Anda di halaman 1dari 56

SKENARIO 1

Kelompok 6

Skenario 1
Seorang bayi laki-laki lahir di RS UMM melalui spontan belakang kepala dengan kala II
lama. Pada jam 01.10 tanggal 25-09-2014. usia kehamilan aterm , berat badan saat
lahir 3500 gram dengan panjang badan lahir 50 cm dan lingkar kepala 35 cm, lingkar
dada 34 cm. Lahir dengan AS 1-3-5-7 dan ketuban mekoneal. Usia ibu 25 tahun.
Kehamilan ini merupakan yang pertama dan tidak ada riwayat abortus sebelumnya.
Tidak didapatkan riwayat ketuban pecah dini saat hamil. Tidak didapatkan riwayat
hipertensi maupun diabetes mellitus tetapi didapatkan hipertemia, dysuria, dan fluor
albus pada saat hamil trimester III. Riwayat trauma tidak didapatkan. Ibu berkunjung
teratur di bidan setiap bulan unutk pemeriksaan kehamilan dengan hasil yang
dikatakan normal. Mendapat suplemen dan vitamin penambah darah.

Keyword
Bayi laki-laki, pembukaan kala II lama, BB 3500 gram, PB 50 cm, LK 35 cm, LD 34 cm
kehamilan aterm
AS 1-3-5-7 ketuban mekoneal
Primigeavida
Riwayat abortus
Riwayat KPD
Riwayat hipertensi
Riwayat diabetes melitus
Hipertermia, dysuria, fluor albus saat trimester III
Kehamilan normal
Mendapat vitamin dan tablet penambah darah

Klarifikasi Istilah
Ketuban mekoneal
Mekonium adalah feces pertama dari Bayi Baru lahir ( BBL ). Mekonium bersifat kental,
pekat dan berwarna hijau kehitaman. Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama
kali sesudah persalinan ( 12 24 jam pertama ). Sekitar 15% kasus mekonium dikeluarkan
sebelum persalinan dan bercampur dengan air ketuban. Hal ini menyebabkan cairan
ketuban berwarna kehijauan. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu
kehamilan. Bila mekonium telah terlihat sebelum persalinan dan bayi pada posisi kepala,
monitor bayi dengan seksama karena merupakan tanda bahaya.
(tatalaksana-resusitasi-bayi-baru-lahir_xii_2009)

Abortus
Keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas, dimana masa gestasi belum mencapai 22
minggu dan beratnya kurang dari 500 gram. Llewollyn & Jones (2002)
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau janin belum mampu unutk hidup di luar kandungan
(Prawirohardjo,2008)
Hipertensi
Hipertensi adalah adanya kenaikan tekanan darah melebihi batas normal yaitu tekanan darah 140/90
mmHg (Prawirohardjo, 2008).
Hipertensi yang diinduksi kehamilan (Pregnarcy-induced hypertension, PIH) dahulu disebut tokesemia
kehamilan atau pre eklampsia. PIH merupakan 80 persen dari semua kasus hipertensi pada kehamilan
dan mengenai antara 3-8 persen pasien, terutama primigravida, pada kehamilan trimester kedua.
Tekanan darah sistolik darah sistolik 140mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg didapatkan
perta Tidak ada proteinuria maupun tanda dan gejala preeklampsia

Tekanan darah kembali normal pada 42 hari setelah post partum

Definisi ini meliputi wanita dengan sindarioma preeklampsia tanpa disertai manifestasi proteinuria

Mempunyai resiko hipertensi pada kehamilan selanjutnya

Dapat berkembang menjadi preeklampsia maupun hipertensi berat.ma kali pada usia kehamilan >
20 minggu
Saat ini hipotesis utama yang dapat diterima dalam menjelaskan terjadinya preeklamsia adalah iskemia
pada plasenta, preeklamsia sebagai manifestasi reaksi keracunan, maladaptasi imunologi, gangguan
genetik. Inadekuatnya invasi trofoblas terhadap miometrium menyebabkan gangguan pada proses
vasodilatasi fisiologis dari arteri spiralis maternal. Sindariom preeklampsia maternal juga berhubungan
dengan faktor tambahan invasi trofoblas yang inadekuat juga disertai dengan gangguan pertumbuhan
janin tanpa penyakit maternal.

Diabetes meliitus
Diabetes Melitus adalah penyakit kelainan metabolik yang dikarakteristik an
dengan hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidariat, lemak dan
protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun keduanya (World Health
Organisation. Diabetes melitus : Report of a WHO Study
Group. World Health Organisation. Geneva-Switzerland. 206)
Hipertermia
Adalah peningkatan suhu tubuh > 37.5, hal ini akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi,
peningkatan rata-rata metabolisme tubuh dan peningkatan kehilangan cairan tubuh (Buku
Ajar Neonatologi, IDAI, 2014)
Dysuria
Disuria yaitu nyeri ketika buang air kecil. (Repository USU)
Fluor albus
Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal
pada wanita ( Wijayanti, 2009,p.52). Keputihan adalah semacam slim
yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan
agak kekuning-kuningan. Jika slim atau lendir ini tidak terlalu banyak,
tidak menjadi persoalan (Sasmiyanti & Handayani, 2008). Keputihan
adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang di keluarkan
dari alatalat genital yang tidak berupa darah (Sarwono, 2005,p.271).

Apgar Score

Apgar skor adalah suatu metode sederhana yang digunakan


untuk menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran
(Prawirohardjo : 2002).
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita
asfiksia atau tidak. Yang dinilai adalah frekuensi jantung (Heart rate),
usaha nafas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit
(colour) dan reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli) yaitu dengan
memasukkam kateter ke lubang hidung setelah jalan nafas dibersihkan
(Prawirohardjo : 2002).
Setiap penilaian diberi angka 0,1,2. Dari hasil penilaian tersebut
dapat diketahui apakah bayi normal (vigorous baby = nilai apgar 7-10),
asfiksia ringan (nilai apgar 4-6), asfiksia berat (nilai apgar 0-3)
(Prawirohardjo : 2002).

Rumusan Masalah
Mengapa mekonium bisa terdapat dalam ketuban ibu? Dan apa dampaknya?
Kadang-kadang janin tidak memperoleh oksigen yang cukup ( gawat janin ). Kekurangan
oksigen dapat meningkatkan gerakan usus dan membuat relaksasi otot anus. Dengan
demikian janin mengeluarkan mekonium. Bayi dengan resiko lebih tinggi untuk gawat janin
memiliki pewrnaan air ketuban bercampur mekonium ( warna kehijauan ) lebih sering,
misalnya bayi kecil untuk masa kehamilan ( KMK ) atau bayi post matur.
Bila air ketuban bercampur mekonium berwarna kehijauan, maka bayi dapat kemasukan
mekonium dalam paru-parunya selama di dalam rahim, atau mekonium masuk ke paru-paru
sewaktu bayi memulai bernapas begitu lahir. Tersedak mekonium dapat menyebabkan
pneumonia dan mungkin kematian.

Mekonium sendiri normalnya dikeluarkan setelah bayi dilahirkan dan telah disusui. Namun
akibat stress janin, mekonium bisa dikeluarkan ke dalam air ketuban. Janin akan
mengeluarkan refleks terkejut Mengambil nafas kuat mekonium masuk ke paru-paru

Mengapa bisa terjadi hipertermia pada ibu hamil tersebut?


Hipertermi atau peningkatan suhu tubuh dalam skenario ini tidak bisa disimpulkan
bersifat fisiologis ataupun patologis.
Secara fisiologis suhu tubuh ibu hamil bisa meningkat diakibatkan oleh peningkatan
metabolisme ibu untuk nutrisi bagi janin
Secara patologis, hipertermi gangguan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan
suhu yaitu pirogen degenerasi jaringan tubuh demam

Bagaimana hubungan antara mekonium, asfiksi, dan sepsi pada neonatarum?


Mekonium yang tercampur dalam air ketuban apabila masuk ke dalam paru-paru
bisa mengakibatkan Meconium Aspirasi Syndariome (MAS) Apgar Score Asfiksi
Neonatarum Sepsis Neonatarum
Apa maksud dari AS 1 3 5 7
Maksudnya ialah penilaian apgar score pada menit le 0,5,10,15. apgar score diukur
mulai menit ke 0 dan ke 5. apabila pada menit ke 5 mendapatkan nilai <7 maka
dilanjutkan hingga menit ke 20. normal 7-10, asfiksi ringan 4-6, dan asfiksi berat 0-3
Bagaimana manifestasi klinis dari asfiksi dan sepsis neonatarum?

Apgar Score

Asfiksi
Definisi
Asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas spontan
dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin meningkatkan karbon
dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba,
2007).
Klasifikasi Asfiksia
Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration) asfiksia
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010)

Etiologi dan Faktor Risiko Asfiksia


Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasenter
sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang yang mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim
dan dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi
penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah (Gomella, 2009):
1. Faktor ibu

Pre-eklampsi dan eklampsi


Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
Partus lama (rigid serviks dan atonia/ insersi uteri).

Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke
plasenta.
Perdarahan banyak: plasenta previa dan solutio plasenta (Gomella, 2009).
2. Faktor Tali Pusat
Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat(Gomella, 2009).

3. Faktor Bayi
Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi
forsep)
Kelainan bawaan (kongenital)
Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan) (Gomella, 2009 & Toweil 1966)
Manifestasi klinis Asfiksia
Denyut jantung janin lebih dari 1OOx/menit atau kurang dari lOOx/menit dan tidak teratur
Mekonium dalam air ketuban ibu
Apnoe
Pucat

Sianosis
Penurunan kesadaran terhadap stimulus
Kejang (Ghai, 2010)

Diagnosis Asfiksia
Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mencari faktor risiko terhadap terjadinya asfiksia neonatorum.
Gangguan/ kesulitan waktu lahir.
Cara dilahirkan.
Ada tidaknya bernafas dan menangis segera setelah dilahirkan (Ghai, 2010).
Pemeriksaan fisik
Bayi tidak bernafas atau menangis.
Denyut jantung kurang dari 100x/menit.
Tonus otot menurun.
Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa mekonium pada tubuh bayi.
BBLR (berat badan lahir rendah) (Ghai, 2010).
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada darah tali pusat jika:
PaO2 < 50 mm H2O
PaCO2 > 55 mm H2
pH < 7,30 (Ghai, 2010)

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara umum pada bayi baru lahir dengan asfiksia menurut Wiknjosastro (2005)
adalah sebagai berikut:
1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh, sehingga
dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu
diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir dengan:
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c) Bungkus bayi dengan kain kering.
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi harus posisi
lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3) Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi,
menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki
ventilasi.

Menurut Perinasia (2006), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia, antara lain:
a. Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)
Caranya:
1. Bayi dibungkus dengan kain hangat
2. Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
3. Bersihkan badan dan tali pusat.
4. Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator.
b. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya:
1. Bersihkan jalan napas.
2. Berikan oksigen 2 liter per menit.
3. Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi, bantu
pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
4. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5%sebanyak
6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk
mencegah tekanan intra kranial meningkat.

c. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)


Caranya:
1. Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2. Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3. Bila tidak berhasil lakukan ETT.

4. Bersihkan jalan napas melalui ETT.


5. Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc.
Dextrosa 40% sebanyak 4cc.
Pencegahan
Pencegahan saat persalinan
Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting, juga kerja sama yang baik
dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak.
Yang harus diperhatikan:

a. Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, sertapemberian pituitarin dalam dosis
tinggi.
b. Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan oksigen dan darah segar.
c. Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan menunggu lama pada kala II
(Perinasia, 2006).

SINdariOM ASPIRASI MEKONIUM


(SAM)
Hipoksia janin

Mekonium keluar & janin gasping


Cairan amnion yang terkontaminasi mekonium
terhirup ke larings dan trakhea
Pembersihan sal. napas tidak
adekuat

Mekonium masuk saluran napas lebih kecil dan


alveolus
Kerusakan paru

19

Manifestasi klinis
Bervariasi : tergantung keparahan serangan hipoksik dan jumlah
viskositas mekonium teraspirasi
Sering pada gestasi post matur : warna meko. pd kuku, rambut,
tali pusat
Gejala RDS ( takipnea, NCH, retraksi interkostal, diameter AP
dada >, sianosis
Pada gejala MAS lambat : distres nafas awal ringan. Semakin
parah bbrp jam : atelektasis dan pneumonitis kimia
Auskultasi : vesikular lemag, ronki/rales, wheezing/mengi

Pemeriksaan radiologis
Foto polos dada : infiltrat kasar menyebar pd kedua lap.paru, dapat disertai
pneumotoraks, atelektasis, emfisema

Risk Factors for


Meconium Passage
Postterm pregnancy

Preeclampsia-eclampsia
Maternal hypertension
Maternal diabetes mellitus
Abnormal fetal heart rate
IUGR
Abnormal biophysical
profile
Oligohydariamnios
Maternal heavy smoking

Meconium in Amniotic Fluid


Intrapartum suctioning of mouth,
nose, pharynx
Infant Active

Observe

Infant Depressed

Intubate and suction


trachea

Other resuscitation as indicated

Langkah diagnostik
Riwayat : PJT ( pertumbuhan janin terhambat ), kesulitan
persalinan / gawat janin, persalinan dengan air ketuban
mekonial, asfiksia berat
Pemerksaan fisik : cair ketuban mekonial/ bayi diliputi mekonium,
tl pusat/kulit bayi warna hijau, asfiksia berat bbrp jam
gangguan nafas/RDS, td bayi lebih bulan
Foto toraks : AP dan Lateral
Laboratorium: Hb, Ht, darah tepi, kultur
Analisa Gas Darah : hipoksemia, asidemia : asidosis metabolik,
respiratorik,/kombinasi

Diagnosis
Cukup/lebih bulan, jarang sekali kurang bulan

Cairan amnion terkontaminasi mekonium


Mekonium tampak/dapat dihisap dari saluran
napas atas (bantuan laringoskop)

Kulit bayi diwarnai mekonium


Sesak napas
Foto toraks : hiperinflasi paru disertai banyak
daerah paru yang kolaps
25

Pencegahan

Pembersihan saluran napas atas sebelum bayi bernapas saat lahir

Penghisapan saluran napas sebelum


bahu dilahirkan
Penghisapan saluran napas (larings
dan trakea) secara langsung dengan
bantuan laringoskop

26

penatalaksanaan
Prevensi selama periode prenatal, antenatal, tindaka
tepat selama intrapartum
Diagram Alur Resusitasi Neonatus

Pengobatan / terapi
Suportif : oksigen, suhu lingkungan, perawatan pernafasan,
kadar gas darah arteri, terapi surfaktan, ventilasi mekanik, cairan
infus glukosa 10%
Antibiotik spektrum luas
Tindakan bedah :pd pneumotoraks, pneumomediastinum,
empisema subkutan : pungsi toraks, dariainase

Perjalanan Penyakit
SAM : sesak napas sejak lahir

SAM ringan :
membaik secara
bertahap dalam
beberapa hari
beberapa
minggu

SAM berat
Memburuk
secara
progresif
tidak
tertolong

Tertolong
kerusakan paru
perlu waktu
lama untuk
sembuh
sempurna

29

Komplikasi
1.

Pneumotoraks / pneumomediastinum

2.

Kerusakan akibat hipoksia pada organ lain

30

Pemantauan/Monitoring
Tumbuh kembang
(survival intact) baik

pd bayi yang selamat, hidup tanpa komplikasi

Pada bayi dengan komplikasi hipoksi serebri, gagal ginjal, efek tosik O2, epilepsi, palsi
serebral gangguan tumbuh kembang

Sepsis Neonatarum
Definisi
Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik
dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis dapat berlangsung
cepat sehingga sering kali tidak terpantau tanpa pengobatan yang memadai sehingga
neonatus dapat meninggal dalam waktu 24 sampai 48 hari. (Surasmi, 2003)
Faktor-faktor yang mempengaruhi sepsis pada bayi baru lahir dapat di bagi menjadi
tiga kategori yaitu:
a. Faktor maternal terdiri dari:
1) Ruptur selaput ketuban yang lama
2) Persalinan prematur
3) Amnionitis klinis
4) Demam maternal
5) Manipulasi berlebihan selama proses persalinan
6) Persalinan yang lama

b. Pengaruh lingkungan yang dapat menjadi predisposisi bayi yang terkena sepsis, tetapi tidak
terbatas pada buruknya praktek cuci tangan dan teknik perawatan, kateter umbilikus arteri dan
vena, selang sentral, berbagai pemasangan kateter selang trakeaeknologi invasive, dan pemberian
susu formula.
c. Faktor penjamu meliputi jenis kelamin laki-laki, bayi prematur, berat badan lahir rendah, dan
kerusakan mekanisme pertahanan dari penjamu. (Wijayarini,2005)
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala sepsis neonatorum umumnya tidak jelas dan tidak spesifik.Tanda dan gejala sepsis
neonatorum yaitu: Tanda dan gejala umum meliputi hipertermia atau hipotermi bahkan normal,
aktivitas lemah atau tidak ada tampak sakit, berat badan menurun tiba-tiba; Tanda dan gejala
pada saluran pernafasan meliputi dispnea, takipnea, apnea, tampak tarikan otot
pernafasan,merintih, mengorok, dan pernafasan cuping hidung; Tanda dan gejala pada system
kardiovaskuler meliputi hipotensi, kulit lembab, pucat dan sianosis; Tanda dan gejala pada saluran
pencernaan mencakup distensi abdomen, malas atau tidak mau minum, diare; Tanda dan gejala
pada sistem saraf pusat meliputi refleks moro abnormal, iritabilitas, kejang, hiporefleksia, fontanel
anterior menonjol, pernafasan tidak teratur; Tanda dan gejala hematology mencakup tampak
pucat, ikterus, patikie, purpura, perdarahan, splenomegali.

Patofisiologi
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara
yaitu:
a. Pada masa antenatal atau sebelum lahir
Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk ke dalam
tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Penyebab infeksi adalah virus yang dapat menembus
plasenta antara lain:virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, influenza, parotitis. Bakteri yang
melalui jalur ini antara lain: malaria, sipilis, dan toksoplasma.
b. Pada masa intranatal atau saat persalinan

Infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai
korion dan amnion. Akibatnya terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus
masuk ketubuh bayi. Cara lain yaitu pada saat persalinan, kemudian menyebabkan infeksi pada
janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre, saat bayi melewati jalan lahir yang
terkontaminasi oleh kuman ( misalnya: herpes genetalia, candida albicans, gonorrhea).

c. Infeksi pascanatal atau sesudah melahirkan


Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi sesudah kelahiran, terjadi akibat infeksi
nasokomial dari lingkungan di luar rahim (misalnya melalui alat-alat penghisap lendir, selang
endotrakea, infus, selang nasogastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut
menangani bayi, dapat menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial. Infeksi juga dapat melalui luka
umbilikus. (Surasmi, 2003)
Pencegahan
a. Pada masa antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan
terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera
terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin, rujukan segera ketempat
pelayanan yang memadai bila diperlukan.
b. Pada saat persalinan

Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik, yang artinya dalam melakukan
pertolongan persalinan harus dilakukan tindakan aseptik. Tindakan intervensi pada ibu dan bayi
seminimal mungkin dilakukan (bila benar-benar diperlukan). Mengawasi keadaan ibu dan janin
yang baik selama proses persalinan, melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan dan
menghindari perlukaan kulit dan selaput lendir.

c. Sesudah persalinan
Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI
secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap bayi menggunakan
peralatan tersendiri, perawatan luka umbilikus secara steril. Tindakan invasif harus dilakukan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Menghindari perlukaan selaput lendir dan kulit, mencuci
tangan dengan menggunakan larutan desinfektan sebelum dan sesudah memegang setiap bayi.
Pemantauan bayi secara teliti disertai pendokumentasian data-data yang benar dan baik. Semua
personel yang menangani atau bertugas di kamar bayi harus sehat. Bayi yang berpenyakit menular
di isolasi, pemberian antibiotik secara rasional, sedapat mungkin melalui pemantauan mikrobiologi
dan tes resistensi. (Sarwono, 2004)

Pengobatan
Prinsip pengobatan sepsis neonatorum adalah mempertahankan metabolisme tubuh dan
memperbaiki keadaan umum dengan pemberian cairan intravena termasuk kebutuhan nutrisi.
Menurut Yu Victor Y.H dan Hans E. Monintja pemberian antibiotik hendaknya memenuhi kriteria
efektif berdasarkan hasil pemantauan mikrobiologi, murah, dan mudah diperoleh, tidak toksik,
dapat menembus sawar darah otak atau dinding kapiler dalam otak yang memisahkan darah dari
jaringan otak dan dapat diberi secara parenteral. Pilihan obat yang diberikan ialah ampisilin dan
gentamisin atau ampisilin dan kloramfenikol, eritromisin atau sefalasporin atau obat lain sesuai hasil
tes resistensi.
Dosis antibiotik untuk sepsis neonatorum : Ampisislin 200 mg/kgBB/hari, dibagi 3 atau 4 kali
pemberian; Gentamisin 5 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 2 pemberian; Kloramfenikol 25 mg/kg
BB/hari, dibagi dalam 3 atau 4 kali pemberian; Sefalasporin 100 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 2 kali
pemberian;Eritromisin500 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 3 dosis.(surasmi,2003)

RESUSITASI
PENGERTIAN
Adl suatu tindakan yang dilakukan untuk
mencegah tjdnya asfiksia & memperlancar
pernafasan pd bayi scr spontan & teratur.

INDIKASI
1. Apabila BBL mempunyai nilai APGAR 4-6
(APGAR menit ke-1 bayi butuh
perhatian
khusus, APGAR menit ke-5
indeks dari efektifitas resusitasi)
2. Menunjukkan depresi pernafasan
sedang & butuh resusitasi.

PENATALAKSANAAN RESUSITASI
A. Langkah Awal (dilakukan dalam 30 detik)
1.

Jaga posisi bayi tetap hangat selimuti bayi

2.

Atur posisi bayi kepala sedikit ekstensi

3.

Isap lendir bayi hisap lendir dari mulut dulu baru hidung.

4.

Keringkan & Rangsang bayi keringkan mulai muka,kepala &


bagian tubuh lain dengan sedikit tekanan. Lalu lakukan rangsangan
taktil.

5. Atur kembali posisi kepala & selimuti bayi ganti kain yang basah
dengan yang kering selimuti kecuali muka & dada,kepala bayi sedikit
ekstensi.
6. Penilaian bayi berdasarkan 3 gejala yang sangat penting : usaha
bernafas,frekuensi denyut jantung & warna kulit.

Menilai Usaha Bernafas


Bila bernafas spontan & memadai lanjutkan menilai frekuensi denyut
jantung.
Bila bayi Apnoe/sukar bernafas lakukan rangsangan taktil, beri O2
berkonsentrasi 100% kecepatan 5 liter/menit bila setelah beberapa
detik tdk tjd reaksi atas ransangan taktil mulai pemberian VTP

Menilai Frekuensi Denyut Jantung Bayi


Bila frekuensi denyut jantung > dari 100x/menit & bayi bernafas spontan
teratur lanjutkan menilai warna kulit.
Bila frekuensi denyut jantung < dari 100x/menit, wlaupun bayi bernafas
spontan indikasi dilakukan VTP.
Apabila denyut jantung tdk dapat dideteksi epinefrin diberikan, saat
yang sama VTP & kompresi dada dimulai.

Menilai Warna Kulit


Penilaian warna kulit baru dilakukan apabila bayi bernafas spontan &
frekuensi denyut jantung bayi > dari 100x/menit.
Apabila terdapat sianosis sentral O2 tetap diberikan
Apabila sianosis perifer O2 tdk perlu diberikan.

VENTILASI TEKANAN POSITIF


VTP dilakukan dengan sungkup & balon resusitasi atau dengan sungkup
& tabung.
Kecepatan ventilasi 40 60x/menit
Tekanan ventilasi untuk nafas pertama 30 40 cmH2O, setelah nafas
pertama butuh tekanan 15 20 cmH2O.
Suara nafas didengar dengan stetoskop adanya suara nafas dikedua
paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi dengan
benar.

Menilai frekuensi Denyut Jantung Bayi pd


saat VTP
Frekuensi denyut jantung dinilai setelah selesai melakukan ventilasi 15 20
det pertama.
Apabila frekuensi denyut jantung >100x/menit

#
Bayi mulai bernafas spontan lakukan rangsangan taktil untuk
merangsang frekuensi &
dalamnya pernafasan VTP dihentikan &
O2
arus bebas diberikan
#

Klau wajah bayi tampak merah O2 kurangi

secara bertahap.

Apabila pernafasan spontan & adekuat tdk tjd

VTP dilanjutkan

Apabila frekuensi denyut jantung bayi ant 60 100x/menit

#
VTP dilanjutkan dengann memantau
jantung bayi.

frekuensi denyut

#
Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60x/menit mulai
kompresi dada.
Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60x/menit VTP dilanjutkan
periksa ventilasi apakah adekuat & O2 yang diberikan benar 100%
segera mulai kompresi dada.

PEMASANGAN KATETER OROGASTRIK


VTP dengan balon & sungkup lebih lama dari 2 menit harus dipasang
kateter orogastrik & tetap terpasang selama ventilasi karena selama
ventilasi udara dari orofaring dapat masuk ke dalam esofagus &
lambung
Alat yang dipakai ialah pipa orogatrik nomor 8F semprit 20ml.

KOMPRESI DADA
Kompresi dada dilakukan bagian bawah tulang dada di bawah garis
khayal yang menghubkan kedua putting susu bayi
Rasio kompresi dada & ventilasi dalam 1 menit ialah 90 kompresi dasar &
30 ventilasi
(rasio 3 : 1) kompresi dada dilakukan 3x dalam 1 detik & detik
untuk ventilasi 1x

MEMBERIKAN OBAT
Obat-obatan diberikan bila Frekuensi jantung bayi tetap dibawah
60x/menit wlaupun telah dilakukan ventilasi adekuat (dengan O2 100%)
& kompresi dada untuk paling sedikit 30 detik atau Frekuensi Jantung
Nol.
Dosis obat obat didasarkan pada BB bayi
Vena umbikalis ialah tempat yang dipilih untuk pemberian obat
Epinefrin ialah obat pertama yang diberikan.

Dosis Epinefrin : 0,1 0,3 ml/kg untuk larutan berkadar 1 : 10.000 diberikan
IV / memakai pipa endotrakeal.
Volume expanders digunakan untuk menanggulangi efek
hipovelemia.dosis 10 ml/kg diberikan IV dengan kecepatan pemberian
wkt 5 10 menit.

RESUSITASI KARDIOPULMONAR DIHENTIKAN


APABILA SETELAH 30 MENIT TINDAKAN
RESUSITASI DILAKUKAN TIDAK ADA RESPON
DARI BAYI

ASUHAN PASCA RESUSITASI


Dilakukan pd keadaan :
Resusitasi Berhasil : bayi bernafas normal sesdh langkah awal/sesdh
ventilasi,perlu pemantauan & dukungan.

Resusitasi Tdk/kurang berhasil : bayi perlu rujukan yaitu sesdh ventilasi


2menit blm bernafas/bayi sdh bernafas tetap mengap-mengap/pd
pemantauan kondisinya makin memburuk.
Resusitasi gagal : setelah 2menit diventilasi bayi gagal bernafas.

TATALAKSANA RESUSITASI BAYI BARU LAHIR


Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa BBL perlu resusitasi, tindakan resusitasi harus segera dilakukan. Penundaan
pertolongan akan membahayakan bayi. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan di atas perut ibu atau dekat perineum.

1. Tindakan Resusitasi Bayi Baru lahir dengan Tidak Bernapas atau Bernapas Megap-megap.
Tahap I : Langkah Awal
Langkah ini perlu dilakukan dalam waktu 30 detik. Bagi kebanyakan bayi baru lahir, 6 langkah awal di bawah ini cukup untuk merangsang
bayi bernapas spontan dan teratur ( Sambil melakukan langkah awal ini : Beritahukan ibu dan keluarga, bahwa bayinya perlu pertolongan
napas; Mintalah salah seorang keluarga mendampingi ibu untuk member dukungan moral, menjaga ibu dan melaporkan bila ada
perdarahan ).
Adapun 6 langkah awal tersebut adalah :
1) Jaga Bayi tetap hangat :
Bagi bidan/Tenaga kesehatan yang sudah terbiasa :
Letakkan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu,
Bungkus bayi dengan kain tersebut, potong tali pusat,
Pindahkan bayi ke atas kain di tempat resusitasi.
Bagi bidan/tenaga kesehatan yang belum terbiasa melakukan tindakan di atas, lakukan sbb :
Potong tali pusat di atas kain yang ada di bawah perineum ibu.
Letakkan bayi di atas kain 45 cm dari perineum ibu,
Bungkus bayi dengan kain tersebut,
Pindahkan bayi di tempat resusitasi.

2) Atur Posisi Bayi


Baringkan bayi terlentang dengan kepala didekat penolong.
Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi.
3) Isap Lendir, Gunakan alat penghisap lendir De Lee dengan cara sbb:
Isap lendir mulai dari mulut dulu, kemudian dari hidung,
Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu memasukkan, Jangan lakukan
pengisapan terlalu dalam ( jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut atau lebih dari 3cm ke dalam hidung ),
hal itu dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayit iba-tiba berhenti bernapas.

4) Keringkan dan Rangsang bayi


Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan.
Rangsangan ini dapat membantu bayi baru lahir mulai bernapas atau tetap bernapas.
Lakukan rangsangan taktil dengan beberapa cara di bawah ini :
o Menepuk atau menyentil telapak kaki,
o Menggosok punggung, perut, dada atau tungkai bayi dengan telapak tangan.

5) Atur kembali posisi kepala bayi dan bungkus bayi


Ganti kain yang telah basah dengan kain yang di bawahnya,
Bungkus bayi dengan kain tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau
pernapasan bayi,
Atur kembali posisi kepala bayi sehingga kepala sedikit ekstensi.

6) Lakukan Penilaian Bayi


Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau bernapas megap-megap ?

Bila bayi bernapas normal, berikan bayi kepada ibunya :


o Letakkan bayi di atas dada ibu dan selimuti keduanya untuk penghangatan dengan cara
kontak kulit bayi ke kulit ibu,
o Anjurkan ibu untuk menyusui bayi sambil membelainya.
Bila bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap, mulai lakukan ventilasi bayi.

Tahap II : Ventilasi
Ventilasi adalah merupakan tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara ke
dalam paru dengan tekanan positip untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan atau
teratur.
Langkah-langkah :
1) Pasang sungkup, Pasang dan pegang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi.
2) Ventilasi 2 kali
Lakukan tiupan dengan tekanan 30 cm Air.
Tiupan awal ini sangat penting untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan

menguji apakah jalan napas bayi terbuka.


Lihat apakah dada bayi mengembang.
Bila dada tidak mengembang :
o Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah ekstensi,

o Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor,
o Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan pengisapan.
Bila dada mengembang lakukan tahap berikutnya.

Langkah-langkah Tindakan Resusitasi BBL dengan Air ketuban


Bercampur Mekonium sama dengan pada BBL yang air ketubannya tidak bercampur mekonium,
hanya
berbeda pada :
1) Saat kepala lahir sebelum bahu keluar, isap lendir dari mulut lalu hidung.
2) Setelah seluruh badan bayi lahir, lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal ?
Jika bernapas : potong tali pusat, dilanjutkan dengan Langkah Awal.
Jika tidak bernapas : letakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala didekat penolong, buka
mulut lebar, usap mulut dan ulangi isap lendir, potong tali pusat, dilanjutkan dengan Langkah

Awal. ( Ingat, Pemotongan tali pusat dapat merangsang pernapasan bayi, apabila masih ada air
ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bisa tersedak ( aspirasi ).