Anda di halaman 1dari 27

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN

KONFLIK GUNA LAHAN DI KECAMATAN


KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN

Naskah Publikasi
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi
Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Diajukan oleh
Junaidi
12/358071/PTK/09326

Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KONFLIK GUNA LAHAN


DI KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN
Junaidi1, Agam Marsoyo2, dan Ahmad Sarwadi3
INTISARI
Kegiatan penambangan merupakan kegiatan yang memanfaatkan sumber
daya alam dan terkait dengan pemanfaatan ruang. Kenyataan di lapangan sering
ada masalah dalam pemanfaatan ruang kegiatan penambangan ini, sehingga
terjadi konflik guna lahan atau penyimpangan penggunaan lahan sesuai
peruntukan dalam tata ruang dan menimbulkan konflik antar pihak yang
berkepentingan dalam penggunaan lahan tersebut. Hal ini terjadi di Kecamatan
Karangsambung yaitu penambangan pasir di kawasan perlindungan setempat dan
lahan pertanian serta penambangan batuan di lahan lindung geologi. Tujuan
penelitian ini adalah: (a) menemukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung Kabupaten Kebumen
sehubungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan; dan
(b) menemukan struktur hubungan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung tersebut.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode induktif kualitatif.
Peneliti merupakan instrumen utama penelitian untuk mengumpulkan data.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan
pengumpulan data sekunder. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
purposive sampling dan besarnya jumlah sampel tidak ditentukan batasannya,
akan diselesaikan apabila telah mendekati kejenuhan informasi. Data sekunder
diperoleh dari berbagai data atau laporan dari dinas/instansi/SKPD Kabupaten
Kebumen yang terkait dengan penelitian. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan
dengan teknik triangulasi dan analisis data dilakukan dalam kerangka berfikir
induktif, karena dengan demikian konteks lebih mudah dideskripsikan.
Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa terjadinya konflik guna
lahan di Kecamatan Karangsambung berakar dari adanya penyimpangan
penggunaan lahan. Hal ini karena kegiatan penambangan pasir yang
memanfaatkan lahan lindung setempat dan lahan pertanian serta kegiatan
penambangan batuan yang memanfaatkan lahan lindung geologi. Konflik guna
lahan yang terjadi melibatkan pelaku konflik yaitu penambang, masyarakat yang
terkena dampak, dan aparat pemerintah. Wujud konflik guna lahan yang muncul
berupa konflik manifest dan laten, sedangkan jenis konflik yang terjadi
berdasarkan level permasalahannya yaitu konflik vertikal dan konflik horizontal.
Tipologi konflik guna lahan yang dapat dibuat berdasarkan hasil temuan di
lapangan yaitu konflik fungsional, konflik kepentingan, dan konflik
kelembagaan. Dalam penelitian ini ditemukan faktor-faktor yang menyebabkan
konflik guna lahan, yaitu: (a) keterbatasan lahan, (b) faktor ekonomi, (c) sikap
penambang, (d) faktor sosial, (e) faktor teknologi, (f) perbedaan kepentingan, (g)
perbedaan pemahaman, (h) lemahnya pengawasan dan pengendalian yang
dilakukan oleh pemerintah daerah (SKPD).
Kata-kata kunci: konflik guna lahan
1. Mahasiswa Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daearah, Fakultas Teknik,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
2. Dosen Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
3. Dosen Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

FACTORS THAT CAUSE LAND USE CONFLICTS IN


KARANGSAMBUNG DISTRICT, KEBUMEN REGENCY
Junaidi1, Agam Marsoyo2, dan Ahmad Sarwadi3

ABSTRACT

Mining activity is an activity which utilizes natural resources and is


related to utilization of space. The fact that there are many problems in space
utilization of this mining activity, resulting in land use conflicts or land use
violations based on spatial designation, creating conflicts between parties with
interest in using the lands. This happens in Karangsambung District, i.e. sand
mining in local protected areas and agricultural lands and rock mining in
geologic protected lands. The aims of this study are: (a) to find factors causing
land use conflicts in Karangsambung District Kebumen Regency due to sand and
rock mining; and (b) to find relation structure of factors causing land use
conflicts in Karangsambung District.
This study was conducted using inductive qualitative method. The author
is the main instrument of the study to collect data. Data collection methods were
observation, interview, and secondary data. Sample collection as performed by
purposive sampling and the number of samples had no limit, would be finished
when approaching information saturation. Secondary data was collected from
various data or reports from departments/institutions/local government agencies
of Kebumen Regency related to the study. Data validity check was performed by
triangulation technique and data analysis was performed in inductive framework
because it will make the context easier to describe.
The findings showed that land use conflicts in Karangsambung District
started from violations of land use. This was because sand mining utilizes local
protected lands and agricultural lands and rock mining activity which utilizes
geologic protected lands. Land use conflicts involved miners, affected
community, and government officials. Land use conflicts which often happen
were manifested and latent conflicts, while types of conflicts based on level of
problem were vertical conflict and horizontal conflict. Land use conflicts
typology based on the findings on the field were functional conflict, conflict of
interest, and institutional conflict. This study discovered factors causing land use
conflicts, which were: (a) limited land, (b) economic factors, (c) miners
attitudes, (d) social factors, (e) technological factors, (f) difference in interests,
(g) difference in understanding, (h) weak supervision and control by local
government.

Key words: land use conflicts.


1. Student of Urban and Regional Planning Magister Program, Faculty of Engineering, Gadjah
Mada University, Yogyakarta.
2. Lecturer of Architecture Engineering and Planning Majors, Faculty of Engineering, Gadjah
Mada University, Yogyakarta.
3. Lecturer of Architecture Engineering and Planning Majors, Faculty of Engineering, Gadjah
Mada University, Yogyakarta.

DAFTAR ISI
HALAMAN
Halaman Judul .............................................................................................
Lembar Pengesahan .....................................................................................
Intisari ..........................................................................................................
Abstract ........................................................................................................
Daftar Isi ......................................................................................................
I.

i
ii
iii
iv
v

PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang...............................................................................
1.2 Rumusan Permasalahan..................................................................
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian..........................................................................

1
1
1
2
2

II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................


2.1 Ruang dan Penataan Ruang .........................................................
2.2 Konflik Guna Lahan ....................................................................
2.3 Berpikir Sistem.............................................................................
2.4 Landasan Teori.............................................................................

2
2
4
6
6

III. METODE PENELITIAN ................................................................

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN .......................


4.1 Kecamatan Karangsambung........................................................
4.1.1 Batas Wilayah.....................................................................
4.1.2 Penggunaan Lahan .............................................................
4.1.3 Kependudukan....................................................................
4.2 Lokasi Penambangan...................................................................
4.2.1 Aktivitas Penambangan ......................................................
4.2.2 Kondisi Lokasi Penambangan ............................................
4.2.3 Dampak Spasial Kegiatan Penambangan ...........................

9
9
9
10
11
11
11
13
14

V.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...............................


5.1 Kejadian Konflik Guna Lahan.....................................................
5.2 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Konflik Guna Lahan ............
5.3 Struktur Hubungan Faktor-Faktor yang Menyebabkan
Konflik.........................................................................................

14
14
17

VI. KESIMPULAN, REKOMENDASI, DAN DAFTAR PUSTAKA.


5.1 Kesimpulan..................................................................................
5.2 Rekomendasi................................................................................
5.3 Daftar Pustaka..............................................................................

20
20
20
21

17

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan penambangan terkait dengan pemanfaatan ruang, karena kegiatan
penambangan sangat bergantung pada faktor geografis dan faktor kualitas
lingkungan sebagai dampak dari kegiatan penambangan. Oleh karena itu semakin
berkembang kegiatan penambangan maka akan semakin membutuhkan ruang
untuk kegiatannya. Kenyataannya di lapangan sering ada masalah dalam
pemanfaatan ruang. Hal ini terjadi karena adanya berbagai kepentingan dan belum
sinkronnya cara pengelolaan ruang secara menyeluruh. Keterbatasan ruang
menyebabkan timbulnya perebutan dalam pemanfaatan ruang yang dianggap
menguntungkan secara ekonomi. Sehingga terjadi konflik guna lahan atau
penyimpangan penggunaan lahan sesuai peruntukan dalam tata ruang dan
menimbulkan konflik antar pihak yang berkepentingan dalam penggunaan lahan
tersebut. Hal ini terjadi di Kecamatan Karangsambung yaitu penambangan pasir
yang dilakukan di kawasan perlindungan setempat (badan sungai dan sempadan
sungai), lahan pertanian, dan penambangan batuan diabas yang dilakukan di lahan
lindung geologi. Kondisi ini menggambarkan bahwa telah terjadi perubahan
fungsi penggunaan lahan atau penyimpangan penggunaan lahan sesuai peruntukan
sehingga terjadi konflik guna lahan. Fenomena ini menarik untuk diteliti
mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konflik guna lahan di Kecamatan
Karangsambung sehubungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan
batuan.
1.2 Rumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1.

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya konflik guna lahan


dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan?

2.

Seperti apa struktur hubungan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya


konflik guna lahan dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Menemukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik guna lahan
di Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen sehubungan dengan
adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan.
2. Menemukan struktur hubungan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
konflik guna lahan di

Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen

sehubungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan.


1.4 Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat
antara lain:
1.

Memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen


dalam mengantisipasi faktor-faktor yang menyebabkan konflik guna lahan di
Kecamatan

Karangsambung

sehubungan

dengan

adanya

kegiatan

penambangan pasir dan batuan.


2.

Memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan yang mengkaji upaya-upaya


pengendalian pemanfatan ruang dan sebagai tambahan referensi bagi
penelitian ilmiah lainnya yang terkait dengan topik penelitian ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Ruang dan Penataan Ruang
Jayadinata (1999) mengemukakan bahwa ruang (space) menurut istilah
geografi adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfera,
tempat hidup tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Sedangkan menurut
geografi regional ruang merupakan suatu wilayah yang mempunyai batas
geografi, yaitu batas menurut keadaan fisik, sosial, atau pemerintahan, yang
terjadi dari sebagian permukaan bumi dan lapisan tanah di bawahnya serta
lapisan udara di atasnya. Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa ruang adalah wadah yang meliputi
ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai

satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan
kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan penataan ruang
adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
Matsum (2002) mengemukaan bahwa dalam penjelasan pasal 17 dan 18
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 bahwa pemanfaatan ruang harus sesuai
dengan rencana tata ruang, sehingga diperlukan pengendalian melalui kegiatan
pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. Pengawasan dilakukan untuk
menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan
dalam rencana tata ruang. Sedangkan penertiban dilakukan untuk mengambil
tindakan agar pemanfaatan ruang direncanakan dapat terwujud.
Dengan adanya kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang maka akan
dapat diketahui dan dihindarkan kemungkinan terjadi penyimpangan fungsi
ruang yang tidak terkendali dan tidak terarah sebagaimana yang telah ditetapkan
dalam rencana tata ruang. Kegiatan pemanfaatan ruang akan berfungsi secara
efektif dan efisien bilamana didasarkan pada sistem pengendalian yang
menyediakan informasi yang akurat tentang adanya penyimpangan pemanfaatan
yang terjadi di lapangan dan ketegasan untuk memberikan reaksi yang tepat bagi
penyelesaian simpangan-simpangan yang terjadi di lapangan sesuai dengan
peraturan yang berlaku (Ibrahim, dalam Matsum 2002).
Lahan merupakan bagian dari ruang daratan tempat manusia dan makhluk
hidup dalam melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya
(Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Jayadinata
(1999) mendefinisikan lahan sebagai suatu daerah tertentu di permukaan bumi,
termasuk di dalamnya atmosphere, tanah, geologi, topografi, hidrologi, tumbuhtumbuhan dan hewan serta kegiatan manusia pada masa lalu dan masa sekarang
yang mempunyai pengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia sekarang
dan masa yang akan datang. Sedangkan tata guna lahan (land use) adalah pengaturan
penggunaan lahan baik mengenai penggunaan permukaan bumi di daratan maupun di
lautan.

2.2 Konflik Guna Lahan


Jhonson dan Duinker (dalam Mitchell, dkk, 2000: 365) mendefinisikan
Konflik adalah pertentangan antar banyak kepentingan, nilai, tindakan, atau
arah serta sudah merupakan bagian yang menyatu sejak kehidupan ada. Dengan
demikian, konflik merupakan sesuatu yang tak terelakkan, yang dapat bersifat
positif maupun negatif. Konflik dapat bersifat positif jika membantu
mengidentifikasikan sebuah proses pengelolaan lingkungan dan sumberdaya
yang tidak berjalan secara efektif, mempertajam gagasan atau informasi yang
tidak jalas dan menjelaskan kesalahpahaman. Konflik juga akan bermanfaat
ketika mempertanyakan status quo sehingga memunculkan sebuah pendekatan
kreatif. Sebaliknya konflik dapat bersifat negatif jika diabaikan. Selanjutnya
Jhonson dan Duinker (dalam Mitchell, dkk, 2000: 365) mengemukakan bahwa
Konflik yang tidak terselesaikan merupakan sumber kesalahpahaman,
ketidakpercayaan, serta bias. Konflik menjadi buruk apabila menyebabkan
semakin meluasnya hambatan-hambatan untuk saling bekerjasama antar berbagai
pihak.
Konflik guna lahan adalah pertentangan dalam mendapatkan, menguasai
atau menggunakan lahan (Prihandoko, 1996). Pertentangan ini timbul karena
adanya kepentingan terhadap lahan oleh masyarakat, pemerintah kota, dan
pemerintah pusat (sektoral). Konflik guna lahan dapat terjadi karena
bertambahnya jumlah penduduk dan terbatasnya lahan yang bisa digunakan.
Robbins dalam Limbong (2012) mengemukakan bahwa ada 3 teori
konflik, yaitu teori Karl Marx, teori Lewis Coser, teori Ralf Dahrendorf. Karl
Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas yang terdiri dari
kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar.
Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis. Kaum borjuis
melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.
Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong
terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi
jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjouis terhadap mereka
(Bottomore, dkk, dalam Limbong, 2012). Menurut Coser dalam Limbong (2012),

konflik merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan,


penyatuan, dan pemeliharaan struktur sosial. Coser dalam Limbong (2012)
membagi konflik menjadi dua, yaitu: (1) Konflik realitas, (2) Konflik non
realitas. Sedangkan Dahrendorf dalam Limbong (2012) megemukakan bahwa
salah satu bentuk konflik dan sebagai sumber perubahan sosial adalah mengenai
pertentangan kelas, sebagaimana teori konflik yang dikemukaan oleh Karl Marx.
Kemudian Dahrendorf memodifikasikan berdasarkan perkembangan yang terjadi
kemudian. Selanjutnya Dahrendorf dalam Limbong (2012), menjelaskan
pertentangan kelas-kelas sebagai satu bentuk pertentangan yaitu: (a) dekomposisi
modal, (b) dekomposisi tenaga kerja, (c) Timbulnya kelas baru.
Konflik dapat berwujud konflik tertutup (laten) dan konflik terbuka
(manifest). Sedangkan menurut level permasalahannya terdapat dua jenis konflik
yakni konflik vertikal dan konflik horizontal. (Maskanah dan Fuad, 2000).
Prihandoko (1996) mengemukakan bahwa tipologi konflik disusun untuk
mengenali berbagai macam konflik menurut kriteria tertentu untuk menentukan
prioritas penanganannya. Dalam penelitian Prihandoko (1996), ada tiga macam
tipologi konflik guna lahan berdasarkan akar permasalahannya, yaitu: (a) Konflik
fungsional, (b) Konflik nilai, (c) Konflik kepentingan.
Dorcey dalam Mitchell, dkk, (2000), menyebutkan bahwa penyebab
konflik antara lain: (1) Perbedaan pengetahuan atau pemahaman, (2) Perbedaaan
nilai, (3) Perbedaan kepentingan, (4) Persoalan pribadi atau latar belakang
sejarah. Prihandoko (1996) mengemukakan bahwa konflik guna lahan terjadi
karena jumlah penduduk bertambah, sedangkan di sisi lain lahan di wilayah itu
tidak seluruhnya dapat digunakan (terbatas). Selanjutnya Prihandoko (1996)
mengatakan bahwa adanya perbedaan kualitas lahan, menyebabkan konsentrasi
kehidupan manusia terpusat pada lahan yang memberikan kesempatan hidup
yang lebih besar. Oleh karena itu, pada dasarnya lahan yang dapat digunakan itu
ada batasnya.

2.3 Berpikir Sistem


Senge (1990) mengemukakan bahwa berpikir sistem adalah disiplin yang
mengintegrasikan disiplin-disiplin (disebut sebagai disiplin kelima) yang
menggabungkannya menjadi suatu bangun teori yang koheren dan praktis yang
masuk akal/logis. Selanjutnya Senge (1990) mengatakan bahwa berpikir sistem
merupakan disiplin untuk melihat secara keseluruhan, merupakan kerangka kerja
untuk meninjau keterkaitan dibanding sesuatu yang berdiri sendiri untuk meninjau
pola perubahan dibanding tinjauan statis. Metode berpikir sistem digambarkan
melalui diagram loop berupa Causal Loop Diagram (CLD). Dalam teknik CLD
memungkinkan munculnya variabel-variabel baru yang dapat diidentifikasi
intensitasnya, sehingga dapat menelusuri beragam komponen untuk mendapatkan
gambaran yang menyeluruh dari permasalahan penelitian.
2.4 Landasan Teori
Secara umum pengertian konflik adalah pertentangan antar banyak
kepentingan, nilai, tindakan, atau arah serta sudah merupakan bagian yang
menyatu sejak kehidupan ada. Sedangkan konflik guna lahan merupakan
fenomena

memperebutkan ruang (space)

yang terjadi

karena

adanya

pertentangan antara banyak kepentingan, nilai, tindakan, atau arah dari beberapa
individu maupun kelompok (aktor) di dalam memanfaatkan lahan. Terjadinya
konflik guna lahan karena terjadi pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan
peruntukkanya. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya
maka akan menyalahi tata ruang.
Ada beberapa indikator yang menandai terjadinya sebuah konflik, yaitu :
(1) proses yang berbeda antara satu konflik dengan konflik lainnya,
(2) melibatkan dua pihak atau lebih, (3) adanya pertentangan dan perbedaan nilai,
(4) adanya saling ketergantungan, yang artinya bahwa masing-masing pihak tidak
bebas dalam melakukan sesuatu karena akan berpengaruh pada pihak lainnya,
(5) adanya pertentangan mengenai obyek konflik, (6) adanya ekspresi mengenai
obyek konflik, bisa menggunakan bahasa verbal, bahasa badan atau bahasa
tertulis, (7) adanya pola prilaku tertentu dari pihak-pihak yang berkonflik,

(8) adanya interaksi konflik yang berupa saling menuduh, saling menyalahkan,
saling mengumpat, saling melakukan agresi atau melakukan negosiasi dan
sebagainya, (9) adanya keluaran konflik atau solusi yang dicapai.
Tipologi konflik guna lahan adalah bentuk dari konflik guna lahan yang
dibuat dan disusun berdasarkan akar permasalahannya. Ada tiga macam tipologi
konflik guna lahan yaitu (1) Konflik fungsional yaitu konflik yang berakar pada
ketidaksesuaian fungsi lahan, (2) Konflik nilai yaitu konflik yang berakar pada
pertentangan di dalam menetapkan nilai guna lahan, (3) Konflik kepentingan
yaitu konflik yang berakar pada pertentangan kepentingan dalam menguasai dan
menggunakan lahan.
Beberapa penyebab konflik: (1) perbedaan pengetahuan atau pemahaman
dapat mengarah pada timbulnya konflik, (2) konflik dimungkinkan muncul karena
perbedaan nilai, (3) perbedaan kepentingan dapat menimbulkan konflik meskipun
berbagai kelompok menerima fakta dan interpretasi yang sama, serta mempunyai
kesamaan nilai. (4) konflik dapat muncul karena adanya persoalan pribadi atau
karena latar belakang sejarah, (5) konflik bisa terjadi karena orang belajar untuk
tidak mempercayai pengetahuan seorang ahli sebagai pengetahuan yang dipakai
untuk melayani kepentingan tertentu, (6) konflik dapat terjadi karena
meningkatnya jumlah penduduk, terbatasnya lahan, perbedaan kualitas lahan,
serta meningkatnya kegiatan ekonomi.

III. METODE PENELITIAN


Sesuai dengan tujuan, penelitian ini menggunakan metode induktif
kualitatif. Menurut Alwasilah (2002), dalam penelitian kualitatif tidak ada teori a
priori, melainkan grounded theory, yaitu teori yang dikembangkan secara
induktif selama penelitian (atau beberapa kasus) berlangsung, dan melalui
interaksi yang terus menerus dengan data di lapangan. Karena penelitian
menggunakan metode induktif kualitatif maka peneliti melakukan langkahlangkah penelitian yaitu: langkah awal peneliti mengumpulkan informasi,
informasi bisa didapat dari wawancara dan observasi (pengamatan langsung) di

lapangan.

Selanjutnya

mengelompokkan

peneliti

membangun

informasi-informasi

yang

kategori-kategori
saling

dengan

berhubungan

untuk

memunculkan tema-tema. Kemudian dibuat pemaknaan tema-tema tersebut yang


dimaknai sebagai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik guna lahan
di

Kecamatan

Karangsambung

sehubungan

dengan

adanya

kegiatan

penambangan pasir dan batuan untuk menjawab pertanyaan penelitian.


Metoda pengumpulan data diperoleh melalui wawancara kepada
informan, observasi, dan pengumpulan data sekunder. Wawancara dilakukan
secara mendalam kepada informan yang terdiri dari penambang, masyarakat
yang terkena dampak, dan pemerintah. Karena pengumpulan data dengan cara
mendalam, maka pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive
sampling. Observasi atau pengamatan langsung di lapangan dilakukan secara
menyeluruh terhadap kegiatan penambangan pasir di Desa Karangsambung dan
Desa Kaligending, serta kegiatan penambangan batuan diabas di lokasi Gunung
Parang yang merupakan kawasan lindung geologi. Selanjutnya dilakukan
pengamatan langsung ke unit amatan yaitu tata cara penambangan, aktivitas
penambangan, kondisi lokasi penambangan, dan dampak spasial dari kegiatan
penambangan. Data Sekunder diperoleh dari dinas-dinas di Kabupaten Kebumen
yang terkait dengan masalah penelitian yaitu Bappeda, Dinas SDA dan ESDM,
Kantor LH, KPPT dan PM, Satpol PP, Kantor Camat Karangsambung, Kantor
Desa Karangsambung, BPS, dan BPN Kabupaten Kebumen.
Analisis data dilakukan dalam kerangka berfikir induktif, karena dengan
demikian konteks lebih mudah dideskripsikan. Analisis yang dilakukan meliputi
proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam satuan unit informasi,
kategorisasi dalam sub-sub tema sehingga dapat ditemukan tema dan dapat
dirumuskan konsep tentang konflik guna lahan. Selanjutnya dilakukan
pembahasan tema-tema untuk mencari makna yang terkandung di dalamnya
meliputi faktor-faktor yang menyebabkan konflik guna lahan yang di dalamnya
dibahas pelaku konflik, lokasi konflik, tipologi konflik, wujud dan jenis konflik,
dan mebahas tentang struktur hubungan faktor-faktor yang menyebabkan konflik
guna lahan. Kemudian temuan di lapangan didialogkan dengan teori yang ada.

Selanjutnya dibuat kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian dan


pembahasan tersebut.

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN


Daerah yang menjadi lokasi penelitian secara administrasi pemerintahan
termasuk dalam wilayah Kabupaten Kebumen yang terletak pada 727' - 750'
Lintang Selatan dan 10922' - 10950' Bujur Timur. Wilayah Kabupaten
Kebumen terletak pada elevasi 0 997,5 meter di atas permukaan air laut.
Kabupaten Kebumen berbatasan dengan wilayah:
1.

Sebelah Timur: berbatasan dengan Kabupaten Purworejo,

2.

Sebelah Selatan: berbatasan dengan Samudera Hindia,

3.

Sebelah Barat: berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Banyumas,

4.

Sebelah Utara: berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara.


Gambaran mengenai lokasi penelitian yang berada dalam wilayah

pemerintahan Kabupaten Kebumen dapat dilihat pada Gambar 4.1 (Peta


Administrasi Kabupaten Kebumen). Mengingat daerah yang menjadi lokasi
penelitian adalah desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Karangsambung,
maka gambaran umum yang ditampilkan hanyalah mengenai wilayah Kecamatan
Karangsambung yang terdiri dari 14 desa. Namun yang menjadi fokus lokasi
penelitian yaitu di Desa Karangsambung dan Desa Kaligending.
4.1 Kecamatan Karangsambung
4.1.1

Batas Wilayah
Secara geografis wilayah Kecamatan Karangsambung terletak antara

7 8 Lintang Selatan dan 109o 1010 Bujur Timur, dengan luas wilayah 6.515
Ha atau 65,15 Km2, yang terbagi dalam 14 desa. Desa terluas adalah Desa
Wadasmalang dengan luas wilayah 1.207 Ha, dan desa terkecil adalah Desa Pencil
dengan luas wilayah 367 Ha.
Kecamatan Karangsambung berbatasan dengan:
1.

Sebelah Utara: berbatasan dengan Kecamatan Sadang

2.

Sebelah Timur: berbatasan dengan Kecamatan Alian dan Kabupaten


Wonosobo

3.

Sebelah Selatan: berbatasan dengan Kecamatan Alian

4.

Sebelah Barat: berbatasan dengan Kecamatan Karanggayam


Pusat Pemerintahan Kecamatan Karangsambung berada di Desa

Karangsambung berjarak 20 Km dari Ibu Kota Kabupaten Kebumen, Desa


Karangsambung berada di ketinggian 76 meter di atas permukaan air laut dengan
luas wilayah 845,0 Ha. Diantara 14 desa yang ada di Kecamatan Karangsambung
desa yang terjauh dari Ibu Kota Kecamatan Karangsambung yaitu Desa Totogan
dengan jarak 23,50 Km.
4.1.2 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan salah satu parameter penting dalam
mempelajari suatu wilayah. Penggunaan lahan di wilayah Kecamatan
Karangsambung saat ini berupa sawah, lahan untuk bangunan dan lahan sekitar,
tegalan/kebun, hutan negara dan tanah lainnya.
Luasan penggunaan lahan yang paling banyak digunakan di Kecamatan
Karangsambung adalah jenis penggunaan lahan sawah tadah hujan dengan luas
sekitar 1.866 Ha atau sebesar 28,64 %, kemudian urutan yang kedua yaitu
tegalan/kebun seluas 1.792 Ha atau sebesar 27,51 %. Urutan ketiga yaitu hutan
negara sebesar 1.019 Ha atau sebesar 15,64 %. Berikutnya diikuti oleh bangunan
dan lahan sekitarnya sebesar 824 Ha atau sebesar 12,65 %, hutan rakyat 801 Ha
atau sebesar 12,29 %, tanah lainnya sebesar 109 Ha atau sebesar 1,67%, sawah
irigasi teknis 99 Ha atau sebesar 1,52 %. Sedangkan luasan terkecil yaitu jenis
penggunaan kolam/tebat/empang dengan luasan 5 Ha atau sebesar 0,08 %.
Wilayah kecamatan Karangsambung didominasi oleh penggunaan lahan berupa
sawah dan tegalan/kebun. Dengan demikian, banyak penduduk Kecamatan
Karangsambung yang bermata pencaharian sebagai petani.

4.1.3 Kependudukan
Berdasarkan Regristrasi Penduduk di Kecamatan Karangsambung sampai
pada bulan Desember 2012 sebanyak 37.634 jiwa dengan rincian penduduk laki
laki sebanyak 18.708 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 18.926 jiwa. Ratarata penduduk per kilometer persegi di wilayah Kecamatan Karangsambung
sebanyak 3,50. Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan dapat dilihat
dari angka jenis kelamin (sex ratio) yang menunjukan angka 99, ini berarti bahwa
jumlah penduduk perempuan di wilayah Kecamatan Karangsambung lebih banyak
dibandingkan dengan penduduk laki-laki.
Jumlah rumah tangga yang ada di Kecamatan Karangsambung sebanyak
10.070 rumah tangga, dan yang terbesar adalah di Desa Wadasmalang yaitu
sebanyak 1.713 rumah tangga. Rata-rata penduduk per rumah tangga di wilayah
Kecamatan Karangsambung sebayak 4 orang, sedangkan kepadatan penduduk
terhadap luas wilayah di Kecamatan Karangsambung adalah 3,49.
Pada umumnya penduduk bekerja sebagai petani. Mereka biasa
menyelingi pekerjaan bertani dengan menambang pasir di sungai. Sebagian kecil
bekerja sebagai pedagang, PNS, atau merantau ke luar daerah.
4.2 Lokasi Penambangan
4.2.1 Aktivitas Penambangan
Berdasarkan

hasil

pengamatan

langsung

di

lapangan,

kegiatan

penambangan di Kecamatan Karangsambung terdiri dari 2 (dua) jenis kegiatan


penambangan yaitu:
1. Kegiatan penambangan pasir, terdapat di Desa Karangsambung dan Desa
Kaligending. Kegiatan penambangan dilakukan oleh penambang yang
memiliki izin dan penambangan yang tidak memiliki izin. Kegiatan
penambangan pasir dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Luk Ulo.
2. Kegiatan penambangan batuan, yaitu penambangan batuan diabas, terdapat di
lokasi Gunung Parang yang merupakan kawasan lindung geologi. Kegiatan
penambangan batuan diabas ini tidak memiliki izin.

4.2.1.1 Penambangan Pasir


Kegiatan penambangan pasir di Kabupaten Kebumen telah dilakukan
sejak dahulu, tidak diketahui kapan pertama kali dilakukan penambangan pasir
ini. Khususnya di Kecamatan Karangsambung mulai terjadi peningkatan
pengambilan pasir pada tahun 2004 2005.
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan bahwa kegiatan
penambangan pasir dilakukan di badan sungai, sempadan sungai, alur sungai,
dan tanah warga yang semulanya digunakan untuk lahan pertanian. Kegiatan
penambangan pasir ini dilakukan oleh penduduk setempat dan telah menjadi
mata pencaharian utama dan sampingan mereka.
Kegiatan penambangan pasir dilakukan dengan menggunakan alat
manual yaitu sekop dan ayakan, dan ada juga yang menggunakan mesin sedot.
Kebanyakan tidak menggunakan kaidah penambangan yang baik dan benar
(good mining practice). Kegiatan penambangan dilakukan sendiri-sendiri dan
ada juga yang dilakukan berkelompok antara 5 6 orang.
Di lokasi tambang terlihat bahwa banyak para penambang yang
menggunakan mesin sedot. Hal ini dikarenakan hasilnya lebih banyak jika
dibandingkan dengan cara manual. Selain itu tidak banyak menggunakan tenaga
karena menggunakan mesin. Namun penggunaan mesin sedot menyebabkan
kerusakan lahan lebih besar dan cepat jika dibandingkan dengan cara manual.
Para penambang biasanya melakukan kegiatan penambangan hampir
setiap hari, tetapi perolehan pasir setiap harinya tidak sama. Berdasarkan hasil
wawancara langsung dengan para penambang bahwa produksi hasil tambang
meningkat pada saat musim hujan, karena jika hujan banyak air, sehingga bisa
menggunakan mesin sedot dalam menambang pasir, sedangkan hasil perolehan
pasir paling sedikit adalah musim kemarau.
Para penambang pada umumnya berangkat pagi hari untuk menghindari
panas terik matahari. Ketika siang hari para penambang istirahat untuk makan,
minum dan melepas lelah. Bagi penambang yang rumahnya cukup jauh dari
tempat penambangan, mereka akan beristirahat di warung-warung makan di
daerah penambangan. Biasanya jumlah penambang sudah semakin berkurang

ketika mulai sore hari karena beberapa penambang pasir pulang untuk
mengerjakan aktifitas lainnya.
4.2.1.2 Penambangan Batuan
Penambangan batuan yang dilakukan di Kecamatan Karangsambung,
yaitu penambangan batuan diabas. Penambangan batuan diabas ini di lokasi
Gunung Parang, Karangsambung yang merupakan kawasan lahan lindung
geologi. Penambangan batuan diabas ini tidak memiliki izin (illegal).
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan bahwa kegiatan
penambangan batuan diabas dilakukan di wilayah Cagar Alam Geologi
Karangsambung. Para penambang tidak menggunakan peralatan keselamatan
seperti helm, sepatu keselamatan (safety shoes). Kegiatan penambangan batuan
diabas ini dilakukan oleh penduduk setempat untuk memenuhi kebutuhan
mereka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang penambang batuan
diabas di Gunung Parang bahwa kegiatan penambangan dilakukan sebanyak 10
orang dengan waktu penambangan dari pagi hingga sore hari. Kegiatan
penambangan batuan diabas dilakukan dengan menggunakan alat pacul, palu,
linggis, tali, dan menggunakan bahan peledak. Penambang mengaku menjual
batu-batu hasil tambang untuk keperluan bahan bangunan. Sebagian besar
dipakai untuk bahan fondasi bangunan di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Pada
umumnya para penambang sadar tentang dampak penambangan yang dilakukan.
Namun desakan ekonomi memaksa mereka melakukan penambangan yang dapat
merusak kawasan cagar alam geologi Karangsambung tersebut.
4.2.2

Kondisi lokasi penambangan


Lokasi penambangan yang menjadi tempat penelitian yaitu penambangan

pasir di Desa Krangsambung dan Desa Kaligending, sedangkan penambangan


batuan diabas di lokasi Gunung Parang Karangsambung. Lokasi penambangan di
Desa Karangsambung banyak terdapat para penambang yang melakukan
penambangannya dengan menggunakan mesin sedot, hanya beberapa orang yang
menambang pasir dengan cara manual. Mereka melakukan penambangan pada

badan sungai dan sempadan sungai. Sepanjang dataran sungai di Desa


Karangsambung banyak terdapat pemanfaatan lahan untuk pertanian (sawah).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada lokasi penambangan pasir di
Desa Karangsambung banyak terdapat lahan sawah yang rusak dan terbentuknya
kubangan-kubangan bekas penambangan. Di samping itu adanya tebing sungai
yang longsor dan adanya bronjong yang jebol. Di lokasi penambangan juga
terlihat adanya jalan dan jembatan yang rusak dan lahan bekas penambangan
dibiarkan begitu saja terbengkalai, dan upaya reklamasi belum ada sampai saat
ini. Sedangkan di lokasi penambangan batuan diabas di lokasi Gunung Parang
terlihat adanya kerusakan situs geologi yang dilindungi.
4.2.3

Dampak spasial kegiatan penambangan


Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan telah terjadi perubahan

kondisi fisik lingkungan sebagai dampak spasial dari kegiatan penambangan


pasir dan batuan. Perubahan fisik lingkungan yang terjadi seperti perubahan
lahan (dari lahan pertanian menjadi lahan tambang), tanah longsor, rusaknya
jalan, jembatan dan kawasan geologi yang dilindungi.
Disamping itu juga dampak fisik dari kegiatan penambangan pasir yaitu
terjadinya perubahan aliran sungai Luk Ulo. Terjadinya perubahan aliran sungai
ini karena pengambilan pasir dilakukan di pinggir sungai menyebabkan bagian
tengah sungai lebih tinggi dari pinggir sungai, sehingga arah aliran sungai
menuju ke bagian yang lebih rendah yaitu di pinggir sungai. Jika terjadi erosi
menyebabkan tebing sungai longsor, dan mengakibatkan sawah yang berbatasan
langsung dengan sungai juga longsor.

V. TEMUAN DAN PEMBAHASAN


5.1 Kejadian Konflik Guna Lahan
Konflik guan lahan di Kecamatan Karangsambung sehubungan dengan
adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan meliputi tiga kejadian konflik
yaitu: (1) konflik penyerobotan kawasan perlindungan setempat, (2) konflik
penyerobotan kawasan lindung geologi, dan (3) konflik penyerobotan lahan

pertanian. Konflik penyerobotan kawasan perlindungan setempat terjadi karena


para penambang melakukan kegiatan penambangan pasir di badan sungai dan
sempadan sungai yang merupakan kawasan perlindungan setempat di Desa
Karangsambung dan Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung. Hal ini
tidak sesuai dengan fungsinya, sehingga terjadi perubahan guna lahan kawasan
lindung setempat. Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan lindung setempat telah
beralih fungsi atau terjadi pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan
peruntukkanya sehingga terjadi konflik guna lahan.
Konflik penyerobotan kawasan perlindungan setempat melibatkan tiga
pelaku konflik yaitu penambang, masyarakat yang terkena dampak, dan aparat
pemerintah. Konflik yang terjadi berupa konflik primer yaitu konflik antara
penambang dan aparat pemerintah dan konflik sekunder yaitu konflik antara
penambang dan masyarakat yang terkena dampak dan konflik antara masyarakat
yang terkena dampak dan aparat pemerintah. Konflik antara penambang dan
aparat pemerintah merupakan konflik fungsional, konflik kepentingan, dan
konflik kelembagaan dengan wujud konflik manifest dan level permasalahan
konflik termasuk dalam konflik vertikal. Konflik antara penambang dan
masyarakat yang terkena dampak merupakan konflik fungsional dan konflik
kepentingan dengan wujud konflik manifest dan level permasalahan konflik
termasuk dalam konflik horizontal. Sedangkan konflik antara masyarakat yang
terkena dampak dan aparat pemerintah merupakan konflik kelembagaan dengan
wujud konflik laten dan level permasalahan konflik termasuk dalam konflik
vertikal.
Konflik penyerobotan kawasan lindung geologi terjadi karena kegiatan
penambangan dilakukan di lahan lindung geologi di Gunung Parang, Desa
Karangsambung, Kecamatan Karangsambung. Gunung Parang termasuk lahan
lindung geologi yang tidak boleh dilakukan penambangan. Kenyataan di
lapangan penambang melakukan penambangan batuan diabas di lokasi ini. Hal
ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan penambangan batuan diabas terjadi
pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkanya sehingga terjadi
konflik guna lahan.

Konflik penyerobotan kawasan lindung geologi melibatkan dua pelaku


konflik yaitu penambang dan aparat pemerintah. Konflik antara penambang dan
aparat pemerintah merupakan konflik fungsional, konflik kepentingan, dan
konflik kelembagaan dengan wujud konflik manifest dan level permasalahan
konflik termasuk dalam konflik vertikal.
Konflik penyerobotan lahan pertanian terjadi karena para penambang
melakukan kegiatan penambangan pada lahan pertanian. Mereka menambang di
lahan pertanian karena terbatasnya lahan yang mengandung pasir di sungai dan
lahan pertanian tersebut banyak mengandung pasir. Kandungan pasir di lahan
pertanian ini berasal dari material pasir yang ada di sungai, ketika terjadi banjir
pasir tersebut terbawa oleh air ke lahan pertanian yang ada di sekitar sungai.
Para penambang melakukan penambangan pasir di lahan pertanian tanpa
sepengetahuan pemilik lahan (petani). Kondisi ini membuat petani marah dan
tidak terima, karena dianggap menyerobot lahan pertanian mereka. Hal ini
menunjukkan

bahwa

telah

terjadi

ketidaksesuaian

fungsi

lahan

yaitu

pemanfaatan lahan dengan fungsi budidaya untuk pertanian digunakan untuk


kegiatan penambangan. Dengan demikian terjadi pertentangan antar fungsi
budidaya sehingga terjadi konflik guna lahan.
Konflik penyerobotan lahan pertanian melibatkan tiga pelaku konflik
yaitu penambang, masyarakat yang terkena dampak, dan aparat pemerintah.
Konflik yang terjadi berupa konflik primer yaitu konflik antara penambang dan
aparat pemerintah dan konflik sekunder yaitu konflik antara penambang dan
masyarakat yang terkena dampak dan konflik antara masyarakat yang terkena
dampak dan aparat pemerintah. Konflik antara penambang dan aparat pemerintah
merupakan konflik fungsional, konflik kepentingan, dan konflik kelembagaan
dengan wujud konflik manifest dan level permasalahan konflik termasuk dalam
konflik vertikal. Konflik antara penambang dan masyarakat yang terkena
dampak merupakan konflik fungsional dan konflik kepentingan dengan wujud
konflik manifest dan level permasalahan konflik termasuk dalam konflik
horizontal. Konflik antara masyarakat yang terkena dampak dan aparat
pemerintah merupakan konflik kelembagaan dengan wujud konflik laten dan

level permasalahan konflik termasuk dalam konflik vertikal. Sedangkan konflik


antar penambang merupakan konflik fungsional dengan wujud konflik manifest
dan level permasalahan konflik termasuk konflik vertikal.
5.2 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Konflik Guna Lahan
Faktor-faktor yang menyebabkan konflik guna lahan di Kecamatan
Karangsambung sehubungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan
batuan, yaitu: (1) keterbatasan lahan, (2) faktor ekonomi meliputi: (a) income
(pendapatan) para penambang, (b) lahan sebagai komoditas, (3) sikap
penambang meliputi: (a) kurangnya kesadaran akan kelestarian lingkungan, (b)
kurangnya kesadaran hukum, (4) faktor sosial meliputi: (a) rata-rata penambang
berpendidikan rendah (SD SMP), (b) tidak memiliki pekerjaan selain
menambang, (c) kecemburuan ekonomi dari masyarakat yang tidak menambang
pada masyarakat yang menambang, (5) faktor teknologi yaitu penggunaan mesin
sedot dan alat berat (backhoe), (6) faktor perbedaan kepentingan yakni
kepentingan penambang, kepentingan masyarakat yang terkena dampak, dan
kepentingan pemerintah, (7) perbedaan pemahaman, (8) faktor lemahnya
pengawasan dan pengendalian (wasdal) yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
(SKPD) yang dipengaruhi oleh: (a) jumlah aparat kurang, (b) kompetensi aparat
lemah, (c) keterbatasan anggaran/dana, (d) kompleksitas tugas pokok dan fungsi
dari bidang ESDM, (e) inkonsistensi Pemerintah Daerah dalam penegakan
aturan, (f) koordinasi antar instasi/dinas terkait lemah.
5.3 Struktur Hubungan Faktor-Faktor yang Menyebabkan Konflik
Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik guna
lahan di Kecamatan Karangsambung, seperti yang telah diuraikan di atas, dapat
dibuat struktur hubungan faktor-faktor tersebut. Konflik guna lahan di
Kecamatan Karangsambung sebagai masalah pokok dalam penelitian ini terjadi
karena pengawasan dan pengendalian oleh Pemerintah Daerah (SKPD) yang
masih lemah dan pemberdayaan penambang yang belum optimal. Lemahnya
pengawasan dan pengendalian oleh Pemerintah Daerah (SKPD) dapat dilihat dari

adanya kegiatan penambangan pada kawasan lindung dan belum adanya


penertiban terhadap kegiatan penambangan pada kawasan lindung berupa
pemberian sanksi penutupan kegiatan penambangan. Hal ini menunjukkan
penegakan hukum yang tidak tegas dari Pemerintah Daerah. Lemahnya
pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh Pemerintah Daearah (SKPD)
ini dipengaruhi oleh (1) jumlah aparat kurang dan kompetensi aparat lemah serta
belum adanya inspektur tambang, (2) inkonsistensi pemerintah dalam
menegakkan aturan, (3) keterbatasan anggaran/dana, (4) kompleksitas tugas
pokok dan fungsi dari bidang ESDM, dan (5) koordinasi antar dinas/instansi
terkait lemah. Untuk itu diperlukan suatu mekanisme pengendalian kegiatan
penambangan yang melibatkan penambang dan masyarakat sekitar. Di samping
itu perlunya ketegasan pemerintah dalam penegakan hukum melalui penguatan
aparat penegakan hukum. Namun dalam mewujudkan penguatan penegakan
hukum dalam bidang penguatan aparat, perlengkapan dan dana operasional tentu
tidak mudah terwujud dalam waktu yang singkat. Mengingat keterbatasan yang
terdapat pada aparat penegakan hukum, maka sudah sepatutnya para penambang
diberdayakan dan dilibatkan secara aktif dalam penegakkan hukum.
Pemberdayaan tambang yang belum optimal juga menjadi penyebab
terjadinya konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung. Pemerintah
Daearah (SKPD) telah melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis untuk
meningkatkan pemberdayaan penambang, namun kegiatan ini tidak memberikan
penyadaran kepada penambang akan pentingnya kegiatan penambangan yang
baik dan berwawasan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari tata cara
penambangan yang dilakukan tidak sesuai dengan peraturan yang telah
ditetapkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini masih bersifat
penyuluhan. Untuk itu diperlukan upaya Pemerintah Daerah dalam menanamkan
pemahaman penambang tentang ketentuan-ketentuan peraturan perundangundangan dan penerapannya harus dilakukan secara sederhana sesuai dengan
tingkat pendidikan penambang yang masih rendah. Pendekatan secara psikologis
dan disertai dengan kegiatan nyata di lapangan yang secara bertahap akan
membawa penambang kepada kesadaran hukum dan lingkungan sehingga pada

akhirnya ikut membantu upaya konservasi sumberdaya alam pada kawasan


lindung dan pelestarian lahan pertanian.
Konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung juga terjadi karena
adanya perbedaan kepentingan yaitu kepentingan penambang, kepentingan
masyarakat yang terkena dampak (petani dan penghuni sekitar), dan kepentingan
pemerintah. Para penambang mempunyai kepentingan sebagai sumber mata
pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Petani mempunyai kepentingan
pada daerah bantaran sungai yang merupakan pembatas lahan sawah mereka
dengan sungai dan mempunyai kepentingan pada lahan sawah mereka dari
kerusakan akibat kegiatan penambangan. Sedangkan pemerintah mempunyai
kepentingan dalam penegakan aturan dan konservasi sumberdaya alam pada
kawasan lindung, serta untuk pelestarian lahan pertanian.
Pemahaman penambang yang masih rendah dapat menjadi salah satu
penyebab terjadinya konflik antara penambang dengan pemerintah. Kegiatan
penambangan yang dilakukan ada yang memiliki izin dan ada yang tidak
memiliki izin. Pemanfaatan kawasan lindung untuk kegiatan penambangan
terjadi karena perbedaan pemahaman antara penambang dan aparat pemerintah.
Penambang menganggap bahwa lokasi penambangan merupakan milik sendiri
yang sudah dikelola sejak lama, akan tetapi penambang tidak mengakui kalau
lokasi penambangan merupakan kawasan lindung.
Konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung juga terjadi karena
keterbatasan lahan yang mengandung barang tambang yang ekonomis. Karena
keterbatasan wilayah tambang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, para
penambang berusaha untuk menyerobot kawasan perlindungan setempat dan
lahan pertanian yang ada kandungan barang tambangnya sehingga terjadi konflik
guna lahan.

VI.

KESIMPULAN, REKOMENDASI, DAN DAFTAR PUSTAKA


6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan pada bab-bab


sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Kejadian konflik guna lahan di Kecamatan Karangsambung berdasarkan
pelaku, wujud dan jenis konflik memunculkan tiga macam tipologi konflik
guna lahan yaitu konflik fungsional, konflik kepentingan, dan konflik
kelembagaan.
2. Dari teori yang ada mengenai tipologi konflik guna lahan, ternyata konflik
guna lahan di Kecamatan Karangsambung pada teori hanya ditemukan konflik
fungsional, konflik nilai, dan konflik kepentingan, sedangkan pada penelitian
ini ditemukan adanya konflik kelembagaan karena dari hasil temuan di
lapangan bahwa salah satu yang menjadi akar permasalahan terjadinya konflik
guna lahan di Kecamatan Karangsambung adalah dari aspek kelembagaan
yakni tidak terlaksananya upaya pengelolaan dan penegakan aturan kegiatan
pertambangan oleh pemerintah.
3. Faktor-faktor yang menyebabkan konflik guna lahan sehubungan dengan
adanya

kegiatan

penambangan

pasir

dan

batuan

di

Kecamatan

Karangsambung, yaitu (1) keterbatasan lahan, (2) faktor ekonomi, (3) sikap
penambang, (4) faktor sosial, (5) faktor teknologi, (6) perbedaan kepentingan,
(7) perbedaan pemahaman, (8) lemahnya pengawasan dan pengendalian yang
dilakukan oleh pemerintah daerah (SKPD).
6.2 Rekomendasi
1. Kepada peneliti berikutnya:
Tesis ini fokus dalam menemukan faktor-faktor yang menyebabkan
konflik guna lahan dan struktur hubungan faktor-faktor tersebut sehubungan
dengan adanya kegiatan penambangan pasir dan batuan di Kecamatan
Karangsambung, Kabupaten Kebumen, dan belum membahas upaya-upaya
penyelesaian konflik. Untuk itu, bagi peneliti berikutnya bisa dilanjutkan dengan
menemukan upaya-upaya penyelesaian konflik.

2. Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen:


a. Pemerintah Daerah harus melakukan lokalisasi wilayah penambangan dengan
membuat rencana detail melaui peta zonasi (yang memuat daerah yang boleh
ditambang dan tidak boleh ditambang) dan menerapkan mekanisme insentif
dan disinsentif.
b. Pemerintah Daerah perlu meningkatkan koordinasi antar institusi terkait
seperti Bappeda, Dinas ESDM, BLH, DPPKAD, KPPT, Satpol PP dan
instansi lain yang terkait dengan kegiatan pertambangan, agar dalam
melakukan pengendalian dan pengawasan menjadi efektif dan maksimal.
c. Pemerintah Daerah perlu membuat peraturan teknis mengenai tata cara
penambangan yang baik dan benar (Good Mining Practice) dan harus tegas
dalam menegakkan aturan bagi yang melakukan pelanggaran.
d. Pemerintah Daerah perlu melakukan pembinaan dan pengawasan secara
intensif dengan mengajak para penambang dan masyarakat sekitar untuk
bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan.
6.3 Daftar Pustaka
Alwasilah, A. Chaedar, 2002, Pokoknya Kualitatif, Dasar-Dasar Merancang dan
Melakukan Penelitian Kualitatif, PT. Dunia Pustaka Jaya: Jakarta.
Jayadinata, Johara T., 1999, Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan,
Perkotaan, dan Wilayah, Edisi Ketiga, Penerbit ITB: Bandung.
Limbong, Bernhard, 2012, Konflik Pertanahan, Pustaka Margaretha: Jakarta
Selatan.
Maskanah, Siti dan H. Fuad, Faisal, 2000, Inovasi Penyelesaian Sengketa
Pengelolaan Sumberdaya Hutan, Pustaka Latin: Bogor.
Matsum, 2002, Analisis Proses Perizinan untuk Pengendalian Pemanfaatan
Ruang di Kota Salatiga, Studi Kasus: Ijin Usaha Kegiatan Industri, Tesis
S2, Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah, UGM:
Yogyakarta.
Mitchell, Bruce., B. Setiawan, Dwita Hadi Rahmi, 2000, Pengelolaan Sumber
Daya dan Lingkungan, Cetakan Ketiga, Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Pemerintah Republik Indonesia, 2007, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang.

Prihandoko, Budi, 1996, Konflik Penggunaan Lahan, Studi Kasus Kota


Yogyakarta, Tesis S2, Program Studi Magister Perencanaan Kota dan
Daerah, UGM: Yogyakarta.
Senge, Peter, 1990, The Fifth Disipline, The Art & Practice of The Learning
Organization, Currency Doubleday.