Anda di halaman 1dari 2

NAMA

NIM

: YOGIE FIRMAN
: 12010114120080

DOSEN

: ARIZA FUADI, S.E.I, MA

SEWA MENYEWA DALAM ISLAM


A. Pengertian Sewa Menyewa Dalam Islam
Sewa menyewa dalam bahasa arab diistilahkan dengan Al-ijarah. Menurut
pengertian hukum islam, sewa menyewa diartikan sebagai suatu jenis akad untuk mengambil
manfaat dengan jalan penggantian. Dari pengertian diatas dilihat bahwa yang dimaksud
dengan sewa menyewa adalah pengambilan manfaat sesuatu benda. Jadi, dalam hal ini
bendanya sama sekali tidak berkurang. Dengan perkataan lain terjadinya sewa menyewa
yang berpindah hanyalah manfaat dari benda yang disewakan tersebut.
Orang yang menyewakan disebut muajir.
Orang yang menyewa disebut mutajir.
Benda yang disewakan diistilahkan dengan majur.
Uang sewa atau imbalan atas pemakaiaan manfaat barang disebut ajrah atau ujrah.
B. Syarat Syarat Ijarah
1. Al-Mutaaqidain (kedua orang yang berakad).
Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah: baligh dan berakal.
Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah: tidak harus mencapai baligh, anak
yang telah mumayyiz (bisa membedakan mana yang baik salah) pun boleh
melakukan akad ijarah dan dianggap sah apabila disetujui oleh walinya.
2. Kedua belah pihak yang berakad menyatakan kerelaan untuk melakukan akad ijarah.
3. Manfaat yang menjadi obyek ijarah harus diketahui secara sempurna, sehingga tidak
muncul perselisihan dikemudian hari.
4. Obyek ijarah boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat.
5. Obyek ijarah adalah sesuatu yang dihalalkan oleh syara.
6. Objek ijarah itu merupakan sesuatu yang biasa disewakan, seperti rumah, mobil, dan
hewan tunggangan.
7. Upah/sewa dalam akad ijarah harus jelas, tertentu dan sesuatu yang bernilai harta.
C. Rukun Ijarah
Menurut ulama Hanafiyah, rukun ijarah itu hanya satu, yaitu ijab (ungkapan
menyewakan) dan qabul (persetujuan terhadap sewa-menyewa), antara lain dengan
menggunakan kalimat: al-ijarah, al-istijar, al-ikhtira, dan al-ikra. Adapun menurut jumhur
ulama mengatakan bahwa rukun ijarah ada empat (4), yaitu:
1.
2.
3.
4.

Aqid (orang yang berakad)


Shighat akad (ijab qabul)
Ujrah (upah)
Manfaat

D. Pembatalan Dan Berakhirnya Sewa Menyewa

1.
2.

3.
4.

Para ulama fiqh menyatakan bahwa akad ijarah akan berakhir apabila:
Tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah telah berakhir.
Menurut ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad, karena kad ijarah,
menurut mereka, tidak boleh diwariskan. Sedangkan menurut jumhur ulama, akad
ijarah tidak batal dengan wafatnya salah seorang berakad, karena manfaat, menurut
mereka, boleh diwariskan dan ijaraha sama denganjual beli, yaitu mengikat kedua
belah pihak yang berakad.
Objek hilang atau musnah, seperti rumah terbakar.
Menurut ulama Hanafiyah, apabila ada uzur dari salah satu pihak, seperti rumah yang
disewakan disita negara karena terkait utang yang banyak, maka akad iajarah batal.

E. Sewa Beli atau IMBT(Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik)


Beberapa ekonom syariat mendefinisikan IMBT dalam banyak ungkapan, namun
dapat disimpulkan IMBT adalah transaksi sewa barang yang diakhiri dengan pemindahan
status pemilikan barang kepada penyewa. Transaksi ini sejenis perpaduan antara kontrak
jual-beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang
di tangan si penyewa. IMBT ini memiliki beragam bentuk sesuai dengan penerapannya atau
rekayasa bentuk kebentuk yang lainnya. Namun dalam kesempatan ini kami utarakan tujuh
bentuknya yang sudah masyhur.
1. IMBT Tanpa Membayar Kecuali Angsuran Sewa Saja
2. Sewa Disertai Dengan Penjualan Barang Yang Disewa Dengan Harga Simbolik
3. Sewa Disertai Dengan Penjualan Barang Yang Disewa Dengan Harga Sebenarnya
(Harga Umum)
4. Sewa Disertai Dengan Janji Penjualan
5. Sewa Berakhir Dengan Memberikan Hak Pilih Antara Memiliki Atau Tidak
6. Pembiayaan Leasing (al-Ijrah at-Tamwliyah)
7. IMBT Dengan Pembayaran Bertahap Pada Pembelian Barang Yang Disewa