Anda di halaman 1dari 3

Titanium merupakan elemen yang berlimpah tetapi sulit direduksi dari oksida.

Titanium
sebagai logam yang sangat murni memiliki kekuatan luluh (y) 254,5 MPa dengan elongasi 55
persen. Secara komersil titanium (99 %) terbentuk lebih dari 0,3 persen oksigen, 0,1 nitrogen,
dan masing-masing 0,2 persen karbon dan besi. Memiliki kekuatan luluh (y) 483 MPa, elongasi
minimum 15 persen. Kekuatan tarik sampai 724,5 MPa. Spesific gravity 4,54, dan titik leleh
1660oC. Bersifat paramagnetik dan memilik konduktivitas termal rendah (Brady and Clauser,
1979).
Titanium merupakan deoksidizer baja yang lebih kuat dibandingkan silikon dan mangan.
Titanium adalah salah satu dari sedikit logam yang bersifat alotropik (contoh lain adalah baja).
Yaitu dapat berwujud dalam dua bentuk kristalografi berbeda. Pada temperatur kamar
strukturnya Hexagonal Closed-Packed (HCP), sebagai fase . Pada sekira 880oC fasa
bertransformasi menjadi struktur Body Centered Cubic (BCC), atau fase yang stabil sampai
titik leleh 1660oC.
Unsur paduan cenderung memantapkan salah satu dari kedua fase itu pada temperatur
kamar, terutama dimaksudkan untuk mengubah sifat-sifat mekanik dan fisik logam, tetapi
perubahan sturktur yang terjadi juga mengubah perilaku korosinya. Alumunium dan timah
adalah pemantap , sedangkan vanadium, molibdenum, kromium, dan tembaga adalah pemantap
. Biasanya paduan-paduan / dan mempunyai sifat mekanik yang sangat baik tetapi agak
lemah ketahanan terhadap korosi umumnya dibanding paduan-paduan (Trethewey and
Chamberlain, 1991).
Keunggulan titanium dan paduannya yang sangat baik dibanding logam penting lainnya adalah :
1. 40 persen lebih ringan daripada baja ( titanium 4,505 g/cm3, baja 7,8 g/cm3. Dengan
kekuatan sama baiknya.
2. 60 persen lebih berat daripada alumunium ( alumunium 2,7 g/cm3). Dengan kekuatan dua
kali kekuatan alumunium.
3. Kombinasi berat moderat dan kekuatan yang tinggi menghasilkan 1,38 GPa, menjadikannya
memiliki rasio kekuatan terhadap berat paling tinggi, yaitu 30 persen lebih tinggi dari
alumunium atau baja.
4. Ketahanan korosi yang sangat baik
5. Sebagai logam mulia (dalam urutan deret galvanik)

Proses fabrikasi titanium agak sulit karena sifatnya yang rentan terhadap pengotor
hidrogen, oksigen, dan nitrogen, dapat menyebabkan penggetasan (embrittlement). Contoh
produksi casting titanium dan paduannya (untuk implantasi perbedahan, piranti keras kelautan,
peralatan kimia seperti kompresor dan body valve) dilakukan pada dapur tinggi vakum agar tidak
bereaksi dengan gas oksigen (Brady and Clauser, 1979).
Alasan utama penggunaan titanium dan paduannya adalah perilaku ketahanan korosi yang
sangat baik dan biocompatibility. Stabilitas korosi titanium disebabkan oleh sebuah lapisan pasif
semikonduktif-n dari formula Ti1+O2 pada permukaanya. Ketebalannya kurang dari 20 nm. Laju
disolusi Ti1+O2 sekitar 0,043 nm day-1 (Allard 1975) pada pH fisiologis 7,4, merupakan hal
penting bagi penggunaan medis karena fluida tubuh adalah jenuh dengan ion titanium
(Maeusli,1986).
Dalam kondisi atmosfer, permukaan titanium selalu ditutupi oleh lapisan oksida TiO2.
Lapisan oksida ini, dengan ketebalan beberapa nanometer, yang tidak berbentuk, dan terus
menebal, misalnya karena polarisasi elektrokimia anodik, akan memunculkan fase crystalline
(rutile dan anatase) (Helsen and Breme, 1998).
Korosi Titanium dalam Larutan Artificial Blood Plasma (ABP)
Pada uraian sebelumnya disebutkan bahwa lapisan pasif titanium termasuk logam semi
konduktif (atau konduktif). Konduktivitas pada lapisan tipis permukaan mengendalikan reaksi
yang melalui interface. Beberapa kemungkinan reaksi elektrokimia yang terjadi adalah :
Ti Ti4+ + 4e- (oksidasi titanium)
O2 + 2H2O + 4e- 4OH- (reduksi oksigen, pH yang bekerja 7,4)
Pembentukan lapisan titanium dioksida yang umumnya terjadi yaitu :
Ti + 2H2O + O2 TiO2 + 4OHJika terjadi pembentukan lapisan titanium monoksida, maka reaksi adalah :
Ti4+ + e- Ti3+ (reduksi ion logam)
Ti3+ + e- Ti2+ (reduksi ion logam)
Ti2+ + O2 Ti (pembentukan titanium monoksida)
Senyawa yang dapat terbentuk melalui reaksi reduksi oksidasi diantaranya adalah :
3CaCl2 + 6Na+ + 2PO43- + 2H2O + O2 6NaCl + Ca3(PO4)2 + 4(OH)- (pembentukan
lapisan kalsium fosfat)
Ti + 4HCl TiCl4 + 2H2 (pembentukan Titanium tetraklorida)

Selain karena beban mekanik (friksi), korosi lokal dapat terjadi jika tekanan parsial
oksigen menurun dan ada penurunan pH. Penurunan pH dapat disebabkan oleh peradangan lokal
karena jaringan yang rusak, atau naiknya konsentrasi fosfat dan sulfat. Hal ini akan berpengaruh
pada lapisan oksida yang mendominasi lapisan pasif titanium.

PUSTAKA
Brady, G.S. and Clauser, H.R., 1979, Material Handbook, 8th edition, McGraw Hill Book
Company, pp. 794-797.
Trethewey, K.R. and Chamberlain, J., 1991, Korosi-Untuk Mahasiswa Sains dan Rekayasa,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Allard, K.D., Ahrens, M. and Heusler, K.E, 1975, Wach stum und Auflsung anodisch
erzeugter Oxidschichten auf Titan, Werkstoffe Korrosion, 16, 694-9.
Maeusli, P.A., Bloch, P.R., Geret, V. and Steinemann, S., 1986, Surface characterization of
titanium and Ti-alloys, in Biological and Biomechanical Performance of Biomaterials,
Proceedings of the Fifth European Conference on Biomaterials, Paris, 4-6 September 1985.
(eds P. Christel, A. Meun and A.J.C. Lee), Elsevier, Amsterdam, pp. 57-62.
Helsen, J.A. and Breme, H.J., 1998, Metals as Biomaterials, John Wiley & Sons Ltd, Chichester.