waktu reaksi sel galvanik dalam media korosif yang digunakan.
Percobaan ini sudah sesuai dengan literatur, karena pada percobaan ini
logam Cu/zn yang memiliki nilai beda potensial (E0) paling tinggi lebih mudah
terjadi korosi galvanik. Menurut literatur yang ada jika 2 buah atau lebih logam
atau logam paduan yang berbeda dalam suatu lingkungan yang sama dan saling
berhubungan akan terjadi korosi galvanik, serta semakin besar beda potensial
antar kedua logam tersebut maka korosi galvanik mudah terjadi [Soesaptri O,
2014]

15

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum korosi galvanik di Laboratorium Metalurgi

I didapat kesimpulan sebagai berikut :


1. Nilai potensial sel masing-masing logam dalam media korosif yaitu
sebesar 0,559 volt untuk sel Cu/Zn dengan laju korosi rata-rata sebesar
0,276 volt/menit; 0,3157 volt untuk sel Cu/Pb dengan laju korosi ratarata sebesar 0,208 volt/menit; 0,2105 volt untuk sel Pb/Zn dengan laju
korosi rata-rata sebesar 0,199 volt/menit
2. Korosi galvanik merupakan salah satu jenis korosi yang terjadi pada
suatu material, di mana terdapat penggunaan 2 logam atau lebih yang
memiliki perbedaan potensial sel yang cukup besar dalam lingkungan
yang sama.

5.2

Saran
Saran yang dapat diberikan untuk praktikum pada kesempatan selanjutnya,

seperti menggunakan pengukuran tegangan sel galvanik secara tepat dengan


menggunakan multitester pada dudukan yang tetap.

16

DAFTAR PUSTAKA

Denny A. Jones, 1992. Principles and Prevention of Corrosion, Macmillian


publishing Co ; New York.
Rizal A. 1986. Bentuk-bentuk korosi (bagian I), Institut Teknologi Bandung ;
Bandung.
http://mediabelajaronline.blogspot.com/2011/09/belajar-deret-volta-dan-cara.html

17

LAMPIRAN A
CONTOH PERHITUNGAN

18

Lampiran A. Contoh Perhitungan


Pada Material Cu/Zn
Eo Cu = 0,34 volt (katoda)
Eo Zn = -0,76 volt (anoda)
Eo redoks = Eo katoda Eo anoda
= 0,34 (-0,76)
= 1,1 volt
E Korosi

E pada saat t = 1menit

= 0,544 volt

E pada saat t = 3menit

= 0,562 volt

E pada saat t = 5menit

= 0,570 volt

E = [Eo redoks Ekorosi rata- rata]


= 1,1 volt 0,559 volt
= 0,541 volt

Laju Korosi >

E1

(volt/menit)

waktu

0,541
1

= 0,541 volt/menit

19

LAMPIRAN B
JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAAS KHUSUS

20

Lampiran B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas


1. Apa yang dimaksud dengan korosi galvanik?
Jawab :
Korosi galvanik adalah Korosi 2 logam atau lebih, Korosi logam tak
sejenis. Proses degradasi material jika 2 logam atau lebih yang berbeda dan
berada dalam lingkungan yang sama, saling berhubungan yang berbeda
potensial.
2. Sebutkan cara pencegahannya?
Jawab :
Pada dasarnya korosi tidak dapat dicegah tetapi hanya dapat diminimalisasi
yaitu
1.

Seleksi material yang tepat.

2.

Hindari 2 logam beda potensial cukup besar dalam lingkungan yang sama
dan kontak langsung.

3.

Dengan cara lapis lindung.

4.

Isolasi, Inhibitor.

5.

Hindari Aanoda lebih kecil dari Akatoda dan,

6.

Hindari Beda Potensial lebih besar.

3. Tentukan logam mana yang berperan sebagai anoda dan katoda?


Jawab :
Cu/ Zn, Katoda Cu dan Anoda Zn
Cu/Pb, Katoda Cu dan Anoda Zn
Pb/Zn, Katoda Pb dan Anoda Zn
4. Tuliskan masing masing reaksi anodik dan katodik?
Jawab :
Reaksi pada logam Cu/Zn
Zn
Cu2+ + 2e

Zn 2+ + 2e

anodik

Cu

katodik

21

Reaksi pada logam Cu/Pb


Pb
Cu2+ + 2e

Pb2+ + 2e

anodik

Cu

katodik

Reaksi pada logam Pb/Zn


Zn2+ +2e

Zn
Pb2+ + 2e

Pb

anodik
katodik

5. Jelaskan mekanisme korosi galvanik?


Jawab :
Mekanisme reaksi Cu/Zn
Cu2+ + 2e
Zn

Cu2+ + Zn

Cu
Zn2+ + 2e

Cu + Zn2+

Cu mengalami korosi pada lapisan Zn terlebih dahulu bukan, logam Zn


tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan Zn dan secara elektrik masih
berinteraksi karena adanya beda potensial.
Mekanisme reaksi Cu/Pb
Cu2+ + 2e
Pb
Cu2+ + Pb

Cu
Pb2+ + 2e
Cu + Pb2+

Cu mengalami korosi pada lapisan Pb terlebih dahulu bukan,


logam Pb tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan Pb dan secara
elektrik masih berinteraksi Karena adanya beda potensial.

22

Mekanisme reaksi Pb/Zn


Pb2+ + 2e
Zn

Pb
Zn2+ + 2e

Fe2+ + Pb

Fe + Pb2+

Pb mengalami korosi pada lapisan Zn terlebih dahulu bukan, logam Pb


tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan Zn dan secara elektrik
masih berinteraksi karena adanya beda potensial.
Jawaban tugas khusus.
1. E0 Redoks dari setiap plat yang digunakan dalam percobaan
Jawab :
Eo Cu = 0,34 volt
Eo Zn = -0,76 volt
E0 Pb = -0,13 volt

2. Cari dan jelaskan deret volta


Jawab :
Deret

volta

terdiri

atas

Lithium-Kalium-Barium-Calsium-Natrium-

Magnesium-Aluminium-Mangan-Zinc-Cerium-Cadmium-Cobalt-NickelStanum-Plumbum-(Hidrogen)-Cuprum-Hydrargyrum-Argentum-PlatinaAurum
singkatnya
Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-Sn-Pb-(H)-Cu-Hg-Ag-Pt-Au
Urutan logam ini selain menunjukkan potensial yang naik dari kiri ke
kanan juga menunjukkan bahwa logam-logam disebelah kiri lebih mudah
bereaksi daripada logam sebelah kanan. Selain itu logam-logam tersebut dari
kiri ke kanan makin mudah direduksi namun makin sulit dioksidasi.
Sebaliknya, dari kanan ke kiri makin mudah untuk dioksidasi dan makin sulit
untuk direduksi.

23

LAMPIRAN C
GAMBAR ALAT DAN BAHAN

24

Lampiran C. Gambar Alat dan Bahan

Gambar C.1 Multitester

Gambar C.3 Beaker Glass

Gambar C.5 Neraca Digital

Gambar C.2 Larutan NaCl 3%

Gambar C.4 Pelat Logam

25

LAMPIRAN D
BLANGKO PERCOBAAN